Anda di halaman 1dari 59

Pelayanan

KEFARMASIAN

Azizah Nasution - Juanita Tanuwijaya - Poppy Anjelisa Z. Hsb. - Khairunnisa - Aminah Dalimunthe - Hari Ronaldo Tanjung - Marianne - Dadang Irfan Husori - Embun Suci Nasution - Lia Laila.

LABORATORIUM FARMASI KOMUNITAS FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

LEMBAR IDENTITAS MAHASISWA

LEMBAR IDENTITAS MAHASISWA Pas foto 3x4 Nama : NIM : Kelas Kelompok Hari : : Tanda

Pas foto

3x4

Nama

:

NIM

:

Kelas Kelompok Hari :

:

Tanda tangan

:

KATA PENGANTAR

Pelayanan kefarmasian saat ini telah mengalami perkembangan dari orientasi produk ke orientasi pasien, pelayanan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komuditi menjadi pelayanan yang konprehensif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guna melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut meliputi pelaksaan KIE, monitoring penggunaan obat, memastikan tujuan akhir sesuai harapan dan terdokumentasi dengan baik. Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) serta mengantisipasi timbulnya berbagai maslah terkait penggunaan obat baik aktual maupun potensial dalam proses pengobatan. Di samping itu munculnya peran baru sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker harus tetap menjalankan peran tradisionalnya sebagai pengelola produk, oleh karena hal ini merupakan bagian dari penjaminan mutu bagi pelayanan kefarmasian yang komprehensif di farmasi komunitas/apotek.

Penuntun praktikum ini dimaksudkan sebagai pedoman bagai mahasiswa program Pendidikan Profesi Apoteker dalam mengikuti kegiatan Praktikum Pelayanan Farmasi Komunitas, berupa latihan pelayanan resep, pelayanan swamedikasi, dan pelayanan KIE, serta melaksanakan pengelolaan obat meliputi pengadaan, penyimpanan, dan penyelenggaraan administrasi.

Isi penuntun praktikum ini meliputi Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), Deskripsi Singkat dan tujuan dilaksanakannya Praktikum Pelayanan Farmasi Komunitas, Perincian Kegiatan Praktikum, Ketentuan Praktikum, Tata Cara Praktikum, Prosedur Penyiapan Resep, Skrining Resep, Pelayanan Resep Pasien Kardiovaskular, Pelayanan Resep Pasien Gangguan Endokrin, Pelayanan Resep Pasien Gangguan Pencernaan, Pelayanan Resep Campuran, Prosedur Pelayanan Swamedikasi, dan mengerjakan studi kasus dari setiap bagiannya.

Diharapkan Penuntun Praktikumyang sederhana ini dapat membantu mahasiswa dalam mengikuti kegiatan praktikum dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat dicapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.

Medan, 16 September 2015

Penyusun

Dr. Azizah Nasution, M.Sc .,Apt. Juanita Tanuwijaya, M.Si.,Apt. Dr. Poppy Anjelisa Z. Hsb.,M.Si.,Apt. Khairunnisa, M.Pharm.,Ph.D.,Apt Aminah Dalimunthe, M.Si.,Apt. Hari Ronaldo Tanjung, M.Sc.,Apt. Marianne, M.Si.,Apt. Dadang Irfan Husori, M.Sc.,Apt. Embun Suci Nasution, S.Si.,M.Farm.Klin.,Apt. Lia Laila, M.Sc.,Apt

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

v

BAB I PENDAHULUAN

1

BAB II PELAYANAN RESEP PASIEN KARDIOVASKULAR

14

BAB III PELAYANAN RESEP PASIEN GANGGUAN ENDOKRIN

22

29

BAB V PELAYANAN RESEP CAMPURAN

38

BAB VI PELAYANAN SWAMEDIKASI

45

DAFTAR PUSTAKA

59

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

  • I. Deskripsi singkat Praktikum Pelayanan Farmasi Komunitas membimbing mahasiswa melakukan Pelayanan kefarmasian berorientasi pasien sesuai dengan Kepmenkes No. 1027/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

II.

Tujuan

Setelah mengikuti praktikum Laboratorium Farmasi Komunitas Fakultas Farmasi USU, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker diharapkan mampu melakukan Pelayanan Resep dan Pelayanan Swamedikasi di Apotek sesuai konsep asuhan kefarmasian.

No.

Tujuan Intruksional Khusus

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan

Waktu

1.

Mampu menyiapkan resep dan

Skrining Resep

Administration error Pharmaceutical error

27 jam

menyerahkannya

Clinical error

kepada pasien sesuai standar pelayanan swamedikasi

KIE

2.

 

Kebutuhan obat

Pengetahuan tentang

  • 6 jam

Mampu melaksanakan pelayanan swamedikasi

pasien

obat dan produk obat Komunikasi verbal Kebutuhan pasien Pengalaman bagi peningkatan kemampuan

3.

Mampu melakukan konseling kepada pasien

Konseling

Three prime questions Final verification Show and tell

  • 3 jam

4.

Mampu melakukan

Pengadakan,

Cara pengadaan obat

  • 3 jam

pengadaan,

penyimpanan,

Pedagang besar farmasi

penyimpanan dan

dan penetapan

Penyimpanan

menetapkan harga obat

harga obat

Kartu stock Daftar harga obat Harga netto apoteker Harga jual apotek

5.

Mampu melaksanakan

kaedah-kaedah

Kode etik dan standar

  • 3 jam

kaedah-kaedah profesi

profesi dan

profesi UU, PP,

dan peraturan

peraturan

Permenkes dan

perundang-undangan

perundang-

Kepmenkes

kefarmasian

undangan

III.

Perincian kegiatan praktikum

 

Praktikum pelayanan farmasi komunitas mempunyai beban 1 sks terdiri

dari 12 x 3 jam = 3 jam yang terbagi dalam kegiatan pelayanan resep dan pelayanan swamedikasi dengan berbagai kasus penyakit, dengan perincian sebagai berikut:

  • 1. Mengerjakan resep bukan campuran dengan berbagai kasus penyakit

  • 2. Mengerjakan resep campuran/racikan dengan berbagai kasus penyakit

  • 3. Mengerjakan permintaan swamedikasi sebanyak 3 permintaan berbagai kasus penyakit

  • 4. Mengerjakan resep narkotika/psikotropika minimal 1

Tiap mahasiswa dinyatakan telah menyelesaikan praktikum apabila telah melaksanakan keseluruhan beban sks dan lulus evaluasi praktikum

Evaluasi praktikum berupa ujian menyiapkan resep dan atau permintaan swamedikasi dalam batas waktu yang ditentukan oleh panitia ujian ditambah KIE saat penyerahan.

IV.

Persyaratan Mengikuti Praktikum

  • 1. Mahasiswa peserta praktikum adalah mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker Semester 1.

  • 2. Semua sarana praktikum yang diperlukan disediakan labolatorium kecuali lap/serbet bersih dan kalkulator.

  • 3. Praktikan harus siap dengan materi farmakologi pada tiap jadual praktikum sesuai dengan yang ditentukan dengan membaca berbagaipustaka dengan membuat rangkuman edukasi tiap penyakit yang akan dipraktikumkan.

  • 4. Pustaka wajib yang diperlukan harus dibawa sendiri oleh masing-masing praktikum (ISO ISFI tahun terbaru, MIMS edisi terbaru, buku farmakologi- farmakoterapi yang berkaitan, dll). Daftar pustaka yang harus dicari dan dibaca:

    • a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian

    • b. Kurniawan, D.W. dan chabib, L. 2010. Pelayanan Informasi Obat: Teori Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

    • c. Tan, H.T dan Rahardja, K. 2010. Obat-obat Sederhana untuk Gangguan Sehari-hari, Jakarta: Elex Media Komputindo.

    • d. Aslem, M, Tan, C.K, dan Prayitno, A. 2003. Farmasi Klinis: Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, Jakarta: Elex Media Komputindo.

    • e. Siregar, C.J.P 2003. Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

    • f. Siregar, C.J.P 2004. Farmasi Klinik: Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    • g. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2006. PedomanPelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit. Jakarta:Departemen Kesehatan RI.

    • h. Malon, et. Al. 2001. Drug information: A Guide For Pharmacist.Edisi Kedua. McGraw Hill.

  • V. Tata Tertib Praktikum

    • 1. Praktikan harus hadir 10 menit sebelum praktikum berlangsung.

    • 2. Praktikan harus memakai jas/seragam P3A.

    • 3. Praktikan harus membawa pustaka dan rangkuman edukasi yang berakaitan dengan topik penyakit yang ditemukan.

    • 4. Praktikan harus segera mengerjakan resep dan atau permintaan swamedikasi sesuai dengan topic penyakit pada tiapa pertemuan dalam waktu 30 menit sesuai dengan panduan prosedur penyiapan resep pada poin VI dibawah ini.

    • 5. Hasil pengerjaan resep dikumpulkan pada dosen pembimbing praktikum.

    • 6. Praktikan harus menunggu giliran untuk melaporkan dan melakukan KIE kepada dosen pembimbing praktikum yang akan bertindak sebagai pasien

    • 7. Praktikan yang sedang menunggu giliran KIE tidak boleh membuat kegaduhan yang menggangu ketertiban praktikum. Para praktikan tersebut sebaiknya membaca pustaka yang berkaitan untuk dapat memberikan pelayan konseling yang komprehensif.

9.

Sesi praktikum dinyatakan selesai dan praktikan boleh keluar ruangan praktikum jika semua alat, ruang dan lemari pajang apotek telah dirapikan dan dibersihkan kembali

VI.

Prosedur Penyimpanan Resep (30 menit)

1.

Mahasiswa menerima 1 lembar resep dokter yang berisi lebih kurang 3 R/

2.

Lakukan skrining resep yang meliputi identifikasi administrasion eroor, Pharmaceutical error dan chinical error.

3.

Ajukan three prime question atau pertanyaan lain yang diperlukan kepada

“pasien”.

4.

Informasikan mengenai ketersediaan obat-obat dalam resep dan harga

resep kepada pasien untuk mendapat persetujuan pasien.

5.

Sediakan obat-obat yang diminta dalam resep.

6.

Buat etiket masing-masing obat sesuai dengan signa dalam resep dan informasi yang menurut saudara sebagai apoteker perlu diketahui oleh pasien

7.

Buat copy resep

8.

Buat catatan pengobatan pasien (patient medication record)

9.

Isi Kolom KIE pada PMR dengan materi Konsultasi, Informasi, dan Edukasi yang SESUAI DENGAN KONDISI PASIEN, PENYAKIT , JENIS OBAT YANG MENDUKUNG BAGI KETETAPAN PENGOBATAN DAN KEBERHASILAN TERAPI dengan mengacu pada pustaka yang relevan.

10.

Serahkan resep yang sudah disiapkan disertai KIE (Konseling, Informasi, dan Edukasi) yang diperlukan kepada dosen pembimbing praktikum yang bertindak sebagai pasien.

VII.

Prosedur Pelayanan Swamedikasi (30 Menit)

1.

Mahasiswa menerima permintaan swamedikasi

2.

Tentukan kebutuhan obat untuk mengatasi kebutuhan pasien

3.

Sediakan obat-obat sesuai kebutuhan pengobatan

4.

Tetapkan harga semua obat yang dibutuhkan

5.

Buat catan pengobatan pasien (PMR)

6.

Serahkan obat disertai KIE yang diperlukan bagi keberhasilan terapi kepada dosen pembimbing praktikum yang bertindak sebagai pasien.

VIII.

Penilaian

Penilaian akhir praktikum meliputi:

1.

Peilaian Harian

: 30% ( Lihat Lembar Penilaian Konseling Terlampir)

2.

Laporan Praktikum

: 30%

3.

Ujian Akhir

: 40 %

  • I. Pengertian resep

BAB I PENDAHULUAN

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014, Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien

sesuai peraturan yang berlaku. Resep yang ditulis harus lengkap dan jelas, apabila resep tidak jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep tersebut. Resep yang lengkap memuat hal-hal sebagai berikut :

  • 1. Bagian inscriptio/superscriptio, meliputi: nama, alamat, nomor ijin praktek, nomor telepon dokter dan tempat serta tanggal penulisan resep.

  • 2. Bagian invocatio yaitu tanda penulisan R/ pada bagian sebelah kiri sebagai awal penulisan resep

  • 3. Bagian praescriptio/ordonatio, meliputi: nama, bentuk sediaan, kekuatan dan jumlah obat.

  • 4. Bagian signatura yaitu aturan pemakaian obat yang tertulis.

  • 5. Bagian subscriptio yaitu tanda tangan atau paraf dokter yang menuliskan resep

  • 6. Tanda seru atau paraf dokter pada setiap resep yang melebihi dosis maksimal.

II. Pelayanan resep

Setiap Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan

keahlian profesinya dan dilandasi pada kepentingan masyarakat. Berikut digambarkan tahap-tahap pelayanan resep di apotek secara umum :

Kegiatan pengkajian resep / skrining resep meliputi 3 aspek yaitu: a. Skrining/pengkajian administratif Berguna untuk menghindari

Kegiatan pengkajian resep / skrining resep meliputi 3 aspek yaitu:

  • a. Skrining/pengkajian administratif

Berguna untuk menghindari kesalahan penulisan resep maupun pemalsuan resep. Pada bagian ini yang penting untuk dikaji mencakup:

  • 1. nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;

  • 2. nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan paraf; dan

  • 3. tanggal penulisan Resep.

  • b. Skrining/pengkajian kesesuaian farmasetik Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:

    • 1. bentuk dan kekuatan sediaan;

    • 2. stabilitas; dan

    • 3. kompatibilitas (ketercampuran Obat).

Terkait dengan ketercampuran obat maka perlu dipahami inkompatibilitas obat. Inkompatibilitas obat terbagi atas:

  • Inkompatibilitas fisika Obat obat yang tidak tercampurkan secara fisika yaitu terjadi perubahan- perubahan yang tidak diinginkan dalam waktu pencampuran sediaan obat tanpa ada perubahan susunan kimianya. Selain itu bahan obat yang

dicampurkan tidak memberikan campuran yang homogen maka hal tersebut juga merupakan inkompatibilitas fisika. Contoh inkompatibilitas fisika antara lain:

  • - campuran serbuk meleleh atau menjadi basah

  • - obat tidak dapat melarut dan bercampur

  • - salting out

  • Inkompatibilitas kimia Yaitu perubahan-perubahan yang terjadi karena timbulnya reaksi kimia pada waktu mencampurkan bahan obat-obatan. Contoh inkompatibilitas kimia antara lain:

    • - reaksi pengendapan

    • - reaksi asam basa

    • - reaksi oksidasi-reduksi

  • c. Pertimbangan klinis

Pertimbangan klinis meliputi:

  • 1. ketepatan indikasi dan dosis Obat;

  • 2. aturan, cara dan lama penggunaan Obat;

  • 3. duplikasi dan/atau polifarmasi;

  • 4. reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat, manifestasi klinis lain);

  • 5. kontra indikasi; dan

  • 6. interaksi.

Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus

menghubungi dokter penulis Resep.

III. Dispensing

Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi Obat.

Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai berikut:

  • 1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep:

- menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai dengan Resep; - mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama Obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik Obat.

  • 2. Melakukan peracikan Obat bila diperlukan

  • 3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:

- warna putih untuk Obat dalam/oral; - warna biru untuk Obat luar dan suntik; - menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi atau emulsi.

  • 4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk Obat yang berbeda untuk menjaga mutu Obat dan menghindari penggunaan yang salah.

Setelah penyiapan Obat dilakukan hal sebagai berikut:

  • 1. Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah Obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan Resep);

  • 2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;

  • 3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;

  • 4. Menyerahkan Obat yang disertai pemberian informasi Obat;

  • 5. Memberikan informasi cara penggunaan Obat dan hal-hal yang terkait dengan Obat antara lain manfaat Obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan Obat dan lain-lain;

  • 6. Penyerahan Obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil;

  • 7. Memastikan bahwa yang menerima Obat adalah pasien atau keluarganya;

  • 8. Membuat salinan Resep sesuai dengan Resep asli dan diparaf oleh Apoteker (apabila diperlukan);

  • 9. Menyimpan Resep pada tempatnya;

10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien

IV.

Informasi, Edukasi dan Konseling

Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien

sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan Obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling, Apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat kepatuhan pasien dinilai

rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami Obat yang digunakan. Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:

  • 1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan menyusui).

  • 2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB, DM, AIDS, epilepsi).

  • 3. Pasien yang menggunakan Obat dengan instruksi khusus (penggunaan kortikosteroid dengan tappering down/off).

  • 4. Pasien yang menggunakan Obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin, teofilin).

  • 5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa Obat untuk indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu Obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis Obat.

  • 6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.

Tahap kegiatan konseling:

  • 1. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien

  • 2. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan Obat melalui Three Prime Questions, yaitu:

    • - Apa yang disampaikan dokter tentang Obat Anda?

    • - Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian Obat Anda?

    • - Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah Anda menerima terapi Obat tersebut?

  • 3. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan Obat

  • 5. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien

    Apoteker

    mendokumentasikan

    konseling

    dengan

    meminta

    tanda

    tangan

    pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan dalam

    konseling.

    Tugas!

     

    I.

    Carilah kepanjangan dan arti dari setiap istilah dalam resep di bawah ini:

     

    Istilah

    Kepanjangan

    Arti

    a.c

       

    a.d

       

    a.l

       

    a.h

       

    a.p

       

    aa

       

    Ad

       

    aur.

       

    b.d.d

       

    b.d.d.c

       

    b in d

       

    C

       

    Cap

       

    collyr.

       

    Cito

       

    cib.

       

    c.th

       

    d.c

       

    d.d

       

    d.t.d

       

    d.d in d

       

    det.

       

    dext.

       

    dilut.

       

    dim.

       

    m.f.l.a

       

    garg.

       

    g.

       

    gtt.

       

    Iter

       

    mg.

       

    Ml

       

    mixt.

       

    ne det.

       

    ne iter

       

    o.h.

       

    o.m.

       

    o.n.

       

    Oculent.

       

    Opthl.

       

    p.c

       

    p.c.c.

       

    P.I.M.

       

    p.r.n.

       

    Pulv.

       

    4.d.d.c

       

    q.s.

       

    q.h.

       

    R.

       

    s.

       

    t.d.d.

       

    t.d.s.

       

    t.i.d

       

    tinc.

       

    ung.

       

    ut. acq.

       

    s.u.c.

       

    s.u.e

       

    s.u.i.

       

    supp.

       

    suppos. rect.

       

    supr.

       

    syr.

       

    ung.

       

    vesp.

       

    II. Skrining resep

    STUDI KASUS

    Pada tanggal 15 September 2014, Bapak Sujono (57 tahun) datang ke apotek anda hendak menebus resep yang didapatkan dari dokter yang dijumpainya. Pasien tersebut telah mengalami diabetes mellitus tipe 2 selama 2 tahun, dan selama ini telah menggunakan obat antidiabetes glibenklamid. Pemeriksaan HbA1C terakhir nilainya 7,5% (normal <6.5%). Bapak Sujono juga diketahui memiliki riwayat hipertensi selama 4 tahun dan mengkonsumsi captopril. Pemeriksaan tekanan darah terakhir adalah 160/100 mmHg. Pasien ingin menebus resepnya setengah saja.

    dr. Samsul Siswandy, Sp.PD. Jl. Pemuda No. 234D, Medan Praktik: Senin s/d Jum’at, Pukul 17.00-20.00 WIB
    dr. Samsul Siswandy, Sp.PD.
    Jl. Pemuda No. 234D, Medan
    Praktik: Senin s/d Jum’at, Pukul 17.00-20.00 WIB
    R/ Diamicron tab
    S 2 dd tab 1 p.c
    No. XXX
    R/ Captopril tab
    No. X
    S 1 dd tab 1 malam p.c
    Nama : Bapak Sujono
    Alamat:
    Resep tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan dokter

    Riwayat penyakit: Diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi stage 1 Riwayat pengobatan: Sanadryl DMP® Riwayat Alergi: Tidak ada

    I. Pengertian

    BAB II

    HIPERTENSI

    Hipertensi mempunyai hubungan yang erat dengan resiko kejadian penyakit kardiovaskular, dimana pada tekanan darah yang lebih tinggi maka akan lebih besar pula kemungkinan terjaidnya penyakit ginjal, stroke, serangan jantung, dan gagal jantung. Klasifikasi hipertensi berdasarkan seventh report of the Joint National Committee on

    Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) memasukkan prehipertensi dalam klasifikasinya kewaspadaan pada golongan tersebut dengan cara meningkatkan edukasi untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah terjadinya hipertensi dengan cara memodifikasi kebiasaan hidup.

    II. Klasifikasi Hipertensi

    Klasifikasin hipertensiberdasarkan JNC7 adalah klasifikasi untuk orang dewasa

    umur ≥ 18 tahun. Menurut JNC 7, defenisi hipertensi adalah jika didapatkan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Penuntuan klasifikasi ini

    berdasarkan rata-rata 2 kali pengukuran tekanan darah pada posisi duduk.

    Klasifikasi Tekanan Darah

    Tekanan Darah Sistolik

     

    Tekanan Darah Diastol

    Normal

    < 120

    dan

    < 80

    Pre-hipertensi

    • 120 atau

    - 139

     
    • 80 - 89

    Hipertensi stage 1

    - 159

    • 140 atau

     
    • 90 - 99

    Hipertensi stage 2

    ≥ 160

    atau

    ≥ 100

    III. Pengobatan

    Pengobatan hipertensi tidak hanya berdasarkan pada derajat tekanan darah, tetapi

    juga mempertimbangkan terdapatnya faktor resiko kardiovaskular.

    Target Tekanan Darah

    Menurut JNC 7, tujuan utama kesehatan Pada 1 Oktober 2014, Ibu S datang ke apotek anda, ingin menebus resep yang didapatkan dari dokter yang merawatnya. Pasien tersebut baru didiagnosa diabetes mellitus tipe 2 berdasarkan gejala klinis ringan dan pemeriksaan laboratorium klinik dengan kadar glukosa puasa 180 mg/dL, glukosa 2 jam post prandial pada uji toleransi glukosa 220 mg/dL, HbA1c 7%m Indeks Massa Tubuh (IMT) = 28 kg/m2 (overweight), fungsi ginjal normal. Berdasarkan riwayat keluarga, diketahui bapak dari Ibu S adalah penderita diabetes mellitus, Ibu S juga menderita hipertensi selama 3 bulan dan mengkosumsi captopril, pemeriksaan tekanan darah terakhir adalah 150/100 mmHg. Pasien ingin menebus resep setengah saja.

    dr. Raffi, Sp. PD.

    Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

    R/

    Glumin tab 500 mg No. XC

    S 3 dd tab I a.c. __________________________ R/ Glucovance tab No. XXX S 3 dd tab I a.c.

    __________________________

    R/

    Captopril tab No. XXX S 1 dd tab I

    __________________________

    Pro: Ibu S (55 tahun)

    Medan, 30 September 2014

    Riwayat penyakit:

    Diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi stage 1

    Riwayat pengobatan:

    Sanadryl DMP

    Riwayat alergi:

    Tidak ada

    -Apakah pemberian obat diabetes tersebut rasional ? -Apakah pemberian obat hipertensi tersebut rasional dimana pasien mengeluhkan batuk kering dan sangat terganggu dengan batuk kering tersebut. -Apakah ada Drug Related Problem (DRP) pada resep tersebut?

    KASUS Seorang pasien wanita, ibu A, berusia 45 tahun datang ke apotek anda ingin menebus resep yang didapatkannya dari dokter yang merawatnya. Pasien baru saja didiagnosa menderita hipertensi, dengan hasil pengukuran tekanan darah 150/90 mmHg. Dari hasil pemeriksaan juga diperoleh nilai LDL 230 mg/dL, HDL 35 mg/dL.

    dr. Suci ,S. PD.

    Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

    Medan, ……… ..

    R/

    Captoril tab No. XXX S 1 dd tab I

    Pro: Ibu A (60 tahun)

    Riwayat penyakit:

    Maag

    Riwayat pengobatan:

    Antasida

    Riwayat alergi:

    Tidak ada

    -Apakah pemberian obat rasional? -Apakah ada Drug Related Problems (DRP) pada resep tersebut?

    I. Pengertian

    BAB III

    ENDOKRIN

    DM adalah penyakit metabolic (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari

    kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya “disfungsi” sel beta pancreas atau

    ambilan glukosa di jaringan perifer, atau keduanya (pada DM-Tipe 2), atau kurangnya insulin absolute (pada DM-Tipe 1), dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan gejala klinis akut (poliuria, polidipsia, penurunan berat badan), dan atau pun gejala kronik atau kadang-kadang tanpa gejala. Gangguan primer terletak pada metabolism karbohidrat, dan sekunder pada metabolism lemak dan protein.

    II. Klasifikasi

    Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI (2003, 2006) adalah yang

    sesuai dengan klasifikasi DM oleh American Diabetes Association (ADA). Klasifikasi Etiologi DM (ADA 2006):

    • 1. DM Tipe 1 (destruksi sel beta, biasanya menjurus ke defisiensi insulin absolute):

      • - Autoimun (immune mediated)

      • - Idiopatik

  • 2. DM Tipe 2 (biasanya berawal dari resistensi insulin yang predominan dengan defisiensi insulin relative menuju ke defek sekresi insulin yang predominan dengan resistensi insulin)

  • 3. DM Tipe Spesifik Lain:

    • a. Defek genetic fungsi sel beta

      • - Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3,4,5,6 (yang terbanyak MODY 3)

      • - DNA mitokondria

      • - Dan lain-lain

  • b. Defek genetic kerja insuin

  • c. Penyakit eksokrin pancreas

    • - Pancreatitis

    • - Sindrom cushing

    • - Tumor/Pankreatektomi

    • - Pankreatopati fibrokalkulus

    • - Dan lain-lain

  • d. Endokrinopati

    • - Akromegali

    • - Sindrom cushing

    • - Feokromositoma

    • - Hipertiroidisme

    • - Dan lain-lain

  • e. Karena obat zat kimia

    • - Vacor, pentamidin, asam nikotinat

    • - Glukokortikoid, hormone tiroid

    • - Tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain

  • f. Infeksi

    • - Rubella congenital, cytomegalovirus (CMV)

    • - Dan lain-lain

    • g. Sebab imunologi yang jarang

      • - Antibody anti insulin

      • - Dan lain-lain

  • h. Sindrom genetic yang lain yang berkaitan dengan DM

    • - Sindrom Down, sindrom Klinefelter, sindrom Turner, dan lain-lain

    • 4. Diabetes Millitus Gestasional

    - Rubella congenital, cytomegalovirus (CMV) - Dan lain-lain g. Sebab imunologi yang jarang - Antibody anti

    III. Gejala klinis

    Gejala klinis DM yang klasik: mula-mula polifagi, polidipsi, poliuria, dan

    berat badan naik (Fase Kompensasi). Apabila keadaan ini tidak segera diobati, maka

    akan timbul gejala Fase Dekompensasi (“Dekompensasi Pankreas”), yang disebut

    gejala klasik DM, yaitu poliuria, polidipsi, dan berat badan turun. Ketiga gejala

    klasik tersebut di atas disebut pula “TRIAS SINDROM DIABETES AKUT”

    (poliuria, polidipsi, berat badan menurun) bahkan apabila tidak segera diobati dapat disusul dengan muntah-muntah dan Ketosidosis Diabetik. Gejala kronis DM yang sering muncul antara lain lemah badan, semutan, kaku otot, penurunan kemampuan seksual, gangguan penglihatan yang sering

    berubah, sakit sendi, dan lain-lain.

    • I. Uraian Umum

    BAB IV HIPERASIDITI

    Peptic ulcers adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan pada mukosa lambung atau duodenum, kadang-kadang menyebar sampai ke mukosa muskularis. Sel-sel epitel lambung dan usus mensekresikan mukus sebagai akibat respons terhadap iritasi ataupun stimulasi kolinergik. Bagian superficial dari mukosa lambung dan usus berada dalam bentuk lapisan gel dan bersifat tidak permeabel (impermeable) terhadap asam dan pepsin. Sel-sel lambung dan usus yang lainnya mensekresikan bicarbonate yang berfungsi sebagai buffer asam yang berada di sekitar mukosa. Prostaglandin E (PGE) berperan meningkatkan ke dua2 nya bicarbonate dan lapisan mukus. Bila asam dan pepsin memasuki sel-sel epitel, mekanisme tertentu berperan untuk mengurangi luka. Di dalam sel-sel epitel, pompa ion di dalam membrane sel basolateral berperan mengatur pH interselular dengan mengeluarkan kelebihan ion hidrogen. Melalui proses restitusi, sel-sel sehat mengisi bagian yang luka. Aliran darah di mukosa mengeliminir asam yang berdiffusi melalui mukosa yang rusak dan melepaskan bicarbonate ke permukaan sel-sel epitel. Dalam keadaan normal, terdapat keseimbangan fisiologi antara sekresi asam lambung dengan gastroduodenal mucosal defense. Bila terganggu keseimbangan antara faktor-faktor aggressive dengan defensive mechanisms, maka akan mengakibatkan kerusakan mukosa dan peptic ulcer. Faktors tersebut seperti NSAIDs, infeksi H pylori, alcohol, garam empedu, asam, dan pepsin dapat mempengaruhi mucosal defense melalui pendiffusian kembali ion hydrogen, selanjutnya melukai sel epitel. Pencetus utama ulcer adalah H pylori, asam, dan pepsin. Ciri khusus mikroorganisme H.Pylori ini yaitu menghasilkan urease sehingga mengalkaliskan lingkungannya, dan dapat hidup bertahun tahun di lambung. Kondisi ini mengakibatkan inflammasi, dan memberburuk kondisi peptic ulcer. Pasien yang terinfeksi H pylori, memiliki kadar gastrin dan pepsinogen yang tinggi, penurunan kadar somatostatin, dan mengalami gangguan sekresi bicarbonate di duodenum. Kombinasi peninggian sekresi asam lambung dan penurunan sekresi bikarbonat menurunkan pH di duodenum, selanjutnya mengakibatkan gastric metaplasia (terjadi gastric epithelium di lapisan pertama duodenum). Infeksi H pylori di daerah gastric metaplasia menginduksi duodenitis serta cenderung mengakibatkan kerusakan dan ulcer pada duodenum.

    I. Uraian Umum BAB IV HIPERASIDITI Peptic ulcers adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan pada mukosa

    II. Tanda-tanda Klinis

    Rasa sakit/panas pada bagian perut, rasa penuh, tidak nyaman, dan kram. Pada ulcer duodenum rasa sakit berlangsung 1-3 jam setelah makan, dapat hilang setelah makan.

    III. Pendekatan Penanganan Peptic Ulcer

    Pengobatan peptic ulcers bervariasi, tergantung kepada etiologi dan kondisi klinik pasien. Tujuan pengobatan adalah untuk menghilangkan rasa sakit, menyembuhkan luka, mencegah timbulnya kembali ulcer, serta mengurangi komplikasi. Pengobatan dilakukan melalui pendekatan non-farmakologi dan farmakologi. Pendekatan non-farmakologi dilakukan dengan menghindari stress, merokok, dan penggunaan NSAIDs non-selektif (seperti aspirin). Disarankan agar diganti dengan obat lain seperti acethaminophen dan inhibitor selektif COX-2. Pasien dianjurkan agar menghindari makanan yang mengakibatkan dyspepsia, misalnya makanan pedas, caffeine, dan alcohol. Pendekatan farmakologi dapat dilaksanakan sebagaimana tertera pada flowchart (Gambar 1). Beberapa golongan obat-obatan yang dapat digunakan untuk pengobatan Peptic

    Ulcer antara lain:

    • 1. Antasida

    Antasida diberikan untuk menghilangkan keluhan rasa sakit dan obat dispepsia, biasanya Aluminium hydroxide, Calcium carbonate, Magnesium hydroxide or trisilicate. Mekanisme kerjanya menetralkan asam lambung secara lokal. Preparat yang mengandung magnesium akan menyebabkan diare sedangkan alumunium

    menyebabkan konstipasi dan kombinasi keduanya saling menghilangkan pengaruh sehingga tidak terjadi diare dan konstipasi.

    • 2. Histamine-2 receptor antagonist

    Empat antagonis H2 yang beredar di Indonesia adalah: simetidin, ranitidin, nizatidin dan famotidin. Kerja antagonis reseptor H2 yang paling penting adalah mengurangi sekresi asam lambung. Obat ini menghambat sekresi asam yang dirangsang histamin, gastrin, obat-obat kolinomimetik dan rangsangan vagal. Volume sekresi asam lambung dan konsentrasi pepsin juga berkurang. Mekanisme

    kerja: Memblokir histamin pada reseptor H2 sel pariental sehingga sel pariental tidak terangsang mengeluarkan asam lambung. Inhibisi ini bersifat reversibel.

    • 1. Proton Pump Inhibitors (PPIs)

    Inhibitor pompa proton merupakan “prodrug”, yang memerlukan aktivasi di lingkungan asam. Mekanisme kerjanya adalah memblokir kerja enzim K+/H+ ATP- ase yang akan memecah K+/H+ ATP. Pemecahan K+/H+ ATP akan menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dan kanalikuli sel pariental ke dalam lumen lambung. Inhibitor pompa proton memiliki efek yang sangat besar terhadap produksi asam. Omeprazol juga secara selektif menghambat karbonat anhidrase mukosa lambung, yang kemungkinan turut berkontribusi terhadap sifat suspensi asamnya

    Gambar1. Flow chart pengobatan hyperacidity 2. Analog Prostaglandin: Misoprostol Mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam lambung menambah

    Gambar1. Flow chart pengobatan hyperacidity

    • 2. Analog Prostaglandin: Misoprostol

    Mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam lambung menambah sekresi mukus, sekresi bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosa. Efek samping yang sering dilaporkan diare dengan atau tanpa nyeri dan kram abdomen. Sekarang ini misoprostol telah disetujui penggunaanya oleh United States Food and Drug Administration (FDA) untuk pencegahan luka mukosa akibat NSAID.

    • 3. Obat penangkal kerusakan mukus

    • Koloid Bismuth Mekanisme kerja melalui sitoprotektif membentuk lapisan bersama protein pada dasar tukak dan melindunginya terhadap rangsangan pepsin dan asam. Obat ini mempunyai efek penyembuhan hampir sama dengan H2RA serta adanya efek bakterisidal terhadap H. pylori sehingga kemungkinan relaps berkurang. Efek samping tinja berwarna kehitaman sehingga timbul keraguan dengan perdarahan

    • Sukralfat Pada kondisi adanya kerusakan yang disebabkan oleh asam, hidrolisis protein mukosa yang diperantarai oleh pepsin turut berkontribusi terhadap terjadinya erosi dan ulserasi mukosa. Protein ini dapat dihambat oleh polisakarida bersulfat. Karena diaktivasi oleh asam, maka disarankan agar sukralfat digunakan pada kondisi lambung kosong, satu jam sebelum makan, selain itu harus dihindari

    penggunaan antasid dalam waktu 30 menit setelah pemberian sukralfat. Efek samping konstipasi, mual, perasaan tidak enak pada perut. Beberapa kombinasi obat yang digunakan untuk pengobatan Peptic ulcer

    penggunaan antasid dalam waktu 30 menit setelah pemberian sukralfat. Efek samping konstipasi, mual, perasaan tidak enak

    Antibiotik/antimikroba Antibiotik digunakan jika pasien terindikasi peptic ulcer disebabkan H pylori umumnya diberikan amoxicillin, metronidazol dan claritromisin. Beberapa kombinasi obat yang digunakan untuk pengobatan Peptic ulcer yang disebabkan H pylori adalah sebagai berikut:

    penggunaan antasid dalam waktu 30 menit setelah pemberian sukralfat. Efek samping konstipasi, mual, perasaan tidak enak

    Tugas:

    Seorang pasien lelaki berinisial RN datang ke apotek dengan membawa resep. Sebelumnya pasien datang ke dokter dengan keluhan sakit pada perutnya, sakit itu muncul setiap kali dia selesai makan, dan kemaren ketika BAB kotorannya bercampur darah. Untuk itu dokter melakukan endoskopi untuk mengetahui keadaan lambung pasien. Hasil pemeriksaan dokter mendagnosa pasien mengalami peptic ulcer disease (PUD) disebabkan oleh H.Pilory. Oleh dokter, pasien diberi resep :

    dr. Raffi, Sp. PD.

    Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

    Medan, 30 September 2014

    Inpepsa S 3 dd cth 2

    Flash No. II

    Omeprazol S 1 dd caps 1

    40 mg No. XV

    Flamints

    No. XX

    Sprn

    Pro

    :

    Umur

    :

    Sejarah pengobatan: pasien selalu menggunakan Ponstan untuk menghilangkan rasa sakit yang dia derita.

    Apakah pendapat saudara terhadap pengobatan yang diberikan kepada pasien ini dan apa tindakan saudara?

    • I. Resep Campuran

    BAB V

    CAMPURAN

    Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran homogen dua atau lebih bahan obat yang telah dihaluskan, dan ditujukan untuk pemakaian oral atau luar. Penggunaan obat dalam bentuk serbuk sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama bagi anak-anak maupun orang dewasa yang sulit meminum obat dalam bentuk tablet, pil ataupun kapsul.

    Serbuk bagi (pulveres) adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama dibungkus dengan kertas perkamen atau pengemas lain yang cocok, sedangkan serbuk tak terbagi atau serbuk tabur (pulvis) adalah serbuk ringan yang digunakan untuk pemakaian topikal dikmas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Dalam mempersiapkan sediaan pulveres, perhitungan dosis merupakan hal utama yang harus diperhatikan.

    Dosis adalah

    takaran

    obat

    yang

    diberikan

    kepada

    pasien

    yang

    dapat

    memberikan efek farmakologis (khasiat) yang diinginkan. Secara umum penggunaan dosis dalam terapi dibagi menjadi :

    • a. Dosis lazim Dosis lazim adalah dosis yang digunakan sebagai pedoman umum pengobatan (yang direkomendasikan dan sering digunakan) sifatnya tidak mengikat (biasanya diantara dosis minimum efek dan dosis maksimum),

    • b. Dosis maksimum/maksimal

    Dosis maksimum adalah dosis yang terbesar yang masih boleh diberikan kepada pasien baik untuk pemakaian sekali maupun sehari tanpa membahayakan (berefek toksik ataupun over dosis).

    Sebagai pedoman terapi, digunakan dosis lazim. Takaran dosis yang ada dalam farmakope umumnya untuk dosis orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak memerlukan rumus perhitungan khusus.

    1. Berdasarkan Umur

    • a. Rumus young (untuk anak <8 tahun)

    I. Resep Campuran BAB V CAMPURAN Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran homogen

    n: umur dalam tahun

    • b. Rumus dilling (untuk anak Besar-sama dengan 8 tahun)

    I. Resep Campuran BAB V CAMPURAN Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran homogen

    n: umur dalam tahun

    • c. Rumus Fried (untuk bayi)

    I. Resep Campuran BAB V CAMPURAN Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran homogen

    n : umur dalam bulan

    2. Berdasarkan berat badan Perhitungan dosis berdasarkan berat badan sebenarnya lebih tepat karna sesuai dengan kondisi pasien ketimbang umur yang terkadang tidak sesuai dengan berat badan, bila memungkinkan hitung dosis melalui berat badan.

    a. RumusThermich, digunakan jika tidak tersedia dosis lazim suatu obat.

    2. Berdasarkan berat badan Perhitungan dosis berdasarkan berat badan sebenarnya lebih tepat karna sesuai dengan kondisi

    n : berat badan dalam kilogram

    b. jika tersedia/tercantum dosis lazim suatu obat tiap kg berat badan maka dosis tersebut digunakan sebagai acuan dalam perhitungan dosis sebelumnya. Contoh : Amoksisilin 25 mg/kg bb, maka untuk anak 10 kg dosisnya adalah 250 mg.

    Cara Pengerjaan Resep Campuran Pada umumnya penulisan resep pulveres terdiri dalam dua bentuk , yaitu:

    • 1. Ditulis jumlah obat untuk seluruh serbuk, lalu dibagi menjadi beberapa bungkus. Contoh : R/ Asetosal 10 m.f pulv No.XX maka ditimbang 10 gram asetosal, digerus lalu dibagi 20 bungkus.

    • 2. Ditulis jumlah untuk setiap bungkus serbuknya dan membuat beberapa bungkus. Contoh : R/ Asetosal 0,5 m.f pulv dtd No.XX maka ditimbang serbuk sebanyak 0,5 gram x 20 bungkus = 10 gram, setelah digerus lalu dibagi menjadi 20 bungkus.

    Soal Latihan

    Seorang ibu membawa anaknya yang berumur 24 bulan (BB=20 kg) ke dokter.

    Anaknya mengalami batuk selama 3 hari dan sesak nafas. Hasil diagnosis dokter menunjukkan terjadi gangguanpada saluran pernafasan dan diberi obat sebagai berikut:

     

    Dr. Ida Leman, SpA Praktik: Jl. Lalu Ilalang no. 1 Medan Telp. (061)8210007

    R/

    Longcef syr Fl I S3 dd cth 1

    R/

    Lasal syr Fl I Dexamethason tab No. X Codein 60 mg Stesolid 10 mg S3 dd C 1

     

    Pro: Amir (13 kg)

    BAB VI SWAMEDIKASI

    Swamedikasi merupakan upaya masyarakat mengobati dirinya sendiri dimana masyarakat menggunakan obat tanpa resep/konsultasi ke dokter untuk mengobati penyakit/gejala yang ringan. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, kecacingan, diare, penyakit kulit, dan lain-lain. Swamedikasi menjadi alternative yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan.

    Dalam prakteknya, swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat berkhasiatnya. Pada umumnya, masyarakat datang ke Apotek dengan 3 tujuan:

    • 1. Meminta nasehat/saran untuk mengatasi symptom/ gejala yg diderita.

    • 2. Langsung mengatakan produk/merk obat yg ingin mereka beli.

    • 3. Meminta nasehat mengenai kesehatan secara umum: diet suplemen, usaha preventif.

    Sehingga apoteker dalam melakukan pelayanan swamedikasi harus memiliki

    keterampilan berikut:

    • 1. Membedakan antara gejala yg minor atau gejala yg serius.

    • 2. Listening Skills

    • 3. Questioning Skills

    • 4. Kemampuan memilih treatment yg tepat berdasarkan bukti.

    Apoteker harus mempertimbangkan hal berikut dalam melakukan pelayana swamedikasi kepada pasien, bahwa:

    Pasien bukan kertas putih yang kosong. Pasien mungkin merasa ahli dengan caranya sendiri. Pasien mungkin telah memiliki pengalaman/kondisi yang sama pada waktu lampau Pasien mungkin telah mencoba beberapa treatment. Pasien mungkin memiliki ide sendiri tentang penyebab.

    Seorang apoteker perlu mengembangkan metode konsultasi dalam rangka memperoleh informasi dari pasien yang akan diperlukan dalam pelayanan swamedikasi. Metode konsultasi diperlukan agar dapat memastikan bahwa seluruh informasi yang penting dapat diperoleh dan tidak ada yang terlewatkan.

    Salah satu metode konsultasi yang dapat dipergunakan adalah metode WHAM. Metode ini adalah metode konsultasi dengan urutan pertanyaan sebagai berikut:

    W - Who is the patient and what are the symptom? Pastikan identitas pasien anda! ORANG yg datang ke apotek bisa saja orang yg mewakili pasien. Gejala yg jelas harus diketahui: pasien sering mendiagnosa sendiri penyakit yg dideritanya dan farmasis jangan menerima langsung.

    H - How long have the syptoms been present? Durasi terjadinya gejala menjadi indikasi yang penting dalam memutuskan apakah pasien harus dirujuk ke dokter atau tidak.

    Semakin lama gejala terjadi, semakin besar kemungkinan penyakit serius terjadi Gejala minor kebanyakan self-limiting dan sembuh sendiri dalam beberapa hari. A Action taken? Setiap tindakan yg telah dilakukan pasien harus dijelaskan. 1 dari 2 pasien paling tidak telah mencoba satu pengobatan sebelum mencari nasihat farmasis.

    Jika pasien telah mencoba terapi yg sesuai namun gagal, merujuk ke dokter kemungkinan merupakan aksi yg terbaik. M Medication being taken?

    Obat yg sedang digunakan pasien secara reguler penting untuk diketahui:

    mencegah terjadinya kemungkinan interaksi obat dan reaksi obat yg merugikan. Keluhan yg sedang terjadi pd pasien, ada kemungkinan disebabkan oleh obat yg sedang digunakan. Mis: keluhan nyeri perut yg ditimbulkan oleh pemakaian NSAIDs atau batuk yg ditimbulkan olah ACE inhibitor.

    Dalam melakukan pelayanan swamedikasi apoteker juga harus mampu mengidentifikasi kondisi pasien dalam menentukan apakah pasien tersebut dapat melakukan swamedikasi atau seharusnya dirujuk ke dokter (Treat or Referral).

    Kondisi yang harus dipertimbangkan untuk dirujuk:

    • - Durasi gejala yg lama

    • - Masalah yg berulang atau semakin berat

    • - Nyeri berat

    • - Pengobatan yg gagal

    • - Diduga akibat efek samping obat

    • - Gejala yg berbahaya seperti dahak dalam darah, muntah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, dan lain-lain.

    Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berada pada lini terdepan terutama dalam pelayanan di farmasi komunitas (apotek) dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drug misuse).

    Daftar Pustaka

    • 1. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, DepKes RI. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas.

    • 2. Tietze. K.J. (2003). Clinical Skills For Pharmacists: A Patient-Focused Approach. Second Edition. St. Louis, Missouri: Mosby inc.

    • 3. Faculty of Pharmacy, University of Cairo. (2009). Community Pharmacy and Pharmacy Practice.

    • 4. Blenkinsopp, A., Paxton, P., Blenkinsopp, J. (2009). Symptoms in Pharmacy: A Guide to The Management of Common Illness. Sixth edition. West Sussex, UK: Wiley-Blackwell.

    Kasus:

    • 1. Seorang bapak berumur 45 tahun datang ke apotek dengan keluhan gejala flu dan batuk yang sudah dialami satu hari yang lalu. Pekerjaan beliau adalah supir angkot dan menderita penyakit hipertensi sejak setahun yang lalu. Berikanlah swamedikasi yang benar disertai saran yang perlu dilakukan Bapak tersebut.