Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO C BLOK 28 TAHUN 2017

Disusun oleh:
Kelompok A4

Anggota:
Erika Sandra Nor Hanifah 04011181419014
Adinda Kinanti 04011181419030
Dita Andini 04011181419034
Fitri Az-Zahrah 04011181419038
Riski Fitri Nopina 04011181419054
Poppy Putri Pratiwi 04011181419058
Fianirazha Primesa Caesarani 04011181419060
Eka Yulizar 04011181419210
Ainindia Rahma 04011181419214

Tutor: Dr. dr. Legiran, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat yang diberikan-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tutorial
Skenario A Blok Trauma, Gawat Darurat & Forensik ini dengan baik.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam pembuatan laporan ini, serta berbagai sumber yang telah penulis
gunakan sebagai data dan fakta pada makalah ini. Penulis juga berterima kasih kepada
Dr. dr. Legiran, M.Kes, yang telah memberikan pedoman dalam melakukan tutorial,
membuat makalah hasil tutorial dan telah memberi bimbingan sebagai tutor sehingga
kami dapat menyelesaikan masalah skenario yang telah diberikan.
Penulis menyadari akan kekurangan dalam penulisan makalah ini. Maka dari
itu, kritik dan saran sangat diharapkan untuk memperbaiki dan mengembangkan isi
dari makalah ini. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, serta
penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan dalam makalah ini. Akhir
kata, penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, September 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI
COVER..............................................................................................................................1
KATA PENGANTAR........................................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................................3
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................................4
BAB II. PEMBAHASAN..................................................................................................5
SKENARIO.....................................................................................................................5
A. KLARIFIKASI ISTILAH........................................................................................6
A. IDENTIFIKASI MASALAH...................................................................................7
B. ANALISIS MASALAH...........................................................................................9
C. LEARNING ISSUE.............................................................................................. 21
1. Anatomi dan Trauma Kepala ........................................................................... 21
2. Anatomi dan Trauma Thoraks ......................................................................... 27
3. Anatomi dan Trauma Abdomen....................................................................... 28
4. Anatomi dan Trauma Femur ............................................................................ 33
5. Syok Obstruktif................................................................................................. 41
D. KERANGKA KONSEP........................................................................................ 43

BAB III. PENUTUP........................................................................................................44


A. SIMPULAN...........................................................................................................44
B. SARAN..................................................................................................................44
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................45

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Blok Trauma, Gawat Darurat & Forensik adalah blok ke-28 dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus Trauma pada
Kecelakaan Lalu Lintas sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi kasus yang
sebenarnya pada waktu yang akan datang.

B. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

C. Data Tutorial
1. Tutor : Dr. dr. Legiran, M.Kes
2. Moderator : Fianirazha Primesa Caesarani
3. Sekretaris : Ainindia Rahma
Eka Yulizar
4. Waktu : 1. Senin, 25 September 2017
Pukul 13.00 15.30 WIB
2. Rabu, 27 September 2017
Pukul 13.00 15.30 WIB

4
BAB II
PEMBAHASAN

SKENARIO
1. Yudi, anak laki-laki 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa ibunya ke UGD RSMH
karena mengalami kesulitan bernapas. Tiga hari sebelumnya, Yudi menderita
panas tidak tinggi disertai batuk pilek. Batuk terdengar kasar, seperti anjing
menyalak.
2. Pada penilaian umum terlihat:
Anak sadar, menangis terus dengan suara sekali terdengar parau. Masih bisa
ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak hendak diperiksa anak berontak dan
langsung menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis. Kulit tidak
pucat dan tidak motled. Napas terlihat cepat dengan peningkatan usaha napas.
Terdengar stridor inspirasi.
3. Kemudian dokter melakukan survei primer
Jalan napas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan faring
dalam batas normal. RR 45 x/m. napas cuping hidung positif, gerakan dinding
dada simetris kiri dan kanan, tampak retraksi suprasternal dan sela iga. Suara
napas vesikuler, tidak terdengar ronkhi, tidak terdengar wheezing. SpO2 95 %.
Bunyi jantung dalam batas normal, bising jantung tidak terdengar, nadi brakhialis
kuat, nadi radialis kuat, laju nadi 135 x/menit. Kulit berwarna merah muda,
hangat, capillary refill time kurang dari 2 detik. Tidak ditemukan pada survey
disability. Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup rebreathing,
tetapi anak menolak, menghindar serta berontak.

A. KLARIFIKASI ISTILAH

B. IDENTIFIKASI MASALAH
1) Yudi, anak laki-laki 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa ibunya ke UGD RSMH
karena mengalami kesulitan bernapas. Tiga hari sebelumnya, Yudi menderita panas
tidak tinggi disertai batuk pilek. Batuk terdengar kasar, seperti anjing menyalak.
2) Pada penilaian umum terlihat:
Anak sadar, menangis terus dengan suara sekali terdengar parau. Masih bisa
ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak hendak diperiksa anak berontak dan langsung
menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis. Kulit tidak pucat dan
tidak motled. Napas terlihat cepat dengan peningkatan usaha napas. Terdengar stridor
inspirasi.

5
3) Kemudian dokter melakukan survei primer
Jalan napas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan faring dalam
batas normal. RR 45 x/m. napas cuping hidung positif, gerakan dinding dada simetris
kiri dan kanan, tampak retraksi suprasternal dan sela iga. Suara napas vesikuler, tidak
terdengar ronkhi, tidak terdengar wheezing. SpO2 95 %. Bunyi jantung dalam batas
normal, bising jantung tidak terdengar, nadi brakhialis kuat, nadi radialis kuat, laju
nadi 135 x/menit. Kulit berwarna merah muda, hangat, capillary refill time kurang
dari 2 detik. Tidak ditemukan pada survey disability. Dokter jaga memutuskan
memberikan O2 dengan sungkup rebreathing, tetapi anak menolak, menghindar serta
berontak

C. ANALISIS MASALAH
1. Yudi, anak laki-laki 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa ibunya ke UGD RSMH
karena mengalami kesulitan bernapas. Tiga hari sebelumnya, Yudi menderita
panas tidak tinggi disertai batuk pilek. Batuk terdengar kasar, seperti anjing
menyalak.
a. Apa hubungan umur dan jenis kelamin pada kasus?
Jawab: Yudi diduga mengalami croup berdasarkan batuk khas yang
dideritanya, yaitu batuk yang terdengar seperti anjing menyalak. Croup dapat
terjadi pada anak-anak dengan usia 6 bulan sampai 15 tahun, tetapi kasus yang
paling umum terjadi antara 6 bulan sampai 3 tahun dengan puncak pada 18
bulan. Croup jarang terjadi pada anak di atas 6 tahun. Sedangkan
perbandingan kasus croup pada anak laki-laki dan perempuan yaitu 1,4:1.
b. Bagaimana mekanisme terjadinya panas tidak tinggi disertai batuk pilek?
Jawab: Virus (terutama parainfluenza dan RSV) dapat terjadi karena inokulasi
langsung dari sekresi yang membawa virus melalui tangan atau inhalasi besar
terjadi partikel masuk melalui mata atau hidung. Infeksi virus di
laryngotrakeitis, laryngotrakeobronkitis dan laryngotrakeobronkopneumonia
biasanya dimulai dari nasofaring atau orophraynx yang turun ke laring dan
trakea setelah masa inkubasi 2-8 hari. Diffuse peradangan yang menyebabkan
eritema dan edema dinding mukosa dari saluran pernafasan. Laring adalah
bagian tersempit saluran pernafasan atas, yang membuatnya sangat
suspectible untuk terjadinya obstruksi. Obstruksi yang terjadi Peradangan
yang terjadi menyebabkan sekresi mukus berlebihan dari saluran nafas
termasuk dari hidung sehingga terjadi pilek.
c. Bagaimana kriteria kesulitan napas pada anak?

6
Jawab: Kesulitan bernapas pada anak ditandai dengan adanya usaha bernapas
dengan otot bantu pernapasan, ada napas cuping hidung, ada bunyi napas
abnormal akibat adanya sumbatan saluran napas.
d. Bagaimana mekanisme kesulitan bernapas pada pasien?
Jawab: Akibat adanya infeksi virus parainfulenza (Droplet, sentuhan)
menginfeksi bagian nasofaring terjadi inflamasi yang bersifat diffuse
terjadi inflamasi di laring eritem dan edema terutama pada bagian subglotis
(bagian tersempit pada jalan nafas anak) obstruksi saluran nafas bagian atas
resisstance airway mengalami peningkatan Kesulitan bernafas.
e. Apa makna klinis batuk kasar yang terdengar seperti anjing menyalak yang
dialami pasien?
Jawab: Batuk tersebut merupakan khas batuk pada croup.
f. Bagaimana mekanisme terjadinya batuk pada pasien?
Jawab: Batuk seperti menyalak (menggonggong) umumnya disebabkan oleh
inflamasi atau pembengkakan pada saluran napas atas. Kebanyakan batuk ini
disebabkan oleh croup, yakni inflamasi pada laring (pangkal tenggorok) dan
trakea (batang tenggorok). Anak dibawah 3 tahun cenderung terserang croup
karena batang tenggoroknya sempit.
Peradangan difus, eritema, dan edema yang terjadi pada dinding trakea
menyebabkan terganggunya mobilitas pita suara serta area subglotis
mengalami iritasi. Hal ini menyebabkan suara pasien menjadi serak (parau).
Aliran udara yang melewati saluran respiratori-atas mengalami turbulensi
sehingga menimbulkan stridor, selain itu udara yang melewati saluran yang
menyempit akibat edema akan menyebabkan terjadinya batuk seperti anjing
menyalak (barking cough) diikuti dengan retraksi dinding dada (selama
inspirasi). Pergerakan dinding dada dan abdomen yang tidak teratur
menyebabkan pasien kelelahan serta mengalami hipoksia dan hiperkapnea.
g. Bagaimana tatalaksana awal kesulitan bernapas pada kasus?
Jawab:

7
2. Pada penilaian umum terlihat:
Anak sadar, menangis terus dengan suara sekali terdengar parau. Masih bisa
ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak hendak diperiksa anak berontak dan
langsung menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis. Kulit tidak
pucat dan tidak motled. Napas terlihat cepat dengan peningkatan usaha napas.
Terdengar stridor inspirasi.
a. Bagaimana cara melakukan initial assessment pada kasus?
Jawab:

a) Appearance
Hal ini dapat menggambarkan status ventilasi ke sistem susunan saraf pusat.
Element Yang dinilai Pada kasus (Yudi)
Tonus Otot Gerakan ekstremitas bergerak spontan atau Tonus otot masih baik, keeempat
tidak, lemah atau tidak ekstremitas bergerak aktif, simetris
Interaktivitas Alertness: apakah anak waspada dan penuh Interaktivitas masih baik, karena
perhatian untuk sekitarnya? Apakah apatis? anak masih memberikan respon
apakah anak berespon terhadap orang, objek ketika hendak diperiksa
atau suara?

8
Consolability Gelisah/agitasi. Apakah hal-hal yang Consolability terganggu, karena anak
menghibur anak dapat mengurangi digendong ibu dan menangis terus
kegelisahan dan menangis? serta gelisah
Look/gaze Apakah mata anak mengikuti gerakan Anda Look/gaze, tidak bisa dinilai
dan menjaga kontak mata dengan benda-
benda atau orang, atau apakah tatapan
matanya kosong
Speech/cry Apakah vokalisasinya kuat atau lemah, sayu Speech/cry ditemukan suara parau
atau serak?

Kesimpulan : Appearance Yudi masih baik

b) Work of breathing
Hal ini untuk mengkonfrmasi apakah anak bernafas dan apakah ada usaha
berlebih untuk bernafas.
Element Yang dinilai Pada kasus (Yudi)
Suara jalan napas Altered speech, stridor, wheezing Stridor inspirasi
abnormal atau grunting
Abnormal Head bobbing, tripoding, sniffing -
positioning
Retraksi Retraksi otot dinding dada, Retraksi di suprasternal dan sela iga
supraclavicular, intercostals atau
substernal
Flaring Nasal flaring (nafas cuping +
hidung)

Kesimpulan: Yudi mengalami obstruksi parsial saluran pernapasan atas


c) Circulation
Hal ini dilakukan dengan melihat warna kulit, bibir, lidah, telapak tangan dan
kaki
Element Yang dinilai Pada kasus (Yudi)
Pallor White skin coloration from lack of -
peripheral blood
Mottling Patchy skin discoloration, with -
patches of cyanosis, due to
vascular instability
Cyanosis Bluish discoloration of skin and -
mucus
Kesimpulan: Sirkulasi Yudi masih baik

9
Berdasarkan hasil initial assessment, didapatkan bahwa Yudi mengalami
respiratory distress.
b. Apa makna klinis dan mekanisme suara sekali-sekali terdengar parau?
Jawab: Suara parau terjadi karena inflamasi pada laring yang juga melibatkan
plica vocalis.
c. Apa makna klinis bibir dan mukosa tidak sianosis?
Jawab: Sianosis adalah warna kebiru-biruan pada kulit dan selaput lendir yang
terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tidak
berikatan dengan O2). Sianosis biasanya tidak diketahui sebelum jumlah
absolut Hb tereduksi mencapai 5 gram per 100 mlatau lebih pada seseorang
dengan konsentrasi Hb normal (saturasi oksigen [SaO2] kurang dari 90 %).
Bibir dan mukosa anak tidak sianosis menunjukkan bahwa perfusi oksigen ke
jaringan masih baik dan sel-sel di jaringan tidak mengalami hipoksia akibat
kekurangan oksigen. Artinya, masalah pernapasan pada anak itu terjadi di
upper airway dan belum terjadi obstruksi yang komplit. Masalah pernapasan
yang berujung ke gejala bibir dan mukosa yang sianosis dapat berarti terjadi
penyumbatan yang komplit di airway.
d. Apa makna klinis kulit tidak pucat dan tidak motled?
Jawab: Sirkulasi masih baik
e. Apa makna klinis dan mekanisme napas terlihat cepat, ada peningkatan usaha
napas, dan terdengar stridor inspirasi?
Jawab:
- Napas terlihat cepat
Ada sesuatu yang membuat tubuh merasa oksigen yang didapat belum
mencukupi kebutuhan. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan oksigen
tubuh mengkompensasi dengan meningkatkan laju pernapasan.
- Peningkatan usaha napas
Ini terjadi karena ada sumbatan saluran napas. Saat bernapas udara yang
akan masuk tidak bisa masuk dengan lancar, sehingga tubuh memaksa
lebih keras.
- Stridor inspirasi
Bunyi stridor adalah bunyi getaran menyerupai wheezing yang utamanya
atau hanya terdengar pada saat inspirasi dan lebih terdengar di leher
dibanding pada dinding dada. Stridor dapat disebabkan oleh turbulensi
udara yang terjadi ketika didesak melewati lumen saluran napas besar yang
menyempit. Oleh karena itu, stridor ditemukan pada pasien yang
mengalami obstruksi parsial laring atau trakea dan biasanya memerlukan
tindakan segera.
3. Kemudian dokter melakukan survei primer

10
Jalan napas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan faring
dalam batas normal. RR 45 x/m. napas cuping hidung positif, gerakan dinding
dada simetris kiri dan kanan, tampak retraksi suprasternal dan sela iga. Suara
napas vesikuler, tidak terdengar ronkhi, tidak terdengar wheezing. SpO2 95 %.
Bunyi jantung dalam batas normal, bising jantung tidak terdengar, nadi brakhialis
kuat, nadi radialis kuat, laju nadi 135 x/menit. Kulit berwarna merah muda,
hangat, capillary refill time kurang dari 2 detik. Tidak ditemukan pada survey
disability. Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup rebreathing,
tetapi anak menolak, menghindar serta berontak.
a. Bagaimana survei primer pada anak?
Jawab: Pemeriksaan fisik untuk diagnosis yang bisa dilakukan yaitu Pediatric
Assessment Triangle (PAT) dan Primary Survey. PAT meliputi evaluasi
appearance, effort of breathing, dan circulation of the skin. PAT dilakukan
sangat singkat sekitar 1-4s dengan pengamatan tanpa menuentuh anak. Setelah
PAT dilanjutkan dengan primary survey (ABCDE).
Appearance atau penampilan meliputi: T(tonus), I(interaksi), C(consolability,
rewel tapi begitu dipegang orang yang tidak disuka menjadi diam), L(lihat),
S(speak atau menangis).
Effort of breathing atau upaya nafas meliputi: sura nafas (stridor, wheezing,
grunting, altered speech), posisi tubuh (head hobbing, tripoding/ menyangga
tubuh dengan tangan waktu bernafas), retraksi (supraclavicular, intercostal,
substernal retraction of chest wall), flaring (cuping hidung).
Circulation dinilai untuk mengetahui kecukupan CO dan perfusi ke organ
vital, yaitu pallor (anemi yang disebabkan perubahan warna kulit dari
berkurangnya aliran darah perifer), mottling (bercak kebiruan pada kulit
seperti sarang laba-laba yang bisa saja terjadi pada kondisi normal,
kedinginan, atau pada anak obese), nadi cepat melemah, akral dingin, kutis
marmorata. Gawat sifatnya jika disertai gangguan lain (sianosis).
Apabila 3 aspek diatas PAT normal maka anak dikatakan dalam keadaan stabil.
Status kegawatan lainnya meliputi: gagal nafas (upaya nafasnya tidak normal
dengan ditandai respiratosri ratenya meningkat), syok/renjatan (sirkulasi
abnormal), dan gagal cardiopulmonal (3 aspek PAT abnormal).
b. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal hasil survei primer?
Jawab:

Primary survey Komponen Interpretasi Kasus Yudi

Airway Lihat Pergerakan dinding Tidak ada masalah


dada

11
Dengarkan suara nafas tidak Dijumpai stridor inspirasi (ngorok)
lazim

Rasakan perpindahan udara Tidak ada masalah (tidak apnu)


dari mulut atau hidung

Dengarkan anak apakah dapat Anak bisa menangis (airway paten


berbicara,menangis, batuk atau ada obstruksi parsial)

Breathing Laju pernafasan dan pola Takypnea (45x/menit), pola


pernafasan pernafasan tidak diketahui

Usaha bernafas dan suara Dijumpai retraksi, nasal flaring,


nafas suara nafas stridor

Lihat adakah sianosis sentral Dijumpai sianosis sentral dibibir dan


lidah

Auskultasi suara nafas Vesikuler, ronki(-), Wheezing(-)


dengan stetoskop (tidak ada infeksi saluran nafas
bawah dan asma)

Adakah tanda trauma dada Tidak ada keterangan

Circulation Raba denyut nadi perifer Nadi radialis dan brakhialis masih
kuat.

Warna kulit Warna kulit masih terang (merah


muda)

Capillary refill time 2 detik (masih normal)

Disability AVPU Allert

Kesimpulan Yudi mengalami kesulitan bernapas karena sumbatan parsial


pada saluran napas atas yang diduga akibat infeksi virus.
c. Apa kesimpulan dari hasil survei primer?
Jawab: Anak tersebut mengalami distress napas akibat sumbatan saluran napas
atas parsial
d. Bagaimana penatalaksanaan alternatif pada anak yang menolak diberikan
sungkup oksigen?
Jawab: Dapat diberikan oksigen melalui jalur lain seperti kanul, kateter basal,
atau masker.
e. Bagaimana cara pemberian oksigen pada anak usia 2 tahun? (dosis, waktu,
pemilihan sungkup)
Jawab:

12
- Tatalaksana pemberian oksigen dapat menggunakan nasal prongs (kanul
hidung), kateter nasal, atau masker. Mulai alirkan oksigen 1-2 L/menit
- Apabila setelah tatalaksana jalan napas dan pernapasan, napas anak masih
tidak adekuat, maka dapat dilakukan pemberian napas bantuan menggunakan
balon dan sungkup
- Pemberian oksigen dengan nasal prongs merupakan metode terbaik dalam
pemberian oksigen pada bayi muda dan anak dengan croup yang berat atau
pertusis.
- Pada pemberian oksigen perlu diperhatikan saturasi oksigen dapat melalui
pulse oksimetri. Nilai saturasi yang normal 95%-100%
- Lama pemberian oksigen sampai nilai SaO2> 90% dapat dipertahankan anak
pada suhu ruangan, namun periksa kembali setengah jam kemudian dam 3
jam berikutnya pada hari pertama penghentian oksigen
f. Bagaimana evaluasi pada pasien setelah diberikan tatalaksana?
Jawab: Evaluasi tekanan darah, nadi, laju respirasi, perfusi oksigen, dan suara
napas. Keadaan anak terutama status respiratorik harus diperiksa sedikitnya 3
jam sekali
4. Aspek klinis
a. Diagnosis banding
Jawab:

Gejala dan tanda Croup Epiglotitis Bronkiolitis Aspirasi Asma eksaserbasi


benda asing akut

Kesulitan bernapas + + + + +

Riwayat panas tidak + +/- (demam + (demam - -


tinggi, batuk, pilek 2 seharusnya seharusnya
hari sebelum tinggi) tinggi)

Gelisah (agitasi) + + + + +

Bibir sianosis + + + + -

Takipnea + + + + (parsial) +

Stridor + - - + (parsial) -

Nasal flaring + + - - -

Retraksi + + + + -
suprasternal,
intercostal

Ronkhi negatif + + - - -

13
b. Algoritma penegakan diagnosis
Jawab:

c. Diagnosis kerja
Jawab: Distress pernapasan et causa croup
d. Epidemiologi
Jawab: Virus parainfluenza menyebabkan sekitar 75% kasus; adenovirus, virus
sinsisial respiratorik, influenza, dan campak menyebabkan kasus virus sisanya.
Pada sebuah penelitian Mycoplasma pneumonia ditemukan dari 3,6%
penderita yang menderita obstruksi saluran pernapasan akut. Walaupun
Haemophilus influenzae tipe b merupakan penyebab biasa epiglotitis akut.
Kebanyakan penderita yang menderita croup virus berumur antara 3 bulan dan
5 tahun, tetapi penyakit yang disebabkan H. Influenzae dan Corynebacterium
diphterae lebih lazim ditemukan pada penderita yang berumur 3-7 tahun.
Insidens croup lebih tinggi pada laki-laki, dan penyakit ini paling lazim selama
musim dingin setiap tahunnya. Sekitar 15% penderita mempunyai riwayat
keluarga croup yang kuat dan laringitis cenderung kambuh pada anak yang
sama.
Croup biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan-3 tahun, dengan puncaknya
pada usia 1-2 tahun. Croup dapat dijumpai pada bayi kurang dari 3 bulan dan
remaja usia 12-15 tahun, namun jarang sekali dijumpai pada orang dewasa.1
Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan,
dengan rasio 3:2. Angka kejadiannya meningkat pada musim dingin dan
musim gugur, tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun. Pasien

14
croup merupakan 15% dari seluruh pasien dengan infeksi respiratori yang
berkunjung ke dokter. Kekambuhan sering terjadi pada usia 3-6 tahun dan
berkurang sejalan dengan pematangan struktur anatomi saluran respiratorik
atas. Hampir 15%pasien sindrom croup mempunyai keluarga dengan riwayat
penyakit yang sama. Suatu studi retrospektif di Belgia mendapatkanbahwa
16% dari anak berusia 5-8 tahun mengalami minimal satu kali episode croup,
sedangkan 5% mengalami croup berulang (sedikitnya 3 episode).
e. Etiologi dan Faktor Risiko
Jawab: Laringotrakeobronkitis atau croup merupakan infeksi yang paling
umum terjadi pada saluran napas atas. Patogen yang paling sering
mengakibatkan croup adalah virus parainfluenza (tipe 1, 2, dan 3) dan virus
RSV ( Respiratory Syncitial Virus).
f. Patofisiologi dan Patogenesis
Jawab: Distres pernapasan merupakan respon tubuh atau kompensasi terhadap
peningkatan produksi CO2 atau permasalahan pertukaran gas di paru-paru.
Mekanisme kompensasi pertama adalah peningkatan laju pernapasan yang
dilakukan untuk meningkatkan laju pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida di paru-paru, dan dengan demikian juga membantu penurunan
PaCO2.
Jalan napas bagian atas menciptakan tahanan tinggi terhadap aliran udara. Saat
terjadi peningkatan usaha bernapas, mekanisme kompensasi tubuh adalah
memperlebar nares sehingga jalan napas melebar dan tahanan menurun,
menyebabkan manifestasi napas cuping hidung (nasal flaring).
Usaha pernapasan yang meningkat melibatkan peningkatan kerja otot-otot
dinding dada dan perut. Retraksi terjadi ketika tekanan negatif yang diciptakan
di paru tidak dapat tercukupi dengan aliran udara dari jalan napas bagian atas
sehingga dinding dada yang tidak disokong oleh struktur yang kokoh seperti
tulang dapat terlihat masuk ke rongga dada. Peningkatan usaha pernapasan
juga menyebabkan seesaw breathing dan head bobbing.
Pada kasus, inflamasi pada laring, trakea, dan/atau bronkus pasien disebabkan
oleh infeksi patogen. Infeksi ini memicu proses inflamasi lokal dan
menyebabkan edema. Edema pada jalan napas menyebabkan penyempitan
lumen jalan napas dan meningkatkan tahanan terhadap aliran udara sehingga
terjadi mekanisme kompensasi dengan peningkatan usaha bernapas.
g. Manifestasi klinis
Jawab: Manifestasi klinis croup berdasarkan derajat kegawatan, dibagi
menjadi empat kategori:

15
a. Ringan ditandai dengan adanya batuk keras menggonggong yang
kadang-kadang muncul, stridor yang tidak terdengar ketika pasien
beristirahat/ tidak beraktivitas, dan retraksi ringan dinding dada.
b. Sedang ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul,
stridor yang mudah didengar ketika pasien beristirahat/tidakberaktivitas,
retraksi dinding dada yang sedikit terlihat, tetapi tidak ada gawat napas
(respiratory distress).
c. Berat ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul, stridor
inspirasi yang terdengar jelas ketika pasien beristirahat, dan kadang
kadang disertai dengan stridor ekspirasi, retraksi dinding dada, dan gawat
napas.
d. Gagal napas mengancam batuk kadang-kadang tidak jelas, terdengar
stridor (kadang-kadang sangat jelas ketika pasien beristirahat), gangguan
kesadaran, dan letargi.
h. Pemeriksaan penunjang

Jawab: Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan


radiologis tidak perlu dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan
hanya dengan anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik.
Bila ditemukan peningkatan leukosit >20.000/mm3 yang didominasi
PMN, kemungkinan telah terjadi superinfeksi, misalnya epiglotitis.
Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna untuk menegakkan
diagnosis croup sindrom ini yaitu bisa dengan pemeriksaan radiologis dan CT-
Scan.
Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis (seperti menara /
steeple sign) pada foto anterior-posterior (AP), densitas jaringan lunak yang
ireguler pada trakea foto lateral, serta peumonia bilateral.
Tanda menara terlihat pada radiografi anteroposterior jaringan lunak
leher. Konvektivitas lateral normal trakea subglottic hilang, dan penyempitan
lumen subglottic menghasilkan konfigurasi V terbalik di daerah ini. Titik dari
V terbalik pada tingkat margin inferior pita suara yang benar. Penyempitan
dari lumen subglottic mengubah tampilan radiografi dari kolom udara trakea,
yang menyerupai atap bernada tajam atau menara gereja.

16
Gambaran normal foto anterior-posterior

Gambaran normal foto lateral

Gambaran Sindrom Croup foto anterior-posterior

Gambaran Sindrom Croup foto lateral

Dalam tanda menara (steeple sign), area kritis penyempitan saluran


napas adalah 1 cm proksimal trakea, di elasticus konus ke tingkat pita suara

17
yang benar. Mukosa pada tingkat ini memiliki lampiran longgar. Tanda menara
dihasilkan oleh adanya edema pada trakea, yang menghasilkan elevasi mukosa
trakea dan hilangnya memikul normal (Convexities lateral) dari kolom udara
Pada pemeriksaan radiologis leher posisi poserior-anterior ditemukan
gambaran udara steeple sign (seperti menara) yang menunjukkan adanya
penyempitan kolumna subglotis. Akan tetapi, gambaran radiologis seperti ini
hanya dijumpai pada 50% kasus saja.
Melalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai
diagnosis bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak (intensitas rendah)
saluran napas atas dapat dijumpai sebagai berikut:
1. Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang
compang-camping.
2. Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
3. Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang
menonjol.
Pada pemeriksaan CT scan dapat lebih jelas menggambarkan penyebab
obstruksi pada pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat, seperti adanya
stridor sejak usia di bawah 6 bulan atau stridor pada saat aktivitas. Selain itu,
pemeriksaan ini juga dilakukan bila pada gambaran radiologis dicurigai
adanya massa.

i. Tatalaksana dan follow up


Jawab:

18
CROUP

Diagnosis banding
Obstruksi jalan napas yang Aspirasi benda asing
mengancam jiwa Abnormalitas kongenital
Sianosis Epiglotitis
Penurunan kesadaran
O2 100% dengan sungkup muka dan nebulisasi
adrenalin (5ml) 1:1000
Intubasi anak sesegera mungkin oleh seorang yang
TIDAK YA
berpengalaman
Hubungi pusat rujukan pelayanan kesehatan anak

Croup derajat ringan Croup derajat sedang Croup derajat berat


Batuk menyalak Stridor saat istirahat Stridor menetap saat
Tanpa retraksi dada Terdapat retraksi dinding istirahat
Tanpa sianosis dada minimal Trakeal tug dan retraksi
Mampu berinteraksi dinding dada terlihat
jelas
Apatis dan gelisah
Edukasi orang tua Pulsus paradoksus
Pertimbangkan Kortikosteroid deksametason
kortikosteroid dosis 0,15-0,30 mg/kg atau
tunggal (oral) Prednison 1-2 mg/kg (oral) Minimal handling
Periksa kemampuan atau nebulisasi Budesonide 2 O2 4 lpm dan nebulisasi
orang tua dan mg jika kortikosteroid oral
adrenalin dan
kemampuan dalam tidak berpengaruh
kortikosteroid sistemik
menyediakan transport
(dosis sama dengan croup
OBSERVASI > 4 JAM
derajat sedang)
DIPULANGKAN
Intubasi

RAWAT RS
Membaik
Dipulangkan bila tidak ada
stridor saat istirahat Tidak membaik
Perbaikan
Edukasi orang tua pasien Evaluasi ulang
Rawat
Hubungi konsulen
Rawat/observasi di IGD
Evaluasi diagnosis
Ulangi pemberian
kortikosteroid oral/12 jam
Edukasi orang tua pasien Sebagian
Nebulisasi adrenalin (dosis
Sediakan penjelasan tertulis sama) dan kortikosteroid
untuk dokter umum yang sistemik (dosis sama)
akan follow up Persiapkan pelayanan untuk
tindakan darurat
Pertimbangkan intubasi
Evaluasi diagnosis
j. Komplikasi
Jawab: Pada 15% kasus dilaporkan terjadi komplikasi, misalnya otitis media,
dehidrasi, dan pneumonia (jarang terjadi). Sebagian kecil pasien memerlukan

19
tindakan intubasi. Gagal jantung dan gagal napas dapat terjadi pada pasien
yang perawatan dan pengobatannya tidak adekuat.
k. Prognosis
Jawab: Croup biasanya bersifat self-limited disease dengan prognosis yang
baik.
Ad vitam : bonam
Ad fungtionam : bonam
l. SKDI
Jawab: 3B: Acute Respiratory Disstress
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau
mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya
dan mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

D. LEARNING ISSUE
E. KERANGKA KONSEP

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN

B. SARAN
Stabilisasi pasien dan terapi croup.

20
DAFTAR PUSTAKA
American Chollage of Surgeon Committe on Trauma. 2004. Advance Trauma Life Support
for Doctors.

Bresler, Michael Jay, dan George L. Sternbach. 2007. Manual Kedokteran Darurat. Jakarta:
EGC.

De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Djoko, Widayat dan Djoko Widodo. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi IV. Jakarta: FKUI

Guyton. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Prince, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Volume 1 Edisi 6. Jakarta: EGC

Purwadianto, Agus dan Budi Sampurna. 2010. Kedaruratan Medik. Jakarta Barat: Binarupa
Aksara

Tanto, Chris, F. Liwang, S. Hanifati dan E.A. Pradipta. 2014. Kapita Selekta Kedokteran
Edisi 4 Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.

21

Anda mungkin juga menyukai