Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI

OSILATOR PENGGESER FASA

Disusun untuk memenuhi tugas


Mata Kuliah Praktikum Elektronika Telekomunikasi
Semester 4

PEMBIMBING :
Lis Diana M, ST, MT.

Kelompok 2 JTD-2A
1. Aulian Fardani 1441160082
2. Citra Kusuma Wardani 1441160079
3. Ekananda Sulistyo Putra 1441160013
4. Fachrul Prasetyo A 1441160087
5. Iga Revva Princiss Jeinever 1441160099
6. Novan Ferdiansyah 1441160096

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016
OSILATOR PERGESERAN FASA
1.1.Tujuan Praktikum
1. Untuk mempelajari pengoperasian serta prinsip dasar osilator pergeseran fasa.
2. Untuk mengukur keluaran frekuensi dan amplitudo osilator pergeseran fasa.
3. Untuk mengetahui bentuk sinyal keluaran osilator pergeseran fasa.

1.2. Peralatan yang Digunakan


1. Modul Osilator pergeseran fasa 1 buah
2. Osiloskop 1 buah
3. Generator Fungsi 1 buah
4. Power Supply 1 buah
5. Passive Probe 1 buah
6. Multimeter digital 1 buah
7. Konektor BNC to BNC 2 buah
8. Konektor BNC to Banana 2 buah
9. Konektor Banana to Banana 4 buah
10. Konektor T 1 buah
11. Plug Secukupnya

Gambar 1. Modul Osilator Pergeseran Fasa


1.3. Teori Dasar
Osilator adalah perangkat elektronik untuk membangkitkan tegangan sinyal AC.
Frekuensi yang dibangkitkan tergantung dari kestabilan rangkaian.
Osilator biasa digunakan pada penerima radio dan TV, radar, semua peralatan pengirim,
dan perangkat elektronik pada industry dan militer.
Osilator dapat membangkitkan gelombang sinusoida atau non-sinusoida, yang berasal
dari frekuensi rendah sampai frekuensi tinggi. Osilator lokal yang digunakan untuk pemancar
setiap hari pada radio penerima mempunyai range frekuensi 1000 sampai dengan 2100 kHz.

Osilator Pergeseran Fasa


Osilator pergeseran fasa menggunakan rangkaian pergeseran fasa RC sebagai rangkaian
pembagi fasa. Pada percobaan terakhir digunakan sebuah tank circuit.
Yang diperlukan untuk melakukan suatu osilasi (getaran) meliputi penguat dengan
feedback dari output ke input dalam fasa awal sampai cara mengatasi rugi-rugi dan untuk
mempertahankan getaran. Kita lihat bahwa kenaikan hanya pada arus kolektor disebabkan
tegangan positif menjadi feedback untuk input dari osilator Hartley untuk mempertahankan
kenaikan arus. Selain itu, pengurangan untuk arus pada kolektor disebabkan tegangan negatif
yang dijadikan feedback.
Tidaklah jadi perbedaan bagaimana feedback digunakan selama ada fasa awal dan
amplitudo. Kemudian, sebuah penguat common-emitter menghasilkan pergeseran fasa 180
dari input ke output. Apabila penguat common-emitter digunakan, feedback haruslah
bergeser kembali 180 menjadi fasa input yang dibutuhkan kembali untuk berosilasi (lihat
Gambar 4.8). sebuah rangkaian dengan RC seperti yang terlihat pada Gambar 4.9 dapat
melakukan hal di atas. Seperti yang Anda lihat pada rangkaian pergeseran fasa, titik A
dihubungkan dengan kolektor penguat dan titik B pada basisnya. Sumber sinyal untuk
rangkaian kemudian menjadi kolektor, dan pergeseran fasa pada output terletak pada basis
transistor.

Gambar 4.8 Rangkaian feedback osilator

Gambar 4.9 Jaringan pergeseran fasa RC


Lihat pada salah satu dari rangkaian RC, R1C1 menerima sinyal input yang berupa
gelombang sinus. R1C1 ini merupakan rangkaian kapasitif, dan arus mendahului tegangan
dengan sudut fasa yang diperoleh dari harga R, C, dan frekuensi. Sudut fasa diperoleh dari:
XC 1
Tan = =
R 2fCR
XC
= arc tan
R
Sekarang, C1 dan R1 mungkin dipilih untuk menghasilkan pergeseran fasa 60 untuk
frekuensi yang ditentukan. Gambar 4.10 merupakan analisis vector dari rangkaian. Gambar
ini menunjukkan bahwa tegangan output R1C1 melewati R1 dan memimpin tegangan input
Vc sebesar 60.

Gambar 4.10 Pergeseran fasa pada RC

Kita dapat mengulangi apa yang telah kita lakukan untuk RC kedua dan ketiga, yang
menyebabkan pergeseran fasa 60. Sekarang apa yang terjadi apabila output dari rangkaian
RC yang pertama memberikan input untuk rangkaian RC kedua? Hasilnya adalah output dari
rangkaian RC kedua digeser sebesar 120 dari input Vc. Dan ketika rangkaian RC ketiga
ditambahkan the first two, pergeseran fasa yang mendahului 60 menciptakan suatu
rangkaian yang bergeser 180.
Perlu diingat bahwa harga untuk R dan C dipilih untuk ergeseran fasa 60 pada frekuensi
tersebut. Apabila harga dari R dan C pada rangkaian diubah, frekuensi dimana pergeseran
fasa menunjukkan 180 akan berubah juga. Osilasi terjadi pada saat frekuensi dimana terjadi
pergeseran fasa 180.

Transistor Osilator Pergeseran Fasa


Gambar 4.11 menunjukkan sebuah transistor osilator pergeseran fasa. Bagian utama dari
rangkaian ini adalah penguat common-emitter. Feedback dari kolektor ke basis melalui
komponen C1, C2, C3, R1, R2, dan R3 yang disusun secara seri dengan resistansi input R.
resistor R3 dibuat berubah-ubah untuk pengaturan frekuensi osilator. Untuk setiap rangkaian
pergeseran fasa RC menghasilkan pergeseran fasa 60, C1=C2=C3 dan R1=R2=R3+Rin.
Rangkaian osilasi dari kondisi ini dapat ditentukan dari
1
f=
2C1 6R1 2 + 4R1 R L
Penguatan diperoleh dari
29R1 4R L
hfe = 23 + +
RL R1
Keterangan: hfe adalah transfer rasio arus maju untuk small signal transistor.
Gambar 4.11 Osilator pergeseran fasa dengan transistor
1.4.Prosedur Percobaan
1. Membuat rangkaian sebagai berikut.

Gambar 4.13 Rangkaian Osilator pergeseran fasa dengan transistor


2. Dengan menggunakan osiloskop, menggambar dan menghitung frekuensi osilasi pada
TP1, TP2, TP3, dan Vout dengan kondisi Vr max resistansi.
3. Menghitung juga amplitudo (Vpp) yang terjadi sesuai dengan langkah 2.
4. Menggunakan osiloskop untuk mengukur besar frekuensi yang terjadi pada TP1, TP2,
TP3, dan Vout. Membandingkan terhadap hasil pengukuran pada langkah 2.
5. Mengubah Vr dalam kondisi max berosilasi. Mengulangi langkah 2 sampai 4.
6. Menggunakan fasilitas dual trace pada osiloskop dan menghubungkan channel A ke
basis dan channel B ke kolektor. Mengamati dan mengukur perbedaan fasa yang terjadi.
Mengulangi juga jika channel A ke kolektor dan channel B ke TP2, mengamati dan
mengukur perbedaan fasa yang terjadi.
1.5.Hasil Perhitungan
1
1 =
21612 + 41 .
1
=
2 3,14 (0,047 106) 6(1.2 103 )2 + 4 (1.2 103 ) 22 103
1
=
0.29 106 6(1.4 106 ) + 105.6 106
1
=
0.29 106 114 106
1
=
3.09 103
= 323.6

1
2 =
22622 + 42 .
1
=
2 3,14 (0,047 106) 6(4.7 103 )2 + 4 (4.7 103 ) 22 103
1
=
0.29 106 6(22.09 106 ) + 413.6 106
1
=
0.29 106 546.14 106
1
=
6.77 103
= 147.7
1
3 =
23632 + 43 .
1
=
2 3,14 (0,047 106) 6(22 103 )2 + 4 (22 103 ) 22 103
1
=
0.29 106 6(484 106 ) + 1936 106
1
=
0.29 106 4840 106
1
=
20.1 103
= 49.75