Anda di halaman 1dari 25

AMDAL

(ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN)

A. KONSEP KUNCI :
Pengertian Amdal, ekosistem, cara menggali dan menemukan sumberpolusi, dampak nyata dari kegiatan proyek,
dokumen prosedur amdal dan amral.

B. PENGERTIAN AMDAL
AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan suatu usaha
dan/atau kegiatan. Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha dan kegiatan
pembangunan atau proyek agar dapat berjalan secara sinambung tanpa merusak lingkungan hidup. Kegiatan AMDAL
ini dibuat saat mulai perencanaan proyek, yakni sebelum

> setiap usaha harus dilengkapi dengan dokumen AMDAL

pembangunan fisik (bangunan gedung, bendungan, saluran irigasi dan sebagainya) dilaksanakan. Kegiatan yang akan
dilaksanakan ini diperkirakan dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya.
Pengaruh terhadap lingkungan hidup yang dimaksudkan di sini adalah pengaruh dari aspek fisik, kimia, ekologi,
sosial ekonomi, social budaya dan kesehatan masyarakat. Kegiatan AMDAL ini mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

C. KEGUNAAN AMDAL
Secara umum, keguanaan AMDAL sebagai berikut :
1. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/ atau
kegiatan.
3. Memberi masukan untuk penyusun desain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
5. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan

D. DOKUMEN AMDAL
Kegiatan AMDAL merupakan prasyarat yang harus dipenuhi dalam mengembangkan usaha yang berdampak luas
pada masyarakat. Dengan demikian AMDAL bagi pemerintah daerah dimanfaatkan untuk bahan perencanaan
pembangunan wilayah. Lewat kegiatan AMDAL maka pemerintah daerah memiliki bahan yang cukup dalam
membantu masyarakat dalam rangka memutuskan rencana usaha dan menjamin keberlanjutan usaha yang akan
dikembangkan.
Kegiatan AMDAL melibatkan 4 dokumen, yakni :

a. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. ( KA-ANDAL)


b. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
c. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
d. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup ( RPL)
Ke empat dokumen inilah yang nantinya akan dinilai layak atau tidaknya suatu proyek dilaksanakan. Tujuan akhir
dari kegiatan AMDAL ini adalah memberikan alternatif solusi dalam mengurangi dampak negatif dari lingkungan.
Dengan demikian lewat kegiatan AMDAL
pemerintah daerah dan pusat memiliki cukup sumber informasi dalam mengambil keputusan boleh tidaknya
dikembangkan usaha atau proyek di tempat itu.
Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan di atas dibuat sebelum kegiatan proyek dimulai, sehingga
tekanannya pada aspek perencanaan. Butir-butir perencanaan memuat aspek yang sifatnya preventif, yakni analisis
mengenai dampak lingkungan dari segi konsep.
Sebagai gambaran misalnya apabila dalam suatu lokasi akan didirikan suatu industri yang menggunakan mesin-
mesin besar sehingga dimungkinkan menghasilkan polusi kebisingan bunyi. Dari segi perencanaan perlu dilakukan
analisis, meliputi pemakaian teknologi yang
dapat mengurangi gejala polusi kebisingan yang mengganggu dan membahayakan masyarakat di sekitar lokasi
tersebut.

E. PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM AMDAL


Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:
1. Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL
2. Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang
akan dilaksanakan, dan
3. Masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.
Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan
menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL
dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006
2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002
3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008
F. PROSEDUR AMDAL
Prosedur AMDAL terdiri dari :
1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL. Yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun
amdal atau tidak
2. Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat
Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000,
pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut,
menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum
menyusun KA-ANDAL
3. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)
Proses penyusunan KA-ANDAL. Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan
yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan).
Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi
Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75
hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.

4. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi
kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.
Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada
KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).
Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL
dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian
ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari diluar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki atau
menyempurnakan dokumennya.

Gambar Prosedur AMDAL

Siapa yang harus menyusun AMDAL?

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen
AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya.
Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor
09/2000.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam proses AMDAL?

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang
berkepentingan.

Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di
Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan
hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup
Kabupaten/Kota. Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak
diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini
diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di
propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota.

Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
yang akan dilaksanakan.

Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses
AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha
dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada lingkungan hidup,
dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL
dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

Apa yang dimaksud dengan UKL dan UPL ?

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang
dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang
tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang
Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya
pemantauan lingkungan.
Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan
mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia.

UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan dasar untuk
menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.

Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan menggunakan formulir isian yang
berisi :

Identitas pemrakarsa
Rencana Usaha dan/atau kegiatan
Dampak Lingkungan yang akan terjadi
Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
Tanda tangan dan cap

Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :

Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang
berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota
Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi
lebih dari satu Kabupaten/Kota
Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan
untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu propinsi atau lintas batas negara

Apa kaitan AMDAL dengan dokumen/kajian lingkungan lainnya ?

AMDAL-UKL/UPL

Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi diwajibkan menyusun UKL-UPL
(lihat penapisan Keputusan Menteri LH 17/2001). UKL-UPL dikenakan bagi kegiatan yang telah diketahui
teknologi dalam pengelolaan limbahnya.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib

Bagi kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup (RKL-RPL)
sehingga dalam operasionalnya menyalahi peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup, maka kegiatan
tersebut tidak bisa dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus seperti ini kegiatan tersebut dikenakan Audit
Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman
Pelaksanaan Audit Lingkungan yang Diwajibkan.

Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya spesifik, dimana kewajiban yang satu
secara otomatis menghapuskan kewajiban lainnya kecuali terdapat kondisi-kondisi khusus yang aturan dan
kebijakannya ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Kegiatan dan/atau usaha yang sudah berjalan yang kemudian diwajibkan menyusun Audit Lingkungan tidak
membutuhkan AMDAL baru.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela

Kegiatan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk meningkatkan ketaatan
dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan secara sukarela yang merupakan alat
pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal. Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum pelaksanaan Audit
Lingkungan.

Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-kegiatan yang wajib AMDAL tidak secara
otomatis membebaskan pemrakarsa dari kewajiban penyusunan dokumen AMDAL. Walau demikian dokumen-
dokumen sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh pemrakarsa karena sifatnya akan sangat membantu
efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekaligus dapat "memperbaiki" ketidaksempurnaan yang ada
dalam dokumen AMDAL.

Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna bagi pemrakarsa,
termasuk dalam melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri. Dokumen-dokumen tersebut antara
lain adalah Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen yang diatur dalam ISO 14000, dokumen-dokumen
yang dipromosikan penyusunannya oleh asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.

G. DAFTAR KEGIATAN WAJIB AMDAL


JENIS KEGIATAN BESARAN
I. BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI .

1. Luas wilayah pertambangan umum tahap exploitasi Produksi


2. Batubara
3. Bijih Primer
4. Bijih Sekunder
5. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C Bahan galian
6. radioakif, termasuk pengolahan, penam- bangan dan pemurnian
7. Transmisi
8. PLTD/PLTG/PLTU/PLTGU
9. PLTA semua jenis dan ukuran kecuali PLTM den jenis aliran langsung
10. PLTP
11. Pusat Listrik dari jenis lain
12. Eksploitasi Minyak/Gas Bumi
13. Pengolahan (Kilang)
14. Transmisi Minyak/Gas Bumi >= 200 ha dan atau
>= 200.000 ton/tahun
>= 60.000 ton/tahun
>= 100.000 ton/tahun
>= 300.000 m3/tahun
> 150 KV
>= 100 MW
>= 55 MW
>= 5 MW
>= 25 km

II. BIDANG KESEHATAN


1. Rumah sakit kelas A
2. Rumah sakit yang setara dengan kelas A atau kelas 1 Rumah sakit
3. Rumah sakit dengan peiayanan spesialisasi lengkap/menyeluruh
4. lndustri Farmasi yang membuat bahan baku obat dengan proses penuh
5. >= 400 kamar

III. BIDANG PEKERJAAN UMUM


1. Pembangunan Bendung atau Waduk
2. Pengembangan Daerah lrigasi
3. Pengembangan Daerah Rawa Pasang Surut/Lebak Pengamanan pantai, dikota
4. besar
5. Perbaikan sungai. dikota besar
6. Kanalisasi/Kanal Banjir dikota besar
7. Kanalisasi selain no.6 (pantai, rawa, atau lainnya) Pernbangunaan jalan
8. tol dan jalan layang
9. Pembangunan jalan raya
10. Pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar daerah milik
11. jalan kota besar dan metropolitan yang berfungsi arteri atau kolektor
12. Pengolahan sampah dengan incinerator
13. Pembuangan sampah dengan sistem control landfill dan sanitary landfill
14. Pembuangan sampah dengan sistem open dumping Pembuangan sistem drainase
15. dengan saluran di saluran primer kota metropolitan den besar
16. Air Limbah:
17. Pembangunan IPAL untuk pemukimanPembangunan sistem sewerage
18. Pengambilan air dari danau, sungai, mata air, atau sumber air lainnya
19. Pembangunan perumahan den pemukiman umum Peremajaan kota
20. Gedung bertingkat/apartemen tinggi >= 15 m atau luas genangan >= 100 ha
21. luas yang di airi
a. >= 2.000 ha
b. luas >= 5.000 ha
c. >= 500.000 penduduk
d. >= 500.000 penduduk
e. panjang >= 5 km atau lebar >= 20 M
f. panjang >= 25 km atau lebar >= 50 M
g. panjang > 25 km
h. panjang > 5 km atau luas >= 5 ha
i. >= 800 ton/ha
j. >= 800 ton/ha
k. >= 80 ton/ha
l. panjang >= 5 km
m. luas >= 50 ha
n. pelayanan >= 2.500 ha
o. debit >= 60 m
p. luas >= 200 ha
q. luas >= 5 ha
r. tinggi >= 60 m

IV BIDANG PERTANIAN
1. Usaha tambak udang/ikan
2. Pencetakan sawah, pada kawasan hutan
3. Usaha perkebunan tanaman tahunan
4. Usaha pertanian tanaman semusim luas >= 50 ha
5. luas >= 1.000 ha
6. luas >= 1 0.000 ha
7. luas >= 5.000 ha

V BIDANG PARPOSTEL .
1. Hotel
2. Padang Golf
3. Taman Rekreasi
4. Kawasan Pariwisata >= 200 kamar atau luas >= 5 ha
>= 100 ha
VI BIDANG TRANSMIGRASI & PEMUKIMAN PERAMBAH HUTAN
1. Rencana kegiatan pembangunan pemukiman transmigrasi
2. Keterangan :
3. Jenis Transmigrasi Umum
4. Usaha pokok Tanarnan pangan den atau perkebunan
5. Lingkup studi : SKP

VII BIDANG PERINDUSTRIAN


1. Idustri Semen (yang dibuat melalui produksi klinker)
2. Industri Pulp den Kertas
3. lndustri Pupuk Kimia (Sintetis)
4. lndustri Petrokimia
5. lndustri peleburan baja
6. lndustri peleburan timah hitam (Pb)
7. industri peleburan tembaga (Cu)
8. lndustri pembuatan alumina
9. lndustri peleburan baja paduan
10. industri alumunium ingot
11. Industri peleburan pellet & sponge 12.industd pig iron 13.industd fero
12. alloy Kawasan lndustri
13. industd galangan kapal produksi
14. industri Pesawat Terbang
15. industri kayu lapis terintegrasi lengkap dgn fasilitas penunjangnya,
16. antara lain industri perekat
17. industri senjata, munisi dan bahan peledak
18. Industri penghasil pestisida primer
19. industri Baterei
>= 3.000 DWT
luas >= 3.000 ha

VIII BIDANG PERHUBUNGAN


1. Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api dan fasilitasnya
2. Pembangunan Sub Way
3. Pelabuhan Kelas 1, 11, 111 beserta fasilitasnya
4. Pelabuhan khusus
5. Reklamasi Pantai luas
6. Pengerukan Laut
7. Daerah Kerja (Kawasan) Pelabuhan
8. Bandar Udara beserta fasilitasnya panjang >= 25 km
>= 25 ha
volume >= 1 00.000 m3

IX BIDANG PERDAGANGAN
1. Pusat Perdagangan/Perbelaniaan relatif terkonsentrasi luas >= 5 ha
atau luas bangunan >= 10.000 m2

X SIDANG PERTAHANAN DAN KEAMANAN


1. Pembangunan Gudang Munisi
2. Gudang Pusat Munisi dan Gudang Munisi Daerah Pembangunan Pangkalan
3. Angkatan Laut
4. Pembangunan Pangkalan Angkatan Udara
5. Pusat Latihan Tempur/Lapangan tembak senjata
1. kelas A. B, C
2. kelas A, B, C atau yang setara
3. luas >= 10.000 ha

XI SIDANG PENGEMBANGAN TENAGA NUKLIR


2. Pembangunan dan pengoperasian Reaktor Nuklir Reaktor Daya
3. Reaktor Penelitian Pembangunan dan Pengoperasian instalasi Nuklir Non
4. Reaktor :
5. Fabrikasi bahan bakar Nuklir
6. Pengelolaan Limbah Radioaktif
7. Radiator aktivitas sumber
8. Produksi Radioisotop untuk semua instalasi >= 1 00 KWt
1. produksi >= 50 elemen bakar/tahun
2. semua instansi
3. >= 1.850 TBq (5.000 Ci)

XII BIDANG KEHUTANAN


1. Pembangunan taman safari
2. Pembangunan kebun binatang
3. Hak pengusaha hutan (HPH)
4. Hak pengusahaan hutan sagu
5. Hak pengusahaan hutan tanaman industri (HTI Pengusahaan pariwisata alam di
6. dalam : taman wisata alam, taman buru, taman laut, taman nasional, dan
7. taman hutan raya >= 250 ha
>= 100 ha
XIII BIDANG PENGENDALIAN BAHAN BERBAHAYA & BERACUN
Pembangunan Fasilitas Pengolah Limbah B-3
XIV BIDANG KEGIATAN TERPADU/MULTISEKTOR
Usaha atau Kegiatan yang terdiri dari lebih dari satu kegiatan wajib AMDAL yang saling terkait dan melibatkan
kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab serta berada dalam satu kesatuan hamparan
ekosistem.
H. RANGKUMAN
1. AMDAL merupakan singkatan dari Analisis mengenai dampak lingkungan. Amdal merupakan kajian dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan
keputusan
2. Tujuan AMDAL secara umum adalah menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan timbulnya
pencemaran serendah mungkin.
3. Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL meliputi aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, social-budaya,
dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Di Indonesia, kajian amdal dalam pratiknya terbagi menjadi penyusunan empat dokumen, yaitu dokumen
kerangka acuan analisis dampak lingkungan (Ka-AMDAL), dokumen analisis dampak
lingkungan (ANDAL), dokumen rencana pengelolaan lingkungan (RKL), dan dan dokumen rencana pemantauan
lingkungan (RPL).
5. Prosedur AMDAL di Indonesia terdiri dari empat tahap, yaitu penapisan (screening)wajib amdal; proses
pengumuman dan konsultasi masyarakat; penyusunan dan peniliaan ka-andal; serta penyusunan dan penilian andal,
RKL, dan RPL.
6. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah komisi penilian amdal, pemrakarsa, dan masyarakat
yang berkempentingan.
7. Komisi penilian AMDAL dibentuk di tingkat pusat oleh menteri, tingkat provinsi oleh Gubenur, dan tingkat
kabupaten/kota oleh bupati/wali kota.
8. Masyarakat yang berkepentingan dalam proses amdal dapat dibedakan menjadi masyarakat yang terkena
dampak dan masyarakat pemerhati.
9. Jenis Usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor
056 Tahun 1994 tentang PEdoman Mengenai Ukuran Dampak Penting.
Archive for Materi IPA XII Sem 2

AMDAL

Desember 19, 2012 Filed under Materi IPA XII Sem 2

Dalam modul ini akan dikaji mengenai AMDAL. Pembangunan nasional yang dilakukan di Indonesia disusun

atas dasar pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam menjaga keselarasan antara

pembangunan dan kelestarian lingkungan, pemerintah membuat kebijakan untuk acuan dalam penerapan

dan pelaksanaan pembangunan.

Kebijakan tersebut berfungsi untuk mencegah atau meminimalkan dampak negatif pembangunan bagi

lingkungan. Beberapa kebijakan lingkungan yang digunakar di Indonesia adalah sebagai berikut:

a. UU Nomor 23 Tabun 1997

Dalam UU Nomor 23 Tahun 1997 pasal 18, disebutkan bahwa:

(1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap

lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk memperoleh izin

melakukan usaha dan/atau kegiatan.

(2) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat 1 diberikan oleh pejabat yang

berwenang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

(3) Dalam izin sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk

melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup.

b. PP Nornor 27 Tahun 1999

Pasal 3 dalam PP tersebut pada ayat (1) disebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan

dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi:

1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.

2. Eksploitasi sumber daya alam proses kegiatan yang secara potensi dapat menimbulkan pencemaran dan

kerusakan lingkungan hidup.

3. Proses atau kegiatan yang hasilnya dapat mernengaruhi kelestarian alam.

Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 wajib memiliki analisis mengenai

dampak lingkungan hidup.

c. KEPMEN LH RI Nomor 17 Tahun 2001

Terdapat empat hal penting dalam KEPMEN tersebut, yaitu:

1. Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak

lingkungan hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan tersebut.


2. Apabila skala atau.besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada

skala/besaran yang tercantum pada Lampiran Keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah

mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan

berdampak penting terhadap lingkungan hidup, maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat

ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai jenis

usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

3. Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam Lampiran Keputusan ini tetapi

]okasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak

lingkungan hidup.

4. Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau

masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak

tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap

mempunyai dampak penting terhadap lingkungan, maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah

Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib memberikan usulan secara tertulis kepada

Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Selain aspek sosial-ekonomi, aspek lainnya yang juga cukup berperan dalam perumusan kebijakan

lingkungan di Indonesia adalah aspek politik. Sebuah kebijakan lingkungan dapat dirumuskan dan

diterapkan bergantung pada besarnya komitmen para elit politik terhadap lingkungan hidup. Seluruh

kebijakan yang telah dirumuskan di atas harus diterapkan secara tegas agar keseimbangan antara aspek

sosialekonomi, politik, dan lingkungan dapat terjalin.

A. DAMPAK PEMBANGUNAN

Pembangunan merupakan upaya untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya untuk meningkatkan

kesejahteraan manusia. Pembangunan dapat menciptakan kemajuan dalam bidang ekonomi, teknologi, dan

politik. Pembangunan ekonomi, teknologi, dan politik yang berlangsung dengan cepat, seringkali

memberikan dampak (positif ataupun negatif) bagi lingkungan sekitarnya. Pembangunan dikatakan dapat

memberikan dampak penting apabila di dalam prosesnya menyebabkan perubahan lingkungan yang sangat

mendasar pada lingkungan yang mengalami proses pembangunan.

Meningkatnya pembangunan di bidang ekonomi, teknologi, dan politik menyebabkan terjadinya peningkatan

permintaan terhadap barang dan jasa, terutama yang disediakan oleh alam. Hal ini menyebabkan

meningkatnya kegiatan eksplorasi dan ekploitasi sumber daya alam sehingga tekanan terhadap keberadaan

sumber daya alam juga turut meningkat. Tekanan yang terjadi secara terus-menerus dapat mengancam

kelangsungan hidup organisme di lingkungan tersebut.


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru yang tidak ramah lingkungan dan kurangnya etika

serta perilaku yang berpihak pada kepentingan pelestarian lingkungan juga turut memberikan andil dalam

proses penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya alam. UU No. 23 Tahun 1997 pasal 18 menyatakan

bahwa setiap kegiatan pembangunan yang dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan perlu dilengkapi

dengan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

Beberapa hal yang dapat menjadi pedoman dalam menentukan dampak penting, yaitu :

1. Jumlah Manusia yang Terkena Dampak

2. Luas wilayah persebaran dampak

3. Lamanya Dampak Berlangsung

4. Intensitas dampak

B. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

Upaya untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dalam pelaksanaan pembangunan atau kegiatan dikaji

dalam AMDAL.

B.1. Pengertian AMDAL :

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 tahun 1999, pasal 1 butir 1, analisis

mengenai dampak Iingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu

usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses

pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. ANDAL berbeda dengan AMDAL.

Analisis dampak Iingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak besar

dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Kajian pada AMDAL meliputi kemungkinan terjadinya berbagai macam perubahan Iingkungan, baik

perubahan sosial-ekonomi maupun perubahan biofisik Iingkungan, yang diakibatkan oleh penyelenggaraan

suatu usaha dan/atau kegiatan. Dengan mengadakan AMDAL, maka seseorang atau suatu instansi dapat

menduga atau memperkirakan dampak yang mungkin terjadi akibat penyelenggaraan kegiatan yang telah

direncanakan. Perkiraan tersebut antara lain mencakup kelangsungan usaha, kelangsungan hidup karyawan,

kelestarian lingkungan sekitar, serta keselamatan dan kesehatan penduduk. AMDAL juga sering disebut

sebagai preaudit karena diperuntukkan dalam perencanaan usaha dan/atau kegiatan. Oleh karenanya,

AMDAL bukanlah alat untuk mengkaji lingkungan setelah usaha dan/atau kegiatan telah selesai atau sudah

berjalan.

B.2. Pendekatan Studi Amdal

Pendekatan studi AMDAL dapat dibagi menjadi:

a. Pendekatan AMDAL kegiatan tunggal

Merupakan penyusunan dan pembuatan studi AMDAL yang diperuntukan bagi satu jenis usaha dan/atau

kegiatan yang mana kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi jenis usaha
dan/atau kegiatan tersebut. Contoh jenis usaha dan/atau kegiatan dengan pendekatan studi AMDAL

kegiatan tunggal adalah pembangunan jalan tol, PLTU, lapangan golf, masjid agung, rumah sakit, sekolah,

dan lain sebagainya.

b. Pendekatan AMDAL kegiatan terpadu atau multisektor

Merupakan penyusunan studi AMDAL bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memiliki sistem terpadu baik

dalam perencanaan, proses produksinya, maupun pengelolaannya dan melibatkan lebih dari satu instansi

yang membidangi kegiatan tersebut serta berada dalam satu kesatuan hamparan ekosistem. Contoh jenis

usaha dan/atau kegiatan dengan pendekatan studi AMDAL kegiatan terpadu atau multisektor adalah

pembangunan hutan tanaman industri, industri pulp, permukiman terpadu, dan sebagainya.

c. Pendekatan AMDAL kegiatan dalam kawasan

Merupakan penyusunan studi AMDAL bagi jenis usaha dan/ atau kegiatan yang berlokasi di dalam suatu

kawasan yang telah ditetapkan atau berada dalam kawasan atau zona pengembangan wilayah yang telah

ditetapkan pada satu hamparan ekosistem. Contoh jenis usaha dan/atau kegiatan dengan pendekatan studi

AMDAL kegiatan dalam kawasan adalah pembangunan kawasan industri, kawasan pariwisata, dan lain

sebagainya.

d. Pendekatan AMDAL kegiatan regional

Merupakan penyusunan studi AMDAL bagi jenis usaha dan/ atau kegiatan yang sating terkait dan

merupakan kewenangan lebih dari satu instansi. Jenis usaha dan/atau kegiatan pada pendekatan studi ini

terletak lebih dari satu kewenangan administratif dan lebih dari satu hamparan ekosistem. Contoh jenis

usaha dan/atau kegiatan dengan pendekatan studi AMDAL kegiatan regional adalah pembukaan dan

pengelolaan lahan gambut sejuta hektar, pengelolaan lahan pantura. Reklamasi pantai utara Jakarta.

B.3. Pemrakarsa dan Penyusun AMDAL

Pemrakarsa adalah orang atau badan usaha yang mempunyai rencana untuk melakukan suatu usaha

dan/atau kegiatan. Dengan kata lain, pemrakarsa adalah investor dari usaha atau kegiatan yang

direncanakan. Tugas pemrakarsa adalah menyusun analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan

lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan kerangka acuan.

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsanya. Pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk

menyusun dokumen AMDAL atau disebut dengan penyusun AMDAL. Konsultan AMDAL yang ditunjuk

merupakan badan atau lembaga yang telah memiliki sertifikasi sebagai badan yang memiliki kewenangan

melakukan studi AMDAL. Penyusun AMDAL pada umumnya terdiri atas tenaga ahli yang berpengalaman dan

handal sesuai dengan bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur

dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.


B.4. Penilaian AMDAL

Penilai di tingkat pusat, dibentuk oleh Menteri, sedangkan di tingkat daerah, dibentuk oleh Gubernur. Komisi

Penilai di tingkat pusat disebut dengan Komisi Penilai Pusat, sedangkan Komisi Penilai di tingkat daerah

disebut dengan Komisi Penilai Daerah. Komisi Penilai Pusat berkedudukan di Kementrian Lingkungan Hidup,

sedangkan Komisi Penilai daerah di tingkat provinsi berkedudukan di Rapeldarda atau instansi pengelola

lingkungan hidup provinsi.

Komisi Penilai Daerah di tingkat kabupaten atau kota berkedudukan di Bapedalda atau instansi pengelola

lingkungan hidup kabupaten atau kota.

Komisi Penilai Pusat berwenang menilai hasil analisis dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau

kegiatan yang bersifat strategis dan/atau meyangkut ketahanan dan kemanan negara, berlokasi meliputi

lebih dari satu wilayah propinsi, berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain, berlokasi di wilayah

ruang lautan, atau berlokasi di lintas batas negara. sedangkan Komisi Penilai Daerah tidak berwenang

menilai analisis dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/ atau kegiatan sebagaimana kewenangan

Komisi Penilai Pusat.

Komisi Penilai diharapkan mewakili unsur pemerintahan lainnya yang berkepentingan pada rencana usaha

dan/atau kegiatan. Masyarakat yang akan terkena dampak dari rencana ini juga diharapkan terwakili pada

Komisi Penilai. Masyarakat yang terkena dampak adalah seorang atau kelompok warga masyarakat yang

akibat akan dijalankan suatu rencana usaha dan/ atau kegiatan akan menjadi yang diuntungkan atau

dirugikan. Lingkup warga masyarakat yang terkena dampak ini dibatasi pada masyarakat yang berada

dalam ruang dampak rencana usaha atau kegiatam tersebut.

Komisi Penilai dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas komponen

dokumen AMDAL. Tim teknis ini terdiri atas para ahli dari:

instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan

instansi yang ditugasi mengendalikan lingkungan

instansi lainnya yang mempunyai latar belakang bidang ilmu yang terkait

B.5. Komponen Dokumen AMDAL

Dokumen AMDAL terdiri dari empat komponen dokumen yang terpisah tetapi merupakan satu kesatuan.

Komponen dokumen AMDAL antara lain:

a. Dokumen kerangka acuan analisis dampak lingkungan hidup (KA-ANDAL)

KA-ANDAL merupakan ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup. KA-ANDAL dihasilkan dari

proses pelingkupan. Dokumen ini juga menjabarkan kedalaman analisis mengenai dampak lingkungan hidup

yang disepakati oleh pemrakarsa, penyusun AMDAL, dan Komisi Penilai.


b. Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup (ANDAL)

ANDAL memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana

usaha dan/ atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.

c. Dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL)

RKL memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang

diakibatkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan. RKL dapat digunakan sebagai petunjuk bentuk rekayasa

teknologi atau rekayasa lingkungan yang akan diterapkan dalam upaya mengurangi dampak.

d. Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL)

RPL memuat rencana-rencana pemantauan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup yang telah

dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Pelaksanaan RPL

berorientasi pada data sistematik, berulang, dan terencana.

B.6. Manfaat AMDAL

a. manfaat untuk pemerintah

AMDAL berperan sebagai alat pengambil keputusan tentang kelayakan lingkungan dari suatu rencana usaha

dan/atau kegiatan. AMDAL merupakan bahan masukan dalam merencanakan pembangunan wilayah serta

mencegah rusaknya potensei sumber daya alam di sekitar lokasi usaha/kegiatan

b. manfaat untuk masyarakat

membantu masyarakat mengenai rencana pembangunan daerahnya sehingga dapat berpartisipasi

memberi informasi perubahan lingkungan yang akan terjadi, manfaat dan kerugian yang akan ditimbulkan

mengetahui hak dan kewajiban sehubungan usaha dan kegiatan yang akan berlangsung

masyarakat ikut berperan dalammenjaga dan mengelola kualitas lingkungan

c. manfaat untuk pemrakarsa

pemrakarsa akan mengetahui masalah-masalah lingkungan yang mungkin akan dihadapinya di masa

mendatang. AMDAL juga bisa menjadi bahan untuk menganalisis pengelolaan dan sasaran usaha dan/atau

kegiatan

AMDAL sebagai pedoman untuk pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

C. PELAKSANAAN AMDAL

Sistem perencaan pembangunan merupakan sistem yang tersusun secara sistematis dan sesuai dengan

tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan pembangunan dilaksanakan melalui berbagai macam usaha dan/atau

kegiatan. Selain memberikan manfaat, usaha dan/atau kegiatan ini terkadang juga mengakibatkan

kerusakan pada lingkungan sekitarnya. Adanya AMDAL ditujukan untuk mengkaji dampak yang mungkin

ditimbulkan dari suatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan.


1. Tahapan AMDAL

Pelaksanaan AMDAL mencakup beberapa tahapan yaitu :

a. Persiapan

Persiapan bertujuan untuk efektivitas dan efisiensi proses pelaksanaan selanjutnya. Pada tahap persiapan,

dilakukan perapihan administrasi pelaksanaan AMDAL. Kegiatan pada proses persiapan antara lain

menyusun jadwal kegiatan, jadwal pelingkupan, surat-menyurat, dan persiapan penyusunan KAANDAL.

b. Pelingkupan

Pelingkupan merupakan proses untuk mengidentifikasi dampak penting yang terkait dengan adanya usaha

dan/atau kegiatan.

Kegiatan pelingkupan akan menghasilkan identifikasi tentang:

ruang lingkup studi yang mencakup identifikasi komponen usaha dan/atau kegiatan yang akan berdampak

dan komponen lingkungan yang terkena dampak

isu-isu pokok

batas wilayah studi

jenis data, informasi, dan lain sebagainya yang diperlukan dalam pelaksanaan

kebutuhan pakar dalam tim penyusun AMDAL

metode AMDAL

batas waktu studi dan jadwal studi

biaya yang diperlukan

c. Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat

Sebelum dilaksanakan penyusunan KA-ANDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan rencana

kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan, menanggapi masukan dari masyarakat, dan

memberikan konsultasi kepada masyarakat. Proses ini sesuai dengan Keputusan Kepala BAPEDAL No.

08/2000.

d. Penyusunan kerangka acuan ANDAL (KA-ANDAL)

Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup masalah yang akan dikaji pada ANDAL

setelah sebelumnya lingkup masalah diidentifikasi pada proses pelingkupan. Setelah selesai disusun,

pemrakarsa kemudian mengajukan dokumen KA-ANDAL untuk dinilai oleh Komisi Penilai. Lama waktu

maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk

memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya

e. Penyusunan ANDAL, RKL, dan

Setelah KA-ANDAL disetujui oleh Komisi Penilai, maka dilanjutkan dengan penyusunan ANDAL. Berdasarkan
acuan pada KA-ANDAL, maka RKL dan RPL juga kemudian disusun sebagai dokumen pelengkap keseluruhan

dokumen AMDAL. RKL menghasilkan matriks tentang pengelolaan lingkungan hidup, sedangkan RPL

memuat cara pemantauan lingkungan berdasarkan prediksi yang telah disusun. Pemantauan dilaksanakan

oleh pemantau inclependen. Pemrakarsa kemudian akan mengajukan dokumen ANDAL, RKL, dan RPL pada

Komisi Penilai. Lama waktu maksimal untuk penilaian adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh

penyusun untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.

f) Diskusi dan asistensi

Pada saat penyusunan KA-ANDAL, ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan diskusi dan asistensi. Hasif dari proses

diskusi dan asistensi antara lain pembahasan atau presentasi mengenai AMDAL.

g) Legalisasi dokumen

Setelah dokumen AMDAL tersusun maka dilakukan legalisasi atau pengesahan secara hukurn oleh instansi

yang berwenang.

2. Penyusunan Dokumen AMDAL.

Dokumen AMDAL terdiri dari empat dokumen berbeda yang merupakan satu kesatuan. Keempat dokumen

tersebut dibuat secara berkesinambungan antara satu dengan lainnya. Tiga dokumen, yaitu ANDAL, RKL,

dan RPL diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi Penilai. Hasif penilaian kemudian yang

menentukan kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan dan menentukan rekomendasi untuk pemberian

ijin.

a. Penyusunan dokumen kerangka acuan ANDAL (KA-ANDAL)

Kerangka acuan ANDAL (KA-ANDAL) disusun paling awal sebelum dokumen-dokumen AMDAL lainnya. KA-

ANDAL bertujuan untuk merumuskan ruang lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Selain itu, adanya KA-

ANDAL juga akan mengarahkan jalannya studi ANDAL agar efektif dan efisien sesuai biaya, tenaga, dan

waktu yang tersedia. Hasil pembuatan KA-ANDAL akan digunakan sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa

dan penyusun AMDAL akan fingkup dan kedalaman studi ANDAL yang dilakukan. KA-ANDAL juga berperan

sebagai rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL.

b. Penyusunan analisis dampak Iingkungan (ANDAL)

Dokumen ANDAL memuat beberapa hal, yaitu:

masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan, perencana, dan pengelola rencana usaha

dan/atau kegiatan

rencana usaha, proyek, atau kegiatan dengan kemungkinan dampak besar dan pentingnya. Baik dampak

yang mungkin muncul pada tahap konstruksi, tahap berjalannya kegiatan, maupun tahap sesudah kegiatan

keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan informasi serta berbagai kekurangan dan

keterbatasan yang dihadapi selama penyusunan ANDAL


c. Penyusunan rencana pengelolaan Iingkungan hidup (RKL)

Upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas, yaitu:

pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui

langkah alternatif, tata letak lokasi, dan rancangan pembangunan usaha dan/atau kegiatan

pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk rnenanggulangi, meminimalisasi atau mengendalikan

dampak negatif, balk yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan berjalan sampai saat usaha dan/atau

kegiatan berakhir

pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut

dapat menimbulkan manfaat yang lebih besar balk kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama

masyarakat

pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan secara ekonomi lingkungan

sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas berkurangnya, rusak, atau hilangnya sumber daya yang

tidak dapat diperbaharui

Dokumen RKL hanya bersifat memberikan pokokpokok arahan, prinsip-prinsip, kriteria atau persyaratan

untuk pencegahan dampak. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus sesuai dengan hasil dokumen

ANDAL, dan harus diuralkan secara jelas, sistematis, serta mengandung arahan, prinsip-prinsip, kriteria

pedoman atau persyaratan untuk mencegah, menanggulangi, mengendalikan atau meningkatkan dampak

besar dan penting.

Untuk menangani dampak besar dan penting dapat menggunakan beberapa pendekatan lingkungan hidup

seperti teknologi, sosial, ekonomi, dan institusi.

d. Penyusunan dokumen pemantauan lingkungan hidup (RPL) Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam

penyusunan dokumen RPL, yaitu:

komponen lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar atau yang

terkena dampak besar dan penting

keterkaitan antara dokumen ANDAL, RKL dan RPL

pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan/atau terhadap komponen atau

parameter lingkungan yang terkena dampak

pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi

aspek-aspek yang perlu dipantau mencakup jenis data yang dikumpulkan, lokasi pemantauan, frekuensi

dan jangka waktu pemantauan, metode pengumpulan data dan metode analisis data

dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan independen yang rnelakukan pemantauan lingkungan

hidup
3. Metode-Metode dalam Penyusunan Dokumen ANDAL

Dokumen ANDAL menggambarkan rona lingkungan hidup awal, serta pengumpulan dan analisis data

mengenai prediksi dampak besar clan penting pada lingkungan akibat usaha dan/ atau kegiatan. Metode

dalam penyusunan dokumen ANDAL, yaitu:

a. Metode identifikasi rona lingkungan hidup awal

Identifikasi rona lingkungan hidup awal mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan

hidup dan sumber daya potensial di wilayah yang akan dibangun suatu proyek, yang berpotensi terkena

dampak penting usaha dan/atau kegiatan. Pengumpulan data rona lingkungan hidup awal harus efisien,

sesuai dengan indikator yang akan diukur, dan representatif. Data yang representatif, yaitu data yang

mewakili jumlah seluruh sampel dan variabilitas harian, bulanan, atau musiman. Data-data yang

dikumpulkan berupa social ekonomi masyarakat, dan kesehatan masyarakat, serta data sekunder, yang

dikumpulkan dari berbagai sumber seperti Dinas Pekerjaan Umum setempat, Pemda setempat, Stasiun

Klimatologi dan lembaga-lembaga lainnya.

Komponen fisik dan kimia

Data primer aspek fisik dan kimia dikumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan atau

pengumpulan data di lapangan, yaitu data yang dianalisis dan diteliti di dalam laboratorium. Komponen fisik

dan kimia meliputi beberapa aspek sebagai berikut.

Kualitas udara

Parameter kualitas udara yang diukur beserta metode dan peralatannya sesuai dengan Surat Keputusan

Menteri KLH No.02/MENKLH/1/1998

Fisiografi

Fisiografi meliputi keadaan fisiografi dan topografi daerah, sifat-sifat morfologi tanah dan kandungan kimia

tanah, dan neraca air.

Komponen biologi

Komponen biologi yang ditelaah meliputi flora dan fauna serta organisme lainnya, balk darat maupun

perairan.

Komponen sosial, ekonomi, dan budaya

Komponen sosial yang penting di antaranya adalah clemografi, ekonomi, dan budaya.

b. Metode prakiraan dampak kegiatan pembangunan Prakiraan dampak adalah pengkajian kedalaman

perubahan kualitas lingkungan yang disebahkan pembangunan suatu proyek bail< pra konstruksi,

konstruksi, maupun pasta konstruksi. Langkah yang harus dilakukan datum rnengidentifikasi prakiraan

dampak adalah dengan menyusun berbagai dampak besar yang akan timhul dan menuliskan semua

aktivitas pembangunan yang akan menimbulkan dampak. Kriteria dampak besar dan penting, yaitu

memberikan dampak langsung pada komponen sosial, fisik, dan kirnia, kemudian menimbulkan rangkaian

dampak lanjutan pada komponen biotogi dan sosial.


Metode-metode yang dipakai dalam memprakirakan dampak, yaitu:

Model matematik

Pendekatan menggunakan persamaan matematis sehingga diperoleh nilai atau besaran parameter

lingkungan. Pendekatan ini digunakan untuk memprakirakan besar dampak terhadap parameter air, biota

perairan, dan sosialbudaya.

Prakiraan dampak berdasarkan analogi

Pendekatan ini mempelajari fenomena dampak yang timbul akibat kegiatan proyek sejenis yang telah

berjalan pada daerah tertentu dan memiliki kesamaan dengan proyek yang akan atau sedang dibangun.

Contoh prakiraan dampak berdasarkan analogi adalah prediksi dampak komponen biotik dengan

mempelajari kualitas lingkungan di kegiatan proyek sejenis yang telah berjalan.

Penggunaan standard baku mutu lingkungan

Pendekatan ini sesuai dengan baku mutu yang sudah ada, yaitu yang telah diterbitkan pemerintah, seperti

PP No.20 tahun 1990, Keputusan MENKLH No.02/ MENKLH/1998, serta standard baku mutu lingkungan

lainnya yang telah disepakati.

Penilaian oleh para ahli

Penilaian besarnya dampak ditetapkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman para ahli sesuai dengan

situasi di lapangan.

c. Metode evaluasi dampak penting

Evaluasi dampak dimaksudkan sebagai penelaahan dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan

pembangunan secara menyeluruh. Hasil evaluasi ini kemudian dijadikan masukan bagi instansi berwenang

untuk memutuskan kelayakan lingkungan dari rencana suatu proyek. Evaluasi dampak penting dilakukan

dengan pendekatan secara menyeluruh, meliputi sebab akibat dampak penting yang ditimbulkan, sifat dan

karakteristik dampak, dan pola persebaran dampak.

Metode yang digunakan untuk mengevaluasi dampak secara menyeluruh diantaranya, yaitu:

USGS Matrik (Matrik Leopold)

Bagan alir dampak (Flow Chart)

Environmental Evaluation System (EES)

Matrik tiga tahap Fischer dan Davies

Extended Cost Benefit Analysis

Metode-metode tersebut hares bersifat komprehensif, fleksibel, dinamis, dan analitis. Hasil evaluasi dampak

penting kemudian dituangkan dalam matriks evaluasi dampak penting. Berdasarkan matriks tersebut,

ditentukan komponen kegiatan yang paling menimbulkan dampak penting dan komponen yang paling

terkena dampak penting. Kemudian matriks dievaluasi setiap lima tahun untuk melihat sejauh mana

intensitas dampak negatif dari masing-masing kegiatan atau proyek. Dampak negatif yang timbul
selanjutnya ditekan dan diminimalisasi. Evaluasi ini dilaksanakan baik pada saat proyek masih dibangun,

pada saat proyek beroperasi, maupun sesudah proyek berakhir.

Comments (3)

KESEIMBANGAN LINGKUNGAN

Desember 19, 2012 Filed under Materi IPA XII Sem 2

Dalam modul ini akan dikaji mengenai keseimbangan lingkungan. Lingkungan memiliki kemampuan untuk

mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya disebut daya dukung lingkungan.Modul ini

dapat dipelajari secara mandiri, kerja kelompok atau tutorial.

A. KESEIMBANGAN LINGKUNGAN

Lingkungan juga memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi lingkungan ke keadaan seimbang

ketika lingkungan mendapat gangguan atau kerusakan sampai batas tertentu yang disebut daya lenting

lingkungan. Keseimbangan lingkunganberarti kemampuan lingkungan untuk mengatasi tekanan dari alam

maupun aktivitas manusia, serta kemampuan lingkungan dalam menjaga kestabilan kehidupan di dalamnya.

Keseimbangan lingkungan dapat tercapai ketika interaksi antara organisme dengan factor lingkungan dan

interaksi antar komponen dalam suatu lingkungan dapat berjalan dengan proporsional.

Interaksi Antar Komponen Ekosistem dalam Menjaga Keseimbangan Lingkungan.

Aktivitas dan interaksi antar komponen ekosistem memungkinkan proses kehidupan terus berlangsung dan

berkesinambngan. Interaksi antar komponen biotic dalam menjaga keseimbnganlingkungan dapat dilihat

pada peristiwa rantai makanan dan jarring-jaring makanan. Pada rantai dan jarring makanan hubungan

materi dan energi akan mengikat organisme yang satu dengan yang lainnya dalam suatu system yang

teratur dan terarah. Adanya interaksi saling membutuhkan antar komponen biotic di rantai makanan dan

jaring-jaring makanan , menyebabkan tidak akan ada satu pun satu pun komponen biotic yang populasinya

akan bertambah terlalu cepat atau menurun drastic. Keseimbangan lingkungan juga tercipta bila interaksi

antara komponen biotic dengan komponen abiotik berjalan dengan sesuai dan berkesinambungan. Faktor

lingkungan seperti suhu, air, intensitas cahaya, kelembaban , dan salinitas dapat menjadi factor penentu

persebaran organisme di muka bumi. Apabila factor-faktor lingkunganmengalami fluktuasi dengan drastic,

populasi organisme yang ada pada lingkungan akan tersebut pun akan terpengaruh. Perubahan kodisi

lingkungan abiotik dapat mengancam keseimbangan lingkungan.


Suksesi

Gangguan lingkungan dapat berasal dari alam atau campur tangan manusia. Gangguan alam seperti

kebakaran, gempa, badai tornado, dan letusan gunung berapi dapat menghancurkan komunitas biologis.

Setelah ada gangguan alam akan memulihkan dirinya sendiri, organisme yang bertahan hidup akan

melewati bencana akan mengkolonisasi area bencana. Pada proses pemulihan, struktur komunitas akan

mengalami perubahan yang disebut suksesi. Suksesi adalah proses perubahan komposisi species dalam

suatu komunitas biologi akibat adanya gangguan dari komunitas tersebut.

Suksesi ada dua macam yaitu primer dan sekunder.

a. Suksesi Primer : perubahan komposisi komunitas yang terjadi pada suatu kawasan yang pada mulanya

hamper tidak ada kehidupan. Bisanya terjadi pada pulau vulkanis baru, atau pada lapisan glasies atau

lapisan es. Biasanya diawali dengan tumbuhnay tanaman pioneer atau perintis seperti lumut kerak /

Lichenes

b. Suksesi sekunder : terjadi pada area yang mulanya ada kehidupan tetapi kemudian mengalami gangguan

yang menyebabkan hilangnya komunitas yang ada di area tersebut dan hanya meninggalkan tanah yang

tetap utuh. Contoh area penebangan hutan, area pasang naik dan pasang surut.

Suksesi diakhiri dengan adanya komunitas klimaks yang bersifat stabil dan memiliki tingkat keseimbangn

lingkungan yang tinggi. Komunitas klimaks biasanya didominasi oleh organisme yang memiliki umur

panjang seperti pohon-pohon yang berumur panjang.

Contoh diagram suksesi primer

Gunung meletus ->Lava->Lichenes/lumutkerak ->Lumut > Tanamanpaku>Rumput->Perdu

>Pohon/komunitas klimaks

Contoh diagram suksesi sekunder

Penebanganhutan ->rumput >perdu >pohon/ komunitas klimaks

B. DAMPAK EKSPLOITASI

Meningkatnya jumlah populasi manusia juga meningkatkan ancaman bagi lingkungan. Sikap manusia yang

cenderung merusak lingkungan memberikan dampak negative terhadap ekosistem. Eksploitasi di luar batas

oleh manusia memberikan dampak yang cukup besar bagikerusakan lingkungan.Beberapa dampak negative

akan diuraikan berikut ini .


B. 1. Fragmentasi dan Degradasi Habitat

Penggunaan lahan untuk pemenuhan kesejahteraan manusia yang selalu meningkat jumlahnya kadang

tidak memperhatikan efek ekologis yang berakibat berkurangnya atau rusaknya habitat alami bagi

organisme di lahan tersebut. Fragmentasi terjadi pada hutan yang ditebang/dirambah, pembangunan jalan

yang melintasi hutan, pembangunan berbagai sarana di pinggir jalan yang meleintasi hutan menyebabkan

perubahan struktur komunitas hutan, kematian pohon, kebisingan, polusi, serta pengurangn lahn untuk

habitat organisme asli.

Fragmentasi dan degradasi habitat menyebbkan munculnya masalah lain seperti kematian organisme

karena hilangnya sumber mkanan, tempat tinggal sehingga berakibat menurunnya keanekaragaman jenis

pda habitat tersebut serta menyebabkan rantai makanandan jarring-jaring makanan banyak yang terputus.

B.2. Terganggunya Aliran energi di dalam Ekosistem

Ekosistem buatan yang sengaja diubah oleh manusia menjadi ekosistem buatan menyebabkan

terganggunya aliran energi . Penebangan hutan dan digantikannya dengan lading/sawah membuat

ekosistem menjadi sederhana. Terjadi perubahan komposisi dan keanekaragaman produsen, konsumen,

detritivora, dn decomposer. Aliran energi yang tadinya kompleks menjadi lebih sederhana dan berakibt

rentannya ekosistem terhadap kerusakan.

B. 3. Resistensi Beberapa Species Merugikan

Penggunaan pestisida dan antibiotic yang tidak sesuai takaran/dosis tidak dapat memberantas hama atau

pun kumanyan bersifat pathogen. Organisme pengganggu yang tidak mati secara sempurna oleh pestisida

atau pun antibiotic ini menjadi kebal oleh pestisida dan antibiotic, Kekebalan ini diturunkan pada generasi

berikutnya sehingga akan lebih sulit memberantas hama dan menyembuhkan penyakit yang disebabkan

species yang telah resisten. Peningkatan kadar pestisida ataupun antibiotic yang tidak terkendali akan lebih

memperparah kondisikarena species ini justru akan semakin resisten.

B.4. Hilangnya Species Penting di dalam Ekosistem

Setiap organisme dalam ekosistem memiliki peran sesuai jabatannya/ nicianya. Hilangnya species tertentu

dapat mengubah struktur rantai makanan dan jarring-jaring makanan sehingga menjadi semakin

sederhana. Menurunnya populas species tertentu akan mempengaruhi jumlah populasi lain yang terangkai

dalam rantai makanan.


B.5. Introduksi Species Asing

Introduksi/masuknya species asing dari satu ekosistem ke ekosistem yang lain biasanya bertujuan untuk

meningkatkan kesejahteraan manusia. Introduksi kadang terjadi tidak sengaja terbawa oleh alat

transportasi yang mengangkut barang dan ketika mendarat/berlabuh ke suatu tempat meninggalkan

spescies tersebut. Introduksi species asing selain meningkatkan kesejahteraan manusia kadan juga

merugikan karena saat masuk ke suatu wilayah tidak disertai predator alaminya sehingga sulit

mengendalikan ledakan populasinya. Contohnya ledakan eceng gondok dan keong mas yang bersifat

mengganggu Kedua species itu bukan asli Indonesia.

B.6. Berkurangnya Sumber Daya Alam Terbaharui

Sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup digolongkan sebagai sumber daya alam yang dapat

diperbaharui. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya jumlah organisme tersebut

maupun mutunya. Contohnya adalah penebangan liar untuk mendapatkan kayu ataupu perburuan liar untuk

mendapatkan gading, kulit, tanduk dan sebagainya.

B.7. Terganggunya Daur Materi di dalam Ekosistem

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, aktivitasnya pun juga meningkat. Hal ini berakibat terhadap

daur biogeokimia. Contohnya adalah pembakaran oleh manusia, aktivitas penggunaan bahan baker yang

berlebihan menghasilkan gas CO2 dalam jumlah besar sehingga terjadilah pemanasan global.

C. EKSPLOITASI BERLEBIHAN PADA EKOSISTEM DARAT DAN AKUATIK

C.1. Ekosistem Darat

Ekosistem darat meliputi semua bioma darat seperti hutan, padang rumput, taiga, tundra, gurun dan

sebagainya. Dari semua bioma darat yang paling banyak dimanfaatkan dan dieksploitasi besar-besaran

adalah hutan. Hutan memiliki banyak fungsi diantaranya adalah :

1. Penyedia sumber bahan pangan, sandang, papan, dan obat-obatan

2. Penghasil oksigen dan Pengkonsumsi CO2 untuk fotosintesis karena banyaknya organisme autotrofik.

3. Sebagai resapan air dalam daur hidrologi

4. Sebagai habitat berbagai species

Eksploitasi hutan yang berlebihan / over eksploitasi akan berakibat :

1. menurunnya atau bahkan hilangnya species-species tertentu

2. berkurangnya oksigen dan peningkatan jumlah karbondioksida yang berakibat pemanasan global
(berubahnya iklim global)

3. Terjadinya banjir, tanah longsor karena hilangya resapan yang mengganggu daur hidrologi

4. Hilangnya tempat tinggal, tempat berlindung, dan tempat segala aktivitas hewan yang tinggal di

dalamnya.

C.2. Ekosistem Akuatik

Ekosistem aquatic pun tidak bebas dari aktivitas manusia untuk mengeksploitasi seperti :

1. pengambilan ikan untuk konsumsi/ ikan hias

2. pengambilan terumbu karang

3. pembukaan daerah wisata

Eksploitasi ekosistem akuatik yang berlebihan/ overeksploitasi dapat berakibat :

1. menurun/ hilangnya species ikan atau hewan laut yang lain

2. hilangnya habitat hewan air akibat hilangnya terumbu karang

3. polusi, kerusakan ekosistem karena kegiatan pariwisata yang tidak dikelola dengan baik.

D. UPAYA MENJAGA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN

Lingkungan yang dieksploitasi secara berlebihan dapat berakibat menurunnya kualitas linkungan. Perlu

dilakukan upaya untuk menjaga keseimbangan lingkungan diantaranya adalah :

1. penghematan penggunaan kertas, tissue, dan semua hal yang diproduksi dari bahan baku dari hutan

2. penghematan menggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan

3. penghematan penggunaan bahan baker

4. Menghentikan jual beli berbagai spesies hewan dan tumbuhan langka

5. Tidak membakar hutan

6. Penerapan system bercocok tanam yang memperhatikan lingkungan

7. Pengendalaian hama secara alami (metode biological control) dengan predator alami

8. Penggunaan pestisida dan antibiotic sesuai takaran

9. Pembangunan berwawasan lingkungan

10. Pengawasan produk impor untuk mencegah masuknya species asing yang merugikan

11. Penegakan hukum yang tegas bagi perusak lingkungan

12. Reboisasi, tebang pilih dan menghindari illegal loging/penebangan liar

13. Mencegah perburuan hewan dan penangkapan ikan secara liar