Anda di halaman 1dari 3

Pak Tomo, demikian orang sekampung memanggilnya.

Seorang laki-laki yang tubuhnya semakin renta


namun semangat hidupnya tetap menyala-nyala. Konon, dia adalah seorang tokoh pejuang di Republik
Indonesia ini. Piagam perhargaan pejuang yang menempel di dinding ruang tamunya menjadi saksi
sejarah baginya. Meskipun kini ia hidup sebatang kara, namun hampir tiap hari selalu ada saja orang
yang mengunjunginya.
Banyak cerita perjuangan yang bisa digali dari Pak Tomo. Dan dia selalu semangat menceriterakan
tentang bagaimana suka dukanya berperang melawan para penjajah yang menguasai negeri Indonesia.
Kami bisa tahan berjam-jam mendengarkan cerita-ceritanya. Cerita sinetron dan film di TV seakan-akan
tidak bisa menandingi serunya cerita perjuangan Pak Tomo. Siapa saja yang mendengarkan ceritanya
pasti seakan terhipnotis, larut dalam ceritanya, seakan-akan mereka mengalami sendiri berada di medan
pertempuran. Seru. Emosi kami membara, dan kita semakin benci terhadap ketidak adilan, penjajahan,
perampasan hak orang lain. Sungguh luar biasa semangat Pak Tomo.
Siang itu, setelah pulang dari upacara peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember, anak-anak
beramai-ramai pergi ke rumah Pak Tomo.
"Tentu cerita perjuangannya kali ini akan semakin seru, kawan-kawan" kata salah satu di antara
mereka.
"Ya, pastilah...hari ini khan tepat hari Pahlawan 10 Nopember."
"Asyiikkkk."
Namun, setibanya mereka di rumah Pak Tomo, ternyata beliau sedang menangis di hadapan
Televisi yang ditontonnya. Sesekali beliau menundukkan kepala sambil mengusap air matanya. Dan
kamipun terheran-heran. Tidak biasanya beliau bersikap begitu. Kami saling pandang dan bertanya, "Ada
peristiwa apa sehingga beliau sampai menangis?" "Mungkinkah Pak Tomo terkenang saat perjuangan
1945 dulu?" Dan untuk menghilangkan rasa penasaran kami segera mengetuk pintunya.
"Assalamu'alaikum," sapa kami hampir bersamaan.
"Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Pak Tomo dari dalam rumah. Dan kami
lihat beliau cepat-cepat mengeringkan air matanya.
"Eeee....cucu-cucuku," kata beliau. "Ayo..ayoo masuk. Wah, nampaknya kalian belum pulang ke
rumah ya? Kok masih pada memakai seragam sekolah begitu? Jangan-jangan kalian bolos sekolah ya??"
"Wah, ya nggak, Pak. Kami pejuang-pejuang muda penerus perjuangan Pak Tomo kok bolos
sekolah. Tidak ada ceritanya seperti itu, Pak."
"Iyaaa....bapak percaya. Namun, hari ini khan belum waktunya pulang sekolah kok kalian sudah
datang ke rumah bapak?"
"Tadi ada upacara Hari Pahlawan 10 Nopember , pak. Nah, setelah upacara usai, kami
diperbolehkan pulang karena di sekolah tidak ada kegiatan belajar lagi. Oleh karena itu kami mampir ke
sini."
"Ooooo begitu tho ceritanya? Lalu kenapa harus ke rumah Bapak?"
"Pak, kami ingin mendengar cerita perjuangan lagi. Boleh khan, Pak?" rayu kami.
Dan, Pak Tomo nampak terdiam. Kedua matanya kembali digenangi air mata. Nampaknya beliau
makin bersedih. Tapi kami tidak tahu apa penyebabnya.
"Memangnya ada apa, kok Pak Tomo sedih begitu?" tanya kami memberanikan diri.
Pak Tomo tidak segera menjawab pertanyaan kami. Ia kembali menyeka air matanya. Dan setelah
bernapas dalam-dalam dia mendekati kami.
"Begini cucu-cucuku," kata Pak Tomo memulai cerita. "Bapak akhir-akhir ini merasa sedih. Sedih
sekali melihat kelakuan generasi penerus anak negeri ini. Bapak sering melihat berita di Televisi banyak
sekali para pelajar, para mahasiswa, masyarakat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat kita dan para
pejabat negeri Indonesia saling berkelahi. Mereka saling hantam. Mereka saling caci, saling fitnah, saling
ingin menunjukkan kepandaian mereka sendiri. Melihat semua kejadian ini bapak jadi sedih. Sedih cucu-
cucuku. Sepertinya menyelesaikan semua persoalan harus dengan pertengkaran tiada akhir. Masyarakat
semakin jauh meninggalkan nilai-nilai kemanusiaannya. Masyarakat semakin meninggalkan nilai-nilai
persatuan. Masyarakat semakin meninggalkan cara-cara bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah
persoalan. Para pemimpin negeri ini banyak yang kurang amanah dalam mengemban tugasnya.
Penyelewengan jabatan terjadi dimana-mana. Korupsi. Manipulasi seakan sudah bukan barang tabu lagi.
Dan semua ini yang membuat bapak sedih.Sedih cucu-cucuku."
Kami tidak membantah apa-apa yang disampaikan Pak Tomo. Semua kata-katanya benar. Banyak
para pelajar kita saling berkelahi satu sama lain hanya karena perkara sepele. Terkadang dalam
perkelahian mereka membawa senjata tajam. Uh...ngeri.
"Benar, Pak."
"Rasanya perjuangan bapak tahun 1945 menjadi sia-sia. Seakan tetesan darah dan air mata dalam
memperjuangkan kemerdekaan menjadi sesuatu yang sia-sia saja. Kalau boleh bapak berkata bahwa
mereka para penerus perjuangan ini telah mengkhianati perjuangan para pahlawan negeri ini. Mereka
telah berkhianat menyia-nyiakan potensi mereka untuk melanjutkan perjuangan kami. Mereka berusaha
meruntuhkan bangunan Kemerdekaan yang telah dirintis para pejuang ibu pertiwi ini."
"Tapi, kami bukan termasuk kelompok pengkhianat ibu pertiwi itu, khan Pak?"
"Hahahahaha....iya...iya...kalian khan cucu-cucuku yang senantiasa peduli dengan arti perjuangan
kami. Kalian bukan termasuk kelompok pengkhianat apabila kalian berjuang sungguh-sungguh sesuai
tugas kalian sebagai pelajar. Perjuangan kalian yaitu belajar menggali ilmu setinggi-tingginya. Kejarlah
cita-cita kalian. "
"Tapi, kenapa mereka sampai berbuat begitu ya, Pak?"
"Iya, perbuatan mereka amat memalukan. Memalukan, Pak!" kata teman kami yang lain.
"Benar cucuku. Beda dengan saat bapak masih berjuang dulu. Kalau jaman Bapak berjuang tidak
ada yang namanya perbedaan suku, agama, Ras dan perbedaan-perbedaan yang lain. Bukan berarti
tidak pernah ada konflik antara kami. Konflik itu pasti ada. Namun semua konflik itu bisa diselesaikan
dengan cara musyawarah. Tidak ada yang saling merasa benar sendiri. Tidak ada yang sok jagoan. Kita
saling menghargai satu sama lain. Sebab tujuan kami saat itu sama yaitu bagaimana bisa mengusir para
penjajah ibu pertiwi ini."
"Iya, Pak. Pelajar, mahasiswa atau masyarakat sekarang sepertinya mudah sekali emosi. Perkara
kecil bisa menjadi besar dan ujung-ujungnya bisa memicu konflik yang berakhir dengan bentrok massal.
Ngeriiii.... padahal kalau salah satu pihak bisa menahan diri tentu konflik di antara mereka tidak akan
bisa terjadi."
"Wah...bapak bangga dengan kalian. Ternyata cara pandang cucu-cucuku sudah lebih dewasa. Dan
mudah-mudahan kalian-kalian ini bisa menjadi pemimpin negeri ini di masa mendatang." kata Pak
Tomo.
"Hahahahaha....tentu saja Pak. Siapa dong pahlawannya? Pak Tomo..."
"Hahahahaha....kalian ini ada-ada saja, cucuku."
Baru kali ini kami lihat Pak Tomo tertawa senang. Sepertinya dari sorot matanya ada sebuah
harapan besar terhadap kami untuk bisa meneruskan cita-cita beliau.
"Jadi untuk membangun bumi Nusantara. Membangun Ibu Pertiwi Indonesia. Kalian harus
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Banyak-banyaklah belajar sejarah. Indonesia itu negeri yang besar
dan kaya raya. Bagaikan Untaian Jamrud di Khatulistiwa. Indonesia itu negeri yang subur makmur.
Indonesia itu terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dan bahasanya, bermacam-macam keyakinan,
beraneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Tidak mungkin suatu Pemimpin mengistimewakan
satu suku bangsa atau satu agama lalu merendahkan suku bangsa atau agama yang lain. Kita harus bisa
membangun negeri ini dengan memanfaatkan potensi perbedaan yang ada. Kalau kalian jadi pemimpin
jangan sampai memaksa orang lain mengikuti kehendak kalian agar tidak terjadi konflik di
masyarakat.Fanatik terhadap keyakinanmu itu perlu, namun jangan sampai kamu memaksa orang lain
berprinsip seperti kalian. Membangun Indonesia itu perlu kebersamaan. Perlu kerja keras semua pihak.
Tanpa mengenal Suku, Agama dan Rasnya. Setiap manusia yang berstatus warga negara Indonesia
memiliki kedudukan yang sama dalam memajukan Bumi Nusantara ini menuju tercapainya tujuan
negara Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur."
Kami semakin paham arti hidup bernegara seperti yang dituturkan Pak Tomo. Kami makin kagum
dengan cara pandang Pak Tomo tentang hidup bernegara di Bumi Nusantara ini. Pak Tomo benar-benar
seorang pahlawan. Dan kamipun akhirnya menyadari betapa bodohnya apabila kami selaku pelajar
menyelesaikan persoalan dengan cara perkelahian massal. Semua itu buang-buang waktu dan
kesempatan saja.Betapa bodohnya seseorang yang mengisi kemerdekaan dengan cara melakukan
korupsi dan manipulasi uang rakyat.
"Kami tidak mau dijuluki sebagai PENGKHIANAT PERJUANGAN BANGSA, pak," kata kami sambil
berpamitan Pak Tomo untuk segera pulang.