Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SAP PNEUMONIA

Topik : Pneumonia
Sasaran : Orangtua yang membawa balita ke Posyandu
Hari/Tanggal : Selasa, 5 Januari 2016
Tempat: Posyandu Ananda
Waktu : 30 menit

A. Latar belakang

Pneumonia tersebut merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang mengenai parenkim
paru yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Secara anatomi dapat dibedakan menjadi
pneumonia lobaris, pneumonia interstisial dan bronkopnomonia. Pneumonia yang pada anak
sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus yang disebut
Bronkopneumonia. Penyebab pneumonia pada umumnya adalah bakteri Streptococcus
pneumonia dan Haemophillus influence. Penyebab pneumonia yang paling serius dan
menyebabkan angka mortalitas dan morbiditas tinggi pada bayi dan balita adalah
Staphilococus aureus (Mansjoer et al., 2000; Wong, 2009).
Penyakit pneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak usia 1-5 tahun, karena pada
usia tersebut memiki sitem kekebalan tubuh yang masih rendah. Selain itu banyak faktor lain
yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia pada balita diantaranya adalah status
imunisasi, status gizi, pemberian ASI eksklusif, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) atau
prematuritas, keberadaan anggota keluarga yang merorok, defisiensi vitamin A, polusi udara
yang terjadi di rumah (IDAI, 2010;Rachmawati, 2013),
Pneumonia merupakan penyebab kematian utama anak dibawah usia lima tahun (Balita)
di dunia. Setiap tahun sebanyak 2 juta anak di dunia meninggal akibat pneumonia (Depkes,
2013). Pneumonia di Indonesia dari tahun ke tahun selalu menduduki peringkat atas sebagai
penyebab kematian bayi dan balita, menurut laporan UNICEF dan WHO pada tahun 2006
Indonesia merupakan negara dengan kejadian pneumonia ke-6 terbesar di dunia (IDAI,
2013).
Data Riskesdas tahun 2007 menunjukan angka prevalensi pneumonia di Indonesia
mencapai 25,8% serta menduduki peringkat ke-2 penyebab kematian pada bayi dan balita
setelah diare (Departemen Kesehatan RI, 2010). Sedangkan berdasarkan profil kesehatan
Indonesia tahun 2010 jumlah kasus pneumonia di Indonesia mencapai 499.259 dengan
prosentase 23% dan angka kematian mencapai 23,60%. Jumlah tersebut menurun di tahun
2011, berdasarkan data profil kesehatan di Indonesia jumlah kasus pneumonia menjadi
480.033 dengan prosentase 20,59%.
Menurut Departemen Kesehatan, ISPA yang salah satunya adalah pneumonia merupakan
salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan terutama pada bagian
perawatan anak yaitu sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di puskesmas dan 15% - 30%
kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit (Depkes, 2013).
Salah satu cara untuk menurunkan angka kejadian pneumonia pada anak adalah dengan
pendidikan kesehatan yang ditunjukkan pada keluarga pasien. Sehingga diharapkan angka
kejadian pneumonia pada anak berulang dan tidak terjadi kekambuhan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang penyakit pneumonia pada anak selama 1
x tatap muka diharapkan tidak terjadi pneumonia berulang.

2. Tujuan Khusus
a. Menyebutkan pengertian pneumonia
b. Menyebutkan penyebab pneumonia
c. Menyebutkan cara pencegahan penyakit pneumonia
d. Mengetahui tindakan yang harus dilakukan keluarga ketika anaknya menderita
pneumonia

C. Kegiatan Belajar Mengajar.


1. Topik : Pneumonia pada Anak
2. Sasaran : Orangtua yang balita ke Posyandu
3. Metode : Ceramah dan diskusi
4. Media dan Alat : Leaflet, slide ppt
5. Waktu dan Tempat :
- Hari :Selasa
- Jam :08.00 WIB - Selesai
- Tempat : Posyandu Ananda
6. Pengorganisasian
a. Moderator : Nuraysih
Tugas :
- Membuka dan menutup acara penyuluhan
- Memberikan kesempatan pada peserta untuk bertanya
- Mengarahkan jalannya penyuluhan
- Menjawab pertanyaan peserta
b. Penyaji : Neni Wahyuni
Tugas :
- Menyajikan atau menyampaikan materi penyuluhan
- Menggali pengetahuan peserta tentang materi penyuluhan
- Menjawab pertanyaan peserta
c. Observer : Nailil Inayah
Tugas :
- Mengamati jalannya penyuluhan
- Mencatat jumlah peserta yang hadir
- Mencatat tanggapan yang dikemukakan\
- Menjawab pertanyaan peserta
- Melaporkan hasil kegiatan

7. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Peserta Media

Pembukaa 5 menit a. Memberikan salam a. Menjawab salam 1.


n b. Memperkenalkan b. Mendengarkan dan
diri, anggtoa memperhatikan
kelompok.
c. Menjelaskan kontrak c. Mendengarkan dan
waktu menyetujui
d. Menjelaskan tujuan d. Mendengarkan dan
penyuluhan memperhatikan
Is a. Menggali a. Memberikan 1.
i pengetahuan tentang pendapat
(p pneumonia
b. Mendengarkan
b. Menjelaskan
e
pengertian
n
c. Mendengarkan
penumonia
g
c. Menjelaskan
d. Mendengarkan
e
penyebab penumonia
m d. Menjelaskan cara
e. Mendengarkan
b pencegahan penyakit
a penumonia
e. Menjelaskan cara f. Mendengarkan
n
penanganan penyakit
g g. Mengajukan
penumonia
a pertanyaan
f. Menjelaskan tanda
n)
bahaya penumonia
2 g. Memberikan h. Satu atau dua
0 kesempatan kepada orang menjawab
m keluarga untuk
e bertanya
h. Meminta salah satu
ni
keluarga untuk
t
menjelaskan
pengertian
pneumonia, penyebab
pneumonia, tanda dan
bahaya penumonia

P a. Mahasiswa a. Menjawab 1.
e melakukan evaluasi pertanyaan yang
n diajukan
b. Mahasiswa
b. Mendengarkan dan
ut
menyimpulkan
memperhatikan
u
materi yang telah
p
disampaikan
c. Menjawab salam
5 c. Mahasiswa
m memberikan salam
e penutup
ni
t

8. Metode Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1. Peserta hadir ditempat penyuluhan
2. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan
3. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
b. Evaluasi Proses
1. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
2. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
3. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar

c. Evaluasi Hasil
Sesuai dengan indikator yang ditetapkan untuk :
1. Menyebutkan pengertian penumonia
2. Menyebutkan penyebab pneumonia
3. Menyebutkan cara pencegahan penyakit pneumonia
4. Mengetahui tindakan yang harus dilakukan keluarga ketika anaknya menderita
pneumoni
d. Pertanyaan evaluasi
1. Sebutkan pengertian pneumonia
2. Sebutkan penyebab pneumonia
3. Sebutkan cara pencegahan penyakit pneumonia
4. Bagaimana tindakan yang harus dilakukan keluarga ketika anaknya menderita
pneumonia

LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian Pneumonia.
Pneumonia merupakan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru yang sering menyerang bayi dan anak-anak. Secara klinis pneumonia
didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri,
virus, jamur, parasit), bahan kimia, aspirasi, obat-obatan dan lain-lain. Sebagian besar
episode yang serius disebabkan oleh bakteria. Penyakit pneumonia tersebut dapat terjadi
secara primer maupun akibat dari penyakit yang lain (Mansjoer et al., 2000; Wong, 2009).
Pneumonia mengalami suatu proses peradangan dimana terdapat konsilidasi yang disebabkan
pengisisan rongga alveoli paru-paru oleh eksudat (Somantri, 2008).
B. Penyebab Pneumonia
a. Bakteri
Jenis bakteri yang sering menginfeksi adalah streptococcus pneumonia, haemopilus
influenzae, pseudomonas aeregunesa, pneumokokus, Streptococcus group B serta
kuman atipik Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae staphylococcus
aureus (penyebab peneumonia yang paling berat, serius dan progresif dengan
mortalitas tinggi).
b. Virus
Jenis virus yang biasanya menginfeksi diantaranya adenovirus, sitomegalovirus, virus
influenze.
c. Jamur
Jenis jamur yang sering menginfeksi adalah aspergilus, histoplasma,
koksidioidomikosis.
d. Aspirasi
Penyebab aspirasi seperti cairan amnion (biasanya terjadi ketika persalinan), benda
asing, cairan lambung, makanan (Mansjoer et al., 2000).

C. Klasifikasi Pneumonia
Menurut Mansjoer et al., (2000) dan Somantri (2008) membagi pneumonia menurut
anantomi menjadi 3 yaitu :
a) pneumonia lobaris merupakan pneumonia yang menunujukan infeksi yang terjadi pada
satu atau lebih lobus;
b) pneumona interstisial yaitu pneumonia yang menunjukkan inflamasi di daerah
interstitium yang manan\ terbentuk dari dinding alveoli, kantung dan saluran alveolar
serta bronchioles. Pneumonia interstisial mempunyai karakteristik terjadi infeksi virus
akut tetapi mungkin juga terjadi proses kronis (Behrman, 2011);
c) pneumonia loburalis atau bronkopneumonia merupakan pneumonia yang menunujukan
penyebaran daerah infeksi yang ditandai dengan bercak berdiameter 3-4 cm yang
mengelilingi dan mengenai bronchus serta mengaraah pada produksi eksudat yang
mukopurulen yang menyumbat jalan nafas dan membentuk bercak-bercak konsolidasi
di lobulus yang berdekatan. (Behrman, 2011). Jenis pneumonia ini adalah merupakan
penyakit terbanyak yang diderita oleh balita.
Program penanggulangan penyakit ISPA membagi pneumonia menjadi pneumonia
sangat berat, pneumonia berat, pneumonia dan bukan pneumonia, berdasarkan ada tidaknya
tanda bahaya, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam dan frekuensi napas, dan
dengan pengobatan yang spesifik untuk masing-masing derajat penyakit. Dalam
MTBS/IMCI, anak dengan batuk diklasifikasikan sebagai penyakit sangat berat
(pneumonia berat) dan pasien harus dirawat inap, pneumonia yang berobat jalan dan batuk
atau bukan pneumonia cukup diberi nasihat untuk perawatan di rumah.
Table 2.1 Hubungan diagnosis klinis dan klasifikasi pneumonia menurut MTBS

Diagnosis klinis Klasifikasi MTBS

Pneumonia berat (rawat inap): Penyakit sangat berat (Pneumonia


berat)
a. tanpa gejala hipoksemia
b. dengan gejala hipoksemia
c. dengan komplikasi

Pneumonia ringan (rawat jalan) Pneumonia

Batuk :bukan pneumonia


Infeksi respiratorik akut atas

D. Tanda dan Gejala


Menurut Green et al., (2005) tanda gejala klasik pada anak dengan pneumonia
adalah demam, takipnea, batuk. Menurut Mansjoer et al, 2000 manifestasi klinis dapat
dibagi menjadi :
a) manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel,
gelisah, malaise, nafsu makan berkurang, keluhan gastrointestinal;
b) gejala umum saluran pernafasan bawah berupa batuk, takipneu, ekspektorasi sputum,
napas cuping hidung, sesak nafas, merintih dan sianosis. Anak yang lebih besar akan
lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekut karena nyeri dada;
c) tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah kedalam
saat bernafas diikuti dengan peningkatan frekuensi nafas), perkusi pekak, fremitus
melemah, suaraa nafas melemah dan ronki.
Menurut Buku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit yang disusun oleh WHO
(2010) pneumonia dapat diagnosis berdasarkan klasifikasi pneumonia.
a. Pneumonia ringan
Diagnosis:
1) selain batuk atau kesulitan bernapas, hanya terdapat napas cepat saja;
2) Napas cepat;
3) pada anak umur 2 bulan 11 bulan: 50 kali/menit;
4) pada anak umur 1 tahun 5 tahun : 40 kali/menit;
5) Pastikan bahwa anak tidak mempunyai tanda-tanda pneumonia berat.
b. Pneumonia berat
Diagnosis:
Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut ini:
1) kepala terangguk-angguk;
2) pernapasan cuping hidung;
3) tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam;
4) foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi, dll).
Selain itu bisa didapatkan pula tanda berikut ini:
1) Napas cepat:
a) Anak umur < 2 bulan : 60 kali/menit
b) Anak umur 2 11 bulan : 50 kali/menit
c) Anak umur 1 5 tahun : 40 kali/menit
d) Anak umur 5 tahun : 30 kali/menit
2) Suara merintih (grunting) pada bayi muda
3) Pada auskultasi terdengar:
a) crackles (ronki);
b) suara pernapasan menurun;
c) suara pernapasan bronchial.
Dalam keadaan yang sangat berat dapat dijumpai:
1) tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya;
2) kejang, letargis atau tidak sadar;
3) sianosis;
4) distres pernapasan berat.
Untuk keadaan di atas ini tatalaksana pengobatan dapat berbeda (misalnya: pemberian
oksigen, jenis antibiotik).

E. Cara Penularan
Penyakit pneumonia pada anak dapat menular kepada anak lain yang rentan terhadap
penyakit ini. Kuman menyebar melalui percikan ludah (udara) pada saat bersin, batuk,
maupun berbicara (Kementerian Kesehatan RI, 2010). kuman pneumonia tersebut masih
dapat menular kepada orang lain dalam radius 200 meter (Abu Bakar, 2011). Cara penularan
utama sebagian besar ISPA adalah melalui droplet, tapi penularan melalui kontak (termasuk
kontaminasi tangan yang diikuti oleh inokulasi tak sengaja) dan aerosol pernapasan yang
infeksius dengan berbagai ukuran dan dalam jarak dekat juga bisa menjadi cara penularan
untuk sebagian pathogen (WHO, 2007).

F. Komplikasi
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2010) penyakit pneumonia dapat menimbulkan
beberapa komplikasi dan bisa sampai meninngal. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi
antara lain:
a. efusi pleura atau pneumotoraks; yaitu adanya cairan atau udara di ruang selaput paru.
Hal ini biasanya terjadi bila kuman penyebabnya adalah Stafilokokus. Biasanya ditandai
dengan adanya bintil-bintil isi nanah di kulit;
b. empiema; yaitu adanya nanah di ruang selaput paru. Hal ini dicurigai bila anak
mengalami demam berkepanjangan, dan pada foto rontgen tampak cairan pada rongga
dada;
c. gangguan bernapas hingga gagal napas. Hal ini terjadi karena pada pneumonia terjadi
gangguan pertukaran oksigen akibat peradangan di paru. Akibatnya, jaringan tubuh akan
kekurangan oksigen, anak akan sesak, dan apabila berlangsung lama dan berat akan
timbul gangguan pada berbagai organ hingga menyebabkan kematian. Anak harus
dirawat di perawatan intensif dan diberikan bantuan napas.
d. Komplikassi lain yang dapat terjadi pada pneumonia menurut mansjoer (2000) adalah
abses kulit, abses jaringan lunak, otitis media, sinusitis, meningitis purulenta,
perikarditis dan epligotis kadang ditemukan pada infeksi H.influanzae tipe B.
G. Faktor resiko pneumonia
Sebagian besar kematian dan kesakitan akibat pneumonia berkaitan dengan kemiskinan,
kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat seperti kurang gizi, hygiene buruk,
lingkungan padat dan kumuh, dan kurangnya akses ke fasilitas kesehatan. Anak dengan
sistem pertahanan tubuh lemah seperti anak gizi buruk terutama karena tidak mendapat ASI
eksklusif dan kekurangan vitamin A atau terkena campak memiliki risiko pneumonia tinggi
(IDAI, 2010).
a. Status imunisasi
Menurut kementerian Kesehatan RI (2011) status imunisasi pada balita merupakan
salah satu faktor resiko penyebab pneumonia pada balita. Balita yang status imunisasi
tidak lengkap mempunyai risiko 7,6 kali untuk terkena penyakit Pneumonia
dibandingkan Balita yang status imunisasinya lengkap. Pemberian imunisasi dapat
menurunkan risiko untuk terkena pneumonia.(Departemen Kesehatan, 2010; Fanada,
2012). Imunisasi yang penting berkaitan dengan pneumonia antara lain imunisasi DPT,
campak, pneumokokus, dan Hib. Imunisasi DPT dan campak merupakan imunisasi
wajib yang harus diberikan pada anak, sedangkan imunisasi pneumokokus dan Hib
merupakan imunisasi anjuran yang dapat diberikan pada anak karena memberikan
kekebalan terhadap kuman penyebab pneumonia (Departemen Kesehatan, 2010; IDAI,
2010).
b. Status gizi
Menurut penelitian Fanada (2012) balita yang status gizinya rendah akan lebih
mudah terserang penyakit Pneumonia karena kekurangan asupan gizi dapat menurunkan
sistem kekebalan tubuh Balita, oleh karena itu Balita yang status gizinya rendah
mempunyai resiko untuk terkena penyakit pneumonia dibandingkan dengan balita yang
status gizinya tinggi.
c. Pemberian ASI Eksklusif
Balita yang tidak diberikan ASI eksklusif memiliki risiko 5,2 kali untuk terkena
penyakit Pneumonia dibandingan dengan Balita yang diberikan ASI eksklusif (Fanada,
2012). Pemberian ASI terbukti efektif dalam mencegah infeksi pada pernapasan dan
pencernaan (Abbas et al., 2011). Menurut Abdullah (2003) dalam Abbas et al., (2011)
menyatakan bahwa pemberian ASI cukup memberikan efek protektif 39,8% terhadap
ISPA pada anak usia 0-4 bulan.
d. BBLR/Prematuritas
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko resiko untuk terkena penyakit
ISPA; pneumonia (Kartasamita dalam Departemen Kesehatan, 2010). Bayi berat lahir
rendah atau prematur mempunyai sistem pertahanan tubuh maupun sistem pernapasannya
belum berkembang sebaik bayi berat lahir cukup dan cukup umur. Apabila anak tidak
mendapatkan imunisasi yang lengkap, maka anak tidak memiliki kekebalan terhadap
kuman-kuman penyebab pneumonia yang banyak sekali jenisnya (IDAI, 2010).
e. Defisiensi vitamin A
Penelitian di beberapa negara Asia Selatan menunjukkan bahwa suplementasi Zinc
pada diet sedikitnya 3 bulan dapat mencegah infeksi saluran pernapasan bawah. Vitamin
A bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dan melindungi saluran pernapasan dari
infeksi kuman. Hasil penelitian Sutrisna di Indramayu (1993) menunjukkan peningkatan
risiko kematian pneumonia pada anak yang tidak mendapatkan vitamin A. Namun,
penelitian Kartasasmita (1993) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna insidens dan
beratnya pneumonia antara balita yang mendapatkan vitamin A dan yang tidak, hanya
waktu untuk sakit lebih lama pada yang tidak mendapatkan vitamin A (Kartasamita dalam
Departemen Kesehatan, 2010).
f. Pengetahuan ibu dengan kejadian pneumonia pada balita
Pengetahuan ibu yang kurang merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada
balita. Aspek pengetahuan yang dipahami rendah oleh mereka adalah batasan tentang
penyakit pneumonia, pemahaman cara pencegahan, tanda dan gejala penyakit pneumonia,
cara penularan pneumonia (Rachmawati, 2013).
g. Keberadaan anggota keluarga yang merokok
Penelitian Rachmawati (2013) menyatakan bahwa asap samping rokok mempunyai
efek toksik lebih buruk daripada asap utama terutama dalammenimbulkan iritasi mukosa
saluran napas danmeningkatkan kecenderungan untuk mendapatkan ISPA. Fakta di
lapangan menunjukkan bahwa adanya keberadaan keluarga yang merokok di dalam
rumah sebagian besar yaitu kepala keluarga atau ayah balita. Terjadinya pneumonia pada
balita apabila ayah atau anggota keluarga lain menggendong balitanya sambil merokok.
Asap rokok yang ditimbulkan akan terhirup oleh balita secara langsung, dan hal ini
apabila terjadi berulang dalam waktu yang lama. Paparan asap rokok tersebut akan
mengganggu sistem pernafasan pada balita dan dapat menjadi infeksi pernafasan atau
pneumonia.
h. Polusi udara yang terjadi di rumah balita (terutama asap dapur)
Polusi udara tidak akan berdampak pada balita bila tidak terjadi paparan. Paparan ini
bisa terjadi bila saat ibu memasak, balita berada di dapur. Penggunaan kayu maupun
minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak mengakibatkan timbulnya asap di
dalam dapur. Keberadaan asap di dapur ini menjadi polutan yang dapat memepengarui
timbulnya penyakit pneumonia pada balita bila terjadi paparan dalam kurun waktu yang
lama (Nurjazuli, 2008).

Hal hal yang dapt dilakukan ibu :


a) Pemberian Cairan
1. Berilah minuman lebih banyak pada anak.
2. Anak dengan infeksi saluran pernapasan dapat kehilangan cairan lebih banyak dari
biasanya terutama demam. Anjurkan ibunya untuk memberi cairan tambahan: lebih
banyak memberi ASI, susu buatan, air putih, sari buah dan sebagainya.
3. Pemberian ASI.
4. Bila anak belum menerima makanan tambahan apapun, anjurkan ibunya untuk
memberikan ASI lebih sering daripada biasanya. ASI adalah bahan penyembuh terbaik
bagi bayi yang mendapat ASI Eksklusif.
b) Pengaturan makanan anak
1. Pemberian makan dan jenis cairan yang tepat, sesuai dengan kelompok umur anak.
Anjuran pemberian makan terbagi untuk kelompok umur: 0-6 bulan, 6-12 bulan, 1-2
tahun, 2-3 tahun dan 3-5 tahun. praktek pemberian MP ASI untuk anak usia 6 bulan
keatas dengan makanan yang kaya nutrisi dan energi. Pemberian makanan selingan
bergizi untuk yang berumur 1 tahun.
2. Bersihkan hidung agar tak mengganggu pe
3. berian makanan.
4. Bersihkanlah lubang hidung dari ingus atau
5. lendir yang telah mengering dengan kain bersih yang dibasahi air supaya hidung tidak
tersumbat.
6. Pemberian makanan pada bayi yang tidak bisa mengisap dengan baik. Stomatitis
(radang dalam mulut) yang berat dapat mengganggu anak mengisap ASI dengan baik,
sehingga perlu mengajarkan pada ibu untuk memeras ASI ke dalam mangkuk, atau
menyiapkan susu buatan yang baik, kemudian memberikan kepada anaknya dengan
sendok.
7. Pemberian makanan pada anak yang muntah.
8. Anak yang sering muntah bisa mengalami malnutrisi, ibu harus memberikan makanan
pada saat muntahnya reda. Pemberian makanan diusahakan sesering mungkin selama
sakit dan sesudah sembuh.
9. Pemberian makanan selama anak sakit.
10. Untuk anak berumur 6 bulan atau lebih, anak bisa diberikan makanan dengan nilai gizi
dan kalori yang tinggi. Dengan melihat umurnya, berilah campuran tepung dengan
kacang-kacangan, atau tepung dengan daging atau ikan. Selain itu juga bisa
ditambahkan makanan dari susu dan telur. Bila umur anak kurang dari 6 bulan atau
belum mendapat makanan tambahan, ibu dianjurkan untuk lebih sering memberikan
ASI.
2. Pencegahan yang dapat dilakukan
1. Jauhkan balita anda dari penderita batuk
2. Lakukan imunisasi lengkap di
3. posyandu ataupun di Puskesmas
4. Berikan ASI pada bayi/ anak usia 0-2 tahun
5. Bersihkan lingkungan rumah terutama ruangan tempat tinggal balita anda, serta usahakan
ruangan memiliki udara bersih dan ventilasi cukup
6. Jauhkan bayi dari asap, debu, serta bahan- bahan lain yang mudah terhirup oleh balita Anda
seperti asap rokok, asap dari tungku, asap dari obat nyamuk bakar, asap dari kendaraan
bermotor ataupun pencemaran lingkungan udara lainnya.
DAFTAR PUSAKA

Departemen kesehatan. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia. Jakarta: [serial


online]http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN
%20PNEUMONIA.pdf [diakses tanggal 30 Desember 2015]
Departemen kesehatan. 2013..pneumonia, penyebab utama kematian balita .Jakarta: [serial
online]. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/410-pneumonia-penyebab-
kematian-utama-balita.html [diakses tanggal 30 Desember 2015]
Hartati, Susi. 2011. Analisis Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia
Pada Balita Di RSUD Pasar Rebo Jakarta. Depok: Universitas Indonesia. [Tesis]
Huriah, T. Dan Lestari, R., 2008. Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang infeksi saluran
pernafasan atas ( ISPA ) terhadap kemampuan ibu dalam perawatan ISPA pada balita di
dusun lemahdadi kasihan bantul yokyakarta: Lecturer at community nursing, schoolbof
nursing muhammadiyah universitas of yokyakarta. [skripsi]
[serialonline]https://www.google.com/#q=+Pengaruh+Pendidikan+Kesehatan+tentang+inf
eksi+saluran+pernafasan+atas+%28+ISPA+
%29+terhadap+kemampuan+ibu+dalam+perawatan+ISPA+pada+balita+2008 [diakses
tanggal 30 Desember 2015].
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2010. Upaya percepatan penanggulangan penumonia pada
anak di Indonesia. [Serial Online]. http://idai.or.id/. [diakses tanggal 30 Desember 2015]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun
2011. [serial online].http://www.depkes.go.id
/downloads/PROFIL_DATA_KESEHATAN_INDONESIA_TAHUN_2011.pdf [diakses
tanggal 30 Desember 2015]