Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

UNDANG-UNDANG DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Undang-Undang dan
Kebijakan Pembangunan Peternakan yang Diampu Oleh Dr.Ir. Iwan Setiawan, DEA.

Keterkaitan antara PP Nomor 16 Tahun 1977 Tentang Usaha Peternakan dengan


Permentan Nomor 46 Tahun 2015 Tentang Sapi Potong dan Permentan Nomor
100 Tahun 2014 Tentang Sapi Perah

Disusun oleh :

Nama : Fahira Safitri

NPM : 200110150081

Kelas : C

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2017
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penduduk Indonesia saat ini mulai sadar akan kebutuhan gizi dalam makanan
yang dikonsumsi, terutama gizi yang berasal dari hewani seperti susu dan daging. Hal
ini menyebabkan permintaan akan daging dan susu terus meningkat sehingga sektor
peternakan menjadi gencar diperbincangkan. Pangan yang aman, bermutu, bergizi,
beragam, dan tersedia secara cukup dapat meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat. Namun, masih banyak pangan yang belum aman dikonsumsi
sehingga harus dibuat suatu peraturan perundang-undangan sebagai regulasi demi
tercipta keamanan pangan. Dengan adanya peraturan perundang-undangan juga dapat
melindungi peternak dari persaingan serta dapat dijadikan acuan dalam usaha
budidaya ternak. Salah satu peraturan yang mengatur mengenai usaha peternakan
yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 1977 tentang usaha peternakan.
Sebagai mahasiswa peternakan, kita harus mengetahui dan mengamalkan nilai-nilai
yang terkandung dalam Undang-Undang tentang peternakan yang telah dibuat. Hal
inilah yang menyebabkan makalah ini perlu dibuat.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Megetahui PP Nomor 16 Tahun 1977 tentang usaha peternakan
2. Mengetahui keterkaitan antara PP Nomor 16 Tahun 1977 dengan Permentan
Nomor 100 Tahun 2014 tentang sapi perah
3. Mengetahui keterkaitan antara PP Nomor 16 Tahun 1977 dengan Permentan
Nomor 46 Tahun 2015 tentang sapi potong
II

PEMBAHASAN

2.1 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 1977 Tentang Usaha


Peternakan
Dalam rangka mencukupi kebutuhan protein hewan dan kebutuhan-kebutuhan
lain yang berhubungan dengan ternak, maka Pemerintah melakukan usaha-usaha
untuk meningkatkan hasil produksi ternak oleh karena itu Pemerintah perlu
mengadakan pengaturan mengenai usaha peternakan. Sampai saat ini Pemerintah
belum mempunyai peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai
usaha peternakan secara umum untuk seluruh wilayah Negara Republik
lndonesia, yang ada hanya peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah dan khusus mengatur mengenai jenis-jenis ternak tertentu yang sudah
banyak diternakkan oleh masyarakat atau karena sifatnya perlu diatur. Mengingat
hal tersebut diatas, Pemerintah perlu mengatur semua jenis usaha peternakan yang
dapat diusahakan di wilayah Negara Republik Indonesia yang mengarah kepada
pengembangan peternakan sebagai sumber kemakmuran dan sebagai salah satu
penunjang untuk suksesnya pembangunan nasional. Dalam rangka melaksanakan
pembangunan nasional maka peternakan yang merupakan salah satu faktor
penunjang yang penting perlu diselenggarakan dengan tertib dan teratur, sehingga
dapat diperoleh ternak yang baik dan sehat. Oleh karena itu dipandang perlu
mengatur usaha peternakan dengan Peraturan Pemerintah
PP Nomor 16 Tahun 1977 ini terdiri dari 9 BAB dan 17 Pasal. Secara garis
besar, PP ini berisi :
- Izin Usaha Peternakan adalah izin tertulis yang diberikan oleh Menteri atau pejabat
lain yang diberi wewenang olehnya, yang memberikan hak untuk melaksanakan
perusahaan peternakan
- Seluruh wilayah Negara Republik Indonesia terbuka untuk semua jenis usaha di
bidang peternakan; kecuali apabila Menteri menetapkan lain.
- Jenis peternakan dapat digolongkan menjadi peternakan unggas, kambing&domba,
babi, sapi potong&sapi perah, kerbau potong&kerbau perah, serta peternakan kuda
- Setiap perusahaan peternakan wajib memiliki Izin Usaha Peternakan. Izin Usaha
Peternakan dapat diberikan kepada Badan Hukum Indonesia dan Perorangan
Warganegara Indonesia.
- Perusahaan Peternakan wajib mempunyai tenaga ahli, modal, dan peralatan yang
cukup sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri.
- Setiap Izin Usaha Peternakan dikenakan Iuran Izin Usaha Peternakan yang
besarnya serta tatacara pemungutan, penyetoran, dan penggunaannya ditetapkan
lebih lanjut oleh Menteri setelah mengadakan konsultasi dan koordinasi dengan
Menteri Keuangan.
- Izin Usaha Peternakan tidak dapat dipindah tangankan dengan cara dan atau
bentuk apapun. Pemegang Izin Usaha Peternakan wajib memperhatikan dan
melaksanakan segala ketentuan di bidang peternakan, pencegahan, pemberantasan,
dan pengobatan penyakit hewan serta ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
- Izin Usaha Peternakan berakhir karena : Jangka waktu yang diberikan telah
berakhir; Diserahkan kembali oleh pemegang izin kepada yang berwenang sebelum
jangka waktu diberikan berakhir; Dicabut oleh yang berwenang memberikan Izin
Usaha Peternakan, karena pemegang izin yang bersangkutan melakukan suatu
pelanggaran; Perusahaan yang bersangkutan jatuh pailit; Perusahaan yang
bersangkutan menghentikan usahanya.
- Izin Usaha Peternakan dicabut karena : Pemegang Izin tidak melakukan usahanya
secara nyata dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah Izin Usaha Peternakan dikeluarkan;
Pemegang Izin tidak mentaati serta melakukan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku
2.2 Keterkaitan Antara PP Nomor 16 Tahun 1977 dengan Permentan Nomor
100 Tahun 2014

Dalam rangka penyediaan bibit sapi perah berkualitas dibutuhkan


ketersediaan bibit sapi perah yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Bibit
merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam upaya pengembangan sapi
perah. Kemampuan penyediaan atau produksi bibit sapi perah dalam negeri
masih perlu ditingkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Untuk itu
diperlukan partisipasi dan kerjasama antara Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, peternak,dan perusahaan peternakan
dalam upaya meningkatkan populasi dan produktivitas sapi perah dalam
penyediaan dan pemenuhan susu secara nasional.

Saat ini sebagian peternak sapi perah masih berupa peternakan skala kecil
yang tergabung dalam koperasi, sehingga populasinya tidak terstruktur, dan belum
menggunakan sistem budidaya yang terarah. Untuk itu Pemerintah, pemerintah
daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya
berkewajiban membina dan mengawasi usaha pembibitan sapi perah melalui proses
manajemen dan pemuliabiakan ternak secara terarah, berkesinambungan, agar
mampu memproduksi bibit sapi perah yang memenuhi standar. Untuk mewujudkan
ketersediaan bibit sapi perah yang memenuhi SNI diperlukan prasarana dan
sarana yang memadai, cara pembibitan yang ditunjang dengan kesehatan hewan
dan kesehatan masyarakat veteriner serta terpenuhinya sumber daya manusia yang
mampu melakukan pembibitan sapi perah yang baik. Atas dasar hal tersebut perlu
disusun pedoman pembibitan sapi perah yang baik.

Maksud ditetapkannya Peraturan Menteri ini sebagai dasar bagi pelaku usaha
dalam melakukan pembibitan sapi perah yang baik, dan bagi Pemerintah,pemerintah
daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan
pembinaan dan pengawasan sesuai dengan kewenangannya, dengan tujuan agar
diperoleh bibit sapi perah yang memenuhi standar. Ruang lingkup yang diatur dalam
Peraturan Menteri ini meliputi prasarana dan sarana, cara pembibitan, kesehatan
hewan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, sumber daya manusia, serta pembinaan
dan pengawasan.

2.3 Keterkaitan antara PP Nomor 16 Tahun 1977 dengan Permentan Nomor 46


Tahun 2015

Maksud ditetapkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 46 Tahun 2015 ini


sebagai pedoman bagi peternak dan perusahaan peternakan dalam melakukan usaha
budi daya sapi potong, dan bagi Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan
pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan
sesuai dengan kewenangannya. Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi
prasarana dan sarana, pola pemeliharaan, kesehatan hewan dan kesejahteraan hewan,
pelestarian fungsi lingkungan hidup, sumber daya manusia, serta pembinaan,
pengawasan, dan pelaporan.
Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini untuk: meningkatkan populasi,
produksi, dan produktivitas ; meningkatkan mutu dan keamanan hasil budi daya ;
meningkatkan ketersediaan bahan pangan asal hewan ; mewujudkan budi daya sapi
potong yang sehat dan ramah lingkungan; meningkatkan daya saing ; meningkatkan
pendapatan peternak, perusahaan peternakan dan masyarakat.
III
KESIMPULAN

Berdasrkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa :


1.
DAFTAR PUSTAKA