Anda di halaman 1dari 5

ORDE BARU

Orde Baru adalah suatu tatanan kehidupan berangsa dan bernegara yang diletakan pada
pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen
Lahirnya Orde Baru berhubungan erat dengan pasca terjadinya peristiwa G 30 S / PKI, meskipun
keterlibatan PKI kian terunkap dalam peristiwa G 30 S / PKI dan demonstrasi-demonstrasi rakyat
yang menuntut pebubaran PKI semakin memuncak, Presiden Sukarno masih belum juga
mengadakan penyelesaian potik seperti yang telah dijanjikan. Pada tanggal 25 Oktober 1965
elemen-elemen masyarakat yang dipelopori oleh mahasiswa dalam menyikapi hal
tersebut, membentuk kesatuan-kesatuan aksi. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ( KAMI ),
Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia ( KAPI ), Kesatuan Aksi Guru Indonesia ( KAGI ), Kesatuan
Aksi Buruh Indonesia ( KABI ), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia ( KAWI ), Kesatuan Aksi
Sarjana Indonesia ( KASI ), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ( KAPPI ), selanjutnya
kesatuan-kesatuan aksi tersebut menyatukan diri dalam Front Pancasila.
Janji-janji presiden untuk mengadakan penyelesaian politik terhadap G 30 S / PKI yang tak
kunjung datang semakin mendorong aksi demonstrasi semakin besar utuk menuntut pembubaran
PKI . Situasi yang menjurus kea rah konflik politik tersebut semakin bertambah dengan
munculnya rasa tidak puas rakyat terhadap keadaan ekonomi negara. Dengan dipelopori oleh
KAMI dan kesatuan-kesatuan aksi lainnya yang bergabung dalam Front Pancasila dalam
demonstrasinya pada tanggal 10 Januari 1966 mereka menyampaikan tututan yang dikenal dengan
Tritura yang berisi ;
1. pembubaran PKI
2. pembersihan Kabinet dari unsure-unsur PKI
3. penurunan harga / perbaikan ekonomi
Tritura ternyata tidak mendapat tanggapan semestinya dari presiden, sebaliknya presiden
melemparkan tuduhan bahwa demostrasi-demonstrasi tersebut didalangi dan dibiaya oleh CIA
, tuduhan tersebut tidak dapat diterima oleh para demonstran. Demonstrasi yang disertai aksi
corat-coret berlangsung semakin kerasmelanda di jalan-jalan yang kemudian mncul istilah DPR
Jalanan
Pada tanggal 15 Januari 1966 Presiden memimpin sidang Kabinet Dwikora, dalam sidang
ini presiden mengundang tokoh-tokoh KAMI, kembali presidenmenegaskan janjinya untuk
mengadakan penyelesaian politik terhadap peristiwa G 30 S / PKi dan menawarkan jabatan
menteri bagi merekan yang sanggup menurunkan harga. Pada kesempatan ini Waperdam I Dr.
Subandrio mengusulkan pembentukan Barisan Sukarno sebagai tantangan bagi mereka yang
berani mendongkel Presiden Sukarno.
Tanggal 21 Pebruari 1966 presiden melakukan resufle kabinet Dwikora, kabinet hasil
resufle ini oleh presiden dinakaman Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan . Ternyata
perubahan cabinet ini tidak memuaskan rakyat karena tokoh-tokoh yang diduga terlibat G 30 S /
PKI masih bercokol dalam kabinet, sebaliknya rakyat menyebut cabinet hasil resufle dengan nama
Kabinet Seratus Menteri.. Pada tanggal 24 Pebruari 1966 presiden melantik kabinet hasil
resufle, masa aksi berusaha untuk menggagalkan upacara pelattikan tersebut. Kesatuan aksi
memblokir jalan menuju Istana Negara. Dalam aksi ini bentrokan antara para demostran dengan
aparat keamanan ( Pasukan Cakrabirawa ) tak terhindarkan, dan dalam bentrokan ini gugurlah
mahasiswa Universitas Indonesia yang bernama Arief Rachman Hakim

SUPERSEMAR
Pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Sukarno mengeluarkan Surat Perintah kepada Letjen
Suharto, Menteri / Panglima Angkatan Darat. Isi Supersemar pada pokonya adalah Perintah
kepada Letjen Suharto untuk atas nama Presiden/Pangti ABRI mengambil tindakan yang dianggap
perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan pemerintahan .
Pemberiansurat perintah tersebut merupakan pemberian kepercayaan dan sekaligus memberikan
wewenang kepada Letjen Suharto untuk mengatasi keadaan yang waktu itu serba tidak menentu.
Berlandaskan pada Supersemar tersebut, Letjen Suharto pengemban Supersemar telah
mengambil langkah-langkah yang penting dan memberi arah baru bagi perjalanan hidup bangsa
dan Negara. Mulai tanggal 11 Maret 1966 inilah dimulai penataan kembali kehidupan rakyat,
bangsa dan Negara kita yang diletakkan pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni
dan konsekwen. Dimulailah babak baru dalam perjalanan sejarah dan perjuangan
bangsa Indonesia, yaitu masa Orde Baru.
Kejadian-kejadian yang mendahului keluarnya SUPERSEMAR;
1. Pada tanggal 11 Maret 1966 di Istana Nagara diadakan sidang Kabinet Dwikora Yang
Disempurnakan untuk membahasa keadaan Negara. Dalam sidang tersebut semua menteri
hadir kecuali Menpangad Letjen Suharto tidak hadir karena sakit. Presiden langsung
memimpin sidang.
2. Ditengah-tengah persidangan tersebut presiden mendapat laporan dari Ajudan Presiden/
Komandan Pasukan Pengawal Cakrabirawa ( Brigjen Sabur ) bahwa disekitar istana ada
pasukan yang tak dikenal . Menerima laporan ini presiden kemudian meyerahkan
pimpinan sidang kepada Waperdam II, Dr. Leimena. Dan presiden Sukarno segera menuju
ke InstanaBogor dengan menggunakan Helikopter yang disiapkan di Isatana, kepergian
presiden ke Istana Bogor didampingi oleh Waperdam I, Dr. Subandrio, Waperdam III,
Chaerul Saleh dan Ajudan Presiden/ Komandan Pasukan Pengawal Cakrabira, Brigjen
Sabur.
3. Setelah sidang ditutup oleh Waperdam II, Dr. Leimena, tiga orang perwira Angkatan Darat
yang menjabat sebagai meteri dan hadir pada sidang tersebut yaitu ; Mayjen Basuki
Rachmat menteri Veteran, Brigjen m. Yusuf menteri Perindustrian Dasar, dan Brigjen
Amirmachmud Panglima Kodam Jaya, segera menghadap Letjen Suharto.
4. Ketiga Pati TNI-AD tersebut selain melaporkan keadaan sidang kabinet kepada
Menpangad juga minta ijin untuk menghadap Presiden di Bogor untuk menjelaskan situasi
yang sebenarnya, bahwa tidak ada pasukan yang liar ( pasukan tak dikenal di sikitar istana
) dan bahwa ABRI khususnya TNI-AD tetap setia dan taat kepada Presiden.
5. Menpangad Letjen Suharto mengijinkan ketiganya untuk menghadap Presiden
di Bogor disertai pesan untuk disampaikan kepada Presiden, bahwa : Letjen Suharto
sanggup mengatasi keadaan apabila Bung Karno mempercayakan hal itu kepadanya.
6. Di Bogor ketiga perwira tersebut menghadap presiden yang didampingi oleh Dr.
Subandrio, Chaerul Saleh, dan Brigjen M. Sabur. Setelah mengadakan pembicaraan yang
cukup mendalam akhirnya presiden Sukarno memutuskan untuk
memberikansurat perintah kepada Letjen Suharto Menpangad. Dan selanjutnya presiden
memerintahkan kepada yang hadir untuk merumuskan surat tersebut.
7. Surat perintah tersebut kemudian diserahkan oleh ketiga Pati TNI AD tersebut kepada
Letjen Suharto Menpangad

TINDAKAN PENGEMBAN SUPERSEMAR


Setelah menerima Supersemar, Letjen Suharto selanjutnya melakukan tindakan-tindakan awal
antara lain sebagai berikut :
a. 12 Maret 1966, PKI dibubarkan
b. 18 Maret 1966, mengamankan menteri-menteri yang terlibat G 30 S / PKI
c. Menginstruksikan kepada perguruan-perguruan tinggi yang ditutup untuk memulai kuliah
lagi seperti biasa
Rakyat menyambut baik adanya Supersemar kepada Letjen Suharto, bahkan KAMI dalam
nota politiknya yang disampaikan di depan sidang DPR-GR meminta kepada MPRS untuk
memberikan tugas kepada Letjen Suharto seperti yang tercantum dalam Supersemar. Kedudukan
Letjen Suharto setelah mendapat Supersemar semakin kuat dan sebaliknya kedudukan Presiden
Sukarno semakin menurun.
Pada tanggal 20 Juni s.d 5 Juli 1966 diadakan Sidang Umum MPRS ke IV, sidang ini
merupakan langkah konstitusional untuk mengoreksi pemerintahan Orde Lama. Sidang Umum
MPRS IV menghasilkan beberapa ketetapan MPRS antara lain :
1. Tap MPRS No. IX / MPRS / 1966 tentang Supersemar
2. Tap MPRS No. XI / MPRS / 1966 tentang Pemilu
3. Tap MPRS No. XIII / MPRS / 1966 tentang Kabinet Ampera
4. Tap MPRS No. XXV / MPRS / 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia ,
Pernyataan Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia.
Sebelumnya pada sidang umum MPRS IV ini Presiden Sukarno menyampaikan Pidato
penjelasan tentang Peristiwa G 30 S / PKI pada 22 Juni 1966 yang diberi judul Nawaksara
yang berisi sembilan pokok penjelasan tentang peristiwa G 30 S / PKI, tetapi pidato ini ditolak
oleh peserta sidang, karena tidak memuat secara jelas kebijakan Presiden/ Mandataris MPRS
mengenai peristiwa G 30 S / PKI, oleh karenanya maka MPRS minta kepada Presiden untuk
melengkapi Nawaksara . Pada tanggal 10 Januari 1967 Presiden Sukarno menyampikan
Pelengkap Nawaksara, tetapi kembali Pelengkap Nawaksara juga tidak diterima oleh MPRS.
Penolakan yang kedua atas penjelasan presiden ini menunjukkan bahwa Mandataris MPRS sudah
tidak mendapat kepercayaan dari MPRS.
Atas prakarsa Presiden Sukarno, pada tanggal 22 Pebruari 1967 bertempat di Istana Negara
berlangsung penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Sukarno kepada penemban Tap
MPRS No. IX / MPRS / 1966, Letjen Suharto. Penyerahan Kekuasaan pemerintahan ini
merupakan langkah penting dalam usaha mengatasi situasi konflik yang sedang memuncak.
Penyerahan kekuasaan pemerinthan ini secara konstitusional didasrkan pada Tap MPRS No. XV
/ MPRS / 1966 yang menyatakan bahwa Apabila Presiden berhalangan, maka
pemegang surat Perintah 11 Maret memegang jabatan Presiden
Letjen Suharto pada penjelasannya tanggal 4 Maret 1967 tentang penyerahan kekuasaan
pemerintahan tersebut, bahwa penyerahan kekuasaan tersebut hanya merupakan salah satu usaha
dalam rangka penyelesaian konstitusional untuk mengatasi situasi konflik demi keselamatan
rakyat, Negara dan bangsa, dan pemerintah berpendirian bahwa tetap perlu penyelesaian
konstitusional lewat sidang MPRS.
Dengan memperhatikan perkembangan hal-hal tersebut di atas maka pada tanggal 7 Maret
s.d 12 Maret 1967, MPRS mengadakan Sidang Istimewa. Sidang Istimewa MPRS ini antara lain
menghasilkan Tap. MPRS No. XXXIII / MPRS / 1967 tentangMencabut kekuasaan pemerintahan
Negara dari Presiden Sukarno dan mengangkat Pengemban Tap No. IX / MPRS / 1966 Suharto
sebagai Pejabat Presiden. Selanjutnya pada 27 Maret 1968 Suharto dilantik menjadi Presiden
Republik Indonesia.

TINDAKAN PEMERINTAHAN ORDE BARU


Kebijakan pemerintahan Orde Baru pada dasarnya telah dimulai sejak Letjen Suharto
menerima Surat Perintah dari Presiden Sukarno yaitu tanggal 11 Maret 1966, sejak itu dimulai
penataan kembali tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang diletakan pada pelaksanaan
Pancasila dan UD 1945 secara myrni dan konsekwen. Berdasar dari Supersemar dan kemudian
dengan ketetapan MPRS selanjutnya pemerintah Orde Baru mengambil langkah-langkah
keputusan antara lain sebagai berikut :
1. Membentuk Kabinet Ampera, 25 Juli 1966
Tugas Kabinet Ampera adalah Dwidharma yaitu; mewujudkan stabilitas Politik dan
Stabilitas Ekonomi
Program Kabinet Ampera
a. Memperbaiki perikehidupan terutama bidang sandang dan pangan
b. Melaksanakan Pemilu
c. Melaksanakan politik luar negeri bebas aktif
d. Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuknya
2. Normalisasi Hubungan dengan Malaysia, 11 Agustus 1966, diprakarsai oleh Menlu Adam
Malik dan Menlu Tun Abdul Razak, yang diatur dalam Jakarta Accord
3. Indonesian aktif kembali menjadi anggota PBB, 28 September 1966
4. Indonesia menjadi anggota IGGI ( Inter Governmental Group for Indonesia ), pada pertemuan
di Amsterdam, 23 Pebruari 1967
5. Indonesia akif dalam pembentukan ASEAN, 8 Agustus 1967
6. Pembekuan hubungan diplomatic dengan RRC, 1 Oktober 1967 karena dinilai pemerintah RRC
telahmencampuri urusan dalam negeri Indonesia dengan memberikan bantuan kepada G 30 S
/ PKI
7. Melaksanakan Pembangunan Nasional yang direalisasikan melalui Pembangunan Jangka
Pendek dan Jangka Panjang. Pembangunan Jangka Pendek diwujudkan melalui pelaksanakan
Rencana Pembanguna Lima Tahun ( Repelita ). Untuk memberikan arah dalam mewujudkan
tujuan pembangunan, maka MPR sejak tahun 1973 menyusun GBHN yang dijabar dalam
Repelita
Penyusunan Repelita merupakan bagian dari GBHN dan ditugaskan kepada Kabinet
Pembangunan I yang dibentuk pada 10 Juni 1968. Selanjutnya pada masa pemerintahan Orde
Baru setiap lima tahun disusun Repelita dan dilaksanakan dalam bentuk Pembangunan Lima
Tahun. Setiap pelita mempunyai tujuan mencapai tingkat kesejahteraan
rakyat Indonesia, sasaran dan titik berat pembangunan yang berbeda pada setiap pelita.
Pelaksanaan Pelita dimulai pada 1 April 1969.
Pelaksanaan pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari Trilogi Pembangunan, yaitu
:
a. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
b. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
c. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tidak akan bermakna jika tidak diikuti dengan
pemerataan pembangunan, maka sejak pelita III Pemerintah Orba menetapka delapan jalur
pemerataan
8. Penyederhanaan kehidupan kepartaian dilaksanakan pada tahun 1970, jumlah partai
disederhanakan dengan cara mengadakanpenggabungan partai-partai politik, sebagai berikut :
a. Partai Persatuan Pembangunan merupakan hasil penggabungan dari NU, Partai
Muslimin, Partai Tarbiyah Islamiah ( Perti ), dan PSII
b. Partai Demokrasi Indonesia, penggabungan dari PNI, Parkindo, Partai Katholik,
IPKI, dan Murba
c. Golongan Karya, penggabungan dari kelompok organisasi profesi seperti, buruh,
pemuda, petani, nelayan dll