Anda di halaman 1dari 16

NAMA Ria Yolanda Arundina

NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

TIKET MASUK PRAKTIKUM KIMIA DASAR

PENGENALAN ALAT DAN BUDAYA K3

1. PRELAB
1.1 Contoh bahan kimia pada symbol berbahaya masing-masing 2
Simbol Keterangan Contoh
Corrosive / Korosif HCl
Notasi corrosive H2SO4
Dapat merusak jaringan
hidup, menyebabkan iritasi
pada kulit, gatal-gatal dan
(Nugroho dan dapat membuat kulit
Rahayu, 2016). mengelupas.
Highly flammable (sangat Aseton
mudah terbakar) Etanol
Notasi highly flammable
Bahan-bahan yang dapat
menjadi panas di udara pada
temperatur kamar tanpa ada
(Nugroho dan
pasokan energi dan akhirnya
Rahayu, 2016).
terbakar.
Harmful (berbahaya) Etilen glikol
Notasi harmful Diklorometana
Risiko merusak kesehatan jika
masuk ke tubuh melalui
inhalasi, mulut, atau kontak
(Nugroho dan dengan kulit.
Rahayu, 2016).
Toxic (Beracun) Metanol (toksik)
Notasi toxic Benzane (toksik dan
Menyebabkan kerusakan karsinogenik)
kesehatan akut atau kronis
dan bahkan kematian pada
(Nugroho dan konsentrasi rendah jika masuk
Rahayu, 2016). ke tubuh melalui inhalasi,
mulut, atau kontak dengan
kulit
Explosive / mudah meledak NH4NO3
Notasi explosive Trinitro Toluena (TNT).
Dapat meledak dengan
pukulan/benturan, gesekan,
pemanasan, api, dan sumber
(Nugroho dan nyala lain bahkan tanpa
Rahayu, 2016). oksigen atmosferik.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

1.2 MSDS (Material Safety Data Sheet).


1. Asam klorida
a. Sifat (corrosive)
b. Bahaya
Dapat merusak jaringan hidup, menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal dan
dapat membuat kulit mengelupas. Hindari kontak dengan mata, kulit, atau
pakaian. Cuci tangan dengan bersih setelah memegang. Simpan rapat-rapat
(GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Pertolongan pertama : panggil dokter.
Kulit : segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit saat
membersihkan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Bersihkan secara
menyeluruh sebelum digunakan lagi.
Mata: segera siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit, buka
tutup pelupuk mata beberapa kali. Cari pertolongan medis.
Pernapasan: segera cari udara segar. Jika tidak bias bernapas, berikan napas
buatan, jika masih sulit bernapas, berikan oksigen.
Tertelan : berikan beberapa gelas susu atau air . muntah dapat terjadi secara
spontan, tetapi jangan membuatnya muntah (GHS, 2017).
2. Asam sulfat (H2SO4)
a. Sifat (corrosive)
b. Bahaya
Dapat menyebabkan iritasi dan terbakar. Bahaya jika teroles. Hindari uap
ataupun asap nya. Gunakan dalam fentilasi cukup. Hindari kontak dengan mata,
kulit, atau pakaian. Cuci tangan dengan bersih setelah memegang dan tutup
rapat (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Pertolongan pertama : panggil dokter.
Kulit : segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit saat
membersihkan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi. Bersihkan secara
menyeluruh sebelum digunakan lagi.
Mata: segera siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit, buka
tutup pelupuk mata beberapa kali. Cari pertolongan medis.
Pernapasan: segera cari udara segar. Jika tidak bias bernapas, berikan napas
buatan, jika masih sulit bernapas, berikan oksigen.
Tertelan : berikan beberapa gelas susu atau air . muntah dapat terjadi secara
spontan, tetapi jangan membuatnya muntah (GHS, 2017).
3. Aseton (C3H6O)
a. Sifat (flameable)
b. Bahaya
Mudah terbakar. Iritasi bila terkena mata dan kulit. Bahaya bila terhirup dan
tertelan (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Terkena mata: segera basuh dengan air yang banyak min 15 menit. Beri tindakan
medis.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

Terkena kulit: cuci dengan sabun dan air. Tutup kulit yang iritasi dengan
emollient. Segera beri tindakan medis.
Terhirup: pindahkan ke tempat yang berudara segar, jika tidak bernafas beri
pernafasan buatan (jangan meleui mulut ke mulut), bila kesulitan bernafas beri
oksigen. Segera beri tindakan medis
Tertelan: segera hubungi dokter. Jangan paksakan muntah kecuali tim medis
yang mengarahkannya, jangan beri apapun melalui mulut jika korban tidak sadar
(GHS, 2017).
4. Etanol (C2H6O)
a. Sifat (flameable)
b. Bahaya
Zat ini menyebabkan efek samping reproduksi dan janin pada manusia.
Terkena mata: Menyebabkan gangguan mata berat. Dapat menyebabkan
sensitisasi menyakitkan untuk cahaya. Dapat menyebabkan kerusakan kornea.
Terkena kulit: Menyebabkan gangguan pada kulit. Iritasi pada kulit.
Inhalasi: Inhalasi konsentrasi tinggi dapat menyebabkan efek sistem saraf pusat
yang ditandai dengan mual, sakit kepala, pusing, tidak sadar dan koma.
Menyebabkan iritasi saluran pernafasan.
Tertelan: Dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan mual, muntah dan
diare (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Terkena mata: Segera bilas dengan banyak air, juga di bawah kelopak mata,
untuk sedikitnya selama 15 menit. Lepaskan lensa kontak. Jika iritasi mata
berlanjut, periksakan ke dokter spesialis.
Terkena kulit: Segera cuci bersih dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit.
Jika iritasi kulit berlanjut, panggil dokter.
Terhirup: Pindahkan ke tempat berudara segar jika tidak sengaja menghirup uap.
Bila pernapasan tidak teratur atau berhenti, berikan pernapasan buatan. Jika
gejala berlanjut, panggil dokter.
Tertelan: Jangan memaksakan muntah tanpa nasihat medis. Jangan sekali-kali
memberikan apa pun lewat mulut kepada orang yang tidak sadar. Hubungi dokter
secepatnya (GHS, 2017).
5. Etilen glikol (C2H6OH)
a. Sifat (Harmful)
b. Bahaya
Potensi Efek Kesehatan Akut: Berbahaya dalam kasus menelan.
Sedikit berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritasi), kontak mata (iritasi).
Potensi Efek Kesehatan kronis: Efek karsinogenik: A4 (Tidak diklasifikasikan
untuk manusia atau hewan) (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Kontak Mata: segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit.
Dapatkan bantuan medis jika terjadi iritasi.
Kontak Kulit: Cuci dengan sabun dan air. Tutupi kulit yang teriritasi dengan
emolien. Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

Inhalasi: Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan
pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan perhatian
medis.
Tertelan: Jangan dimuntahkan kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh
tenaga medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang
yang tidak sadar. Jika sejumlah besar bahan ini tertelan, panggil dokter segera
(GHS, 2017).
6. Diklorometana
a. Sifat (Harmful)
b. Bahaya
Kontak mata: menyebabkan iritasi dan radang mata. Ditandai dengan
kemerahan, berair dan gatal-gatal.
Kontak kulit: dapat menyebabkan iritasi pada kulit
Pernapasan: menyebabkan iritasi pada system pernapasan (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Kontak Mata: Dalam kasus kontak, segera basuh mata dengan banyak air
selama minimal 15 menit. Dapatkan perhatian medis segera.
Kontak Kulit: Cuci dengan sabun dan air. Tutupi kulit yang teriritasi dengan
emolien. Lepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi, cuci sepenuh nya
sebelum di gunakan kembali. Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang
(GHS, 2017).
7. Methanol (CH4O)
a. Sifat (Toxic)
b. Bahaya
Mudah terbakar. Berbahaya bila tertelan, terhirup, atau terserap melalui kulit.
Iritasi bila terkena mata dan kulit. Beracun (GHS, 2017)..
c. Pertolongan Pertama
Terkena mata: segera basuh dengan air yang banyak min 15 menit. Beri tindakan
medis.
Terkena kulit: segera basuh kulit dengan air yang banyak, segera beri tindakan
medis.
Terhirup: pindahkan ke tempat yang berudara segar, jika tidak bernafas beri
pernafasan buatan, bila kesulitan bernafas beri oksigen. Segera beri tindakan
medis.
Tertelan: segera hubungi dokter. Jangan paksakan muntah kecuali tim medis
yang mengarahkannya, jangan beri apapun melalui mulut jika korban tidak sadar
(GHS, 2017).
8. Benzena (C6H6)
a. Sifat (Toxic)
b. Bahaya
Mudah terbakar. Berbahaya bila tertelan dan terhirup. Iritasi bila terkena mata
dan kulit (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Terkena mata: segera basuh dengan air yang banyak min 15 menit. Beri tindakan
medis.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

Terkena kulit: segera basuh kulit dengan air yang banyak, segera beri tindakan
medis.
Terhirup: pindahkan ke tempat yang berudara segar, jika tidak bernafas beri
pernafasan buatan, bila kesulitan bernafas beri oksigen. Segera beri tindakan
medis.
Tertelan: segera hubungi dokter. Jangan paksakan muntah kecuali tim medis
yang mengarahkan, jangan beri apapun melalui mulut jika korban tidak sadar
(GHS, 2017).
9. Ammonium nitrate (NH4NO3)
a. Sifat (Explosive)
b. Bahaya
Dapat mengintensifkan api; pengoksidasi, dan Menyebabkan gangguan mata
berat (GHS, 2017).
c. Pertolongan Pertama
Kontak Mata : Segera bilas dengan banyak air, juga di bawah kelopak mata,
setidaknya selama 15 menit. Dapatkan perhatian medis.
Kontak Kulit : Segera cuci dengan air yang banyak selama minimal 15 menit.
Dapatkan bantuan medis jika gejala terjadi
Terhirup : Pindah ke udara segar. Jika sulit bernafas, beri oksigen. Dapatkan
bantuan medis jika gejalanya terjadi.
Tertelan : Jangan memaksakan muntah. Dapatkan perhatian medis (GHS,
2017).
10. TNT
a. Sifat (Explosive)
b. Bahaya
Dapat mengintensifkan api; TNT adalah peledak Divisi 1.1, dan peledakan dapat
menyebabkan luka fisik yang parah, termasuk kematian.
Menghirup bubuk bahan peledak dapat menyebabkan penyimpangan sistem
saraf termasuk sakit kepala dan pusing. Nitrogen oksida yang dihasilkan selama
penggunaan adalah iritasi kulit, mata, dan saluran pernafasan. Menyebabkan
gangguan mata berat (GHS,2017)
c. Pertolongan Pertama
Kontak mata: Siram mata dengan air.
Kontak Kulit: Cuci kulit dengan sabun dan air.
Inhalasi: Jika asap peledakan terhirup, angkat ke udara segar. Jika tidak
bernafas, berikan artifisial respirasi, sebaiknya mulut ke mulut. Jika sulit
bernapas, berikan oksigen dan panggil dokter.
Tertelan: Segera induksi muntah dengan memberi dua gelas air dan tempelkan
jari ke bawah tenggorokan.
Cedera akibat peledakan: Carilah perhatian medis segera (GHS, 2017)
1.3 Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang Terdapat pada Laboratorium
(Lestari, 2013).
1. Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Laboratorium
Permasalahan yang ada pada laboran yaitu bekerja di laboratorium (kimia,
biologi, dan radiasi) beresiko tinggi, tingkat kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja terus meningkat, pemahaman masyarakat terhadap sifat bahaya dan resiko
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

bahan (kimia, biologi dan radiasi) masih rendah dan belum terciptanya budaya
safety yakni peduli terhadap keselamatan manusia dan lingkungan.
Bekerja di laboratorium mempunyai resiko pada kesehatan bahkan nyawa
laboran. Pemahaman masyarakat terhadap sifat dan resiko bahan (kimia, radiasi
dan biologi) masih rendah, sehingga belum tercipta Budaya Safety yakni budaya
terhadap keselamatan manusia dan lingkungan.
Kecelakaan kerja di laboratorium dipicu oleh informasi yang kurang tentang
bahaya (hazard), kepedulian safety yang rendah, kesalahan kelengkapan
bangunan dan/atau laboratorium, kesalahan dalam deteksi daerah potensial
resiko, kesalahan penanganan bahan kimia berbahaya, kesalahan penyimpanan,
dll.
Kecelakaan kerja terutama terjadi karena pelanggaran aturan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja yang sering disingkat K3, merupakan suatu ilmu
pengetahuan yang penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran,
peledakan, pencemaran, penyakit akibat kerja, dll.
Kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium diperlukan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehingga mengurangi resiko kehilangan
staf, dan mengurangi resiko kehilangan alat serta bahan kimia.Tahap persiaapan
yaitu:
a. Mengetahui secara pasti (tepat dan akurat) cara kerja pelaksanaan praktikum
serta hal yang harus dihindari selama praktikum, dengan membaca petunjuk
praktikum.
b. Mengetahui sifat bahan yang akan digunakan sehingga dapat terhindar
dari kecelakaan kerja selama di Laboratorium. Sifat bahan dapat diketahui dari
Material Safety Data Sheet (MSDS).
c. Mengetahui peralatan yang akan digunakan serta fungsi dan cara
penggunaannya.
d. Mepersiapkan Alat Perlindungan Diri seperti jas praktikum lengan panjang,
kacamata goggle, sarung tangan karet, sepatu, masker, dll.
2. Pelaksanaan
Bahan berbahaya adalah bahan yang karena sifat serta konsentrasinya
dan/atau jumlahnya dapat mengakibatkan dampak negatif atau kerugian bagi
manusia dan pencemaran atau kerusakan lingkungan. Suatu bahan dikatakan
berbahaya jika mudah terbakar, toksit, korosif, berbahaya untuk lingkungan,
memiliki sifat mudah meledak. Bahan kimia berbahaya adalah bahan kimia yang
karena klasifikasi dan kategori tingkat bahayanya dan/atau jumlahnya dapat
mengakibatkan dampak negatif atau kerugian bagi manusia dan pencemaran atau
kerusakan lingkungan.
Ketika melaksanakan praktikum terdapat banyak hal yang patut kita ketahui
agar terhindar dari kecelakaan kerja. Tahap Pelaksanaan meliputi :
a. Mengenakan Alat Pelindungan Diri
b. Mengambil dan memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan.
c. Menggunakan bahan kimia seperlunya, jangan berlebihan karena dapat
mencemarkan lingkungan.
d. Menggunakan alat praktikum yang baik dan benar.
e. Membuang limbah sesuai dengan kategori limbahnya.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

f. Bekerja dengan tertib, tenang, dan hati-hati, serta catat data praktikum jika
diperlukan.
3. Pasca Pelaksanaan.
Pada penyimpanan bahan kimia sangat diperlukan adanya sarana
penyimpanan (lemari/gudang) bahan kimia, dimana penempatannya perlu
memperhatikan sifat bahan kimia baik fisik maupun kimiawi dan mudah dikontrol,
sehingga interaksi antara bahan kimia yang disimpan dapat dihindari. Syarat-syarat
penyimpanan bahan kimia yang perlu diperhatikan :
a. Syarat ruangan : dingin, ventilasi, jauh dari sumber api ataupun zat oksidator,
serta bahan makanan dan pakan hewan.
b. Syarat wadah penyimpanan : gelas atau olietilen atau wadah gelap
c. Syarat bangunan/lemari/gudang : lokasi terletak pada bangunan yang terpisah,
ventilasi, bebas dari sumber nyala api, kering, bebas banjir dan ada sistem
perlindungan petir.
Setelah selesai melakukan sebuah praktikum hendaknya kita melaksanakan
beberapa tahap, yaitu :
a. Cuci peralatan yang sudah digunakan, keringkan, dan kembalikan ke tempat
semula.
b. Matikan listriknya, kran air, dan tutup bahan kimia dengan rapat.
c. Bersihkan tempat atau meja kerja praktikum.
d. Cuci tangan dan lepaskan jas praktikum, lalu keluar dari laboratorium.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian lemari asam, fungsi dan gambar
Lemari asam adalah peralatan yang dibuat untuk mengurangi paparan dari gas
berbahaya, uap beracun, mau pun debu. Fungsi dari lemari asam adalah sebagai
perantara untuk memindahkan bahan kimia asam konsentrasi tinggi, tempat reaksi kimia
yang menggunakan bahan-bahan yang mudah menguap dan gas yang berbahaya,dan
juga sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan kimia asam tinggi (Stubbins, 2010).

2.2 Pengertian spektrofotometer, fungsi dan gambar


Spektrofotometer adalah salah satu instrumen diagnostik dan penelitian utama yang
dikembangkan. Menggunakan sifat-sifat cahaya dan interaksinya dengan zat lain.
Umumnya, cahaya dari lampu dengan karakteristik khusus dipandu melalui perangkat,
yang memilih dan memisahkan panjang gelombang ditentukan dan membuatnya
melewati sampel. Intensitas cahaya meninggalkan sampel diambil dan dibandingkan
dengan apa yang berlalu (WHO, 2008).

2.3 Pengertian timbangan analitik, fungsi dan gambar


Timbangan analitik adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat
(WHO, 2008).

2.4 Pengertian pH meter, fungsi dan gambar


PH meter yang digunakan untuk menentukan konsentrasi ion hidrogen [H +] dalam
larutan. Peralatan ini, digunakan berhati-hati dan dikalibrasi, mengukur keasaman suatu
larutan berair (WHO, 2008).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

2.5 Pengertian spatula, fungsi dan gambar


Spatula adalah alat untuk mengambil obyek. Fungsi spatula adalah alat untuk mengambil
bahan kimia berbentuk padatan dan digunakan untuk mengaduk larutan (Zubrick, 2016).

2.6 Pengertian pipet ukur, fungsi dan gambar


Pipet ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur (WHO, 2008).

2.7 Pengertian pipet volum, fungsi, dan gambar


Pipet volum adalah pipet yang berdiameter kecil dan merupakan alat ukur. Pipet volume
dimaksudkan untuk mengukur sejumlah volume dengan tingkat akurasi tinggi (Soetrisno,
2013).

2.8 Pengertian pipet tetes, fungsi dan gambar


Pipet tetes berupa pipa kecil terbuat dari plastik atau kaca dengan ujung bawahnya
meruncing serta ujung atasnya ditutupi karet. Pipet tetes berfungsi untuk mentransfer
volume kecil cairan dari satu wadah ke yang lain dengan tepat (WHO, 2008).

2.9 Pengertian labu ukur, fungsi dan gambar


NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

Labu ukur adalah alat laboratorium yang berbentuk seperti buah pear dengan bagian
bawah berbentuk datar dan leher yang panjang dan mulut yang memiliki penutup. Fungsi
labu ukur adalah membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dan mengencerkan
larutan, biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu (Cairns, 2008).

2.10 Pengertian tabung reaksi, fungsi, dan gambar


Tabung reaksi adalah peralatan yang ada di laboratorium yang berbentuk tabung
sebesar tangan manusia dewasa. Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat untuk
mereaksikan bahan kimia, dan melakukan reaksi kimia dalam skala kecil (Soetrisno,
2013).

2.11 Pengertian Erlenmeyer, fungsi, dan gambar


Enlemeyer adalah sebuah labu yang bebentuk keucut dan leher yang berbentuk silindir.
Erlenmeyer berfungsi sebagai tempat untuk menampung larutan yang di titrasi pada
proses titrasi serta mengukur dan mencampur bahan-bahan (Sutrisno, 2013).

2.12 Pengertian buret, fungsi dan gambar


Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis
ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Fungsi buret adalah meneteskan sejumlah
reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi yang sudah di tentukan (Cairns,
2008).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

2.13 Pengertian bulb, fungsi dan gambar


Rubber bulb adalah alat bantu yang berfungsi untuk meneyedot larutan. Rubber bulb akan
sangat dibutuhkan pada saat mengambil larutan pekat atau larutan yang berbahaya /
beracun (Cairns, 2008).

2.14 Pengertian corong, fungsi dan gambar


Corong adalah sebuah benda berbentuk kerucut dengan bentuk lubang di ujung benda
yang lebar dan lubang sempit dan panjang di ujung. Fungsi corong sebagai alat yang
digunakan untuk memasukkan bahan ke wadah yang memiliki dimensi pemasukan yang
kecil, dan sebagai penyaring (Cairns, 2008).

2.15 Pengertian gelas beker, fungsi dan gambar


Gelas beker adalah sebuah wadah penampung yang digunakan untuk mengaduk,
mencampur, dan memanaskan cairan yang biasanya digunakan dalam laboratorium
(WHO,2008).

2.16 Pengertian kertas saring, fungsi dan gambar


Kertas saring adalah suatu kertas yang dipotong melingkar dan ditempatkan serenjang
dalam suatu corong pemisah, agar kotoran tidak larut tersaring dan memungkinkan bagian
dari larutan dapat terpisahkan melalui pori-pori kertas (Cairns, 2008).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

2.17 Pengertian gelas arloji, fungsi dan gambar


Gelas arloji berfungsi untuk menimbang bahan-bahan kimia yang bersifat higroskopis,
sebagai penutup saat melakukan pemanasan bahan kimia, dan sebagai wadah untuk
mengeringkan suatu bahan dalam desikator (Suwahyono,2013).

2.18 Pengertian gelas ukur, fungsi dan gambar


Gelas ukur berupa tabung berbentuk silinder yang terdapat penanda ukuran volume atau
isi. Fungsinya adalah untuk menakar volume bahan cair (Suwahyono,2013).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

3 PEMBAHASAN
Petingnya untuk mengutamakan budaya K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) di
laboratorium guda menghindari kecelakaan dan sesuatu hal yang tidak diinginkan di
Laboratorium. Demi menghindari hal tersebut, kita sebaiknya mengikuti dan menerapkan
budaya K3 itu sendiri. Budaya K3 memiliki 3 tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan,
dan pasca pelaksaan (Djatmiko, 2016).
Beberapa alat yang harus kita ketahui fungsi, cara kerja dan kegunaannya :
Lemari asam, cara kerja lemari asam, yaitu naikan jendela sorong,Hidupkan Switch
blower, Hidupkan lampu penerang. Jika blower telah hidup, maka mulailah melakukan
pekerjaan secara hati-hati. Pada saat melakukan pekerjaan turunkan slidding window
searah bahu.Setelah selesai bersihkan meja lemari asam dengan kain kering lalu dibilas
dengan kain basah, kemudian di lap lagi hingga kering. Matikan Switch lampu, Tutup
Window, dan Tutup Slidding window (Stubbins, 2010).
Spektrofotometer, cara kerjanya hubungkan Spektrofotometer ke sumber arus,
Nyalakan spektrofotometer dengan menekan tombol ON pada main spektrofotometer.
Tampilan program akan muncul dan memberitahukan bahwa proses inisiasi sedang
berlangsung, tunggu hingga proses selesai ditandai dengan munculnya warna hijau dan
tertulis status ready. Biarkan selama 15 menit untuk pemanasan, setelah itu
spektrofotometer siap digunakan. Atur panjang gelombangnya. Setelah itu
spektrofotometer siap digunakan untuk pengukuran serapan sample pada panjang
gelombang tertentu. Kuvet dimasukkan setelah di lap dengan kertas tissue. Sisi kuvet
yang terang menghadap lubang cahaya dari spectrophotometer. Setelah selesai bekerja,
kuvet dikeluarkan dan dibersihkan dari pelarutnya kemudian dikeringkan.
Spektrofotometer dimatikan dengan mengklik tombol OFF pada main unit
spektrofotometer (Syahmani, 2011).
Sebelum menggunakan timbangan analirik, bersihkan timbangan menggunakan kuas.
Piringan neraca pada timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat
dibersihkan dengan menggunakan alkohol/ethanol.Tancapkan kabel power Tekan
tombol ON kemudian tunggu sampai angka 0,0000 g muncul. Masukkan alas bahan
(gelas arloji, kertas atau benda tipis) dengan membuka kaca tidak terlalu lebar agar tidak
mempengaruhi perhitungan karena timbangan laboratorium cukup sensitive). Tekan
tombol zero agar perhitungan lebih akurat. Setelah menaruh bahan yang ingin ditimbang,
tutuplah kaca timbangan. Maka secara otomatis display angka akan berubah
menyesuaikan massa bahan (Syahmani, 2011).
Sebelum menggunakan pH meter , sebaik nya kita mengkalibrasinya terlebih dahulu.
Yaitu dengan cara , kita mengukur konsentrasi pH suatu larutan yang telah di ketahui pH
nya. Jika berbeda jauh menandakan pH meter tersebut sudah tidak dapat di gunakan
lagi. Elektroda pada pH meter harus di cuci dengan aquades setelah dan sesudah
menggunakannya (Beran, 2011).
Spatula memiliki ujung yang agak cekung untuk mengambil dalam jumlah banyak,
sedangkan ujung yang datar untuk mengambil jumlah yang lebih sedikit (Syahmani,
2011).
Pipet ukur, Cara menggunakan harus tegak lurus dengan mata kita berhadapan
dengan skala pipet. Pipet volume biasanya berpasangan dengan bulb (Who 2008).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

Pipet volume digunakan dengan cara : celupkan bagian bawah pipet ke dalam cairan,
cairan disedot dengan bola pipettor up melebihi garis batas kemudian dikurangi
(Soetrisno, 2013).
Pipet tetes, Tekan bulatan karet pada pipet, maka larutan akan masuk ke dalam pipet.
Tekan lagi untuk mengeluarkan cairan (WHO, 2008).
Labu ukur, Memipet larutan pekat yang telah diketahui volumenya, tambahkan pelarut,
kocok atau balikkan labu untuk mencampur isinya (Cairns, 2008).
Tabung reaksi, langkah kerjanya yaitu : memegang leher tabung reaksi, miringkan
sedikit, isi dengan larutan yang akan diperiksa dengan pipet tetes. Bila tabung beserta
isinya akan dipanaskan, tabung dipegang dengan alat pemegang tabung dan
pemanasan dilakukan pada daerah 1/3 bagian cairan dari bawah mulut tabung
(Soetrisno, 2013).
Erlenmeyer, letakkan bahan yang akan di titrasi/di campur ke dalam erlemeyer.
(Sutrisno, 2013)
Tempatkan buret pada penyangganya, putar keran untuk mengeluarkan zat yang telah
dimasukkan ke dalamnya (Cairns, 2008).
Bulb memiliki 3 tombol, yaitu: A , S, dan E. Cara mengunakan: pertama kita harus
mengeluarkan udara dari bulb dengan cara di pencet sambil menekan tombol A.
kemudian pasangkan dengan pipet ukur di bagian bawah bulb. Untuk menyedot larutan
kita menekan tombol S. untuk mengeluarkan larutan dapat dengan menekan tombol E.
Harus berhati hai dalam menggunakan bulb, jangan sampai terkena air sedikitpun.
Karena bulb akan rusak jika terkena air (Beran, 2011).
Corong, letakkan ke wadah yang ingin ditambahkan zat (Cairns, 2008).
Gelas beker, letakkan cairan yang akan di aduk, di campur, dan di panaskan
(WHO,2008).
Kertas saring, kertas ini dilipat hingga kecil membentuk kerucut, kemudian masukkan
ke dalam corong untuk di saring di corong (Cairns, 2008).
Gelas arloji, letakkan bahan kimia diatas gelas arloji menggunakan spatula lalu
timbang pada timbangan (Suwahyono,2013).
Gelas ukur, letakkan cairan yang ingin diukur ke dalam gelas ukur (Suwahyono,2013).
Kuvet, serupa dengan tabung reaksi tetapi ukuran nya lebih kecil. di gunakan sebagai
wadah sampel dalam analisi dengan spektofotometer. Kuvet tidak boleh dipanaskan.
Piknometer, ukur massa piknometer dalam keaadaan kosong lalu masukkan cairan
yang akan diukur massa jenisnya ukur massanya kembali, untuk volumenya gunakan
ukuran volume yang tertera pada piknometer, lalu cari massa jenisnya dengan
menggunakan rumus massa jenis (Nikolaides, 2014).
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

4 KESIMPULAN
Di dalam laboratorium kita akan berhubungan langsung dengan zat-zat kimia
sehingga kita wajib mengetahui sifat, bahaya, dan risiko jika terkena dari masing-
masing zat kimia yg kita gunakan selama praktikum. Sehingga kita bisa menghindari
terjadinya kecelakaan dan hal-hal yang tidak kita inginkan selama berlangsungnya
praktikum dan yang terpenting adalah kita harus mengetahui penanganan pertama jika
terkena kontak langsung dengan berbagai bahan kimia tersebut. Oleh karena itu untuk
menghindari terjadinya hal-hal tersebut, kita perlu mencegahnya dengan cara
menggunakan pengaman guna menghindari kontak langsung dengan bahan kimia
yang berbahaya selama praktikum. Kita juga perlu mengetahui nama dan fungsi
masing masing alat yang akan kita gunakan untuk praktikum agar kita bisa
menggunakannya dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Cairns Donald, Rini Maya Puspita (Penerjemah). 2008. Intisari Kimia Farmasi Ed.2. Jakarta :

EGC.

Globally Harmonized System of Classification and Labeling of Chemicals (GHS). 2017.

SAFETY DATA SHEET. Fisher Scientific : New York.

Lestari, Sri Rahayu Puji. 2013. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium. PBT

Madya Balai Besar PPMB-TPH Bimtek Laboratory Safety Kementerian Pertanian :


Jakarta.

Nugroho, Endik Deni dan Rahayu, Dwi Anggorowati. 2016. Penuntun Praktikum

Bioteknologi. Penerbit Deepublish : Yogyakarta.

Stubbins, Kling. 2010. Sustainable Design of Research Laboratories: Planning, Design, and

Operation. Wiley : Canada.

Sutrisno, E. T. dan Nurminabari, I. S. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Universitas

Pasundan: Bandung.

Suwahyono, Untung. 2013. Membuat Biopeptisida. Penebar Swadaya : Jakarta.

Syahmani. 2011. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin : FKIP UNLAM.

World Health Organization. 2008. Maintenance Manual for Laboratory Equipment, 2nd ed.
Zubrick, James W. The Organic Chem Lab Survival Manual: A Student's Guide to
Techniques. Wiley : Canada.
NAMA Ria Yolanda Arundina
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H2

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Djatmiko, Riswan Dwi. 2016. Keselamatan dan kesehatan kerja. Yogyakarta : CV Budi

Utomo.

Beran, Jo Allan. 2011. Laboratory Manual For Principle Of General Chemistry. New Jersey :

John Willey & Sons, inc.

Nikolaide, Athanassios. 2014. Highway Enginessring. New York : CRC Press.