Anda di halaman 1dari 6

PENILAIAN PRAKTIK OECD CG PRINSIP 6

PADA PT. ANEKA TAMBANG, TBK

Kelas B

Disusun Oleh:
Atyanta Hendraprasta 17/414040/EE/07205
Natalia Fransisca Putri Mahenu 17/414060/EE/07225
Visa danastri lantika Canti 17/414077/EE/07242

FAKULTAS EKONOMIKA & BISNIS


UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2017
A. OECD PRINCIPLE 6 Tanggung Jawab Dewan Komisaris Dan Dewan Direksi
Prinsip GCG dari OECD yang terakhir (ke-enam) berkaitan dengan tanggung jawab
dewan komisaris dan direksi perusahaan. Dalam prinsip inidinyatakan bahwa kerangka
kerja tata kelola perusahaan harus memastikan pedoman strategis perusahaan, monitoring
yang efektif terhadap manajemen oleh dewan, serta akuntabilitas dewan terhadap
perusahaan dan pemegang saham.
Berkaitan dengan adanya dua macam struktur pengawasan dan pengelolaan
perusahaan di antara anggota OECD, yaitu two tier boards dan unitary board, prinsip ini
secara umum dapat diterapkan baik pada perusahaan yang memisahkan fungsi dewan
komisaris sebagai pengawas (non-executive director) dan dewan direksi sebagai pengurus
perusahaan (executive director), maupun pada perusahaan yang menyatukan antara
pengawas dan pengurus perusahaan dalam satu dewan.
Menurut prinsip ini, tanggung jawab dewan yang utama adalah memonitor kinerja
manajerial dan mencapai tingkat imbal balik (return) yang memadai bagi pemegang
saham. Di lain pihak, dewan juga harus mencegah timbulnya benturan kepentingan dan
menyeimbangkan berbagai kepentingan di perusahaan.
Agar dewan dapat menjalankan tanggung jawab tersebut secaraefektif, maka dewan
perlu dapat melakukan penilaian yang obyektif dan independen. Selain itu, tanggung
jawab lain yang tidak kalah penting yaitu memastikan bahwa perusahaan selalu mematuhi
ketentuan peraturan hukum yang berlaku, terutama di bidang perpajakan, persaingan
usaha, perburuhan, dan lingkungan hidup.
Dewan perlu memiliki akuntabilitas terhadap perusahaan dan pemegang saham serta
bertindak yang terbaik untuk kepentingan mereka. Dewan juga diharapkan bertindak
secara adil kepada pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya, seperti kepada
karyawan, kreditur, pelanggan, pemasok dan masyarakat sekitar perusahaan.
Indonesia menganut sistem two tier boards, di mana dewan dibedakan menjadi dua,
yaitu dewan komisaris supervisory board dan dewan direksi management board.
OECD Principle menyatakan bahwa tanggung jawab dewan komisaris dan direksi adalah
sebagai berikut:
1. Anggota dewan komisaris dan direksi harus bertindak secara transparan untuk
kepentingan perusahaan dan pemegang saham.
2. Keputusan dari dewan komisaris dan direksi bisa saja mempengaruhi suatu kelompok
pemegang saham berbeda dengan kelompok pemegang saham lain, oleh karena itu
dewan komisaris dan direksi harus memperlakukan seluruh pemegang saham secara
adil.
3. Dewan komisaris dan direksi harus menerapkan standar etika yang tinggi yang
memperhatikan kepentingan stakeholders.
4. Fungsi-fungsi utama dari dewan komisaris:
a. Meninjau dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama, kebijakan
mengenai resiko, anggaran tahunan dan rencana usaha; mempersiapkan sasaran
kinerja, memonitor penerapan dan kinerja perusahaan, serta memantau belanja
modal yang besar, akuisisi dan divestasi.
b. Memonitor efektifitas dari praktik tata kelola perusahaan dan membuat perubahan
yang diperlukan.
c. Menyeleksi, memberikan kompensasi, memonitor, dan mengganti manajemen
serta mengawasi perencanaan penggantian manajemen.
d. Menyelaraskan remunerasi manajemen dan dewan komisaris dengan kepentingan
jangka panjang dari perusahaan dan pemegang saham.
e. Memastikan proses nominasi dan pemilihan anggota secara formal dan transparan.
f. Memonitor dan mengelola potensi konflik kepentingan dari manajemen, anggota
dewan komisaris, serta pemegang saham, termasuk penyalahgunaan aset
perusahaan dan penyelewengan dalam transaksi dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa.
g. Memastikan integritas sistem pelaporan akuntansi dan keuangan perusahaan,
termasuk audit independen, dan memastikan bahwa sistem pengendalian yang
tepat telah diterapkan, khususnya sistem manajemen risiko, pengendalian
keuangan dan operasional, serta kepatuhan terhadap peraturan perundangan dan
standar yang berlaku.
h. Mengawasi proses pengungkapan dan komunikasi.
5. Dewan komisaris harus dapat melakukan penilaian yang obyektif dan independen
mengenai pengurusan perusahaan.
6. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan komisaris harus
memiliki akses terhadap infomasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.

B. PENERAPAN OECD CG PRINSIP 6 PADA PT ANEKA TAMBANG TBK.


Antam terus berbenah menuju suatu organisasi yang berkomitmen untuk menerapkan
GCG. Pengembangan GCG Antam mengakomodir adanya perubahan yang dinamis dan
terbuka terhadap konsep-konsep baru. Antam telah mengembangan GCG dengan
membangun aspek infrastruktur GCG, baik hard structure maupun soft struvture.
1. Hard Structure yang telah dibangun diantaranya adalah dengan dibentuknya Dewan
Komisaris yang terdiri dari Komisaris Independen beserta lima komite penunjang
Dewan Komisaris, melali komite audit, komite GCG, komite Nominasi Remunerasi
dan pengembangan SDM, komite CSR lingkungan dan pasca-tambang dan komite
manajemen resiko.
2. Soft Structure GCG yang telah dikembangkan diantaranya :
a. Pedoman Kebijakan Perusahaan (PKP)
Diguna untuk memastikan agar kegiatan usahanya dilaksanakan secara adil,
bertanggungjawab dan transparan. PKP merupakan kumpulan kebijakan yang
disusun berdasarkan prinsip GCG sebagai acuan kegiatan dan pengambilan
keputusan perusahaan serta sebagai pedoman dalam melaksanakan
pengawasan dan pengenadalian, sekaligus menjadi kriteria penguji dalam
mengkaji kesasihan dari semua keputusan dan peraturan yang dikeluarkan PT
Aneka Tambang Tbk.
b. Management Policy
c. Standart Operating Procedure (SOP)
d. Standar Etika (Code of Conduct) perusahaan dimana harus ditandatangani
setiap tahunnya dan wajib ditaati seluruh insan PT Aneka Tambang Tbk.
e. Chater Dewan Komisaris
f. Chater Direksi
g. Chater Internal Audit
Dewan Komisaris, komite-komite di tingkat dewan komisaris, direksi dan manajemen
senior terus meningkatkan kapabilitas dalam proses pengawasan dan pengelolaan
perusahaan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semua pihak juga
berupaya untuk memperkuat hubungan kerja satu sama lain. Singkatnya, Antam
menyadari pentingnya hubungan kerja yang harmonis serta kerjasama diantara organ-
organ tata kelola, manajemen dan staf untuk mempertahankan dan meningkatkan praktik
GCG di Antam secara berkelanjutan. Untuk mendukung fungsi pengawasan, dewan
komisaris telah membentuk remunerasi dan pengembangan SDM, komite manajemen
resiko, komite GCG dan komite CSR dan pasca tambang.
Setiap komite diketuai oleh anggota dewan komisaris, dan tugas serta tanggung jawab
masing-masing Komite tercantum dalam masing-masing piagam yang dimiliki. Evaluasi
kinerja Dewan Komisaris dilakukan oleh Komite NRPSDM dengan menggunakan sistem
self-assessment atau peer evaluation sebagaimana ditentukan dalam rapat Dewan
Komisaris. Hasil kinerja dilaporkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Evaluasi ini dilakukan menggunakan kriteria yang disebutkan dalam manual kebijakan
perusahaan seperti tingkat kehadiran di rapat Dewan Komisaris atau rapat Komite.
Evaluasi kinerja Direksi dilakukan oleh Dewan Komisaris berdasarkan Key Performance
Indicators dan hasilnya dilaporkan dalam RUPS. Contoh dari Key Performance
Indocators diantaranya pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, struktur biaya,
solvabilitas/tingkat hutang, penjualan, kepuasan konsumen, inovasi, dll.
Setiap tahun Direksi bertemu dengan senior manajemen dari unit bisnis di dalam forum
Rapat Pimpinan untuk mengevaluasi dan memberi masukan terhadap kinerja masing-
masing unit bisnis.
Kebijakan Tata Kelola Perusahaan dilaksanakan oleh ANTAM dengan memberlakukan
Pedoman Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance Policy), Standar
Etika Perusahaan (Code of Conduct, COC), Pedoman Kerja (Charter) Dewan Komisaris,
Charter Direksi, Charter Komite Penunjang Dewan Komisaris, Charter Internal Audit,
Pedoman Kebijakan Manajemen Perusahaan (Corporate Management Policy), Pedoman
Kebijakan Manajemen Risiko, serta kebijakan-kebijakan lainnya seperti Sistem dan
Prosedur Operasional (Standard and Operating Procedure) serta Instruksi Kerja (Work
Instructions). Soft structure Good Corporate Governance (GCG) ini dipublikasikan
dalam portal internal dan situs ANTAM, serta selalu dikaji secara berkala setiap tahun
dan dilakukan revisi untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi ANTAM yang
berjalan, praktik terbaik GCG serta penyesuaian terhadap peraturan perundangan yang
berlaku.
Tujuan penerapan GCG di Antam adalah :
1. Tercapainya pertumbuhan dan imbal hasil yang maksimal sehingga meningkatkan
kemakmuran Perusahaan, serta mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang tanpa mengabaikan kepentingan Stakeholders lainnya.
2. Mengendalikan dan mengarahkan hubungan yang baik antara Shareholders, Dewan
Komisaris, Direksi dan seluruh Stakeholders Perusahaan.
3. Mendukung aktivitas pengendalian internal dan pengembangan Perusahaan.
4. Meningktakan pertanggungjawaban kepada Stakeholders.
5. Pengelolaan sumber daya secara lebih amanah
6. Perbaikan budaya kerja Perusahaan
7. Menjadikan perusahaan bernilai tambah yaitu meningkaktkan kesejahteraan seluruh
insan Antam berikut peningkatan kemanfaatan bagi Stakeholders Perusahaan.
Dengan tujuan tersebut Antam telah menjadikan GCG sebagai salah satu elemen penting
dalam mempertahankan keberlanjutan pertumbuhan dan juga menjadi perusahaan
pertambangan internasional. Tata kelola perusahaan yang baik akan mampu memastikan aset
dikelola secara hati-hati dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, perusahaan akan
mampu menjalankan bisnisnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dilandasi dengan etika
bisnis yang telah disepakati dan dijunjung tinggi bersama.
KESIMPULAN
PT Antam sudah melaksanakan prinsip-prinsip GCG dengan sangat baik. Hal tersebut
dibuktikan dengan diperolehnya beberapa penghargaan sebagai pelaksana GCG dengan baik.
Dimana tata kelola perusahaan telah menjadi salah satu elemen penting bagi perusahaan
Antam dalam usaha untuk mempertahankan keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.
Evaluasi kinerja Dewan Komisaris yang dilakukan secara berkelanjutan sangat membantu
perusahaan dalam pengingkatan kualitas kinerja dewan komisaris beserta karyawannya. Serta
kebijakan yang diambil mengenai sistem remunerasi merupakan upaya yang cukup baik
untuk meningkatkan kinerja masing-masing individu sehingga shareholder value juga dapat
ditingkatkan.