Anda di halaman 1dari 5

Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini,

Gagasan yang Menuju Tindakan


Oleh : Andreina Marcelina

Anak pada usia dini (0-6 th) memilki karakteristik yang unik. Mereka aktif, spontan, ceria, dan
penuh rasa ingin tahu. Smua stimulus akan direspon pada usia ini, semua informasi akan diserap
dan mereka akan menangkap apa saja yang ada disekitarnya. Anak-anak aktif dan belajar melalui
semua inderanya.

Anak usia dini kita ibaratkan seperti spons yang menyerap smua yang ada di sekelilingnya dan
semua yang diserap itu akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan kepribadiannya kelak.

Pendidikan karakter pada usia dini merupakan proses belajar tentang segala aspek dan komponen
yang dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang matang dan paripurna, dimana orang tua,
guru, lingkungan dan masyarakat berperan sebagai pilar utamanya. pada usia ini anak sangat
membutuhkan keteladanan, bukan hanya sekedar nasehat atau norma tertulis.

Proses belajar pada anak usia dini :

ORANG GURU/
TUA/ PEMBENTUKAN
KELUARGA
SEKOLAH IMITASI/
IDENTIFIKASI/MENGENALI INTERNALISASI
MENIRU KARAKTER
ANAK
LINGKUNGAN
MASYARAKAT

Imitasi adalah proses meniru atau mencontoh, dimana pada pada anak usia dini proses inilah yang
pertama dilakukannya dalam memenuhi rasa ingin tahu dan merespon stimulasi lingkungan. Anak
akan meriru smua yang dia lihat, dengar dan rasakan dari lingkungan.

Identifikasi adalah proses selanjutnya ketika imitasi diberi penguatan berupa reward and
punisment serta dilengkapi dengan deskripsi yang baik. Anak akan belajar mengenali semua prilaku
yang ditirunya dan mulai bisa membedakan mana prilaku yang dapat diterima dan memberi
dampak positif serta mana prilaku yang tidak bisa diterima dan memberi dampak negatif.

Internalisasi adalah proses pemahaman ketika prilaku yang suhat dikenalinya mulai dibiasakan
dan diberi penguatan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Internalisasi inilah yang
kemudian membetuk pemahaman anak dan membangun fondasi kepribadiannya secara utuh.

Misalnya, anak meniru tokoh kartunnya yang suka melempar barang ketika bertarung, ini adalah
proses imitasi dan biasanya dilakukannya ketika bermain peran dengan teman-temannya. Orang
tua dan gurunya membantu melakukan proses identifikasi bahwa melempar barang kepada teman
tidak bisa diterima karena akan menyakiti teman dan hal tersebut tidak sopan, maka disini anak
belajar untuk membedakan prilaku mana yang bisa diterima oleh masyarakat dan yang mana yang
tidak. Prilaku positifnya diberi penguatan dengan pujian atau hadiah yang lain sehingga akan
berulang dan cenderung menetap. Kebiasaan dan pemahaman terhadap prilakunya inilah yang
kemudian terinternalisasi dalam karakternya dan menjadi komponen dalam pembentukan
kepribadian.

Tujuan Pendidikan Karakter pada Usia Dini

Belajar adalah hakekat manusia, dilakukan semenjak manusia ada di dalam kandungan sampai ke
penghujung usianya nanti. Maka pendidikan karakter pada usia dini bertujuan untuk membantu
proses belajar anak dalam pemahaman norma dan nilai sehingga mampu memilki semua
komponen yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan paripurna yang sesuai
dengan perkembangan zamannya.

Pendidikan karakter menjadi sesuatu yang urgen pada saat ini karena semakin maraknya terjadi
demoralisasi dan degedrasi pengetahuan dalam masyarakat. Masyarakat cenderung lebih
menghargai keunggulan intelektual dan menyampingkan kematangan emosianal, sosial dan
spiritual. Banyak muncul lulusan sekolah dan sarjana yang berotak cerdas tetapi mentalnya lemah
dan prilakunya tidak terpuji. Penelitian telah mengungkapkan bahwa ternyata keberhasilan dan
kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemapuan teknis
(hard skill) semata tetapi jug oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Berangkat dari sinilah maka pendikikan karakter sebaiknya masuk pada ranah terkecil dan dimulai
sedini mungkin agar lahir generasi penerus yang memilki kepribadian berkualitas dan paripurna
sehingga mampu menjadi penopang bagi bangsa yang hebat, tangguh dan mampu berperan dalam
tataran dunia.

Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan Pada Usia Dini

Nilai spiritual dalam hubungannya dengan Tuhan. Nilai ini bersifat religius, dimana anak
belajar untuk memahami bahwa pikiran, perkataan dan tindakannya diusahakan selalu
didasari oleh nilai keTuhanan dan ajaran agamanya
Nilai yang berhubungan dengan dirinya sendiri secara internal, seperti kejujuran, tanggung
jawab, disiplin, mandiri, percaya diri, kreatifitas, hidup sehat dan cinta ilmu.
Nilai yang berhubungan dengan sesama dan lingkungan, seperti memahami hak diri sendiri
dan orang lain, patuh pada aturan, menghargai orang lain dan bersikap santun.

Penerapan Pendidikan Karakter Pada Usia Dini

Membangun konsep diri positif


Pribadi yang produktif dan bijaksana terbukti memilki konsep diri positif, dimana mereka
mampu mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri yang kemudian berhasil
mengembangkan kelebihan yang dimilikinya serta mampu mengatasi kekurangannya
dengan melakukan kompromi dan kerjasama dengan lingkungan sosialnya.

Konsep diri positif adalah modal penting bagi anak usia dini untuk bisa memandang dirinya
sendiri sebagai pribadi yang baik sehingga kelak pada usia remaja dan dewasa individu
tersebut juga memilki tolak ukur diri yang baik serta mampu bekerjasama dengan
lingkungan sosial secara proporsional.

Pada penerapannya konsep diri anak dibangun melalui penerimaan yang baik dari orang
tua, guru dan lingkungan terhadap kondisinya. Anak diterima dengan segala kelebihan dan
kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan anak kita kembangkan dan di sisi lain kita
membantu untuk mengatasi kekurangannya. Jangan menilai anak secara subyektif melalui
sudut pandang dewasa tetapi berusahalah mememahami mereka sesuai dengan tahap
perkembangan usianya serta keunikannya.

Orang tua dan guru diharapkan mampu membangun komunikasi dua arah yang ideal
dengan anak. Biasakan untuk menyimak apa yang disampaikan anak tanpa melakukan
kritik atau mengecilkan pendapatnya. Biarkan anak menyampaikan pendapatnya secara
aktif. Beri teladan dan bimbingan dalam proses diksusi tersebut agar anak belajar cara
komunikasi yang efektif, kapan dia sebaiknya mendengarkan dan kapan dia harus bicara.

Kemampuan komunikasi positif adalah salah satu modal terpenting bagi anak untuk
menyampaikan pikiran dan isi hatinya dengan asertif dan santun. Di kemudian hari
kemampuan ini akan sangat berguna dalam perannya sebagai anggota masyarakat sosial.
Selain itu komunikasi yang baik antara orang tua, guru dan anak akan membantu menjalin
kedekatan satu sama lain. Hal ini juga memudahkan orang tua dan guru untuk mentranfer
nilai-nilai kebijakan pada anak tanpa kesan menghakimi atau menggurui.
Anak yang mendapatkan penerimaan tanpa syarat akan belajar menghargai dirinya sendiri
dan berkembang menjadi anak yang bahagia. Kemampuan untuk bahagia inilah yang
kemudian akan mengantarkannya menjadi pribadi yang penuh syukur dan berusaha
berguna bagi sekelilingnya.

Tak peduli betapapun berhasilnya anak dalam kehidupannya kelak, kalau ia tak pernah
belajar merasa bahagia pada awal hidupnya maka ia tidak akan bahagia.

Menanamkan nilai spiritual


Pada anak usia dini penjelasan nilai spiritual sebaiknya masih dalam bentuk konkret,
karena pada tahapan usia ini mereka belum memahami nilai spritual abstak seperti yang
dipahami oleh orang dewasa.

Misalnya, mereka belum paham konsep dosa sehingga kalau dia berteriak pada ibunya
dan kita mengancam dengan bahwa sikapnya itu akan membuat dia berdosa, maka
kemungkinan prilaku itu akan berulang kembali, karena dosa adalah konsep abstak.
Sebaiknya kita jelaskan bahwa berteriak pada ibu itu membuat ibunya sedih, hal ini jauh
lebih mudah dipahaminya, karena ibu yang sedih jauh lebih konkret baginya.
Setelah itu kita lanjutkan penjelasan bahwa Tuhan sangat sayang padanya, sangat sayang
pada anak yang sabar dan bertutur kata baik, sama seperti ibu juga sayang sekali padanya.

Penanaman nilai spritual pada usia dini sebaiknya diberikan bukan dalam konsep dogmatis
atau bentuk hafalan dan ritual tanpa makna, melainkan dalam bentuk keteladanan dalam
prilaku sehari-hari dan pengambaran kasih sayang Tuhan terhadap umatnya secara
universal.

Misalnya anak dibiasakan membaca doa sebelum dan sesudah makan, namun juga diberi
penjelasan bahwa itu adalah caranya berterima kasih pada Tuhan atas makanan yang
tersaji, bahwa Tuhan sangat sayang padanya sehingga memberi makanan yang bisa
membuatnya kuat dan sehat. Kebiasaan ini sebaiknya dilakukan orang tua secara konsisten
sebagai keteladanan, sehingga anak memahaminya sebagai nilai spiritual yang
termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ritual tanpa makna.

Nilai spritual sangat penting bagi anak. Karena nilai ini akan menjadi dasar kepribadian
yang rendah hati, bijaksana dan santun. Pribadi yang akan memanifestasikan nilai dan
norma agama dalam setiap aspek kehidupanya, bukan hanya menjalankan ritual tanpa
makna.

Pemahaman terhadap nilai spiritual yang baik akan membuatnya memahami bahwa ada
yang jauh lebih besar dari dirinya, sehingga tetap berani bermimpi besar, berusaha kuat
namun tetap berpijak di bumi.

Memberi teladan dan membiasakan prilaku yang baik


Sesuai proses belajar pada anak usia dini maka tahap awal dari belajarnya adalah meniru
dan kemudian mebiasakannya sebelum terbentuk menjadi karakter. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa aspek terpenting dalam hal ini adalah keteladanan.

Keteladanan membutuhkan konsistensi. Hal ini mudah dikatakan tapi belum tentu mudah
dalam pelaksanaan. Oleh sebab itulah dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru dan
lingkungan untuk membangun tempat hidup yang positif bagi anak.

Orang tua dan guru sebagai pihak yang terdekat dengan anak sebaiknya merenungkan
kembali peran dan fungsi utama kita dalam membangunan karakter dan intelektual anak,
sehingga kita selalu terdorong untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas diri.
Mendorong rasa ingin tahu dan proses kreatif
Pada tataran ini orang tua dan guru diharapkan menciptakan lingkungan terbuka bagi anak,
dimana mereka mampu mengeksplorasi dunianya dalam bimbingan dan rasa aman.

Budayakan diskusi di rumah dan sekolah, sehingga anak terlatih menyampaikan rasa ingin
taunya dengan vara yang santun dan baik namun tetap mendapatkan informasi akurat yang
dibutuhkan. Diskusi juga membantu melatih anak untuk mampu berpikir kritis dan
mengasah logikanya.

Semua proses kreatif tidak mungkin lepas dari kesalahan dan kegagalan. Biasakan anak
untuk memahami bahwa salah dan gagal bukan hal buruk selama dia mau bertanggung
jawab dan memperbaikinya. Orang tua dan guru sebaiknya memahami bahwa kesalahan
dan kegagalan yang dibuat anak adalah caranya mempelajari suatu keterampilan. Sehingga
kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika anak melakukannya, kita justu diharapkan
mampu mendorongnya untuk mengidentifikasi kesalahannya dan membimbingnya utuk
memperbaiki dan melakukan dengan lebih baik lagi nantinya.

Proses ini juga akan mendorong anak untuk mencintai belajar, mencintai ilmu. Mereka akan
memahami bahwa belajar adalah caranya untuk memperkaya diri dengan pengetahuan,
bukan hanya sekedar mencari nilai di atas kertas.
Anak akan memahami bahwa proses belajar itu menyenangkan, karena kesalahan tidak
membuat mereka takut namun semakin mendorong rasa ingin taunya dan mengajarkan
tentang nilai-nilai kehidupan.

Pencapaian yang didapat anak dari proses kreatif ini akan meningkatkan rasa percaya diri
dan keterampilan untuk selalu mengembangkan diri.

Anak yang memilki keterampilan untuk mengidentifikasi kesalahannya akan berkembang


menjadi pribadi yang mampu melakukan introspeksi diri dan penuh tanggung jawab.
Anak yang belajar memperbaiki kesalahannya akan berkembang menjadi pribadi yang
jujur, tangguh, konsisten dan inovatif.
Anak yang memiliki ruang untuk melatih kreatifitasnya akan menjadi pribadi yang
produktif dan bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Melatih keterampilan sosial


Pada anak usia dini prilaku egosentris masih sangat dominan, hal ini wajar karena mereka
memang sedang membangun konsep keakuan dalam kepribadiannya.

Walaupun proses ini masih sangat dominan namun penting sekali memberi ruang anak
untuk melatih keterampilan sosialnya karena latihan sejak dini akan memudahkannya
untuk melakukan identifikasi prilaku dan pemahaman norma. Kelak mereka akan lebih
mudah memahami perilaku mana yng bisa dan tidak bisa diterima oleh sekelilingnya dan
hal ini akan membantu pada proses adaptasi dalam masyarakat.

Anak sudah bisa dikenalkan pada lingkungan lain selain rumah dan sekolahnya, misalnya
ikut dalam kegiatan sosial dengan ibunya atau ikut les menari yang sesuai minatnya. Cara
ini akan membantu anak mengenali bahwa ada dunia lain yang lebih luas selain di rumah
dan di sekolah, juga bisa membantunya memahami berbagai macam karakter orang dan
berbagai aturan serta norma yang berbeda dalam tiap lingkungan.

Proses di atas juga dapat membantu mengasah empati dan simpati anak. Dengan mengenal
banyak karakter lain anak akan belajar untuk memahami perasaan orang lain dan berusaha
menempatkan dirinya pada posisi tersebut. Misalnya ketika dia merebut mainan teman,
maka dia akan belajar berempati bahwa temannya sedih dengan sikap itu, maka kelak dia
tidak akan mengulanginya agar temannya mau bermain bersama lagi.
Pengalaman tersebut akan memberinya pelajaran berharga yang tidak bisa dilatih hanya
dengan nasehat atau cerita dari orang tuanya.
Selain itu anak juga perlu berlatih untuk bersikap asertif, yaitu mampu berkata tidak namun
dengan cara yang santun dan tidak menyinggung pihak yang kita tolak. Pribadi yang matang
sebaiknya memilki asertifitas yang baik pula, sehingga mampu memilah hal yang baik dan
tidak untuk dirinya serta dapat menolak hal-hal yang tidak baik tersebut namun tetap
memilki hubungan yang baik dengan semua pihak.
Misalnya melatihnya untuk menolak dan tidak ikut-ikutan ketika temannya memperolok
teman yang lain, ajarkan dia untuk menyampaikan pendapatnya. Sampaikan bahwa dia
tidak mau ikutan kalau masih nakal n olok-olok teman yang lain karena itu akan membuat
orang lain sedih, tapi kalau nanti mereka sudah jadi anak baik lagi bisa berteman kembali.
Hal ini lebih konkret dan lebih mudah dipahami pada tahapan usia dini.

Anak yang melatih keterampilan sosialnya sejak dini akan berkembang menjadi pribadi
yang mudah beradaptasi, memiliki kebesaran hati dan kedermawanan yang baik.

Anak adalah jejak kita di bumi, semua kebaikan yang kita usahakan akan diteruskan oleh mereka.
Bimbing dan didklah mereka segna segenap cinta, kasih sayang dan ilmu yang kita milki, sehingga
mereka menjadi insan yang mencintai Tuhannya dan dicintai olehn sesamanya.

Demikian materi ini kami susun, semoga dapat menjadi manfaat dan salah satu sumber semangat
serta inspirasi dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan anak-anak kita bersama.

Doa dan harapan terbaik kami bagi anak Indonesia, generasi penerus yang membahagiakan dan
membanggakan, insyaalloh..amin amin ya rabbal alamin.