Anda di halaman 1dari 11

BUKTI DAN PETUNJUK ADANYA EVOLUSI PROTISTA

Oleh:
Yohanes Setiawan B1J014072
Ilham Alif Syahida B1J014073
Ali Romadhoni B1J014078
Wimpi Dwi Atika B1J014082
Novita Umi Kulsum B1J014083

TUGAS TERSTRUKTUR EVOLUSI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Protista merupakan kelompok taksonomi dari filum Protista syn. Protoctista,


yaitu organisme eukariotik yang uniseluler dan kadang-kadang kolonial atau kurang
sering multiseluler dan biasanya meliputi protozoa, alga, dan beberapa jamur (seperti
jamur lendir). Protista adalah eukariota, sehingga Teori Endosimbioniap sel memiliki
nukleus. Jika tidak, protista sederhana seperti Paramecium dan amoeba, dapat cukup
mirip dengan bakteri.
Revolusi oksigen dianggap merupakan awal dari perubahan di bumi, hal tersebut
mengakibatkan tiga hal pokok bagi prokariot anaerob yaitu :
1. Musnah, karena tidak mapu beradaptasi dengan habitat yang aerob
2. Beradaptasi, tetap sebagai prokariot anaerob tetapi hidup di tempat yang anaerob,
seperti di lumpur, bersembunyi di lubang yang dalam dan lain-lain.
3. Bersimbiosis dengan prokariot lain dan membentuk kehidupan baru sebagai sel
eukariot yang dikenal sebagai protista.
Protista memiliki informasi morfologi dan ultrastruktur yang lebih banyak
dibandingkan dengan prokariot. Para ilmuwan berpikir bahwa protista adalah eukariota
tertua. Jika demikian, mereka harus telah berevolusi dari sel prokariotik. Teori
endosimbiotik memberikan penjelasan yang paling diterima secara luas. Itu karena
didukung oleh adanya bukti. Teori endosimbiotik diduga menjelaskan bagaimana sel-sel
eukariotik muncul. Simbiosis sel-sel prokariota menimbulkan keanekaragaman sel. Sel
yang hanya memiliki mitokondria akan berkembang menjadi sel hewan. Sel yang
memiliki kloroplas dan mitokondria akan berkembang menjadi sel tumbuhan. Baik
mitokondria maupun kloroplas berkembang menjadi organel dan sel eukariot.

B. Rumusaan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan protista dan pembagian supergrup eukariota?


2. Bagaimana sel eukariotik pertama berevolusi menurut teori endosymbiotic?
3. Bagaimana bukti dari teori endosimbiotic sehigga mendukung adanya evolusi
protista?

C. Tujuan

1. Mengetahui evolusi protista menurut teori endosymbiotic.


2. Mengetahui bukti dari teori endosimbiotic sebagai pendukung adanya evolusi
protista.
D. Manfaat

1. Menjadi pengetahuan mengenai perkembangan evolusi eukariotik.


2. Menjadi bahan pertimbangan untuk pengkajian evolusi eukariot yang lebih dalam
lagi berdasarkan bukti-bukti yang semakin banyak dan keakuratan data molekuler.

BAB II. METODE PENULISAN

A. Objek Penulisan
Objek penulisan pada makalah ini adalah protista, meliputi kemunculannya,
dasar-dasar kemunculannya, dan evolusinya yang diperkuat dengan adanya bukti-
bukti yang ditemukan.
B. Dasar Pemikiran Objek
Kajian terhadap protista dipilih karena sifat uniseluler yang dimiliki oleh
protista namun kelompok ini dimasukkan kedalam kelompok eukariotik, sedangkan
secara umum mungkin mirip dengan bakteri. Sehingga kajian terhadap kelompok
ini perlu dilakukan terutama masalah asal-usul dan bukti yang mendukung teori
asal-usul tersebut.
C. Metode Pengumpulan Data
Data dalam makalah ini diperoleh berdasarkan :
1. Pengkajian terhadap berbagai pustaka yang dijadikan sebagai acuan sumber.
2. Diskusi kelompok mengenai pemasalahan yang menjadi bahan pengkajian.
D. Metode Analisis
Anaisis data pada makalah kali ini dilakukan dengan cara :
1. Mengidentifikasi permasalahn berdasarkan fakta dan data yang ada.
2. Menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung.
BAB III. ANALISIS PERMASALAHAN

A. Pembahasan

Protista merupakan anggota dari eukariot uniseluler yang beranekaragam.


Protista pertama kali ditemukan Antoni van Leuwehoek dengan mengamati organisme
dari setetes air kolam di bawah mikroskop cahaya dan dapat mengungakapkan sebuah
dunia yang menakjubkan dari protista uniseluler. Beberapa protista menggerakan
dirinya dengan flagela yang melecut seperti cambuk, sedangkan yang lain merayap
dengan tonjolan mirip gumpalan.
Hingga akhir ini para ahli biologi menganggap bahwa pengamatan selama 300
tahun telah menyingkapkan sampel representatif dari spesies protista yang masih ada.
Semua protista dahulu diklasifikasikan dalam satu kingdom tunggal protista, namun
kemajuan dalam sistematika eukariotik telah menyebabkan kingdom ini runtuh. Protista
merupakan hewan polifiletik. Beberapa protista berkerabat lebih dekat dengan
tumbuhan, fungi, atau hewan dibaningkan dengan sesama Protista.
Protista bersama tumbuhan, hewan dan fungi diklasifikasikan sebagai eukariot.
Sel eukariot memiliki nukleus dan organel terselubung membran yang lain seperti
mitokondria dan aparatus golgi. Organel semacam itu menyediakan lokasi yang spesifik
bagi kebelangsungan fungsi tertentu, menjadikan struktur dan organisasi sel-sel
eukarioti lebih kompleks dari pada sel prokariotik.
Protista mulai muncul di bumi sekitar 2 milyar tahun yang lalu dibuktikan oleh
fosil tertua pada lapisan prekambium yang disebut fosil acritarch.

Semua jenis protista adalah eukariot. Protista sangat beragam ada yang
uniseluler, tetapi ada pula yang multiseluler dalam bentuk koloni. Protista berbeda
dengan prokariot karena protista memiliki inti sel (nukleus) yang terbungkus membran,
mitokondria, kloroplas, sistem endomembran, dan sitoskeleton. Bukti yang mendukung
evolusi prokariot menjadi eukariot adalah bahwa kloroplas dan mitokondria diduga
merupakan evolusi dari bakteri prokariot yang bergabung secara endosimbiotik. Dugaan
ini diperkuat karena baik mitokondria maupun kloroplas memiliki genom yang terdiri
atas molekul DNA sirkuler, RNA, dan ribosom. Ribosom kloroplas mirip dengan
ribosom prokariot, begitu pula ribosom mitokondria juga mirip dengan prokariot.
Sejarah evolusi protista terus mengalami perubahan. Hipotesis dalam pohon
filogeni menunjukan bahwa kelompok eukariota dapat dibagi menjadi lima supergrup
yaitu Exavata, Chromalveolata, Archaeplastida, Rhizaria dan Unikonta. Supergrup
Exavata mencankup protista dengan mitokondria yang termodifikasi dan protista dengan
flagela yang unik. Beberapa anggota Exavata memiliki lekuk makanan pada salah satu
sisi badan. Exavata mencakup Diplomonad, Parabasalid, dan Euglenozoa.
Chromalveolata diduga muncul dari endosimbiosis sekunder. Banyak spesies dari
Chromalveolata yang memiliki struktur plastida dengan DNA yang mengindikasikan
bahwa kelompok Chromalveolata berasal dari alga merah. Chromalveolata mencakup
Alveolata, Dinoflagellata, Apicomplexa, Ciliata dan Stramenopila.
Archaeplastida mencakup alga merah dan alga hijau, bersama dengan tumbuhan
darat. Alga merah dan alga hijau merupakan spesies yang uniseluler, spesies kolonial
maupun multiseluler. Rhizaria adalah kelompok hewan protista yang beranekaragam
dan ditentukan berdasarkan kemiripan DNA. Banyak spesies dari Rhizaria merupakan
organisme Amoeba. Amoeba sebagai protista dapat bergerak dan makan dengan
pseudopodia bentuk seperti benang. Rhizaria mencakup foram dan radiolaria. Unikonta
mencakup protista yang berkerabat dekat dengan fungi dan hewan. Unikonta diduga
merupakan kelompok eukariota pertama yang berdivergensi dari eukariota lain.
Alga merah dan alga hijau mengalami endosimbiosis sekunder. Alga merah dan
alga hijau ditelan dalam vakuola makanan dari eukariota heterotrofik da menjadi
endosimbion sendiri. Misalnya Chlorarachniophyta yang berevolusi eukariota lain,
plastidanya dikelilingi oleh empat membran. Dua membran berasal dari membran dalam
dan satu membran dari membran luar sianobakteri purba dan satu membran dari
membran plasma alga yang ditelan, dan membran terluar dari vakuola makanan eukariot
heterotrofik. Protista lain mempunyai plastida yang diperoleh melalui endosimbiosis
sekunder yang dikelilingi oleh tiga membran yang mengindikasikan salah satu dari
keempat membran awal hilang selama evolusi.
Lynn Margillus, seorang ahli mikrobiologi kenamaan, adalah yang pertama
mencetuskan hipotesis endosimbiosis untuk menjelaskan asal-usul mitokondria. Saat ini
hipotesis itu telah diterima sebagai fakta dalam dunia sains, meskipun masih banyak
aspek yang perlu diteliti mengenainya. Oleh karena itu, hipotesis tersebut telah dapat
disebut sebagai teori. Teori endosimbiosis menyatakan bahwa organel-organel utama
eukariota, yaitu mitokondria dan kloroplas, berasal dari simbion-simbion bakteri yang
telah mengalami spesialisasi melalui koevolusi dengan sel inangnya. Hal itu dibuktikan
oleh penelitian mengenai rRNA dan data-data molekuler lainya (Pace 1997:735).
Menurut teori endosimbiotik, sel-sel eukariotik pertama berevolusi dari
hubungan simbiosis antara dua atau lebih sel prokariotik. Sel prokariotik yang lebih
kecil ditelan oleh (atau menginvasi) sel prokariotik yang lebih besar. Sel-sel kecil
(sekarang disebut endosymbionts) manfaat dari hubungan dengan mendapatkan habitat
yang aman dan nutrisi. Sel-sel besar (sekarang disebut host) diuntungkan dengan
mendapatkan beberapa molekul organik atau energi yang dilepaskan oleh endosimbion.
Akhirnya, endosimbion berkembang menjadi organel dari sel inang. Setelah itu, tidak
bisa hidup tanpa yang lain.

Beberapa endosymbionts adalah bakteri aerobik. Mereka khusus untuk memecah


bahan kimia dan melepaskan energi. Mereka berevolusi ke dalam mitokondria sel
eukariotik. Beberapa sel kecil yang cyanobacteria. Mereka khusus untuk fotosintesis.
Mereka berkembang menjadi kloroplas sel eukariotik. Teori endosimbiotik menjelaskan
bagaimana sel-sel eukariotik muncul.
Menurut analisis, symbiogenesis mitokondria terjadi jauh lebih awal dalam
evolusi eukariota. Bakteri umumnya hidup bebas karena ukurannya terlalu kecil untuk
dapat menampung sel-sel lain dan dinding sel biasanya kaku. Bakteri besar dengan
permukaan yang relatif fleksibel mampu mengambil bakteri lainnya. Bakteri dapat
berkembang hanya dalam sitoplasma pelindung yang sudah ada sebelumnya pada sel
eukariotik. Teori symbiogenetic menekankan syntrophy bukan fagositosis. Teori
simbiosis menegaskan bahwa symbiogenesis mitokondria adalah prasyarat untuk
fagositosis. Pengganti dari dinding sel bakteri adalah permukaan mantel glikoprotein
sebagai penyebab utama evolusi phagotrophy. Hilangnya dinding sel memungkinkan
sistem reproduksi berkembang, sehingga tidak ada primitif eukariota aseksual.
Teori Endosimbion menyatakan bahwa evolusi eukariota dari prokariota
melibatkan serikat simbiotik nenek moyang sebelumnya. Secara khusus, teori
endosimbiosis adalah teori yang menjelaskan tentang pembentukan mitokondria dan

kloroplas yang berasal dari penggabungan atau simbiosis sel prokariotik ke dalam sel
prokariotik lain yang lebih besar. Kata endo berarti dalam, dan simbiosis berarti
hubungan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain. Nenek moyang ini
termasuk sel inang, mitokondria, kloroplas, dan sebuah prokariot yang memberikan
gerak seluler. Dalam teori tersebut juga sudah dijelaskan bahwa nenek moyang
mitokondria adalah bakteri yang hidup bebas seperti Daptobacter dan Bdellovibrio,
sedangkan nenek moyang kloroplas adalah sianobacteria dan prokariot adalah
archaebacterium.
Adapun penemuan yang memperkuat Teori Endosimbion adalah penemuan yang
dilakukan oleh Kwang W. Jeon. Dia menyaksikan pembentukan sebuah simbiosis
amuba dan bakteri dimana amuba menjadi tergantung pada endosimbion bakteri. Jeon
mengetahuinya dengan melakukan transplantasi inti antara amuba terinfeksi dan amuba
yang kurang bakteri. Penemuan ini menunjukan bahwa endosimbiosis bisa memberikan
mekanisme utama untuk evolusi seluler dan mampu menjelaskan pengenalan spesies
baru. Selain bukti tersebut terdapat bukti lain yang dapat mendukung Teori
Endosimbion, yaitu gagasan tentang asal endosimbiotik mitokondria dan kloroplas. Di
jelaskan bahwa mitokondria baru dan kloroplas dapat timbul hanya dari mitokondria
dan kloroplas yang sudah ada sebelumnya, karena mitokondria dan kloroplas tidak
dapat dibentuk dalam sel yang tidak memiliki keduanya sebab gen nuklirnya hanya
kode untuk beberapa protein.
Teori itu menjelaskan asal-usul mitokondria sebagai berikut: beberapa sel purba
dapat mengingesti (menelan) partikel-partikel makanan melalui invaginasi (pelekukan
ke dalam) endositik dari membran plasmanya. Barangkali ada setidaknya sebuah sel
pencari makanan berukuran besar dan mampu berfermentasi yang telah menelan satu
atau lebih bakteri respirasi kecil, namun tidak dapat mencernanya. Endosimbion
tersebut dapat bertahan hidup pada lingkungan yang kaya akan nutrisi dan dapat
bersembunyi dari sel predator. Sebaliknya, sel-sel inang pencari makan mendapatkan
keuntungan energi dari respirasi oksidatif melebihi sel fermentasi. Keuntungan-
keuntungan komplementer tersebut kemudian berevolusi menjadi sebuah hubungan
simbiosis hidup bersama sampai ke suatu titik di mana salah satu entitas tidak dapat
hidup tanpa entitas lainya. Proses penggabungan sel inang dan endosimbion-
endosimbionya tersebut diduga telah memunculkan mitokondria pada sel-sel eukariotik
modern setidaknya 1,5 milyar tahun yang lalu.

B. Kesimpulan dan Saran

B.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis permasalahan yang telah dibahas maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Menurut Teori Endosimbion evolusi protista yang berupa eukariotik
berasal dari simbion-simbion dari sel prokariotik yang lebih kecil yang
ditelan oleh sel prokariotik yang lebih besar dan akhirnya endosimbion
berkembang menjadi organel dari sel inang.
2. Bukti adanya evolusi protista sebagai pendukung teori Endosimbion yaitu
adanya fosil acritarch pada lapisan prekambium sekitar 2 milyar tahun
yang lalu. Dapat juga dibuktikan dengan adanya penemuan Kwang W.
Jeon yang menyaksikan pembentukan simbiosis amuba dan bakteri
dimana amuba menjadi tergantung pada endosimbion bakteri.
Protista kemungkinan besar berevolusi dari sel prokariotik, seperti yang
dijelaskan oleh teori endosymbiotic. Teori ini didukung dengan baik oleh
bukti.
B.2 Saran
1.
DAFTAR REFERENSI

Abercrombie, M. 1993. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Erlangga.

Albert, Bruce. 1989. Molekular Biology of The Cell. London: Garlan Publishing Inc.

Campbell, Reece, Mitchell. 2003. Biologi edisi ke 5. Jakarta: Elangga.

Keeton, William T. 1980. Biological Science, Third edition. New York: W.W Norton &
Company.

Otto, James & Towle Albert. 1975. Modern Biology. New York: Holt, Rineheart and
Winston.

Pace, N.R. 1997. A Molecular View of Microbial Diversity and The Biosphere. Science.

Price, John t. 1971. The Origin and Evolution of Life. London: English Univesities
Press.Ltd.

Smith, T.Cavalier. 2002. The Phagotropihic Origin of Eukaryotes and Phylogenic


Classification of Protozoa. International Journal of Systematic and Evolutionary
Microbiology, 52: 297-394.

Stanfield, W., R.Cano, and J.Colome. 2003. Molecular and Cell Biology. New York:
McGraw-Hill.