Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa
dengan tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan penderita perlu mendapat
insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan
hal ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG
asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin. Kondisi
gula darah yang tinggi yang terjadi pada masa kehamilan umumnya akan kembali normal setelah
masa kehamilan. (http://creasoft.wordpress.com/2008/04/26/diabetes-mellitus-pada-kehamilan).
Diabetes Melitus menempati urutan ke-4 dalam ranking pembunuh manusia. Kongres
Federasi Diabetes International tahun 2003 menyebutkan bahwa sekitar 194 Juta orang di dunia
menderita penyakit ini. Di Indonesi tercatat 2,5 juta orang dan diperkirakan akan terus bertambah.
Di Indonesia, dengan menggunakan kriteria diagnosis OSullivan-Mahan dilaporkan
prevalensi diabetes mellitus pada kehamilan adalah sebesar 1,93,6% pada kehamilan umum. Pada
ibu hamil dengan riwayat keluarga menderita diabetes mellitus, prevalensinya menjadi 5,1%.(Yenni.
2008). Sedangkan menurut Dr. Diapari Siregar Sp.OG dari berbagai Rumah Sakit di Jakarta, setiap
wanita hamil memiliki risiko menderita DMG berkisar 2-5 persen, bahkan pada populasi tinggi bisa
meningkat 7-9 persen dan seorang wanita yang telah menderita diabetes mellitus sebelum hamil
memiliki risiko lebih besar untuk menderita diabetes mellitus saat hamil. Meskipun begitu tidak
menutup kemungkinan bahwa wanita yang tidak mengidap diabetes mellitus pun terkena DMG
(Diabetes Mellitus Gestasional) saat hamil.
Kehamilan yang disertai diabetes mellitus merupakan kondisi yang berisiko tinggi, risiko
morbiditas dan mortalitas pada maternal dan perinatal tinggi. Oleh karena itu perlu penanganan dan
pendekatan multidisiplin untuk mencapai hasil akhir yang baik. Penanganan yang baik akan
memberikan hasil yang baik pula. Perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada wanita
diabetik yang sedang hamil harus memahami respon fisiologis normal terhadap kehamilan dan
perubahan metabolisme akibat diabetes. Perawat juga harus mengetahui implikasi implikasi
psikososial kehamilan diabetik, sehingga ia dapat mengarahkan wanita yang sedang hamil dalam
perencanaan pengimplementasian dan pengevaluasian terhadap pasien dan keluarganya.

1
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum tentang konsep dasar teori kehamilan dengan Diabetes Melitus
2. Tujuan Khusus
a.Memberikan gambaran umum tentang patofisiologi Diabetes Mellitus Gestasional beserta
penatalaksanaannya.
b.Memberikan gambaran umum tentang asuhan keperawatan kehamilan dengan Diabetes Melitus
melalui pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian sampai intervensi dan rasionalisasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah
tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM merupakan
kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai. Yang paling sering terjadi yaitu: diabetes mellitus yang
diketahui sewaktu hamil yang disebut DM gestasional dan DM yang telah terjadi sebelum hamil yang
dinamankan DM pragstasi. Diabetes mellitus merupakan ganguan sistemik pada metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak. Diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia atau peningkatan
glukosa darah yang diakibatkan produksi insulin yang tidak adekuat atau penggunaan insulin secara
tidak efektif pada tingkat seluler . (Bobak. Lowdermilk, Jensen.2004. Edisi 4 hal 699)
1. DIABETES PRAGESTASI
Diabetes pragestasi, artinya sudah diketahui diabetes mellitus kemudian hamil. Mereka
tanpa komplikasi atau dengan komplikasi yang ringan. mereka dengan komolikasi berat,
khususnya retinopati, nefropati dan hipertensi. Ada 4 hal penting mengapa diabetes gestasi
perlu ditegakkan diagnosisnya.Diabetes Pragestasi Adalah diabetes yang terjadi sebelum
konsepsi dan terus berlanjut setelah masa hamil. Diabetes pragestasi dapat berupa diabetes
tipe 1 (tergantung insulin) dan tipe II (tidak tergantung insulin), yang mungkin disertai atau tidak
disertai penyakit vaskuler, retinopati, nefropati, dan komplikasi diabetic lainnya. Kondisi
diabetogenik kehamilan pada sistem metabolic yang terganggu selama masa pragestasi
memiliki implikasi yang signifikan. Adapun hormone yang normal terhadap kehamilan
mempengaruhi kontrol glikemia pada pasien diabetic pragestasi. Kehamilan juga dapat
mempercepat kemajuan komplikasi vaskuler diabetes. Selama trimester pertama, sementara
kadar glukosa darah maternal dalam kondisi normal menurun, dan respon insulin terhadap
glukosa meningkat, kontrol glikemia meningkat. Dosis insulin untuk klien diabetic yang
terkontrol baik perlu disesuaikan untuk menghindari hipoglikemi. Episode hipoglikemia tidak
umum terjadi pada klien diabetic tipe 1 selama awal kehamilan ( Mayer, palmer, 1990)
2. DIABETES MELITUS PADA MASA KEHAMILAN (DIABETES MELITUS
GESTASIONAL/DMG)
Diabetes melitus gestational adalah keadaan intoleransi karbohidrat dari seorang wanita
yang diketahui pertama kali ketika dia sedang hamil. Diabetes gestational terjadi karena kelainan
yang dipicu oleh kehamilan, diperkirakan karena terjadinya perubahan pada metabolisme
glukosa.
Disebut diabetes gestasional bila gangguan toleransi glukosa yang terjadi sewaktu hamil
kembali normal dalam 6 minggu setelah persalinan. Pada golongan ini, kondisi diabetes dialami
sementara selama masa kehamilan. Artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa pertama
kali didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga.
Teori yang lain mengatakan bahwa diabetes tipe 2 ini disebut unmasked atau baru
ditemukan saat hamil dan patut dicurigai pada wanita yang memiliki ciri gemuk, riwayat keluarga
diabetes, riwayat melahirkan bayi > 4 kg, riwayat bayi lahir mati, dan riwayat abortus berulang.
Angka lahir mati terutama pada diabetes yang tidak terkendali dapat terjadi 10 kali dari normal.

3
Perubahan metabolic selama dan setelah masa kehamilan
Kehamilan normal dikatakan sebagai suatu kondisi diabetogenik, dimana kebutuhan
akan glukosa meningkat. Metabolisme maternal mengalami perubahan untuk memastikan suplai
glukosa yang adekuat dan konstan untuk perkembangan janin. Glukosa maternal ditransfer ke
janin melalui proses difusi-difasilitasi. Insulin ibu tidak menembusd plasenta. Pada usia gentasi
sepuluh minggu, janin meyekresi insulinnya sendiri dengan kadar yang adekutat, yang
memungkinnya menggunankan glukosa yang diperoleh dari ibu.
Pada trimester pertama kehamilan, kadar glukosa ibu menurun dengan cepat dibawah
kadar glukosa tidak hamil sampai antara 55 dan 65 mg/dl. Akibat pengaruh estrogen dan
progesterone, pancreas meningkatkan produksi insulin, yang meningkatkan penggunaan
glukosa. Pada saat yang sama, penggunaan glukosa oleh janin meningkat, sehingga
menurunkan kadar glukosa ibu. Selain itu, trimester pertama juga ditandai dengan nausea,
vomitus, dan penurunan asupan makanan sehingga kadar glukosa ibu semakin menurun dan
selama tri mester kedua dan ketiga peningkatan kadar laktogen plasental human, estrogen,
progesterone, kortisol,prolaktin, dan insulin meningkatkan resistansi insulin melalui kerjanya
sebagai suatu antagonis. Resistansi insulin merupakan suatu mekanisme penghematan glukosa
yang memastikan suplai glukosa yang berlimpah untuk janin. Kebutuhan ibu akan insulin
meningkat sejak trimester ke 2. Kebutuhan insulin dapat meningkat 2-4 kali lipat pada kehamilan
cukup bulan.
Pada saat bayi lahir, lepasnya plasenta menyebabkan penurunan mendadak kadar
hormone plasenta, kortisol dan insulin yang bersirkulasi ke jaringan maternal dengan cepat
kembali peka terhadap insulin seperti pada periode sebelum hamil. Pada ibu yang tidak
menyusui bayi, keseimbangan insulin karbohidrat prakehamilan biasanya dicapai kembali
dalam sekitar 7-10 hari. Dalam laktasi, glukosa maternal digunakan sehinggu kebutuhan insulin
ibu yang menyusui ibu tetap rendah selama 9 bulan. Setelah penyapihan berakhir, kebutuhan
insulin ibu kembali ke kebutuhan insulinnya sebelum hamil.

B. ETIOLOGI
Menurut Kapita Selekta Jilid III, 2006, penyebab DM secara umum adalah :
1. Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
2. Genetik
3. Kerusakan / kelainan pankreas sehingga kekurangan produksi insulin.
4. Meningkatnya hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
5. Obat-obatan.
6. Wanita obesitas
Menurut Mochtar, 1998 kemungkinan diabetes dalam kehamilan lebih besar bila:
1. Umur sudah lebih dari 30 tahun.
2. Multiparitas.
3. Gemuk (obesitas) yaitu berat badan saat hamil lebih dari 20% berat badan ideal.
4. Ada anggota keluarga sakit diabetes (hereditas).
5. Ada sejarah lahir mati dan anak besar (bayi dengan berat lebih dari 4000 gram).
6. Riwayat kehamilan : Sering meninggal dalam rahim, Sering mengalami lahir mati, Sering
mengalami keguguran
7. Suku bangsa tertentu (Afrika, Latin, Asia, dan Amerika),
8. Mempunyai riwayat diabetes mellitus gestasional pada kehamilan sebelumnya

4
9. Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
10. Meningkatnya hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
11. Obat-obatan.

C. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala klinis DM secara umum menurut Mansjoer (2000), adalah polyuria,
polydipsi, penurunan berat badan, polyphagia, letih, lesu, lemah badan, gatal, pandangan kabur,
dan pruritus vulvae pada wanita, kelelahan, pandangan kabur, mata kabur, pusing, mual,
kurangnya ketahanan pada saat melakukan olah raga, dan mudah infeksi.
GDM kebanyakan tidak memperlihatkan gejala, namun beberapa wanita dengan GDM
memperlihatkan gejala-gejala klasik seperti : Polidipsi, Polifagi, Poliuri, Kelemahan yang berlebihan.

E. PATOFISIOLOGI
Diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan glukosa darah) diakibatkan
karena Produksi insulin yang tidak adekuat atau penggunaan insulin secara tidak efektif pada
tingkat seluler. Insulin insulin yang diproduksi sel sel beta pulau langerhans di prankeas
bertanggung jawab mentranspor glukosa ke dalam sel . apabila insulin tidak cukup / tidak efektif,
glukosa berakumulasi dalam aliran darah dan terjadi hiperglikemia.
Hiperglikemia menyebabkan hiperosmolaritas dalam darah yang menarik cairan intarsel ke
dalam sisitem vaskular sehingga terjadi dehidrasi dan peningkatan volume darah. Akibatnya ginjal
menyekresi urine dalam volume besar (poliuria) sebagai upaya untuk mengatur kelebihan volume
darah dan menyekresi glukosa yang tidak digunakan (gliousuria). Dehidrasi seluler, menimbulkan
rasa haus berlebihan (polidipsi). Penurunan berat badan akibat pemecahan lemak dan jaringan otot,
pemecahan jaringan ini menimbulkan rasa lapar yang membuat individu makan secara berlebihan
(polifalgia). Setelah jangka waktu tertentu, diabetes menyebabkan perubahan vaskuler yang
bermakna. Perubahan ini terutama mempungaruhi jantung, mata dan ginjal.
Komplikasi akibat diabetes mencakup aterosklerosis, premature, retinopati dan nefropati.
Diabetes tipe I dan II biasanysa dikenal sebagai sindrom yang disebabkan oleh factor genetic.
Diabetes biasanya diwariskan sebagai sifat resesif, tetapi muncul sebagai sifat dominan
pada beberapa keluarga. Pewarisan sifat genetik (genotip) diabetes mellitus tidak selalu berarti
bahwa individu akan mengalami intoleransi glukosa diabetik (fenotip). Banyak individu yang memiliki
genotip, tidak memperlihatkan satupun gejala diabetes sampai mereka mengalami satu atau lebih
stressor atau faktor presipitasi. Contoh stressor tersebut adalah peningkatan usia, periode
perkembangan normal, perubahan hormonal yang cepat, obesitas, infeksi, pembedahan, krisis
emosi dan tumor atau infeksi pangkreas. Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi
glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan
meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin (HCS). Hormon
ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan glukosa ke fetus.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolism endokrin dan karbohidrat yang menunjang
pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara
tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar
darah ibu. Insulin ibu tak dapat mencapai janin, sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar
pada janin.

5
Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormone
lain seperti estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resorpsi makanan maka
terjadi hiperglikemia yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm
kebutuhan insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali dari keadaan normal. Hal ini disebut sebagai
tekanan diabetojenik dalam kehamilan. Secara fisiologik telah terjadi resistensi insulin yaitu bila ia
ditambah dengan insulin eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemi. Akan tetapi, bila ibu tidak
mampu meningkatkan produksi insulin, sehingga ia relative hipoinsulin yang menyebabkan
hiperglikemia atau diabetes kehamilan.
Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di
mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika insulin dan resistensi
terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula
darah tinggi, kadar insulin tetap tinggi). Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana
sirkulasi janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal. (menyebabkan kemungkinan
terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami
gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan
sebagainya).

F. KLASIFIKASI DIABETES SELAMA MASA KEHAMILAN


Kelas Karakteristik Implikasi
Intoleransi Toleransi glukosa abnormal
Diagnosis sebelum usia gestasi 30 minggu penting untuk
glukosa selama masa hamil; hiperglikemia
mencegah makrosomia
pada pascaprandial selama masa
Tangani dengan diet kalori yang adekuat untuk mencegah
masa hamil
penurunan berat badan ibu.
hamil
Sasaran yang dicapai : glukosa darah pasccaprandial
<130 mg/dl 1 jam setelah makan atau < 105 mg/dl 2 jam
setelah makan. Apabila insulin dibutuhkan, tangani seperti
penanganan kelas B dan C

Diabetes kimiawi yang Penatalaksanaan sama dengan penanganan intoleransi


didiagnosis sebelum masa hamil: glukosa pada kehamilan
A diatasi hanya melalui upaya diet;
awitan dapat terjadi terjadi pada
usia berapapun

Terapi insulin yang dilakukan Sekresi insulin endogen dapat menetap, resiko pada
sebelum Masa hamil; awitan neonates dan janin sama dengan resiko pada kelas C dan
B
pada usia 20 tahun atau lebih; D begitu juga dengan penatalaksanaannya
durasi kurang 10 tahun

C Awitan pada usia 10 sampai 20 Diabetes karena kurang binsulin dengan awitan pada masa
tahun, atau durasi 10 sampai 20 kanak kanak.
tahun. Diabetes karena kurang

6
insulin

Awitan sebelum usia 10 tahun Makrosomia janin atau retardasi pertumbuhan intrauterine
samapai 20 tahun atau durasi 10 dapat terjadi, mikroaneurisme retina, dot-hemoragi, dan
D sampai 20 tahu eksudat meningkat selama masa hamil., kemudian
menurun setelah melahirkan

Nefropati diabetic disertai dengan Anemi dan hipertensi umum terjadi, proteinuria meningkat
proteinuria pada trimester ke 3, menurun setelah melahirkan.
F Retardasi pertumbuhan janin intrauterine umum terjadi,
angka kelangsungan hidup perinatal sekitar 85%. Apabila
berada dibawah kondisi optimal, tirah baring dibutuhkan

H Penyakit Arteri koroner Resiko maternal yang serius


Retinopati proliferatif Neovaskularisasi disertai resiko hemoragi vitreus atau
retina tanggal, foto koagulasi laser bermanfaat aborsi
R
biasanya tidak dibutuhkan, disertai proses aktif neo
vaskularisasi, mencegah usaha mengedan

G. PENGARUH DIABETES MELITUS TERHADAP KEHAMILAN


Pengaruh Diabetes Melitus pada kehamilan menurut Prawirohardjo (2002), adalah sebagai
berikut :
1) Pengaruh kehamilan, persalinan dan nifas terhadap DM
a) Kehamilan dapat menyebabkan status pre diabetik menjadi manifes (diabetik )
b) DM akan menjadi lebih berat karena kehamilan
2) Pengaruh penyakit gula terhadap kehamilan di antaranya adalah :
a) Abortus dan partus prematurus
b) Hidramnion
c) Pre-eklamasi
d) Kesalahan letak jantung
e) Insufisiensi plasenta
3) Pengaruh penyakit terhadap persalinan
a) Gangguan kontraksi otot rahim partus lama / terlantar.
b) Janin besar sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
c) Gangguan pembuluh darah plasenta sehingga terjadi asfiksia sampai dengan lahir mati
d) Perdarahan post partum karena gangguan kontraksi otot rahim.
e) Post partum mudah terjadi infeksi.
f) Bayi mengalami hypoglicemi post partum sehingga dapat menimbulkan kematian
4) Pengaruh DM terhadap kala nifas
a) Mudah terjadi infeksi post partum

7
b) Kesembuhan luka terlambat dan cenderung infeksi mudah menyebar
5) Pengaruh DM terhadap bayi
a) Abortus, prematur, > usia kandungan 36 minggu
b) Janin besar ( makrosomia )
c) Dapat terjadi cacat bawaan, potensial penyakit saraf dan jiwa

H. KOMPLIKASI KEHAMILAN DENGAN DM


1. Komplikasi pada Ibu
a. Hipoglikemia, terjadi pada enam bulan pertama kehamilan
b. Hiperglikemia, terjadi pada kehamilan 20-30 minggu akibat resistensi insulin
c. Infeksi saluran kemih
d. Preeklampsi
e. Hidramnion
f. Retinopati
g. Trauma persalinan akibat bayi besar
2. Masalah pada anak
a. Abortus
b. Kelainan kongenital spt sacral agenesis, neural tube defek
c. Respiratory distress
d. Neonatal hiperglikemia
e. Makrosomia
f. hipocalcemia
g. kematian perinatal akibat diabetic ketoasidosis
h. Hiperbilirubinemia

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang diperlukan adalah pemeriksaan kadar gula darah atau skrining glukosa darah
serta ultrasonografi untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan dan makrosomia.
Fourth International Workshop-Conference on Gestational Diabetes merekomendasikan skrining
untuk mendeteksi Diabetes Gestasional :
1. Resiko rendah
Pemeriksaan glukosa`darah tidak diperlukan rutin apabila semua karakeristik berikut ditemukan :
Berasal dari kelompok ethnic yang prevalensi diabetes mellitus gestasionalnya rendah
Tidak ada anggota keluarga dekat ( first-degree relative) yang mengidap diabetes
Usia kurang dari 25 tahun
Berat sebelum hamil normal
Tidak ada riwayat kelainan metabolisme glukosa
Tidak memiliki riwayat obstetri yang buruk
2. Resiko rata-rata
Pemeriksaan glukosa darah pada minggu ke 24-28 dengan menggunakan salah satu dari berikut :
Resiko rata-rata, Wanita keturunan hispanik, Afrika, Pribumi Amerika, Asia Selatan atau timur.
Resiko tinggi, wanita yang jelas kegemukan, jelas meiliki riwayak diabetes tipe II pada
anggota keluarga, riwayat diabetes gestasional atau glukosuria
3. Resiko Tinggi

8
Lakukan pemeriksaan sesegera mungkin : apabila diabetes gestasional tidak terdiagnosis,
pemeriksaan glukosa darah harus diulang pada minggu ke 24-28 atau setiap saat pasien
memperlihatkan gejala atau tanda yang mengarah ke hiperglikemia.(Metzger & Coustan.1998)
Dari hasil pemeriksaan laboratorium pada kehamilan dengan Diabetes mellitus ditemukan :
a. Adanya kadar glukosa darah yang tinggi secara abnormal. Kadar gula darah pada waktu
puasa > 140 mg/dl. Kadar gula sewaktu >200 mg/dl.
b. Tes toleransi glukosa. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam pp >200 mg/dl.
c. Glukosa darah: darah arteri / kapiler 5-10% lebih tinggi daripada darah vena, serum/plasma 10-
15% daripada darah utuh, metode dengan deproteinisasi 5% lebih tinggi daripada metode tanpa
deproteinisasi
d. Glukosa urin: 95% glukosa direabsorpsi tubulus, bila glukosa darah > 160-180% maka sekresi
dalam urine akan naik secara eksponensial, uji dalam urin: + nilai ambang ini akan naik pada
orang tua.
e. Benda keton dalam urine: bahan urine segar karena asam asetoasetat cepat didekrboksilasi
menjadi aseton. Metode yang dipakai Natroprusid, 3-hidroksibutirat tidak terdeteksi
f. Pemeriksan lain: fungsi ginjal ( Ureum, creatinin), Lemak darah: (Kholesterol, HDL, LDL,
Trigleserid), Ffungsi hati, antibodi anti sel insula langerhans ( islet cellantibody)

J. PENATALAKSANAAN KEHAMILAN DENGAN DM


Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan untuk :
a. Mempertahankan kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl
b. Mempertahankan kadar glukosa darah 2 jam pp < 120 mg/dl
c. Mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb Alc) < 6%
d. Mencegah episode hipoglikemia
e. Mencegah ketonuria/ketoasidosis deiabetik
f. Mengusahakan tumbuh kembang janin yang optimal dan normal.
Dianjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu (ideal setiap hari, jika
mungkin dengan alat pemeriksaan sendiri di rumah). Dianjurkan kontrol sesuai jadwal pemeriksaan
antenatal, semakin dekat dengan perkiraan persalinan maka kontrol semakin sering. Hb glikosilat
diperiksa secara ideal setiap 6-8 minggu sekali.Kenaikan berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg
pada trimester pertama dan selanjutnya rata-rata 0.5 kg setiap minggu. Sampai akhir kehamilan,
kenaikan berat badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB kurang 14-20 kg, ibu
BB normal 12.5-17.5 kg dan ibu BB lebih/obesitas 7.5-12.5 kg).
Selain monitoring, terapi diabetes dalam kehamilan adalah :
1. Diet
Terapi nutrisi adalah terapi utama di dalam penatalaksanaan diabetes. Tujuan utama
terapi diet adalah menyediakan nutrisi yang cukup bagi ibu dan janin, mengontrol kadar glukosa
darah, dan mencegah terjadinya ketosis (kadar keton meningkat dalam darah). Pada wanita
diabetes gestasional dengan BB normal dibutuhkan 30kkal/kg/hari. Pada wanita dengan obesitas
(Indeks Massa Tubuh > 30 kg/m2) dibutuhkan 25 kkal/kg/hari.
Bila kadar gula darah puasa di bawah 130 mg/dl, penatalaksanaan dapat dimulai
dengan perencanaan makan saja. Diet yang dianjurkan pada bumil DMG adalah 30-35 kal/kg
BB, 150-200 gr karbohidrat, 125 gr protein, 60-80 gr lemak dan pembatasan konsumsi natrium.
Penambahan berat badan bumil DMG tidak lebih 1,3-1,6 kg/bln. Dan konsumsi kalsium dan

9
vitamin D secara adekuat. Makanan disajikan menarik dan mudah diterima. Diet diberikan
dengan cara tiga kali makan utama dan tiga kali makanan antara (snack) dengan interval tiga
jam. Buah yang dianjurkan adalah buah yang kurang manis, misalnya pepaya, pisang, apel,
tomat, semangka, dan kedondong.
Dalam melaksanakan diit sehari-hari hendaknya mengikuti pedoman 3J yaitu :
J1 : Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
J2 : Jadwal diit harus diikuti sesuai dengan interval.
J3 : Jenis makanan yang manis harus dihindari.
2. Olahraga
Bersepeda dan olah tubuh bagian atas direkomendasikan pada wanita dengan diabetes
gestasional. Para wanita dianjurkan meraba sendiri rahimnya ketika berolahraga, apabila terjadi
kontraksi maka olahraga segera dihentikan. Olahraga berguna memperbaiki kadar glukosa
darah.
3. Pengobatan insulin
Jika dengan terapi diet selama 2 minggu kadar glukosa darah belum mencapai normal
atau normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa di bawah 105 mg/dl dan 2 jam pp di bawah
120 mg/dl, maka terapi insulin harus segera dimulai. Insulin yang digunakan harus preparat
insulin manusia (human insulin), karena insulin yang bukan berasal dari manusia (non-human
insulin) dapat menyebabkan terbentuknya antibodi terhadap insulin endogen dan antibodi ini
dapat menembus sawar darah plasenta (placental blood barrier) sehingga dapat mempengaruhi
janin. Terapi obat pengendali glukosa darah oral pada diabetes gestasional tidak
direkomendasikan oleh ADA maupun ACOG karena obat-obat tersebut dapat melalui plasenta,
merangsang pancreas janin, dan menyebabkan hiperinsulinemia pada janin.
Penggunaan insulin biasanya dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan sesuai
kebutuhan untuk mencapai kadar gula darah yang normal. Penentuan dosis insulin bergantung
pada: BB ibu, aktivitas, KGD, komplikasi yang ada.

K. Terapi Obstetrik
Pada penderita diabetes gestational yang tidak berat, dapat dikendalikan gula darah melalui diet
saja, tidak memiliki riwayat melahirkan bayi makrosomia, maka ibu dapat melahirkan secara normal
dalam usia kehamilan 37 40 minggu selama tidak ada komplikasi lain. Apabila diabetesnya lebih
berat dan memerlukan pengobatan dengan insulin , maka sebaiknya kehamilan diakhiri lebih dini
pada kehamilan 36 38 minggu terutama bila kehamilannya diikuti oleh komplikasi lain seperti
makrosomia, preekalmpsia, atau kematian janin. Pengakhiran kehamilan lebih baik lagi dengan
induksi (perangsangan) atau operasi Caesar.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN
DENGAN DIABETES MELITUS (DIABETES MELITUS GESTASIONAL)

10
A. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama.
Mual, muntah, penambahan berat badan berlebihan atau tidak adekuat, polipdipsi, poliphagi,
poluri, nyeri tekan abdomen dan retinopati.
b. Riwayat kesehatan keluarga.
Riwayat diabetes mellitus dalam keluarga.
c. Riwayat kehamilan
1) Diabetes mellitus gestasional.
2) Hipertensi karena kehamilan.
3) Infertilitas.
4) Bayi low gestasional age.
5) Riwayat kematian janin.
6) Lahir mati tanpa sebab jelas.
7) Anomali congenital.
8) Aborsi spontan.
9) Polihidramnion.
10) Makrosomia.
11) Pernah keracunan selama kehamilan.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Sirkulasi
1) Nadi pedalis dan pengisian kapiler ekstrimitas menurun atau lambat pada diabetes lama.
2) Edema pada pergelangan kaki atau tungkai.
3) Peningkatan tekanan darah.
4) Nadi cepat, pucat, diaforesis atau hipoglikemi.
b. Eliminasi
Riwayat pielonefritis, infeksi saluran kencing berulang, nefropati dan poli uri.
c. Nutrisi dan Cairan
1) Polidipsi.
2) Poliuri.
3) Mual dan muntah.
4) Obesitas.
5) Nyeri tekan abdomen.
6) Hipoglikemi.
7) Glukosuria.
8) Ketonuria.
9) Kulit.
10) Sensasi kulit lengan, paha, pantat dan perut dapat berubah karena ada bekas injeksi
insulin yang sering.
11) Mata.
12) Kerusakan penglihatan atau retinopati.
13) Uterus.
14) Tinggi fundus uteri mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari normal terhadap usia
gestasi.

11
3. Psikososial
a. Resiko meningkatnya komplikasi karena faktor sosioekonomi rendah.
b. Sistem pendukung kurang dapat mempengaruhi kontrol emosi.
c. Cemas, peka rangsang dan peningkatan ketegangan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna dan menggunakan nutrisi kurang tepat.
2. Resiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa maternal,
perubahan pada sirkulasi.
3. Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan ketidakadekuatan kontrol diabetik,
profil darah abnormal atau anemia, hipoksia jaringan dan perubahan respon umum.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi diabetik, prognosa dan kebutuhan tindakan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi, kesalahan informasi dan tidak mengenal sumber
informasi.
5. Resiko tinggi terhadap trauma, pertukaran gas pada janin berhubungan dengan
ketidakadekuatan kontrol diabetik maternal, makrosomnia atau retardasi pertumbuhan intra
uterin.
6. Gangguan psikologis, ansietas berhubungan dengan situasi kritis atau mengancam pada status
kesehatan maternal atau janin.

C. RENCANA KEPERAWATAN
Perencanaan pada kehamilan dengan DM bertujuan :
Memantau status ibu dan janin dan kemajuan persalinan.
Mempertahankan normoglikemia.
Memberikan dukungan emosional.
Meningkatkan keberhasilan kelahiran dari bayi usia gestasi yang tepat.
1. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna dan menggunakan nutrisi kurang tepat.
Kriteria evaluasi :
Mempertahankan kadar gula darah puasa antara 60-100 mg/dl dan 2 jam sesudah makan tidak
lebih dari 140 mg/dl.
Intervensi
Mandiri
a. Timbang berat badan setiap kunjungan prenatal.
Rasional: Penambahan berat badan adalah kunci petunjuk untuk memutuskan penyesuaian
kebutuhan kalori.
b. Kaji masukan kalori dan pola makan dalam 24 jam.
Rasional : Membantu dalam mengevaluasi pemahaman pasien tentang aturan diet.
c. Tinjau ulang dan berikan informasi mengenai perubahan yang diperlukan pada
penatalaksanaan diabetic.
Rasional : Kebutuhan metabolisme dari janin dan ibu membutuhkan perubahan besar selama
gestasi memerlukan pemantauan ketat dan adaptasi.

12
d. Tinjau ulang tentang pentingnya makanan yang teratur bila memakai insulin.
Rasional : Makan sedikit dan sering menghindari hiperglikemia , sesudah makan dan
kelaparan.
e. Perhatikan adanya mual dan muntah khususnya pada trimester pertama.
Rasional : Mual dan muntah dapat mengakibatkan defisiensi karbohidrat yang dapat
mengakibatkan metabolisme lemak dan terjadinya ketosis.
f. Kaji pemahaman stress pada diabetic.
Rasional : Stress dapat mengakibatkan peningkatan kadar glukosa, menciptakan fluktuasi
kebutuhan insulin.
g. Ajarkan pasien tentang metode finger stick untuk memantau glukosa sendiri.
Rasional : Kebutuhan insulin dapat dinilai berdasarkan temuan glukosa darah serum secara
periodik.
h. Tinjau ulang dan diskusikan tanda gejala serta kepentingan hipo atau hiperglikemia.
Rasional : Hipoglikemia dapat terjadi secara cepat dan berat pada trimester pertama karena
peningkatan penggunaan glukosa dan glikogen oleh ibu dan perkembangan janin.
Hiperglikemia berefek terjadinya hidramnion.
i. Instruksikan untuk mengatasi hipoglikemia asimtomatik.
Rasional : Pengguanaan jumlah besar karbohidrat sederhana untuk mengatasi hipoglikemi
menyebabkan nilai glukosa darah meningkat.
j. Anjurkan pemantauan keton urine.
Rasional : Ketidakcukupan masukan kalori ditunjukkan dengan ketonuria, menandakan
kebutuhan terhadap peningkatan karbohidrat.
Kolaborasi :
a. Diskusikan tentang dosis , jadwal dan tipe insulin.
Rasional : Pembagian dosis insulin mempertimbangkan kebutuhan basal maternal dan rasio
waktu makan.
b. Sesuaikan diet dan regimen insulin untuk memenuhi kebutuhan individu.
Rasional : Kebutuhan metabolisme prenatal berubah selama trimester pertama.
c. Rujuk pada ahli gizi.
Rasional : Diet secara spesifik pada individu perlu untuk mempertahankan normoglikemi.
d. Observasi kadar Glukosa darah.
Rasional : Insiden abnormalitas janin dan bayi baru lahir menurun bila kadar glukosa darah
antara 60 100 mg/dl, sebelum makan antara 60 -105 mg/dl, 1 jam sesudah makan dibawah
140 mg/dl dan 2 jam sesudah makan kurang dari 200 mg/dl.
e. Tentukan hasil HbA1c setiap 2 4 minggu.
Rasional : Memberikan keakuratan gambaran rata rata control glukosa serum selama 60
hari . Kontrol glukosa serum memerlukan waktu 6 minggu untuk stabil.

2. Resiko Tinggi cidera janin berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa maternal, perubahan
pada sirkulasi.
Kriteria evaluasi :
Menunjukan reaksi Non stress test dan Oxytocin Challenge Test negative atau Construction
Stress Test secara normal.

13
Intervensi :
Mandiri :
a. Kaji control diabetik sebelum konsepsi.
Rasional : Pengontrolan secara ketat sebelum konsepsi membantu menurunkan resiko
mortalitas janin dan abnormal konginental.
b. Tentukan klasifikasi white terhadap diabetes.
Rasional : Janin kurang beresiko bila klasifikasi white adalah A, B, C dan apabila D adalah
beresiko tinggi.
c. Kaji gerakan janin dan denyut janin setiap kunjungan.
Rasional : Terjadi insufisiensi plasenta dan ketosis maternal mungkin secara negatif
mempengaruhi gerakan janin dan denyut jantung janin.
d. Observasi tinggi fundus uteri setiap kunjungan.
Rasional : Untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan abnormal
e. Observasi urine terhadap keton.
Rasional : Benda keton dapat mengakibatkan kerusakan susunan syaraf pusat yang tidak
dapat diperbaiki.
f. Berikan informasi dan buatkan prosedur untuk pemantauan glukosa dan penatalaksanaan
diabetes di rumah.
Rasional : Penurunan mortalitas dan komplikasi morbiditas janin bayi baru lahir dan anomali
congenitial dihubungkan dengan kenaikan kadar glukusa darah.
g. Pantau adanya tanda tanda edema, proteinuria, peningkatan tekanan darah.
Rasional : sekitar 12% 13% dari diabetes akan berkembang menjadi gangguan hipertensi
karena perubahan kardiovaskuler berkenaan dengan diabetes.
h. Tinjau ulang prosedur dan rasional untuk Non stress Test setiap minggu.
Rasional : Aktifitas dan pergerakan janin merupakan petanda baik dari kesehatan janin.
i. Diskusikan rasional atau prosedur untuk melaksanakan Oxytocin Challenge Test atau
Contraction Stress Test setiap minggu mulai minggu ke 30 sampai dengan minggu ke- 32.
Rasional : Contraction Stress Test dapat memberikan informasi tentang perfusi oksigen dan
nutrisi pada janin. Hasil positif menandakan insufisiensi plasenta.
j. Tinjau ulang prosedur dan rasional untuk tindakan amniosentesis.
Rasional : Maturasi paru janin adalah kriteria yang digunakan untuk menentukan
kelangsungan hidup.
Kolaborasi :
a. Kaji HbA1c setiap 2 4 minggu sesuai indikasi.
Rasional : Insiden bayi malformasi secara kongenital meingkat pada wanita dengan kadar
HbA1c tinggi pada awal kehamilan atau sebelum konsepsi.
b. Kaji kadar albumin glikosilat pada getasi minggu ke 24 sampai ke 28 khususnya pada ibu
dengan resiko tinggi.
Rasional : Tes serum albumin glikosilat menunjukkan glikemia lebih dari beberapa hari.
c. Dapatkan kadar serum alfa fetoprotein pada gestasi minggu ke 14 sampai minggu ke 16.
Rasional : Insiden kerusakan tuba neural lebih besar pada ibu diabetik dari pada non diabetik
bila kontrol sebelum kehamilan sudah buruk.
d. Siapkan untuk ultrsonografi pada gestasi minggu ke 8, 12, 18, 28, 36 sampai minggu ke 38.

14
Rasional : Ultrasonografi bermanfaat dalam memastikan tanggal gestasi dan membantu
dalam evaluasi retardasi pertumbuhan intra uterin.
e. Dapatkan sekuensial serum atau specimen urine 24 jam terhadap kadar estriol setelah
gestasi minggu ke 30.
Rasional : Penurunan kadar estriol dapat menunjukkan penurunan fungsi plasenta,
menimbulkan retardasi pertumbuhan intra uterin dan lahir mati.
f. Bantu untuk persalinan per vaginam atau seksio.
Rasional: Membantu menjamin hasil positif untuk neonatus. Insiden lahir mati meningkat
secara bermakna pada gestasi lebih dari minggu ke-36. Makrosomia sering menyebabkan
distosia dengan sefalopelvis disproporsi.

3. Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan perubahan kontrol diabetik, profil
darah abnormal atau anemia, hipoksia jaringan dan perubahan respon imun.
Kriteria evaluasi :
Tetap normotensif.
Mempertahankan normoglikemia.
Bebas dari komplikasi seperti infeksi, pemisahan plasenta.
Intervensi :
Mandiri :
a. Perhatikan klasifikasi white untuk diabetes. Kaji derajad kontrol diabetik.
Rasional : Klien dengan klasifikasi D, E atau F adalah berisiko tinggi terhadap komplikasi
kehamilan.
b. Kaji perdarahan pervaginam dan nyeri tekan abdomen.
Rasional: Perubahan vaskuler yang dihubungkan dengan diabetes menandakan resiko
abrupsi plasenta.
c. Pantau terhadap tanda dan gejala persalinan preterm.
Rasional: Distensi uterus berlebihan karena makrosomia atau hidramnion dapat
mempredisposisikan pada persalinan awal.
d. Bantu untuk belajar memantau glukosa darah di rumah yang dilakukan 6 kali sehari.
Rasional: Memungkinkan keakuratan tes urin yang lebih besar karena ambang ginjal
terhadap glukosa menurun selama kehamilan.
e. Periksa keton dalam urin setiap hari.
Rasional: Ketonuria menandakan adanya kondisi kelaparan yang secara negatif dapat
mempengaruhi perkembangan janin
f. Identifikasi kejadian hipoglikemia dan hiperglikemia.
Rasional: Insiden hipoglikemia sering terjadi pada trimester ketiga karena aliran glukosa
darah dan asam amino yang kontinue pada janin dan untuk menurunkan kadar insulin
antagonis laktogen plasenta. Insiden hiperglikemia memerlukan regulasi diet atau insulin
untuk normoglikemia khususnya pada trimester kedua dan ketiga karena kebutuhan insulin
sering meningkat dua kali.
g. Pantau adanya edema dan tentukan tinggi fundus uteri.
Rasional: Diabetes cenderung kelebihan cairan karena perubahan vaskuler. Insiden
hidramnion sebanyak 6% 25% pada kasus diabetes yang hamil kemungkinan berhubungan

15
dengan peningkatan kontribusi janin pada cairan amnion dan hiperglikemia meningkatkan
haluaran urin janin.
h. Kaji adanya infeksi saluran kencing.
Rasional: Deteksi awal adanya infeksi saluran kencing dapat mencegah pielonefritis.
i. Pantau dengan ketat bila obat tokolitik digunakan untuk menghentikan persalinan.
Rasional: Obat tokolitik dapat meningkatkan glukosa darah dan insulin plasma.
Kolaborasi :
a. Pantau kadar glukosa serum setiap kunjungan.
Rasional: Mendeteksi ancaman ketoasidosis, menentukan adanya ancaman hipoglikemia.
b. Dapatkan HbA1c setiap 2-4 minggu sesuai indikasi.
Rasional: Mengontrol secara akurat glukosa selama 60 hari terakhir.
c. Kaji Hb dan Ht pada kunjungan awal lalu selama trimester kedua dan preterm.
Rasional: Anemia mungkin ada dengan masalah vaskuler.
d. Instruksikan pemberian insulin sesuai indikasi.
Rasional: Kebutuhan insulin menurun pada trimester pertama kemudian meningkat dua kali
dan empat kali lipat pada trimester kedua dan ketiga.
e. Dapatkan urinalisa dan kultur urin, kultur vagina, berikan antibiotika sesuai indikasi.
Rasional: Membantu mencegah atau mengatasi pielonefritis. Monilial vulvovaginitis dapat
menyebabkan sariawan oral pada bayi baru lahir.
f. Kumpulkan spesimen untuk ekskresi protein total, klirens kreatinin nitrogen urea darah dan
kadar asam urat.
Rasional : Pemeriksaan menunjang untuk mengetahui adanya komplikasi
g. Jadwalkan pemeriksaan oftalmologi selama trimester pertama, trimester kedua dan ketiga
bila berada dalam diabetes klasifikasi kelas D atau diatasnya.
Rasional : Pemeriksaan oftalmologi untuk mengetahui komplikasi yang dialami pasien
h. Siapkan untuk ultrasonografi pada gestesi ke-8, 12, 26, 36 dan 38 untuk menentukan ukuran
janin dengan menggunakan diameter biparietal, panjang femur dan perkiraan berat badan
janin.
Rasional: Mengetahui adanya tanda makrosomia dan diproporsi cephalopelvis.
i. Mulai terapi intra vena dengan dekstrose 5%, berikan glukogon sub cutan bila dirawat di
rumah sakit dengan shock insulin dan tidak sadar. Ikuti dengan pemberian susu skim 8 oz bila
mampu menelan
Rasional: Glukagon adalah substansi alamiah yang bekerja pada glikogen hepar dan
mengubahnya menjadi glukosa yang memperbaiki status hipoglikemik.

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi diabetes, prognosis dan kebutuhan tindakan


berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan informasi dan tidak mengenal sumber
informasi.
Tanda :
Pertanyaan dari konsep yang salah.
Tidak akurat mengikuti informasi.
Berkembangnya komplikasi yang dapat dicegah.
Kriteria evaluasi :
Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diabetes selama kehamilan.

16
Mengungkapkan pemahaman tentang prosedur, tes laboratorium dan aktivitas yang melibatkan
pengontrolan diabetes.
Mendemonstrasikan kemahiran memantau sendiri dan pemberian insulin.
Intervensi :
Mandiri :
a. Kaji pengetahuan tentang proses dan tindakan terhadap penyakit termasuk hubungan
dengan diet, latihan, stres dan kebutuhan insulin.
Rasional: Diabetes mellitus gestasional besisiko terhadap ambilan glukosa yang tidak efektif
dalam sel, penggunaan lemak dan protein untuk energi secara berlebihan dan dehidrasi
seluler saat air dialirkan dari sel oleh konsentrasi hipertonik glukosa dalam serum.
b. Tinjau ulang pentingnya pemantauan serum glukosa sedikitnya 6 kali sehari.
Rasional : pemantauan kadar gula secara continue akan membantu pemberian terapi
c. Berikan informasi tentang cara kerja dan efek merugikan insulin dan tinjau ulang alasan
menghindari obat hipoglikemi oral.
Rasional: Perubahan metabolik prenatal menyebabkan kebutuhan insulin berubah. Trimester
pertama kebutuhan insulin rendah tetapi menjadi dua kali dan empat kali selama trimester
kedua dan ketiga. Meskipun insulin tidak melewati plasenta, agen hipoglikemi oral dapat dan
potensial membahayakan janin.
d. Jelaskan penambahan berat badan normal.
Rasional: Pembatasan kalori dengan akibat ketonemia dapat menyebabkan kerusakan janin
dan menghambat penggunaan protein optimal.
e. Berikan informasi tentang kebutuhan program latihan ringan.
Rasional: Latihan setelah makan dapat membantu mencegah hipoglikemia dan menstabilkan
penyimpangan glukosa, kecuali terjadi peningklatan glukosa berlebihan, dimana latihan dapat
meningkatkan ketoasidosis.
f. Berikan informasi mengenai dampak kehamilan pada kondisi diabetes dan harapan masa
depan.
Rasional : informasi dan motivasi yang tepat dapat membangun harapan pasien

g. Diskusikan mengenali tanda infeksi.


Rasional : Pengenalan tanda infeksi secara dini dapat mencegah terjadinya komplikasi
h. Anjurkan mempertahankan pengkajian di rumah terhadap kadar glukosa serum, dosis insulin,
diet dan latihan.
Rasional : Pemantauan secara rutin mencegah terjadinya komplikasi
i. Berikan nomor telepon anggota tim kesehatan untuk dihubungi.
Rasional : Tim kesehatan dapat membantu memberikan jika terjadi kegawatan
j. Tinjau kadar Hb dan Ht, berikan informasi diet tentang sumber zat besi dan suplemen zat
besi.
Rasional : Pemantauan kadar Hb untuk mengetahui terjadinya anemia

5. Resiko tinggi terhadap trauma, gangguan pertukaran gas pada janin berhubungan dengan
ketidakadekuatan kontrol diabetik maternal, makrosomnia atau retardasi pertumbuhan intra
uterin.
Kriteria evaluasi :

17
Kehamilan cukup bulan.
Meningkatkan keberhasilan kelahiran dari bayi usia gestasi yang tepat.
Bebas cedera.
Menunjukkan kadar glukosa normal, bebas tanda hipoglikemia
Intervensi :
Mandiri :
a. Tinjau ulang riwayat pranatal dan kontrol maternal.
Rasional: Hiperglikemia maternal pada periode pranatal meningkatkan makrosomia,
membuat janin berisiko terhadap cedera kelahiran karena distosia atau disporsia sefalopelvis.
Kadar glukosa maternal yang tinggi pada kelahiran meransang pankreas janin,
mengakibatkan hiperinsulinemia.
b. Periksa adanya glukosa atau keton dan albumin dalam urin ibu dan pantau tekanan darah.
Rasional: Peningkatan glukosa dan kadar keton menandakan ketoasidosis yang dapat
mengakibatkan asidosis janin dan potensial cedera susunan syaeaf pusat.
c. Observasi tanda vital.
Rasional: Peningkatan infeksi asenden, dapat mengakibatkan sepsis neonatal.
d. Anjurkan posisi rekumben lateral selama persalinan.
Rasional: Meningkatkan perfusi plasenta dan meningkatkan kesediaan oksigen untuk janin.
e. Lakukan dan bantu dengan pemeriksaan vagina untuk menentukan kemajuan persalinan.
Rasional: Persalinan yang lama dapat meningkatkan resiko distres janin.
Kolaborasi :
a. Tinjau hasil tes pranatal seperti profil biofisikal, tes nonstres dan tes stres kontraksi.
Rasional : hasil tes sebagai dasar untuk tindakan selanjutnya
b. Dapatkan atau tinjau ulang hasil dari amniosentesis dan ultrasonografi.
Rasional : perbandingan untuk langkah selanjutnya
c. Pantai kadar glukosa serum maternal dengan finger stick setiap jam, kemudian setiap 2-4 jam
sesuai indikasi.
Rasional : pemantauan secara continue dapat mencegah terjadinya keterlambatan terapi
d. Observasi frekuensi denyut jantung janin.
Rasional: Tacikardi, bradikardi atau deselerasi lambat pada penurunan variabilitas
menandakan kemungkinan hipoksia janin.
e. Lakukan pemberian cairan dekstrose 5% per parenteral.
Rasional: Mempertahankan normoglikemia tanpa pemberian glukosa sampai persalinan aktif
mulai.
f. Siapkan untuk induksi persalinan dengan oksitosin atau seksio saesar.
Rasional : pengakhiran kehamilan merupakan alternative pertolongan sesuai indikasi
g. Kolaborasi dengan tim medis lain sesuai indikasi.
Rasional : Kolaborasi sesuai indikasi akan memberikan hasil yang baik pada bidangnya

6. Gangguan psikologis: ansietas berhubungan dengan situasi krisis atau mengancam pada status
kesehatan (maternal atau janin).
Tanda :
Peningkatan ketegangan.
Ketakutan.

18
Takut akan konsekuensi tidak spesifik.
Stimulasi simpatis.
Kriteria evaluasi :
Mengungkapkan kesadaran tentang perasaan mengenai diabetes dan persalinan.
Menggunakan strategi koping yang tepat.
Intervensi :
Mandiri :
a. Atur keberadaan perawat secara kontinu selama persalinan.
Rasional : Keberadaan perawat di samping pasien membantu mengurangi kecemasan
b. Pastikan respon yang ada pada persalinan dan penatalaksanaan medis. Kaji keefektifan
sistempendukung.
Rasional Penatalaksanaan medis yang tepat dapat memberikan hasil yang terbaik
c. Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi.
Rasional : mengalihkan kecemasan pasien
d. Jelaskan semua prosedur tindakan perawatan.
Rasional : Penjelasan prosedur tidak menimbulkan kecemasan pasien
e. Fasilitasi semua keluhan atas ungkapan perasaan.
Rasional : Ungkapan perasaan yang diperhatikan dapat mengurangi kecemasan yang
dirasakan
f. Informasikan kepada keluarga tentang kemajuan persalinan dan keadaan janin.
Rasional : Informasi tentang kemajuan pasien dapat mengurangi tingkat kecemasan
keluarga

D. IMPLEMENTASI
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi
tindakan-tindakan yang direncanakan oleh perawat yang diberikan kepada klien (Nursalam, 2002).

E. EVALUASI
Evaluasi adalah proses keperawatan yang menyangkut pengumpulan data subyektif dan
obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelaksanaan keperawatan sudah tercapai atau
belum, masalah apa yang perlu dipecahkan atau dikaji, direncanakan atau dinilai kembali. Evaluasi
bertujuan memberikan umpan balik terhadap rencana keperawatan yang disusun (Nursalam, 2002).

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

19
DM yang terjadi dan diketahui pada saat hamil disebut DM Gestasional (DMG), sedangkan
bila DM telah diketahui sebelum hamil, maka dinamakan DM pregestasi. DM yang terjadi pada ibu
hamil dan diketahui saat hamil kemudian akan pulih kembali 6 minggu pasca persalinan disebut DM
Gestasional. Kondisi diabetes dialami sementara selama masa kehamilan. Artinya kondisi diabetes
atau intoleransi glukosa pertama kali didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester
kedua atau ketiga. .
DM gestasional perlu penanganan yang serius, karena dapat mempengaruhi perkembangan
janin, dan dapat mengancam kehidupan janin kedepannya. sehingga perlu diberikan asuhan
keperawatan secara professional terhadap ibu hamil dengan DM, supaya tidak lagi terjadi berbagai
komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.
DM Gestasional kebanyakan tidak memperlihatkan gejala, namun beberapa wanita dengan
DMG memperlihatkan gejala-gejala klasik seperti : Polidipsi, Polifagi, Poliuri, Kelemahan yang
berlebihan. Adapun Faktor risiko DM Gestasional adalah riwayat keluarga DM, kegemukan, dan
glikosuria. DM Gestasional ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus,
polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu DMG mensekresi insulin lebih besar
sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia.
Strategi terapi diabetes mellitus pada ibu hamil meliputi manajemen diet, menjaga berat
badan ibu tetap ideal, olah raga dan terapi insulin untuk menormalkan kontrol glikemik. Perencanaan
keperawatan pada kehamilan dengan DM bertujuan untuk memantau status ibu dan janin dan
kemajuan persalinan, mempertahankan normoglikemia, memberikan dukungan emosional,
meningkatkan keberhasilan kelahiran dari bayi usia gestasi yang tepat.

B. SARAN
Penulis berharap dengan adanya makalah ini semoga mahasiswa dapat mengetahui
asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan DM, dan memahami bagaimana patofisiologi yang
terjadi pada ibu hamil yang mengalami DM sehingga dapat berpikir kritis dalam melakukan asuhan
keperawatan pada ibu hamil dengan DM.

DAFTAR PUSTAKA

20
Arjatmo Tjokronegoro.(2002) Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Doenges E, Marilynn. (2002) Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

http://creasoft.wordpress.com/2008/04/26/diabetes-mellitus-pada-kehamilan ,diakses tanggal 20 April


2014
Ikram, Ainal (2000) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Ibu Hamil jilid I Edisi ketiga,
Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Mansjoer, A, (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 1, Jakarta , Media Aesculapius.

Mochtar, Rustam. Prof. DR. (1998). Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi Edisi I.
Jakarta : EGC

Nursalam (2002), Managemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional Edisi I,
Jakarta : Salemba Medika

Prawiroharjo, Sarwono. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta : yayasan Bina Pustaka

21