Anda di halaman 1dari 76

BAB I

Ikhtisar sejarah

Figure 1: Wall painting from the Technical School of the Air Force in Kaufbeuren
(Germany). Gambar 1: Wall lukisan dari Sekolah Teknik Angkatan Udara di
Kaufbeuren (Jerman). Beautifully pointing: The administration was in the
foreground at that time also. Indah menunjuk: administrasi itu di latar depan pada
saat itu juga.

Neither a single nation nor a single person can say that the discovery and
development of radar technology was his (or its) own invention. Baik satu bangsa
atau satu orang bisa mengatakan bahwa penemuan dan pengembangan teknologi
radar adalah miliknya (atau perusahaan) penemuan sendiri. One must see the
knowledge about Radar than an accumulation of many developments and
improvements, in which any scientists from several nations took part in parallel.
Seseorang harus melihat pengetahuan tentang "Radar" daripada akumulasi banyak
perkembangan dan perbaikan, di mana setiap ilmuwan dari beberapa negara ikut
ambil bagian secara paralel. In the past, there are nevertheless some milestones,
with the discovery of important basic knowledge and important inventions: Di
masa lalu, ada beberapa tonggak bagaimanapun, dengan penemuan pengetahuan
dasar yang penting dan penemuan penting
BAB I
I. SEJARAH RADAR
Radar mulai dikenal ketika perang dunia kedua, digunakan secara terbatas
di kalangan militer negara-negara maju seperti Jerman, Inggris, Amerika, Soviet.
Awal pengembangannya jauh sebelum meletusnya perang dunia kedua. Dengan
perkembangan yang bertahap mengarah lebih baik dan lebih maju, radar
digunakan secara luas sebagai alat bantu navigasi baik di laut maupun di udara
serta penggunaan lainnya seperti radar cuaca.
Jika disebutkan kata radar maka ingatan orang akan segera tertuju pada
sebuah alat yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan kapal atau pesawat
tempur musuh dalam peperangan. Seolah radar adalah peralatan untuk bertempur
atau berperang. Sebenarnya bukan begitu yang terjadi. Justru konsep radar bukan
dibuat untuk berperang. Tapi begitulah, kebanyakan penemuan penting justru
mengalami perkembangan pesat saat ada kepentingan militer di dalamnya. Seperti
yang terjadi pada sejarah pengembangan radar ini. Alat yang berfungsi sebagai
pendeteksi jarak, ketinggian, atau kecepatan dua benda (peralatan radar dan yang
dipantaunya) banyak terlibat dalam dunia militer, meskipun dewasa ini sudah
cukup banyak bidang sipil yang menggunakan peralatan radar.
Awal kelahiran peralatan radar tidak bisa dipisahkan dari jasa seorang
Heinrich Hertz. Orang Jerman yang satu ini lah yang pertama kali membuat
peralatan untuk mengirim dan menerima gelombang radio. Meskipun keberadaan
gelombang ini sudah diungkap sebelumnya oleh James Clerk Maxwell, tapi baru
sebatas teori. Bahkan sebelum munculnya istilah gelombang radio, orang
menyebut gelombang magnetik seperti itu sebagai gelombang Hertz. Untuk
menghormati jasanya itu hingga kini satuan Hertz digunakan dalam pengukuran
gelombang radio. Seiring dengan perkembangan jaman, penemuan gelombang
magnetic ini pun melahirkan penemuan-penemuan besar lainnya. Salah satunya
adalah RADAR (Radio Detection and Ranging).
Pada awal sejarahnya, radar disebut sebagai RDF (Radio Direction
Finder). Itu istilah yg digunakan oleh orang-orang Inggris. Sekitar tahun 1941,
sebutan RDF diganti dengan RADAR yang merupakan akronim dari Radio
Detection and Ranging. Tak lama kemudian sebutan RADAR masuk dalam kosa
kata bahasa Inggris sehingga dalam penulisannya tidak lagi menggunakan huruf
besar sebagai mana layaknya sebuah singkatan. Cukup ditulis radar saja.
Orang yang dianggap pertama kali membuat peralatan dengan konsep dan fungsi
sebagai radar adalah Christian Huelsmeyer. Pada tahun 1904, Huelsmeyer
mendemontrasikan peralatannya itu, yang disebutnya sebagai telemobiloscope,
untuk mendeteksi keberadaan kapal di lautan. Saat itu, telemobiloscope-nya hanya
mampu mendeteksi keberadaan kapal yang berada pada jarak tiga kilo meter. Alat
buatannya tersebut belum bisa digunakan untuk menentukan posisi benda yang
sedang dipantau. Kemampuannya baru sebatas mendeteksi adanya sebuah benda,
seperti keberadaan kapal di laut pada demonstrasinya itu. Meskipun demikian,
peralatannya itu lah yang disebut-sebut sebagai radar yang pertama kali dalam
sejarah.
Seorang ilmuwan yang kontroversial, Nikola Tesla, disebut-sebut juga
memiliki andil dalam perkembangan pembuatan radar. Tesla dikabarkan yang
pertama kali mengatakan bahwa dengan pengembangan tertentu radar dapat
digunakan untuk menentukan posisi sebuah benda bergerak, misalnya kapal, baik
untuk mengetahui jaraknya dari stasiun radar maupun untuk mengetahui
kecepatan kapal tersebut. Itu dituangkannya sebagai tulisan yang dipublikasikan
pada bulan Agustus 1917 di majalah Electrical Experimenter. Tulisan Tesla ini
sudah mengisyaratkan prinsip-prinsip radar modern. Di kemudian hari prinsip-
prinsip ini diterapkan pada perangkat radar yang dibuat oleh para ilmuwan
Perancis yang tergabung dalam Compagnie Generale de Telegraphie Sans Fil.
Radar buatan mereka telah berhasil diuji coba dengan memasangkannya pada
kapal Oregon sejak bulan Nopember hingga Desember 1934.
Seorang ilmuwan Scotlandia yang kemudian bekerja pada dinas
Meteorologi Inggris, Robert Alexander Watson-Watt, juga dianggap sebagai
orang yang memiliki andil sangat penting dalam sejarah pengembangan radar.
Gelombang radio radar dapat diproduksi dengan kekuatan yang diinginkan, dan
mendeteksi gelombang yang lemah, dan kemudian diamplifikasi (diperkuat )
beberapa kali. Oleh karena itu radar digunakan untuk mendeteksi objek jarak jauh
yang tidak dapat dideteksi oleh suara atau cahaya.

Teknologi itu adalah atas jasa Sir Robert Watson-Watt, seorang keturunan
langsung dari sang penemu mesin uap, James Watt. Watson adalah insinyur
elektronika kelahiran 13 April 1892 di sebuah kota kecil, Brechin, Inggris. Ia
menuntut ilmu sampai sekolah menengah di kota asalnya itu, kemudian
melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Elektro, University of St. Andrews dan
menyandang gelar B.Sc. (engineering) pada tahun 1912.

Watson-Watt pertama kali bekerja sebagai meteorologis di sebuah pabrik


dan pemeliharaan pesawat terbang Inggris, Royal Aircraft Factory di Farnborough
pada tahun 1915. Setelah PD I, ketika melihat kapal-kapal perang, ia mulai
memikirkan cara untuk mendeteksi adanya pesawat melalui perubahan sinyal
gelombang radio. Saat itu, prinsip gelombang radio dan elektromagnetik telah
ditemukan ilmuwan James Maxwell.

Pada tahun 1935, Watson-Watt mendemonstrasikan radar untuk pertama kalinya.


Stasiun radio yang didirikan Watson-Watt akhirnya pada 1936 berhasil
mendeteksi adanya pesawat hingga jarak 70 mil (sekitar 113 km).

Ia kemudian menyarankan kepada pemerintah untuk mendirikan jaringan


stasiun radar, untuk mendeteksi adanya serangan pesawat udara. Keberhasilan
sistem ini dirasakan Inggris ketika melawan Jerman dalam Perang Inggris yang
berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 1940. Atas jasanya itu, pemerintah
Inggris memberinya hadiah uang dan medali penghargaan.

Sir Robert Watson-Watt meninggal dunia pada tanggal 5 Desember 1973


dengan julukan The Father of Radar.Kini teknologi berkembang pesat, begitu
pula dengan sistem radar mengalami kemajuan yang sangat pesat, dan digunakan
tidak hanya untuk keperluan militer saja. Dari sarana transportasi sampai usaha
eksplorasi minyak bumi menggunakan teknologi radar.
Bahkan seorang R. Hanbury Brown telah menyebutnya sebagai Bapak
Radar pada tulisannya di Engineering Science and Education Journal di bulan
Februari 1994. Selama bekerja pada dinas Meteorologi, Watson-Watt
mengembangkan penggunaan radar untuk mendeteksi keberadaan badai. Pria ini
juga yang pada tanggal 26 Februari 1935 memperkenalkan sytem radar untuk
memantau keberadaan pesawat terbang yang sedang mengangkasa. Ini lah yang
menjadi dasar pengembangan radar di Inggris.

II. PENGENALAN TEORI UMUM SURVEILANCE RADAR

Dalan dunia penerbangan radar dipakai untuk membantu pemandu


lalulintas udara ( controller) memandu dan mengatur lalulintas udara.Dengan
adanya keberadaan radar untuk menjadi suatu kebutuhan yang mendukung kinerja
controller sebagai alat bantu keselamatan penerbangan. Radar adalah
penggunaan prinsip gelombang radio untuk mendeteksi objek objek yang tidak
nampak secara visual dan menentukan range (jarak), direction (arah) serta
elivasinya. Radar singkatan dari Radio Detection and Ranging RADAR (Radio
Detection And Ranging) dalam teknik pengoperasiannya terbagi dalam dua
jenis, yaitu:
Primary Surveilance Radar ( PSR)
Secondary Surveilance Radar (SSR)
Kedua jenis radar ini memiliki perbedaan mendasar pada teknik pendeteksiannya,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

Primary Surveilance Radar (PSR) merupakan system radar memancarkan


gelombang elektromagnetik ke udara. Bila gelombang elektromagnetik tersebut
mengenai benda/target yang berada di udara,maka energy gelombang
elektromagnetik tersebut sebagian akan dipantulkan kembali kearah pengirim dan
selanjutnya tertangkap oleh antenna yang ada pada station radar.Sinyal yang
dipantulkan dikenal sebagai sinyal echo.Sinyal echo yang diterima oleh radar
diproses penentukan posisi, karakteristik dan kecepatan bila benda tersebut
bergerak.
Primary Surveilance Radar (PSR), suatu radar yang teknik

pendeteksiannya hanya mengandalkan pantulan gelombang radio (echo) yang

dipantulkan oleh objek. Pada jenis ini tidak diperlukan kooperatif atau kerjasama

antara stasiun pendeteksi dengan objek ( objek bersifat pasif).Sehingga untuk

target pesawat terbang ,Primary surveillance Radar dimana pesawat jika terkena

pancaran sinyal RF radar primer maka pancaran tersebut dipantulkan oleh

badan pesawat dan dapat diterima di sistem penerima radar. Sehingga perlu

power pancaran yang besar untuk pemancar primer tersebut> 5000W

PSR (Primary Surveilance Radar) dapat diklasifikasikan menurut prinsip


dasar operasional sebagai berikut:

Continuous Wave (CW) Radar


Frequency Modulator (FM) Radar
Pulse Radar
Dari ketiga klasifikasi diatas Pulse Radar merupakan radar yang banyak
digunakan, terutama pada dunia penerbangan. Pulse Radar adalah suatu system
radar yang pada teknis operasionalnya menggunakan pulsa pulsa radio
frekwensi untuk mendeteksi objek.
POLA COSECANT SQUARE
1. Pola Cosecant Square disini diperuntukan bagi sistem Radar ( pengamatan )
penerbangan, dimana dengan menggunakan pola ini maka Pancaran Main
Beam dari suatu Radar dapat diatur dan ditentukan.

Gambar 1.1 Pola Cosecant Square

2. Arti Cosecant Square adalah adanya kesamaan kuat medan pada bagian input
Receiver dari suatu Radar, pada saat Target bergerak dengan Flight Level
yang konstant pada area Main Beam dari pancaran Radar tersebut.

3. Didalam praktek ditemukan 2 hal yang dapat mempengaruhi Pola Cosecant


Square, yaitu :

Gambar 1.2 Pembentukan Pola Cosecant Square


a. Posisi dan Bentuk dari Parabolik Reflektor
Bila posisi Radiator ( Horn ) sudah berada di Focal Point terhadap Parabolik
Reflektor, maka akan menghasilkan :

- Untuk area bagian tengah dari Pola Cosecant Square akan dihasilkan Lobe
Radiasi yang tajam pada saat RF Energi meninggalkan Reflektor secara
parallel.
- Untuk area bagian Margin ( pingging ) dari Pola Cosecant Square akan
dihasilkan dengan cara membelokan sebagian RF Energi yang terpancar

b. Banyaknya Beam yang dihasilkan oleh beberapa HORN Antena pada saat
menembakan RF Energi ke Parabolik Reflektor
- RF Energi yang terpancar dari Radiator ( Horn ) untuk bagian margin
Parabolik Reflektor harus dibuat lebih lemah ( kecil ) dari pada RF Energi
untuk bagian center Parabolik Reflektor, sehingga akan dihasilkan Power
Density yang kecil pada bagian margin Parabolik Reflektor

Gambar 1.3 Perbedaan RF Energi yang dipancarkan oleh Radiator

- Power Density 12 ( Warna Kuning muda ) lebih kecil dari power Density
11 ( Merah )
- Power Density 11 ( Warna Merah) akan lebih kecil dari power Density10
( Warna Biru muda )
- dst
Dalam masalah praktis, pancaran gelombang elektromagnetik yang
dipakai dalam radar adalah pancaran yang berupa pulsa. Dan radar ini
lebih dikenal dengan istilah radar pulsa. Radar pulsa merupakan radar
yang memancarkan pulsa pulsa sempit dengan daya yang besar. Pulsa
pulsa yang sempit itu merupakan gelombang elektromagnetik dengan
frekuensi yang sangat tinggi dan dipancarkan secara periodic.

Metode ini lebih dikenal dengan istilah PRF ( Pulse Repetition


Frequency ). Pancaran pulsa pulsa tersebut digunakan untuk mendeteksi
sasaran dengan cara menerima sinyal pantulan ( echo ) sehingga dari
sinyal pantul ini sasaran dapat terdeteksi. Waktu yang digunakan untuk
mulai memancarkan sebuah pulsa disebut dengan lebar pulsa. Sedangkan
pengulangan antara pulsa yang satu dengan pulsa yang lainnya disebut
dengan periode ( T ) atau lebih dikenal dengan istilah PRI ( Pulse
Repetition Interval ). Jumlah pulsa yang dipancarkan setiap detik dikenal
sebagai frekuensi ulang pulsa ( Pulse Repetition Frequency ) yang
disingkat dengan PRF.

Hubungan PRF dengan T dapat ditunjukan dengan rumus:


1 1
PRF = =
T PRI
Prinsip kerja dari pengukuran jarak oleh radar mengunakan waktu
tempuh pulsa pulang pergi. Untuk mengukur jarak suatu objek,
dipancarkan suatu pulsa pendek dari signal radio, dan mengukur waktu
refleksi signal yang kembali. Jarak diukur dengan mengetahui waktu
perjalanan pulang pergi signal (waktu yang diperlukan pada saat signal
dipancarkan sampai membentur objek dan waktu yang diperlukan pada
saat signal membentur objek sampai ditangkap kembali oleh penerima)
dan kecepatan dari signal tersebut, dimana C merupakan kecepatan cahaya
dalam ruang hampa udara (vacuum), dan t merupakan waktu tempuh
signal dari stasiun sampai ke objek.
Gambar 1. Pemancaran signal oleh suatu antena ke objek tertentu

Gambar 2. Proses perjalanan signal pulang pergi pada saat signal membentur suatu
objek

Seperti sudah dijelaskan bahwa PSR tidak memerlukan kerjasama dengan


objek ,maka dibawah ini adalah band Freq Radar PSR

BAND NOMINAL FREQ. RANGE SPESIFIC FREQ.

L 1.000 Mc - 2.000 Mc 1.250 1.9


S 2.000 Mc 4.000 Mc 50 Mc
2.700 2.900 Mc

RADAR S BAND :
Radar S band bekerja pada spesific frequency 2.700 MHz 2.900 MHz.
Radar jenis ini cocok untuk penggunaan medium range air surveilance radar,
misalnya sebagai airport surveilance radar (ASR). Radar S band akan lebih baik
memberikan performance angular yang lebih akurat.

RADAR L BAND

Radar L band bekerja pada specific frequency antara 1.250Mhz 1.350Mhz.Radar L


band dipergunakan untuk long range air surveillance radar.Untuk penggunaan enroute air
traffic control diharapkan bisa mencapai pendeteksian 200NM.Radar L band
memungkinkan untuk mencapai performance M.T.I yang baik dan membangkitkan power
yang tinggi dengan antenna narrow beam.

Dasar dari operasi radar adalah :

Primary Radar :
Membangkitkan RF energi yang cukup besar pada frequency yang digunakan
Mengarahkan RF energi secara NARROW BEAM dan diputar 3600
Menerima reflected ECHO SIGNAL dan memproses untuk menentukan jarak
objek
Mengukur arah dari objek
Mendisplaykan informasi jarak dan arah objek
Primary Radar(RF system) mendeteksi objek2 berupa :
Object land, air, marine
stationary moving
Echo signal reflected from object
Clutter unwanted reflected signal (rain, trees, buildings....)

Untuk Secondary Surveillance Radar (SSR) biasanya lebih dikenal sebagai interrogator,
karna mampu menanyakan identitas dan ketinggian pesawat terbang.Dalam system SSR
ini pesawat terbang harus dilengkapi Tranponder yang diperlukan untuk komunikasi
antara introgator dan transponder.Jadi karna sangat pentingnya peralatan radar untuk
pelayanan lalulintas udar sehingga semua area ruang udara yang dikontrol oleh controller
mengunakan pemandu dengan radar.
TARGET :
Setiap objek yang dapat merefleksikan energy RF yang dipancarkan oleh
primary Radar disebut TARGET.
Target dapat berupa :
1. M.T.I (Moving target pesawat, awan yang bergerak)
2. Fix target (gunung - gunung, gedung,)

Dari sifat bekerjanya, primary radar ini diharapkan akan diketahui :


1. Range, rentang antara radar dan target. Diketahui dengan selang waktu
pancaran dan sinyal yang kembali ke penerima.
2. Moving Target Indication (MTI), menentukan apakah target itu bergerak
atau diam. Diketahui dengan mengamati frekuensi sinyal pantulan, adanya
pergeseran frekuensi berarti suatu obyek itu bergerak dengan kecepatan
sesuai besarnya pergeseran frekuensi.
3. Angular Location, posisi target pada bidang horizontal (azimuth).
Diketahui dengan menggunakan arah antena yang mempunyai beam width
sempit untuk menerima kedatangan sudut sinyal pantul.
4. Trajectory (track) garis lintasan. Diketahui dengan mengamati posisi target
secara terus menerus untuk setiap scan antena. Dengan mengetahui
lintasan ini seorang operator bisa memprediksi posisi target pada selang
waktu berikutnya.
Secondary Surveilance Radar (SSR), suatu radar yang teknik pendeteksinya
memerlukan kooperatif atau kerjasama antara stasiun pendeteksi dengan
objek (objek bersifat aktif).
Dasar operasi Secondary Radar :
Membangkitkan pulsa pulsa RF energi pada frequency pancar yang
dicodekan untuk setiap mode interogration yang berbeda.
Mengarahkan RF energi secara Narrow Beam dan diputar 3600
Menerima replies code yang dipancarkan dari Transponder pesawat
Menetukan jarak dan arah objek
Memproses informasi yang ada replied code
Mendisplaykan jarak, arah serta informasi informasi lain.
Transponder adalah merupakan TX RX dengan antena yang biasanya
dipasang pada badan pesawat (diperut) bagian bawah. Antena ini akan
mendeteksi signal yang dipancarkan dari SSR dan memancarkan reply
signal yang berupa code code ke SSR.

KEUNTUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN SSR :


1) Transponder bisa memberikan informasi mengenai identitas, tentang
number dan ketinggian pesawat
2) Jangkauan pendeteksian lebih jauh X 200 NM lebih
3) Lebih murah dari primary Radar

FREKWENSI RADAR

Radar primer : * L-Band : 1.250 1.350 MMhz.


* S-Band . 2700 - 2900 Mhz.
Radar sekunder : * Transmit : 1030 Mhz.
* Receive : 1090 Mhz

TYPE RADAR

Primer * L-Band Magnet ron : TR 23 LM


L-Band klystron : TR 23' Lk
S-Band Magnetron : TA 10 M
Solid state RL-2000

Sekunder : * RS 770 B
* RS 870 D
* Versi Baru MSSR (Monopulse Surveilance Secondary Radar)

III. KEUNTUNGAN KEUNTUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN


RADAR
Bisa mendeteksi jarak 100 mil lebih
Tidak terpengaruh oleh cuaca
Radar menentukan jarak (range) dengan tepat
Gelombang Radar bisa melakukan penyusupan (pada saat perang)

IV. KONTRIBUSI RADAR


1) Didalam maritim navigasi digunakan untuk mendeteksi kapal kapal, ice
flors (gumpalan es).
2) Di dalam penerbangan untuk mendeteksi pesawat
RINGKASAN CHARACTERISTICS RADAR PRIMARY DAN SECONDARY
PRIMARY SECONDARY
1. RESPONS Bagian dari energy itu Response beraal dari
METHODA sendiri sebagai objek Transponder pesawat
refleksi
2. SIGNAL
Relative kuat
(Strength)
Relative lemah

3. TRANSMISION
Dibatasi oleh signal
RESPONSE
Response semata mata signal sehingga tidak ada
RELATIONSHIP
tergantung dari kaitannya antara signal
transmission dan transmission dan signal
mempunyai characteristic response
4. SIGNAL yang sama
SIGNAL YANG Signal signal berasal
DITERIMA dari pesawat, refleksi
Merefleksikan echo echo yang tidak diingini tidak
5. RECEIVER
yang diinginkan dan yang diterima.
SIGNAL LEVEL
tidak
Amplitude bervariasi
Amplitude bervariasi oleh disebabkan oleh posisi
karena area target yang antara yang berubah
tidak tetap (gunung, karena berubahnya gerak
pesawat, awan) pesawat.

ISTILAH PARAMETER RADAR

RANGE RADAR : Jarak maksimum jangkauan radar.


LEBAR PULSA
PULSE WIDTH : Lebar pulsa dan sinyal yang dipancarkan.

FREKWENS TRANSMIT : Frekwensi yang dipancarkan dari


transmitter radar.

POWER PEAK : Daya maksimum yang dipancarkan dari


transmitter radar.
PRF (Pulse Repetition Freq.) : Jumlah pulsa yang dipancarkan dari
transmiter setiap detiknya.
SYNCHRO : Pulsa yang periodanya tertentu yang
dipergunakan
mengendalikan/menyelaraskan /
menyeragamkan operasi dan
semua peralatan sistem radar.
ECHO : Semua target yang tetap maupun yang
bergerak yang dapat diterima receiver radar.
VIDEO : Semua target (yang bergerak) dari hasil
proses.
INCREMENT : Deretan pusa-pulsa yang dihasilkan dari
putaran antena, yang dipakai untuk
menyatakan posisi azimuth antena, dimana
1 putaran antena menghasilkan increment
4096 pulsa.
AZIMUTH : Posisi sudut terhadap utara dari suatu target
NORTH SIGNAL (NS) : Pulsa yang timbul pada saat antena
melewati utara.
VIDEO SINTETIK : Video primer atau sekunder hasil proses
dari prosesor radar yang
diwujudkan/ditampilkan dalam bentuk
simbol.
PLOT : Video sintetik primer atau sekunder yang
dihasilkan dari extractor primer atau
sekunder.
TRACK : Plot- plot primer atau sekunder dari hasil
korelasi dari prosesor radar, yang dapat
ditampilkan di display radar. Track yang
dapat ditampilkan : simbol, kode pesawat,
ketinggian dan speed pesawat.
ASSOCIATED TRACK : Track gabungan dari track primer dan
sekunder, yang dapat ditampilkan display
radar.
MAP : Gambar atau peta elektronik pada display
radar yang dapat berisi simbol, airways,
beacon dll.
FLIGHT PLAN : Rencana penerbangan yang ditampilkan di
display control, yang berisi data - data
pesawat yang akan take-off dan landing
MODE : Pulsa RF yang dipancarkan dari radar
sekunder untuk menanyakan kode dan
ketinggian pesawat.
CODE : Pulsa -pulsa RF jawaban dari transponder,
pesawat tentang data pesawat tersebut.
LOW COVERAGE (LC) : Sinyal - sinyal RF yang diterima di
sistem penerimaan melalui kanal LC.
HIGH COVERAGE (HC) : Sinyal - sinyal RF yang diterima di
sistem penerimaan melalui kanal HC.
MESSAGE : Informasi digital dari data plot atau track
yang berisikan mengenai data posisi
pesawat dan kode kode pesawatnya.
CORRELATION : Pembandingan antara echo yang
datang dengan kriteria korelasi.
EXTRACTION : Proses penentuan range, jarak dan kode -
kode dari SSR setelah proses
korelasi dipenuhi.

RANGE (JARAK TARGET) : Jarak dihitung berdasarkan waktu yang


digunakan untuk mencapai objek dalam
waktu kembali (go & back).
Moving target identifications(MTI): Dengan pergeseran frequency dari
signal echo yang diterima karena effect
doppler (pesawat bergerak).
Trayektory (Track): Didapat dari posisi posisi target dari scan ke scan
dengan informasi track, Radar dapat
menduga/memperkirakan posisi target selanjutnya.
PULSE DURATION (T) : Waktu yang digunakan untuk memancarkan
PULSE REPETITION PERIODE (T) : Total waktu yang dipakai dalam
system Radar untuk Transmitter dan Receiver. Pulse
Repetition Periode atau disebut PRT (pulse
Repetition Time)

Gambar dibawah ini adalah proses second time around echoes

1 2

T
Waktu yang digunakan untuk 2 kali perjalanan dari TX ke objek RX kita sebut
sebagai t.

TARGET LOCATION :

System deteksi dengan pulsa digunakan hampir semua Radar. Dalam


sistem ini transmitter hidup untuk waktu yang sangat pendek dan mati untuk
waktu yang cukup panjang. Selama periode TX on, TX memancarkan Short burst
energy yang disebut pulse.Ketika pulse mengenai objek, bagian dari energy yang
direfleksikan kembali menuju receiver dimana akan didisplaykan pada display
radar. Sehabis mentransmitkan setiap pulse, transmitter akan off. Sehingga TX
tidak akan interference terhadap receiver.

CALCULATING DIRECTOR :
Dalam menentukan arah suatu target. Kita menggunakan jarak antena
terhadap titik reference yang normalnya titik reference itu adalah titik utama.

AZIMUTH TARGET : Azimuth target adalah sudut yang dibentuk oleh 2 garis
(north line dan antenna line).
Ketepatan pengukuran azimuth
ditentukan juga oleh kualitas
antenna, (directional characteristic
of antenna). (Kualitas antenna =
kemampuan antenna untuk
mengarahkan RF secara narrow
beam)
Oleh karena itu antenna antenna untuk hard radar dibuat dengan characteristic :
1. Radiation Beam Narrow
2. Cukup besar / lebar elevasinya

Bentuk pattern dari Rf energy untuk Radar berbentuk Beam. Hal ini untuk
mendapatkan echo max pada saat beam peak tepat pada target dan akan melemah
jika titik beam jaraknya menjauhi target, menjauhi nol bila beam peak diluar
target.Pancaran radar (Radar pattern) secara beam pada bagian atas merupakan
bentuk beam yang kosong.

Oleh karena antenna Radar berputar 3600,


maka pada pattern bagian atas ada yang
kosong, atau disebut Blind Cone atau Cone
of Silence

EVOLUTION OF ATC RADAR


1. Pra perang dunia ke II .
eksperimentasi gema yang terdengar atau terpantul untuk gangguan
altimetri dan menyelidiki gelombang radio dalam ionosfer.
2. Pengunaan dalam Militer.
harus mampu mendeteksi pesawat dan membedakan antara teman dan
musuh. sistem IFF (identifikasi kawan atau lawan) dikembangkan untuk
mengidentifikasi pesawat yang ramah.
3. Dalam penerbangan sipil
radar dilihat sebagai sarana pengontrolan pesawat udara dalam proses
pengaturan separasi antara pesawat dan dengan mengunakan radar control
pengaturan murni secara prosedural.
EVOLUTION OF RADAR EQUIPMENT

1.Vacum tube technology


digunakan magnetron transmitterr dan indikasi target bergerak( MTI)
menggunakan delay line. Receiver yang kepekaan rendah karena adanya noise
yang tinggi di vacum tabung Technologi. biasanya digunakan synchros dalam
antena untuk abtain informasi azimut.
2.Transistor Technologi
System kenerjanya lebih baik karena :
- Mengurangi ukuran penempatan dari rangkaian
- Mengurangi power (power kecil)
- Sensitiviti receiver lebih baik/bertambah
- System azimuth data mengunakan encoder digital

A. PENGERTIAN HITS / SCAN RADAR


Sinyal pantul maupun sinyal reply dari pesawat yang sampai pada stasiun
radar di bandar udara tidaklah hanya satu sinyal saja, melainkan ini terdiri dari
kumpulan sinyal. Dalam proses perhitungan radar jumlah pulsa yang ditangkap
oleh beam width antena sangat menentukan ketepatan hasil perhitungannya. Jika
jumlah hits / scan pantulan sesuai dengan ketentuan dari stasiun radar tersebut
terpenuhi, perhitungan azimuth dari target akan tepat. Tetapi jika tidak ada
kemungkinan perhitungan azimuth target kurang tepat. Jumlah pulsa (nB) yang
diterima kembali oleh beam antena radar dari suatu sasaran dalam satu scan
antena adalah :

B.fP
nB =
S

dimana : B = beam width antena (derajat)


fP = frekuensi pulsa radar, PRF (Hz)
S = antena scanning rate (deg / scan)

Misalkan suatu stasiun radar memiliki PRF 300 Hz, beam width 1,5,
putaran antena 5 RPM. Berapa hits/scan yang diterima ? Ini dapat diselesaikan
sebagai berikut :

60
Putaran antena 5 RPM, satu putaran = = 12 detik.
5

360
S = = 30 / scan
12
1,5 . 300
nB = = 15 hits / scan
30

Nilai hits / scan ini bila seluruhnya diterima oleh beam width antena akan
diteruskan ke bagian penerima, selanjutnya diproses untuk menentukan posisi
pesawat (range dan azimuth). Bila nilai nB yang seharusnya diterima karena suatu
hal gangguan interferensi ataupun akibat dari pantulan yang tidak dikehendaki
(ground reflection) mengakibatkan tidak seluruhnya diterima, maka hal ini akan
berpengaruh pula dalam perhitungan penempatan posisi pesawat atau bahkan
pesawat tidak terdeteksi bila jumlah nB yang masuk tidak memenuhi syarat.
Pengaruh penerimaan jumlah hits / scan ini sangat menentukan ketepatan
perhitungan dari bearing pesawat.

B. KARAKTERISTIK SINYAL
Istilah-istilah penting yang berhubungan dengan transmisi sinyal radar
antara lain :
1. Pulse Duration (), yaitu selang waktu pemancar pada kondisi ON.
2. Pulse Repetition Period (T), yaitu selang waktu antara satu pulsa dengan
pulsa berikutnya yang disebut pula satu siklus kerja.
3. Pulse Repetition Frequency (PRF), jumlah perulangan siklus kerja yang
terjadi dalam satu detik.
4. Duty Ratio, perbandingan antara lebar pulsa dengan selang waktu antara
satu pulsa dengan pulsa berikutnya dari sinyal synchro.

Echo pulsa 1

Pulsa
1 2 3

T T

Gambar I. Skema Pulsa PRF Primary Radar

Gambar I memperlihatkan bagian dari karakteristik sinyal tersebut.

C. PERSAMAAN-PERSAMAAN RADAR
Beberapa persamaan radar yang penting adalah :
1. Duty Ratio

Duty Ratio =
PRT

= average power
PRT = peak power
Penentuan duty ratio ini menjadi sangat penting, sebab hal ini
dipakai dalam menghitung energi rata-rata setelah energi penuh bisa
didapatkan sehingga perbandingan waktu pancar dan waktu penerimaan
sinyal pantul diketahui.
Apabila diketahui Pulse Repetition Frequency (PRF) dari suatu
stasion radar, maka Pulse Repetition Time (PRT) atau T dapat diketahui,
yaitu :
1
T= (detik)
PRF

Duty Ratio =
T

Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa sinyal sinkron dari PSR


tipe ER 713 adalah 750 Hz, maka T = 1,3 ms. adalah 1 s, maka Duty
Ratio = 1 s : 1,3 ms. Ini berarti bahwa PSR tipe ER 713 memancar dalam
waktu 1 s dan menerima pantulan dalam 1,3 ms.
2. PA = PP . duty ratio ( Watt)
Dimana : PA = energi rata-rata
PP = energi penuh
PP.G
3. DP =
4R2Lt

dimana : DP = kerapatan energi di udara


PP = energi maksimum yang dapat dipancarkan
G = gain dari parabolik antena
R = jarak dari stasiun radar ke target
Lt = kerugian pada saluran transmisi wave guide

PP.G.
4. Pi = (Watt)
4R2Lt

dimana : Pi = energi yang dipantulkan oleh bidang target


= bidang yang memantulkan energi dari target (cross

section)

PP G
5. Pr = (Watt)
(4)3 R4 Lt Lr

dimana : Pr = energi pantulan yang diterima oleh antena yang diteruskan


ke peralatan penerima
= panjang gelombang frekuensi radar
Lr = kerugian hantaran pada penerimaan

PpA
6. Rmax = 4 ( NM )
4 S min LtLr

Dimana : Rmax = jarak target terjauh


Smin = sinyal minimum yang masih dapat diterima oleh
peralatan penerima radar.
A = luas permukaan reflektor parabola
c = kecepatan cahaya 300.000 km/dt
Untuk mengetahui Rmax, dari suatu stasiun radar dapat pula dihitung
dengan terlebih dahulu mengetahui PRF-nya yaitu dengan persamaan :
cT
Rmax = (NM)
2

300.000 x 1,3 x 10-3


Untuk PSR tipe ER 713, Rmax =
2
= 195 Km = 105,4 NM

4 A
7. G =

dimana : G = gain reflektor parabola


A = luas permukaan reflektor parabola
PULSE REPETITION FREQUENCY : Banyaknya pengulangan pulsa dalam 1
second.

Misalnya : PRF yang dipakai Radar - 250 Hz/sec

- 500 Hz/sec

- 750 Hz/sec

- 1000 Hz/sec

TIMING RELATIONSHIPS OF A RADAR SET :

Gelombang radio dalam


perjalanannya dari antenna
TX ke objek dan kembali
lagi ke RADAR akan
menimbulkan RF Voltage di
antenna receiver, RF voltage
ini yang kembali. Ini akibat
dari refleksi dari objek kita
sebut ECHO. Echo echo
ini merupakan input voltage
untuk receiver.

Pulse power yang dipancarkan bisa sebesar KW atau MW, tetapi peak power
untuk echo mungkin hanya 1 pico watt (0,000 000 001 watt), maka fungsi dari
amplifier adalah untuk mengamplifier pulse yang kecil sampai pada level tertentu
untuk bisa di deteksi.

PERHITUNGAN TIME INTERVAL :

Time interval : waktu yang diperlukan suatu gelombang radio dari Radar ke
objek dan kembali lagi ke Radar.

Jika R jarak radar ke objek.

C = kecepatan gelombang radio/cahaya, maka waktu yang diperlukan


untuk 2x perjalanan adalah :

t= 2 R Rumus Waktu
C
R= t.C Rumus Jarak
2

Maximum Range : R (max) = C . T


2
( T = PRT)

Contoh : PRF = 500 Hz

( ) PRT = 1 = 1 = 1.000 = 2 ms
PRF 500 500

R max = C. T
2
= 3.108.2.10-3 = 300 km
2
R max = 300 km = 160 Nm

D. PENENTUAN POSISI SASARAN


Penentuan posisi dari sasaran yang terdeteksi adalah sama dengan
menentukan sudut sasaran tersebut terhadap titik utara (selanjutnya disebut
azimuth).
Titik utara sebagai patokan adalah sinyal utara (north signal) yang
dibangkitkan oleh sebuah alat yang disebut Encoder dan diatur untuk dapat
mengeluarkan satu sinyal pada saat perputaran antena menghadap utara (earth
magnetic north). Oleh karena antena berputar searah jarum jam dan 360, maka
posisi sasaran yang telah memantulkan sinyal (echo), di dalam peralatan penerima
dan prosesnya akan ditentukan berapa besar azimuth sasaran tersebut terhadap
titik utara dengan melakukan perhitungan pulsa increment.
E. MENENTUKAN JARAK SASARAN
Apabila posisi (azimuth) dari sasaran telah dapat diketahui, selanjutnya
masih harus pula diketahui jarak sasaran terhadap stasiun radar. Untuk dapat
mengetahui jarak sasaran ini, terlebih dahulu harus diketahui berapa detik waktu
yang diperlukan oleh energi radar yang terpancar untuk menempuh jarak satu
nautical mile (NM). Ini merupakan patokan dalam perhitungan jarak sasaran.
Untuk itu dapat diuraikan sebagai berikut :
Kecepatan energi elektromagnetik merambat di udara adalah :
c = 3 x 108 m/sec, 1 NM = 1,85 km
3 x 105
c= = 162162,16 NM/sec
1,85
1
Untuk menempuh 1 NM memerlukan waktu x 106 s = 6,2 s.
162162,16
1 NM radar (sinyal pulang pergi) ditempuh dalam 2 x 6,2 s = 12,4 s.
Dengan mengetahui waktu energi radar mengarah ke sasaran dan
pantulannya (pulang-pergi) dibagi dengan waktu 1 NM radar, maka jarak sasaran
dari stasiun radar dapat diketahui. Ketepatan pengukuran waktu sangat
menentukan ketepatan pengukuran jarak.
RADAR MILLE
Perjalanan gelombang radio untuk mencapai jarak 1 mille memerlukan
waktu 6,2 s. Di dalam Radar perhitungan waktu 1 mille adalah waktu yang
digunakan gelombang radio mulai dari radar ke objek dan kembali ke radar (2 kali
perjalanan) = 6,2 s = 12,4 s

F. SISTEM RADAR TRACKING


Sistem radar tracking dimaksudkan untuk memperoleh pengukuran
azimuth (koordinat) dan jarak dari suatu sasaran dengan akurat, termasuk dalam
seluruh informasi dari sasaran tersebut. Dengan data yang akurat lintasan sasaran
akan dapat diketahui dan posisi sasaran akan dapat diprediksi.

Ada dua jenis radar tracking yang masing-masing digunakan untuk tujuan
yang berbeda, yaitu :
1. Countinuous Tracking. Jenis tracking ini umumnya digunakan oleh radar
militer untuk mendapatkan posisi sasaran yang benar-benar akurat.
Sasaran akan diikuti terus oleh berkas antena yang mempunyai 2
kebebasan horizontal dan vertikal yang digerakkan oleh servo motor.
2. Track White Scan. Jenis ini biasanya digunakan untuk radar penerbangan
sipil, dimana jumlah target yang mesti dilacak cukup banyak sehingga
tidak mungkin satu antena hanya mengikuti satu sasaran saja. Lintasan
sasaran diketahui dengan memutar antena secara terus menerus dengan
jumlah putaran yang tetap sehingga biarpun sasaran tidak diikuti secara
penuh informasi sudut dan ketinggian serta jarak akan diperbaharui terus.
H. PULSE RADAR FIX TARGET & M T I (moving target indication)
Pulse radar menggunakan efek doppler untuk menentukan apakah sasaran
itu bergerak atau diam. Sasaran yang bergerak disebut moving target dan
yang diam disebut fixed target. Disamping itu akan dapat pula diketahui
kecepatan pergerakan moving target tersebut dan jaraknya terhadap stasiun
radar.
Pulsa yang dimodulasikan ada dua macam, yaitu :
1. Pulsa dengan lebar yang konstan. Ini biasanya memiliki lebar sebesar 0,8-1
s, dengan jarak antar pulsa sesuai PRF yang dipilih.
Pemancar radar yang menggunakan pulsa yang konstan ini biasanya
memiliki daya yang besar. Misal untuk S-band radar, daya terpancar antara
400-600 Kw.
2. Pulsa dengan lebar pulsa pendek dan panjang. Dari S-band radar PSR baru
memiliki lebar pulsa 1=1 s dan 2 =80 s. Jarak antar pulsa 84 s. PRF
dipilih 650 Hz, sehingga T adalah 1,54 ms.Keuntungan dari pemakaian
pulsa jenis ini adalah akan didapatkan semburan energi pancar yang tebal,
sehingga tidak diperlukan daya pancar yang terlalu tinggi. Daya cukup
dibangkitkan oleh solid state transistor secara combiner. Dari pulse yang
panjang akan dapat mencapai sasaran yang jauh, sementara pulsa yang
pendek diharapkan dapat mencapai sasaran yang lebih dekat.Untuk
keperluan tersebut di atas digunakan perangkat peralatan yang disebut
Moving Target Indicator (MTI). Peralatan MTI adalah merupakan
perangkat prosesor yang mulai dikenal pada saat perang dunia kedua,
kemudian terus dikembangkan selama kurang lebih 20 tahun dan
disempurnakan terus seiring dengan kemajuan teknologi elektronika.
Akhirnya peralatan MTI dianggap paling tepat digunakan sebagai Air
Surveillance Radar dan diproduksi secara komersial untuk digunakan pada
bandar udara terutama untuk penerbangan sipil.Secara diagram blok dapat
digambarkan prinsip kerja dari Pulse Radar seperti terlihat pada gambar 2.

Synchro Pulse

Generator Modulator
ft
ft High freq. Oscillator
Duplexer
ftfd and Power Amplifier

Receiver
Ref. signal

MTI Display
fd
Indicator
Gambar 2. Diagram Blok Pulse Radar
Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut :
Pulse Modulator, memodulasikan pulsa yang telah ditentukan. Biasanya
pulsa ini memiliki lebar 1 s dan jarak antar pulsa 1,3 ms (untuk S-band
radar). Pulsa ini termodulasi dengan frekuensi tinggi dan diperkuat untuk
ditransmisikan. Daya elektromagnetik yang terpancar dari antena terputus-putus
sesuai pulsa yang dimodulasikan.
Sinyal pantul dari sasaran yang diam maupun yang bergerak diterima
melalui antena duplexer ke penerima. Sinyal keluaran dari penerima berupa fd
(frekuensi doppler) yang berasal dari sasaran yang bergerak bercampur dengan
derau yang berasal dari luar maupun dari dalam. Sinyal ini masuk ke MTI.
Di MTI melalui proses phase detector and cancellation. Sinyal yang
berasal dari sasaran yang diam dan derau diusahakan untuk dihilangkan, dan yang
berasal dari sasaran yang bergerak setelah melalui proses selanjutnya, akan
ditampilkan pada display indicator sebagai garis pendek (slash).
Proses pada MTI :

Canceller

Adder Uni
Output
polarizer
A / DC

From phase

detector Inverter

X(-1)

Delay

line

T = 1 / PRF

Gambar 3 Canceller MTI


MTI berfungsi melakukan pemisahan sinyal pantulan yang berasal dari
sasaran yang diam untuk dihilangkan dan menampilkan sinyal dari sasaran yang
bergerak. Pemisahan sinyal ini dilakukan dengan proses cancellation oleh
rangkaian canceller seperti gambar 3

V.PRINSIP DARI SYTEM RADAR PSR

Radar primary akan membangkitkan RF energi yang cukup besar. RF

energy ini akan dipancarkan melalui antenna yang berputar. Jika RF ini mengenai

target objek yang bergerak/diam, maka objek objek itu akan merefleksikan Rf

energy. Refleksi dari RF ini kita sebut echo. Echo yang tertangkap pada antena
Radar selanjutnya akan diproses di receiver untuk mendapatkan informasi

informasi yang disebutkan diatas.

Dan bila gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh primary radar


tersebut mengenai benda yang berada di udara maupun di daratan, maka energi
gelombang elektromagnetik tersebut sebagian akan dipantulkan kembali ke arah
pengiriman dan selanjutnya tertangkap oleh antena yang ada pada stasiun radar.
Sinyal pantulan tersebut dikenal dengan echo yang terdiri dari fixed echo dan
moving echo. Selanjutnya sinyal tersebut diproses untuk menentukan posisi,
azimuth, jarak dan kecepatan bila benda tersebut bergerak dengan mengunakan
prinsip Doppler effek,jadi benda yang bergerak dan tidak bergerak dapat
dipisahkan berdasarkan prinsip kerjanya radar primary sering juga disebut sebagai
pasif radar karena hanya bekerja atas dasar pengiriman energi elektromagnetik
dan penerimaan echo pantulan. Tidak terjadi dialog sinyal.
Gbr.4

Antenna

TRANSMITTER
Target

Echo signal

RECEIVER

Target detection Range to target


and information
extraction

Perangkat PSR hanya terdiri dari dua bagian utama yaitu transmitter dan
receiver, dimana transmitter berfungsi memancarkan pulsa pulsa RF melalui
antenna directive yang berputar. Kemudian energi RF merambat diudara dan
apabila mengenai objek maka akan ada pantulan energi RF yang akan kembali
kearah stasiun pendeteksi. Pantulan energi RF yang biasa disebut dengan istilah
echo akan diterima oleh receiver pada stasiun pendeteksi kemudian diproses untuk
memperoleh informasi pendeteksian. Untuk informasi posisi azimuth (arah),
bahwa antenna yang dipergunakan pada radar adalah antenna directive dan
dioperasikan berputar dengan kecepatan 10/15 rpm secara terus menerus.
Dengan demikian informasi azimuth (arah) dari objek dapat diketahui adalah
sama dengan arah antenna menghadap pada saat mendeteksi objek
.Kegunaan dari radar PSR dimaksudkan untuk mendeteksi pesawat
terbang, tetapi tidak tertutup kemungkinan ada benda lain yang ikut terdeteksi
seperti kawanan burung,awan tebal,gedung dan gunung.Oleh karna itu kinerja
PSR sangat ditentukan oleh kemampuan membedakan target yang diinginkan
sehingga pada layar display radar hanya tampilan target pesawat(MTI) terbang
atau target yg tidak bergerak(FIX TARGET).Faktor2 yang mempengaruhi kinerja
dari radar PSR yaitu clutter dan noise.Untuk radar PSR menentukan posisi
pesawat terbang dengan mengunakan suatu proses pembanding dimana sinyal
radar yang diterima akan dihitung.Sinyal2 yang dimaksud meliputi sinyal
Utara(Nort Signal/NS) dan Sinyal penambahan(Increament Signal/).Alat yang
melakukan perhitungan posisi north signal dan increament adalah encoder atau
selsyn.Penentuan posisi target yang terdeteksi sama dengan menentukan sudut
sasaran tersebut terhadap titik utara 0 ,selanjutnya disebut azimuth.Titik utara
sebagai acuan adalah sinyal utara NS yang dibangkitkan oleh sebuah encoder
yang mengatur keluarnya satu pulsa pada saat perputaran antenna yang tepat pada
arah utara magnet utara bumi(earth magnetic north).
Radar send elektromagnetic impulses with big energy output

Energy power of echo signal is very low

For radar detection is important:

Sending energy = peak power x pulse length

Average power = transmit energy / repetition period


Transmitter Power Supply

Antenna Duplexer

Receiver and Display and


Signal Processor Control

BASIC COMPONENTS OF A RADAR

High power, short pulse

Magnetron

Low power, long pulse


BAB II

Solid DARI
PRINSIP KERJA SISTEM statePERALATAN PRIMARY RADAR
Secara ringkas diagram blok primary radar dapat digambarkan seperti pada
gambar 6 Bagian utamanya terdiri dari :
1. Pemancar
2. Penerima
3. RF komponen
4. Antena
5. Prosesor
6. Layar peraga (display radar)

Pemancar

RF
synchro Antena
Komponen

Penerima Layar

Peraga radar
synchro

Gambar 6. Diagram Blok Primary Radar

1. Pemancar/TX
Pemancar berfungsi sebagai pembangkit gelombang frekuensi radio
berenergi tinggi. High Voltage Power Supply menghasilkan tegangan tinggi dc
yang diperlukan oleh oscilator atau amplifier. Untuk oscilator atau amplifier ini
biasanya menggunakan magnetron (oscilator) atau klystron (amplifier).
Fungsi Transmisinya adalah
Menggunakan magnetron /klytron amplifier yang berosilasi dengan
frekuensi natural jika menerima pulsa negative pada cathodanya.
Prinsip kerja :
Magnetron adalah diode yang membentuk lingkaran yang dilewati medan
magnet sejajar dengan sumbunya. Kehadiran medan magnet ini menyebabkan
berputarnya perjalanan elektron-elektron dan Katoda menuju Anoda. Energi yang
dihasilkan untuk magnetron diarahkan menuju antena melalui :
a. Transmisi magnetron-waveguide
b. Elbow
c. Coupler directional yang dipakai untuk mengambil energi untuk
mengontrol rangkaian AFC.
d. Duplexer, berfungsi untuk switching transmision reception.
Coupler directional dipakai mengukur power yang dipancarkan dan digunakan
untuk memperkirakan tegangan SWR dalam wave guide.
Modulator akan mengatur keluaran power supply yang sampai ke
oscilator/amplifier sehingga akan terbentuk bentuk gelombang (pulsa) yang
diinginkan. Dengan mengatur periode on dan off, modulator dapat menghasilkan
panjang pulsa, durasi pulsa serta PRF yang diinginkan. Karena tugasnya itulah
modulator sering disebut pulser.

HV Modulator

Power supply

High power

Oscillator or To antena

Operation & Safety amplifier


control
circuit
control
Mains

Gambar 7 Diagram Blok Pemancar

a. Modulator

Fungsi Modulator :
Memberikan pulsa-pulsa tegangan 16 KV-35KV dengan lebar pulsa 2 s ke
magnetron. ke Pulse Transformer untuk menghidupkan pancaran magnetron,
yaitu dengan cara discharge delay line oleh thyratron / SSD ke primernya.
Pulsa synchro yang dihasilkan untuk mentrigger modulasi thyratron / SSD
yang diperkuat agar mencapai level yang diinginkan (-200V).Memberikan high
voltage yang digunakan pada high power oscillator/ amplifier hanya pada saat
correct time.
Synchro dapat dihasilkan :
1) Signal input
a) input synchronisasi : pulsa negative 200V
b) EHT : 10KV
2) Signal output
output : pulsa negative 25 s/d 30KV

Synkronisasi

Premodulation (1)

(2) (3)
EHT Power Modulation Transmission
Antena
Supply

Network Operation Safeties

Control

(1) 5V
0
1
(2) -200V

1
(3) -(25-30KV)
b. Synchronization
Fungsi Synchronisasi :
Menentukan interval waktu antara pulsa-pulsa yang dipancarkan.
Menghasilkan pulsa dengan lebar 2 s / 500 Hz.
Membangkitkan signal-signal synchro untuk modulator (delay line).
Prinsip
Synchro dapat dihasilkan :
1) Internal : signal sync dibangkitkan di dalam modul BKP 05.
2) External : signal sync dikirim dari generator synchro (TPL 800)

c. High Power Oscillator / Amplifier

Memberikan high voltage yang digunakan pada high power oscillator/


amplifier hanya pada saat correct time.Normalnya ( biasanya ) menggunakan
MAGNETRON (oscillator ) atau KLYSTRON ( amplifier ). Magnetron hanya
memerlukan tegangan tinggi untuk menghasilkan oscillator RF . KLYSTRON
memerlukan RF unput dan juga high voltage

d. SAFETY CIRCUIT & LIMITATION :

Menganalisa data terhadap rangkaian transmitter dan mendeteksi parameter -


parameter yang salah/error.

Safety untuk mematikan EHT jika terjadi gangguan pada


saatberoperasi.
Safety untuk mematikan sementara.
e. Fungsi Operation Control
Melakukan macam-macam operasi yang diperlukan untuk menghidupkan
transmitter. Diantaranya operasi starting transmitter, power supply (low &
extra high), magnetron heating. Thyratron / SSD.
f. HV Power ( High Voltage Power )

Pada bagian ini akan memberikan tegangan DC tinggi yang akan digunakan
pada high power oscillator atau Amplifier. Menghasilkan tegangan EHT :
12 KVolt untuk supply unit modulator. Power Supply EHT
Fungsi : memberikan tegangan fungsi DC ke modulator.
Karakteristik
1) Tegangan normal : 11KV
2) EHT : 5 - 12,5KV
3) Konsumsi : 650 800 Ma
Melakukan macam-macam operasi yang diperlukan untuk menghidupkan
transmitter. Diantaranya operasi starting transmitter, power supply (low &
extra high), magnetron heating. Thyratron / SSD.

2. Penerima
- .CHARACTERISTIC RADAR RECEIVER :
1) Sensitivity
2) Gain
3) Dynamic Range
4) Band Width
Untuk mendeteksi target yang kecil dari jarak yang jauh memerlukan
power transmitter yang besar, ukuran antenna yang besar dan sensitivity
receiver yang baik. Peningkatan sensitivity receiver yang baik dapat
mengurangi besarnya power transmitter maupun ukuran antenna. Karena
receiver yang baik bisanya lebih murah daripada harus menambah besarnya
power maupun antenna. Perangkat penerima berfungsi sebagai penguat
sinyal yang diterima dan mendeteksi suatu obyek.
Karakteristik penting dari suatu perangkat penerima radar :
Sensitivitas, merupakan level terkecil energi echo yang masih bisa dideteksi, pada
umumnya berkisar 103 dbm. Sensitivitas yang semakin baik dapat menambah
jangkauan radar.
Gain, penguatan sinyal yang diterima. Berkisar 150 sampai 200 db.
Dinamic Range, penerima harus memiliki kemampuan untuk menerima sinyal
yang paling lemah serta tidak mengalami saturasi jika menerima sinyal echo yang
lebih besar dari biasanya.
Bandwidth, bidang frekuensi penerima harus cukup lebar untuk menampung
semua spektrum frekuensi sinyal ditambah pergeserannya karena efek doppler.
Untuk mengatur variasi frekuensi digunakan automatic frequency control (AFC)
yang telah diintegrasikan dengan penerima.
Receiver :
a.) Mengamplies signal signal yang diterima dan mendeteksi objek objek

b.) Mensynchron signal - signal antara transmitter dan receiver.

c.) RF Component melewatkan RF energy transmitter dan Reception dengan


minimum atennation.

d.) Display memperlihatkan secara visual arah yang di control oleh radar.

3. RF Komponen
RF komponen memegang peranan penting baik untuk transmisi pancaran
maupun saat penerimaan sinyal pantulan dari target. Yang termasuk RF
komponen antara lain :
a. Wave Guide
Wave guide berfungsi sebagai media transmisi untuk gelombang-
gelombang berfrekuensi tinggi (gelombang mikro) karena untuk frekuensi
rendah dimesinya terlalu besar. Cukup dengan satu wave guide bisa
dipakai untuk mengirimkan sinyal ke antena ataupun sebaliknya, dari
antena ke perangkat penerima.
Keuntungan dari pemakaian wave guide adalah :
1) Tidak ada daya yang hilang karena medan listrik dan medan magnet
berada di dalam wave guide.
2) Kerugian dielektrik dapat diabaikan karena wave guide berisi udara.
3) Redaman total wave guide kecil karena untuk frekuensi kerjanya, daya
yang berubah menjadi panas pada dinding lebih kecil dibandingkan
daya yang menjadi padas pada konduktor.
4) Kapasitas daya yang bisa ditransmisikan lebih besar dibandingkan
pada kabel coaxial.
5) Konstruksi sederhana.
b. Duplexer
Duplexer berfungsi sebagai :
1) Switch yang menghubungkan pemancar dan antena saat
pentransmisian pulsa serta penerima dan antena saat menerima echo.
2) Melindungi perangkat penerima dari kerusakan pada selang waktu
transmisi karena daya yang disalurkan ke antena besar.
Duplexer biasanya terbuat dari tabung udara, ferit dan solid state dioda
varactor.
Skema tersebut adalah duplexer yang terdiri dari sebuah transmit-
receive (TR) dan sebuah anti transmit-receive (ATR). Keduanya
merupakan tabung yang berisi gas yang memiliki sifat afinitas tinggi
misalnya hydrogen, halogen.
Afinitas merupakan kemampuan molekul gas untuk
menggabungkan diri karena adanya daya tarik-menarik. Sifat ini penting
karena prinsip kerja duplexer adalah ionisasi dan deionisasi gas.
Pada saat fire, molukul gas akan terionisasi menjadi elektron dan proton
ini akan mencegah daya yang berasal dari pemancar agar tidak masuk ke
penerima.
Duplexer yang baik memiliki kamampuan isolasi antara penerimaan dan
pemancaraan sinyal sebesar 60 dB. Artinya, jika ada kebocoron (daya
pemancar akan masuk ke perangkat penerima) maka daya tersebut akan
teredam sebesar minimal 60 dB, sehingga tidak membahayakan perangkat
penerima.

c. Diplexer
Diplexer diperlukan jika terdapat dua pemancar dan dua penerima
yang berkerja pada saat yang bersamaan pada satu antena (diversity
system). Masing masing pemancar membangkitkan frekuensi yang
berbeda dan waktu pancarpun diatur berbeda beberapa s dari pengaturan
pulsa trigger. Diplexer akan mengatur petransmisiannya ke antena.
Demikian pula saat penerimaan, diplexer akan menghubungkan antena
keperangkat penerima yang sesuai frekuensinya.
Perbedaan frekuensi antara dua pemancar yang beroperasi secara
diversity system yang ada di Indonesia, untuk S-band radar 100 MHz dan
untuk L-band radar 50 MHz.

d. Rotating Joint
Rotating joint bertugas memutar antena sebesar 360 pada arah horizontal
untuk mendapatkan sasaran pada semua sudut azimuth. Kostruksi rotating
joint untuk saluran wave guide lebih sulit dari pada saluran coaxial, karena
harus mengubah mode gelombang dari gelombang transverse electric
menjadi transverse magnetic, dan sebaliknya.
e. LNA (Low Noise Amplifier)
Digunakan untuk penguatan pada high coverage dan low coverage signal
yang diterima dari feed horn dari antenna.Dengan noise yang kecil
diharapkan penguatan pada LNA akan merespon sinyal2 yang di terima
antenna radar sehingga akan diteruskan ke noise figure sebagai sensitivity
dari receiver Radar PSR

4. Antena
Antena adalah alat yang berfungsi mengubah enerji gelombang ruang
bebas (free space) menjadi gelombang terbimbing (guided wave) atau
sebaliknya.
1. Meradiasikan transmission dan menangkap energy yang direflrksikan oleh
objek objek.

2. Memberi informasi arah.

Untuk memperjauh jangkauan pancaran dan penerimaan, energi


gelombang elektromagnetik ini bisa dikonsentrasikan pada satu berkas
(beam-width) yang sempit. Untuk primary radar lebar berkas yang biasanya
dipakai berkisar antara 1 sampai 2. Beam width yang sempit ini disebut
dengan istilah pencil beam.
. Dimensi antena tergantung pada besarnya frekuensi kerja radar, semakin tinggi
frekuensinya semakin kecil dimensinya. Berkas yang sempit menghasilkan
keakuratan yang tinggi dalam penentuan azimuth terutama untuk memisahkan
pesawat yang berdekatan.
Beam pattern dari antena radar ada 2 macam yg yaitu dihasilkan oleh gain
antena dengan radiasi energi yang terarah. beam pattern-nya disebut pencil beam
karena memiliki beam yang sempit dan mendekati simetris ke arah poros
pancarnya. Antena jenis ini biasanya digunakan untuk mengikuti arah sasaran
secara terus menerus.
Sedangkan antenna bentuk fan beam pattern karena arah pancarannya
dapat dibentuk menyerupai kipas oleh bentuk reflector antena. Jenis antena ini
dapat menghasilkan sudut elevasi yang lebar, tetapi dengan azimuth yang sempit.
Antena jenis ini biasanya dipakai untuk stasiun radar di bandar udara.
Antena fan beam yang sederhana tidak mencukupi untuk mendeteksi
sasaran yang tinggi dan dekat dengan stasiun radar karena energi yang
dipancarkan pada arah ini sangat lemah. Oleh karena itu antena jenis ini dapat
dimodifikasi untuk kepentingan tersebut dan disebut dengan cosecant-squared
antenna pattern dimana arah pattern-nya terlihat lebih vertikal.
Antena cosecant-squared ii mendapat energi masukan dari dua atau lebih
horn. Energi ini dipantulkan oleh reflektor dengan pancaran pantul
Ukuran kemampuan antena untuk mengkonsentrasikan energi pada arah
yang diinginkan dikenal dengan istilah gain. Ada dua tipe gain yang menjadi
kemampuan kerja antena yaitu directive gain dan power gain.
Directive gain adalah pembesaran (gain) yang terjadi dari sebuah antena
radar yang berhubungan dengan terbentuknya beam pattern.
Apabila B dan B adalah beam width pada arah vertikal dan horisontal, maka
persamaan directive gainnya adalah :

4
Gd =
B . B

Power gain adalah pembesaran (gain) energi dari sebuah antena radar yang
juga mengandung faktor kerugian (dissipative losses).

Apabila luas efektif antena parabola Ae, maka :

4 Ae
G =

dan Ae = a A

4 a A
G =

dimana : = panjang gelombang
a = efisiensi bagian antena
A = luas fisik antena
Hubungan antara Gd dan G adalah G = r Gd dimana r merupakan
efisiensi faktor radiasi.
1. Tipe unit antene PSR ini adalah , yang terdiri dari :
- Reflektor
- Source/horn
- Wave guide
- Rotating joint - Pedestal
- Analysis sistem
- Starting Unit

1.1. Reflektor
Merupakan reflektor kurva ganda (jangkauan rendah LC dan tinggi HO)
yang tebuat dari baja anti karat seperti pada gambar 1.
1.2. Source
Unit source / feeder / horn terdiri dari 2 set source ganda (gambar 3), sebagai
berikut :
Source pancaran / jangkauan rendah, yang digunakan untuk pancaran RF dan
penerimaan RF rendah (low coverage), yaitu pada source posisi bawah.
Source pancaran / jangkauan tinggi, yang digunakan untuk pancaran RF dan
penerimaan RF tinggi (high coverage), yaitu pada source posisi atas.
1.3. Rangkaian Wave Guide
Rangkaian wave guide berfungsi untuk menyalurkan gelombang RF dan
dari pemancar dan ke receiver untuk sinyal jangkauan rendah (Low coverage,
1.4. Rotating Joint
Unit ini berfungsi untuk menghubungkan sinyal RF antara bagian yang diam
dan berputar
Rotating Joint yang terpasang ada dua jenis :
- Level tinggi : berfungsi untuk melewatkan sinyal RF antara
input wave guide transmiter / receiver dan output wave
guide ke source level tinggi.
- Level rendah : berfungsi untuk melewatkan sinyal RF yang melalui
coaxial, 1 kanal untuk source level rendah (High
coverage) dan 2 kanal untuk SSR.
1.5. Pedestal (gambar 2.1)
Pedestal berisi :
- Drive motor
- Gear reduksi
- Sistem pelumasan
- Unit analisis sistem (Selsyn)
- Untuk daya drive motor antene dicatu dengan tegangan 3 pasa.
- Untuk gear reduksi berguna untuk m \ embuat speed putaran antene
10 rpm ataul5 rpm.
- Untuk unit Selsyn (gambar 4 & 5), berguna untuk menghasilkan data
azimuth antene.
1.6. Unit Starting
Fungsi :
Mengontrol / mengendalikan starting antene

Mengontrol polarisasi

Mengontrol interlock dan proteksi

Indikator kerusakan
Pada gambar 9, merupakan diagram sistem PSR untuk model S Band.
Pada sistem tersebut, bekerjanya transmiter ER 713S didukung oleh Receiver
RR 800 dan Prosesor Primer TPL 800.
TPL 800 membangkitkan triger atau sinkro untuk transmiter, sinkro bagi transmiter
adalah sebagai pengendali waktu kapan transmiter melakukan pancaran.
Sedangkan secara keseluruhan, sinkro sangat berguna untuk men-sinkron-kan
operas' dari semua peralatan utama dari sistem radar.
Pancaran tersebut akan melewati Duplexer, rotating joint dan antene.
Target pesawat diterima di antene, diteruskan ke rotating joint, duplexer, RF
Ampilier RF 800 dan Receiver RR 800.
Sinyal AFC yang berasal RR 800 yang menuju ER 713 S, edalah sinyal
kontrol bagi tube magnetron transmiter agar perbedaan frekuensi
penerimaan dan pancaran sebesar 30 Mhz.
Setelah target pesawat / video diterima di receiver, dilanjutkan dengan dilakukan
proses filter, penguatan dan pembentukan video linier yang dikirim ke TPL 800.
Di TPL 800, Video tersebut yang berbentuk analog dirubah menjadi digital,
kemudian dilakukan proses filter MTI. Hasil dad filter, berupa video terproses,
sebagaian dikirim ke rangkaian pembuat plot dan sebagaian dikirim ke display.
Untuk dual sistem PSR dengan dua transmiter yang frekuensinya berbeda, adalah
sistem radar dengan frekuensi diversity, dapat dilihat pada gambar 10.
3.1. Transmiter ER 713 S
Transmiter ER 713 S menggunakan magnetron yang beroperasi dengan
menggunakan frekuensi S Band (2700 - 2900 Mhz). Power peak dari magnetron
tersebut sekitar 600 kWatt.
Hubungan dasar antara transmiter dan receiver terlihat pada gambar 11, yang
merupakan fungsi dasar dari transmiter, yang terdiri terdiri dari :
pembangkit triger, yang membangkitkan pulsa-pulsa triggering
transmiter. modulator yang menghasilkan sinyal-sinyal segi empat,
digunakan untuk kontrol pancaran dan pemberi tegangan tinggi terhadap
transmiter.
duplexer yang dapat memisahkan dan mengarahkan sinyal pancaran atau
pene rimaan.
Komposisi transmiter ER 713 S, seperti pada gambar 12, mempunyai fungsi
sebagai berikut :
- Sinkronisasi dan Premodulation
Unit ini menerima sinyal trigger / sinkro dari TPL 800, sinyal tersebut disesuaikan
dan dibentuk untuk dipakai sebagai triger bagi thyratron atau unit solid state.
- Modulation
Unit ini berfungsi untuk memberikan magnetron berupa pulsa tegangan tinggi
searah negatif
sebesar 16 kV - 32 kV.
Pulsa negatif tersebut dihasilkan dengan cara "charging dan discharging" yang
dikontrol oleh unit solid state / thyratron (gambar 13)
- Power Supply EHT
Berfungsi : - memberikan tegangan tinggi searah ke modulator
- mengatur, mendeteksi, mengecek dan mengukur tegangan
Fungsi Transmisi
Fungsi ini melibatkan rangkaian dari magnetron sampai ke antene (gambar
14), yaitu :
AFC Coupler dan pengukuran coupler
C o u p l e r ya n g d a p a t b e r f u n gs i u n t u k m e n gu k u r s i n ya l R F
ya n g dipancarkan dari magnetron.
Penggunaan coupler ini adalah :
# Pengukuran sinyal transmisi RF untuk digunakan data bagi unit
AFC Pengukuran daya oleh "test equipment" atau power meter.
Magnetron
Magnetron menghasilkan frekuensi natural jika katodenya
dipanaskan dengan
pulsa tegangan negatip dari modulator. Frekuensi yang dapat dihasilkan
adalah 2700 - 2900 Mhz.
Unit AFC
Berfungsi untuk mengontrol / mengatur frekuensi magnetron agar
beda frekeunsi antara magnetron dan local osilator receiver sebesar 30
Mhz.
Fungsi Control dan Ancillaries
Fungsi adalah melakukan pembagi tegangan yang diperlukan untuk
operasi transmiter (gambar 12), yaitu untuk :
- Power supply tagangan rendah (LT) 48 Volt
- Power supply tegangan tinggi (EHT)
- Fan
- Control heating magnetron dan thyratron (3 menit)
Fungsi Safety dan Limitation
Fungsi ini melakukan pengecekan parameter-parameter dan pembatasan
jika terjadi perubahan diluar batas toleransinya (gambar 12).
Ada 2 group safety :
- Safety yang menghasilkan diputusnya tegangan EHT.
Misalnya safety untuk : suhu kabinet, pinto kabinet, putaran antene dan lain-
lain.
- Safety hanya untuk sementara, yaitu diputusnya tegangan EHT dengan cara
otomatik atau manual.

Dengan cara tersebut, jika gangguan atau kerusakan terjadi sesaat saja
dan jika gangguan itu muncul 3 kali dalam waktu kurang dari 12 menit,
maka tegangan EHT akan diputus.
Misalnya safety untuk : back swing, I (EHT) atau V(EHT).

RECEIVER

Receiver berfungsi menghasilkan sinyal video radar yang berasal dari sinyal
RF (echo) balk Low Coverage (LC) ataupun High Coverage (HC) dari
antene), sinyal RF tersebut diperkuat oleh RF Amplifier RF 820 S dengan
noise sekecil mungkin dan diteruskan ke Receiver RR 800.
Setelah pemrosesan dan analisa, sinyal - sinyal ini ditampilkan pada monitor test
untuk mengetahui adanya gambar echo - echo.
Gambar 16 merupakan blok diagram dimana menunjukkan hubungan receiver
terhadap sistem PSR.
Untuk sistem PSR Banjarmasin dapat dilihat pada gambar 17.

Receiver (gambar 18) terdiri dari :


a. Unit Receiver RR BOO SM
- Signal Generation GH 800
- Automatic Frequency Transmission Control (AFC) AF 800 S + OS
800 S.
- Radar reception MF 800 S/R
- Test signal Generation MF 800 T
- Switching LC/HC BJX 27
- Power Supply.
b. RF Amplifier RF 820 S
Untuk sistem dual sistem dan double coverage, diperlukan tiga unit RF 820 S

SIGNAL GENERATION UNIT GH 800


Unit ini berfungsi menghasilkan :
a. Sinyal referensi 15 MHz & 600 Khz
b. Sinyal osilator master 30 Mhz.

Sinyal no. a untuk TPL 800, yaitu untuk kepentingan pemrosesan data
dan sinkronisasi.
Sinyal no. b untuk membangkitkan 15 MHz dan 600 KHz serta untuk
referensi sinyal pada operasi diversity.

UNIT AFC AF 800 S + OS 800 S


Unit ini berfungsi sebagai pembangkit sinyal osilator lokal melalui
Synthisizer dengan kontrol frekuensi pertambahan 5 Mhz, sinyal tersebut
dicampuri dengan sinyal RF dari coupler AFC agar menghasilkan pulsa
IF sebesar 30 Mhz, sehingga berlaku :

IF = Fe Flo dimana : IF = Intermedite Frequency 30 Mhz


Fe = Frekuensi pancaran transmiter
Flo = Frekuensi local oscilator

Perubahan IF akan dideteksi dan akan mengatur frekuensi pancaran


magnetron (transmiter) melalui kontrol motor frekuensi magnetron.

UNIT RADAR RECEPTION MF 800 S / R


Sinyal RF yang berasal dari RF amplifier RF 820 S dan Switch HC / LC dikirim ke
modul reception MF 800 S/R.
Fungsi MF 800 S/R adalah mengubah dan memperkuat sinyal RF tersebut
menjadi sinyal IF 30 Mhz dan mengkorvesikan menjadi sinyal video (linier I & Q
dan Iogaritmic).

UNIT SWITCHING LC/HC BJX 27


Berfungsi untuk memilih satu kanal dari 2 kanal LC dan HC secara program dari
prosesing primer TPL 800.

UHF TEST MF 800 S/T


Berfungsi untuk membangkitkan sinyal test RF (LC & HC) yang diperintah dan
dikontrol dari TPL 800 untuk keperluan pengetesan operasi sistem.

RF AMPLIFIER RF 820 S
- Penguat sinyal RF (LC & HC) dari antene dengan noise sekecil mungkin.
- Pembatas power terhadap kebocoran pancaran RF transmiter.
System radar Surabaya merk Thomson terdiri dari Radar Primer (PSR) dan
Radar Sekunder (SSR), yang terdiri dari
Antene PSR dan SSR
- Antene PSR type AC 316 - Antene SSR AS 304
*Sistem PSR
- Switch Transmiter / Receiver (Duplexer)
Transmiter ER 713 S
- Receiver RR 800
Prosesinq Primer (Plot
Primer) - Extractor
primer TPL 801
Prosesinq Sekunder / Plot
Sekunder - Extractor
*Sistem SSR
Transmiter / Receiver RS 870
sekunder EV 760 ST
Encoder dan Distributor
- Encoder azimuth dan distribusi video CD 800
Prosesinq
Radar/Track -
Prosesor Radar
PR 800
Distribusi Video / Sintetik
- Unit konversi kode
CTR 830 - Distribusi
sintetik TCD 800
- Distribusi Video DR 770
Display Radar
- Display Control MIV 800

VII. PRINSIP KERJA SISTEM RADAR THOMSON


Sistem PSR merupakan radar yang bersifat pasif (pesawat tidak aktif
komonikasi dengan radar), sedangkan SSR bersifat aktif (pesawat aktif
berkomunikasi dengan radar).

SISTEM ANTENE

Terdiri dari antene PSR dan SSR. Antene PSR berfungsi


menyalurkan pulsa gelombang RF dari pemancar PSR ke udara dan dari
target pesawat ke penerima PSR. Sedangkan antene SSR menyalurkan
pulsa mode gelombang RF dari pemancar SSR ke udara dan dari code
target pesawat ke penerima SSR.

SISTEM PSR (TA 10 M)

Transmiter dengan menggunakan tube magnetron memancarkan pulsa


gelombang RF dengan frekuensi 2700 Mhz - 2900 Mhz dengan
power peak 650 kWatt disalurkan ke antene. Pancaran RF tersebut jika
mengenai badan pesawat, akan terpantul kembali ke antena untuk
diteruskan ke receiver. Sinyal target yang diterima di receiver tersebut
difilter, diperkuat dan outputnya dikirim ke prosesor primer (TPL800)

PROSESOR PRIMER (TPL 800)

Dalam TPL 800, sinyal analog dari Receiver dirubah menjadi


digital, yang selanjutnya dilakukan proses filtering melalui unit MTI,
hasil filtering diteruskan dengan proses korelasi dan ekstraksi serta
pembentukan plot dari target nyata. Disamping itu, TPL berfungsi sebagai
generator synchro untuk sistem radar

SISTEM SSR (RS870)


Transmiter memancarkan pulsa gelombang RF dengan frekuensi 1030
Mhz, yaitu dengan pulsa mode P1 - P2 - P3 dengan power peak 3 kWatt
yang disalurkan ke antene. Pesawat dengan trasnponder terpasang akan
menjawab pertanyaan dari SSR sesuai dengan mode yang diminta.
Jawaban transponder ke SSR berupa kode yang berbentuk pulsa - pulsa
dengan frekuensi 1090 Mhz. Receiver menerima kode pesawat via antene,
melakukan proses filter dan penguatan serta outputnya dikirim ke
prosesor sekunder (EV720).

PROSESOR SEKUNDER (EV 720)


Dalam EV 760 ST, code-code target / pesawat diproses, dikorelasi dan di-
ekstraksi untuk dibentuk menjadi data sintelik berupa plot disertai dengan
data-data pesawat (posisi, kode pesawat dan ketinggian).
ENCODER AZIMUTH DAN DISTRIBUTOR VIDEO CD 800
CD 800 berfungsi :

- Merubah sinyal 3 phase dari selsyn antene menjadi digital, yang


merupakan data azimuth untuk posisi antene.

- Mendistribusikan data azimuth, synchro, video.

PROSESING RADAR (PR 800)


PR 800 melakukan proses filtering plot sintetik dari PSR dan SSR, korelasi "scan
to scan", pembentukan track (primer dan sekunder), penggabungan track primer
dan sekunder (track assosiated) dan formating.

DISTRIBUSI VIDEO / SINTETIK


CTR 830 berfungsi sebagai pengubah kode / format data sintetik dari PR 800 ke
format display MIV 800.
- TCD 800 berfungsi sebagai saklar pemilih data sintetik dari CTR1 atau 2 dan
sebagai pendistribusi data sintetik terpilih ke beberapa display MIV 800.
DR 770 berfungsi sebagai pendistribusi synchro, data azimuth dan video raw ke
beberapa display MIV 800.
DISPLAY RADAR (MIV 800)
MIV 800 berfungsi sebagai penampil data sintetik dan video raw dari semua.target
hasil pemrosesan.
Data sintetik yang dapat ditampilkan adalah
PENGENALAN RADAR PSR RL-2000 SURABAYA

Main Parameters of RL-2000

Output Transmitter peak power min. 12kW


Stagger 0- 10 %
Pulse Width:
Short pulse 1 s
Long pulse 40 s
Transmitter frequency 2700-2900 MHz
Range 1 km up to 120 km
Range resolution 230 m
Azimuth resolution 2,1
Rotation speed 15 rpm or 10 rpm
Pulse Repetition Frequency PRF 920 Hz
Maximum Pulse Width Tmax 82 s
Transmitter max duty cycle TT (PRF * Tmax) 0,0754

Basic pulses
Structural Design of Mechanical Parts
Microwave guides
Antenna system
Antenna APSR-2000
Radiation pattern in azimuth (low beam) of APSR-2000
Vertical diagram (low beam) of APSR-2000
Coverage Diagram

RL2000 Act beam: STC range 40, slope 25, max 50, Pas beam, STC range 8, slope 25, max 50

20

18

16

14

12
Hight [km]

10

0 20 40 60 80 100 120
Range [km]
RF generator
4xRLOC
LO 1D 2219MHz
LO 1C 2234MHz
LO 1B 2256MHz
LO 1A 2277MHz
RLOA RLOB

RFMT
D 2820 MHz
543MHz MODULATOR SWITCH
FA0

POWER COMBINER
OSCILATOR OSCILATOR

TRANSMITTER (TEXC)
POWER SPLITTER
70MHz 613MHz
C 2799 MHz
543MHz MODULATOR SWITCH
FA1
MOD I
MODULATOR 543MHz DIG.ATTEN.
MOD Q 1. if > MIXER 2. if >
I/Q
B 2777 MHz
543MHz MODULATOR SWITCH
FA2

A 2762 MHz
543MHz MODULATOR SWITCH
FA3
RIFT
RFGEN-402
Blok of
Receiver CLK
DATA NOISE FIGURE
A/D CONV SENSOR
543MHz I LONG "D"
MIXER 1. if >
MIXER 2. 1f >
MIXER Q LONG "D"
STC CONTROL
DATA
A/D CONV
543MHz
MIXER 1. if > CLK
DIVIDER

MIXER 2. 1f >
LNA GAIN DRIVER
CLK
DATA
543MHz A/D CONV
MIXER 1. if > I LONG "C"
MIXER 2. if >
MIXER Q LONG "C"
543MHz DATA
MIXER 1. if > A/D CONV
MIXER 2. if > CLK
INTERFACE
OPTICAL OF RDE
CLK TRANSMISSION
DATA
LO 1A 2277MHz DIVIDER A/D CONV
LO 1B 2256MHz 613MHz I SHORT "B"
LO 1C 2234MHz
LO 1D 2219MHz MIXER Q SHORT "B"
CONTROL
DATA COMPUTER
A/D CONV
CLK

CLK
DATA
A/D CONV
I SHORT "A"
DIVIDER
70MHz MIXER Q SHORT "A"
DATA
A/D CONV
CLK
MEASUREMENT POWER SUPPLY
ZSH (38V; 1,5A)
DIRECTION
COUPLER
TEXC A PULSES RFGEN A
HF LOAD (MOD.SIGNAL)
EXCITER RFMT

RF
16 INPUTS SPLITTER SWITCH CONTROL AND
LAN A
DIAGNOSTIC OF
POWER
TRANSMITTER
300W

PULSES RFGEN A
TEXC B
(MOD.SIGNAL)
EXCITER RFMT

RS485
RS485 CONTROL AND
LAN B
DIAGNOSTIC OF
TRANSMITTER
POWER MODUL
POWER SUPPLY 39V/11A TFSE 1
ZSF 1

POWER SUPPLY
POWER MODUL ZSH (38V; 1,5A)
POWER SUPPLY 39V/11A TFSE 2
ZSF 2
16 OTPUTS COMBINER

POWER MODUL
POWER SUPPLY 39V/11A TFSE 3 POWER > 13kW
ZSF 3
waveguide

TRANSMITTER
POWER MODUL RL-2000
POWER SUPPLY 39V/11A TFSE 16
ZSF 16
HANDBOOK RADAR PSR and SSR