Anda di halaman 1dari 31

PENGARUH USIA TERHADAP FENOMENA GAGAL BERPISAH

(NONDISJUNCTION) PADA PERSILANGAN Drosophila melanogaster


STRAIN N >< m DAN RESIPROKNYA

LAPORAN PROYEK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Genetika II
Yang dibimbing oleh Prof. Dr. H. Agr. M. Amin, Msi dan
Andik Wijayanto, SSi, MSi.

Oleh:
Kelompok 15/ Offering H / 2015
Monica Feby Zelvia 150342604927

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang gen dan pola pewarisan
sifatnya pada suatu makhluk hidup. Dasar dari pewarisan sifat tersebut ialah dari
penelitian yang menghasilkan Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II. Namun
ternyata tidak seluruhnya pola pewarisan sifat sesuai dengan ketentuan dari Hukum
Mendel. Penyimpangan tersebut dapat berupa beberapa macam, misalnya
fenomena gagal berpisah atau nondisjunction.
Nondisjunction adalah kegagalan segregasi dari pasangan kromosom
homolog selama meiosis. Terdapat formasi pada sel baru dengan jumlah abnormal
dari materi genetik. Bagaimanapun selama proses meiosis dapat terjadi beberapa
kesalahan yang membuat kromosom homolog pembelahannya mengalami
kegagalan dan bermigrasi pada kutub yang sama. Konsekuensinya, dua tipe dari
gamet diproduksi, satu dari masing-masing membawa dua kopi kromosom,
sedangkan satu yang lain tak membawa satupun. Akibatnya secara fenotip, kondisi
individu yang mengalami gagal berpisah selama perkembangan akan menunjukkan
abnormalitas yang dapat menjadi fatal (Ahmad et al., 2010).
Peristiwa gagal berpisah dapat terjadi karena berbagai macam hal baik dari
faktor internal maupun eksternal. Hal-hal yang dapat memicu nondisjunction ini
diantaranya yaitu adanya virus/infeksi, radiasi, penuaan sel telur dimana
peningkatan usia ibu berpengaruh terhadap kualitas sel telur. Sel telur akan menjadi
kurang baik dan pada saat terjadi pembuahan oleh spermatozoa, sel telur akan
mengalami kesalahan dalam pembelahan (Belinda, 2010).
Fenomena gagal berpisah dapat dibuktikan melalui penelitian misalnya pada
lalat buah. Lalat buah D. melanogaster seringkali digunakan dalam penelitian
biologi terutama dalam perkembangan ilmu genetika. Hal tersebut adalah karena
lalat buah ini memenuhi persyaratan sebagai objek yaitu ukuran tubuhnya kecil,
mudah ditangani dan mudah dipahami, praktis, siklus hidup singkat yaitu hanya dua
minggu, murah dan mudah dipelihara dalam jumlah besar, mudah berkembangbiak
dengan jumlah anak banyak, dan beberapa mutannya mudah diuraikan (Aini, 2008).
Penelitian terkait peristiwa gagal berpisah sudah beberapa kali dilakukan
seperti yang dilakukan oleh Tokunaga (1969) yang membuktikan peristiwa gagal
berpisah pada D. melanogaster yang dipengaruhi faktor internal usia betina dan
faktor eksternal berupa suhu. Penelitian tersebut mendapatkan hasil dimana
frekuensi gagal berpisah meningkat pada usia betina yang lebih tua dan suhu yang
rendah. Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi peristiwa gagal berpisah,
dalam penelitian kali ini akan dilakukan penelitian serupa terkait gagal berpisah
yang dipengaruhi oleh faktor internal yaitu usia pada betina sehingga pola gagal
berpisah pada kromosom kelamin dapat diketahui. Dengan demikian akan
digunakan D.melanogaster strain m dan N dengan pola persilangan m >< N
beserta resiproknya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diutarakan, maka dapat dibuat
rumusan masalah untuk penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah fenotip F1 pada persilangan Drosophila melanogaster antara
strain m >< N beserta resiproknya?
2. Bagaimana rasio gagal berpisah pada persilangan Drosophila melanogaster
strain m >< N beserta resiproknya?
3. Bagaimana pengaruh usia betina terhadap frekuensi gagal berpisah berpisah
pada persilangan Drosophila melanogaster strain m >< N beserta
resiproknya?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan maslah yang telah diutarakan, maka tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui fenotip F1 pada persilangan Drosophila melanogaster antara
strain m >< N beserta resiproknya
2. Untuk mengetahui rasio gagal berpisah pada persilangan Drosophila
melanogaster strain m >< N beserta resiproknya
3. Untuk mengetahui pengaruh usia betina terhadap frekuensi gagal berpisah
berpisah pada persilangan Drosophila melanogaster strain m >< N beserta
resiproknya?
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagi berikut.
1. Bagi Peneliti
a. Memberikan informasi dan bukti serta pemahaman konsep tentang
fenomena gagal berpisah (Nondisjunction) yang dipengaruhi usia
betina terutama pada persilangan N >< m beserta resiproknya.
b. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis untuk dapat
menganalisis fenomena pewarisan sifat dan penyimpangannya
c. Melatih kemampuan menulis secara ilmiah sebagai bekal untuk
calon ilmuan.
2. Bagi Pembaca
a. Memberikan informasi dan meningkatkan pemahaman fenomena
gagal berpisah (Nondisjunction) yang dipengaruhi usia betina pada
persilangan N >< m beserta resiproknya.
b. Menambah referensi bagi pembaca.

E. Asumsi Penelitian
Adapun asumsi penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Faktor internal selain usia betina pada Drosophila melanogaster yang
digunakan dalam penelitian saat persilangan dianggap sama.
2. Faktor eksternal atau kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan
cahaya dianggap sama dan tidak menimbulkan berpengaruh terhadap
persilangan Drosophila melanogaster selama penelitian.
3. Medium sebagai sumber nutrisi dan tempat perkembangbiakan Drosophila
melanogaster dianggap sama selama penelitian.

F. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah untuk memberikan gambaran terhadap penelitian ini
yaitu sebagai berikut:
1. Penelitan menggunakan Drosophila melanogaster strain N dan m.
2. Penelitian ini dibatasi pada persilangan Drosophila melanogaster strain m
>< N beserta resiproknya.
3. Data yang diambil pada jumlah fenotipnya sampai F1 pada setiap
persilangan.
4. Ciri fenotip yang diamati meliputi warna mata, warna tubuh, dan kondisi
sayap.
5. Pengambilan data dimulai dari hari menetesnya pupa yang dihitung sebagai
hari ke 1-7.
6. Indikator terjadinya gagal berpisah dilihat dari munculnya anakan yang
menyimpang anakan yang seharusnya muncul.

G. Definisi Operasional
1. Fenotip adalah kenampakan yang mencakup fermokologi, fisiologi, dan
tingkah laku (Aloysius, 2013). Fenotip yang diamati dalam penelitian ini
adalah warna mata, warna tubuh, dan kondisi sayap.
2. Strain adalah suatu kelompok intraspesifik yang memilliki hanya satu atau
sejumlah kecil ciri yang berbeda (King R. C. 1985). Dalam penelitian ini,
strain yang digunakan adalah strain N dan m.
3. Perkawinan resiprok merupakan perkawinan kebalikan dari perkawinan
yang dilakukan. Dalam penelitian ini, perkawinan resiprok adalah
perkawinan antara N >< m dengan resiproknya yaitu m >< N.
4. Gagal berpisah adalah suatu peristiwa yang terjadi pada kromoson X,
dimana kedua kromosom X gagal memisah selama meiosis sehingga
keduanya menuju kutub yang sama dan terbentuklah telur yang memiliki
dua kromosom kelamin X atau tidak memiliki kromosom kelamin X. Gagal
berpisah terjadi pada gamet betina (Aloysius, 2013).
5. Frekuensi gagal berpisah dihitung dari perbandingan antara banyaknya
individu dari Drosophila melanogaster yang muncul pada F1 yang
mengalami penyimpangan dengan jumlah keseluruhan individu yang
dihasilkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Drosophila melanogaster
Drosophila melanogaster merupakan kelompok serangga yang biasa
dikenal sebagai lalat buah. Menurut Aini (2008), dalam sistem taksonomi, D.
melanogaster memiliki klasifikasi sebagai berikut.
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Drosophilidae
Genus : Drosophila
Spesies : Drosophila melanogaster
D. melanogaster (lalat buah) adalah suatu serangga kecil dengan panjang
dua sampai lima milimeter dan komunitasnya sering ditemukan di sekitar buah yang
rusak/busuk (Iskandar, 1987). Lalat buah D. melanogaster seringkali digunakan
dalam penelitian biologi terutama dalam perkembangan ilmu genetika. Hal tersebut
adalah karena lalat buah ini memenuhi persyaratan sebagai objek yaitu ukuran
tubuhnya kecil, mudah ditangani dan mudah dipahami, praktis, siklus hidup singkat
yaitu hanya dua minggu, murah dan mudah dipelihara dalam jumlah besar, mudah
berkembangbiak dengan jumlah anak banyak, beberapa mutan mudah diuraikan
(Aini, 2008).
Lalat buah ini memiliki sifat dimorfisme. Tubuh lalat jantan lebih kecil
dibandingkan betina dengan tanda-tanda secara makroskopis adanya warna gelap
pada ujung abdomen, pada kaki depannya dilengkapi dengan sisir kelamin yang
terdiri dari gigi hitam mengkilap (Shorrock, 1972). Ada beberapa tanda yang dapat
digunakan untuk membedakan lalat jantandan betina, yaitu bentuk abdomen pada
lalat betina kecil dan runcing, sedangkanpada jantan agak membulat. Tanda hitam
pada ujung abdomen juga bisa menjadi ciri dalam menentukan jenis kelamin lalat
ini tanpa bantuanmikroskop. Ujung abdomen lalat jantan berwarna gelap, sedang
pada betina tidak. Jumlah segmen pada lalat jantan hanya 5, sedang pada betina ada
7. Lalat jantan memiliki sex comb, berjumlah 10, terdapat pada sisi paling atas kaki
depan, berupa bulu rambut kaku dan pendek (Demerec dan Kaufmann, 1961). Lalat
betina memiliki 5 garis hitam pada permukaan atas abdomen, sedangkan pada lalat
jantan hanya 3 garis hitam (Wiyono, 1986).
Gambar 1 dibawah menunjukkan lalat betina (atas) dan lalat kantan
(bawah): Tampilan seluruh tubuh lateral (kiri), pandangan diperbesar dari kaki
depan (kolom 2), tampilan dorsal (kolom ke-3) dan tampilan ventral (kanan) pada
bagian abdomen. Hanya jantan yang menampilkan sisir seks pada sepasang kaki
pertama. Betina sedikit lebih besar dan menampilkan garis-garis gelap yang
terpisah di ujung posterior perut mereka, yang digabungkan pada pria (panah
melengkung). Pelat analog (panah putih) lebih gelap dan lebih kompleks pada pria
dan menampilkan ekstensi mirip pin pada wanita. Bagian perut dan anal masih
pucat pada pria yang baru terekspos dan bisa salah sebagai indikator wanita pada
pandangan pertama. Betina menampilkan bintik hijau kehijauan yang terlihat di
perut mereka (mekonium; tidak ditunjukkan) yang merupakan indikator
keperawanan yang aman bahkan jika jantan subur hadir.(Childress dan Halder,
2008).

Gambar 1. Kriteria pembeda jenis kelamin Drosophila melanogaster


Sumber: Childress dan Halder (2008)
D. melanogaster tergolong Holometabola, memiliki periode istirahat yaitu
dalam fase pupa. Dalam perkembangannya D. melanogaster mengalami
metamorfosis sempurna yaitu melalui fase telur, larva, pupa dan D. Melanogaster
dewasa (Frost, 1959). Lalat betina setelah perkawinan menyimpan sperma di dalam
organ yang disebut spermatheca (kantong sperma). Lalat jantan dan betina adalah
diploid. Setiap kali pembelahan meiosis dihasilkan 4 sperma haploid di dalam testes
lalat jantan dewasa sedangkan pada lalat betina dewasa hanya dihasilkan 1 butir
telur dari setiap kali pembelahan (Wiyono, 1986).
Telur D. melanogaster memiliki panjang kira-kira setengah millimeter.
Bagian struktur punggung telur ini lebih datar dibandingkan dengan bagian perut.
Telur lalat akan nampak di permukaan media makanan setelah 24 jam dari
perkawinan (Wiyono, 1986). Setelah fertilisasi acak telur berkembang kurang lebih
satu hari, kemudian menetas menjadi larva. Larva yang baru menetas disebut
sebagai larva fase (instar) pertama dan hanya nampak jelas bila diamati dengan
menggunakan alat pembesar. Larva makan dan tumbuh dengan cepat (Demerec dan
Kaufmann, 1961) kemudian berganti kulit mejadi larva fase kedua dan ketiga
kemudian berubah menjadi pupa (Wiyono, 1986). Larva sangat aktif dan termasuk
rakus dalam makan, sehingga larva tersebut bergerak pelan pada media biakan. Saat
larva siap menjadi pupa, mereka berjalan perlahan dan menempel di permukaan
relatif kering, seperti sisi botol atau di bagian kertas kering yang diselipkan ke
pakannya. Pupa yang baru terbentuk awalnya bertekstur lembut dan putih seperti
kulit larva tahap akhir, tetapi secara perlahan akan mengeras dan warnanya gelap
(Demerec dan Kaufmann, 1961). Diatas dari empat hari, tubuh pupa tersebut sudah
siap dirubah bentuk dan diberi sayap dewasa, dan akan tumbuh menjadi individu
baru (Manning, 2006). Tahap akhir fase ini ditunjukkan dengan perkembangan
dalam pupa seperti mulai terlihatnya bentuk tubuh dan organ dewasa (imago).
Ketika perkembangan tubuh sudah mencapai sempurna maka D. melanogaster
dewasa akan muncul melalui anterior enddari pembungkus pupa. Lalat dewasa yang
baru muncul ini berukuran sangat panjang dengan sayap yang belum berkembang.
Waktu yang singkat, sayap mulai berkembang dan tubuhnya berangsur menjadi
bulat (Demerec dan Kaufmann, 1961). Perkawinan biasanya terjadi setelah imago
berumur 10 jam, tetapi meskipun demikian lalat betina biasanya tidak segera
meletakkan telur sampai hari kedua.
Lalat betina bertelur kurang lebih 50 sampai 75 butir per hari sampai jumlah
maksimum kurang lebih 400-500 dalam 10 hari. Siklus hidup totalterhitung dari
telur sampai telur kembali berkisar antara 10-14 hari. Siklus hidup Drosophila
melanogasterselengkapnya adalah sebagai berikut
Gambar 2. Siklus hidup Drosophila melanogaster
Sumber: Weighman et al., (2003)
Salah satu alasan digunakannya D. melanogaster sebagai objek adalah
karena spesies ini menampilkan banyak mutan. Dalam kondisi normal (sering
disebut wild type) tidak mengalami mutasi pada salah satu atau beberapa lokus
kromosomnya (Aloysius, 2013). Tipe normal memiliki ciri-ciri dengan tubuh
berwarna coklat kekuningan, mata merah, dan sayap yang panjang menutupi
seluruh abdomennya dengan warna yang transpraran (Dimit, 2006). Strain mutan
yang dimiliki D. melanogaster cukup bervariasi, yang dapat dilihat dari warna
mata, bentuk mata, dan bentuk sayap (Karmana, 2010). Salah satu strain mutan dari
D. melanogaster ialah Pm yang memiliki ciri-ciri menurut Krebs dan Fasolo (2004)
yaitu strain Pm (Plum) memiliki mata yang berwarna ungu gelap. Strain ini dalam
keadaan homozigot bersifat letal. Sifat yang khas pada strain mutan ini yang kerap
digunakan sebagai objek dasar dalam penelitian terkait kajian-kajian ilmu genetika.

Kromosom Kelamin dan Penentuan Kelamin pada Drosophila melanogaster


Kromosom kelamin ialah suatu perangkat krmosom yang dapat
mengekspresikan suatu kelmain pada individu. Dalam Aloysius (2004)
disbutkanbahwa kromosom kelamin yang telah dikenalkan antara lain ialah
kromosom X dan Y serta kromsom Z dan W. Kelompok makhluk hidup yang
memiliki kromosom kelamin X dan Y salah satunya ialah Drosophila
melanogaster.
Pada D. melanogaster terdapat suatu mekanisme perimbangan kromosom
dalam menentukan jenis kelamin. Menurut Aloysius (2004) pada D. melanogaster
terdapat kromosom kelamin X dan Y. Dalam kedaan diploid normal ditemukan
pasangan kromosom kelamin XX dan XY atau pasangan kromosom secara lengkap
sebagai AAXX dan AAXY (jumlah autosom sebanyak tiga pasang). Mekanisme
ekspresi kelamin pada D. melanogaster dikenal sebagai suatu mekanisme
perimbangan antara kromosom kelamin (X) dan autosom (A) atau X/A. Berikut
rincian indeks kelamin numerik kelamin D.melanogaster menurut Aloysius (2004).
Tabel 1 Indeks kelamin numerik pada D. melanogaster.
Jumlah Jumlah A
kromosom (autosom) pada tiap Rasio X/A Fenotipe Kelamin
X pasang A
3 2 1.5 Betina super (metafemale)
4 3 1.33 Betina super (metafemale)
4 4 1 Betina normal tetraploid
3 3 1 Betina normal triploid
2 2 1 Betina normal diploid
1 1 1 Betina normal haploid
3 4 0,75 Intersex
2 3 0,67 Intersex
2 4 0,5 Jantan tetraploid
1 2 0,5 Jantan normal
1 3 0,33 Jantan super (metamale)
Sumber: Rangkuman dari : Andrian dan Owen 1960, Berskowita 1973, Ayala
dkk, 1984, Gardner dkk 1991 dalam Aloysius (2004)
Strain N dan m
Drosophila melanogaster memiliki strain-strain mutan yang mudah
dibedakan satu dengan yang lain berdasarkan fenotipe terutama dari warna mata,
bentuk sayap, panjang sayap dan warna tubuh. Strain normal (N) dari D.
melanogaster sering disebut sebagai tipe normal atau wild-type dimana strain ini
tidak mengalami mutasi pada salah satu atau beberapa lokus kromosomnya
(Aloysius, 2000). Strain normal D. melanogaster ini memiliki ciri morfologis
tubuh berwarna kuning kecoklatan, mata merah sayap lurus dan menutupi seluruh
tubuhnya.
Strain mutan dari D.melanogaster yang mengalami mutasi salah satunya
adalah strain m. Mutan ini memiliki ciri dengan panjang sayapnya tereduksi hingga
sama dengan panjang tubuhnya sehingga lebih pendek dari wild type. Mutasi terjadi
pada kromosom nomor 1, lokus 36. Strain miniature (m) pada D. melanogaster ini
merupakan mutan yang bersifat resesif terhadap strain N dalam kondisi heterozigot
(Flybase, 2017).

Gambar: Strain m pada D. melanogaster


Sumber: Flybase (2017)

B. Peristiwa Gagal Berpisah (Nondisjunction)


Nondisjunction adalah kegagalan segregasi dari pasangan kromosom
homolog selama meiosis. Terdapat formasi pada sel baru dengan jumlah abnormal
dari materi genetik. Menurut Ahmad et al., (2010) formasi yang baru ini dapat
menyebabkan peribahan fenotipik yang bersifat fatal.
Kromosom homolog adalah kromosom identik yang dapat dilihat secara
berpasangan, dengan mengandung sekitar 50% turunan dari masing-masing orang
tua. Pada manusia memiliki 46 kromosom, atau 23 pasangan homolog. Dalam
kondisi normal, pada meiosis kromosom homolog terikat pada benang spindel,
yang terhubung pada 2 sentriol dan terarahkan pada bidang ekuator sel. Sebelum
.pembelahan meiotik pertama mengambil tempat, pasangan kromosom homolog
bermigrasi pada kutub sel yang berlawanan dengan dipengaruhi oleh aktivitas
benang spindel, dan meiosis terselesaikan dengan tiap gamet membawa satu kopi
dari setiap kromosom (Ahmad et al., 2010).
Gambar.
Proses pembelahan meiosis yang normal
Sumber: Ahmad et al., (2010)
Namun demikian, selama proses meiosis dapat terjadi beberapa kesalahan
yang membuat kromosom homolog pembelahannya mengalami kegagalan dan
bermigrasi pada kutub yang sama. Konsekuensinya, dua tipe dari gamet diproduksi,
satu dari masing-masing membawa dua kopi kromosom, sedangkan satu yang lain
tak membawa satupun. Zigot yang kromosomnya lebih sedikit dari jumlah normal
diploid (2n-1) disebut monosomik, dan saru yang lain yang memiliki ekstra
kromosom (2n+1) disebut trisomik, yang kondisinya selama perkembangan akan
menunjukkan abnormalitas yang dapat menjadi fatal (Ahmad et al., 2010)
B. Kerangka Konseptual
Pembelahan meiosis merupakan proses pembelahan yang terjadi pada sel
gamet yang membuat kromosom sel tereduksi dari diploid menjadi haploid

Meiosis selama prosesnya dapat mengalami kegagalan misalnya gagal
berpisah atau nondisjunction

Gagal berpisah merupakan peristiwa dimana bagian-bagian dari sepasang
kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana
mestinya pada meiosis I, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah
selama meiosis II, sehingga satu gamet menerima dua jenis kromosom yang
sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali

Peristiwa gagal berpisah dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor
internal maupun eksternal. Faktor initernal yang mempengaruhi gagal
berpisah salah satunya ialah faktor usia

Pewarisan sifat yang terpaut kromosom kelamin X mengikuti pola khas yaitu
crisscross patern of inheritance (pola pewarisan menyilang).

Persilangan D. melanogaster strain N >< w dan N >< m beserta


resiproknya yang merupakan strain yang terpaut kromosom kelamin.

Pada Pada persilangan Pada Pada persilangan


C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Fenotip F1 pada persilangan Drosophila melanogaster strain N >< w
dan N >< m beserta resiproknya yaitu:
a. Persilangan N >< w menghasilkan fenotipe F1 N super, w fertil,
Nsteril, letal, N, w
b. N >< w menghasilkan fenotipe F1 N fertil, N steril, N dan
N.
c. N >< mmenghasilkan fenotipe F1 N super, m fertil, N steril,
letal, N dan m.
d. N >< mmenghasilkan fenotipe F1 N fertil, N steril, N dan
m.
2. Rasio gagal berpisah (nondisjunction) pada persilangan Drosophila
melanogaster strain N><w dan N><m beserta resiproknya yaitu:
N >< w
N super: w fertil: Nsteril: letal: N: w = 1:1:1:1:1:1
N >< w
N fertil : N steril: N: N = 1:1:1:1
N >< m
N super: m fertil: N steril: letal: N: m = 1:1:1:1:1:1
N >< m
N fertil: N steril: N: m = 1:1:1:1
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observatif, yang tidak
memberikan perlakuan khusus pada objek penelitian. Penelitian ini dilakukan
dengan menyilangkan Drosophila melanogaster strain N><m beserta
resiproknya dengan memberikan perlakuan usia pada betina untuk 3, 6, 9, 12, dan
15 hari dan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali pada masing-masing perlakuan.
Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan menghitung dan mencatat
semua fenotip dan jenis kelamin yang muncul pada keturunan F1.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di laboratorium genetika jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Malang tepatnya di ruang 310. Adapun waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan September-November 2017.

C. Populasi dan Sampel


Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah lalat buah D.
melanogaster. Sampel yang digunakan ialah D. melanogaster strain N dan m.
Sampel yang digunakan didapatkan dari stok yang ada pada laboratorium.

D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini meliputi alat dan bahan yang digunakan serta
prosedur kerja meliputi pembuatan medium, peremajaan stok, pengamatan strain,
pengampulan dan persilangan P1. Selengkapnya disajikan sebagai berikut.
1. Alat
Pada penelitan ini digunakan peralatan yaitu botol selai, kertas pupasi,
kertas label, selang plastik berdiameter sedang dan kecil, kuas, cotton bud, kain
kasa, spons, spidol, plastik, timbangan, blender, pisau, panci, baskom, pengaduk,
kompor gas, mikroskop stereo dan kardus.
2. Bahan
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah D. melanogaster strain
N dan m, pisang rajamala, tape singkong, gula merah, ragi (yeast), tisu dan air.
3. Prosedur Kerja
a. Pembuatan medium
Menimbang bahan medium yaitu pisang rajamala, tape singkong, dan
gula merah dengan perbandingan 7 : 2 : 1 untuk satu resep, yaitu 700
gram pisang rajamala, 200 gram tape singkong, dan 100 gram gula merah

Memblender pisang rajamala dan tape singkong dan menambahkan air
secukupnya serta memanaskan gula merah dalam panci hingga mencair

Memasukkan pisang dan tape yang sudah halus beserta gula merah yang
telah cair kedalam panci dan memanaskan diatas kompor dengan api
sedang

Memasak adonan medium tersebut selama 45 menit

Mematikan kompor dan memasukkan adonan masak ke dalam botol selai
yang sudah disterilkan dalam keadaan panas dan langsung ditutup dengan
spons yang telah dipotong dan ukurannya sesuai untuk tutup botol

Setelah medium dingin, memasukkan 3-4 butir yeast ke dalam medium
dan membersihkannya dari uap air serta memberi kertas pupasi.

b. Peremajaan stok
Menyiapkan beberapa botol selai yang berisi medium baru dan telah
diberi yeast dan kertas pupasi. kemudian diberi label pada setiap botol/

Memindahkan minimal 3 pasang lalat (jantan dab betina) dari masing-
masing strain dari stok ke botol selai yang berisi medium baru

Mengamati perkembangbiakan lalat, jika muncul pupa warna hitam maka
dilakukan pengampulan untuk melakukan persilangan
c. Pengamatan fenotipe
Mengambil D. melanogaster dari botol stok tiap strain.

Memasukkan D. melanogaster ke dalam plastik.

Mengamati ciri-ciri fenotip dari tiap strain D. melanogaster dibawah
mikroskop stereo.

Mencocokkan ciri-ciri fenotip yang telah diperoleh dengan berbagai
sumber literatur.

d. Pengampulan
Menyiapkan selang bediameter sedang sepanjang 6 cm dan memberi
irisan pisang kecil pada bagian tengah selang

Mengambil pupa dari masing-masing strain yang sudah menghitam
menggunakan kuas atau cotton bud.

Memasukkan pupa tersebut ke dalam selang yang telah disiapkan dan
menutupnya dengan gabus

Memberi label nama strain dan tanggal mengampul pada tiap selang

Menunggu ampulan sampai menetas dan lalat siap untuk disilangkan.
Umur lalat dalam ampulan maksimal 3 hari setelah pupa menetas untuk
digunakan dalam persilangan

e. Persilangan P1
Menyiapkan botol selai yang berisi medium baru serta ragi (yeast) dan
kertas pupasi

Menyiapkan D. melanogaster dari masing-masing strain yang menetas
dari ampulan (berusia 1-2 hari setelah menetas)

Memasukkan D. melanogaster dari masing-masing strain yang menetas
ke dalam botol selai (botol A) sebagai perlakuan usia betina 3 hari.
Strain lalat yang disilangkan adalah N><m beserta resiproknya

Memberi label pada masing-masing persilangan dan member tanggal

Melakukan persilangan sebanyak 3 kali ulangan untuk tiap persilangan

Melepas induk jantan dari persilangan setelah 3 hari dan memindahkan
induk betina pada botol selanjutnya (botol B) sebagai perlakuan usia
betina 6 hari

Memindahkan induk betina pada botol selanjutnya (botol C) sebagai
perlakuan usia betina 9 hari

memindahkan induk betina pada botol selanjutnya (botol D) sebagai
perlakuan usia betina 12 hari

memindahkan induk betina pada botol selanjutnya (botol E) sebagai
perlakuan usia betina 15 hari

Menunggu hingga larva menetas, kemudian mengamati fenotip lalat dan
menghitung jumlah anakan F1 berdasarkan fenotip dan jenis kelaminnya
selama tujuh hari berturut-turut.

Mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.
A. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara
menghitung jumlah keturunan F1 yang didapatkan dari hasil persilangan pada
tiap perlakuan usia betina (3, 6, 9, 12, dan 15 hari), kemudian data yang
diperoleh disajikan dalam bentuk tabel pengamatan berikut.
1. Persilangan strain N >< m
a. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 3 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

m

b. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 6 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

c. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 9 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

d. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 12 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

e. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 15 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

2. Persilangan strain m >< N
a. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 3 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

M

b. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 6 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

M

c. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 9 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m

d. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 12 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m

e. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 15 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m

B. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data menggunakan peta rekonstruksi. Adapun rekonstruksi
yang digunakan ialah rekonstruksi kromosom kelamin yang tidak mengalami
nondisjunction dan yang mengalami nondisjunction. Data anakan dianalisis
dengan uji chi square.
BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA

B. Data Fenotip Strain Drosophila melanogaster


Drosophila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
No Gambar Pengamatan Karakteristik
1 Normal Warna mata : merah
Faset mata : halus
Warna tubuh : coklat
kekuningan.
Bentuk sayap : menutupi
tubuh dengan sempurna.

2 miniature Warna mata : merah


Faset mata : halus
Warna tubuh : coklat
kekuningan.
Bentuk sayap : menutupi
tubuh tidak sempurna.

C. Tabel Hasil Pengamatan Anakan


1. Persilangan strain N >< m
a. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 3 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

m


b. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 6 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

c. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 9 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

d. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 12 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M

e. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 15 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

N >< m

M


2. Persilangan strain m >< N
f. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 3 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

M

g. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 6 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

M

h. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 9 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m

i. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 12 hari


Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m


j. Tabel hasil persilangan perlakuan usia betina 15 hari
Ulangan
Persilangan Fenotip Sex
1 2 3

N

m >< N

m


C. Analisis Data
1. Persilangan Antara strain N >< m
a. Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : N >< m
+
Genotip : ><

Gamet : m+, ; m, m

m m

+ +
m+ (N ) (N )


(m ) (m )

Rasio fenotipe = N : m = 1:1


b. Rekonstruksi persilangan yang mengalami nondisjunction
P1 : N >< m
+
Genotip : ><


Gamet : m+, ; , 0, m, m

0 m m

+ + + +
m+ 0
(N super) (N steril) (N) (N)
0

(m fertil) (letal) (m ) (m )

Rasio fenotipe = N : m : letal = 4 : 3 : 1


2. Persilangan antara strain m >< N
a. Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami nondisjunction
P1 : m >< N
+
Genotip : >< +

Gamet : m, ; m+, m+

m+ m+

+ +
M (N) (N)

+ +
(N) (N)

Rasio fenotipe = 100% N


b. Rekonstruksi persilangan yang mengalami nondisjunction
P1 : m >< N
+
Genotip : >< +

Gamet : , 0, m, ; m+, m+

m+ m+

+ +



(N fertil) (N fertil)
+ +
0 0 0
(N steril) (N steril)
+
+
M
(N) (N)
+
+

(N) (N)

Rasio fenotipe = 100% N


BAB V
PEMBAHASAN
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR RUJUKAN
Belinda, I. 2010.

Anda mungkin juga menyukai