Anda di halaman 1dari 4

Teknik Sitohistoteknologi

Tahapan- tahapan dalam melakukan teknik sito-histologi dimulai dari mendapatkan


jaringan sampai dihasilkan preparat yang siap diperiksa secara mikroskopis
Tahapan Teknik Sito-Histologi
1. Mendapatkan Jaringan
2. Fiksasi
3. Dehidrasi
4. Clearing
5. Embedding
6. Sectioning/Cutting
7. Mounting
8. Staining
9. Labeling
Mendapatkan Jaringan
Jaringan harus diduga tumor atau kelainan
Jaringan harus sudah difikasasi sebelum 6 jam setelah kematian, bisa terjadi maserasi
Pemotongan menggunakan pisau tajam ukuran biasanya (1,5x1x0,5) cm3
Mendapatkan Jaringan
Harus segera dimasukkan ke dlm larutan fiksasi (Volume 40x) selama 1 malam
Tidak boleh dicuci dg air (terjadi perubahan tekanan osmotic
Tidak boleh disimpan dlm NaCl 0,9 % -maserasi
Tidak boleh dibekukan-pembentukan kristal es dlm sitoplasma
Jaringan berbentuk tulang harus didekalsifikasi agar lunak dg HCl 0,5 %

Fiksasi Jaringan
Fiksasi Jaringan adalah Proses mengawetkan jaringan agar awet dan kondisinya sama
seperti hidup, mempertahankan elemen-elemen sel / jaringan agar tetap pada tempatnya
dan tidak mengalami perubahan bentuk dan ukuran. Zat yang digunakan : fiksatif.
Dilakukan dengan merendam jaringan ke lart fiksasi (volume min 20x besar jar) selama 24
jam
Fiksatif :
- Mempunyai kemampuan mengubah indeks bias bagian sel sehingga mudah dilihat dengan
mikroskop.
- Membuat jaringan mudah menyerap zat warna.
Lama fiksatif tergantung :
- Macam jaringan
- Tebal tipisnya jaringan
- Macam fiksatif yang dipergunakan.

Macam-macam fiksatif
a. Larutan fiksatif sederhana
Hanya mengandung satu macam zat saja. Misal : etanol 70-100% ; Formaldehyde 4-10% ;
Asam asetat 0,3-5% ; Asam pikrat ; asam Chromiat 0,5-1 % dll.
b. Larutan Fiksatif Majemuk / campuran
Mengandung lebih dari satu macam zat. Misal : larutan Bouin (asam pikrat, formalin dan
asam asetat glasial) ; Larutan Zenker (merkuri chlorida, potassium dichromate, aquadest)
dll.
Larutan Zenker : Nuklei dan jaringan pengikat sangat terpulas baik terutama jaringan
tumor.

Manfaat Fiksasi :
Sel & jar keadaannya seperti hidup
Membunuh Bakteri
Mematikan sel secara serentak
Mengeraskan jaringan
Melindungi sel dari prosesselanjutnya
Mempermudah pengecatan
Melindungi sel/jar dari autolysis dan putrefaction

Fiksasi Jaringan
Berdasar Cara Kerja :
Precipitant fixatives (mengkoagulasikan protein) ex : Mercuri klorida, alcohol
Non Precipitant fixatives (mendenaturasikan protein) ex : Potassium diphosphat
Berdasar Tujuan Pemakaian :
Micro Anatomical Fixatives (melihat komponen jar scr keseluruhan) ex : susa, Bouin,
Zenker
Cytological Fixatives :
melihat komponen inti, ex : Fleming, Corney, Sanpelice.
melihat komponen sitoplasma, ex : Formaldehida (5% Formal saline), Fleming dikurangi
asam asetat galsial,
BERDASARKAN KOMPOSISINYA
Simple fixative (Zat fiksatif yang dipakai tunggal) ex : Mercuri Chlorida, Alkohol, Picric
Acid, Chromic Acid
Compound fixatives (Zat fiksatif yang digunakan secara gabungan) ex : NaCl Formalin,
Suza, Zenker, dsb.
Kecepatan penetrasi zat Fiksatif Berbeda-beda
o Paling cepat : asam acetat glacial
o Paling lambat : Osmium Tetraoksida (OsO4)
SIFAT ZAT FIKSATIF
Alkohol - Mengeraskan jaringan.
- Daya penetrasi kuat.
- Melarutkan kromatin
Asam Asetat Glasial- Melunakan jaringan.
- Daya penetrasi kuat.
- Memfiksasi kromatin

Dehidrasi
Proses penarikan air secara aktif dari dalam jaringan
Proses Dehidrasi
Untuk memudahkan proses infiltrasi parafin ke dalam jaringan menggunakan alkohol dari
konsentrasi rendah-tinggi
Proses Dehidrasi
Contoh Proses Dehidrasi
alkohol 70%.......... 1 hari
alkohol 80%........... 1 hari
alkohol 90%........... 1 hari
alkohol 95% .......... 1 hari
alkohol 95% .......... 1 hari
alkohol 100% ........ 1 hari
alkohol 100% ........ .1 hari
Alkohol dapat dimurnikan kembali dengan cuprisulfat (CuSO4) Cuprisulfat -putih (tak
mengandung air) akan berubah menjadi biru (mengandung air). Ganti cuprisulfat beberapa
kali hingga warnanya tetap putih walaupun telah disimpan beberapa hari. Cuprisulfat yang
telah bewarna biru karena mengandung air dapat di hilangkan airnya dengan cara
memanaskan.
Proses Dehidrasi
Lamanya waktu tergantung pada :
Besar kecilnya jaringan
Konsentrasi jaringan
Macam zat fiksasi yang dipakai
Sifat clearing agent yang dipakai
Proses Clearing
Syarat clearing agent harus melarutkan alkohol dan parafin
Clearing agent yang biasa dipakai :
Xylene.
Benzene
Toluen
Chloroform
EMBEDDING
Embedding adalah Proses memasukkan jaringan ke dlm parafin cair untuk dibuat blok yg
padat
Meliputi :
q Impregnation
q Blocking
q Trimming
Proses Embedding
Impregnation.
proses penggantian larutan toluen dengan parafin cair
Blocking.
Memasukkan jaringan ke dalam parafin cair - dipadatkan (menurunkan suhu parafin)-
dicetak
Trimming.
Meratakan/merapikan jaringan yg telah diblock parafin dengan menggunakan pisau atau
langsung dengan mikrotome, sehingga pada saat pemotongan didapatkan potongan bentuk
jaringan yang baik
Proses
SECTIONING / CUTTING
Sectioning adalah proses pemotongan jar dengan mikrotom-ukuran sangat tipis 4-10 -
tembus cahaya saat diperiksa dg mikroskop
Diperhatikan :
Pisau harus tajam
Blok jaringan harus dingin
Ketebalan pemotongan harus disesuaikan dengan jenis jaringan
Proses Sectioning
Dinginkan pada lemari es / cold plate - akan terlepas dari cetakan bloknya dan tempatkan
pada hold mikrotome untuk dipotong (ketebalan 3 5 ) -membentuk lembaran pita
MOUNTING
Menempelkan potongan jaringan yg baik ke obyek glass
Proses Mounting
} Obyek glass diberi albumin agar Jar menempel dg baik
} Dimasukkan ke dalam water bath suhu 30 0C - lembaran pita tidak melipat
} Bila sudah menempel dikeringkan/ diriskan (Bisa dg Hot Plate)
} Stretching tissue in warm water.
Staining
mewarnai preparat
Staining
Macam pewarnaan berdasarkan asal zat warna :
Natural Dyes,
Acid Carmine : ekstrak serangga betina yang hidup di pohon kaktus di daerah tropis.
Hematoxyline : getah pohon Haematoxylinecampechianum
Syntetic Dyes
Benzene, Quinone, Anilline.
Staining
Prinsip Kerja Pewarnaan :
Secara umum zat warna yang bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa
dan sebaliknya
cat netral (gugus asam dan gugus basa keduanya berwarna) Misal :
Romanowsky ,(Camp methylen Blue & Eosin)
Staining
Berdasarkan waktu :
Direct Staining, molekul zat warna langsung ditangkap oleh jaringan, misalnya Eosin
Indirect Staining, molekul zat warna baru bisa ditangkap oleh jaringan jika menggunakan
zat perantara yang disebut Mordant, misalnya Haematoxyline menggunakan Potasium
Alum sebagai mordantnya.
Pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE)
Menggunakan 2 macam zat warna yaitu
q Hematoksilin -memulas inti sel dan memberikan warna biru (basofilik)
q Eosin yang merupakan counterstaining hematoksilin, memulas sitoplasma sel dan
jaringan penyambung dan memberikan warna merah muda dengan nuansa yang berbeda.
Interpretasi hasil :
P Inti sel bewarna biru
P Sitoplasma bewarna kemerahan dengan adanya beberapa variasi warna pada komponen
tertentu
Sumber :
http://www.infoanaliskesehatan.info/category/sitohistoteknologi.html
http://analismuslim.blogspot.com/2012/01/teknik-histologi.html