Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN

SISTEM UTILITAS PADA BANGUNAN


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Utilitas Bangunan

Dosen Pengampu :
Anjar Primasetra, S.T., M.T.

Disusun Oleh :
Imas Fidya Hindarti NIM. 133.15.004
Citra Sri Maryati NIM. 133.15.007
Adila Lubna Mumtazah NIM. 133.15.008

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK DAN DESAIN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
JL. Ganesha Boulevard Kota Deltamas Lot A1 CBD (Tol Jakarta Cikampek km 37) Cikarang
Pusat Kabupaten Bekasi

1
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
I.1. Tujuan ...................................................................................................... 3
I.2. Manfaat .................................................................................................... 3

II. DASAR TEORI


II.1. Sistem Utilitas Pada Bangunan ............................................................... 3

III. PEMBAHASAN
III.1. Sistem Pemipaan Air Bersih ................................................................... 4
III.2. Sistem Pemipaan Air Kotor .................................................................. 13
III.3. Eskalator ............................................................................................... 16
III.4. Pencahayaan Alami dan Sun Shading ................................................... 22
III.5. Sistem Proteksi Kebakaran Pasif .......................................................... 29
III.6. Penangkal Petir ..................................................................................... 36

IV. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 41

2
I. PENDAHULUAN
I.1. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sistem utilitas bangunan
2. Untuk mengetahui sistem pemipaan air bersih
3. Untuk mengetahui sistem pemipaan air kotor
4. Untuk mengetahui sistem utilitas eskalator
5. Untuk mengetahui sistem pencahayaan alami dan sun shading
6. Untuk mengetahui sistem proteksi kebakaran pasif
7. Untuk mengetahui sistem penangkal petir

I.2. MANFAAT
1. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem utilitas bangunan
2. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem pemipaan air bersih
3. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem pemipaan air kotor
4. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem utilitas eskalator
5. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem pencahayaan alami dan sun shading
6. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem proteksi kebakaran pasif
7. Mahasiswa/i dapat mengetahui sistem penangkal petir

II. DASAR TEORI SISTEM UTILITAS BANGUNAN


Utilitas bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan
untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan,
kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan.
Jenis perancangan utilitas bangunan tinggi adalah sebagai berikut:
1. Perancangan sistem plambing dan sanitasi
2. Perancangan pencegahan kebakaran
3. Perancangan tata udara atau penghawaan
4. Perancangan daya listrik dan penerangan atau pencahayaan
5. Perancangan komunikasi
6. Perancangan CCTV dan sistem sekuritas
7. Perancangan penangkal petir
8. Perancangan tata suara
9. Perancangan transportasi dalam bangunan
10. Perancangan landasan helikopter
11. Perancangan pembuangan limbah sampah
12. Perancangan alat pembersih luar bangunan

3
III.
PEMBAHASAN

III.1 SISTEM PEMIPAAN AIR BERSIH


A. DEFINISI
Salah satu bagian dari utilitas bangunan adalah Plumbing.
Termasuk dalam ruang lingkup plumbing diantaranya adalah :
1) sistem penyediaan air minum,
2) sistem pembuangan air kotor,
3) dan sistem pembuangan air hujan didalam bangunan gedung.

Sumber Air bersih diambil dari sumber air tanah berupa sumur dalam (deep
well). Air dari Deep Well ini masuk ke tangki penampungan yang berfungsi juga
sebagai tangki pengendap lumpur/pasir yang terbawa dari sumur. Air dari roof tank di
alirkan ke seluruh instalasi bangunan dengan cara grafitasi.

Sumur bor, sebagai sumber air yang akan digunakan dibuat dengan total
kedalaman pemboran min 30 meter atau ada penambahan kedalaman dengan
menyesuaikan dengan kondisi permukaan air. Konstruksi sumur menggunakan pipa
PVAW wavin. Seluruh pelaksanaan teknis pembuatan sumur dalam ini harus
sepenuhnya mengikuti rekomendasi dan petunjuk teknis dari instansi terkait yaitu Dinas
Pertambangan Setempat dan Direktorat Geologi Tata Lingkungan, termasuk aturan
peletakan screen, ukuran konstruksi sumur yang diijinkan, dan penentuan kapasitas
pompa. Untuk menentukan lokasi titik sumur kontraktor harus melakukan test
geolistrik.

Pipa-pipa yang digunakan untuk instalasi air bersih adalah sebagai berikut :

1) Instalasi Air bersih untuk keperluan Domestic water (MCK) menggunakan pipa
Galvanis GIP kelas Medium, sesuai dengan standar SNI/SII (Medium A).
2) Instalasi Air Bersih untukProduksi Air Minum Dalam Kemasan menggunakan
Pipa PVC RUCHIKA AW Class.

4
B. Spesifikasi Teknis dan Produk
Fitting-fitting yang digunakan untuk pemipaan harus sesuai dengan standar pipa
yang digunakan.

Sambungan pipa air bersih dari bahan GIP, menggunakan system screw/ulir, dan
setiap sambungan ulir harus diberi lem epoxi kecuali pada penyambungan ke
peralatan plumbing seperti kran/valve menggunakan seal tape.

Sambungan pipa PVC menggunakan lem PVC dengan kualitas yang baik atau
sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat pipa PVC.
Kontraktor harus sudah memperhitungkan adanya gantungan atau support pipa
yang akan dipasang dengan memperhitungkan support harus kuat dan kaku. Jarak
support/gantungan pipa yang akan dipasang adalah setian 1,5 meter.

Untuk pipa-pipa yang ditanam dalam tanah dan harus melintas jalan, ditanam dalam
tanah dengan kedalaman yang cukup (diatas 1 meter) dan harus dilindungi dengan
pipa keras dengan diameter yang lebih besar.

Galian pipa dalam tanah, harus terlebih dahulu diisi pasir yang dipadatkan lalu pipa
digelar dan kemudian diurug kembali dengan pasir yang dipadatkan, sebelum
diurug dengan tanah asal.

Pompa-pompa yang digunakan harus dari merk yang dapat dipertanggungjawabkan


kualitasnya, termasuk juga after sales service dan ketersediaan suku cadangnya.
Pompa-pompa yang dapat direkomendasikan untuk digunakan adalah merk
EBARA, GRUNDFOS, TORISHIMA, CAPRARI, atau setara.

Motor listrik yang digunakan sebagai penggerak pompa harus di kopel langsung
oleh pabrik/distributor pemegang merk, dan motor listrik yang digunakan sesuai
dengan rekomendasi pabrik pembuat pompa tersebut.

Sebelum serah terima dilakukan test komisioning. Seluruh alat harus dicek fungsi
dan kapasitasnya, terutama untuk pompa-pompa harus dicek besarnya arus listrik
dan temperature kerja motor panas tidaknya.

Pekerjaan meliputi pengadaan, pemasangan, penyetelan dan pengujian dari semua


peralatan/material seperti yang disebutkan dalam spesifikasi ini, maupun pengadaan
dan pemasangan dan peralatan/material yang kebetulan tidak tersebutkan, akan
tetapi secara. umum dianggap perlu agar dapat diperoleh sistim instalasi air bersih
dan instalasi air kotor yang baik, dimana setelah diuji, dicoba. dan disetel dengan
teliti siap untuk dipergunakan.

5
C. Pekerjaan Penyediaan Air Bersih

1. Bahan

Bahan/material pipa untuk distribusi air bersih adalah GIP pipe, Pipa dan fitting
yang digunakan harus mengikutl standar SII dan harus disertai sertifikat hasil
pengujian.
Katup-katup (valve) untuk ukuran lebih kecjl atau sama dengan 50 mm dibuat danri
bahan kuningan dengan system penyambungan menggunakan ulir /screwed,
sedangkan yang lebih besar dari 50 mm dibuat dari bahan GIP, dengan system
sambungan ulir.
Penggantung pipa. (hanger) dan penjepit pipa (klem) harus dari bahan metal yang
digalvanis.

2. Pemasangan

Untuk sambungan yang menggunakan ulir harus memiliki spesifikasi panjang ulir.
Sebelum dilakukan penyambungan, baglan yang berulir harus dibersihkan terlebih
dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat.
Setiap pemasangan katup yang menggunakan ulir harus digunakan sepasang water
moer (union coupling) untuk mempermudah pekerjaan pemeliharaan.
Semua ujung yang terakhir, yang tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan
dop/plug atau blank flanged.
Pipa-pipa harus diberi penyangga, pipa-pipa tegak yang menempel sepanjang
kolom atau dinding dan pada setiap percabangan atau belokan harus diberi pengikat
(klem).
Penyangga pipa harus dipasang pada lokasi-lokasi yang ditentukan.
Apabila lokasi penggantung pipa berhimpitan dengan katup, maka penyangga
tersebut harus digeser dari posisi tersebut dengan catatan pipa tidak akan
melengkung apabila katup tersebut dilepas.
Pipa-pipa induk dan distribusi harus ditest dengan tekanan hidrostatik sebesar 8
kg/cm2 dan dalam waktu minimum 8 jam, tekanan tersebut tidak turun/nalk serta
tidak terjadi kebocoran.
Instalasi yang hasil testnya tidak baik, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat
yang diperlukan dan biaya perbaikannaya ditanggung oleh pemborong.
Pipa-pipa yang ada di atas langit-langit, sepanjang kolom, dinding dan pada
tempat-tempat yang terlihat harus dicat dengan wama sebagal berikut:

a) Pipa air bersih dengan warna biru


b) Pipa instalasi fire hydrant dengan warna merah
c) Pipa air bekas dan air kotor dengan warna abuabu
d) Pipa air hujan dengan warna putih

6
Sebelum air bersih dipakai, maka air yang ada dalam pipa dibuang dulu, kemudian
sistim pemipaan diisi dengan larutan yang mengandung 50 mg/I Chloor dan
didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam sistim dibilas dengan air bersih sampai
kadar sisa Chloor 2 mg/l.

3. Tanki Air Atas (Roof Tank)


Tanki air atas dibuat dan bahan Fiber Glass Reinforced Plastic (FRP),
dipasang 1 buah dengan kapasitas 5000 It. Type tanki yang digunakan adalah
vertical type, dilengkapi dengan lubang inlet, outlet, drain, manhole dan ventilasi.
Tanki ditempatkan pada dudukan yang kuat, konstruksi beton besi WF

D. Instalasi Air Bersih

Pipa instalasi plumbing siap terpasang seluruhnya.


Siapkan alat penekanan tekanan, pompa system mekanik atau pompa motor dan alat
ukur tekanan (pressure gauge).
Hubungkan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi
bangunan. Pengetesan dilaksanakan dengan cara bagian demi bagian dari panjang
pipa maksimal 50 meter atau atas petunjuk Pengawas/Direksi.
Setelah selesai hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan,
kran yang berhubungan ke instalasi diseluruh posisi ditutup dengan plug sesual
dimensi kran.
Pipa instalasi stap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge
menunjukkan tekanan 8 kg/cm2 atau atas petunjuk pengawas/ Direksi.
Tekanan 8 kg/cm2 ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus (atau atas
petunjuk pengawas/Direksi) tidak ada penurunan, kecuali akibat perubahan cuaca.
Untuk pemeriksaan tekanan bias dibuat daftar, dalam daftar ini tercantum tekanan
per-jam maupun keadaan cuaca pada saat uji tekan dilakukan.
Sesuai penguiian, sebelum pipa instalasi air bersih siap dipakai, maka pipa diisi
larutan yang mengandung 50 mg Chloor/lIter, dan didiamkan selarna 24 jam. Setelah
itu pipa instalasi dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa. chloor 2 mg/I

Sistem sambungan langsung


Sistem sambungan langsung adalah sistem dimana, pipa distribusi kebangunan
langsung dengan, pipa cabang dari sistem penyediaan air minum secara kolektif (dalam hal ini
pipa cabang distribusi PDAM). Karena terbatasnya tekanan air di pipa distribusi PDAM, maka
sistem ini hanya bisa untuk bangunan kecil atau bangunan rumah sampai dengan 2 (dua) lantai.
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem, ini adalah, air yang berasal dan pipa
cabang sistem penyediaan air minum secara kolektif (dalam hal ini pipa cabang distribusi
PDAM).

7
Gambar Sistem sambungan langsung.

Sistem tangki tekan


Biasanya sistem ini digunakan bila air yang akan masuk kedalam bangunan,
pengalirannya menggunakan pompa.
Prinsip kerja sistem ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Air dari sumur atau yang telah ditampuag dalam tangki bawah dipompakan ke dalam
suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga air yang ada didalam tangki tertutup tersebut
dalam keadaan terkompresi.
a) Air dan tangki tertutup tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan. Pompa
bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor tekanan, yang
menutup/membuka saklar motor listlik penggerak pompa.
b) Pompa berhenti bekeria kalau tekanan dalam tangki telah mencapai suatu batas
maksimum yang ditetapkan, dan bekerja kembali setelah tekanan dalam tangki
mencapai suatu batas minimum yang ditetapkan.
c) Daerah fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan antard 1,00 kg/cm2 sampai 1,50 kg/cm2
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah, air yang berasal
dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau dari sumur atau dan
PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air tanah).

Gambar Sistem tangki tekan.

8
Sistem Tangki Atap
Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai hal tidak dapat diterapkan,
maka dapat diterapkan sistem tangki atap dipompakan ke tangki atas. Tangki atas dapat
berupa tangki yang di simpan di atas atap atau dibangunan yang tertinggi, dan bias juga
berupa menara air. Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah air
yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDANI atau dari sumur atau
dari PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air tanah). Agar supaya system
penyediaan air minum di dalam bangunan gedung (plumbing air minum) dapat
berfungsi secara optimal, maka perlu memenuhi beberapa persyaratan diantaranya
adalah :
1) Syarat Kualitas
Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plumbing
air minum, harus memenuhi syarat kualitan air minum, yaitu syarat fisik, Syarat
kirmiawi, dan syarat baktereiologi, yang sesuai dengan peraturan pemerintah,
dalam hal ini Departmen Kesehatan.

2) Syarat Kuantitas
Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plumbing
air minum:, harus memenuhi syarat kuantitas air minum, yaitu kapasitas air minum
harus mencukupi berbagai kebutuhan air minum bangunan gedung tersebut.
Untuk menghitung besarnya kebutuhan air minum dalam bangunan gedung
didasarkan pada pendekatan sebagai berikut :
1) Jumlah penghuni gedung, baik yang permanen maupun vang tidak permanen.
2) Unit beban alat plumbing .
3) Luas iantai bangunan .

Gambar Sistem Tangki Atap.

9
3) Syarat Tekanan
Tekanan air yang berada pada sistem, plumbing (pada pipa) tekanannya harus
sesuai dengan kctentuan yang berlaku, diantaranya vaitu : antara 2,5 kg/cm2 atau
25 kolom air (mka) sampai 3,5 kg/cm2 atau 35 meter kolom air (mka) untuk
perumahan dan hotel 4,0 kg/cm2 atau 40 meter kolom air (mka) sampai 5,0 kg/cm2
atau 50 meter kolom air (mka) untuk perkantoran. Tekanan tersebut tergantung dari
peraturan setempat.

Untuk bangunan yang berlantai banyak, misalnya 64 tingkat maka tekanan air
dilantai bawah (untuk sistem pengaliran air dengan menggunakan tangki atap) akan
sangat besar yaitu sebasar 64 X 3,50 m = 224 meter kolom air (mka). Oleh karena
itu, agar air tidak, melampoi batas yang ditentukan, maka bangunan tersebut harus
dibagi dimana setiap zona tekanan airnya tidak melarnpoi tekanan yang yang telah
ditentukan.

Komponen-komponen atau bagian-bagian yang penting didalam sistem


penyediaan air minum suatu bangunan diantaranya adalah :
1) Sumber air
2) Pompa air
3) Pipa air dan perlengkapannya (assesories)
4) Tangki air
5) Peralatan plumbing air bersih

Air dari sistem penyediaan air minum kota


(PDAM) pada umumnya kualitasnya sudah
memenuhi persyaratan kualitas air minum,
kalau air dari sumber air individu, ada yang
sudah memenuhi syarat kualitas air minum ada
juga yang belum memenuhi. Kalau belum
memenuhi syarat kualitas air minum, maka air
tersebut harus diolah terlebili dahulu agar
memenuhi persyaratan air minum, sebelum
masuk ke dalarn sistem, plumbing bangunan
gedung.
Pompa air adalah suatu alat untuk menaikan
air dari level yang rendah ke level vang, lebih
tiriggi. Dillhat dart jenisnya dapat dibedakan
menjadi 2 (dua), yaitu pompa hisap dan pompa
hisap-tekan. Pompa hisap hanya menaikan air dari level di bawah pompa kelevel sama dengan
level pompa. Pompa hisap-tekan menaikan air dari level dibawah pompa ke level diatas pompa.

Pompa centrifugal akan efektif digunakan untuk menaikan air dari kedalaman lebih kecil
atau sama dengan 7.00 meter (jarak dari pompa centrifugal dengan permukaan air yang akan

10
di pompa < 7.00 meter). Untuk menaikan air, bila kedalaman muka air lebih besar dari 7.00
meter dari permukaan tanah, sebaiknya digunakan pompa jet (jet pump), atau pompa rendam
(submersible pump).

Agar pompa bisa berfungsi secara optimal (terutama pada pompa centrifugal), maka udara
tidak, boleh masuk kedalam pipa hisap.
Peralatan (assesories) yang harus ada sekitar pompa adalah :
1) Foot valve
2) Pipa hisap dan peralatannya
3) Pompa itu sendiri
4) Fleksible joint
5) Sambungan peredam getaran
6) Pipa tekan
7) Katup (valve)
8) Katup searah (swing valve)
9) Saringan (sirainer)
10) Kadang,-kadang manometer

11
E. STUDI KASUS
1) Contoh Perhitungan Kebutuhan Air Minum Untuk Rumah Tinggal:
Menentukan banyaknya kebutuhan air minum untuk rumah tinggal
sederhana dengan jumlah penghuni sebanyak 5 jiwa. Asumsikan kebutuhan air
sebesar 100 1/jiwa/hari. Kebutuhan air sebesar : 5 jiwa X 1001/jiwa/hari = 500 1/hari

Menentukan banyaknya kebutuhan air minum untuk rumah tinggal mewah


dengan jumlah penghuni sebanyak 8 jiwa. Asumsikan kebutuhan air sebesar 250
1/jiwa/hari. kebutuhan air sebesar : 8 jiwa X 250 1/jiwa/hari = 2.000 1/hari.

2) Contoh Perhitungan Kebutuhan Kapasitas Pompa Air


Setelah mendapatkan nilai volume pemakaian dalam sehari, tinggal dicari
spesifikasi kapasitas pompa air dalam mendistribusikan air. Spesifikasi kapasitas
pompa mendistribusikan air per menit, dapat anda temukan pada kardus kemasan
atau lembar manual pemakaian pompa. Biasanya, nilai kapasitas itu berada pada
kisaran 35 liter per menit dengan pemakaian daya listrik sebesar 350 VA per jam atau
350 x 0,8 = 280 Watt per jam (0,8 = nilai faktor daya).

Jadi, untuk menghasilkan 233 liter air per hari, pompa membutuhkan waktu selama :
233 / 35 = 6,6 menit.

Daya listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pompa selama 6,6 menit adalah:
280 x (6,6 / 60) = 280 x 0,11 = 30,8 Watt atau 30,8 / 1000 = 0,0308 kwh
Sehingga, daya listrik yang dibutuhkan pompa untuk mengakomodasi pemakaian
volume air sebanyak 233 liter per hari adalah 0,0308 kwh.

Kalau perhitungan tersebut diimplementasikan untuk pemakaian dalam sebulan,


maka menjadi : 0,0308 x 30 = 0,924 kwh.
Untuk pemakaian selama sebulan dalam satu rumah dengan penghuni sebanyak 4
orang, akan menjadi : 0,924 x 4 = 3,696 kwh.

12
III.2 SISTEM PEMIPAAN AIR KOTOR
A. DEFINISI
Untuk limbah air kotor yang berasal dari toilet dan bangunan-bangunan penunjang
masuk langsung ke septic tank yang dibuat berdekatan dengan bangunan tersebut, dan
masuk ke dalam tangki resapan serta over flow diarahkan ke saluran terdekat

Pipa yang digunakan untuk instalasi air bersih adalah sebagai berikut :
1) Instalasi Air Kotor menggunakan Pipa PVC AW Class dengan kualitas yang baik,
rekomendasi material pipa PVC yang boleh digunakan adalah : RUCHIKA, atau
WAVIN.

Pedoman dasar teknis yang dipakai pada prinsipnya adalah PEDOMAN


PLUMBING INDONESIA 1979.

Pemasangan pipa untuk system sanitary/toilet lengkap dengan sambungan--


sambungan untuk Kran air dan bak cuci di dapur.
Pemasangan pipa untuk system air kotor (dari WC), air bekas, sesual dengan
gambar.
Pemasangan pipa PVC untuk instalasi pipa vent yang dihubungkan derigan pipa
tegak air kotor maupun pipa tegak air bekas, serta pemasangan vent out pada puncak
pipa. vent tegak

1. Bahan

Jenis bahan yang dipakai untuk menyalurkan air bekas dan air limbah manusia
dalam bangunan memakai bahan PVC.
Pipa air buangan, air kotor menggunakan PVC klas AW untuk yang tertanam dalam
tanah.
Penyambungan pipa PVC dilakukan dengan solvent cement yang berkualitas baik.
Sebelum melakukan penyambungan pipa, bagian yang akan disambung harus
dibersihkan terlebih dahulu, bebas dari kotoran, air dan lain-lain. Solvent cement
harus merata pada bagian permukaan yang akan disambung.

2. Pemasangan

Sambungan-sambungan antara pipa PVC, diberi solvent cement darl kualitas balk
yang disetujui oleh pengawas/Direksi.
Pada pipa vent, semua ujung pipa atau fitting yang terakhir tidak dilanjutkan lagi
harus ditutup dengan dop atau plug dari bahan material yang sama.
Pipa PVC untuk saluran air kotor dan limbah manusia yang tertanam harus diberi
pondasi bantalan beton I pc + 3 ps + 5 krI pada setiap Jarak 3 m, pondasi ini juga
dipasang pada bagian sambungan pipa percabangan dan belokan.
Pipa tegak (riser) harus diberikan bantalan beton pondasi pada bagian pertemuan
antara pipa tegak dan datar di lantai dasar.

13
Pipa-pipa sebelum disambungkan ke fixture harus ditest dahulu terhadap
kebocoran-kebocoran.
Instalasi yang hasil testnya tidak balk, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat
yang diperlukan dan blaya perbalkan ditanggung pemborong.
Penanaman pada tembok harus ditutup oleh pekeriaan finishing
Plpa-pipa harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada hawa busuk keluar, dan
tidak ada rongga-rongga udara, letaknya harus lurus. Untuk pipa air kotor mendatar
yang berukuran lebih besar dari 80 mm harus dibuat kemiringan minimal I % (satu
persen), dan pipa yang berukuran lebih kecil atau sama dengan 80 mm harus dibuat
kemiringan minimal 2 % (dua persen). Pipa limbah manusia harus dipasang dengan
kemiringan minimal 2 % (dua persen)
Pada Ujung buntu dilengkapi dengan lubang pembersih (clean out) dengan ukuran
diameter 50 mm atau 80 mm,
Ujung-ujung pipa dan lubang-lubang harus didop/plug selama pemasangan, untuk
mencegah kotoran masuk ke pipa.

Instalasi Pipa Air Kotor, Pipa Limbah Manusia.

Pipa instalasi seluruhnya


siap terpasang.
Test dilakukan dengan
cara mengisi sistim, pipa,
dengan air dan salah satu
ujungnya. Pada bagian
ujung-ujung lainnya ditutup
dan air harus mencapal
elevasi yang paling atas.
Demikian seterusnya baglan
demi baglan sampai meliputi
seluruh sistem.
Air di dalam pipa yang
dimaksud ditahan sampai 8
jam. Penurunan permukaan
air maximal yang
diperbolehkan adalah 10 cm.
Setelah pengujian selesai
system pipa harus
dibersihkan dari segala
kotoran yang mungkin ada.

14
C. STUDI KASUS

1) Permasalahan Perawatan
2) Pembersihan pada bagian pipa
3) Pengecekan pada aliran pipa
4) Pelaksanaan
5) Pengelolaan air seblum diminum langsung

D. SOLUSI
1. Usulan Penetapan RKAT rehab instalasi Air, berdasarkan usulan unit kerja dan
Bagian pengelolaan Properti pada Tahun Anggaran Sebelumnya
2. Persetujuan dan Penetapan RKAT
3. Usulan baru Perbaikan/Rehab instalasi air unit kerja dalam tahun anggaran
berjalan
4. Persetujuan pelaksanaan
5. Proses Pengadaan Jasa Pemborongan
6. Pelaksanaan Perbaikan/Rehab dilaksanakan dengan swakelola
7. Pelaksanaan Perbaikan/Rehab dilaksanakan dengan Kontraktor
8. Pelaporan

Dalam membuat sebuah bangunan baik itu sebuah rumah tinggal dari yang bertipe
sederhana sampai ke rumah yang bertipe mewah dan gedung sederhana baik itu gedung
kerja maupun hotel dan apartment yang mewah sekali pun pasti memerlukan sanitasi yang
semuanya itu pasti menngunakan instalasi plumbing sedangkan Fungsi utama dari peralatan
plumbing gedung adalah menyediakan air bersih dan atau air panas ke tempat-tempat
tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan air sebagai proteksi kebakaran dan
menyalurkan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari lingkungan sekitarnya.

15
III.3 ESKALATOR
A. DEFINISI
Eskalator dan Travelator adalah sistem transportasi vertikal didalam bangunan gedung
untuk memindahkan orang / barang dari satu lantai ke satu lantai yang berikutnya.
Perbedaan keduanya adalah :

Eskalator diprioritaskan untuk transportasi orang dengan barang bawaan yang


dijinjing. sedangkan,-
Travelator untuk transportasi orang dengan barang yang didalam trolley.

Eskalator atau tangga jalan adalah salah satu transportasi vertikal atau tangga berjalan
yang terdiri dari pijakan- pijakan yang dipasang pada sabuk yang beputar secara terus
menerus dan digerakkan motor.biasanya berfungsi :

Untuk jarak yang pendek


Untuk memindahkan sejumlah orang dalam jumlah besar dan tidak ada interval
waktu tunggu
Pemakaiannya terutama di daerah pusat perbelanjaan, bandara, sistem transit,
pusat konvensi, hotel dan fasilitas umum lainnya

Eskalator digerakkan oleh motor listrik yang berputar secara tetap dan dilengkapi
dengan pegangan tangan yang bergerak sama cepatnya dengan kecepatan bergeraknya
anak tangga/ramp. Kecepatan yang bisa digunakan adalah antara 0,45- 0,60 meter/detik,
tetapi dengan rancangan khusus, kecepatan eskalator dapat dipercepat di atas 70
o o
meter/detik. Standard Kemiringan 30 . Kemiringan minimal 10 dan kemiringan maksimal
o
= 35 , dengan ketinggian maksimal 20 meter.

JENIS- JENIS ESKALATOR

1. ESKALATOR JALUR TUNGGAL


Adalah eskalator untuk satu orang berdiri, dengan lebar 60 cm
81 cm. dalam kecepatan 0,45 m/det kemampuan daya angkut
170 orang, sedangkan dengan kecepatan 0,60 m/det bisa
mencapai 225 orang untuk bangunan perkantoran dan pusat
perbelanjaan dengan luas lantai 10.000 meter persegi

16
2. ESKALATOR GANDA
Adalah eskalator untuk untuk dua orang berdiri
bersama.dalam satu anak tangga, dengan lebar
100 cm 120 cm. Daya angkut escalator ,untuk
kecepatan 0,45 m/det adalah 340 orang,
sedangkan dengan kecepatan 0,60 m/det bisa
mencapai 450 orang. Biasanya terdapat di
bangunan perkantoran dan pusat perbelanjaan
dengan luas lantai 20.000 meter persegi.

TATA LETAK ESKALATOR

1. Bersilangan
Double Cross Over. Perletakan
bersilangan antara naik dan turun,
sehingga dapat mengangkut penumpang
dengan dalam jumlah lebih banyak

2. Sejajar Arus Berputar

Diletakkan secara paralel. Perencanaannya lebih


menekankan segi arsitektural dParaan
memungkinkan sudut pandang yang luas.

3. Sejajar Arus Menerus

Cross Over. Perletakan bersilangan secara


menerus (naik saja atau turun saja). Kurang efisien
dalam sistim sirkulasi tetapi bernilai estetis tinggi.

KOMPONEN ESCALATOR
Eskalator mempunyai lebih dari sepuluh komponen utama seperti truss, motor
penggerak, sistem transmisi, tangga, track system, balustrade, decking, peralatan pengaman
dan sistem kelistrikan

17
Gambar kompones eskalator
Sumber: google images

PRINSIP KERJA ESCALATOR

1. Pendaratan / Landing
Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk
jalan ke ruang mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak.
Comb plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-
celah anak tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah
permukaan cleat.

2. Landasan Penopang / Truss


Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara
pendaratan bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga
yang terbuat dari bagian-bagian bersisi dua yang digabungkan bersama dengan
menggunakan sambungan bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah bagian
ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada penopang beton atau baja.

3. Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan
rantai anak tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat
dua lintasan: satu untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak
tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda trailer).

18
Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak
tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang
kembali ke dalam landasan penopang.
Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak tangga
mengelilingi bagian ujung dan kemudian menggerakkannya kembali ke arah yang
berbeda. Lintasan overhead berfungsi untuk memastikan bahwa roda trailer tetap
berada di tempatnya saat rantai anak tangga diputar kembali.

Gambar kompones eskalator


Sumber: google images

1. Tangga (step) dan handrail digerakkan oleh sebuah motor listrik seperti yang
terlihat pada sistem transmisi eskalator dalam gambar di atas.
2. Mekanisme berputarnya main axle menggunakan batang utama (shaft) driving
sprocket yang digerakkan oleh driving equipment melalui rantai penggerak
driving chain.
3. Sproket penggerak handrail dan tangga menggunakan rantai yang terpasang secara
terpisah.
4. Ukuran dari tiap roda rantai dan jumlah giginya dirancang sesuai dengan
keperluan pergerakan eskalator. Semua rantai mudah untuk dirakit dan dibongkar
serta dijamin kuat.

19
C. STUDI KASUS

1. THE UMEDA SKY BUILDING


Umeda Sky Building ( Umeda
Sukai Biru) merupakan gedung tertinggi ke dua belas
di Osaka, Jepang. Gedung ini terdapat Eskalator yang
merupakan eskalator terpanjang di dunia.eskalator
melintasi dua bangunan di atas 550 kaki dari ruang
yang berbahan material kaca.

Gambar umeda sky building


Sumber: google images

Gambar umeda sky building


Sumber: google images

Gedung ini terletak di Umeda, distrik Kita-ku, Osaka, Jepang. Perancangan


gedung ini dimulai pada tahun 1988 dengan nama proyek "Kota Langit" dengan 4
menara yang saling terhubung. Akan tetapi pada pelaksanaannya, hanya 2 menara yang
dibangun. Gedung dengan tinggi 173 meter ini dirancang oleh Hiroshi Hara dengan
menggunakan jasa konstruksi Takenaka Corporation. Pembangunan selesai pada tahun
1993. Gedung dengan 40 lantai ini, memiliki jembatan dan eskalator yang saling
menghubungkan kedua menara. Gedung ini digunakan untuk observatorium di atap
menara, observatorium taman melayang, restoran, underground market, dan lain
sebagainya.

Kelebihan :
1) Pencahayaan alami
2) mengangkut orang dalam jumlah banyak, yang digunakan pada gedung bertingkat.
3) efisien terhadap waktu yang digunakan sehingga mempercepat untuk mengarahkan
orang-orang pada tempat yang dituju.

20
4)
Kekurangan
1) Maintenance sulit
2) Biaya mahal
3) Ketergantungan listrik: jika listrik mati dapat menghambat kegiatan

2. WTC MANGGA DUA


Wtc Mangga Dua memiliki eskalator melengkung (spiral) untuk penggunaan
dalam ruangan dan kenaikan vertikal hingga 21 - 7 inci. Eskalator ini memiliki cara
kerja yang serupa dibandingkan dengan eskalator linier (lurus) dan menawarkan
pengalaman berkendara unik dan sensoris, Meningkatkan hubungan antara
penumpang dan lingkungannya.

Gambar wtc mangga dua


Sumber: google images

Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah


berhasil mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung
melengkung/curvedaripada melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak
pertengahan tahun 1980. Eskalator ini dipasang di Osaka, Jepang pada tahun 1985

Kelebihan :
1) estetika dan daya tarik pengunjung
2) mengangkut orang dalam jumlah banyak, yang digunakan pada gedung
bertingkat.
3) efisien terhadap waktu yang digunakan sehingga mempercepat untuk
mengarahkan orang-orang pada tempat yang dituju.

Kekurangan
1) Maintenance sulit

21
2) Biaya mahal
3) Ketergantungan listrik: jika listrik mati dapat menghambat kegiatan

III.4 PENCAHAYAAN ALAMI DAN SUN SHADING


A. DEFINISI
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar
matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik
juga dapat membunuh kuman. Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu
ruang diperlukan jendela-jendela yang besar ataupun dinding kaca sekurang-
kurangnya 1/6 daripada luas lantai.
Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding dengan
penggunaan pencahayaan buatan, selain karena intensitas cahaya yang tidak tetap,
sumber alami menghasilkan panas terutama saat siang hari.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar alami mendapat


keuntungan, yaitu:
1) Variasi intensitas cahaya matahari.
2) Distribusi dari terangnya cahaya.
3) Efek dari lokasi, pemantulan cahaya.
4) Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung.

Pencahayaan alami dalam sebuah bangunan akan mengurangi penggunaan


cahaya buatan, sehingga dapat menghemat konsumsi energi dan mengurangi tingkat
polusi. Tujuan digunakannya pencahayaan alami yaitu untuk menghasilkan cahaya
berkualitas yang efisien serta meminimalkan silau dan berlebihnya rasio tingkat
terang. Selain itu cahaya alami dalam sebuah bangunan juga dapat memberikan
suasana yang lebih menyenangkan dan membawa efek positif lainnya dalam psikologi
manusia.

Agar dapat menggunakan cahaya alami secara efektif, perlu dikenali ke


beberapa sumber cahaya utama yang dapat dimanfaatkan :

1) Sunlight, cahaya matahari langsung dan tingkat cahayanya tinggi.


2) Daylight, cahaya matahari yang sudah tersebar dilangit dan tingkat cahayanya
rendah.
3) Reflected light, cahaya matahari yang sudah dipantulkan.

Menurut Lechner (2001), Sun shading merupakan salah satu strategi dan
langkah pertama untuk mencapai kenyamanan thermal didalam bangunan, akan tetapi
untuk mencapai kenyamanan thermal terdapat aspek lain yang harus diperhitungkan.

Jenis dan Bentuk Sun Shading

22
Jenis sun shading sangat beragam dan terbagi menjadi beberapa klasifikasi,
pada penelitian yang dilakukan oleh Wall & Hube (2003), sun shading dibagi menjadi
3(tiga), yaitu External, Interpane, dan Internal. Dan berdasarkan dari ketiga jenis
diatas, hasil analisis mengatakan yang paling baik adalah External. Berikut adalah
ilustrasinya.

Gambar Jenis Sun Shading Berdasarkan posisi (2010)


Sumber: Dubois, 2010

Jika dilihat dari Gambar kita dapat melihat keuntungan dan kerugian dari
setiap posisi sun shading. Menurut Wall & Hube (2003), External sun shading adalah
sun shading yang efektif saat musim panas. Mengingat iklim Indonesia beriklim tropis
dimana suhu rata-rata yang tinggi, peletakan sun shading pada luar bangunan adalah
yang efektif.

Horizontal
Perangkat Horizontal memberikan keteduhan
berdasarkan sudut ketinggian matahari. Paling sering
terlihat dalam bentuk overhang, khususnya efektif
untuk shading bangunan yang memiliki elevasi utara
dan selatan. Perangkat Horizontal membiarkan
rendah sudut sinar matahari dan memblokir tinggi-
sudut sinar matahari, efektivitasnya bervariasi
tergantung dengan perubahan ketinggian matahari.

Gambar Horizontal Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images

Vertikal

23
Perangkat vertikal memberikan keteduhan berdasarkan sudut bantalan dari
matahari. Efektivitas mereka bervariasi, saat matahari bergerak mengelilingi
cakrawala. Perangkat vertikal memiliki kemampuan untuk memblokir rendah sudut
matahari, dan akibatnya mereka sering digunakan untuk bukaan menghadap ke timur
atau barat. Memblokir rendah sudut matahari juga menghalangi pandangan, dan karena
perubahan bantalan matahari sekitar 15 derajat per jam, sejumlah pandangangan dapat
diblokir. Perangkat vertikal dapat menjadi responsif disesuaikan terhadap perubahan
sudut matahari.

Gambar Vertical Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images

Egg-crate

Perangkat shading peti telur menggabungkan karakteristik perangkat vertikal dan


horizontal untuk meningkatkan cakupan shading

Gambar 2.1 Eggcrate Sun Shading (2013)


Sumber: Google Images

24
B. STUDI KASUS PENCAHAYAAN ALAMI
1. ROKI GLOBAL INOVATION CENTER

Gambar roki global innovation center


Sumber: google images

Arsitek Tetsuo Kobori membangun bangunan laboratorium penelitian


Pusat Inovasi Global ROKI, yang terletak di kota Hamamatsu di Prefektur Shizuoka,
Jepang barat.. bangunan tersebut memiliki struktur kayu dan baja yang luas dengan
banyak elemen ramah lingkungan. Desainnya memanfaatkan cahaya alami dan aliran
udara pasif, dan memiliki pintu geser yang mengaburkan batas antara luar dan dalam,
dan sistem manajemen energi yang menjaga emisi karbon tetap rendah.

Pusat Inovasi Global ROKI atau disebut juga "ROGIC" memaksimalkan


cahaya alami dengan jendela - jendela, yang sebagian besar dapat dibuka, dan juga
skylight untuk memungkinkan cahaya matahari untuk mengganti pencahayaan interior
buatan. Fitur itu sendiri menghemat 35 persen energi pencahayaan gedung.
Membiarkan udara segar mengalir melalui bangunan dari Sungai Tenryu di dekatnya
dan hutan yang berdekatan mengurangi kebutuhan akan AC, mengurangi beban
pemanasan dan pendinginan hingga 52 persen. Bangunan ini juga memanfaatkan
kemampuan alam untuk memberikan bantuan ringan dan ventilasi mengurangi
keseluruhan jejak energi bangunan dengan selisih yang signifikan.

Selain hemat energi, bangunan ini merupakan contoh fantastis dari elemen
desain alami yang menyatu dengan teknologi. Saringan langit-langit seperti kertas
Jepang, lantai kayu, dinding plester, dan perabotan kayu cedar mewakili hubungan kaya
bangsa dengan alam, dan berfungsi untuk membantu mengingatkan pekerja ROGIC
pada perubahan musim .

25
Gambar roki global innovation center
Sumber: google images

Pembangunan gedung selesai pada akhir 2013 setelah 18 bulan bekerja, yang
mengikuti lebih dari satu tahun pengembangan desain. Kompleks perkantoran tanpa
tiang dipilih oleh Proyek Model untuk Mempromosikan Pengurangan CO2 di Rumah
dan Bangunan, yang disponsori oleh Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi,
dan Pariwisata Jepang. Dengan contoh desain yang indah ini, mengilhami hubungan
dengan alam, dan penggunaan energi yang ramah planet, desain ROGIC akan
digunakan untuk mempengaruhi generasi masa depan arsitek ramah lingkungan untuk
menciptakan tempat yang lebih berkelanjutan untuk inovasi bisnis yang akan lahir.

2) Bandara Blimbingsari, Banyuwangi


Bandara blimbingsari merupakan bangunan hijau berlantai 2 beratapkan
rumput. Jika dilihat dari atas atau pinggir, model terminal serupa dengan udeng,
penutup kepala khas Banyuwangi.Konsep hijau gedung bandara di areal 1,3 hektare ini
digadang bisa lebih hemat, baik untuk pembangunan maupun operasionalnya. Selain
tampil dengan arsitektur penuh estetika, terminal ini mengedepankan penghematan
energi dengan pendekatan konsep rumah tropis yang mengutamakan penghawaan udara
alami tanpa air conditioner. Pencahayaan pada bangunan bandara ini dari kisi-kisi serta
atap bangunan, karena atap bangunan terbuat dari kaca.

Gambar bandara blimbingsari


Sumber: google images
26
C. STUDI KASUS SUN SHADING
1. Kiefer Technic Showroom, Austria
Ernst Giselbrecht + Paretner mempersembahkan Kiefer Teknik Showroom,
sebuah bangunan kantor dan ruang pameran dengan fasad yang dinamis
berdasarkan perubahan kondisi outdoor, mengoptimalkan iklim internal,
memungkinkan pengguna untuk personalisasi ruang mereka sendiri dengan kontrol
pengguna

Gambar Kiefer Technic Showroom


Sumber: http://www.archdaily.com

Konstruksi fasad terdiri dari dinding bata padat, langit-langit dan lantai beton bertulang, dan
baja terbungkus kolom beton. Detail fasad terdiri dari panel aluminium sebagai Sun Shading
yang beroperasi pada jendela.

Gambar Kiefer Technic Showroom detail fasad


Sumber: http://www.archdaily.com
27
2. Sequis Center
Terletak di Jalan Sudirman, bangunan ini dulu dikenal dengan nama S Widjojo
Center, kemudian pada 2010 berubah nama menjadi Sequis Center. Gedung ini
sangat erat dengan sejarah
masuknya bahan bangunan GRC
(glassfiber reinforce cement) ke
pasar Indonesia. Sequis Center
memanfaatkan GRC sebagai
shading bangunan dan
berdasarkan desain telah
menerapkan konsep bangunan
hijau.

Gambar gedung sequis life


Sumber: google images

Shading-shading GRC berfungsi mengurangi interaksi langsung sinar matahari,


sehingga suhu dalam ruangan berkurang dan dapat mengefisiensi penggunaan
pendingin ruangan.
Bangunan unik ini mampu melakukan penghematan listrik hingga 28,12 persen, sedang
penghematan air mencapai 28,26 persen.

28
III.5 SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PASIF
A. DEFINISI
Dalam menyediakan sarana proteksi kebakaran disuatu tempat, dikenal 2
istilah yaitu sarana kebakaran aktif dan sarana kebakaran pasif.
Berikut penjelasannya :

1. Sarana Proteksi Kebakaran Aktif


Sistem perlindungan kebakaran aktif merupakan bagian integral dari sistem
proteksi kebakaran yang meliputi pelatihan, deteksi dan pemadaman. Sarana
proteksi kebakaran aktif berupa alat ataupun instalasi yang disiapkan untuk
mendeteksi dan atau memadamkan kebakaran. Di antara sarana proteksi
kebakaran aktif antara lain :
1. Detektor asap, Api maupun Panas
2. Alarm kebakaran otomatis maupun manual
3. Tabung pemadam / APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
4. Sistem Hidran
5. Sistem Springkler
6. dsj.

2. Sarana Proteksi Kebakaran Pasif


Sarana proteksi kebakaran pasif adalah sarana proteksi kebakaran yang
bertujuan menghalangi atau menahan laju penyebaran asap, gas beracun, api dan
panas yang terjadi selama proses kebakaran selama selang waktu tertentu.

Diantara sarana proteksi kebakaran pasif antara lain :


1. Sistem kompartemensasi (pemisah banguna resiko kebakaran tinggi)
2. Sarana evakuasi dan alat bantu evakuasi
3. Sarana dan sistem pengendali asap dan api
4. Fire retardant (sarana pelambat api)

Sistem Proteksi Kebakaran Pasif bertujuan untuk melindungi bangunan dan


penghuninya. Waktu yang dibutuhkan pun bervariasi tergantung dari tujuan alat
digunakan namun secara komersial, waktu yang dibutuhkan adalah 240 menit.
Sebelum dijual ke pasaran, alat proteksi kebakaran pasif harus dilakukan testing,
adapun tiga kriteria testing yang dilakukan adalah:

a) Stabilitas
Sistem harus dapat memenuhi unsur proteksi untuk waktu yang diminta
b) Integritas
Sistem harus mencegah kebakaran dengan menahan asap dan gas berbahaya
menyebar untuk waktu yang diminta
c) Isolasi
Temperatur dalam ruangan tidak melebihi batas yang telah ditentukan dalam
waktu yang diminta.

29
Sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem proteksi kebakaran yang menjadi satu
kesatuan (inherent) atau bagian dari suatu rancangan atau benda. Sebagai contoh, dinding
kedap api merupakan bagian dari struktur bangunan untuk meningkatkan ketahanan terhadap
kebakaran. (Soehatman Ramli,2010) Sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem proteksi
kebakaran yang terbentuk atau terbangun melalui pengaturan penggunaan bahan dan
komponen struktur bangunan, kompartemenisasi atau pemisahan bangunanan berdasarkan
tingkat ketahanan terhadap api, serta pelindungan terhadap bukaan. (Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008). Sistem proteksi pasif merupakan sarana, sistem atau
rancangan yang menjadi bagian dari sistem sehingga tidak perlu digerakkan secara aktif.

Komponen Sistem Proteksi Pasif menurut (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


No. 26/PRT/M/2008) antara lain :
1. Pasangan konstruksi tahan api
2. Pintu dan jendela tahan api
3. Bahan pelapis interior
4. Penghalang api
5. Partisi penghalang asap
6. Penghalang asap
7. Atrium

B. TATA CARA PERENCANAAN SISTEM PROTEKSI PASIF UNTUK


PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG
BERDASARKAN SNI 03-1736-2000 (Revisi SNI 03-1736-989)

1. Persyaratan kinerja.
Suatu bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada
tingkat tertentu bisa mempertahankan stabilitas struktur selama terjadi kebakaran,
yang sesuai dengan :
a). fungsi bangunan.
b). beban api.
c). intensitas kebakaran.
d). potensi bahaya kebakaran.
e). ketinggian bangunan.
f). kedekatan dengan bangunan lain.
g). sistem proteksi aktif yang terpasang dalam bangunan.
h). ukuran kompartemen kebakaran.
i). tindakan petugas pemadam kebakaran.
j). elemen bangunan lainnya yang mendukung.
k). evakuasi penghuni.

30
Suatu bangunan harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkatan
tertentu mampu mencegah penyebaran asap kebakaran, yang berasal dari peralatan
utilitas yang berpotensi bahaya kebakaran tinggi atau bisa meledak akibat panas
tinggi. Suatu bangunan harus mempunyai elemen yang sampai pada batas-batas
tertentu mampu menghindarkan penyebaran kebakaran, sehingga peralatan darurat
yang dipasang pada bangunan akan terus beroperasi selama jangka waktu tertentu
yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. Setiap elemen bangunan yang
dipasang atau disediakan untuk menahan penyebaran api pada bukaan, sambungan-
sambungan, tempat-tempat penembusan struktur untuk utilitas harus dilindungi
terhadap kebakaran sehingga diperoleh kinerja yang memadai dari elemen tersebut.

Akses ke bangunan dan di sekeliling bangunan harus disediakan bagi tindakan


petugas pemadam kebakaran yang disesuaikan dengan :
a). fungsi atau penggunaan bangunan.
b). beban api.
c). intensitas kebakaran.
d). potensi bahaya kebakaran.
e). sistem proteksi aktif yang terpasang.
f). ukuran kompartemen kebakaran.

2. Ketahanan Api Dan Stabilitas


Tipe konstruksi tahan api terdiri dari tipe A, B, dan C :
1) Tipe A : konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan mampu
menahan secara struktural terhadap beban bangunan.
2) Tipe B : konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen penahan api
mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang di dalam bangunan.
3) Tipe C : komponen struktur bangunannya adalah dari bahan yang dapat
terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan secara struktural
terhadap kebakaran.

Tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel
di bawah ini :

31
32
C. STUDI KASUS
Dalam banyak kasus, proteksi pasif akan membakar ruangannya sendiri tanpa
menyebar ke area lainnya. Keunggulan lain dari sistem proteksi kebakaran pasif adalah
melindungi penghuni gedung untuk melaukan evakuasi dengan selamat. Hal ini
dikarenakan kebakaran tertahan dalam satu ruangan dalam waktu yang lama. Alat
proteksi ini juga melindungi bangunan dari kehancuran atau kerusakan akibat
kebakaran. Sehingga dapat menekan kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran baik
kerugian materi maupun korban jiwa

33
1. GEDUNG APARTEMEN GRENFELL TOWER DI LONDON

Kebakaran di London (Foto: REUTERS/Neil Hall)

Bangunan yang dikelola Kensington and Chelsea Tenant Management


Organization (KCTMO) menghabiskan biaya mencapai 10 juta pound sterling, hampir
Rp 170 miliar.
Renovasi meliputi pemasangan cladding atau material pelapis dinding, kaca jendela
berlapis dan sistem pemanas komunal. Ruane menduga ada kesalahan material pada
salah satu pengerjaan renovasi, namun hal ini baru bisa dibuktikan setelah
penyelidikan.
Warga mengatakan bangunan itu terbakar seperti korek api, mudah sekali api
merambat. Seorang warga lainnya mengatakan material pelapis dinding terbuat dari
spons yang mudah hancur, bisa jadi ini adalah bahan yang mudah sekali terbakar.

Prosedur mematikan
Selain material mudah terbakar, warga menyalahkan prosedur bangunan saat
terjadi kebakaran. Dalam selebaran yang dibagikan kepada warga usai renovasi,
pengelola mengatakan bangunan itu telah dirancang dengan standar keamanan saat
kebakaran. Jika terjadi kebakaran, berdasarkan selebaran, warga diminta tetap berada
di apartemen mereka, kecuali api berada di dalam apartemen atau di selasar atau
mereka diperintahkan untuk evakuasi. pengelola dalam selebaran itu mengatakan
pintu baru di tiap-tiap apartemen bisa tahan api hingga 30 menit. "Memberikan waktu
yang cukup bagi pemadam kebakaran untuk datang," tulis selebaran itu.
Kebijakan itu memang banyak diberlakukan di hotel-hotel bergedung tinggi,
efektif untuk kebakaran kecil. Namun dalam kasus ini, api menjalar sangat cepat dan
membakar pintu-pintu apartemen.
Penghuni yang mematuhi prosedur pengelola untuk tinggal di apartemen pada
akhirnya terjebak karena jalan keluar tertutup asap atau api.
Pemadam kebakaran datang enam menit ke lokasi setelah muncul laporan, namun
mereka tidak bisa mencapai para penghuni di lantai yang tinggi.

(https://kumparan.com/denny-armandhanu/mengungkap-misteri-penyebab-kebakaran-
hebat-di-apartemen-london)

34
2. PABRIK PETASAN DI KOSAMBI

Polda Metro Jaya mengungkapkan adanya proses pengelasan atap menjadi


penyebab kebakarakan pabrik petasan milik PT Panca Buana Cahaya Sukses di
Kosambi.Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono
mengatakan Subarkah Ega Sanjaya sedang mengelas atap.di bawah atap tersebut
bertumpuk 4.000 Kg kembang api. Pengelasan menyebabkan percikan api sebab
material dibawah atap merupakan bahan yang mudah terbakar. Diketahui, kebakaran
tersebut menyebabkan korban meninggal 48 orang sementara korban lulka-luka
berjumlah 46 orang. Komandan Petugas Pemadam Kebakaran Tangerang, Darda
Khadafi, yang tiba di lokasi saat pabrik masih terbakar, mengaku menemukan pintu
gerbang dalam kondisi terkunci. "Korban ada di dalam bertumpuk, ada produksi,
pintu gerbang dikunci, tidak ada akses keluar," kata Darda kepada KompasTV, Jumat
(28/10/2017).

Selain itu, beberapa warga sekitar pabrik juga menyebut karyawan


menggedor-gedor pintu gerbang. Tio, pengelola gedung serbaguna Salembaran Raya
di seberang pabrik kembang api, juga menyebut hal yang sama. Dia mengatakan,
setelah ledakan pertama, terdengar suara pegawai yang menggedor-gedor gerbang
depan pabrik tersebut.

"Selain memukul-mukul gerbang itu dari dalam, mereka juga berteriak


meminta tolong," kata Tio seperti dikutip dari Harian Kompas.

Kendati begitu, polisi tetap bersi kukuh bahwa pintu utama pabrik tersebut tak
terkunci saat peristiwa itu terjadi. Sebab, menurut polisi ada sejumlah karyawan yang
menyelamatkan diri melalui pintu itu.

"Jadi keterangan dari saksi, ada beberapa orang korban yang lari lewat pintu
depan. Ada keluarga pemilik umurnya 70 tahun juga lari lewat pintu depan. Jadi pintu
depan tak dikunci," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

35
Menurut Argo, para korban lebih memilih menyelamatkan diri melalui bagian
belakang pabrik karena saat itu bagian depan pabrik terbakar. Bahkan, warga
membobol tembok belakang pabrik untuk membantu mengevakuasi para korban.

PERMASALAHAN STUDI KASUS

1. Kurangnya K3 dilokasi pekerjaan


2. Material mudah terbakar
3. Pintu keluar terkunci, dan arah membukanya kearah dalam, tidak ke arah luar,
sehingga menyulitkan dalam mendobrak pintu bagi korban kebakaran.
4. Bangunan dan tingkat keselamatannya tidak sesuai standar
5. Adanya proses pengelasan atap menjadi penyebab kebakarakan pabrik petasan.

SOLUSI/PENERAPAN YANG TERBARU/TEKNOLOGI TEPAT GUNA

Pabrik petasan memang memiliki resiko sangat tinggi terhadap terjadinya


kebakaran. Desain bangunan tersebut seharusnya benar-benar memperhatikan K3
untuk keselamatan manusia didalamnya. Adanya titik kumpul, jalur evakuasi yang
jelas, serta penerapan sistem proteksi kebakaran penting untuk diterapan pada desain
bangunan. Tak hanya itu, posisi bukaan dan arah bukaan juga berpengaruh terhadap
keselamatan pengguna bangunan didalamnya. Pemilihan material yang mampu tahan
terhadap api juga sangat penting untuk diterapkan dalam desain.

III.6 PENANGKAL PETIR


6. DEFINISI
Sistem utilitas penangkal petir adalah sebuah jalur rangkaian kabel tembaga
yang difungsikan sebagai jalan atau aliran bagi petir menuju ke permukaan bumi
atau ground, sehingga petir tidak akan merusak benda-benda yang dilewatinya.

Ada 3 bagian utama pada peraturan sistem utilitas penangkal petir:

1) Batang sistem utilitas penangkal petir


mempunyai sifat mudah berkumpul dan lepas pada ujung logam Batang
sistem utilitas penangkal petir. Dengan demikian Batang sistem utilitas
penangkal petir dapat memperlancar proses tarik menarik dengan
muatan listrik yang ada di awan. Batang sistem utilitas penangkal petir ini
dipasang pada bagian puncak sebuah bangunan atau gedung.

2) Kabel konduktor sistem utilitas penangkal petir


berupa batang tembaga murni yang ujung tembaganya runcing. Batang
sistem utilitas penangkal petir dibuat menjadi batang sistem utilitas penangkal
petir yang runcing karena muatan listrik

3) Tempat pembumian untuk sistem utilitas penangkal petir

36
berfungsi mengalirkan muatan listrik dari kabel konduktor sistem
utilitas penangkal petir ke batang pembumian (ground rod) yang ditanam di
tanah. Batang pembumian terbuat dari bahan tembaga berlapis baja, dengan
diameter 1,5 cm dan panjang sekitar 1,8 - 3 m

System proteksi petir harus mampu melindungi fisik maupun peralatan


dari bahaya sambaran langsung (external protection) dan sambaran petir tidak
langsung (internal protection) serta penyediaan grounding system yang
memadai serta terintegrasi dengan baik.

Mengacu pada IEC (International Electrotechnical Commission)


TC 81/1989 tentang konsep Lightning Protection Zone (LPZ), sistem
proteksi petir yang sempurna terdiri dari 3 bagian :

1. Proteksi Eksternal
Yaitu instalasi dan alat-alat di luar sebuah struktur untuk
menangkap dan menghantar arus petir ke sistim pentanahan atau berfungsi
sebagai ujung tombak penangkap muatan listrik/arus petir di tempat
tertinggi. Proteksi Eksternal yang baik terdiri atas :

1) Air Terminal atau Interseptor


2) Down Conductor
3) Ekuipotensialisasi

2. Proteksi Pentanahan
Merupakan bagian terpenting dalam instalasi sistim proteksi petir.
Kesulitan pada sistim pentanahan biasanya karena berbagai macam jenis
tanah. Hal ini dapat diatasi dengan menghubungkan semua metal
(Ekuipotensialisasi) dengan elektroda tunggal yang ke tanah. Hal ini sesuai
dengan IEC TC 81 Bab 2.3.

3. Proteksi Internal,
Merupakan proteksi peralatan elektronik terhadap efek dari arus
petir. Terutama efek medan magnet dan medan listrik pada instalasi metal
atau sistem listrik. Sesuai dengan standar DIV VDE 0185, IEC 1024-1.
Proteksi Internal terdiri atas:

1) Pencegahan sambaran langsung


2) Pencegahan sambaran tidak langsung
3) Ekuipotensialisasi

37
JENIS-JENIS PROTEKSI PETIR

1. Single Rod (Franklin)


2. Sangkat Faraday (Meshed Cage/Faraday Cage)
3. Taut Wires
4. Early Streamer Emission Air Terminal

1. Single Rod

2. Sangkar Faraday

38
3. Taut Wires

4. Early Streamer Emission Air Terminal = EF


Sistem penangkal petir model Energi Froide (Electrostatic Field)EF
Lightening Protection System merupakan system penangkal petir modern.

Ada 3 prinsip yang sangat penting dimiliki oleh EF, yakni :

1) Penyaluran arus petir yang sangat kedap atau tertutup terhadap obyek sekitar
dengan menggunakan terminal penerima dan kabel penghantar khusus yang
memiliki sifat isolasi tegangan tinggi.
2) Menciptakan electron bebas awal yang besar sebagai streamer emission pada
bagian puncak dari system terminal.
3) Penggabungan EF Terminal dengan EF Carier yang memiliki isolasi tegangan
tinggi memberikan jaminan keamanan terhadap obyek yang dilindungi.

Sistem penangkal petir ini terbagi dalam 2 yaitu EF Terminal yang diletakkan di
puncak bangunan sebagai penangkal petir, dan EF Carier (kabel Penghantar ) yang
masuk kedalam tanah.

39
7. STUDI KASUS

40
IV. DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/document/335610405/Sistem-Utilitas-Bangunan
https://infomigas.org/sistem-perlindungan-proteksi-kebakaran-aktif-dan-pasif/
SNI 03-1736-2000
https://kumparan.com/denny-armandhanu/mengungkap-misteri-penyebab-kebakaran-hebat-
di-apartemen-london
http://blogs.upnjatim.ac.id/utilitas/2007/02/06/sistim-proteksi-petir/
https://f4iqun.wordpress.com/2007/08/01/perencanaan-instalasi-gedung-bertingkat/
http://architstyle.blogspot.co.id/2016/11/arsitektur-tropis-dan-bangunan-bangunan_26.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Sequis_Center_Tower
https://dotedu.id/sistem-transportasi-mekanis-didalam-gedung-eskalator/
http://tk-a.jp/works/article/72
http://wikipedia.com
http://umarcivilenginering.blogspot.co.id/2015/02/sistem-instalasi-plumbing-pemipaan.html

https://www.google.co.id/

41