Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang

Jerawat merupakan salah satu masalah kesehatan pada kulit wajah yang

umumnya terjadi pada kalangan remaja, jerawat dapat terjadi karena adanya

gangguan keratinisasi folikel disertai produksi sebum yang meningkat dan

kemudian terjadi penyumbatan aliran sebum. Bakteri Propionibacterium acnes

ikut berperan dalam terjadinya jerawat karena adanya pembentukan komedo dan

peradangan yang dirangsang oleh adanya produk metabolisme bakteri.(1)

Ekstrak daun pepaya mengandung alkaloid karpain yang mampu

menghambat pertumbuhan bakteri dan membuat daun pepaya memilki rasa yang

cukup pahit. Salah satu penelitian sebelumnya membuktikan bahwa ekstrak daun

pepaya memiliki aktivitas daya hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes

penyebab jerawat. Penelitian sebelumnya telah dibuktikan daya hambat daun

pepaya terhadap bakteri Propionibacterium acnes dalam bentuk sediaan masker

peel-off. Penelitian lain menyebutkan bahwa senyawa flavonoid yang terkandung

dalam ekstrak daun pepaya memiliki aktivitas antiinflamasi berupa penurunan

jumlah sel limfosit pada hewan uji yang mengalamai periodontitis. Efek

antiinflamasi dari ekstrak daun pepaya ini dapat mendukung efek antibakteri pada

pengobatan jerawat.(1)

Krim sebagai bentuk sediaan setengah padat karena krim merupakan

sediaan yang memilki keuntungan berupa nilai estetiknya yang cukup tinggi dan

1
2

tingkat kenyamanannya dalam penggunaan yang cukup baik, disamping itu

sediaan krim merupakan sediaan yang dapat dicuci, bersifat tidak lengket,

memberikan efek melembabkan pada kulit serta memiliki kemampuan penyebaran

yang baik. Terdiri dari 2 tipe krim, tipe A/M, yaitu air terdispersi dalam minyak,

contoh cold cream merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud

memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih. Tipe

M/A mempunyai kemampuan penetrasi ke dalam kulit lebih baik dibanding tipe

A/M yang cenderung membentuk lapisan hidrofobik pada kulit sehingga

mengurangi kemampuan penetrasi. (2)

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dilakukan penelitian ekstrak

daun pepaya yang diformulasikan dalam sediaan krim yang kemudian diuji

aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes sebagai bakteri penyebab

jerawat.

I.B Rumusan Masalah

1. Apakah ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat

dibuat menjadi sediaan krim yang memenuhi kriteria ?

2. Apakah krim ekstrak daun pepaya memiliki aktivitas anti bakteri

terhadap Propionibacterium acnes ?

I.C Tujuan Penelitian

1. Memformulasikan ekstrak daun pepaya menjadi sediaan krim obat

jerawat yang memenuhi kriteria dan stabil


3

2. Mengetahui aktivitas antibakteri sediaan krim obat jerawat ekstrak daun

pepaya terhadap bakteri Propionibacterium acnes.

I.D Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efek

antijerawat dari ekstrak daun pepaya (Carica papaya L) terhadap bakteri

Propionibacterium acnes yang diformulasikan dalam sediaan krim serta

stabilitasnya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.A. Tanaman Pepaya (Carica papaya L)

Gambar.1.
Tanaman Pepaya

Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan

bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan

Asia serta India. Tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk

Indonesia di abad ke-17. Tanaman pepaya ini sangat mudah tumbuh di berbagai

cuaca. Tanaman pepaya merupakan herba menahun, dan termasuk semak yang

berbentuk pohon. Batang, daun, bahkan buah pepaya bergetah, tumbuh tegak, dan

tingginya dapat mencapai2,5-10 m.(3)

Tanaman pepaya dapat tumbuh baik di Indonesia pada dataran rendah

sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Tanaman pepaya lebih sering

tumbuh pada daerah yang lembab dari suhu udara 25o c. Tanah latosol dan tanah

ringan yang banyak mengandung humus, tanaman pepaya dapat tumbuh subur

4
5

akan tetapi tidak senang pada tanah yang becek karena akar pepaya sangat peka

terhadap air tanah yang menggenang. Penggenangan air pada tanaman pepaya

selama lebih 2 hari akan menyebabkan kematian. (3)

Tanaman pepaya di daerah beriklim kering dapat pula tumbuh apabila air

tanah tidak kurang dari 150 cm dari permukaan tanah. Hal ini dapat dilihat di

daerah kupang, timor dimana daerahnya kering sekali, namun tanaman pepaya

dapat tumbuh dan berbuah baik. Tanaman pepaya tumbuh dengan cepat di daerah

basah atau pada musim hujan, hingga ruas batang panjang panjang. Sebaliknya

pada daerah kering atau musim kemarau pertumbuhan tanaman menjadi lambat

dan banyak bunga berguguran yang tidak dapat menjadi buah.(3)

II.A.1 Morfologi Tanaman Pepaya

Bentuk dan susunan tubuh bagian luar tanaman pepaya termasuk

tumbuhan yang umur sampai berbunganya dikelompokkan sebagai tanaman buah

buahan semusim, namun dapat tumbuh setahun lebih. Sistem perakarannya

memiliki akar tunggang dan akar-akar cabang yang tumbuh mendatar ke semua

arah pada kedalaman 1 meter atau lebih menyebar sekitar 60-150 cm atau lebih

dari pusat batang tanaman. Batang tanaman berbentuk bulat lurus, di bagian

tengahnya berongga, dan tidak berkayu. Ruas-ruas batang merupakan tempat

melekatnya tangkai daun yang panjang, berbentuk bulat, dan berlubang. Daun

pepaya bertulang menjari dengan warna permukaan atas hijau-tua, sedangkan

warna permukaan bagian bawah hijau-muda.

Pohon ini biasanya tidak bercabang, batang bulat berongga, tidak berkayu,

terdapat benjolan bekas tangkai daun yang sudah rontok. Daun terkumpul di ujung
6

batang, berbagi menjari. Buah berbentuk bulat hingga memanjang tergantung

jenisnya, buah muda berwarna hijau dan buah tua kekuningan / jingga, berongga

besar di tengahnya; tangkai buah pendek. Biji berwarna hitam dan diselimuti

lapisan tipis. (3)

Ditinjau dari macam bunganya, pepaya digolongkan menjadi tiga, yaitu

pepaya jantan, pepaya betina, dan pepaya sempurna. Pepaya jantan mudah dikenal

karena ia memiliki bunga majemuk yang bertangkai panjang dan bercabang-

cabang. Bunga pertama yang terdapat pada pangkal tangkai adalah bunga jantan.

Bunga jantan ini memiliki ciri-ciri putik atau bakal buah yang tidak berkepala

karenanya tidak dapat menjadi buah, sedangkan benang sari susunannya

sempurna, pada ujung tangkai bunga pepaya biasanya terdapat bunga sempurna,

yang dapat melakukan penyerbukkan sendiri. Buah yang dibentuk biasanya kecil-

kecil menggandul dan lonjong, maka dari itu buah pepaya jantan sering disebut

pepaya gandul. (3)

Pepaya betina hanya menghasilkan bunga betina, bakal buahnya sempurna

dan tidak berbenang sari, untuk dapat menjadi buah harus diserbuki bunga jantan

dari luar. Pepaya betina berbunga sepanjang tahun, buah bulat bertangkai pendek.

Pepaya sempurna memiliki bunga yang sempurna susunannya, memiliki bakal

buah dan benang sari. Oleh karena itu dapat melakukan penyerbukan sendiri. (3)

Daging buah pepaya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pepaya

semangka dan pepaya burung. Pepaya semangka buahnya memiki daging buah

yang berwarna merah menyerupai daging buah semangka, yang termasuk

golongan ini adalah pepaya Paris, Jinggo, dan Cibinong, sedangkan pepaya
7

burung daging buahnya berwarna kuning dan termasuk golongan ini adalah

pepaya ijo, solo, dan hitam bundar di Indonesia varietas pepaya yang banyak

ditanam adalah pepaya semangka, jinggo, dan Cibinong. Secara umum, konsumen

di Indonesia lebih menyukai pepaya dengan daging buah berwarna jingga sampai

merah. (3)

II.A.2 Klasifikasi Tanaman Pepaya

Adapun klasifikasi tanaman pepaya adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Caricales

Famili : Caricaceae

Genus : Carica

Spesies : Carica Papaya L. (3)

II.A.3 Nama Daerah

Nama umum pepaya di duni adalah pawpaw, namun di berbagai negara

memiliki nama yang beragam. Misalnya di Inggris disebut papaya, di Malaysia

disebut betik, di Thailand disebut mala kaw, di Tamil dinamakan pappali,

di Cina dikenal dengan nama pohon melon (Tree-melon), dan di Indonesia

populer dengan nama pepaya. (3)

II.A.4 Kandungan Kimia dan Khasiat dalam Tanaman Pepaya


8

Tanaman pepaya mengandung bahan kimia yang bermanfaat baik itu pada

organ daun, buah, getah, maupun biji dan kandungan kimia dari tanaman pepaya

(Carica papaya L).

Tabel 1. Kandungan kimia tanaman pepaya (3)

No. Organ Kandungan Senyawa

1. Daun Enzim papain, alkaloid karpain, pseudo

karpaina, glikosida, karposid dan saponin,

sakarosa, dekstrosa, dan levulosa, vitamin A,

vitamin C, fenolik, tocophenol, khimoprotein,

mineral.

2. Buah -karotena, pektin, d-galaktosa, 1-arabinosa,

papain, papayotimin papain, serta fitokinase

3 Biji Glukosida kakirin dan karpain

4 Getah Papain, kemokapain, lisosim, lipase, glutamin,

dan siklotransferase.

1. Mengandung enzim papain yang menyebabkan rasa pahit namun

memiliki sifat sebagai stomakik atau meningkatkan nafsu makan.

2. Mengandung banyak senyawa carposide yang berfungsi umtuk

membasmi berbagai macam cacing.

3. Mengandung vitamin A, C, dan E yang membantu meningkatkan

sistem kekebalan tubuh.


9

4. Karena berlimpahnya vitamin, mineral dan enzim daun pepaya juga

bisa digunakan dalam perawatan rambut serta mencegah kebotakan.

5. Mengandung senyawa karpain yang memiliki kemampuan dalam

menghambat pertumbuhan mikroorganisme maupun racun yang

banyak menempel pada kulit sehingga terlindung dari berbagai

masalah kulit, seperti noda pada kulit maupun jerawat.

6. Dapat mengobati gangguan pencernaan, membantu menghancurkan

batu ginjal, mencegah diabetes dan membantu meningkatkan

kekebalan tubuh.(3)

II.B. Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang

sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau

serbuk yang tersisa diperlakukan sedimikian hingga memenuhi baku yang

ditetapkan. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia

dari jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan penyari tertentu.(6)

Pemisahan pada ekstraksi menggunakan prinsip Like dissolve like, artinya

kelarutan dalam pelarut bergantung kepada kepolarannya. Zat yang polar hanya

larut dalam pelarut polar, begitu pula zat non polar hanya larut dalam pelarut non

polar. Pemilihan pelarut dalam ekstraksi harus memperhatikan selektivitas,

kemampuan mengekstraksi komponen sasaran, toksisitas, kemudahan untuk

diuapkan, dan harga. (18)


10

Secara umum terdapat tiga metode ekstraksi, yaitu metode perkolasi,

maserasi, dan soxhletasi. Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan cara

merendam sampel dalam pelarut tunggal atau campuran dengan atau tanpa

pengadukan, tanpa pemanasan untuk mengekstraksi sampel yang relatif mudah

rusak oleh panas. Metode maserasi relatif sederhana karena tidak memerlukan alat

alat yang rumit, relatif mudah, murah dan dapat menghindari rusaknya

komponen senyawa akibat panas. Namun, waktu yang diperlukan relative lama

(umumnya 1 2 hari perendaman) dan penggunaan pelarut tidak efektif dan

efisien.(18)

II.B.1 Proses Pembuatan Ekstrak

1. Pembuatan serbuk simplisia dan klasifikasinya

Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk

simplisia kering (penyerbukan). Simplisia kemudian dibuat serbuk

simplisia dengan peralatan tertentu sampai derajat kehalusan tertentu.

Proses ini dapat mempengaruhi mutu ekstrak. Makin halus serbuk

simplisia, proses ekstraksi makin efektif dan makin efisien, namun

makin halus serbuk, maka akan makin rumit secara teknologi peralatan

untuk tahapan filtrasi.

2. Cairan pelarut

Cairan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak adalah pelarut yang baik

(optimal) untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif,

dengan demikian senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan dan dari

senyawa kandungan lainnya, serta ekstrak hanya mengandung sebagian


11

besar senyawa kandungan yang diinginkan. Dalam hal ekstrak total,

maka cairan pelarut dipilih yang melarutkan hampir semua metabolit

sekunder yang terkandung. Faktor utama untuk pertimbangan pada

pemilihan cairan penyari antara lain : selektivitas, kemudahan bekerja

dan proses dengan cairan tersebut, ekonomis, ramah lingkungan, dan

keamanan.

3. Separasi dan permurnian

Tujuan dari tahapan ini adalah menghilangkan (memisahkan) senyawa

yang tidak dikehendaki semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada

senyawa kandungan yang dikehendaki, sehingga diperoleh ekstrak yang

lebih murni. Proses proses pada tahapan ini adalah pengendapan,

pemisahan dua cairan tidak bercampur, sentrifugasi, dekantasi, filtrasi

serta proses adsorpsi dan penukar ion.

4. Pemekatan atau penguapan (vaporasi dan evaporasi)

Pemekatan berarti jumlah parsial senyawa terlarut (solute) secara

penguapan pelarut tidak sampai menjadi kering, melainkan ekstrak

hanya menjadi kental atau pekat.

5. Randeman

Randeman adalah perbandingan ekstrak yang diperoleh dengan simplisa

kering.(19)

II.B.1 Ekstraksi dengan menggunakan pelarut

1. Cara dingin

a. Maserasi
12

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau

pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Cara ini dapat

menarik zat zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun

tidak tahan pemanasan.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru

sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya

dilakukan pada temperatur ruangan. Ekstrak ini membutuhkan

pelarut yang lebih banyak.

2. Cara panas

a. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik

didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang

relative konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya

dilakukan pengulangan proses residu pertama sampai 3 5 kali

sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.

b. Soxhlet

Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru

umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi

ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relative konstan

dengan adanya pendinginan balik.


13

c. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengaduka kontinyu)

pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan

(kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40 - 50

c.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur

penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih,

temperatur terukur 96 - 98c) selama waktu tertentu (15 20

menit)

e. Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperautr

sampai titik didih air.(19)

II.C. Anatomi Kulit

Gambar 2. Anatomi Kulit Manusia


14

Kulit terdiri atas 2 lapisan: epidermis, suatu epitel khusus berasal dari

ektoderm dan dibawahnya dermis atau korium berupa jaringan ikat (agak) padat,

vaskular (mengandung banyak pembuluh darah) dan berasal dari mesoderm.

Jaringan ikat longgar yang terdapat di bawah kulit wujudnya beragam dari

jaringan ikat longgar sampai jaringan lemak. Inilah yang disebut sebagai fasia

superfisial dalam bidang anatomi makro yang kadang disebut sebagai hipodermis

akan tetapi ia dianggap tidak termasuk turunan kulit. Kulit secara garis besar

terdiri atas dua golongan yaitu kulit tebal dan kulit tipis. Kulit tebal dan kulit tipis

tidak memberikan ketebalan secara keseluruhan akan tetapi hanya ketebalan

epidermisnya saja.

1. Epidermis

Epidermis yang merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan

tanduk, terdiri atas 4 jenis sel yang berbeda yaitu keratinosit, melanosit, sel

langerhans dan sel merkel. Jumlah terbanyak ialah keratinosit, yang

merupakan sel epitel yang akan berkembang untuk memberikan keratin,

karena itu terbentuklah lapisan permukaan kulit yang terdiri atas sel mati.

Sel permukaan yang mengalami keratinasi ini terkelupas terus menerus

dan harus digantikan oleh sel yang tumbuh dari lapisan di bawahnya

sebagai hasil kegiatan mitosis sel lapisan basal epidermis. Epidermis

terdiri atas lima lapis atau strotum yaitu:

a. Lapis benih / stratum germinativum / stratum basal yang

terletak diatas dermis. Lapisan ini terdiri atas selapis sel kubis

atau silindris, yang setiap selnya memilki tonjolan sitoplasma


15

pada permukaan basalnya. Tonjolan mirip geligi ini pas masuk

ke dalam ceruk ceruk pada membran dan tampaknya

menambat epidermis kepada dermis di bawahnya.

b. Lapis taju / stratum spinosum / lapis sel duri. Lapisan ini

setebal beberapa lapis sel dan terdiri atas sel poligonal tidak

beratur yang satu sama lain terlihat terpisah makin ke

permukaan sel selnya menggepeng. Stratum germinativum

dan stratum spinosum keduanya disatukan dan disebut lapisan

atas stratum malphigi. Lapisan inilah yang bertugas

berproliferasi dan memulai proses keratinisasi. Lapisan

mhalpigi juga yang mempunyai melanosit dan membuat

pigmen melanin.

c. Lapis berbutir / stratum granulosum. Disusun oleh 3-5 lapis sel

gepeng yang sumbu panjangnya sejajar dengan permukaan

kulit.

d. Lapis bening / stratum lusidum. Lapisan bening terang setebal

3-5 lapis sel. Masing masing selnya tidak dapat dikenali

dengan jelas sebagai wujud yang utuh. Sitoplasmanya

mengandung bahan setengah cair yaitu keratohialin yang

dianggap sebagai hasil ubahan granula keratohialin yang

terlihat pada lapisan di bawahnya.

e. Lapis tanduk / stratum korneum. Lapisan kelima yang paling

luar terdiri atas sel sel jernih, mati seperti sisik yang semakin
16

menggepeng dan menyatu.ini merupakan keratin lunak yang

berkadar sulfur rendah berbeda dari keratin keras yang terdapat

pada kuku dan kortex rambut.

2. Dermis

Batas dermis yang pasti sukar ditentukan karena menyatu dengan

lapisan subkutis (hipodermis) di bawahnya. Ketebalannya 0,5 3 mm atau

lebih. Dermis terdiri atas dua lapisan jaringan ikat yang tersusun tidak

teratur yaitu lapis papilar dan lapis retikular.

a. Lapis papilar. Termasuk rabung dan papil yang menonjol ke

dalam epidermis. Beberapa papil mengandung ujung saraf

khusus (papil saraf) yang lainnya mempunyai lengkung

pembuluh darah kapiler (papil vaskular)

b. Lapis retikular, merupakan bagian utama dermis yang berserat.

Lapisa ini terdiri atas jalinan serat serat kolagen kasar, padat

dan bersulamkan sedikit serat retikulin dan banyak serat

elastin.

Bahan dasar dermis merupakan matriks amorf yang

membenam serat kolagen dan elastin dan juga turunan kulit.

Glikosaminoglikans utama kulit adalah asam hialuronat,

dermatan sulfat dan perbandingannya beragam di berbagai

tempat. Bahan dasar ini sangat hdrofilik dan membentuk gel.


17

3. Hipodermis

Lapisan bawah kulit (fasia superfisial) bukan bagian kulit tetapi

kelihatan sebagai perluasan bagian dalam dermis. Hipodermis membentuk

bantal lemak disebut panikulus adiposus. Pada daerah perut lapisan ini dapat

mencapai ketebalan 3 cm atau lebih. Pada kelopak mata, penis dan skrotum

lapisan subkutan tidak mengandung lemak. (21)

II.D. Jerawat (Akne)

Gambar 3. Jerawat

Jerawat merupakan penyakit kulit akibat peradangan menahun dari folikel

pilosebasea yang ditandai dengan adanya erupsi komedo,papul, pustul, nodus dan

kista pada tempat predileksi muka, leher, lengan atas, dada dan punggung.

Radang saluran kelenjar minyak tersebut dapat menyebabkan sumbatan

aliran sebum yang dikeluarkan oleh kelenjar sebasea di permukaan kulit, sehingga

kemudian timbul erupsi ke permukaan kulit yang dimulai dengan komedo

berkembang menjadi papul, pustul, nodus, dan kista. Bila peradangan surut terjadi

jaringan parut berbagai bentuk.(22)


18

Sumbatan saluran kelenjar minyak dapat terjadi karena :

1. Perubahan jumlah dan konsistensi lemak kelenjar akibat pengaruh

berbagai faktor penyebab, yaitu genetik, rasial, hormonal, cuaca, jasad

renik, makanan, stress psikis dan lainnya terjadi pada akne vulgaris.

2. Tertutupnya saluran keluar kelenjar sebasea oleh massa eksternal, baik

dari kosmetika (akne kosmetika), bahan kimia di tempat bekerja (akne

akibat kerja), di rumah tangga (house wife acne), deterjen (acne

detergicans) atau bahkan tekanan helm atau ikatan rambut (frictional

acne). Akne akibat zat eksternal disebut sebagai akne venenata

3. Saluran keluar kelenjar sebasea menyempit akibat radiasi sinar

ultraviolet, sinar matahari, atau sinar radioaktif terjadi pada akne

fisik.(22

II.D.1 Penyebab Terjadinya Jerawat

Penyebab terjadinya jerawat karena terjadinya penyumbatan pada saluran

kelenjar minyak. Sumbatan saluran kelenjar minyak dapat terjadi diantaranya

karena :

1. Perubahan jumlah konsistensi lemak kelenjar akibat pengaruh

beberapa faktor penyebab, yaitu : hormonal, infeksi bakteri,

makanan, penggunaan obat obatan dan psikososial.

a. Hormonal

Sekresi kelenjar sebaseus yang hiperaktif dipacu oleh

pembentukan hormon testosteron (androgen) yang berlebih,


19

sehingga pada usia pubertas akan banyak timbul jerawat pada

wajah, dada dan punggung, sedangkan pada wanita selain

karena faktor androgen, produksi lipida dari kelenjar

sebaseus dipacu oleh hormon luteinizing yang meningkat

saat menjelang menstruasi.

b. Infeksi Bakteri

Kelebihan sekresi dan hyperkeratosis pada infudibulum

rambut menyebabkan terakumulasinya sebum. Sebum yang

terakumulasi kemudian menjadi sumber nutrisi yang baik

bagi pertumbuhan Propionibacterium acnes. Enzim lipase

yang dihasilkan dari bakteri tersebut menguraikan

trigiliserida pada sebum menjadi asam lemak bebas, yang

menyebabkan inflamasi dan akhirnya terbentuk jerawat.

Sedangkan Staphylococcus epidermis dan Staphylococcus

aureus dapat menimbulkan infeksi sekunder pada jerawat,

infeksi akan bertambah parah jika jerawat sudah bernanah.

c. Makanan

Makanan yang mengandung lemak, karbohidrat, dan

berkalori tinggi dapat memicu timbulnya jerawat, infeksi

akan bertambah parah jika jerawat sudah bernanah.

d. Penggunaan obat

Obat obatan yang dapat memicu timbulnya jerawat,

misalnya kortikosteroid, narkotika, stimulansia susunan saraf


20

pusat, karena obat obatan ini dapat memicu sekresi kelenjar

lemak yang berlebihan.

e. Psikososial

Stress psikis secara tidak langsung dapat memicu timbulnya

jerawat karena peniingkatan stimulasi kelenjar sebasea.

2. Tertutupnya saluran kelenjar sebasea oleh masa eksternal, baik dari

kosmetik, bahan kimia, debu dan polusi.

3. Saluran keluar kelenjar sebasea menyempit (hyperkeratosis) akibat

radiasi sinar ultraviolet, sinar matahari atau sinar radioaktif.

Ketiga faktor diatas dapat menyebabkan jerawat secara terpisah,

tetapi ketiganya juga dapat saling mempengaruhi untuk jerawat.

Selain itu, masih ada faktor lain yang dapat menyebabkan jerawat

bertambah buruk, antara lain faktor genetik, rasial, kerja berlebih

dan cuaca. (22)

II.D.2. Bakteri Propionibacterium acnes

Gambar 4. Bakteri Propionibacterium acnes


21

Gambar 5. Koloni Bakteri Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes termasuk dalam kelompok bakteri

Corynebacteria. Bakteri ini termasuk flora normal kulit. Propionibacterium acnes

berperan pada patogenesis jerawat dengan menghasilkan lipase yang memecah

asam lemak bebas dari lipid kulit. Asam lemak ini dapat mengakibatkan inflamasi

jaringan ketika berhubungan dengan sistem imun dan mendukung terjadinya akne.

Propionibacterium acnes termasuk bakteri yang tumbuh relatif lambat.

Bakteri ini tipikal bakteri anaerob gram positif yang toleran terhadap udara.

Genome dari bakteri ini telah dirangkai dan sebuah penelitian menunjukan

beberapa gen yang dapat menghasilkan enzim untuk meluruhkan kulit dan

protein, yang mungkin immunogenik (menghasilkan sistem kekebalan tubuh).

Ciri ciri penting dari bakteri Propionibacterium acnes berbentuk batang

tak teratur yang terlihat pada pewarnaan gram positif. Bakteri ini dapat tumbuh di

udara dan tidak menghasilkan endospora. Bakteri ini dapat berbentuk filament

bercabang atau campuran antara bentuk batang atau filament dengan bentuk

koloid. Propionibacterium acnes memerlukan oksigen mulai dari aerob atau

anaerob fakultatif sampai ke mikroerofilik atau anaerob. Beberapa bersifat

patogen untuk hewan dan tanaman. (4)


22

Sistematika bakteri Propionibacterium acnes adalah sebagai berikut

Kingdom : Bacteria

Filum : Antinobactria

Kelas : Antinobacteridae

Ordo : Actinomycetales

Famili : Propionibacteriaceae

Genus : Propionibacterium

Spesies : Propionibacterium acnes

II.D.3. Jenis jenis Jerawat

Jenis jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit terbagi

menjadi 3 skala, yaitu :

1. Ringan, meliputi komedonal : whitehead (komedo tertutup) dan

blackhead (komedo terbuka).

a. Whitehead (komedo tertutup) merupakan kelainan berupa

bintil kecil dengan lubang kecil atau tanpa lubang karena

sebum yang biasanya disertai bakteri menumpuk di folikel

kulit dan tidak bisa keluar.

b. Blackhead (komedo terbuka) merupakan perkembangan lebih

lanjut dari komedo tertutup, terjadi ketika folikel terbuka di

permukaan kulit, sehingga sebum yang mengandung pigmen

melanin kulit teroksidasi dan berubah menjadi coklat atau


23

hitam. Blackhead dapat berlangsung lama karena proses

pengeringan komedo dipermukaan kulit berlangsung lambat.

2. Sedang, meliputi : papule, pustule dan nodule.

a. Papule terjadi ketika dinding folikel rambut megalami

kerusakan atau pecah sehingga sel darah putih keluar dan

terjadi inflamasi dilapisan dalam kulit. Papule berbentuk

benjolan benjolan lunak kemerahan dikulit tanpa memiliki

kepala.

b. Pustule terjadi beberapa hari kemudian ketika sel darah putih

keluar ke permukaan kulit. Pustule berbentuk benjolan merah

dengan titik putih atau kuning ditengahnya yang mengandung

sel darah putih.

c. Nodule bila folikel pecah didasarnya maka terjadi benjolan

radang yang besar dan sakit bila disentuh. Nodule biasanya

terjadi akibat rangsang peradangan oleh fragmen rambut

yang berlangsung lama.

3. Berat, meliputi abses dan sinus (acne kongloblata)

a. Abses, kadang beberapa papule dan pustule mengalami

pengelompokan dengan membentukan abses yang berwarna

kemerahan, nyeri dan cenderung mengeluarkan bahan berupa

campuran darah, nanah dan sebum. Pada proses

penyembuhan kelainan ini meninggalkan jaringan parut yang

luas.
24

b. Sinus (acne kongloblata), merupakan jenis jerawat paling

berat. Sering terdapat dilekukan samping hidung, hidung,

rahang dan leher. Kelainan berupa garis linier dengan ukuran

panjang bisa mencapai 10cm dan mengandung beberapa

saluran sinus atau fistel yang menghubungkan sinus dengan

permukaan kulit. Penyembuhan jerawat ini memakan waktu

berbulan bulan, bahkan tahun dan dapat kambuh lagi bila

mengalami proses inflamasi. Sinus harus ditangani dengan

pembedahan.(22)

II.D.4. Penanggulangan Jerawat

Penanggulangan jerawat meliputi usaha untuk mencegah terjadinya

jerawat (preventif) dan usaha untuk mengobati atau menghilangkan jerawat yang

terjadi.

Usaha pencegahan dapat dilakukan dengan cara : hidup teratur dan sehat,

tetap menjaga kebersihan kulit dari kelebihan minyak, jasad renik, kosmetik,

debu, kotoran dan polusi lainnya yang dapat menghambat folikel sebagai pemicu

timbulnya jerawat. Mempelajari dan mengetahui informasi mengenai penyakit,

pencegahan dan cara maupun lama pengobatannya. (22)

Usaha pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan 3 cara :

1. Pengobatan topikal

Prinsip pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo

(jerawat ringan), ditujukan untuk mengatasi, menekan peradangan

dan kolonisasi bakteri, serta penyembuhan lesi jerawat. Misalnya


25

dengan pemberian bahan iritan dan anti bakteri topikal serta

kortikosteroid topikal seperti : sulfur, resorsinol, asam salisilat,

benzoil peroksida, tetrasiklin, eritromisin, dan klindamisin.

2. Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik ditujukan untuk penderita jerawat sedang

sampai berat, dengan prinsip menekan aktivitas jasad renik,

menekan reaksi radang, menekan produksi sebum dan

mempengaruhi keseimbangan normal. Golongan obat sistemik

misalnya : pemberian antibiotik (tetrasiklin, eritromisin dan

klindamisin), obat hormonal (etinil estradiol, antiandrogen

siproteron asetat) penggunaan retinoid untuk menekan

hiperkeratinisasi dan atas dasar serta tujuan berbeda dapat

digunakan berupa antiinflamasi nonsteroid, dapson, atau seng

sulfat.

3. Bedah kulit

Bedah kulit ditujukan untuk memperbaiki jaringan parut yang

terjadi akibat jerawat. Tindakan dapat dilaksanakan setelah jerawat

sembuh, baik dengan cara bedah listrik, bedah kimia, bedah beku,

bedah pisau dermabrasi atau bedah laser. (22)


26

II.E. Krim

II.E.1 Krim dan Jenis Krim

Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak

kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar dan terdiri dari

campuran antara fase minyak dan fase air.(6) Krim merupakan bentuk sediaan

setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi

dalam bahan dasar yang sesuai.(23) Penyebaran krim cukup baik dan memberikan

rasa sejuk apabila digosokan pada kulit, mempunyaiefek melembutkan, mudah

dicuci dengan air dan pelepasan zat berkhasiat yang baik untuk tujuan absorpsi

perkutan. Ada 2 tipe krim, yaitu krim tipe minyak dalam air (M/A) dan tipe air

dalam minyak (A/M). Krim M/A mempunyai kemampuan penetrasi ke dalam

kulit lebih baik dibanding tipe A/M yang cenderung membentuk lapisan

hidrofobik pada kulit sehingga mengurangi kemampuan penetrasi.(7)

Krim tipe M/A merupakan krim dengan fase terdispersi minyak dan fase

pendispersi air. Adanya zat zat polar yang bersifat lemak seperti setil alkohol

dan gliseril monostearat cenderung menstabilkan emulsi M/A dalam sediaan semi

padat.(7) Krim tipe M/A memiliki beberapa keuntungan yaitu mudah dicuci

dengan air, pelepasan obatnya baik karena jika digunakan pada kulit maka akan

terjadi penguapan dan peningkatan konsentrasi dari suatu obat yang larut dalam

air sehingga mendorong penyerapannya ke dalam jaringan kulit, tetapi pada

umumnya orang lebih menyukai tipe air dalam minyak (A/M) karena

penyebarannya lebih baik, walaupun sedikit berminyak tetapi penguapan airnya

dapat mengurangi rasa panas di kulit.(8)


27

Krim tipe A/M merupakan krim dengan fase terdispersi air dan fase

pendispersi minyak. Untuk menstabilkan krim tipe A/M digunakan ion ion

polivalen seperti magnesium, kalsium, dan aluminium dengan membentuk ikatan

silanng dengan gugus polar bahan bahan lemak. (7)


Krim tipe air dalam minyak

(A/M) memiliki bentuk yang lebih berminyak dan mempunyai viskositas yang

lebih besar daripada tipe M/A.(8)

Pada pembuatan krim perlu digunakan zat pengemulsi atau emulgator.

Emulgator didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai aktivitas permukaan

(surface tension) antara cairan cairan yang terdapat dalam suatu sistem.

Kemampuannya menurunkan tegangan permukaan merupakan hal yang menarik

akrena emulgator memilki struktur kimia yang mampu menyatukan kedua

senyawa yang berbeda polaritasnya.(9)

Menurunnya tegangan permukaan antar permukaan berarti meningkatkan

dispersi cairan yang satu ke dalam cairan yang lain. Untuk mendapatkan emulsi

yang stabil seharusnya emulgator membentuk lapisan tipis (film) antar permukaan,

yaitu lapisan yang mengelilingi tiap butiran yang terdispersi agar butiran butiran

tidak bergabung kembali dengan butir butir lainnya. Cera alba merupakan

emulgator yang digunakan pada krim basis A/M sedangkan asam stearat

merupakan emulgator yang digunakan pada krim tipe M/A.(7)

II.E.2 Komponen Krim

Komponen krim terdiri dari tiga bahn aktif, bahan dasar dan bahan

pembantu. Emulgator atau surfaktan dalam sediaan krim berfungsi untuk

menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase yang tidak saling bercampur
28

yang bekerja dengan mengurangi daya tarik menarik antar molekul dari kedua

fase tersebut sehingga dapat meningkatkan stabilitass emulsi. Selain itu, untuk

meningkatkan stabilitas suatu sediaan krim mengandung bahan bahan tambahan

lain seperti pengawet, pengental, humektan, pewarna dan pewangi serta bahan

bahan lain yang dapat ditambahkan untuk memperoleh suatu sediaan krim yang

baik. (10)

II.E.3 Emulsi dan Teori Emulsifikasi

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat

yang terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya

atau surfaktan yang cocok.(9) Emulsifikasi adalah dimana fase dalam dipecah

menjadi globul globul kecil dan dilapisis fase luar, sehingga terbentuknya suatu

emulsi.(10)

Ada beberapa teori yang menjelaskan bagaimana zat pengemulsi bekerja

dalam meningkatkan emulsifikasi dan menjaga stabilitas dari emulsi yang

dihasilkan. Teori yang paling lazim diantaranya adalah. .(9)

1. Teori tegangan permukaan (surface tension)

Molekul memiliki daya tarik menarik antar molekul yang

sejenis disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki

daya tarik menarik antar moleku yang tidak sejenis disebut dengan

daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada

permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena

tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada

permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Dengan cara


29

yang sama dapat dijelaskan terjaqdinya perbedaan tegangan bidang

batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi

antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas.

Semakin tibggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang

mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk

bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan

penambahan garam garam anorganik atau senyawa senyawa

elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa

organik tertentu antara lain sabun. Di dalam teori ini dikatakan

bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan

teganagan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara

kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.

2. Oriented wedge Theory

Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok

yakni :

Kelompok hidrofilik, yakni bagian dari emulgator

yang suka pada air.

Kelompok lipofilik, yakni bagian yang suka pada

minyak.

3. Teori Interparsial Film

Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada

batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang

akan membungkus partikel fase dispers. Terbungkusnya partikel


30

tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung

menjdi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil,

untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat

emulgator yang dipakai adalah :

Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak.

Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan

partikel fase dispers.

Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan

dapat menutup semua permukaan partikel dengan

segera.

4. Teori Electric Double Layer (Lapisan listrik ganda)

Jika minyak terdispersi ke dalam air, suatu lapis air yang

langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan

sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang

berlawanan dengan lapisan didepannya, dengan demikian seolah

olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan

listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak

setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan

penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik

yang menyelubungi sesama partikel akan tolak menolak dan

stabilitas emulsi akan bertambah. Terjadinya muatan listrik

disebabkan oleh salah satu dari ketiga cara dibawah ini.


31

Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan

partikel

Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan

disekitarnya

Terjadinya gesekan partikel dengan cairan

disekitarnya.

II.E.4 Stabilitas Emulsi

Stabilitas merupakan salah satu faktor yang penting dalam sediaan yang

berbentuk emulsi, beberapa macam bentuk ketidakstabillan emulsi antara lain.(9) :

1. Flokulasi dan Creaming

Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapisan cairan,

dimana masing masing lapis mengandung fase dispersi yang

berbeda,

2. Koalesen dan pecahnya emulsi (Cracking atau breaking)

Pecahnya emulsi yang bersifat tidak dapat kembali. Penggojokan

sederhana akan gagal untuk mengemulsi kembali butir butir tetesan

dalam bentuk emulsi yang stabil.

3. Inversi

Inversi adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi M/A ke tipe A/M

atau sebaliknya.
32

II.E.5 Metode Pembuatan Krim

Metode yang digunakan dalam pembuatan emulsi menurut Voight terbagi

menjadi dua, yaitu:

a. Metode suspense (metode kontinental)

Emulgator disuspensikan ke dalam fase dimana dia tidak

terlarut (fase dalam) dengan menggerusnya secara hati hati,

kemudian dicampur dengan bagian fase yang lain(emulgator larut

dalam fase ini, paling tidak terbasahi) menjadi suatu emulsi primer.

Emulgator terdistribusi halus dalam bentuk suspensi dan sangat

lambat berubah menjadi emulsi melalui fase yang ditambahkan maka

disarankan agar emulsi primer dibiarkan dahulu sebentar, baru

kemudian disatukan kembali dengan sisa fase luarnya. Metode ini

khususnya digunakan pada penggunaan gom arab dan tragakan

untuk membuat emulsi M/A. Menurut aturan umum pembuatan

emulsi primer dari minyak, gom arab dan air dipertahankan

perbandingan jumlah 2 : 1 : 1,5 bagian.

b. Metode larutan (metode inggris)

Emulgator dilarutkan pada fase luar, fase dalam kemudian

diemulsikan kedalamnya. Dilakukan peracikan fase terdispersi

sedikit demi sedikit ke dalam bahan pendispersi yang mengandung

emulgator.
33

Sedangkan menurut Ansel meotde pembuatan krim (emulsi) dibagi

menjadi 3 (tiga) yaitu :

a. Metode kontinental (gom kering)

Metode kontinental (gom kering) ini juga dikenal sebagai

metode 4:2:1 karena untuk tiap 4 bagian minyak, 2 bagian air dan

1 bagian gom ditambahkan untuk membuat emulsi utama. Emulgaotr

didespersikan ke dalam fase dimana dia tidak larut (fase dalam)

dengan menggerusnya secara hati hati, kemudian dicampur dengan

bagian fase yang lain.

b. Metode botol (botol forbes)

Metode botol ini dilakukan dengan cara satu bagian

emlugator kering, dimasukan kedalam botol dan ditambahkan dua

bagian air sekaligus, kocok hingga terbentuk emulsi, tambahkan fase

luar dan kocok kembali. Cocok digunakan untuk membuat emulsi

dari minyak minyak menguap atau zat zat yang bersifat minyak

dan mempunyai viskositas rendah.(20)

II.E.6 Kriteria Sediaan Krim yang Baik

Krim yang baik, harus memiliki kriteria sebagai berikut (7) :

1. Mudah dioleskan merata pada kulit atau rambut

2. Mudah dicuci bersih dari daerah lekatan

3. Tidak berbau tengik

4. Bebas partikulat keras dan tajam


34

5. Tidak mengiritasi kulit

6. Dalam penyimpanan, harus meiliki sifat sebagai berikut :

a. Harus tetap homogen dan stabil

b. Tidak berbau tengik

c. Bebas partikulat keras dan tajam

d. Tidak mengiritasi kulit

II.E.7. Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Krim

Kelebihan sediaan krim, yaitu (7) :

1. Mudah menyebar rata

2. Praktis

3. Mudah dibersihkan atau dicuci

4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat

5. Tidak lengket terutama timpe M/A

6. Memberikan rasa dingin (cold cream) berupa tipe A/M

7. Digunakan sebagai kosmetik

8. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorbsi tidak cukup

beracun.

Kekurangan sediaan krim, yaitu (7) :

1. Susah dalam pembuatannya karena pembuatan krim harus dalam

keadaan panas

2. Gampang pecah disebabkan dalam pembuatan formula tidak pas


35

3. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe A/M karena terganggu

sistem campuran terutama disebabkan oleh pperubahan suhu dan

oerubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara

berlebihan.

II.E.8. Evaluasi Krim

Evaluasi yang dilakukan pada sediaan krim antara lain(7) :

a. Penampilan (Organoleptik)

Evaluasi organoleptik menggunakan panca indra, mulai dari bau,

warna, tekstur sediaan, konsistensi pelaksana menggunakan

subyek responden (dengan kriteria tertentu) dengan menetapkan

kriteria pengujiannya (macam dan item), menghitung prosentase

masing masing kriteria yang diperoleh, pengambilan keputusan

dengan analisa statistik.

b. Tipe Krim

Tipe krim ada 2 macam, yaitu tipe M/A dan A/M. Untuk

pengujian tipe krim dapat dilakukan dengan beberapa cara

seperti dengan metode warna, yaitu dengan mencampur krim

dengan beberapa metilen blue dan sudan III diatas kaca objek

lalu diamati dibawah mikroskop.

c. Homogenitas

Untuk uji homogenitas krim yaitu dengan cara krim dioleskan

diatas kaca objek, lalu ditutup dengan kaca objek lain. Amati
36

apakah krim tersebut homogen dan apakah permukaannya halus

merata atau terdapat granul.

d. Penetapan pH

Kulit mempunyai pH antara 4,5 6,5 dan cenderung untuk

mempertahankannya, untuk membantu kulit mempertahankan

pH tersebut maka pH sediaan disesuaikan dengan pH kulit. pH

krim dapat diketahui dengan mudah dengan menggunakan pH

meter atau dengan kertas indikator Ph.

e. Uji daya sebar

Uji ini dapat dilakukan dengan cara krim dioleskan pada cincin

teflon yang mempunyai diameter 55 mm dengan ketebalan 3 mm

dan diameter dalam sebesar 15 mm dengan beralaskan kaca.

Bagian dalam cincin teflon dipengaruhi dengan krim kemudian

diratakn dengan spatula hingga didapat permulaan yang rata

tanpa gelombang udara. Cincin teflon diangkat secara hati hati

kemudian krim tersebut segera ditiutup dengan kaca yang meiliki

diameter dan berat yang sama dengan kaca yang mengalasinya,

kaca penutup ditindih dengan beban seberat 200 gram, lalu

didiamkan selama 3 menit. Diameter dari permukaan krim yang

melebar diukur dengan jangka sorong. Kemudian dihitung

dengan menggunakan rumus (12).

F = x r2 (mm2)
37

Ket :

F = spreadibility / kemampuan menyebar (mm2)

= 3,14

r = jari jari

f. Viskositas dan sifat alir

Viskositas dapat diukur dengan menggunakan Viscometer

Brookfield tipe RV. Sediaan dimasukan sampai batas yang

ditentukan. Alat dinyalakan, biarkan berputar dengan kecepatan

tertentu hingga jarum Viscometer menunjukan skala yang

konstan. Viskositas dihitung dengan cara mengalikan skala yang

diperoleh dengan suatu faktor yang dapat dilihat pada tabel

sesuai dengan kecepatan dan spindel yang digunakan. Penentuan

sifat alir dilakukan dengan mengubah ubah rpm, sehingga

didapat nilai viskositas pada berbagai rpm. Sedangkan untuk

sifat alir dapat diketahui dengan cara membuat kurva antara

kecepatan geser (rpm) dengan gaya (dyne/cm2) (7,12).

Viskositas () = skala x faktor perkalian

Gaya = skala x Kv (dyne/cm3)

II.F. Kestabilan Produk Farmasi

Stabilitas produk farmasi didefinisikan sebagain kemampuan dari

formulasi tertentu dalam wadah tertentu untuk mempertahankan sifat sifat

fisika, kimia, mikrobiologi, dan toksikologi. Pengukuran stabilitas produk farmasi


38

ditunjukan untukmemastikan bahwa produk tersebut memilki karakteristik yang

seragam sehingga menjamin keamanan klinik dan evikasi dari formula.

Pengukuran stabilitas juga digunakan untuk menetapkan waktu kadaluarsa suatu

produk farmasi(13).

Faktor faktor yang dpata mempengaruhi stabilitas dari bahan aktif adalah

interaksi dari bahan aktif dengan pembawa dalam formula, proses pembuatan,

bentuk sediaan, wadah, kondisi lingkungan selama pengangkutan, penyimpanan

dan waktu antara pembuatan dengan penggunaan(13).

Stabilitas fisik dari sediaan semi solid, sepeerti krim, penting untuk di

evaluasi. Formulasi krim yang tidak stabil dalam kondisi atau keadaan normal

dapat mengalami perubahan yang irreversibel pada sifat rheologinya. Beberapa

contoh krim yang tidak stabil yaitu krim yang mengalami perubahan selama

penyimpanan, krim yang mengalami pemisahan fase baik fase cair seperti pada

sinersis ataupun fase padat pada sedimentasi, dan krim yang mengalami

perubahan viskositas dan konsistensi sehingga bentuknya berubah(13).

Pengujian stabilitas tersebut antara lain :

1. Pengujian pada suhu tinggi

Suatu produk yang stabil secara kimia pada suhu 70 80oc menunjukan

bahwa produk tersebut sangat stabil pada penyimpanan suhu normal(13).

Penyimpanan produk pada suhu tinggi dapat menjadi indikator

kestabilan, bukan ketidakstabilan.

2. Pengujian pada kelembapan tinggi


39

Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji kemasan produk, bukan

isinya. Kemasan dinilai tidak baik jika terjadi perubahan pada produk

dalam kemasan karena pengaruh kelembapan udara(13).

3. Pemaparan terhadap cahaya

Produk mungkin peka terhadap cahaya, teteapi pengaruh pemaparan

cahaya sukar dipercepat di dalam laboratorium. Praktek sampel

dipaparkan pada cahaya siang hari, bukan pada sinar matahari langsung,

atau juga dapat dipaparkan secara kontinyu pada baterai tabung

fluoresensi(13).

4. Cycling Test

Pengujian menggunakan perubahan suhu dan atau kelembapan pada

interval waktu tertentu sehingga produk dan kemasannya mengalami

tekanan yang bervariasi daripada tekanan konstan yang kadangkala lebih

parah daripada penyimpanan pada satu kondisi saja. Pengujian ini

dilakukan dengan menyimpan pada suhu 4C selama 24 jam lalu

menyimpan pada suhu 40C selama 24 jam, waktu penyimpanan pada

dua suhu yang berbeda tersebut dianggap sebagai satu siklus dan

dilakukan sebanyak 6 siklus (selama 12 hari). Tujuan pengujian ini

sebagai simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun bahkan setiap

harinya serta untuk menguji terjadinya sineresis pada krim. Sineresis

merupakan gejala yang terjadi pada saat krim mengkerut waktu tegak

dan sebagian cairan antarsel diperas keluar, terjadi karena kristalisasi


40

tambahan atau pembentukan titik titik kontak tambahan antara segmen

segmen polimer pada proses penuaan(14,2).

5. Uji mekanik

Uji mekanik diperlukan untuk mengetahui terjadinya pemisahan fase

dari emulsi. Sampel disentifugasi pada kecepatan 3750 rpm selama 5

jam atau 5000-10000 rpm selama 30 menit. Hal ini dilakukan karena

perlakuan tersebut sama dengan besarnya pengaruh gaya gravitasi

terhadap penyimpanan krim selama 1 tahun.(15,2)

Berikut ini merupakan parameter parameter uji kestabilan.

1. Organoleptis (perubahan fisik)

Produk diamati secara subyektif terhadap perubahan warna, perubahan

bau, tekstur produk dan terjadinya sineresis.

2. Viskositas dan rheologi (14, 16)

Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir, semakin

besar ukuran resistensinya maka semakin besar pula viskositasnya.

Rehologi adalah ilmu yang mempelajari sifat aliran zat cair.

Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sistem

Newton dan sistem Non-Newton.

Hampir seluruh sistem dispersi seperti emulsi, suspensi dan sediaan semi

padat tidak mengikuti sistem Newton. Viskositasnya ini bervariasi pada

setiap kecepatan geser sehingga untuk melihat sifat alirnya dilakukan

pengukuran pada beberapa kecepatan geser misalnya dengan

menggunakan viskometer rotasi Stormer dan Brookfield.


41

Berdasarkan sifat aliran (rheogram) cairan non Newton terdiri dari

aliran plastis, pseudoplastis, dilatan dan tiksotropik.

a. Aliran plastis

cairan yang mempunyai aliran plastis tidak akan mengaliri

sebelum suatu gaya tertentu yang disebut yield value dilampaui.

Pada tekanan dibawah yield value cairan tersebut bertindak

sebagai bahan elastis, sedangkan yield value alirang mengikuti

hukum Newton. Kurva aliran plastis tidak melalui titik nol

tetapi memotong sumbu tekanan geser pada titik yield value.

b. Aliran dilatan

Viskositas cairan dilatan akan naik dengan naiknya kecepatan

geser. Pada sistem seperti ini, volume cairan akan meningkat

bila terjadi pergeseran. Zat yang mempunyai sifat aliran dilatan

adalah suspensi yang berkonsentrasi tinggi (kira-kira 50% atau

lebih) dari partikel partikel yang mengalami deflokulasi.

c. Aliran pseudoplastis

Viskositas zat pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya

kecepatan geser. Berbeda dengan aliran plastis disini tidak ada

yield value. Karena kurva tidak mempunyai bagian linier, maka

cairan yang mempunyai sifat pseudoplastis tidak mempunyai

harga viskositas absolute.

d. Aliran tiksotropik
42

Tiksotropik didefinisikan sebagai suatu pemulihan yang

isotherm dan lambat pada pendiaman suatu bahan yang

kehilangan konsistensinya karena shearing. Sifattiksotropik

umumnya dijumpai pada zat yang mempunyai sifat aliran plasti

dan pseudoplastis. Bahan tersebut akan mempunyai konsistensi

lebih rendah di setiap harga kecepatan geser pada kurva

menurun bila dibandingkan dengan kurva menaik. Hal ini

menunjukan adanya pemecahan struktur yang tidak akan

terbentuk kembali dengan segera jika tekanan tersebut

dihilangkan atau dikurangi.

3. Konsistensi (17)

Pengukuran konsistensi sediaan semi padat dapat menggunakan alat

penetrometer. Penetrasi merupakan ukuran kedalaman kerucut atau

jarum standar menembus tegak lurus sampel dalam waktu dan suhu

tertentu yang dinyatakan dalam satuan 1/10 mm. Umumnya

pengukuran dilakukan pada suhu 250c selama 5 detik.

Dari pengukuran konsistensi dengan penetrometer akan diperoleh

harga yield value. Yield value merupakan ukuran ketahanan krim

ketika dikeluarkan dari kemasannya. Apabila diperoleh harga yield

value yang berkisar antara 100-1000 dyne/cm2 maka sediaan

tersebut mudah tersebut. Dibawah range ini berarti sediaan terlalu

mudah mengalir sedangkan apabila diatas range ini sediaan terlalu

keras dan tidak mudah tersebar.


43

4. pH

Sediaan topikal harus memiliki pH yang sesuai dengan pH normal

kulit, yaitu 4,5 6,5. Jika pH sediaan terlalu asam akan

mengakibatkan iritasi kulit, dan jika pH sediaan terlalu basa akan

mengakibatkan kulit bersisik.

II.G. Monografi bahan yang dipakai (11,23,24)

A. Asam stearat

Sinonim : stearic acid, cetylacetic acid, stereophanic acid

Rumus molekul : C18H36O2

Bobot molekul : 284,47

Rumus kimia : CH3(CH2)16COOH

Pemerian : serbuk putih atau putih kekuningan, agak

mengkilat, kristal padat, agak mengkilat, lengket.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam bagian

etanol 95% dan 3 bagian eter.

Stabilitas : merupakan bahan yang stabil dan disimpan dalam

wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.


44

Inkompatibilitas : asam stearat tidak stabil dalam kebanyakan logam

hidroksida dan zat zat pengoksidasi.

Titik lebur : 55C

Kegunaan : dalam sediaan topikal digunakan sebagai zat

pengemulsi 14% dan solubilisator

B. Setil alkohol

Sinonim : cetostearyl alcohol, palmityl alcohol, aldol 52

Rumus molekul : C16H34 O

Bobot molekul : 242,45

Rumus kimia : CH3(CH2)14CH2OH

Pemerian : padat berbentuk bongkahan putih atau granul, bau

lemah.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam

eter dan kloroform, bila meleleh tidak bercampur

dengan paraffin cair, minyak hewan dan minyak

tumbuhan.

Stabilitas : stabil dengan asam alkalis, sinar dan udara, tidak

tengik
45

Inkompatibiltas : tidak bercampur dengan zat zat pengoksidasi

kuat

Titik lebur : 45 - 52C

Kegunaan : dalam sediaan topikal digunakan sebagai pelembut

1%, sebagai dasar untuk suppositoria; krim; dan

lotion, zat pengemulsi dan stiffening agent.

C. Isopropil miristat

Sinonim : isopropil ester of myristic acid, myristic acid

isopropyl ester, tetra-decanoic acid, 1-methylethyl

ester

Rumus molekul : C13H34O2

Bobot molekul : 270.5

Pemerian : tidak berwarna dan tidak berbau

Kelarutan : larut dalam aseton, kloroform, etanol, etil asetat,

minyak nabati, minyak mineral, minyak silikon,

praktis tidak larut dalam gliserin, glikol dan air

Inkompatibilitas : inkompatibilitas dengan zat atau bahan yang

mengoksidasi atau oksidator kuat


46

Stabilitas : isopropil miristat tidak mengalami oksidasi dan

hidrolisis dan harus disimpan dalam wadah tertutup

rapat terlindung dari cahaya

Kegunaan : emolien, meningkatkan penetrasi kulit

D. Trietanolamin

Sinonim : triethylolamine, trihydroxytriethylamine,

tris(hydroxyethyl) amine, TEA

Rumus molekul : C16H15NO3

Kelarutan : dapat bercampur dengan air dan etanol (95) p,

sukar larut dalam eter

Pemerian : cairan tidak berwarna atau berwarna kuning pucat,

jernih, tidak berbau atau hampirtidak berbau,

higroskopik

Inkompatibilitas : asam lemak tinggi, garam logam berat, golongan

hidroksil yang dapat diganti dengan halogen

Titik leleh : 20 - 21C

Kegunaan : emolient, humektan


47

E. Metil paraben

Sinonim : 4-hydroxybenzoic acid methyl ester, methyl-p-

hydroxybenzoate

Rumus molekul : C8H8O3

Bobot molekul : 152,15

Kelarutan : sukar larut dalam air, dalam benzen dan dalam

karbon tetra klorida, mudah larut dalam etanol dan

dalam eter

Pemerian : kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih,

tidak berbau, mempunyai sedikit rasa terbakar

Inkompatibilitas : non ionik surfaktan seperti polisorbate; talk;

bentonit; tragakan; sodium alginat; sorbitol dan

metil selulosa, tetapi propilen glikol terbukti dapat

meningkat aktivitas anti mikroba

Stabilitas : efektif dalam rentang ph luas terutama sebagai anti

mikroba, aktivitas anti mikroba meningkat dengan

meningkatkan panjang rantai alkil tetapi kelarutan

dalam air menurun

Kegunaan : anti mikroba


48

F. Propil paraben

Sinonim : 4-hydroxybenzoic acid propyl ester, propagin,

propyl -hydroxybenzoate

Rumus molekul : C10H12O3

Bobot molekul : 180,20

Pemerian : serbuk kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa

Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam

etanol dan dalam eter, sukar larut dalam air

mendidih dan dalam eter

Inkompatibilitas : non ionik surfaktan

Kegunaan : anti mikroba

G. Propilen glikol

Sinonim : PEG, Polyoxyethylene glycol

Rumus molekul : C3H8O2

Bobot molekul : 76,09

Rumus kimia : CH3CHOHCH2OH


49

Pemerian : jernih, tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau

dengan gula

Kelarutan : larut dalam asteon, kloroform dan etanol (95%),

gliserin dan air, larut dalam enam bagian eter

Inkompatibilitas : tidak becampur dengan pereaksi pengoksidasi

seperti kalium permanganat

Stabilitas :stabil dalam temperatur sejuk dan tertutup baik,

tapi dalam temperatur tinggi dalam wadah terbuka

cenderung teroksidasi menjadi propanoaldehid asam

laktat, asam piruvat dan asam asetat. Secara kimia

stabil dengan etanol, gliserin dan air.

Kegunaan : meningkatkan aktivitas bahan pengawet, anti

mikroba dan pelembab 15%

H. Butil hidroksi toluen (BHT)

Sinonim : Agidol, BHT

Rumus molekul : C18H24O

Bobot molekul : 220,35

Pemerian :serbuk kristal putih atau agak putih atau wax padat

putih kekuningan
50

Kelarutan :prakatis tidak larut dalam air, gliserin, propilen

glikol, larut alkali hidrooksida dan pengencerannya.

Mudah larut dalam aseton, benzene, etanol (95%),

eter, methanol, toluene, paraffin liquid

Inkompatibilitas : tidak bercampur dengan zat zat pengoksidasi

kuat seperti peroksida dan permanganat garam besi

menyebabkan kehilangan warna penurunan aktivitas

Satbilitas : ditempat yang tidak terlindung ahaya, kelembaban

dan panas menyebabkan hilangnya warna dan

kehilangan aktivitasnya sebagai anti oksidan

Kegunaan : sebagai anti oksidan

I. Air suling

Sinonim : Aqua purificata

Rumus molekul : H2O

Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan

berasa

Kelarutan : dapat bercampur dengan sebagian besar pelarut

polar

Titik didih : 100C

Kegunaan : sebagai pelarut


BAB III

METODE PENELITIAN

III.A. Waktu dan tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Farmasi ISTN Jakarta,

Laboratorium fitokimia ISTN Jakarta, dan Universitas Pancasila, Jakarta. Waktu

penelitian dilakukan pada bulan November 2016 sampai dengan Januari 2017.

III.B. Prinsip penelitian

Daun pepaya dikeringkan dalam oven, sehingga diperoleh simplisia daun

pepaya, serbuk simplisia daun pepaya diekstraksi secara maserasi menggunakan

cairan penyari etanol selama 24 jam kemudian dipekatkan dengan vakum

rotavaporator pada suhu 60C hingga diperoleh masa kental. Ekstrak diuji

penapisan fitokimia, ekstrak kental daun tin dibuat menjadi sediaan krim M/A

dengan konsentrasi 0%, 1%, 3%, 5% menggunakan basis vanishing cream,

sediaan dibuat dengan metode peleburan dan pencampuran, krim ekstrak daun

pepaya yang dihasilkan dievaluasi meliputi parameter organoleptik terhadap

warna dan bau, pemeriksa homogenitas, pemeriksaan tipe krim, pH krim,

kemampuan menyebar, uji viskositas dan sifat alir, selanjutnya dilakukan uji

stabilitas cycling test pada suhu dingin 40 C selama 24 jam, proses ini dihitung 1

siklus. Percobaan ini dilakukan selama 6 siklus, uji sentrifugasi pada kecepatan

51
52

3750 rpm selama 5 jam yang meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas,

pengukuran ph, dan tipe krim serta viskositas dan sifat alir, dan uji daya hambat

bakteri Propionibacterium acnes.

III.C. Bahan uji

1. Bahan aktif yang digunakan adalah daun pepaya dari tanaman pepaya

(Carica papaya L) yang diperoleh dari kebun Balai Penelitian

Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO) Bogor.

2. Bahan tambahan yang digunakan adalah Asam stearat (Brataco

Chemika), Setil alkohol (Brataco Chemika), Isopropyl miristat

(Brataco Chemika), Trietanolamin (Brataco Chemika), Propilen glikol

(Brataco Chemika), Metil paraben (Brataco Chemika), Propil paraben

(Brataco Chemika), BHT (Brataco Chemika), dan Aquadest (Brataco

Chemika) dilakukan pemeriksaan berdasarkan monografi masing

masing bahan.

3. Alat yang digunakan adalah alat alat gelas laboratorium (Pyrex),

timbangan analitik (Adam AFA-210 LC), Viskometer brookfield

model RVF (Brookfield Engineering Laboratories), Oven (Memmert),

Inkubator (Memmert), pH meter (Eutech), Sentrifugator (Kubota

2500), Lemari pendingin (Toshiba), Jangka sorong (Vernier Caliper),

Laminar AirFlow (LAF), Vaccum Rotavapor (Bucchi), Waterbath

(Memmert).
53

III.D. Tahapan penelitian

1. Determinasi tanaman asal

Daun pepaya (Carica papaya L) di determinasi di Herbarium

Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Cibinong.

2. Pemeriksaan mutu bahan baku

Pemeriksaan terhadap asam stearat, setil alkohol, isopropyl

miristat, trietanolamin, propilen glikol, metil paraben, propil paraben,

dan BHT yang dilakukan berdasarkan monografi masing masing

bahan.

3. Pembuatan ekstrak daun pepaya secara maserasi menggunakan cairan

penyari etanol serta evaluasi secara organoleptik (bentuk, bau, warna)

4. Evaluasi ekstrak daun pepaya yg diperoleh dari Balai Penelitian

Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO) Bogor secara organoleptik

(bentuk, bau, warna)

5. Penapisan fitokimia pada ekstrak daun pepaya (Carica papaya L)

penapisan meliputi parameter sebagai berikut :

a) Penapisan flavonoid , b) penapisan tanin, c) penapisan

triterpenoid dan steroid d) penapisan saponin

6. Uji daya hambat ekstrak daun pepaya yang telah dibuat terhadap

bakteri Propionibacterium acnes

7. Krim dibuat sebanyak 4 formula menggunakan ekstrak daun pepaya

0%, 1%, 3%, 5% (b/b) dengan komposisi basis vanishing cream.

Formula krim dapat dilihat pada tabel 1:


54

a) Ditimbang seluruh bahan yang akan digunakan sesuai bahan

yang ada di tabel 1.

b) Lumpang dipanaskan dengan menuang air panas ke dalam

lumpang

c) Semua komponen yang larut dalam minyak dan tahan panas

di cairkan bersama dalam becker glass di penangas air pada

suhu 70 - 75C

d) Komponen yang larut dalam air dan tahan panas dilarutkan

dengan air suling di dalam gelas piala pada suhu 70 - 75C

e) Semua komponen minyak (b) dimasukan kedalam lumpang

sambil digerus dengan pengadukan konstan, kemudian

tambahkan fase air (c) sedikit demi sedikit, didinginkan

dengan pengadukan terus menerus sampai terbentuk basis

krim yang stabil.

f) Basis krim dimasukan sedikit demi sedikit ke dalam ekstrak

daun pepaya, gerus sampai homogen

g) Evaluasi sediaan krim terhadap bentuk, bau, warna meliputi

pemeriksaan organoleptik, tipe krim, kemampuan menyebar,

homogenitas, pH, viskositas dan sifat alir.

h) Uji daya hambat

Uji daya hambat krim ekstrak daun pepaya dilakukan

terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan metode

difusi agar.
55

9. Uji stabilitas

a. Uji Cycling test

Sediaan krim yang telah dibuat disimpan pada suhu

dingin 4 C selama 24 jam lalu dikeluarkan dan ditempatkan

pada suhu 40 C selama 24 jam, proses ini dihitung 1 siklus.

Percobaan ini dilakukan sampai 6 siklus. Hasil dari cycling test

kemudian dibandingkan dengan sediaan sebelumnya.

a. Uji sentrifugasi

Sediaan krim dimasukan ke dalam tabung sentrifugasi

kemudian dilakukan pengocokan atau sentrifugasi pada

kecepatan 3750 rpm selama 5 jam. Hal ini setara dengan

besarnya pengaruh gaya gravitasi terhadap penyimpanan krim

selama 1 tahun.

Formulasi sediaan krim ekstrak daun pepaya dirancang sebanyak 4

formula dengan 1 formula blangko dan 3 formula dengan perbedaan konsentrasi

ekstrak daun pepaya yang digunakan. Rancangan formula sediaan ekstrak daun

pepaya dapat di lihat pada Tabel 2.


56

Tabel 2. Formulasi Krim Ekstrak daun pepaya

Jumlah (%)
Bahan Fungsi
Blanko FI FII FIII

Anti bakteri
Ekstrak daun
0 1 3 5 Propionibacterium
pepaya
acnes

Solubilisator,
Asam stearat 5 5 5 5
emulgator

Setil alkohol 2 2 2 2 Stiffening agent

Trietanolamin 2,5 2,5 2,5 2,5 Emulgator

Emolien,
Isopropyl
3 3 3 3 meningkatkan
miristat
penetrasi kulit

Propilen glikol 15 15 15 15 Pelembab

Nipagin 0,15 0,15 0,15 0,15 Anti mikroba

Nipasol 0,05 0,05 0,05 0,05 Anti mikroba

BHT 0,01 0,01 0,01 0,01 Anti oksidan

Ad Ad Ad Pelarut
Air suling Ad 100
100 100 100

Keterangan

F = Formula
57

III.E. Skema Penelitian

Bahan Baku Simplisia Daun Pepaya

Pemeriksaan
Ekstraksi dengan
bahan baku
metode maserasi
Penapisan
fitokimia

Ekstrak daun
pepaya
Pembuatan sediaan
krim

Uji daya hambat ekstrak terhadap


Propionibacterium acnes

Sediaan krim

Uji daya hambat sediaan


Evaluasi
krim terhadap
sediaan krim
Propionibacterium acnes

Sediaan krim yang


memenuhi kriteria