Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH TUGAS KETUA TIM DALAM

PELAYANAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES CITRA DELIMA BANGKA BELITUNG

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... 2

KATA PENGANTAR .................................................................................. 3

BAB I TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 4

BAB II KERANGKA KERJA.................................................................................. 20

BAB III PENUTUP................................................................................................ 23

3.1 KRITISI......................................................................................................... 23

3.2 SOLUSI ....................................................................................................... 23

2
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang Makalah Tugas Ketua Tim Pelayanan Keperawatan ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan penulis juga berterima kasih pada
Bapak Dosen mata kuliah Manajemen Keperawatan yang telah memberikan tugas
ini kepada penulis.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan pembaca mengenai pengertian dan fungsi dari
perencanaan pelayanan keperawatan khususnya dalam hal MPKP. Penulis juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Toboali, Oktober 2015

3
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pengertian
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan
melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan
kenyamanan kepada pasien (Gllies,1989).
Seorang manajer keperawatan bertugas merencanakan, mengorganisasi,
mengarahkan dan mengontrol finansial, material dan sumber daya manusia yang
tersedia yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan seefektif mungkin
kepada sekelompok pasien dan keluarganya.
A. TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

1. Tugas pelayanan keperawatan di rumah sakit :

Menyelenggarakan pelayanan keperawatan yang berfokus kepada manusia


yaitu pasien dan keluarganya, yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif serta memperhatikan pengaruh psikologis, sosial budaya dan
spiritualnya.

2. Fungsi bidang pelayanan keperawatan di rumah sakit ;

Mengatur dan mengendalikan kegiatan keperawatan di unit-unit


pelayanan keperawatan.
Mengokordinasikan tenaga keperawatan khususnya yang ditugaskan
dalam bidang pelayanan keperawatan
Menetapkan dan menerapkan filosofi, tujuan dan standar
keperawatan pasien dalam pelayanan keperawatan
Menyusun perencanaan pelayanan keperawatan, sesuai dengan
lingkup kewenangannya dan perencanaan implementasi untuk setiap
tingkat tenaga keperawatan
Mengkoordinasikan fungsi-fungsi bidang pelayanan keperawatan
keperawatan dengan fungsi bidang pelayanan yang lain agar dapat
memberikan pelayanan terpadu.

4
Estimasi tuntutan kebutuhan bidang pelayanan keperawatan dan
mengusulkan kebijakan serta prosedur untuk menjaga kestabilan
kemampuan staf yang adekuat.
Mengembangkan metoda kerja bagi staf keperawatan sehingga dapat
bekerja sama dengan staf lain di rumah sakit.
Partisipasi dalam penyusunan kebijakan personalia rumah sakit,
menerapkan kebijakan yang telah ditentukan serta mengevaluasi
hasilnya.
Mengembangkan sistem dan prosedur pencatatan dan pelaporan baik
dalam perawatan pasien maupun pelayanan keperawatan.
Estimasi kebutuhan tenaga keperawatan, menetapkan standar
ketenagaan, baik kuantitas maupun kualitas untuk memelihara pelayanan
keperawatan yang bermutu.
Estimasi kebutuhan fasilitas keperawatan, pengadaan perlengkapan
maupun peralatan, serta sitem dan prosedur pengawasan dan
evaluasinya.
Partisipasi dalam perencanaan anggaran pendapatan dan biaya
tahunan rumah sakit, terutama yang berhubungan dengan pelayanan
keperawatan.
Mengambil inisiatif dan atau partisipasi dalam penelitian bidang
keperawatan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan di rumah sakit.
Menyelenggarakan program pembinaan dan latihan yang
berkesinambungan bagi tenaga keperawatan di rumah sakit.
Partisipasi dalam program bimbingan siswa/mahasiswa tenaga
kesehatan untuk pengalaman praktek mereka.
B. TUJUAN STANDAR MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan di sarana kesehatan melalui peningkatan kualitas
pelayanan keperawatan dan kebidanan.
2. Tujuan Khusus
a. Adanya Standar Perencanaan Pelayanan Keperawatan.
b. Adanya Standar Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan
c. Adanya Standar Pengaturan Tenaga Keperawatan
d. Adanya Standar Pengarahan Pelayanan Keperawatan
5
e. Adanya Standar Evaluasi Pelayanan Keperawatan
f. Adanya Standar Pengendalian Mutu Pelayanan Keperawatan

C.RUANG LINGKUP STANDAR


Lingkup Standar Manajemen Keperawatan mencangkup 5 ( lima) standar yaitu:
1. Standar I : Perencanaan Keperawatan
2. Standar II : Pengorganisasian Keperawatan
3. Standar III : Pengaturan Tenaga Kerja
4. Standar IV : Pengarahan Keperawatan
5. Standar V : Evaluasi Keperawatan
6. Standar VI : Pengendalian Mutu Keperawatan

D. JENIS-JENIS STANDAR MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN


1. Standar I : Perencanaan Pelayanan Keperawatan
Pernyataan :
Perencanaan pelayanan keperawatan disusun berdasarkan hasil pengumpulan
dan analisis data, hasil kegiatan pelayanan perawatan dan sumber daya (
manusia, fasilitas, peralatan, dan dana) yang tepat dan memadai untuk
mencapai tujuan pelayanan keperawatan.
Rasional:
Perencanaan pelayanan keperawatan merupakan fungsi utama pengelolaan dan
landasan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan pelayanan keperawatan.
Kriteria Struktur :
a. Adanya kebijakan manajemen pelayanan keperawatan sebagai pendukung
penyusun perencanaan.
b. Adanya visi, misi sarana pelayanan kesehatan
c. Adanya falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan yang mengacu pada
visi, misi
d. Tersedianya data dan informasi yang dibutuhkan untuk perencanaan secara
tepat dan memadai
e. Adanya srandar antara lain standar ketenagakerjaan, standar fasilitasi dan
peralatan pelayanan keperawatan dan kebidanan
f. Tersedianya sumber daya yang dibutuhkan untuk pelayanan keperawatan
g. Adanya mekanisme perencanaan pelayanan keperawatan
6
Kreteria Proses:
a. Melaksanakan koordinasi dengan unit pelayanan terkait
b. Melibatkan unsure pengelolaan dan staf sesuai tingkat manajerial
c. Melaksanakan perencanaan secara bottom up
Kriteria Hasil:
a. Adanya dokumen yang menunjukan perencanaan keperawatan meliputi:
aspek ketenagaan , fasilitas dan peralatan serta upaya pengendalian mutu
pelayanan
b. Perencanaan keperawatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
rencana induk perencanaan sarana kesehatan

2. Srandar II : Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan


Pernyataan:
Pengatran sumber daya ( manusia, fasilitas, peralatan dan dana) melalui
integrasi dan koordinasi untuk mencapai tujuan pelayanan
Rasional:
Pengaturan sumber daya manusia berkesinambungan pelayanan keperawatan
secara efektif dan efesien
Kreteria Struktur:
a. Adanya kebijakan tentang manajemen pelayanan keperawatan sebagai
pendukung pengorganisasian.
b. Adanya struktur organisasi dan tata hubungan kerja structural dan fungsional
pelayanan keperawatan di sarana pelayanaan kesehatan
c. Adanya uraian tugas, tanggungjawab dan wewenang yang jelas dan tertulis
bagi tiap tenaga keperwatan.
d. Adanya tenaga keperawatan yang ditunjuk untuk menduduki jabatan
tertentu.
e. adanya dokumen kualifikasi/persyaratan jabatan bagi pimpinan
keperawatan.
Kriteria Proses :
a. Memahami uraian tugas, tanggung jawab dan wewenang bagi tiap tenaga
keperawatan.
b. Melaksanakan tugas sesuai dengan uraian tugas, tanggung jawab dan
wewenang.
7
c. Melakukan koordinasi kegiatan pelayanan keperawatan.
Kriteria hasil :
a. Adanya tenaga keperawatan yang menduduki jabatan, sesuai dengan
persyaratan.
b. Pelayanan keperawatan bagian integral di dalam struktur organisasi saran
kesehatan.
c. Adanya dokumen pengaturan pendayagunaan sumber daya keperawatan
meliputi : ketenagaan, fasilitas, peralatan.
d. Adanya dokumen pelaksanaan rapat koordinasi

3. Standar III : Pengaturan Ketenagaan Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan


Pernyataan :
Pendayagunaan tenaga keperawatan sesuai kompetisi dan potensi pengembangan
untuk terlaksananya pelayanan keperawatan yang bermutu.
Rasional :
Pengelolaan manajemen keperawatan dapat terlaksana secara efektif dan efisien
apabila didukung dengan pengaturan tenaga keperawatan yang bermutu.
Kriteria struktur :
a. Adanya kebijakan tentang pendayagunaan tenaga keperawatan.
b. Adnya standar tenaga keperawatan sesuai dengan kebutuhan pelayanan
keperawatan.
c. Adanya pola tenaga keperawatan di sarana kesehatan.
Kriteria proses :
a. Mengidentifikasi jenis dan kulifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan
kebutuhan pelayanan keperawatan.
b. Menetapkan jumlah dan jenis tenaga keperawatan untuk memenuhi kebutuhan
sesuai dengan standar pelayanan keperawatan dan pola tenaga keperawatan.
c. Menjadi anggota tim rekrutmen tenaga keperawatan.
d. Melaksanakan program orientasi bagi tenaga baru.
e. Melaksanakan model penugasan.
f. Menyusun jadwal dinas yang fleksibel.
g. Melaksanakan program mutasi, mobilisasi dan mempertahankan (retention)
tenaga keperawatan.
h. Menyusun program pengembangan staf keperawatan.
8
i. Melaksanakan penilaian kinerja.
Kriteria hasil :
a. Adanya dokumen pola tenaga keperawatan di sarana kesehatan.
b. Adanya jadwal dinas yang menggambarkan komosisi tenaga keperawatan yang
seimbang kompetensinya pada setiap tugas gilir (shift)
c. Adanya dokumen hasil penilaian kinerja tenaga keperawatan .
d. Adanya dokumen pelaksana program pengembangan staf.
e. Adanya dokumen pelaksana program orientasi.
f. Adanya dokumen pelaksana program mutasi, mobilisasi dan mempertahankan
(retention).
g. Adanya dokumen model penugasan asuhan pelayanan keperawatan.

4. Standar IV : Pengarahan Pelayanan Keperawatan


Pernyataan :
Pengarahan yang terstruktur untuk mencapai pelayanan keperawatan bermutu
sesuai tujuan organisasi sarana kesehatan.
Rasional :
Iklim kerja yang kondusif diciptakan melalui kemampuan interpersonal manajer
pelayanan keperawatan dalam memotivasi dan membimbing staf sehingga
meningkatkan kinerja staf meningkat.
Kriteria struktur :
a. Adanya kebijakan tentang manajemen pelayan keperawatan yang mendukung
fungsi pengarahan.
b. Adanya tenaga kperawatan yang memiliki kemampuan, dan keterampilan
manajerial.
c. Adanya mekanisme pembinaan tenaga keperawatan.
d. Adanya fasilitas yang mendukung lingkungan kerja yang kondusif untuk
pembinaan.
Kriteria proses :
a. Melaksanakan pembinaan tenga keperawatan berdasarkan hasil evaluasi kerja.
b. Memberikan umpan balik.
c. Melaksanakan tindak lanjut hasil program pembinaan antara lain pemberian
penghargaan dan sanksi.
Kriteria hasil :
9
a. Adanya dokumen pelaksana program pembinaan.
b. Adanya peningkatan kemampuan tenaga keperawatan yang dibina.
c. Adanya dokumen upaya tindak lanjut hasil pelaksanaan pembinaan antara lain
pemberian penghargaan dan sanksi.

5. Standar V : Evaluasi Pelayanan Keperawatan


Pernyataan :
Evaluasi dilakukan secara objektif sebagai upaya perbaikan untuk tercapainya
tujuan keperawatan.

Rasional :
Evaluasi dapat mendorong terjadinya perubahan perkembangan system dalam
peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
Kriteria struktur :
a. Adanya kebijakan tentang manajemen pelayanan keperawatan yang
mendukung evaluasi pelayanan keperawatn.
b. Adanya mekanisme evaluasi pencapaian tujuan pelayanan keperawatan.
c. Adanya alat evaluasi pencapaian tujuan pelayanan keperawatan.
d. Adanya standar pelayanan keperawatan.
Kriteria proses :
a. Menyusun rencana evaluasi pencapaian tujuan pelayanan keperawatan.
b. Melaksanakan evaluasi pencapaian tujuan pelayanan keperawatan.
c. Memberikan umpanbalik hasil evaluasi pencapaian tujuan pelayanan
keperawatan.
d. Melaksanakan tindak lanjut hasil pencapaian tujuan.
Kriteria hasil :
a. Adanya dokumen hasil evaluasi pencapaian tujuan pelayan keperawatan.
b. Adanya dokumen tindak lanjut hasil evaluasi pencapaian tujuan pelayanan
keperawatan.
c. Adanya dokumen upaya perbaikan pelayanan keperawatan.

6. Standar VI : Pengendalian Mutu Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan di


Sarana Kesehatan
Pernyataan :
10
Upaya pemntauan yang berkesinambungan yang diperlukan untuk menilai mutu
pelayanan keperawatan dan kebidanan di sarana kesehatan.
Rasional :
Program pengendalian mutu dapat menunjang tercapainya pelayanan keperawatan
dan kebidanan yang efisien dan efektif di sarana kesehatan.
Kriteria struktur :
a. Adanya kebijakan program pengendalian mutu pelayanan keperawatan dan
kebidanan di sarana kesehatan.
b. Adanya program pengendalian mutu pelayanan keperawatan.
c. Adanya standar pelayanan keperawatan.
d. Adanya mekanisme pelaksanaan program pengendalian mutu.
e. Adanya tim pengendalian mutu dalam Organisasi Pelayanan Kesehatan.
f. Adanya sumber daya yang menandai dalam jumlah dan kualitas.
Kriteria proses :
a. Menyusun alat pengendalian mutu sesuai dengan metoda yang dipilih.
b. Melaksanakan upaya pengendalian mutu antara lain : audit keperawatan/
supervise keperawatan, Gugus Kendali Mutu, survey kepuasan pasien,
keluarga/petugas, presentasi kasusdan ronde keperawatan.
c. Menganalisa dan menginterpretasikan data hasil evaluasi pengendalian mutu.
d. Menyusun upaya tindak lanjut.
Kriteria hasil :
a. Adanya dokumen hasil pengendalian mutu.
b. Adanya dokumen umapan balik dan upaya tindak lanjut.
c. Adanya dokumen hasil survey kepuasan pasien, keluarga dan petugas.
d. Adanya penampilan klinik tenaga keperawatan sesuai dengan standar
pelayanan keperawatan.
e. Menurunya angka kejadian komplikasi sebagai akibat pmberian asuhan
keperawatan antara lain : dekubitus, jatuh, pneumia, pneumia orthostatic, infeksi
nasokomial, drop foot

11
Manajemen Keperawatan Ruang MPKP

Proses manajemen pada model praktik keperawatan professional terdiri dari


perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan
pengendaliaan (controlling).

1. Perencanaan

Kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi perumusan visi, misi,
filosofi dan kebijakan. Sedangkan untuk jenis perencanaan yang diterapkan adalah
perencanaan jangka pendek yang meliputi rencana kegiatan harian, bulanan dan
tahunan.
Jenis-jenis perencanaan terdiri dari :
1. Rencana jangka panjang, yang disebut juga perencanaan strategis yang
disusun untuk 3 sampai 10 tahun.
2. Rencana jangka menengah dibuat dan berlaku 1 sampai 5 tahun.
3. Rencana jangka pendek dibuat 1 jam sampai dengan 1 tahun.
Hirarki dalam perencanaan terdiri dari perumusan visi, misi, filosofi, peraturan,
kebijakan, dan prosedur (Marquis & Houston, 1998).

2. Pengorganisasian (organizing)

Pengorganisasian menurut Korn & Thora (1981) adalah koordinasi beberapa


aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan. Pengorganisasian sendiri meliputi
pembentukan struktur untuk melaksanakan rencana dan divisi-divisi untuk mencapai
tujuan. Pengorganisasian didalam keperawatan meliputi menentukan jumlah tenaga
berdasarkan tingkat ketergantungan pasien dan metode penugasannya.

Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokkan orang-orang, alat-alat,


tugas, kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu
organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah
ditetapkan (Siagian, 1983 dalam Sahar).

Fungsi pengorganisasian merupakan proses mencapai tujuan dengan koordinasi


kegiatan dan usaha, melalui penataan pola struktur, tugas, otoritas, tenaga kerja dan
komunikasi (Szilagji).
3 hal dalam pengorganisasian.
1) Pola struktur yang berarti proses hubungan interaksi yang berhubungan
secara efektif.
2) penataan tiap kegiatan yang merupakan kerangka kerja dalam organisai.

12
3) Struktur kerja organisasi termasuk kelompok kerja kegiatan yang sama, pola
hubungan antar kegiatan yang tepat dan pembinaan cara komunikasi yang efektif
antar perawat.
Prinsip-Prinsip Dalam Pengorganisasian yaitu :
1) Pembagian kerja.
Hal yang Perlu Diperhatikan:
a) Jumlah tugas yang dibebankan seseorang terbatas dan sesuai dengan
kemampuannya.
b) Tiap bangsal/bagian memiliki perincian aktivitas yang jelas dan tertulis.
c) Tiap staf memiliki perincian tugas yang jelas.
d) Variasi tugas bagi seseorang diusahakan sejenis atau jelas atau erat
hubungannya
e) Mencegah terjadinya pengotakan antar staf/kegiatan
f) Penggolongan tugas berdasarkan kegiatan mendesak, kesulitan atau
waktu.
2) Pendelegasian tugas.
Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada
staf untuk bertindak dalam batas-batas tertentu.

3) Koordinasi

Koordinasi adalah keselarasan tindakan, usaha, sikap dan penyesuaian antar


tenaga yang ada dibangsal. Keselarasan ini dapat terjalin antar perawat
dengan ketua tim kesehatan lain maupun tenaga dari bagian lain.

Manfaat Koordinasi

a) Menghindari perasaan lepas antar tugas yang ada dibangsal/ bagian dan
perasaan lebih penting dari yang lain.

b) Menumbuhkan rasa saling membantu.

c) Menimbulkan kesatuan tindakan dan sikap antar staf.

4) Manjemen Waktu

Analisa waktu yang dipakai; menetukan agenda harian untuk menentukan


kategori kegiatan yang ada.

Memeriksa kembali masing-masing posisi dari tiap aktifitas.

Menentukan prioritas pekerjaan menurut kegawatan, dan perkembangannya


serta tujuan yang akan dicapai.

Mendelegasikan.

13
Metode Penugasan

1) Metode Fungsional

Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada


pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan.

Contoh: Perawat A tugas menyuntik, Perawat B tugasnya mengukur suhu badan


klien.

Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien
yang ada diunit tersebut. Kepala ruangan bertangguang jawab dalam pembagian
tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua
pernyataan tentang klien.

a) Keuntungan

Perawat tampil untuk tugas/pekerjaan tertentu.

Mudah memperoleh keputusan kerja bagi perawat setelah selesai tugas.

Kekurangan tenaga ahli dapat digantikan dengan tenaga yang kurang


berpengalaman untuk suatu tugas yang sederhana.

Memudahkan kepala ruangan uantuk mengatasi staf atau perserta didik yang
peraktek untuk keterampilan tertentu.

b) Kerugian

Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau total sehingga proses keperawatan


sulit dilakukan.

Apabila pekerjaan selesai cendrung meninggal klien dan melakukan tugas non
keperawatan

Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit didentifikasi kontribusinya


terhadap pelayanan

Perawatan hanya melihat pelayanan keperawatan sebagai keterampilan saja.

2) Metode Alokasi Klien Keperawatan Total

Yaitu pengorganisasian pelayanan/ asuhan keperawatan untuk suatu atau beberapa


klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas/ jaga selama periode waktu
tertentu atau sampai klien pulang. Kepala ruangan bertangguan jawab dalam
pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan
klien.

14
a) Keuntungan

Fokus keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

Memberikan kesempatan untuk memberikan pelayanan keperawatan yang


komprehensif.

Motivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas, non keperawatan
dapat dilakukan oleh yang bukan perawat.

Mendukung penerapan proses keperawatanKepuasan tugas secara keseluruhan


dapat dicapai.

b) Kerugian

Jumlah beban kerja tinggi terutama jika klien banyak sehingga tugas rutin yang
sederhana terlewatkan.

Peserta didik sakit untuk melatih keterampilan dalam perawatan besar, misalnya:
menyuntik, mengukur suhu.

Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penagguang


jawab klieb bertugas.

3) Metode Tim Keperawatan

Yaitu pengorganisasian pelayanan keprawatan oleh kelompok klien dan kelompok


klien. kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman dan
memiliki penegtahuan dalam bidanganya (registered nurse).

Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok/ketua grup.


Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan kesehatan klien serta
membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan.

Selanjutnya ketua grup melaporkan kepala ruangan tentang kemajuan/ asuhan


keperawatan terhadap klien.

a) Keuntungan

Memfasilitasi pelayanan keperawtan yang komprehensif.

Memungkinkann pencapaian proses keperawatan.

Konflik atau perbedaan antar staf dapat ditekankan melalui rapat tim cara ini
efektif untuk belajar.

Memberi keputusan anggota tim dalam hubunhan interpersonal.

Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan


efektif.

15
b) Kerugian

Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim didiadakan
atau terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan komunikasi dan koordinasi antar
anggota tim terganggu sehingga kelancaran tuga tersebut.

Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau
berlinding kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.

Akontabilitas dalam anggota tim kabur.

4) Metode Keperawatan Primer/Utama (Primary Nurse)

Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan oleh satu


orang registered nurse sebagai perawat primer yang bertangguang jawab dalam
asuhan keperawatan selama 24 jam terhadap klien yang menjadi tanggung
jawabnya mulai dari masuk sampai pulang dari rumah sakit. apabila perawat
primer/utama libur atau cuti, tangguang jawab dalam asuhan keperawatan klien
deserahkan pada teman kerjanya yang satu level atau satu tingkat pengalaman dan
keterampilannya (associate nurse).

a) Keuntungan

Model praktek keperawatan profesionala dapat dilakukan atau diterapkan.

Melakukan asuhan keperawatan yang komprehensif.

Memungkinkan asuhan keperawatan yang komprehensif.

Memungkinkan penerapan proses keperawatan.

Memberikan kepuasan kerja bagi perawat.

Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.

b) Kerugian

Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.

Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.

5) Metode Modular

Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan oleh


perawat profesional dan non profesional (terampil) untuk kelompok klien dari mulai
masuk rumah sakit sampai pulang disebut tangguang jawab total atau keseluruhan.

16
Untuk metode ini diperlukan perawat yang berpengetahuan, terampil dan memiliki
kemampuan kepemimpinan. Ideal 2 3 untuk 8 12 orang klien.

a) Keuntungan dan Kerugaian

Sama dengan gabungan antara metode tim dengan metode perawatan primer.

Konsep model yang sering digunakan dalam manajemen rumah sakit adalah konsep
model keperawatan tim.

Konsep Model Keperawatan Tim

Semua metode di atas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi
ruangan. Jumlah staf yang ada harus berimbang. Selain itu kategori pendidikan
tenaga yang ada perlu diperhatikan sesuai dengan kondisi ketenagaan yang ada
saat ini.

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Ketua tim sebaiknya perawat yang berpendidikan/ berpengalaman,


terampil dan memiliki kemampuan keterampilan. Jiaka hanya seorang
registered nurse yang bertugas dia harus menjadi ketua tim. Ketua tim juga
harus mampu menentukan prioritas kebutuhan asuhan keperawatan klien,
merencanakan, melakukan supervisi dan evaluasi pelayanan keperawatan.
Selain itu harus mampu memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan filosofi
keperawatan. Uraian tugas untuk ketua tim harus jelas dan spesifik.

Komunikasi yang efektif diperlukan untuk melanjutkan asuhan


keperawatan. Dengan demikian pencatatan rencana keperawatan untuk tiap
klien harus selalu tepat waktu dan asuhan keperawatan selalu dinilai kembali
untuk validitasnya.

Ketua tim harus mengguanakan semua teknik manajemen dan


kepemimpinan.

Pelaksanaan keperawatan tim sebaikanya fleksibel atau tidak kaku.


Metode tim dapat digunakan pada shift pagi, sore atau malam di unit manapun.
Sejumlah tenaga harus terlibat dalam tim, minimal dua sampai tiga tim. Jumlah
atau besarnya timtergantung pada banyaknya staf. Dua orang perawat dapat
dikatakan tim, terutama untuk shift sore dan malam, dimana jumlah tenaga
terbatas.

Tanggung jawab Ketua Tim

Mengkaji setiap klien dan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat.


Pengkajian merupakan proses yang berlanjut dan berkesinambungan. Dapat
dilakuakan searah terima tugas.

17
Mengkoordinasikan rencana perawatan yang tepat waktu, membimbing
anggota tim untuk mencatat tindak kepemimpinan yang telah dilakukan.

Meyakinkan semua hasil evaluasi berupa respon klien terhadap tindakan


keperawatazn tercatat.

Menilai kemajuan semua klien dari hasil pengamatan langsung atau


laporan anggoata tim.

Tanggung jawab Anggota Tim

Menyadari bahwa mereka memiliki tangguang jawab untuk setiap klien di


unit tersebut. Misalnya pada saat jam makan siang staf dan rapat tim.

Mengikuti instruksi keperawatan yang tertera dalam rencana


keperawatan secara teliti termasuk program pengobatan.

Melaporkan secara tepat dan akurat tentang asuhan yang dilakukan


serta respon yang ditunjukan klien.

Menerima bantuan dan bimbingan ketua tim.

Tanggung jawab Kepala Ruangan pada metode tim

Menetapkan standar kerja staf.

Membantu staf menetapkan sasaran keperawatan pada unit yang


dipimpinnya.

Memberikan kesempatan kepada klien tim dan membantu untuk


mengembangkan keterampailan manajemen dan kepemimpinan.

Secara keseimbanagan mengorientasikan staf baru tentang prosedur tim


keperawatan.

Menjadi nara sumber bagai ketua tim dan staf tempat diskusi

Motifasi staf untuk meingkatkan kualitas asuhan keperawatan.

Melakukan komunikasi terbuka untuk setiap staf yang dipimpin.

Koordinasi Kegiatan

Kepala Ruangan sebagai koordinator kegiatan perlu menciptakan kerjasama


yang selaras satu sama laian dan saling menunjang, untuk mencipakan suasana
kerja yang menyenangkan. Selain itu harus memperlihatkan prinsip- prinsip

18
organisasi yang telah dijelaskan diatas misalnya kesatuaan komando, tiaf staf
memiliki satu atasan langsung.

Rentang kendali 3 sampai 7 staf untuk satu atasan. Pada metode penguasaan
tim dalam satu runagan tidak boleh lebih dari 3 sampai 7 dalam satu tim. Selaian
itu kepala ruangan perlu mendelegasikan kegiatan asuhan keperawatan
langsung kepada kepala tim, keculi tugas pokok, harus dilakukan kepala ruang.
Selain itu kepala ruangan harus mendelagasikan kepada orang yang tepat,
mendengarkan saran yang didelegasikan dan penerima delegasi harus
bertangguang gugat.

Evaluasi Kegiatan

Kegiatan yang telah dilakukan perlu dievaluasi untuk menilai apakah


pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana Oleh karena itu kepala ruangan
berkewajiban untuk memberi arahan yang jelas tentang kegiatan yang akan
dilakukan.

Dengan demikian diperlukan uraian tugas yang jelas untuk masing-masing staf
dan prosedur tugas yang diperlukan untuk melakukan kegiatan dengan
memperlihatkan keselamatan dan kenyamanan klien, keselamatan dan
kenyamanan staf dan fasilitas dengan berdaya guna dan berhasil guna. Selain
itu diperlukan juga standar penampilan kerja yang diharapkan dari perawat yang
melakukan tugas. Semua ini perlu dievaluasi secara terus menerus guna
dilakukan tindakan koreksi apabila ditemukan penyimpanagan dari standar.

Kelompok Kerja

Kegiatan ruang rawat terlaksana dengan baik melalui kerjasama antar staf satu
dan yang lain; antar kepala ruang dan staf sehingga perlu adanya kerjasama
dan kebersamaan dalam kelompok.

Konflik dan hubungan interpersonal yang kurang baik akan mengurangi motivasi
kerja, untuk itu diperlukan kebersamaan yang utuh dan solid sehingga dapat
meningkatkan motivasi kerja dan peran keterikatan dalam kelompok karena
semua perawat yang berkerja dalam satu ruang pada dasarnya merupakan satu
kelompok kerja yang perlu bekerja sama satu sama lain, untuk meningkatkan
kualitas kerja dalam pencapaian tujuan asuhan keperawatan di ruang rawat
tersebut.

19
BAB II
KERANGKA KERJA

Metode manajemen yang digunakan dalam kegiatan di RSUD BASEL


khususnya diruang IGD adalah metode tim dimana ketua tim juga harus mampu
menentukan prioritas kebutuhan asuhan keperawatan klien, merencanakan,
melakukan supervisi dan evaluasi pelayanan keperawatan. Selain itu harus mampu
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan filosofi keperawatan.

Ketua tim adalah seorang perawat profesional yang diberi wewenang dan tanggung
jawab oleh kepala ruangan dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan
diruang perawatan pada shift pagi/sore/malam.

Persyaratan jabatan :
Pendidikan D3 keperawatan (AKPER) dengan masa kerja 1 tahun
Mempunyai akhlak yang baik,dedikasi dan loyalitas yang tinggi, tegas, berwibawa
dan mampu mengorganisasikan bawahannya
Mempunyai penilaian kinerja katagori baik
Memiliki kemampuan untuk memimpin
Bersedia mengembangkan ilmu keperawatan
Bersedia tugas jaga pagi,sore,malam dan hari libur

Fungsi tugas : Tercapainya pelayanan keperawatan yang profesional dan mampu


memberikan pelayanan yang berkualitas, efektip, efisien, ramah dan nyaman serta
manusiawi dengan perawat yang sejahtera dirumah sakit

Uraian tugas
1. Tugas pokok : membantu kepala ruangan dalam mengelola dan mengawasi
pelayanan asuhan keperawatan pada pasien dan keluarga
2. Tugas pelengkap :
Melaksanakan serah terima tugas kepada petugas perawat pengganti secara
lisan maupun tulisan dengan benar dan melakukan operan secara lepas atau
langsung ketiap-tiap pasien

20
Membantu kelancaran tersedianya alat-alat medis dan alat kesehatan lainnya
sesuai dengan standar
Memberikan tugas kepada perawat pelaksana agar memberikan asuhan
keperawatan berdasarkan kebutuhan pasien serta selalu
mendokumentasikannya sesuai SAK yang berlaku pada format yang sudah
tersedia
Memberikan pelayanan keperawatan diunit kerjanya dan bekerjasama dengan
tim medis dan non medis lainnya dalam mengkoordinasikan seluruh pelayanan
diruang perawatan
Memelihara lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien dan keluarga
Memberikan informasi kepada pasien dan kelurganya tentang fasilitas rumah
sakit, lingkungan perawatan dan tata tertib yang berlaku dirumah sakit
Mendampingi dokter dan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan
dokter disaat visite
Mempersiapkan dan memelihara catatan klinis pasien
Membantu kepala ruangan dalam menilai dan mengevaluasi penampilan kerja
perawat pelaksana dalam memberikan pelayanan keperawatan secara individual
melalui observasi
Mengidentifikasikan masalah yang timbul diruang perawatan dan
memecahkannya bersama-sama kepala ruangan
Melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan yang maksimal sehingga
tercipta sistem informasi rumah sakit yang dapat dipercaya
Memelihara peralatan ( sarana dan prasarana ) agar selalu dalam keadaan
siap pakai
Mengawasi bawahan langsung dalam melaksanakan tugasnya secara
berkesinambungan
Memberikan pendapat/teguran/nasehat kepada bawahan
Menjaga agar kebutuhan standar keperawatan tersedia lengkap dalam
keadaan siap pakai diruangan
Mewakili kepala ruangan apabila berhalangan hadir atau tidak masuk kerja

Tanggung jawab : bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan pelayanan


keperawatan diunit perawatan khususnya diruang IGD

21
Kedudukan organisasi
1. atasan langsung : kepala ruangan
2. bawahan langsung : seluruh perawat pelaksana
Hubungan kerja :
1. internal :
Ka.ruangan
Perawat pelaksana
Pekarya
2. Eksternal :
Instalasi laboratorium
Instalasai radiologi
Rekam medik
Bagian umum dan logistik
Instalasi farmasi
Bagian keuangan
Bagian gudang farmasi
Bagian rumah tangga

Kepala Ruangan

Katim 1 Katim 2 Katim 3 Katim 4

Prwt 1 Prwt1 Prwt2 prwt2 prwt3 prwt3 prwt4 prwt4

Gambar Skema Model Tim di IGD

Di IGD terbagi 2 jenis yaitu :

Bedah , ada dua tempat tidur


Non bedah, ada dua tempat tidur

22
Tugas harian katim:
Melakukan pre conference pada rekan kerja
Mengecek kelengkapan alat-alat IGD seperti alat bedah , stetoskop, dan barang
habis pakai seperti kasa, kapas dll.
Mengkoordinir kegiatan pelayanan keperawatan di grup.
Melaksanakan asuhan keperawatan dan membantu tugas perawat pelaksana
Membuat laporan baik itu laporan bedah maupun laporan non bedah tergantung
keadaan pasien.
Mengawasi kinerja kelompok/grup sendiri.
Menjalin kerjasama yang baik dengan tim kesehatan lain seperti petugas
laboratorium, radiologi dll.

Tugas bulanan katim seperti :

Mengadakan rapat singkat dengan perawat pelaksana tentang kesulitan atau


hambatan yang menghambat proses pelayanan keperawatan.
Mengikuti rapat bulanan dengan dokter serta kepala ruangan untuk membahas
kemajuan pelayanan IGD dalam pemberian asuhan keperawatan.
Saling bekerjasama dengan pusyandik dalam hal rujukan pasien bila membutuhkan
dokter spesialis bedah atau penyakit dalam guna kelancaran asuhan keperawatan
Mengadakan persentase kasus dalam pertemuan guna membahas solusi dari kasus
tersebut.
Meminta penambahan tenaga perawat khususnya yaang memiliki kemampuan
dalam BTCLS bila ada perawat pelaksana yang cuti atau terjadi kejadian luar biasa
seperti keracunan makanan.
Mengajukan pelatihan setiap setahun sekali guna mengasah dan meningkatkan
kemampuan sumber daya manusia.

23
BAB III

MASALAH DAN SOLUSI

3.1 Masalah

Adapun permasalahan yang dihadapi oleh ketua tim khususnya diruangan


IGD adalah:

Kurangnya tenaga profesional khususnya dalam hal penanganan pasien


dengan tingkat kegawatdaruratan yang tinggi seperti CKB (cedera Kepala
Berat) dan pasien syok.
Kurangnya komunikasi dalam pendelegasian tugas kepada tim /sift lain pada
saat ada kejadian luar biasa seperti keracunan makanan.dimana pada saat
pergantian sift, asuhan keperawatan hanya bisa dilakukan hanya sampai
tahap implementasi saja.
Adanya rekan kerja yang kurang disiplin dalam melakukan tugasnya sehingga
kadangkala menjadi kendala dalam melakukan asuhan keperawatan
khususnya dalam metode tim dimana perlunya kerjasama yang baik.
Kurangnya kebijakan dari pimpinan RS dalam hal perlindungan hukum pada
saat melakukan asuhan keperawatan.
Kurangnya kerjasama pemerintah dalam hal kelancaran proses keperawatan
contohnya dari pihak dinas sosial dalam menangani pasien miskin dan pasien
yang tidak memiliki identitas.
Adanya kemacetan dalam hal pembayaran jasa medis perawat dan harus
menunggu alokasi dana dari pemerintah setempat.

3.2 solusi
Adanya penambahan tenaga yang ahli atau memiliki sertifikat BTCLS atau
PPGD agar angka kematian pada kasus CKB minim.
Terjalinnya komunikasi yang baik antar ketua tim lain atau perawat pelaksana
lainnya guna memperlancar asuhan keperawatan.bila tidak bisa dilakukan
komunikasi langsung maka perawat dapat membuat note/ catatan penting
pada laporan atau dokumentasi keperawatan agar tidak terjadi kesimpang
siuran laporan.
Bila terdapat rekan kerja yang tidak disiplin maka berikan peringatan
langsung atau melali surat, dan bila masih berlanjut serahkan masalah
tersebut kepada kepala ruangan dan kepala keperawatan untuk tindak lanjut.
Pimpinan RS yang baik mengetahui dan ikut merasakan penderitaan
karyawannya dan mau turut serta membantu kesulitan karyawan dengan cara
tidak menghambat pengkleman/ pencairan jasa karyawannya.
Pemerintah mau bekerjasama dengan pihak lain guna peningkatan kesehatan
masyarakat yang optimal baik itu dari segi dana ataupun sumber daya
manusia.

24