Anda di halaman 1dari 27

AMBIGOUS GENITALIA

Pengertian Ambigous Genitalia itu sendiri adalah suatu kelainan


perkembangan seks yang atipikal secara kromosomal, gonadal, dan anatomis
yang umumnya ditandai dengan adanya organ genitalia eksterna yang tidak jelas
laki laki atau perempuan atau mempunyai gambaran kedua jenis kelamin.
(Wasilah, Siti 2008 )

Ambigous genitalia dikenal sebagai interseksual, yang memiliki arti


bahwa jenis kelamin terbagi menjadi dua yaitu laki-laki atau perempuan, dengan
bentuk kelamin yang meragukan. Namun seiring pada perkembangan ilmu
pengetahuan, saat ini ambigous genitalia disebut juga dengan istilah Disorders of
Sexual Development (DSD) oleh para ahli endokrinologi. (Sultana, 2011)
Kelainan genetik merupakan penyebab terbanyak dari ambigous genitalia,
namun pengaruh lingkungan terutama penggunaan obat obatan hormonal selama
masa kehamilan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya hal tersebut. Dicurigai
ambiguous genitalia, apabila alat kelamin kecil, disebut penis terlalu kecil
sedangkan klitoris terlalu besar, atau bilamana scrotum melipat pada garis tengah
sehingga tampak seperti labium mayor yang tidak normal dan gonad tidak teraba.

Dalam pembentukan alat kelamin setiap individu terdapat tiga tahapan


yaitu tahap penentuan jenis kelamin genetic (kromosomal), tahap pembentukan
alat kelamin gonadal, dan tahap pembentukan alat kelamin fenotip. Ambiguous
genetalia dapat terjadi apabila terjadi kelainan atau gangguan pada salah satu
tahapan tersebut.( Sultana,2011 ).
Pada tahap penentuan jenis kelamin geneti secara normal manusia
mempunyai 46 kromosom (diploid, 23 pasang kromosom). Dua puluh dua pasang
kromosom adalah kromosom autosom yang mengkode karakteristik manusia
secara umum serta sifat-sifat spesifik, misalnya warna mata, bentuk rambut, dan
lain sebagainya dan satu pasang kromosom adalah kromosom seks, yang terdiri
dari dua jenis yang berbeda secara genetis. Laki-laki secara genetik memiliki satu
kromosom X dan satu Y (46,XY), perempuan secara genetik memiliki dua
kromosom X, (46,XX).
Akibat meiosis selama gametosis, semua pasangan kromosom terpisah
sehingga setiap sel anak hanya memiliki satu anggota dari setiap pasangan,
termasuk pasangan kromosom seks. Setiap sperma atau ovum menerima hanya
satu anggota dari tiap - tiap pasangan kromosom. Apabila pasangan kromosom
seks XY berpisah selama pembentukan sperma akan menerima kromosom X dan
separuh lainnya kromosom Y. Sebaliknya, selama oogenesis, setiap ovum
menerima sebuah kromosom X karena pemisahan kromosom XX hanya
menghasilkan kromosom X. Jenis kelamin individu ditentukan oleh kombinasi
kromosom seks. Saat pembuahan, kombinasi sperma yang mengandung X dengan
ovum yang mengandung X menghasilkan perempuan genetik, XX, sementara
penyatuan sperma yang membawa kromosom Y dengan ovum pembawa
kromosom X menghasilkan laki-laki genetik, XY. Dengan demikian penentuan
jenis kelamin (sex determination) secara genetik ditentukan pada saat konsepsi
dan bergantung pada jenis kromosom seks apa yang terkandung di dalam sperma
yang membuahi.
Jenis kelamin genetik selanjutnya akan menentukan jenis kelamin gonad,
yaitu apakah yang berkembang adalah testis atau ovarium. Spesifisitas gonad
muncul pada minggu ketujuh masa kehidupan intrauterus, jaringan gonad pada
laki-laki genetic(XY) mulai berdifferensiansi menjadi testis di bawah pengaruh
informasi genetic yang disebut testes determining factor (TDF) dari regio penentu
jenis kelamin di lengan pendek kromosom Y (sex determining region of the
Chromosome, SRY). Gen ini memicu serangkaian reaksi yang menimbulkan
perkembangan fisik laki-laki. TDF memaskulinasi gonad (menginduksi
perkembangan gonad tersebut menjadi testis) dengan merangsang pembentukan
antigen H-Y oleh sel-sel gonad primitif. Antigen H-Y, yaitu protein membran
plasma spesifik yang hanya dijumpai pada laki-laki, mengarahkan diferensiasi
gonad menjadi testis. Karena perempuan genetik tidak memiliki gen SRY maka
tidak menghasilkan antigen HY, maka gonad indiferen akan mengalami
perkembangan menjadi ovarium dilanjutkan dengan terbentuknya rahim dan
saluran indung telur pada minggu kesembilan.
Differensiasi seks (pembedaan jenis kelamin), mengacu pada
perkembangan genetalia eksterna dan saluran reproduksi (genetalia interna) pada
masa embrio ke arah yang berbeda, mengikuti jalur laki-laki atau perempuan.
Jenis kelamin anatomik yang tampak (jenis kelamin fenotip) Diferensiasi menjadi
sistem reproduksi laki laki dipengaruhi hormon maskulinisasi yang disekresikan
oleh testis yang sedang berkembang. Testosteron adalah hormone androgen yang
paling kuat. Tidak adanya hormon-hormon testis ini pada janin perempuan
menyebabkan berkembangnya sistem reproduksi menuju tipe perempuan. Pada
usia kehamilan sepuluh sampai dua belas minggu, kedua jenis kelamin dapat
dengan mudah dibedakan berdasarkan gambaran anatomis genetalia eksterna.
Tuberkel genital menghasilkan jaringan erotik yang sangat peka yaitu glans penis
pada laki-laki dan klitoris pada perempuan.
Gangguan perkembangan genetalia (Disorder of genetalia development)
dapat terjadi mulai dari tahap penyatuan kromosom hingga pembentukan
genetalia eksterna. Terdapat beberapa model pengelompokan untuk ambiguitas
seksual / interseksual, tetapi yang sering dipakai secara klinis adalah male
pseudohermaphroditism (hermaprodit semu laki-laki), female pseudoherma-
phroditism (hermaprodit semu perempuan), true hermaphrodite (hermaprodit
yang sebenarnya), dan dysgenesis gonad. (Sultana, 2011)
Gejala ambigous genitalia yang dapat muncul pada bayi yang secara
genetika perempuan ( kedua chromosome XX ), yaitu clitoris yang tampak
membesar dan sering dikira sebagai penis, bibir bawah yang tertutup atau seperti
lipatan hingga dikira sebagai scrotum, benjolan dibawah kelamin yang dikira
sebagai testis. Sedangakn pada bayi yang secara genetis adalah laki laki, maka
dapat ditemui berupa saluran kencing tidak sampai ke depan penis ( berhenti dan
keluar ditengah atau dipangkal penis), penis terlihat sangat kecil dan lubang
saluran kencing terdapat didekat scrotum, testis tidak ada atau hanya ada satu
buah.
Untuk menentukan penyebab terjadinya interseksualitas atau ambiguos
genitalia tidak mudah, diperlukan kerja sama interdisipliner / intradisipliner
,tersedianya sarana diagnostik dan sarana perawatan. Pada pemeriksaan medis
perlu perhatian khusus kepada hal-hal tertentu. Kita dapat melakukan anamnesis
terkait riwayat kehamilan; adakah pemakaian obat-obatan seperti homonal atau
alkohol, terutama pada trimester I kehamilan. Adakah anggota keluarga yang
memiliki kelainan jenis kelamin, riwayat kematian neonatal dini dan perhatikan
penampilan ibu; akne, hirsustisme, suara kelaki-lakian.
Selain itu juga, kita dapat melakukan pemeriksaan fisik seperti area genitalia
eksterna/status lokalis: tentukan apakah testes teraba keduanya, atau hanya satu,
atau tidak teraba. Bila terabadi mana lokasinya, apakah di kantong skrotum, di
inguinal atau dilabia mayora. Tentukan apakah klitoromegali atau
mikropenis,hipospadia atau muara uretra luar. Bagaimana bentuk vulva dan
adakah hiperpigmentasi. Tentukan apakah ada anomali kongenital yang lain.
Untuk menentukan seseorang menderita ambigous genitalia perlu
dilakukan serangkaian pemeriksaan terkait untuk menegakkan diagnosa tersebut
seperti analisis kromosom, pemeriksaan hormonal disesuaikan dengan
keperluannya seperti testosteron, uji HCG, 17-OH progesteron. Selain itu USG
pelvis perlu dilakukan untuk memeriksa keadaan genital internal. Genitografi
untuk menetukan apakah saluran genital interna perempuan ada atau tidak. Jika
ada, lengkap atau tidak.
Beberapa tindakan pengobatan dalam ambigous genitalia yang dapat
dilakukan yaitu pengobatan endokrin. Bila pasien menjadi laki-laki, maka tujuan
pengobatan endokrin adalah mendorong perkembangan maskulisasi dan menekan
berkembangnya tanda-tanda seks feminisasi (membesarkan ukuran penis,
menyempurnakan distribusi rambut dan massa tubuh) dengan memberikan
testosteron. Bila pasien menjadi perempuan, maka tujuan pengobatan adalah
mendorong perkembangan karakteristik seksual ke arah feminin dan menekan
perkembangan maskulin (perkembangan payudaradan menstruasi yang dapat
timbul pada beberapa individu dengan pengobatan estrogen).
Selain itu pengobatan dengan pembedahan menjadi salah satu pilihan.
Tujuan pembedahan rekonstruksi pada genitalia perempuan adalah agar mempunyai
genitalia eksterna feminin, sedapat mungkin seperti normal dan mengkoreksi agar
fungsi seksualnya normal. Pengobatan secara psikologis juga perlu dilakukan.
Hal ini sebaiknya dilakukan untuk semua pasien interseks dan anggota
keluarganya agar dapat diberikan konseling. Konseling dapat diberikan oleh ahli
endokrin anak, psikolog, ahli psikiatri, ahli agama (ustadz, pastur atau pendeta),
konselor genetik atau orang lain dimana anggota keluarga lebih dapat berbicara
terbuka.
Tahap perkembangan remaja dan masalah yang timbul menurut Teori
Erickson

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu perubahan yang terjadi


pada manusia selama siklus kehidupan. Hal ini merupakan proses yang dinamis
dan saling berkelanjutan. Dalam memahami proses pertumbuhan dan
perkembangan yang terjadi pada anak, untuk itu penulis akan memaparkan
bagaimana tahapan perkembangan khususnya pada remaja dan masalah yang
timbul berdasarkan teori psikososial Erickson.

Pertumbuhan merupakan peningkatan ukuran dan berat badan individu


akibat dari peningkatan jumlah dan ukuran sel didalam tubuh. Sedangkan
perkembangan merupakan perubahan atau tahapan kompleks yang terjadi dari
yang rendah ke tahapan yang lebih tinggi. Hal ini dapat terlihat dan dibuktikan
dari maturitas serta pembelajaran sesorang. (Wong, D.L., Et All, 2009)

Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor


diantaranya adalah genetika, genetika ini adalah warisan dari individu pada saat
pembuahan. Oleh sebab itu tidak akan berubah sepanjang hidup dan menentukan
karakteristik seperti jenis kelamin, karakteristik fisik (misalnya, warna mata,
potensi tinggi). Faktor selanjutnya adalah perangai, perangai ini berupa
temperamen (yaitu, cara individu menanggapi eksternal mereka dan lingkungan
internal). Temperamen dapat bertahan sepanjang masa hidup, meskipun harus
hati-hati untuk tidak mengkategorikan bayi dan anak-anak. Faktor berikutnya
adalah keluarga. Tujuan dari sebuah keluarga adalah untuk memberikan dukungan
dan keamanan untuk anak. Keluarga adalah konstan utama dalam kehidupan
seorang anak. Keluarga adalah terlibat dalam anak mereka fisik dan psikologis
kesejahteraan dan pembangunan. Anak-anak disosialisasikan melalui dinamika
keluarga. Untuk itu orang tua mengatur perilaku yang diharapkan dan model
perilaku yang sesuai. Faktor berikutnya adalah makanan, lingkungan Hidup,
kesehatan, dan budaya. (Kozier, Et all, 2016)
Pada tahapan usia perkembangan anak, periode ini dimulai pada tahapan
pranatal hingga masa kanak-kanak akhir yaitu pada usia 11 hingga 19 tahun. pada
masa kanak-kanak akhir ini terdiri dari 2 bagian tahapan yaitu prapubertas pada
usia 10 hingga 13 tahun dan tahapan remaja pada usia 13 hingga 18 tahun. di usia
ini merupakan periode transisi, dimulai pada masa pubertas hingga memasuki
dunia dewasa. Pada periode remaja akhir ini, anak akan memulai
menginternalisasikan nilai yang telah mereka pelajari dan berfokus pada identitas
individu serta identitas kelompok. (Wong, D.L., Et All, 2009)

Teori perkembangan kepribadian yang dikembangkan oleh Erickson pada


tahun 1963 yaitu yang dikenal sebagai teori perkembangan psikososial. Teori
perkembangan psikososial ini sebelumnya telah dibuat berdasarkan teori Freud
namun dikembangkan lagi oleh Erickson. Didalam teori ini Erickson
mengemukakan bahwa terdapat delapan tahapan perkembangan psikososial. Pada
setiap tahapan perkembangan tersebut, individu tersebut harus menyelesaikan
tugas kehidupan yang esensial untuk kesejahteraan dan kesehatan jiwanya. Tugas
tersebut memungkinkan individu mencapai nilai moral kehidupan yang berupa
harapan, tujuan, kesetiaan, cinta, kepedulian dan kebijaksanaan. (Videbeck, S.L,
2008)

Pada tahapan remaja menurut erickson disebut dengan tahapan identitas vs


bingung peran. Teori ini berhubungan dengan teori perkembangan genetalia freud.
Perkembangan identitas ini dicirikan dengan perubahan fisik yang cepat dan jelas.
Rasa percaya terhadap tubuh mereka, yang sudah terbentuk pada anak-anak dan
mengalami perubahan. Remaja biasanya menyesuaikan diri untuk bermain peran
dan berharap dapat memainkan perananaya dengan gaya terbaru yang dilakukan
oleh teman sebayanya. Ketidak mampuan dalam menyelesaikan konflik ini dapat
menyebabkan anak dalam tahapan ini menjadi bingung peran. (Wong, D.L., Et
All, 2009)

Masalah yang timbul pada masa pekembangan remaja dibagi kedalam tiga
periode yaitu remaja awal, remaja tengah dan remaja akhir. Pada masa remaja
merupakan masa yang penuh dengan gejolak. (IDAI,2013). Pada periode
perkembangan remaja awal yaitu kisaran usia 10 hingga 13 tahun. pada keadaan
prapubertas, kadar steroid dalam situasi tertekan oleh umpan balik negatif di
hipotalamus. Selanjutnya hipotalamus merangsang pelepasan selama tidak
bekerjanya gonadotropin dan hormon pertumbuhan dari pituitari anterior.
Rangkaian akibat perubahan somatik dan fisiologis meningkatkan kecepatan
maturitas seksual atau disebut dengan stadium tanner. Perkembangan psikososial
anak usia remaja terlihat dari perubahan konsep diri yang diamana kesadaran diri
anak menjadi meningkat secara eksponen terhadap tranformasi yang terjadi.
Kesadaran diri pada anak usia ini cenderung untuk memusatkan pada karakteristik
luar yang berbeda dengan introspeksi diri pada remaja akhir. Mereka seusia ini
akan mulai memperhatikan dengan teliti saat berpenampilan dan merasakan
bahwa oarang lain sedang memperhatikannya. Selanjutnya hubungan dengan
keluarga, teman sebaya dan masyarakat yang mempengaruhi pada awal remaja
yaitu kecenderungan anak akan memisahkan diri dari lingkungn keluarga dan
mulai melibatkan diri pada aktivitas sekolah dan teman sebayanya. Anak dengan
tahapan remaja awal ini biasanya akan mulai mementingkan urusan organisasi,
dan membina hubungan erat terhadap guru-guru tertentu dan orang tua temennya,
serta memberikan rasa memiliki terhadap organisasi yang diambil diluar keluarga.
Remaja muda sering bersosialisasi dengan kelompok jenis kelamin yang sesebaya
dan sering bergurau tentang siapa suka, dan membuktikan awal perkembangan
ketertarikan seksual. Rasa memiliki adalah suatu hal yang penting. Remaja laki-
laki berbeda dengan remaja perempuan, diamana remaja perempuan menganggap
persahabatan adalah berpusat pada saling mempercayai sedangkan remaja laki-
laki persahabatan berpusat pada kegiatan-kegiatan dan kompetisi. (Nelson, Et All.
2000). Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami
perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka
sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa
orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka
mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. (IDAI, 2013)

Remaja pertengahan, konsep diri pada tahapan ini adalah kelompok sebaya
yang tidak begitu terpengaruh atas pakaian, tingkah laku, dan aktivitas. Remaja
pertengahan sering bereksperimen dengan berbagai orang, berganti gaya pakaian,
kelompok teman dan minat. Banyak remaja yang berfilosofi tentang siapkah saya
dan mengapa saya ada disini. Perasaan sedih dan kekalutan merupakan perasaan
yang wajar dan mungkin sedikit sulit dibedakan dengan masalah kejiwaan.
Hubungan remaja tengah dengan keluarga, teman, dan lingkungan mengakibatkan
hubungan yang tegang antara remaja dan orang tua nya. Pada masa ini merupakan
bagian dari perpisahannya antara dirinya dan keluarganya, hal ini dikarenakan
berubahanya arah emosional. Pada masa ini ketertarikan fisik dan popularitas
merupakan faktor yang sangat rawan, baik pada hubungan antar sebaya maupun
untuk harga dirinya. Anak yang memiliki perbedaan yang terlihat secara fisik
seperti bibir sumbing adalah berisiko untuk mengembangkan keterampilan dan
keercayaan sosial serta lebih mudah mengalami kesulitan dalam membina
hubungan yang memuaskan. (Nelson, Et All. 2000).

Remaja akhir, perkembangan secara biologis ditandai dengan perubahan


tubuh seperti perubahan bentuk payudara, bulu kemaluan, vagina pada wanita dan
penis serta testis pada pria adalah wajar dan terjadi di 95% remaja akhir.
Perkembangan secara psikososial, remaja akan berfikir mengenai konsep-konsep
keadilan, dan patriotisme. Remaja akhir yang lebih tua sering kali berfikir secara
idealis dan adapula yang absolut serta adapula yang tidak bertoleransi terhadap
pandangan-pandangan yang berbeda. Pada tahapan ini remaja mulai berkomitmen
atas keputusan dan karir yang diambil. (Nelson, Et All. 2000).

Sehingga peranan orang tua sangatlah penting dalam tahapan remaja


diantaranya adalah menanamkan pola asuh yang baik pada anak khususnya dalam
membekali anak dengan dasar moral dan agama, mengerti komunikasi yang baik
dan efektif antara orangtua anak, menjalin kerjasama yang baik dengan guru,
orang tua menjadi tokoh panutan dalam perilaku maupun menjaga lingkungan
yang sehat dan menerapkan disiplin yang konsisten pada anak serta
menghindarkan anak dari NAPZA. (IDAI, 2013)

Faktor Yang Mempengaruhi Masalah Pada Tahap Perkembangan Remaja


Dan Efek Yang Ditimbulkan Sesuai Kasus
Tahap perkembangan usia sekolah dimulai dari usia 6 tahun sampai 12
tahun, pada usia ini merupakan tahapan akhir masa kanak-kanak menuju pada
masa pubertas. Langkah pekembangan pada masa ini yaitu mengembangkan
kompetensi dalam ketrampilan fisik, kognitif, dan psikososial. Sekolah dan rumah
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan penyesuaian
dengan orang tua dan teman sebayanya (Potter&Perry 2005).

Tahap perkembangan praremaja dan remaja merupakan periode transisi


dari tahap kanak-kanak. Tahap ini sering disebut sebagai Adolesens, dengan
rentang usia pada tahap perkembangan ini adalah 13 sampai 20 tahun. Perubahan
fisik terjadi pada tahap adolensens seperti pertumbuhan payudara pada wanita dan
tumbuhnya rambut pada pubis, ini menandakan mulai masuknya masa pubertas,
pada wanita 2 tahun lebih awal dari pada laki-laki. Pada masa ini rasa ketertarikan
pada lawan jenis sebagai hubungan sosial mulai terjadi, hubungan dengan teman
sebaya yang dapat dipercaya untuk berbagi perasaan terbentuk baik pada wanita
maupun pada laki-laki ( Potter&Perry 2005).

Penyesuaian dan adaptasi diperlukan untuk mengkoping perubahan


simultan dan usaha untuk pembentukan identitas. Masa adolesens ini merupakan
masa yang penuh dengan gejolak dan tekanan serta kekacauan dalam dirinya.
Menurut Potter&Perry (2005), Perubahan yang terjadi pada masa adolensens
antara lain :

1. Perubahan fisik dan maturitas seksual


Maturitas seksual terjadi seiring perkembangan seksualitas primer yang
merupakan perubahan fisi dan hormonalyang penting untuk reproduksi,
dankarakteristik sekunder secara eksternal berbeda antara laki-laki dan
perempuan. Empat focus utama perubahan fisik yaitu peningkatan
pertumbuhan musculoskeletal, perubahan spesifik seks seperti lebar bahu dan
pinggul, distribusi otot dan lemak, perkembangan reproduksi dan seks
sekunder.

2. Perubahan berat badan dan tulang


Meningkatnya berat badan dan tinggi badan terjadi selama laju pertumbuhan
pubertas. Pada perempuan dimulai sejak usia 8-14 tahun sedangkan pada laki-
laki pada usia 10-16 tahun. Pada perempuan 90-95% tinggi badan dewasa
pada masa menarke, dan mencapai tinggi penuh pada usia 16-17 tahun.
Sedangkan pada laki-laki terus tumbuh tinggi sampai usia 18-20 tahun (Ball,
2012).

Adolesens sangat sensitive terhadap perubahan fisik yang membuat


berbeda dengan teman sebayanya. Perubahan hormonal yang terlihat atau yang
yang tidak terlihat selama masa pubertas dipengaruhi oleh hipotalamus yang
mulai memproduksi gonadotropin-releasing hormones, yang merupakan sinyal
bagi hipofisis untuk mensekresi hormon gonadotropin yang akan mesntimulasi
estrogen pada sel ovarian dan testosteron pada sel testis ( Potter&Perry 2005).

Masalah kesehatan spesifik pada tahap perkembangan adolesens adalah :

1. Kecelakan bermotor merupakan penyebab kematian terbanayak pada


adolesens sekitar 70% (Edelmen & Mandel, 1994 dalam Potter&Perry 2005).
Kecelakaan bermotor ini sering dikaitkan dengan penggunaan alcohol dan
penyalahgunaan obat. Perawat berperan untuk menganjurkan adolesens untuk
mengikuti program pendidikan mengemudi dan menggunakan sabuk
pengaman
2. Penggunaan zat tertentu diyakininya dapat mengubah perasaan menjadi lebih
nyaman, sejahtera dan dapat melakukan apa saja yang dikehendaki.
Penggunaan obat-obatan membuat merewa merasa lebih matur. Peran perawat
yaitu memberikan informasi tentang bahaya penggunaan alcohol dan obat-
obatan
3. Bunuh Diri, depresi dan isolasi sosial biasanya menjadi peneyabab usaha
bunuh diri, jika ditemukan tanda tanda penurunan kinerja disekolah, menarik
diri, hilangnya inisiatif, kesepian, kesedihan, menangis, gangguan nafsu
makan, sulit tidur, menyatakan keinginan untuk bunuh diri maka segera
dilakuakn rujukan pada petugas kesehatan mental professional agar dapat
dilakuakan pengkajian dan bimbingan lebih lanjut.
4. Penyakit menular Seksual : Pada masa adolesens biasanya timbul keinginan
eksperimentasi seksual. Tekanan sebaya, perubahan fisiologis dan emosional,
harapan sosial berperan terhadap hubungan heteroseksual maupun
homoseksual. Perawat berperan memberikan informasi mengenai penyakit,
bentuk penularannya, serta konsekuensi aktifitas seksual.
Pada kasus anak usia 12 tahun yang mengalami ambiguous genetalia,
karena pada alat kelamin eksternalnya kurang spesifik laki-laki ataupun
permpuan. Meskipun sementara statusnya dinyatakan sebagai seorang perempuan
tetapi dia lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku sebagai seorang laki-laki.
Pada masa ini perkembangan seksualitas yang meliputi peran gender (perilaku dan
penampilan memberikan sinyal kepada orang lain sebagai laki-laki atau
perempuan), identitas gender (persepsi diri sebagai seorang laki-laki atau
perempuan), orientasi seksual dan perilaku seksual dipengaruhi oleh factor
biologis dan soasial serta pengalaman individu Mardante K.J, Kliegman R.M,
Jenson H.B& Behrman R.E, 2014).
Pada usia sekolah anak menunjukkan identitas gender yang kuat dan
konsisten, perilaku (peran gender) mencerminkan hal tersebut. Orang tua
hendaknya waspada jika seorang anak menunjukkan peran gender berlawanan
dengan identitas gender, perlu dievaluasi adanya Gangguan Identitas Gender
(GID). Pada masa remaja memiliki focus pada perkembangan seksual, merasa
nyaman dengan satu jenis kelamin merupakan satu prinsip utama. Adanya GID
memiliki karakteristik adanya identifikasi gender yang yang berlawanan secara
intens dan persisten, serta merasa tidak nyaman dengan gender yang sesuai
dengan anatominya. Perasaan ini diwujudkan dengan perilaku yang berlawanan
dengan gendernya seperti cara berpakaian, penampilan, bermain dan menyukai
permainan gender lawan (Mardante K.J, Kliegman R.M, Jenson H.B& Behrman
R.E, 2014).

Teori Psikoanalitik Freud dan Masalah Perkembangan yang Umum terjadi


pada Remaja

Masa remaja adalah masa dimana seorang individu akan mengalami


perubahan yang sangat besar dalam perkembangan emosional dan seksual. Masa
dimana individu berjuang untuk mendapatkan identitas diri terutama pengakuan
dari teman sebayanya. Seringkali akan timbul ketegangan antara individu remaja
dan individu dewasa terutama keduaorangtuanya. Penting untuk perawat
mengetahui teori perkembangan serta permasalahan yang sering muncul diusia
remaja. Pengetahuan ini akan menjadi modal bagi perawat untuk melakukan
komunikasi dan pendekatan yang terapeutik terhadap klien remaja maupun
orangtuanya.

A. Teori Psikoanalitik Freud


Freud membagi struktur pembentukkan kepribadian seseorang kedalam
tiga komponen, yaitu : id, ego dan superogo. Id merupakan dorongan atau
energi dasar individu yang dibawa sejak lahir untuk memperoleh kesenangan
(naluri). Ego merupakan penengah konflik antara lingkungan dan dorongan
identitas dimana ego berperan mengatur keinginan serta membuat keputusan.
superego atau suara hati merupakan pengaturan, pengendalian serta
pencegahan tindakan yang terbentuk dari moral dan sistem etik sosial yang
berlaku. (Berman et all, 2016.: Schultz, D.P & Schultz, S.E (2015)
Teori Freud menjelaskan bahwa motivasi alam bawah sadar seseorang
berpengaruh terhadap kehidupan individu tersebut di masa mendatang. Tujuan
teori ini adalah timbulnya keseimbangan antara perkembangan keinginan
pribadi dan tekanan sosial. Pada tahap adolencence individu diharapkan dapat
beradaptasi terhadap aturan sosial dan memiliki hubungan sosial yang baik
terhadap individu lainnya. (Ball et all, 2012). Apabila terdapat konflik yang
tidak terselesaikan dan ada kebutuhan yang tidak terpenuhi maka akan
menimbulkan kondisi yang dinamakan fiksasi. (Berman, et all, 2016)
Remaja atau Adolencence berada direntang usia antara 12- 18 tahun
dimana pada tahapan ini individu sudah matang secara kognitif. Masa yang
akan dilewati merupakan suatu periode dalam pencarian identitas dimana peran
teman sebaya (peer) sangat mempengaruhi pembentukkan karakter individu
tersebut. Pada tahap ini anak akan mengalami ketertarikan seksual dengan
individu diluar lingkungan keluarganya. Apabila tahap ini dilalui dengan baik
atau konflik terselesaikan maka pada saat dewasa, anak akan mendapatkan
kematangan hubungan seksual pada saat dewasa. (Berman et all, 2016;Schultz,
D.P & Schultz, S.E (2015)
Adanya desakan pemenuhan kebutuhan dan retriksi dari sosial dan
lingkungan mengkondisikan individu menerapkan suatu strategi psikologis
dalam menghadapi kenyataan yang disebut dengan mekanisme pertahanan (
defense mechanisms atau adaptive mechanism). Hal ini timbul akibat dorongan
id dan kecemasan yang timbul akibat adanya konflik yang didasarkan pada
retriksi lingkungan dan etik sosial .( Berman et all, 2016)
Mekanisme pertahanan yang biasa digunakan anak secara umum
menurut Ball et all (2012) adalah :
1. Regresi
Regresi merupakan kondisi dimana seorang anak kembali ke tingkah
laku awalnya. Contoh : seorang anak mengompol ketika sedang dirawat di
rumah sakit padahal sebelumnya sudah dilatih toilet training.
2. Represi
Represi merupakan kondisi dimana secara tidak sadar seorang anak
melupakan situasi yang dianggapnya tidak menyenangkan. Contoh : ketika
seorang anak mengalami kekerasan seksual (child abuse), anak tersebut
tidak mengingat episode kejadian saat mengalami kekerasan seksual.

3. Rasional
Rasional adalah kondisi dimana seorang anak berupaya agar hal yang
tidak dapat diterima menjadi dapat diterima (pembenaran). Contoh : ketika
seorang anak ditanya kenapa memukul temannya, dia akan menjelaskan
bahwa temannya merebut mainannya.
4. Fantasi
Fantasi merupakan kondisi yang datang dari daya pikir sang anak
untuk membantunya berdamai (deal) dengan kondisinya pada saat ini.
Contoh : seorang anak yang tidak berdaya dan terbaring lemah di rumah
sakit berkhayal bahwa dirinya adalah seorang Superman.

B. Masalah Perkembangan yang Umum pada Remaja


Remaja mengalami perubahan yang besar dalam perkembangan
emosional dan sosial saat mereka dalam proses transisi untuk bertransformasi
ke usia dewasa. Beberapa area yang dipengaruhi dalam hal ini meliputi pola
hubungan individu remaja dengan orangtua, konsep diri dan citra tubuh,
pengaruh teman sebaya serta pandangan individu remaja terhadap seksualitas.
Kompleksnya perubahan ini tentunya akan menimbulkan beberapa masalah
perkembangan termasuk diantaranya kekerasan, bunuh diri, pembunuhan dan
penggunaan zat terlarang. (Kyle, T & Carman, S, 2014)

1. Kekerasan dan Pembunuhan


Kekerasaan merupakan ancaman atau kejadian aktual yang
dilakukan oleh seorang individu dan dapat menimbulkan cedera fisik ,
psikologis maupun kematian. (Centers for Disease Control dan Prevention,
2010 dalam Kyle, T & Carman, S, 2014). Faktor yang mempengaruhi
kekerasan pada remaja diantaranya adalah kondisi permukiman padat, status
sosioekoomi rendah, supervisi orangtua yang terbatas, penggunaan obat
terlarang dan alkohol serta tekanan dari peer. (Kyle, T & Carman, S, 2014)

2. Bunuh Diri
Faktor risiko yang menyebabkan bunuh diri pada remaja diantaranya
adalah depresi, adanya riwayat upaya bunuh diri sebelumnya maupun
riwayat dari keluarga, performa sekolah yang buruk, disorganisasi keluarga,
penyalahgunaan zat serta tidak memiliki teman dekat. (Kyle, T & Carman,
S, 2014)
3. Penggunaan Zat Terlarang dan Alkohol
Seringkali penggunaan zat terlarang dan alkohol ini merupakan
pengaruh yang datang dari teman sebaya. Kurangnya kontrol dari orangtua
baik karena dilandasi pendidikan orangtua yang rendah, broken home
ataupun faktor lainnya cenderung menjadi faktor risiko seorang remaja
menggunakan zat ini. Tentunya hal ini tidak dapat berdiri sendiri seringkali
pemicunya multifaktor dan bisa dari individu remaja itu sendiri. Misalnya
adanya peningkatan stresor kehidupan seperti gagal di sekolah ataupun
kematian orang dekat. (Kyle, T & Carman, S, 2014)
4. Merokok
Remaja mulai merokok karena berbagai faktor, diantaranya meniru
perilaku orang dewasa, tekanan dari teman sebaya, dan meniru sifat orang
terkenal yang biasanya merokok. Remaja yang kemungkinan merokonya
rendah adalah remaja yang keluarga dan teman-temannya tidak merokok
serta yang tertarik pada kegiatan akademik ataupun olahraga yang
memerlukan performa dan stamina yang tinggi. (Wong, 2008).

Pengkajian Keperawatan Pada Remaja Ambigous Genetalia Beserta


Masalah Prioritasnya

Ambigous genitalia merupakan kelainan perkembangan sex yang ditandai


oleh adanya organ genitalia yang tidak jelas antara laki-laki dan perempuan dan
mempunyai gambaran kedua jenis kelamin. Pada kasus ambigous genetalia saat
remaja ketika masa puber akan mengalami perkembangan pada tubuh dan alat
genital anak tersebut ke arah jenis kelamin yang semestinya, muncul sifat, sikap,
atau perilaku yang cenderung tidak sesuai dengan jenis kelamin yang telah
ditetapkan baginya. Pada anak perempuan mungkin tidak tumbuh payudara dan
tidak menstruasi, dan lain sebagainya. Menurut wong (2009) pendekatan
sistematik diperlukan untuk memberikan pedoman umum dalam mengkaji setiap
daerah tubuh untuk meminimalkan adanya bagian yang terlewat dalam
pemeriksaan.

Beberapa tujuan pengunaan usia perkembangan anak dan kronologis


sebagai kriteria utama untuk mengkaji adalah: Meminimalkan stress dan
kecemasan yang berhubungan dengan pengkajian pada berbagai bagian tubuh,
membantu hubungan saling percaya antara perawat - pasien dan orang tua,
memungkinkan persiapan anak yang maksimum, menjaga keamanan yang sangat
penting dalam hubungan orang tua anak, terutama dengan anak yang masih
kecil dan memaksimalkan keakuratan dan reliabilitas hasil pengkajian (Wong,
2009)

Sebelum kita melakukan pengkajian kepada remaja, sebagai perawat kita


harus tahu tugas dan perkembangan remaja yaitu remaja dapat menerima keadaan
fisik dan mengunakan tubuhnya secara efektif, mencapai kemandirian emosional
dari orang tua dan orang dewasa lain, mencapai hubungan dan pergaulan dengan
teman sebaya baik laki-laki ataupun perempuan dan dapat menjalankan peran
maskulin dan feminim. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh remaja adalah
berkaitan dengan cita tubuh, identitas diri, kemandirian, seksualitas, peran sosial
dan peran seksual yang menimbulkan prilaku adaptif dan maladaptif
(Muhith, 2015).

Pada usia remaja biasanya lebih senang untuk diperiksa sendiri tanpa
ditemani orang tua seperti pada saat pemeriksaan genetalia (Wong, 2009).
Pendekatan spesifik sesuai usia untuk pemeriksaan fisik remaja agar anak merasa
nyaman dan aman saat dilakukan pemeriksaan fisik yaitu: remaja di tawarkan
pilihan untuk kehadiran orang tua. Ijinkan remaja untuk membuka pakaian dalam
privasi, berikan gaun pemerikaan, buka hanya daerah yang akan diperiksa,
hormati kebutuhan untuk privasi, jelaskan temuan selama privasi, pemeriksaan
genetalia bisa dilakukan terakhir setelah pemeriksaan yang lain selesai.

Pengkajian pada remaja

1. Mengidentifikasi informasi seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, suku ,


agama, jenis kelamin dan tanggal wawancara
2. Keluhan utama
Alasan spesifik anak dan orang tua datang kerumah sakit untuk mencari
bantuan profesional kesehatan Contoh: apa yang menjadi keluhan utama?
3. Riwayat penyakit sekarang
Untuk mendapatkan semua rincian yang berhubungan dengan keluhan utama.
4. Riwayat penyakit dahulu
Untuk memperoleh profil penyakit anak, cedera atau pembedahan
sebelumnya.
Riwayat kelahiran (riwayat kehamilan, persalinan dan perinatal)
ditanyakan apakah ada kejadian penyulit yang dialami ibu waktu
menjalani kehamilan, apakah ada pemakaian obat-obatan dan jamu selama
kehamilan, apakah ada riwayat ibu mengalami sakit sewaktu hamil
Alergi (ditanyakan apakah remaja mempunyai alergi makanan
ataupunobat-obatan)
Imunisasi ( apakah pasien di imunisasi sebelumnya atau tidak)
Pengobatan terbaru. (contoh telusuri obat yg dikonsumsi saat ini)
Pertumbuhan dan perkembangan (adakah riwayat gagal tumbuh dan
pubertas seperti apakah remaja sudah mengalami menstruasi)
Kebiasaan (seperti kebiasaan mengigit kuku jika merasa gugup atau kebia
saan minum kopi, merokok)
5. Riwayat pengobatan keluarga
Untuk mengidentifikasi adakah faktor genitika atau penyakit yang
mempunyai kecendrungan terjadi dalam keluarga.
6. Riwayat psikososial
Untuk memperoleh informasi tentang konsep diri anak ( bagaimana anak
berinteraksi dengan keluarga, teman sebaya dan masyarakat).
7. Riwayat keluarga
Untuk mengembangkan pemahaman tentang anak sebagai individu dan
sebagai anggota keluarga serta komunitas.
8. Pengkajian nutrisi
Untuk memperoleh informasi yang adekuat tentang asupan dan kebutuhan
nutrisi anak.
9. Pengkajian budaya dan agama
Menanyakan apakah kepercayaan mempengaruhi persepsi keluarga tentang
penyakit dan pengobatannya
10. Tinjauan sistem (Head to toe)
Integumen (warna kulit, suhu, kelembaban dan turgor)
Kepala (bentuk dan simetris kepala)
Mata : (konjungtiva anemis atau tidak, sklera)
Telinga : (permukaan kulit disekitar telinga untuk mengetahui adanya lubang
kecil, tonjolan tambahan kulit dan sinus dan kaji higine telinga)
Hidung (lokasi hidung, adanya deviasi pada salah satu sisi, higiene hidung)
Mulut dan Tengorokan (membran mukosa, mengetahui jumlah gigi,
kebersihan mulut, mengetahui adanya pembesara dan kemerahan pada tonsil)
Dada (mengetahui bentuk ukuran, kesimetrisan dan perkembangan payudara)
Respirasi (pergerakan napas, kecepatan, irama dan kedalaman pernapasan)
Kardiovaskular ( denyut nadi, distensi vena leher, edema,sianosis dan tekanan
darah)
Gastrointestinal (inspeksi kontur abdomen, observasi pergerakan abdomen,
periksa abnormalitas dan kebersihan umbilikus)
Neurologik (pengkajian prilaku, pemeriksaan sensori dan fungsi motorik)
Endokrin ( adakah keringat berlebihan, adakah tanda-tanda pubertas awal)
Genetalia

Pada kasus remaja 12 tahun menderita ambigous genetalia. Saat ini


status anak dinyatakan sebagai perempuan namun anak lebih nyaman
berpenampilan dan berprilaku sebagai laki-laki. Pemeriksaan fisik perlu
dilakukan dari inspeksi maupun palpasi. Palpasi dari pangkal paha dan scrotum
atau lipatan labia untukmenentukan adanya gonand, alat kelamin luar juga
diperiksa.

Pemeriksaan fisik menurut ikatan dokter anak indonesia tahun 2011 :


1. Catat derajat genetalia ambigous dengan skala prader 0-5 :
Prader 0 : Genetalia perempuan normal
Prader 1 : Phallus membesar
Prader 2 : Phallus membesar dengan lubang uretra dan vagina terpisah
secara nyata
Prader 3 : Phallus membesar dengan satu lobang sinus urogenital
Prader 4 : Phallus membesar dengan hipospadia
Prader 5 : Genetalia laki-laki normal

Gambar 1. Skala Prader untuk menentukan derajat genitalia ambigus

2. Periksa sinus Urogenetalis, lubang vagina dengan teliti, hymen dan


warnanya
3. Ada tidaknya gonad, letaknya, volumenya, konsistensinya
4. Periksa lubang uretra, letaknya
5. Adanya dismorfik wajah atau gangguan perkembangan, hiperpigmentasi
6. Tekanan darah

Keadaan-keadaan berikut ini dapat mengarah kepada kondisi Ambigous genetalia


(IDAI, 2011) :
1. Ambigous genetalia yang khas (misalnya ekstrofi kloaka)
2. Terlihat seperti genetalia perempuan dengan pembesaran klitoris, fusi
labia posterior atau terdapat massa di inguinal/labia yang berisi gonad.
3. Atau Terlihat seperti genetalia laki-laki dengan endescended testes (UDT)
bilateral, micropenis,hipospadia perineal atau hipospadia ringan dengan
UDT atau scrotum yang terbelah
4. Riwayat keluarga dengan disorder of sex development
5. Riwayat pemeriksaan kromosom seks prenatalyang tidak sesuai dengan
klinis genetalia saat lahir
11. Pemeriksaan penunjang (IDAI, 2011) :
Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan kromosom
Pemeriksaan pecitraan untuk visualisasi genetalia interna dapat berupa
genitogram atau ultrasonografi (USG) pelvis
Bila ditemukan gangguan pubertas pemeriksaan aksis hipotalamus-
hipofisis-gonad yaitu LH, FSH, testoteron atau estradiol perlu diperiksakan
Ct scan atau MRI pelvis
Elektrolit serum dan urin lengkap
12. Bedah (IDAI, 2011) :
Untuk diagnosis (laparaskopi/laparatomi eksplorasi untuk melihat struktur
genetalia interna, juga untuk koreksi atau pengangkatan testis)

Analisa data

No Data Masala keperawatan

1. - Anak remaja usia 12 tahun diagnosa - Gangguan citra tubuh


medis ambigous genetalia
- Status dinyatakan untuk sementara - Gangguan peran
sebagai wanita
- Remaja lebih nyaman berpenampilan
dan berprilaku sebagai laki-laki
Intervensi Keperawatan pada Remaja dengan Ambigous Genetalia

Ambigous genetalia adalah penyakit yang terkait dengan abnormalitas


kromosom. Abnormalitas kromosom seks yang sering dijumpai antara lain
sindrom turner dan sindrom klinefelter. Pada kasus, disebutkan bahwa seorang
remaja 12 tahun menjalani pemeriksaan diagnostik terkait kondisi ambigous
genetalia. Lalu saat ini status anak dinyatakan perempuan walaupun anak lebih
nyaman berpenampilan dan berperilaku sebagai laki-laki. Seorang anak bisa
dikatakan menderita sindrom turner atau sindrom klinefelter ketika dia sudah
menjalani pemeriksaan diagnostik dan didapatkan hasil kromosomnya. Menurut
Wong, et all (2002), jika hasil test kromosom 45X atau 45X0, maka dapat
dikatakan bahwa anak menderita sindrom turner dan berfenotipe wanita.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa pada kasus anak menderita sindrom turner
karena anak dinyatakan perempuan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Erikson (1963) dalam Wong, et al


(2002), krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya
identitas. Pada remaja terjadi krisis identitas vs difusi identitas. Menurut Stuart
(2016), identitas adalah kesadaran diri yang didasarkan pada observasi yang
penilaian diri terkait dengan suatu prestasi, aktivitas, karakteristik, atau peran.
Pencapaian identitas yang penting adalah masalah seksualitas sebagai laki-laki
atau perempuan dan apa yang menyiratkan. Pada kasus, anak dinyatakan
perempuan walaupun anak lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku sebagai
laki-laki, sehingga dapat dikatakan bahwa anak mengalami masalah dalam
pembentukan identitas diri.

Menurut Wong (2002), asuhan keperawatan pada anak yang mengalami


sindrom turner ataupun sindrom klinefelter adalah dukungan. Perawat dapat
berperan sebagai edukator dengan menjelaskan kepada anak dan keluarganya
mengenai pemeriksaan dan terapi yang akan dilakukan. Selain itu, perawat dapat
memberikan dukungan dan penguatan, konseling psikologis, dan modifikasi
pendidikan seks. Karena sindrom tersebut dapat membuat anak tidak mampu
bereproduksi.
Menurut Keliat; Helena; & Farida (2007), asuhan keperawatan pada anak
remaja (12-18 tahun) dengan perkembangan psikososial adalah pembentukan
identitas diri vs bingung peran. Diagnosa keperawatan yang bisa muncul antara
lain Potensial (normal) : potensial pembentukan identitas diri dan risiko
(penyimpangan) : resiko bingung peran. Akan menjadi masalah ketika anak
remaja mengalami penyimpangan perkembangan : bingung peran dengan ciri-ciri
perilaku tidak menemukan ciri khas kekuatan dan kelemahan dirinya, merasa
bingung, bimbang, tidak punya rencana untuk masa depan, tidak mampu
berinteraksi dengan lingkungan, memiliki perilaku antisosial, tidak menyukai
dirinya, sulit mengambil keputusan, tidak mempunyai minat, dan tidak mandiri.

Tindakan keperawatan perkembangan psikososial remaja menurut Keliat;


Helena; & Farida (2007) antara lain agar remaja mampu menyebutkan
karakteristik perkembangan psikososial yang normal dan menyimpang, remaja
mampu menjelaskan cara mencapai perkembangan psikososial yang normal, dan
remaja mampu melalukan tindakan untuk mencapai perkembangan psikososial
yang normal. Adapun intervensi keperawatan untuk perkembangan psikosial
remaja antara lain :

Tugas Tindakan Keperawatan


Perkembangan
Perkembangan 1. Diskusikan perkembangan psikososial remaja yang normal dan
normal : menyimpang
Pembentukan 2. Diskusikan cara mencapai perkembangan psikososial normal :
identitas diri Anjurkan remaja berinteraksi dengan orang lain yang
membuatnya nyaman mencurahkan perasaan, perahtian, dan
kekhawatiran.
Anjurkan remaja mengikuti organisasi positif
Anjurkan remaja melakukan kegiatan dirumah sesuai
perannya
3. Bimbing dan motivasi remaja dalam membuat rencana kegiatan
dan melaksanakan rencana yang dibuatnya
Penyimpangan 1. Diskusikan aspek positif kelebihan yang dimiliki remaja
perkembangan 2. Bantu mengidentifikasi berbagai peran yang dapat ditampilkan
: bingung remaja dalam kehidupannya
peran 3. Diskusikan penampilan peran yang terbaik untuk remaja
4. Bantu remaja mengidentifikasi perannya di keluarga
(Sumber : Keliat; Helena; & Farida, 2007)

Selain intervensi keperawatan diatas, menurut Keliat; Helena; & Farida


(2007), terdapat juga intervensi untuk keluarga yang bertujuan agar keluarga
mampu memahami perilaku yang menggambarkan perkembangan remaja normal
dan menyimpang, keluarga mampu memahami cara menstimulasi perkembangan
remaja, keluarga mampu mendemonstrasikan tindakan untuk menstimulasi
perkembangan remaja, dan keluarga mampu merencanakan tindakan untuk
mengembangkan kemampuan psikososial remaja.

Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan remaja menurut Keliat; Helena;


& Farida (2007) antara lain :

1. Jelaskan ciri perkembangan remaja yang normal


2. Jelaskan cara yang dapat dilakukan keluarga untuk memfasilitasi
perkembangan remaja normal : fasilitasi remaja berinteraksi dengan kelompok
sebaya, anjurkan remaja untuk bergaul dengan orang lain yang membuatnya
nyaman mencurahkan perasaan, perhatian, dan kekhawatiran, anjurkan remaja
mengikuti kegiatan positif, berperan sebagai teman curhat remaja, memberikan
contoh yang baik pada remaja dalam interaksi sosial, dan beri lingkungan nyaman
pada remaja dalam menjalani aktivitas kelompok.
3. Diskusikan dan demonstrasikan tindakan untuk membantu remaja memperoleh
identitas diri
Diskusikan rencana tindakan yang akan dilakukan keluarga untuk
memfasilitasi remaja memperoleh identitas diri

Peran Orang Tua pada Anak Remaja dengan Ambiguos Genetalia

Seperti yang diketahui bahwa perubahan kesehatan yang diderita oleh


suatu anggota keluarga akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Keluarga
dengan anak yang sakit akan mempengaruhi orang tua, dan mungkin juga anggota
keluarga yang lain seperti kakek dan nenek dari anak tersebut. Sehingga penting
bagi perawat untuk mengetahui peran dari keluarga dalam mendukung perawatan
dan pengobatan anak. Seperti yang dikemukakan oleh Peate dan Whiting (2006)
bahwa dalam memberikan perawatan kesehatan yang profesional adalah penting
untuk memperhatikan dari struktur keluarga, karena latarbelakang dari keluarga
itu sendiri dapat mempengaruhi perawatan yang diperlukan.
Menurut Peate dan Whiting (2006), dalam memberikan perawatan
kesehatan perlu memahami respon orang tua yang mungkin bervariasi terhadap
anak yang sakit, baik respon fisik maupun psikis sehingga dapat dibuat
perencanaan perawatan yang tepat. Respon tersebut mungkin dipengaruhi oleh
tingkat keseriusan penyakit, pengalaman sebelumnya terhadap penyakit, prosedur
medis termasuk diagnosis dan perawatan anak, dukungan yang ada (keluarga,
teman-teman), koping individu, stres tambahan dalam keluarga, budaya dan
agama yang dipercayai, dan pola komunikasi dalam keluarga tersebut (Peate dan
Whiting, 2006). Karena itu Orang tua merupakan partner perawat dalam
memberikan perawatan terhadap anak (Peate dan Whiting, 2006).
Terkait dengan kasus pemicu orang tua/keluarga dengan anak remaja
ambiguos genetalalia diatas, sangat penting untuk melibatkan orang tua dalam
perencanaan keperawatan terhadap anak. Anak remaja pada usia ini sedang
mencari identitas diri yang merupakan tugas perkembangan utama (Potts &
Mandleco, 2012). Menurut Potts & Mandleco (2012) kekhawatiran dan
kecemasan remaja sering tertutup oleh penampilan pengalaman, kematangan yang
sering disebut dengan kesombongan remaja, dimana sering percaya diri dan
kekhawatiran/ketidaknyamanannya sering bercampur sedemikian hingga
pengalaman hospitalisasi membingungkan dan sulit.
Remaja membutuhkan komunikasi, mengerti, dan dimengerti oleh orang
dewasa dan teman-temannya, karena itu penting untuk bertemu dan berbicara
pengalaman dan keputusannya sehubungan sakit dan hospitalisasi disamping itu
pada masa ini harga diri dan kontrol diri sedang berkembang (Potts & Mandleco,
2012). Peran perawat dan orang tua caring remaja ini adalah mendorong
komunikasi dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan; rencanakan waktu
ketika mengajarkan dan berdiskusi agar tidak terinterupsi; gunakan bahasa yang
benar dan sesuai dalam menjelaskan istilah asing; mendorong untuk
merefleksikan dan mengekspresikan perasaan kreatif (puisi, menggambar); jangan
menganggap tidak ada masalah/teratasi meskipun remaja kelihatan acuh tak acuh
atau tidak perduli; dan berikanlah bahan untuk dibaca sebelum berdiskusi (Potts
& Mandleco, 2012).
Meskipun sebulum masa hospitalisasi sudah ada informed consent
(persetujuan tindakan), sebelum pengkajian genetalia anak remaja, perawat harus
mempertimbangkan ras, budaya dan agama keluarga, untuk memastikan masalah
sensitifitas dan menghormati remaja dan keluarganya (Chiocca, 2011). Sebelum
melakukan pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis jenis kelamin ambiguos
sebelumnya jelaskan pada keluarga bahwa setelah dignostik dibuat, keluarga
harus membuat intervensi yang tepat, karena konsekuensi dari diagnosis tersebut
dapat mengubah kehidupan dan prognosis umum (Reeder, Martin, Griffin,
2003/2011).
Peran orang tua dalam hal ini adalah menyesuaikan dengan tujuan utama
tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja yaitu mempersiapkan remaja
untuk menjadi seorang dewasa muda (Friedman, Bowder, Jones, 2003/2010),
karena memperhatikan fungsi dari keluarga itu sendiri yaitu orang tua
memberikan lingkungan yang kodusif bagi pertumbuhan fisik dan kesehatan serta
menciptkan atmospher yang mempengaruhi pertumbuhan kognisi dan psikososial
anak (Kozier, Erb, Berman dan Snyder, 2004/2011). Sebab itu libatkan juga anak
dalam pengambilan keputusan, disamping orang tua, kakek/nenek dan
pertimbangan sosial budaya, karena menurut penilitian Jurayyan (2010) yang
dipubikasikan dalam Journal of Taibah University Medical Sciences 2010 bahwa
dari dua puluh lima (47,2%) dari perempuan genetik yang salah ditugaskan
sebagai pria karena virilisasi berat sementara hanya dua (7,1%) dari laki-laki
genetik yang salah ditugaskan sebagai perempuan. Meskipun diagnosis neonatal
dini memfasilitasi manajemen yang tepat, faktor sosial budaya seperti prasangka
mengenai jenis kelamin laki-laki di masyarakat dan pengaruh kuat dari kakek-
nenek merupakan kendala utama manajemen. Semua laki-laki genetik yang salah
ditugaskan sebagai perempuan menerima penugasan kembali, dan empat (16%)
dari 25 perempuan genetik yang salah ditugaskan sebagai laki-laki menolak
penugasan.
Peran orang tua yang lain adalah memberikan support/dorongan bagi
perkembangan fisik dan psikososial sesuai tahap perkembangan remaja. Pada
tahap perkembangan (pubertas) ini pada khususnya terjadi perkembangan seksual,
dimana terjadi perkembangan seksual primer maupun sekunder (Kozier, Erb,
Berman dan Snyder, 2004/2011), pada anak dengan ambiguos genetalia mungkin
mengalami gangguan perkembangan seksual primer ataupun sekunder. Menurut
teori psikososial erikson (1963) dalam Kozier, Erb, Berman dan Snyder,
(2004/2011) tugas psikososial remaja adalah pembentukan identitas diri,
kegagalan pada tugas tersebut, remaja akan mengalami kebingungan peran,
dimana pada tahap ini remaja dengan ambiguos genetalia mungkin akan
mengalami kebingungan peran. Berdasarkan faktor kemungkinan diatas pada
tahap ini peran perawat (petugas kesehatan lainnya) dan orang tua sangat
dibutuhkan untuk memastikan semua tahap perkembangan pada remaja
berkembang sesuai tahapan perkembangan baik fisik maupun psikososialnya baik
sebelum maupun sesudah diagnosis genetik ditegakan.