Anda di halaman 1dari 5

Penanganan Bayi Setelah Lahir & Inisiasi Menyusui Dini

Herlina Escana (1606955284)

Praktikum Maternitas FG II. Kelas A. Program S1 Ekstensi FIK UI 2016

Proses transisi dari intrauteri pada kehidupan ekstrauteri terjadi selama beberapa jam
setelah kelahiran. Selama masa ini neonatus mengalami banyak adaptasi yang terjadi simultan.
Temperatur neonatus, respirasi dan kardiovakular distabilisasi pada periode ini. Observasi status
neonatus dan intervensi yang tepat merupakan hal yang penting. Pemeriksaan neonatus saat lahir
untuk mengenali adanya kelainan anatomi, injuri proses lahir dan tanda kegagalan adaptasi
ekstrauteri sangat penting, karena masalah yang terjadi pada masa kritis ini dapat memberikan
dampak yang panjang bagi neonatus. (Ricci, 2009).

Pengkajian

Pengkajian segera pada neonates berfokus pada suksesnya adaptasi kardiopulmonal. Suara
menangis yang kuat dan kencang merupakan respon pertama neonatus terhadap stimulus
eksternal.(Klossner, 2009). Pengkajian dengan melihat adanya tanda dan gejala berupa: kesulitan
bernafas, nafas cuping hidung, retraksi dada, cyanosis sentral, suara nafas abnormal (ronki,
krekels, wheezing, stridor), frekuensi nafas abnormal (lebih dari 60 kali permenit atau kurang dari
25 kali permenit),postur tubuh yang lembek, denyut jantung tidak normal (lebih dari 160 kali
permenit atau kurang dari 100 kali permenit), kelainan ukuran tubuh. (Ricci, 2009).

Pengkajian adaptasi kardiopulmonal yang sering digunakan yaitu Apgar score.


Diperkenalkan oleh Dr. Virginia Apgar tahu 1952, dilakukan untuk memeriksa neonatus pada 1
dan 5 menit setelah lahir. Parameter yang diperiksa dengan Apgar score yaitu: frekuensi jantung,
usaha nafas, tonus otot, reflex dan warna kulit. Bila nilai apgar < 7 pada 5 menit pertama maka
perlu dikaji setiap 5 menit sampai nilai menjadi 7 atau lebih. Nilai 7-10 pada 5 menit pertama
adalah indikasi bahwa neonates sehat dan mampu beradaptasi ekstrauteri dengan baik. Nilai 4-6
pada 5 menit pertama mengidikasikan bahwa nenatus memilki kesulitan beradaptasi dan perlu di
obeservasi lebih ketat. Bila nilai Apgar 0-3 pada 5 menit pertama mengindikasikan neonates
kesulitan hidup ekstrauteri dan memerlukan penanganan diruang intensif. (Klossner, 2009).
Untuk memudahkan mengingat parameter Apgar score dapat digunakan cara cepat sebagai
berikut : A = appearance (warna kulit); P = pulse (denyut jantung); G = grimace (reflex); A =
activity (tonus otot); R = respiratory (frekuensi nafas).

Selanjutnya observasi neonatus adanya tanda-tanda stress temperature, gunakan


pemeriksaan temperature kulit sementara neonatus diletakkan dialat penghangat. Observasi
adanya tanda hipoglikemia dengan gejala khas tremor, moro reflex yang berlebihan, letargi,
distress nafas. Gula darah 50-60 mg/dl pada 24 jam pertama dianggap normal. Kondisi
hipoglikemia yang berkepanjangan tanpa tearpi dapat menyebabkan kerusakan otak permanen
yang berakibat kecacatan. (Klossner, 2009).

Pengukuran panjang dan berat badan segera dilakukan setelah lahir. Panjang diukur dari
atas kepala sampai tumit neonatus tanpa menggunakan pakaian. Ukuran panjang normal neonatus
48 -53 cm. Berat badan neonatus normal sekitar 2700 4000gram. Neonatus pada umumnya
kehilangan 10% dari berat kahirnya disebabkan oleh hilangnya meconium sekunder, cairan
extrasel dan pembatasan intake.

Pengukuran tanda vital meliputi denyut jantung dan frekuensi nafas. Normal denyut
jantung 120-160 kali per menit, saat menangis 180 kali per menit. Normal frekuensi nafas 30-60
kali per menit saat tenang. Pengukuran temperature dan tekanan darah tidak perlu segera
dilakukan, pemeriksaan tekanan darah dilakukan bila didapat Apgar skor yang rendah sedangkan
pemeriksaan temperature dapat dilakukan diruang perawatan.
Intervensi Keperawatan

Selama masa kelahiran fokus perawatan neonatus yaitu membantu melewati masa transisi
ekstrauteri. Intervensi perawatan meliputi:

1. Menjaga patensi jalan nafas, segera setelah lahir neonatus disuction untuk membersihkan
cairan dan mucus dari mulut dan hidung. Suction dilakukan untuk mencegah terjadinya
aspirasi cairan ke paru-paru.
2. Memastikan identifikasi yang tepat, sebelum neonatus dan keluarga meninggalkan area
persalinan, pastikan identifikasi neonatus sudah tepat. Berikan gelang identias yang sama
bagi neonatus, ibu dan ayah bila memungkinkan. Gelang identitas memastikan
keselamatan neonatus dan keamanan bagi orangtua. Beberapa negara mengambil identitas
sidik kaki neonatus, ada pula yang mengambil specimen darah neonatus untuk pemeriksaan
DNA.
3. Memberikan medikasi sesuai indikasi, pada umumnya pemberian vitamin K dan
profilaksis mata. Vitamin K diberikan dengan indikasi untuk membantuk pembentukan
faktor pembekuan II, VII dan IX, karena pada minggu pertama kelahiran neonatus belum
dapat memproduksi vitamin K. selain itu untuk mencegah kondisi vitamin K deficiency
bleeding (VKDB). Obat mata berupa Erythromycin ophthalmic ointment 0,5% atau
Tetracycline ophthalmic ointment 1 % digunakan sebagai pencegahan ophthalmia
nonatorum.
4. Mempertahankan termoregulasi normal, neonatus memiliki masalah pengaturan suhu
tubuh pada beberapa jam pertama setelah kelahiran. Gunakan probe temperature yang
ditempelkan pada bagian abdomen neonatus. Temperature neonatus berkisar 36,5 37,5 C,
intervensi perawat untuk mempertahankan suhu tubuh, diantaranya:
a. Keringkan neonatus segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas tubuh
melalui evaporasi.
b. Selimuti nenonatus dengan selimut hangat untuk mencegah kehilangan panas
melalui konveksi.
c. Gunakan alat-alat pemeriksaan yang hangat seperti stetoskop, tangan petugas dan
gunakan selimut saat melakukan pengukuran berat badan tanpa pakaian.
d. Hindari menempatkan box neonatus berdekatan dengan pendingin ruangan.
e. Tunda memandikan neonatus sampai temperature stabil.
f. Tempatkan neonatus pada tempat yang memiliki pengaturan temperature.

Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Adalah memberikan air susu ibu (ASI) segera setelah bayi dilahirkan, dalam waktu 30-60
menit paska bayi dilahirkan.(Kemkes RI, 2012). Tujuan pemberian IMD adalah:

Memperkenalkan bonding attachment dengan ibu sesegera mungkin melalui inisiasi


menyusui dini.
Mempertahankan kondisi bayi baru lahir dalam keadaan sehat secara optimal
Mencegah hipotermi
Mengurangi perdarahan pasca persalinan
Mempercepat produksi ASI
Memberi perlindungan alamiah (imunisasi) bagi bayi, saat bayi menelan bakteri baik dari
ASI.
IMD dilakukan pada bayi lahir cukup bulan, sehat dan bayi premature beresiko rendah
yang lahir setelah kehamilan 35 minggu tanpa masalah pernafasan; ibu dalam keadaan stabil yitu
ibu tanpa komplikasi kehamilan seperti preeklamsi, anemia berat paska perdarahan, gula darah
tidak terkontrol dan penyakit jantung; tersedianya sarana dan prasarana penanganan bayi baru
lahir; tersedianya tenaga yang terlatih.
Menurut jurnal resiko IMD dan praktek ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada anak
usia 6-24 bulan di kabupaten Boyolali (Permadi, 2016) ditemukan hubungan antara IMD dan ASI
eksklusif dengan kejadian stunting. Pemberian ASI eksklusif merupakan faktor yang paling
berpengaruh terhadap kejadian stunting.
Langkah-langkah IMD: (Roesli, 2008)
1) Segera setelah lahir, bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering.
2) Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tangannya.
3) Tai pusat dipotong lalu diikat.
4) Vernix (lemak putih) pada tubuh bayi sebaiknya tidak perlu dibersihkan karena
memberikan rasa nyaman.
5) Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan didada atau diperut ibu, sehingga ada
kontak kulit ibu dengan kulit bayi.Ibu dan bayi diselimuti Bersama-sama, jika perlu bayi
diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.

Dari pemaparan teori tentang penanganan bayi baru lahir dan inisiasi menyusui dini, dapat
disimpulkan bahwa penanganan bayi baru lahir/neonatus yang tepat sangat penting karena
mempengaruhi kondisi jangka panjang bagi bayi bila terdapat kesalahan penanganan. Begitu pula
dengan mengingat besarnya keuntungan yang didapat dari IMD, pemahaman dan keterampilan
perawat profesional dalam IMD penting bagi asuhan keperawatan klien maternitas.

Daftar Pustaka

Kemkes (2012). Situasi dan Analisis ASI Eksklusif.


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-asi.pdf
diunduh pada tanggal 14 September 2017
Klossner.J, Hatfield.N. (2010). Introductory Maternity & Pediatric Nursing 2nd Edition.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Permadi.Rizal. (2016) Resiko Inisiai Menyusu Dini Dan Praktek ASI Eksklusif Terhadap
Kejadian Stunting Pada Anak 6-24 bulan.
Ricci.Susan, Kyle.T. (2009). Maternity and Pediatric Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins.
Roesli U. (2008). Inisiasi Menyusui Dini. Jakarta: Pustaka Bunda.