Anda di halaman 1dari 8

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI APRESIASI KEARIFAN LOKAL

Prof Dr. Maryono Dipl RSL


Proloog:
Suatu pagi ketika jam pelajaraan Pelajaran Matematika di kelas IV SD mendadak sang
Guru merah mukanya. Gara-gara setelah menulis rumus di papan sang Guru aktif menjelaskan,
siswa aktif mengutip rumus di papan. Tiba-tiba si siswa mengatakan : bu kepalanya jangan
nutupi, saya nggak bisa lihat. Sepintas tidak ada yang salah, tetapi sang Guru faham bahwa
bahasa yang digunakan siswa terlalu vulgar, kurang sopan, sehingga merah mukanya. Yang
lebih parah sang Guru memberi penilaian bahwa siswa salah karena tidak menggunakan
tatakrama dalam berkomunikasi.
Jika dikaji secara mendalam, perilaku siswa dan perilaku Guru perlu dikoreksi. Alat
koreksinya adalah mengapa siswa tidak atau belum tahu bagaimana berkomunikasi yang baik
benar dan beretika. Sang Guru juga tidak harus emosional, perlu dicari akar masalahnya.
Masih banyak contoh lain tentang perilaku anak, remaja bahkan orang dewasapun yang
dilematis, kontraversial jika diukur dengan etika, tatakrama. Bukankah berbudi luhur,
berakhlak mulia sebagai tujuan, milestone pendidikan di Indonesia.
Surve yang baru saja saya lakukan (September 2012) terhadap 100 keluarga dengan
titik pengamatan tentang bahasa yang digunakan sehari dalam keluarga. Bahasa sebagai alat
komunikasi berdampak pada perilaku seseorang. Hasilnya ternyata dari 100 keluarga yang
masih menggunakan bahasa ibu, bahasa daerah dalam keluarga hanya tinggal 15 % saja.
Bahasa daerah yang ditanyakan dalam survey adalah bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa
Osing pada tataran krama(aspek etika). Ternyata mereka yang masih mempertahankan bahasa
daerah, memiliki kepekaan sosial lebih tinggi yang sudah meninggalkan bahasa ibu sebagai
alat komunikasi di dalam keluarga. Salahsatu kepekaan yang ditunjukkan dalam keseharian
adalah kesantunan, penghormatan kepada yang lebih tua. Temuan lain, ternyata hanya 10 %
saja anak yang kerap mendapat dongeng, atau cerita dari orangtua terutama dari ibu. Mereka
yang mendapat dongeng memilki daya imajinasi dan memahami dan akan meniru perilaku baik
seperti dicontohkan dalam dalam dongeng. Dibagian lain ditemukan anak yang mengikuti les
atau tergabung dalam sanggar tari, paduan suara memilki tingkat disiplin dan kebersaamaan

1
lebih tinggi dibanding yang tidak mengikuti. Hal itu wajar karena anak yang mengikuti tari atau
paduan suara harus disiplin dan bekerjasama agar tidak membuat kesalahan

Fokus
Ketika disana sini ribut masalah perilaku yang dilihat dari perpekstif prososial, atau
kacamata kecerdasan emosi, maka itu merupakan refleksi dari akumulasi ketidak seimbangan
antara kecerdasan nalar(kognitif, olah fikir) dengan kecerdasan emosi (efeks, olahrasa)
sehingga menghasilkan kecerdasan sosial yang lemah.
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, adalah bagian dari seni-budaya. Bahasa juga
sebagai produk budaya. Pranata sosial apapun bentuknya akan menggunakan bahasa sebagai
symbol isi, maksud hati bahkan releksi karakter, watak. Menelaah bahasa terutama bahasa ibu
yang notabene sebagai warisan budaya (cultural heritage)bukan berarti berfikir primordial,
setback. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi bukan asal diucapkan, tetapi didalamnya
terkandung rasa, emosi. Sebagai contoh ketika kata ya duicapkan dengan intonasi berbeda
akan memiliki dampak emosi berbeda.
Kini ketika semua fihak merasakan ketidak nyamanan dalam berinteraksi sosial, hampir
tidak terelakkan yang dijadikan biangkeladi adalah para pendidik yang berperan sebagai goal
keeper pendidikan karakter. Karakter menjadi menu utama sekaligus harapan masyarakat.
Bahkan pemerintah sejak 2 Mei 2010 ditabuh genderang tentang pendidikan karakter di
sekolah. Demikian menariknya menu karakter, demikian tidak sedikit member arti atau definisi
karakter. Ada yang menyamakan pengertian karakter dengan kepribadian, ada yang
menerjemahkan karakter sebagai watak. Paling tidak masalah karakter refleksi individu ketika
berada diantara individu lain sebagai predisposisi yang dimiiki sebagai latar belakang
perilakunya.
Karakter mengalami tumbuh kembang karena Faktor eksternal yakni lingkungan. Dari
hal inilah pemilik karakter sering dikaitkan dari mana asalnya. Ketika lingkungan berkontribusi
besar terhadap terbentuknya karakter, maka dari situlaah konsep karakter dibentuk. Istilah
kepribadian sering dikaitkan dengan karakter dimana bertumpu pada totalitas nilai individu
dalam kehidupan sosialnya. Dari hal itulah menjadi pembeda antara manusia dengan hewan.

2
Ada sejumlah unsur psikologis yang terlibat dalam karakter. Sikap, emosi, kepercayaan,
kebiasaan dan kemauan serta konsep diri. Karakter digenerik lewat pembiasan karena contoh
atau teladan.
Untuk menggambarkan bagaimana wujud karakter, telah banyak ditemukenali
rumusannya. Salahsatu diantaranya adalah jujur, atau kejujuran yang sering berdampak pada
perilaku prososial. Rumusan lain yang juga sering dimunculkan adalah sadar sebagai makhluk
Tuhan dan sebagai makhluk sosial. Dengan demikian maka karakter diwujudkan dalam fikiran,
sikap, perasaan, perhatian dan perbuatan.
Faktor luar diri yakni lingkungan terdiri dari berbagai produk rekayasa manusia maupun
keadaan alam yang diciptakan Yang Maha Kuasa. Lingkungan dimana terjadi interaksi bermodal
kemampuan olah nalar dan olah hati menghasilkan karya budaya. Budaya dalam arti makro,
paling mudah dikenali adalah kebiasaan, seni, bahasa, symbol-simbol lain sebagai media
sosialisasi.
Budaya sebagai kreasi manusia terus mengalami perubahan. Globalisasi sangat
memungkinkan mempercepat perubahan budaya. Hampir terlupakan bahwa budaya global
berakar dari budaya lokal. Budaya lokal sebagai kearifan lokal (lokal genius) semakin
terpinggirkan bahkan ditinggal karena arus global. Arus global demikian deras dan kuat
sehingga tanpa disadari sebagian masysrakat berada dalam turbolensi globalisasi. Arus global
tidak mudah dihentikan, yang untung jika mampu mempertahankan diri (defence).
Perkembangan IPTEK disamping membawa manfaat, juga membawa mudlarat. Arus globalisasi
merampak ke semua pranata masyarakat. Keluarga, sekolah, ormas atau lembaga
kemasyarakatan tak akan liput dari terpaan arus globalisasi.
Ketika kesadaran muncul akibat merasakan dampak negative globalisasi, ada upaya
untuk mempertahankan dengan memperkuat karakter yang terbangun lewat pengolahan
budaya diri, budaya lokal. Bahasa, ragam seni, kebiasaan kebersamaan adalah sebagain
bentuk budaya lokal yang sarat dengan kearifan, tuntunan. Manifestasi budya lokal dapat
ditemukan maknanya jika dibaca, dicermati bukan hanya lewat pengamatan sepintas. Makna
kearifan lokal akan tertangkap jika menggunakan nalar, dan potensi olah hati dan olah raga.

3
Sebagai contoh sederhana mengapa anak yang masih menggunakan bahasa ibu, bahasa
daerah taraf sopan/halus(Jw. krama) lebih memiliki karakter lebih terkontrol dibanding yang
sudah tidak menggunakan. Anak atau remaja yang masih hafal dan mampu melantunkan lagu-
lagu atau tembang lebih mudah berempati. Bukankah budaya lokal sarat dengan nilai, ajaran
luhur. Penggemar seni daerah walau kini semakin langka mampu mengolah rasa dengan cara
identifikasi peran. Gambaran itu bukan bermaksud menarik ke masa lampau yang sudah
terlewati. Jika ya bukankah berarti berjalan mundur, jika mundur akan tertinggal. Analisis atau
dugaaan itu tidak serta dimaknai secara sepintas sehingga mengiyakan kembali kemasa silam.
Harus dicermati dulu paradigm maju yang diidentikkan dengan modern dapat menjadikan
masyarakat lebih tampak modern, maju, mengglobal. Apa untungnya jika pengikutan arus
akan menjadi babak belur, kehilangan jati diri. Hal ini yang dirasakan oleh masyarakat. Ketidak
nyamanan dalam berinteraksi, kehilangan kendali dan perilaku asosial lain menjadi berita dan
tontonan setiap saat. Yang demikian merupakan bibit dari kerusakan akibat ulah manusia.
Sebaliknya yang lama(budaya) bukan barang lama, stock masa silam yang merepotkan.
Memang budaya lokal lama adalah simbolisasi yang sarat muatan pendidikan. Menangkap
makna warisan generasi sebelumnya, jika tidak pernah dituturkan akan sia-sia. Sebagai
ilustrasi hasil survey kecil ternyata para orang tua, Guru tidak mampu menularkan budaya lokal
karena tidak terkondisikan.
Masih contoh budaya lokal sebagai pengendali budaya global. Lagu lagu wajib, lagu
perjuangan, lagu daerah, seni bermuatan edukasi, makanan, busana, pengobatan/jejamuan
dan masih banyak lagi sudah jauh ditinggal. Komunikasi antara orangtua dengan anak, antara
Guru dengan siswa sudah ikut arus komunikasi internasional. Memang dalam era globalisasi
dibutuhkan kekampuan berkomunikasi secara global (berbahasa asing). Namun kurang bijak
dan berdampak pada perubahan perilaku jika budaya lokal serta merta ditinggal. Lebih tragis
jika penggunaan budaya lokal dianggap ribet, kuna yang sudah ketinggalan jaman. Penguasaan
bahasa seirama dengan aplikasi IPTEK diperlukan penguasaan jamak bahasa(multi language).
Wawasan dan kemampuan serta perilaku terjaga jika warisan generasi sebelumnya masih
dipertahankan. Sebagai contoh kecil seorang Guru sekolah dasar dinobatkan sebagai Guru
teladan tingkat nasional karena memilki kesadaran pentingnya penggunaan budaya lokal

4
mendampingi budaya global. Ketika siswa rebut, si Guru tidak serta merta merespons dengan
emosi, justru si Guru melantunkan lagu daerah sambil diterjemahkan. Suasana kelas menjadi
tenang karena siswa terheran apa yang dilagukan oleh si Guru. Diduga si Guru mengaplikasi
aliran esensialis pendidikan, bahwa tujuan pendidikan adalah sebagai transmisi budaya utntuk
membentuk solidaritas sosial dan kesejahteraan. Pendidikan sebagai wahana memperkuat diri
sebagai diri sendiri dan sebagai bagian dari masyarakat luas. Ada sejumlah indicator karakter
yang dikehendaki antara lain religious, jujur, cerdas, tanggung jawab, disiplin, tolong
menolong, menggunakan nalar secara optimal dan menjaga kesehatan.
Pertanyaanya dari mana pendidikan karakter dimulai. Seperti dipaparkan bahwa
karakter disemaikan dari lingkungan. Lingkungan sebagai wahana berinteraksi berupa pranata
yang disebut sebagai keluarga, sekolah/lembaga pendidikan dan lembaga masyarakat. Dari
lingkungan individu akan mengidentifakasi, mengimitasi bahkan mengadopsi perilaku yang
menumbuhkan kembangkan karakter.
Lingkungan keluarga berisi semua anggotanya, akan saling berinteraksi dalam porsi
waktu lebh banyak dibanding dengan interaksi di luar keluarga. Karakter anak akan
mengadopsi kebiasaan yang dialami didalam keluarga. Orang tua sebagai sosok yang sangat
dekat dengan anak-anak diperankan sebagai model bagi anak-anaknya. Walau keluarga sebagai
lahan persemaian karakter, akan tetapi sudahkah pemimpin sekaligus pendidik keluarga
memilki karakter yang kokoh. Masalahnya bukan terletak pada lamanya anak berada di
lingkungan keluarga, melainkan apakah dalam keluarga telah tercermin suasana pendidikan
yang memungkinkan tumbuhnya karakter bagi anak-anak. Sudahkan orangtua berperan
sebagai parenting for character building. Sudahkah keluarga membangun kecerdasan utuh
bagi anak-anaknya.
Membangun karakter dalam keluarga dimulai sejak dalam kandungan berupa
perawatan janin dan stimulasi kecerdasan si bayi. Hal yang tidak penting ketika telah lahir dan
menjadi anak-anak adalah melatih kemandirin, kepedulian sosial. Hal demikian menjadi
uratnadi dalam interaksi keluarga. Pemberian stimulasi selama tumbuh kembang untuk
membangun karakter, dapat dengan cara mewariskan kerarifan lokal untuk menuntun perilaku
anak.

5
Pranata selanjutnya adalah tempat dimana anak mendapat pendidikan formal maupun
nonformal. Peran utama dalam pengembangan karakter berada pada SDM (sumber daya
manusia) dan ilkim dimana anak mendapat pendidikan. SDM bukan hanya para Guru saja,
melainkan Pimpinan, pelaksana adimistrasi, unsur penunjang pendidikan lain diantaranya
Perpustakaan, laboratorium, UKS, Kantin, penjaga. Tak dipungkiri bahwa tulangpunggung
pendidikan karakter di sekolah berada difihak Guru. Bukankah porsi waktu yang paling banyak
adalah interaksi Guru-siswa dalam KBM. Lebih jauh sosok Guru menjadi sentra panutan, pusat
idola bagi siswa;bahkan sebaliknya ketidak nyamanan perilaku siswa juga berasal dari Guru.
Kenyamanan siswa merupakan syarat dalam proses dan meraih tujuan pembelajaran;bahkan
lebih jauh demikian besar ikatan emosional antara Guru-siswa, kepercayaan kepada perilaku
Guru lebih besar dibanding dengan kepercayaan terhadap orangtua. sebagai contoh kecil anak
lebih memepercayai petunjui Guru dibanding petunjuk orangtua dalam menyelesaikan tugas
belajar di rumah. Kurangnya memainkan komptensi pendidik berdampak pada pembentukan
karakter siswa. Seharusnya komunikasi antara Guru-siswa adalah lebih menerapakan
komunikasi sosial sehingga terjadi akatan emosional yang kuat. Ketika Guru berperilaku
prososial akan mematik rasa ketidak akraban (fear arousing) bahkan konflik berkepanjangan.
Pada dasarnya sangsi, punishment merupakan salahsatu alat pendidikan. Akan tetapi tidak
serta merta dengan murah dan mudah diterapkan kepada siswa. Punishment dapat berfungsi
sebagai media menuju perilaku prososial, menumbuhkan karakter, akan tetapi dalil untuk
menjatuhkan tidak sedikit. Salahsatu dalil dalam menjatuhkan sangsi adalah Guru tidak dalam
keadaan marah, uring-uringan.
Suasana atau lingkungan sekolah member kontribusi bagi pembentukan dan
pengembangan karakter. Kegiatan ekstra kurikuler yang didukung oleh kecukupan sarana
membuat iklim sekolah menjadi tempat yang disenangi anak. Olah raga, olah seni, kegiatan
dan sarana ibadah, sarana kesehatan adalah bagian dari kelengkapan pengembangan karakter.
Memang ada upaya merangsang tumbuhnya karakter dengan membuat warung kejujuran;
namun hampir sebagian besar bangkrut, kolaps. Faktor penyebabnya salahsatu diantara
adalah karakter kejujuran hanya ditjukan kepada siswa. para Guru dan SDM lain kurang atau
bahkan tidak menjadi contoh bagi siswa.

6
Pranata lain tempat persemaian karakter adalah di masyarakat. Justru disinilah akan
berdampak dan semakin pelik. Ketika masyarakat sebagai wahana supplement pendidikan,
tidak mudah untuk melakukan control dan evaluasi. Beruntung jika institusi yang dimiliki
masyarakat bertujuan meningkatakan karakter, jika sebaliknya masyarakat luas akan rugi.
Lembaga keagamaan dengan serangkaian kegiatannya, tempat kursus atau seni dan olahraga,
lembaga bimbingan belajar adalah sebagaian contoh pranata yang dimiliki masyarakat untuk
pembangunan karakter. Kecuali itu ketika anak berada ditengah masyarakat, rangsangan
antara dari media massa, komunitas sesaat tidak mudah dihindari, perilaku yang tidak
prososial misalnya pelanggaran hukum tampak demikian jelas. Hal ini yang menjadi pemicu
anomali tumbuhnya karakter
Dari sekian pranata untuk penumbuh kembangkan karakter sejatinya muncul masalah
krusial. Tidak atau kurangnya jalinan antara pranata mempersulit keberhasilan munculnya
karakter yang diinginkan. Jelasnya masing-masing pranata menonjolkan otonomi. Keluarga,
sekolah, lembaga masyarakat kurang tampak sinergi. Sebagai contoh ketika sekolah
membiasakan untuk bergotong royong membersihkan sekolah, orang tua protes karena dinilai
bahwa anaknya hanya diajak bekerja bakti, apalagi si anak di rumah tidak pernah diajak
melakukan kerja bersama anggota keluarga. Keluarga dan sekolah tidak mudah mengontro
anak yang mendatangi tempat bermain (Warnet, PS dll).

Pamungkas :
Pendidikan karakter adalah tanggung jawab semua orang. Dimana anak berada
disitulah karakter terbentuk. Karakter berintikan perilaku yang menyangkut aspek kecerdasaan
secara untuh. Suasana dan media untuk menumbuh kembangkan karakter sudah waktunya
untuk dibenahi. Semua pranata pendidikan memiliki tanggung jawab terhadap karakter
generasi kini dan mendatang. Secara historis-antropologis masyarakat telah memilki potensi
budaya. Budaya sebagai bekal untuk bermasyarakat walau akan terus mengalami perubahan.
Budaya bersifat dinamis, namun menjadi ciri kaarakter pemilkinya. Globalisasi secara dinamis
telah hadir, justru karena lemahnya karakter, globalisasi disegala aspek menjadi menu yang
lebih diminati masyarakat. Mindset masyarakat termasuk anak, remaja, telah terkontaminasi

7
oleh budaya global yang tentu tidak selalu seiring dengan budaya lokal. Budaya lokal yang
muncul di era abad silam, terkandung unsure edukasi untuk memupuk karakter pemiiliknya.
Terdapat beberapa hal yang pantas sebagai penuntun langkah edukasi dalam rangka penumbuh
kembang karakter yakni :
1. Dibutuhkan keteladanan dari masyarakat (orang tua, pendidik, tokoh, pemimpin), bukan
sebatas petunjuk, bimbingan atau sekedar pemberian contoh.
2. Mengubah tatapikir(mindset) bahwa budaya lokal, sudah ketinggalan jaman
3. Terjalinkan hubungan serasi dan saling menguntungkan dan menghormati antar pranata
pendidikan dengan lebih mendahulukan terjaganya karakter
4. Mencintai dan memelihara serta memanfaatkan lingkungan sebagai media
pembelajaran

Referensi:
- Goleman, Daniel; 2005, Emotional Intellegence; Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
- Koesoema A, Doni; 2010; Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global;Grasindo, Jakarta
- Muin, Fatchul; 2011; Pendidikan karakter, Ar-Rus Media, Yogyakarta
- Naomi, Omi Intan(ed);2001 Menggugat Pendididikan:Fundamentalis, Konservatif,
Liberal, Anarki, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
- Prawitasari, Johanan E; 2012; Psikologi Terapan; Erlanga, jakarta