Anda di halaman 1dari 6

PENILAIAN PRAKTIK OECD CG PRINSIP 3

PADA PT. ANEKA TAMBANG, TBK

Kelas B

Disusun Oleh:
Atyanta Hendraprasta 17/414040/EE/07205
Natalia Fransisca Putri Mahenu 17/414060/EE/07225
Visa danastri lantika Canti 17/414077/EE/07242

FAKULTAS EKONOMIKA & BISNIS


UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2017
A. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organisation
for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi
internasional dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan
ekonomi pasar bebas. Berawal tahun1948 dengan nama Organisasi untuk Kerja Sama
Ekonomi Eropa (OEEC - Organisation for European Economic Co-operation), dipimpin
oleh Robert Marjolin dari Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan, untuk
rekonstruksi Eropa setelah Perang Dunia II. Kemudian, keanggotaannya merambah
negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961, dibentuk kembali menjadi OECD
oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi
(Wikipedia.com).

B. OECD PRINCIPLE 3 - Pemerataan Perlakuan Pemegang Saham


Berikut ini penjelasan dan terjemahan dari OECD CG Prinsip 3 2004 mengenai
Pemerataan Perlakuan Pemegang Saham.Pada prinsip ke-3 ini ditekankan perlunya
persamaan perlakuan kepada seluruh pemegang saham termasuk pemegang saham
minoritas (pemilik saham yang nilainya kecil atau dibawah 50%) dan pemegang saham
asing.Prinsip ini menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar modal.Untuk itu
industri pasar modal harus dapat melindungi investor dariperlakuan yang tidak benar
yang mungkin dilakukan oleh manajer, dewan komisaris, dewan direksi atau pemegang
saham utama perusahaan.
Pada praktiknya pemegang saham utama perusahaan mempunyai kesempatan
yang lebih banyak untuk memberikan pengaruhnya dalam kegiatan operasional
perusahaan. Dari praktik ini, seringkali transaksi yang terjadimemberikan manfaat hanya
kepada pemegang saham utama atau bahkan untuk kepentingan direksi dan komisaris.
Dari kemungkinan terjadinyausaha-usaha yang dapat merugikan kepentingan
investor, baik lokal maupun asing, maka prinsip ini menyatakan bahwa untuk melindungi
investor, perlu suatu informasi yang jelas mengenai hak dari pemegang saham.Seperti hak
untuk memesan efek terlebih dahulu dan hak pemegang saham utama untuk memutuskan
suatu keputusan tertetu dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika suatu saat
terjadi pelanggaran atas hak pemegang saham tersebut.
Prinsip ini terbagi atas 3 Sub prinsip utama.
1. Pertama adalah mengenai kesamaan perlakuan antara pemegang saham dalam kelas
saham yang sama. Di dalam prinsip ini terdapat 5 sub prinsip yang didiskusikan.
a. Sub prinsip pertama mengenai kemudahan dari investor untuk mendapatkan
informasi mengenai hak yang melekat pada setiap seri dan kelas saham sebelum
mereka membeli saham suatu perusahaan. Dalam sub prinsip ini investor harus
mengetahui hak yang melekat pada saham yang mereka beli. Seperti jika investor
membeli saham preference,maka investor tersebut akan mendapatkan bagian dari
keuntungan perusahaan namun disisi lain biasanya saham itu tidak mempunyai
hak voting.
b. Sub prinsip kedua berbicara mengenai perlindungan kepada pemegang saham
minoritas dari tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh atau atas nama
pemegang saham utama. Salah satu bentuk perlindungan kepada pemegang saham
minoritas sebenarnya adalah bagaimana direksi menjalankan perusahaan untuk
kepentingan perusahaan bukan untuk kepentingan pemegang saham tertentu
sehinggatidak ada perbedaan manfaat yang diperoleh antara pemegang saham.
c. Sub prinsip selanjutnya adalah mengenai pihak yang boleh mewakili pemegang
saham dalamRUPS. Pada prinsip ini juga menjelaskan bahwa bankkustodian tidak
secara otomatis menjadi wakil pemegang saham di RUPS.Bank kustodian atau
disingkat kustodian adalah suatu lembaga yang bertanggung jawab untuk
mengamankan aset keuangan dari suatu perusahaan ataupun perorangan. Bank
kustodian ini akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan dari asset
seperti saham, obligasi, serta melaksanakan tugas administrasi seperti menagih
hasil penjualan, menerima deviden, mengumpulkan informasi mengenai
perusahaan acuan seperti misalnya rapat umum pemegang saham tahunan,
menyelesaikan transaksi penjualan dan pembelian, melaksanakan transaksi dalam
valuta asing apabila diperlukan, serta menyajikan laporan atas seluruh aktivitasnya
sebagai kustodian kepada kliennya contohnya seperti Bank Central Asia
(Wikipedia.com). Bank kustodian mempunyai tugas untuk menyediakan informasi
mengenai agenda RUPS sehingga pemegang saham dapat menentukan suara
mereka di RUPS termasuk apakah mereka akan melimpahkan hak suaranya pada
seluruh agenda atau merekaakan memberikan hak suara pada suatu agenda
tertentu.
d. Sub prinsip ke empat adalah penghilangan hambatan pemberian suara oleh
pemegang saham yang berdomisili di di luar wilayah kedudukan Emiten atau
Perusahaan Publik. Hambatan akan terjadi karena biasanya pemegang saham
asing menyimpan saham mereka melalui suatu rantai perantara (intermediaries).
Saham tersebut dicatat atasnama nasabah dalam akun perusahaan sekuritas lalu
akun perusahaan sekuritas tercatat pada lembaga penyelesaiandan penyimpanan.
Dengan demikian maka nama dari pemegang saham yang asli tidak langsung
dapat diketahui, sehingga begitu perusahaan akan meminta keputusan dari
pemegangsaham atas suatu transaksi tersebut, informasi yang seharusnya sampai
sebelum keputusan di ambil, penyampaiannya menjadi tidak tepat waktu. Dampak
dari terlambatnya informasi kepada pemegang saham adalah tidak cukupnya
waktu dari pemegang saham untuk menganalisa dan memberikan masukan kepada
perusahaan atas hal tersebut Dengan melihat bahwa terdapat kemungkinan
perusahaan tidak dapat memberikan perlakuan yang saham kepada semua
pemegang sahamnya, maka sebaiknya perundang-undangan yang ada harus dapat
memberikan kejelasan mengenai pihak yang dapat diberikan kewenangan oleh
pemegang saham asing sebagai wakilnya sehingga informasi dapat segera
diterima oleh pemegang saham. Selain itu peranturan jika dimungkinkan juga
dapat mengatur mengenai penyerderhanaan rantai perantara.
e. Sub prinsip terakhir dari bagian kesatu prinsip 3 ini adalah mengenai proses dan
prosedur RUPS yang harus memperhatian perlakuan yang sama bagi seluruh
pemegangsaham, termasuk prosedur yang sederhana dan tidak mahal bagi
pemegang saham untuk melakukan hak votingnya.
Masih ada beberapa perusahaan yang mempunyai prosedur rumit dan mahal
dalam hubungannya dengan hak voting pemegang saham.Misalnya penetapan fee
bagi pelaksanaan hak voting pemegang sahamnya dan persyaratan kehadiran bagi
pemegang saham untuk melakukan voting.
Untuk itu sub prinsip ini mengusulkan kepada perusahaanperusahaan untuk dapat
menghilangkan kesulitan pemegang saham untuk berpartisipasi dalam RUPS dan
juga mengusulkan untuk dapat menggunakanfasilitas elektronik jika pemegang
saham tidak dapat hadir dan juga tidak menujuk wakilnya di RUPS.
2. Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai larangan transaksi orang dalam
(insider trading) yaitu perdagangan saham yang dilakukan oleh orang dalam, yang
mengerti proyeksi naik turunnya saham tersebut, sehingga secara tidak langsung akan
merugikan orang lainnya dan perdagangan tutup sendiri yang merugikan pihak lain
(abusive self dealing). Menurut Goshen 2003, Self Dealing merupakan tindakan
curang pemegang saham kendali atau direksi untuk menyalurkan keuntungan
perusahaan kepada mereka melalui serangkaian transaksi tanpa menyalurkan
keuntungan tersebut kepada pemegang saham lainnya.
Banyak negara OECD sudah mempunyai peraturan perundang-undangan berkenaan
dengan larangan dua transaksi diatas.Yang masih menjadi masalahadalah penegakkan
hukum yang belum efektif atas pelanggaran ketentuan yang ada.Oleh sebab itu,
pemerintah diminta untuk memberikan perhatiannya terdapat penegakan hukum
khususnya untuk transaksi di atas.
3. Bagian terakhir dari pinsip 3 adalah kewajiban dari komisaris, direksi dan manajemen
kunci untuk mengungkapkan kepentingannya kepada dewan komisaris jika baik
langsung maupun tidak langsung atas nama pihak ketiga mempunyai kepentingan
yang material dalam suatu transaksi atau suatu hal yang mempengaruhi perusahaan.
Pengungkapankepentingan para pihak di atas kepada dewan komisaris juga harus
diikuti dengan ketidak-ikut sertaan para pihak didalam pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan transaksi yang memuat kepentingan mereka tersebut.

C. PENERAPAN PRINSIP 3 OECD PADA PT. ANEKA TAMBANG TBK.


Berdasarkan Laporan Keuangan PT Aneka Tambang pada tahun 2014 terkait dengan
tata kelola korporat atau corporate governance, dapat diketahui bahwa PT Antam sudah
memenuhi prinsip 3 OECD. Terdapat empat subprinsip dalam prinsip 3 OECD ini. Setiap
subprinsip telah dipenuhi oleh PT Antam dengan baik namun ada beberapa hal yang
perlu diperbaiki namun tidak signifikan, sehingga bisa dikategorikan PT Antam hamper
memenuhi Asean Corporate Governance Scorecard.

Penerapan
No Prinsip dan Rekomendasi Keterangan
Penuh Sebagian
PERSAMAAN HAK PEMEGANG SAHAM (EQUITABLE TREATMENT OF
SHAREHOLDERS RIGHT)
1 Saham dan Hak Suara V
2 Pemberitahuan Rapat Umum v Kualitas informasi
Pemegang Saham pemberitahuna RUPS
yang telah disajikan
masih perlu
ditingkatkan. Dengan
Mencantumkan antara
lain:
a. Profil calon anggota
Direksi atau maupun
dewan komisaris baru
yang akan diangkat
kembali
b. Penunjukan atau
Penunjukan kembali
auditor eskternal.
c.Kebijakan Dividen
ANTAM perlu
mengatur ketentuan
mengenai kewajiban
anggota Direksi dan
Dewan Komisaris
Perdagangan orang dalam dan
dalam melaporkan
3 transaksi sendiri harus di v
transaksi kepemilikan
larang
saham mereka (bila
ada) pada Saham
perusahaan dengan
jangka waktu 3 hari
kerja.
Transaksi dengan pihak-pihak
yang berhubungan (RPTs) Kebijakan terkait RPTs
v
yang dilakukan oleh Direksi yang dimiliki ANTAM
4 dan Pejabat Kunci masih perlu dilengkapi
Melindungi pemegang saham
minoritas dari tindakan V
5 pelanggaran

D. KESIMPULAN
Etika bisnis memiliki peran yang sangat besar dalam keberlangsungan eksistensi
perusahaan. Oleh karena itu sudah selayaknya perusahaan menerapkan suatu prinsip Good
Corporate Governance denganprinsip-prinsip dikeluarkan oleh OECD.
PT Aneka Tambang Tbk, sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang pertambangan berbagai
jenis bahan galian memiliki tujuan perusahaan yang berfokus pada peningkatan nilai
pemegang saham dan berkomitmen dalam pelaksanaan penerapan prinsp GCG agar kegiatan
operasional Perusahaaan dijalankan dengan berlandaskan prinsip Transparency,
Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness yang dijiwai oleh Nilai-Nilai dan
Etika Perusahaan.
Seluruh Pemegang Saham PT Antam memiliki kesempatan untuk mendapatkan
penggantian atau perbaikan (redress) atas pelanggaran dari hak-hak Pemegang Saham.
Adanya perlakuan yang sama atas saham-saham yang berada dalam satu kelas, melarang
praktek-praktek perdagangan orang dalam (insider trading) dan mengharuskan anggota
Direksi untuk melakukan keterbukaan apabila menemukan transaksi-transaksi yang
mengandung benturan kepentingan (conflict of interest). Adanya perlakuan yang sama
terhadap seluruh Pemegang Saham, termasuk Pemegang Saham minoritas dan asing. Semua
tercermin dalam Score Card Laporan Keuangan PT Antam.