Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum

Pemuliaan Tanaman

SMAAK PROOF

Disusun Oleh :

Nama : Rahmat Nur


Nim : G111 15 501
Kelas : Pemuliaan - D
Kelompok : 20 (Dua Puluh)
Asisten : 1. Ahrani Akbar Fachri
2. Inayah Yasmin Kamila

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu kebutuhan pokok atau utama manusia yang harus dipenuhi adalah

kebutuhan akan makanan. Sehingga sudah tentu bahwa didalam pemuliaan

tanaman, tanaman-tanaman yang dimuliakan adalah tanaman yang dapat memenuhi

kebutuhan manusia dengan lebih baik. Salah satunya adalah tanaman padi. Padi

merupakan sumber karbohidrat yang tinggi selain jagung dan gandum.

Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting

dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi

juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama,

yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina

dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia

sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia,

setelah jagung dan gandum. Namun, padi merupakan sumber karbohidrat utama

bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

Suatu varietas baru akan berarti dan mempunyai nilai bilamana mendapat

apresiasi yang baik dari petani. Rasa merupakan faktor penentu kualitas hasil

pertanian tanaman pangan yang sangat berarti. Oleh karena itu arah pemuliaan

tanaman padi perlu memperhatikan faktor rasa. Faktor rasa sebagai penentu kualitas

suatu tanaman, misalnya muncul karena adanya perbedaan kandungan atau kadar

amilosa yang terkandung pada padi dalam butir-butir beras. Sehingga rasa yang

didapatkan adalah berbeda untuk tiap varietas tanaman. Dimana semakin tinggi
kandungan terkandung, maka akan semakin berkurang keenakan rasanya karena

semakin tinggi kadar amilosa yang terkandung, maka struktur nasi yang diperoleh

akan semakin keras dan mempunyai struktur yang berpisah-pisah. Faktor rasa dapat

dijadikan sebagai parameter ukur dalam menentukan suatu kualitas tanaman dilihat

dari sudut pemenuhan kebutuhan yang didapatkan.

Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan praktikum mengenai smaak proof

untuk mengetahui cita rasa pada berbagai jenis varietas beras dan mengetahui faktor

yang mempengaruhi kualitas beras.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum mengenai smaak proof adalah untuk mengetahui cita

rasa pada berbagai jenis varietas beras, mengetahui varietas yang memiliki

penilaian tertinggi terhadap berbagai varietas beras, dan mengetahui faktor yang

mempengaruhi kualitas beras.

Adapun kegunaan dari praktikum yaitu agar kita dapat mengetahui nilai cita

rasa pada berbagai jenis varietas yang dibawa tiap kelompok dan merupakan bahan

perbandingan antara materi kuliah di dalam ruangan dan praktikum yang dilakukan

di laboratorium.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Padi (Oryza Sativa)

Tanaman padi (Oryza sativa) termasuk golongan tumbuhan graminae dengan

batang yang tersusun dari beberapa ruas. Tanaman padi membentuk rumpun dengan

anakannya, biasanya anakan akan tumbuh pada dasar batang. Pembentukan anakan

ini terjadi secara tersusun yaitu pada batang pokok atau batang utama akan tumbuh

anakan pertama, anakan kedua akan tumbuh pada batang bawah anakan pertama,

anakan ketiga akan tumbuh pada buku pertama pada batang anakan kedua, dan

seterusnya. Semua anakan memiliki bentuk yang serupa (Mulyani, 2012).

Bagian-bagian tanaman padi dalam garis besarnya terdiri dalam dua bagian

besar, yaitu bagian vegetatif yang meliputi akar, batang, dan daun dan bagian

generatif yang meliputi malai yang terdiri dari bulir-bulir daun bunga. Adapun

bagian vegetatif terdiri dari akar yang kira-kira 5-6 hari berkecambah, dari batang

yang masih pendek itu keluar akar-akar serabut yang pertama dan sejak ini

perkembangan akar-akar serabut tumbuh teratur. Pada saat permulaan batang mulai

bertunas (kira-kira umur 15 hari), akar serabut berkembang dengan pesat. Letak

susunan akar tidak dalam, kira-kira pada kedalaman 20-30 cm. Karena itu akar

banyak mengambil zat-zat makanan dari bagian tanah yang diatas. Akar tunggang

dan akar serabut mempunyai bagian akar lagi yang disebut akar samping yang

keluar dari akar serabut dan akar rambut yang keluar dari akar tunggang, bentuk

dan panjangnya sama dengan akar serabut (Norsalis, 2012).


Menurut Harahap (2014), klasifikasi tanaman padi yaitu sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Poales

Famili : Poaceae

Genus : Oryza

Spesies : Oryza sativa

Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang

menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Tangkai

padi merunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan

padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya

sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen (Andoko, 2012).

2.2 Smaak Proof

Smaak proff merupakan suatu metode pengujian rasa pada suatu varietas beras.

Rasa pada dasarnya dapat turut menentukan suatu kualitas. Hal ini tergantung pada

jenis varietas padinya. Perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada perbedaan

kadar amylose yang terdapat pada butir-butir berasnya masing-masing. Kadar

amylose untuk nasi enak berkisar antara 20-24%. Kadar yang terlalu tinggi justru

akan membuat nasi menjadi tidak enak (keras). Untuk menilai rasa dapat digunakan

skoring sistem 5 = enak sekali, 4 = enak, 3 = biasa, 2 = kurang enak, 1 = tidak enak.

Semuanya tergantung dari ungkapan cita rasa selera konsumen (Weeb, 2010).
Mutu yang baik dan rasa nasi yang enak memegang peranan penting dalam

perdagangan dan perkembangan suatu varietas. Banyak varietas unggul yang

mempunyai potensi hasil tinggi, tahan terhadap penyakit namun tidak populer di

kalangan masyarakat petani karena mutu berasnya kurang baik dan rasanya tidak

sesuai dengan selera konsumen. Masing-masing varietas atau galur padi

mempunyai sifat dan mutu beras serta rasa nasi yang berbeda. Sebuah varietas yang

direkomendasikan untuk menjadi produk komersial harus telah cukup uji dalam

area dimana varietas tersebut diharapkan bisa tumbuh dan mampu menunjukkan

keunggulan atau dibandingkan dari salah satu yaitu kemampuan adaptasi dan

kualitas bulir padi untuk eksis sebagai varietas komersial (Weeb, 2010).

2.3 Deskripsi Varietas Yang Diuji


2.3.1 Deskripsi Varietas Inpari 7

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2013), deskripsi padi

varietas inpari 7 adalah sebagai berikut:

Nomor seleksi : RUTTST96B-15-1-2-2-2-1

Asal seleksi : S3054-2D-12-2/Utri Merah-2

Golongan :Cere

Umur tanaman : 110-115 hari

Bentuk tanaman :Tegak

Tinggi tanaman : 104 cm

Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Panjang (p=7,1 mm; L=2,2; p/l=3,2)

Warna gabah : Kuning bersih

Kerontokan : Sedang
Tekstur nasi : Pulen

Kadar amilosa : 20,78%

Berat 1000 butir : 26,6 gram

Rata-rata hasil : 6,2 ton/ha GKG

Potensi hasil : 8,7 ton/ha GKG

Ketahanan terhadap Hama :

1. Agak rentan terhadap hama Wereng Batang Coklat biotipe 1, 2, dan 3

2. Ketahanan terhadap Penyakit

3. Agak rentan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri ras III dan IV

4. Agak rentan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri ras VIII

5. Rentan terhdap penyakit virus tungro inokulum no. 073 dan 031

6. Agak tahan penyakit virus tungro inokulum no. 013

Anjuran tanam : Cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai

ketinggian 600 m dpl

Pemulia : Aan Andang Daradjat, Nafisah, dan Bambang Suprihatno

Tahun dilepas : 2009

SK Menteri Pertanian : 2233/Kpts/SR.120/5/2009

2.3.2 Deskripsi Varietas IR 64

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2013), deskripsi padi

varietas IR 64 adalah sebagai berikut:

Nama Varietas : IR 64

Kelompok : Padi Sawah

Nomor Seleksi : IR18348-36-3-3


Asal Persilangan : IR5657/IR2061

Golongan : Cere

Umur Tanaman : 115 hari

Bentuk Tanaman : Tegak

Tinggi Tanaman : 85 cm

Anakan Produktif : 25 batang

Warna Kaki : Hijau

Warna Batang : Hijau

Warna Daun Telinga : Tidak berwarna

Warna Daun : Hijau

Warna Muka Daun : Kasar

Posisi Daun : Tegak

Daun Bendera : Tegak

Bentuk Gabah : Ramping, panjang

Warna Gabah : Kuning bersih

Kerontokan : Tahan

Kerebahan : Tahan

Tekstur Nasi : Pulen

Kadar Amilosa : 27%

Bobot 1000 Butir : 24,1 g

Rata Rata Produksi : 5,0 t/ha

Potensi Hasil : -Tahan wereng coklat biotipe 1, 2 dan wereng hijau

Ketahanan Hama :
1. Agak tahan bakteri busuk hawar daun(Xanthomonas oryzae)

2. Tahan kerdil rumput

Ketahanan Penyakit : 1986

Anjuran :

1. Baik ditanam untuk i sawah irigasi dataran rendah di Jawa Timur

2. Cukup baik untuk padi rawa/pasang surut

Peneliti : 5,0 t/ha

Dilepas Tahun : 1986

2.3.3 Deskripsi Varietas Barito

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2013), deskripsi padi

varietas barito adalah sebagai berikut:

Komoditi : Padi

Nama Varietas : Barito

SK : 1053/Kpts/Um/12/1961

Tetua Asal : Persilangan antara Pelita 1-1/B2393

Potensi dan Rerata : 4.5-5.0 ton/ha GK - Karakteristik Khusus

Nomor seleksi : B2489d-Pn-1-76-8

Golongan : Cere (indica), kadang-kadang berbulu

Umur tanaman : 140-145 hari

Bentuk tanaman : Tegak, sedikit serak

Tinggi tanaman : 110-115 cm

Anakan produktif : Banyak (15-20 batang)

Warna kaki : Hijau


Warna batang : Hijau muda

Warna telinga daun : Tidak berwarna

Warna lidah daun : Tidak berwarna

Warna daun : Hijau tua

Muka daun : Kasar

Posisi daun : Tegak

Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Gemuk

Warna gabah : Kuning bersih, ujung gabah sewarna

Kerontokan : Sedang

Kerebahan : Tahan

Rasa nasi : Enak

Bobot 1000 butir : 28 gram

Kadar amilosa : 21 %

Potensi hasil : 4.5-5.0 ton/ha GK

Ketahanan hama : Tahan terhadap wereng batang coklat buitipe 1, cukup

tahan sampai agak peka terhadap wereng biotipe

Ketahanan penyakit : Cukup tahan terhadap bakteri busuk daun (Xanthomonas

oryzae), peka terhadap virus tungro

Keterangan : Cukup baik untuk sawah dataran rendah, dataran sedang

dan sebagian padi pasang surut atau rawa


2.3.4 Deskripsi Varietas Santana

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2013), deskripsi padi varietas

santana adalah sebagai berikut:

Nama Varietas : Santana

Tahun : 2000

Tetua : IR 64/IR54742-1-19-11-8

Potensi Hasil : 5,8 ton/ha gabah kering panen

Nomor pedigri : B7974F-MR-2-2-2

Golongan : Cere

Umur tanaman : 118 hari

Bentuk tanaman : Tegak

Tinggi tanaman : 110 cm

Anakan produktif : 15-20 batang

Warna kaki : Hijau

Warna batang : Hijau

Warna daun telinga : Tidak berwarna

Warna lidah daun : Tidak berwarna

Warna daun : Hijau

Muka daun : Halus

Posisi daun : Tegak

Daun bendera : Tegak

Bentuk gabah : Ramping

Warna gabah : Kuning bersih


Kerontokan : Tahan

Kerebahan : Tahan

Tekstur nasi : Pulen

Bobot 1000 butir : 23,9 gram

Kadar amilosa : 23,0 %

Ketahanan hama : Cukup tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3

Ketahanan penyakit : Cukup tahan terhadap hawar daun bakteri (HDB) III

dan peka terhadap HDB IV

Anjuran tanam : Lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl,

dan baik ditanam pada lahan irigasi kurang subur

2.3.5 Deskripsi Varietas Inpari Sidenuk

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2013), deskripsi padi

varietas inpari sidenuk adalah sebagai berikut:

Komoditas : Padi Sawah

Tahun : 2011

Anakan Produktif : +/- 15 malai

Asal : Diah Suci diradiasi sinar gamma dengan dosis 0,20 kGy

dari 60Co

Bentuk gabah : Ramping

Bentuk Tanaman : Tegak

Berat 1000 butir : +/- 25,9 gram

Golongan : Cere

Jumlah gabah permalai: 175-200 butir


Kadar amilosa : +/- 20,6 %

Kerebahan : Tahan

Kerontokan : Sedang

Nomor pedigri : OBS1703-PSJ

Permukaan daun : Kasar

Posisi daun : Tegak

Posisi daun bendera : Tegak

Potensi hasil : 9,1 ton/ha GKG

Rata-rata hasil : 6,9 ton/ha GKG

Tekstur nasi : Pulen

Tinggi Tanaman : +/- 104 cm

Umur tanaman : +/- 103 hari

Warna batang : Hijau

Warna daun : Hijau

Warna gabah : Kuning bersih

Warna kaki : Hijau

Warna lidah daun : Tidak berwarna

Warna telinga daun : Tidak berwarna

Keterangan : Umur tanaman 103 hari. Potensi hasil 9,1 ton/ha GKG.

Tekstur nasi : Pulen.

Ketahanan hama : Agak tahan terhadap Wereng Batang Coklat biotipe 1, 2,

dan biotipe 3.
Ketahanan penyakit : Agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe

III, rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV, agak

rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII, rentan

terhadap penyakit tungro serta rentan terhadap semua ras

blas.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beras

Faktor-faktor yang menentukan kualitas beras antara lain adalah bentuk,

ukuran, dan warna beras serta rendemen. Beras yang diinginkan dan mempunyai

harga tinggi di pasar, berukuran panjang (6,61 - 7,50 mm) atau sedang (5,51 - 6,60

mm), serta mempunyai bentuk lonjong atau sedang, dan berwarna bening.

Rendemen merupakan salah satu faktor mutu yang penting. Rendemen dikatakan

baik apabila gabah diperoleh minimum 70% beras giling, tediri dari 50% beras

kepal dan 20% beras pecah. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah rasa nasi.

Nasi lunak (pulen) dan wangi sangat disukai sebagian besar masyarakat karena pada

saat dimakan terdapat pada tekstur yang lembut (Malian, 2014).

Faktor genetika dalam tanaman padi sangat mempengaruhi sifat fisiologi,

morfologi tanaman dan ketahanan terhadap hama penyakit. Tipe tanaman ideal

merupakan kombinasi dari karakteristik fisiologi dan morfologi. Tipe tanaman ideal

yang tercermin dalam sifat morfologi tanaman adalah jumlah malai, berat gabah,

panjang lebar gabah, tinggi tanaman, tipe tiga daun termasuk tiga daun teratas

(panjang, ketebalan, bentuk dan sudut), dan indeks panen (Harahap, 2014).
Ada empat faktor utama yang mempengaruhi mutu beras yaitu sifat genetik,

lingkungan dan kegiatan prapanen, perlakuan prapanen, dan perlakuan pascapanen.

Sifat genetik beras meliputi ukuran dan bentuk beras, rendemen giling, penampakan

biji, sifat mutu tanak, dan cita rasa nasi. Aroma beras ditentukan juga oleh sifat

genetik. Faktor lingkungan antara lain adalah kondisi ekosistem suatu wilayah.

Rendemen beras giling dari varietas padi yang sama (IR64) yang ditanam di lahan

beririgasi teknis, berbeda rendemen berasnya dibanding yang ditanam di lahan

tadah hujan, dataran tinggi, lahan pasang surut dan rawa sehingga dapat

mempengaruhi kualitas beras tersebut (Malian, 2014).


BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum smaak proof dilaksanakan pada hari Jumat, 7 Oktober 2016, pukul

10.00 WITA sampai selesai dan dilaksanakan di Laboratorium Ekofisiologi

Tanaman dan Nutrisi, Departemen Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian,

Universitas Hasanuddin, Makassar.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum smaak proof adalah rice cooker,

sendok, alat tulis.

Bahan yang digunakan pada praktikum smaak proof adalah padi berbagai

varietas (Inpari 7, IR 64, Barito, Santana, Inpari Sidenuk), dan air putih.

3.3 Metode Praktikum

Adapun metode pelaksanaan praktikum smaak proof adalah sebagai berikut :


1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
2. Mencuci beras berbagi varietas hingga bersih.
3. Memasak beras hingga menjadi nasi menggunakan rice cooker.
4. Setelah beras matang, menguji rasa dilakukan dengan mencoba masing-masing
varietas beras yang sudah dimasak dan memberikan nilai pada masing-masing
varietas beras.
5. Membersihkan tempat kerja dari sampah atau sisa dari praktikum.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Pengamatan Rasa
Treatment Total
Blok
1 2 3 4 5 Bi

3,25 3,87 3,37 10,49


1

2,11 3,5 3,4 9,10


2

2,89 3,22 2,67 8,78


3

2,5 3,25 1,5 7,25


4

4,3 2,3 3 9,6


5

10,05 8,28 9,76 9,87 7,17


Total (T1)

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2016

Tabel 2. Hasil Analisis Treatment


Total Treatment Bt
No. Qt = T1- Bt / t = Qt (k/b) Ti (Adjusted)
(Ti)
k

10,05 27,34 0,94 0,56 2,79


1

8,28 29,1 1,42 0,85 3,61


2

9,76 28,28 0,34 0,20 3,06


3
9,87 25,04 1,54 0,92 2,37
4

7,17 25,63 1,33 0,79 3,21


5

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2016

Tabel 3. Penilaian Rasa pada Setiap Varietas


Ti (Adjusted)
No. Varietas Padi

1 Inpari Sidenuk 2, 79

2 Inpari 7 3, 61

3 Santana 3, 06

4 IR 64 2, 37

5 Barito 3, 21

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2016

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan di atas diperoleh nilai Ti adj yang menunjukkan

rasa pada nasi. Rasa pada dasarnya dapat turut menentukan suatu kualitas. Hal ini

tergantung pada jenis varietas padinya. Perbedaan rasa nasi antar varietas terletak

pada perbedaan kadar amylose yang terdapat pada butir-butir berasnya masing-

masing. Kadar amylose untuk nasi enak berkisar antara 20-24%. Kadar yang terlalu

tinggi justru akan membuat nasi menjadi tidak enak (keras).

Nilai Ti adj paling rendah yaitu pada varietas IR 64 yang berarti rasa nasinya

paling enak, kemudian Inpari Sidenuk, Santana, Barito, dan Inpari 7. Masing-

masing varietas atau galur padi mempunyai sifat dan mutu beras serta rasa nasi yang

berbeda Faktor-faktor yang menentukan kualitas beras antara lain adalah bentuk,
ukuran, dan warna beras serta rendemen. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah

rasa nasi. Nasi lunak (pulen) dan wangi sangat disukai sebagian besar masyarakat

karena pada saat dimakan terdapat pada tekstur yang lembut Adanya perbedaan

rasa antar varietas mungkin disebabkan oleh variasi fisikal atau chemical yang

dimiliki pati dalam butir-butir beras pada masing-masing varietas.

Menurut Malian (2014), Ada empat faktor utama yang mempengaruhi mutu

beras yaitu sifat genetik, lingkungan dan kegiatan prapanen, perlakuan prapanen,

dan perlakuan pascapanen. Sifat genetik beras meliputi ukuran dan bentuk beras,

rendemen giling, penampakan biji, sifat mutu tanak, dan cita rasa nasi. Aroma beras

ditentukan juga oleh sifat genetik. Faktor lingkungan antara lain adalah kondisi

ekosistem suatu wilayah. Rendemen beras giling dari varietas padi yang sama

(IR64) yang ditanam di lahan beririgasi teknis, berbeda rendemen berasnya

dibanding yang ditanam di lahan tadah hujan, dataran tinggi, lahan pasang surut

dan rawa sehingga dapat mempengaruhi kualitas beras tersebut.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum smaak proof yaitu :

1. Rasa dipengaruhi oleh suhu gelatinisasi, aroma, gel konsistensi, dan kadar

amilosa. Pengujian rasa yang dilakukan mempunyai nilai yang berbeda antar

penguji, karena rasa bersifat relative.

2. Varietas padi yang dengan kualitas rasa tertinggi ke terendah yaitu IR 64, Inpari

Sidenuk, Santana, Barito, dan Inpari 7.

3. Faktor yang mempengaruhi mutu beras yaitu sifat genetik, lingkungan dan

kegiatan prapanen, perlakuan prapanen, dan perlakuan pascapanen.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas maka penulis

memberikan saran yaitu sebaiknya para praktikan dapat berperan aktif selama

praktikum berlangsung dan komunikasi antar praktikan dan asisten dapat

ditingkatkan lagi sehingga terjalin komunikasi yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Andoko, A. 2012. Budidaya Padi Secara Organik. Cetakan I. Penebar Swadaya,


Jakarta.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2013. Deskripsi Varietas Padi. Subang. Jawa
Barat

Mulyani, Sri. 2012. Anatomi Tumbuhan. Kaninsius : Yogyakarta

Harahap, Z.,S.Ibrahim, I.J. Soemantri dan T. W. Susanto. 2014. Cibandung


Varietas Padi Dengan Mutu Baik. Penelitian Pemberitaan
Puslitbang .III(40) : 13-18.
Malian, A. H., Mardianto, S., & Ariani, M. 2014. Faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga beras serta inflasi bahan
makanan. Jurnal Agro Ekonomi, 22(2), 119-146.

Norsalis, Eko. 2012. Padi Gogo dan Sawah. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1
No.2

Weeb. 2010. Rice quality and grades. B.S. Luh (ed) Rice. Vol II. 89-119