Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN I

ANATOMI TUMBUHAN

A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat melihat bagian-bagian yang hidup dalam sel seperti
nukleus, kloroplas, plastida dan arus sitoplasma
2. Mahasiswa dapat melihat benda-benda mati dalam sel diantaranya amilum,
butir-butir aleuron dan kristal-kristal Ca-oksalat

B. Dasar teori
Anatomi tumbuhan, sebagai suatu disiplin ilmu yang terperinci, merupakan
salah satu bagian botani yang tertua. Ilmu ini di awali oleh Nahemiah Grew dan
Marcello Malpighi di tahun 1671. Keuntungan disiplin ilmu yang tua ini adalah
banyaknya aspek dasar anatomi yang telah di temukan, ditafsirkan serta
diterangkan. Salah satu sasaran anatomi adalah untuk memahami fungsi struktur.
Selain itu, disaat ini evolusi yang didasarkan seleksi alam, misalnya telah
diterima sebagai cara utama untuk memahami tumbuhan. Sebagai pedoman di
akui bahwa tumbuhan mengalami evolusi dan berubah sejalan dengan waktu.
Dianggap pula bahwa tidak ada yang menyesuaikan diri dengan sempurna dalam
semua segi struktur. Lingkungan hidup tumbuhan berubah ketika iklim menjadi
dingin atau panas, sewaktu deretan gunung timbul atau hilang terkena erosi,
sehingga anatomi yang tadinya sesuai dengan spesies tertentu menjadi tidak lagi
sesuai secara optimum. Oleh karena itu, biologi satu individu yang perlu selalu
diperhatikan dan perlu pula di ingat bahwa tafsiran anatomi berkaitan dengan
sifat biologi leluhur, termasuk anatominya. Mungkin sekali akan ditemukan
macam-macam struktur yang bertahap, diselingi sejumlah struktur peralihan.
Selian itu, ada kemungkinan masih ada bagian struktur yang tidak dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan tumbuhannya (Hidayat, 1995: 1).
Dalam hubungan antar ilmu, anatomi tumbuhan berperan penting. Tafsiran
yang sesungguhnya dari fungsi bagian tumbuhan bertumpu pada pengetahuan
2

yang baik tentang sel dan jaringan yang berkaitan dengan fungsi tersebut.
Contohnya adalah pada fotosintesis, pergerakan air, translokasi makanan dan
penyerapan oleh akar. Dalam patologi tumbuhan, pengaruh penyakit tak dapat
dipahami dengan baik tanpa memahami struktur normal jaringan yang diserang.
Selain itu, penangkisan efek penyakit atau parasit, bahkan kerentanan terhadap
penyakit itu sendiri dapat terungkap oleh adanya perubahan struktur atau
kekhasan struktur inang. Keberhasilan atau kegagalan prkatek hortikultura
seperti pemangkasan, penempelan, propagasi regenerasi dan perkembangan akar
dan tunas baru akan lebih berguna jika sifat struktur yang melandasi semua
peristiwa itu dipahami dengan benar (Hidayat, 1995: 3).
Sistem jaringan dasar terdiri atas semua jaringan, selain dari sistem dermis
dan vaskular. Parenkim merupakan salah satu jaringan dasar yang paling umum.
Beberapa parenkim mengalami modifikasi sebagai jaringan pendukung yang
terdiri atas sel-sel berdinding tebal yang disebut kolenkim. Seringkali sistem
dasar tersebut terdiri atas elemen-elemen mekanik yang sangat khusus dan
membentuk jaringan sklerenkim atau terdispersi sebagai sel-sel sklerenkim
individual (Zulkarnain, 2011: 18).
Epidermis merupakan lapisan sel terluar dari daun, bagian bunga, buah dan
biji, serta bagian dari batang dan akar sebelum menjalani penebalan sekunder.
Menurut fungsi dan bentuknya, sel-sel epidermis tidaklah sama. Selain dari sel
epidermis yang umum, juga dijumpai banyak macam rambut, sel pengawal
stomata, serta sel spesifik lainnya. Akan tetapi dari segi topografi dan sampai
tingkat tertentu secara ontogeni, epidermis merupakan jaringan yang seragam.
Epidermis biasanya terdapat diseluruh kehidupan organ-organ tumbuhan yang
tidak mengalami penebalan sekunder. Pada sekelompok kecil tumbuhan seperti
pada tumbuhan monokotil berumur panjang dan tidak mengalami penebalan
sekunder, epidermis digantikan oleh jaringan gabus ketika organ itu menjadi tua.
Lamanya epidermis didalam organ tumbuhan dengan pertumbuhan sekunder
tidak sama. Dalam batang dan akar, biasanya epidermis pada tahun pertama
digantikan oleh epiderm, tetapi pada jenis pohon tertentu misalnya Acar
striatum, periderm berkembang baru beberapa tahun setelah pertumbuhan
3

sekunder organnya. Pada hal seperti di atas, sel epidermis terus menerus
membelah secara antiklinal dan mengalami perluasan secara tangensial (Fahn,
1995: 254).
Dapat dikemukakan bahwa sel-sel epidermis yang memang berasal dari
meristem primer, dalam pembentukan jaringannya itu tentunya akan merupakan
jaringan primer. Menurut para ahli, epidermis ini biasanya tersusun dari satu
lapisan sel saja dan pada irisan permukaan sel-selnya tampak berbentuk macam-
macam, seperti misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk atau
menampakkan bentuk lainnya. Letak dari sel-sel epidermis kenyataannya adalah
demikian rapat sehingga karenanya di antara sel-selnya tidak terdapat ruangan-
ruangan antarsel. Kenyataan bahwa adanya protoplas yang walaupun hanya
sedikit yang melekat pada dinding selnya, menandakan sel-sel epidermis itu
masih hidup. Vakuolanya yang besar terdapat dibagian tengah, berisi cairan sel
yang berwarna atau dapat pula tidak berwarna. Adapun cairan yang berwarna ini
karena antosian, jelasnya warna antosian ini menutupi warna hijau jaringan
dibawahnya. Dengan demikian pada daun misalnya tidak akan berwarna hijau,
melainkan akan berwarna lain seperti ungu, merah darah, kuning, dan lain
sebagainya (Sutrian, 1992 :132).
Tumbuhan, hewan, manusia dan bakteri tersusun dari sel. Jadi sel adalah
unit structural terkecil pada makhluk hidup. Sel tersusun dari air dan komponen
kimia utama, misalnya: protein, karbohidrat, lemak dan asam nukleat. Sel
tersebut tersusun atas dua lapis membran fosfolifid yang bersifat selektif
permeable, sehingga hanya molekul tertentu saja dapat masuk dan keluar sel/ Sel
mengandung sitoplasma (plasma didalam sel) dan nukleoplasma (plasma
didalam inti sel). Sitoplasma ini berisi sitosol (cairan plasma) dan organel-
organel (organ- organ sel), sedangkan nulkeoplasma berisi cairan inti sel, anak
inti (nucleolus) dan kromosom yang mengandung DNA. DNA merupakan
molekul pembawa informasi genetika yang pada saat tertentu terpaketkan
menjadi kromosom (Sartiningsih, 2015: 3).
4

Sitoplasma merupakan komponen yang bersifat cair. Secara kimia struktur


sitoplasma sangat kompleks, dan mempunyai bahan dasar air, 85 - 90% tersusun
oleh air. Meskipun demikian sitoplasma merupakan substansi yang kental,
tembus cahaya. Dengan menggunakan mikroskop elektron tampak adanya
diferensiasi sistem selaput di dalam sitoplasma. Sistem selaput yang dimaksud
adalah Plasmalema (membran plasma, ektoplas) merupakan unit selaput yang
membatasi sitoplasma dengan dinding sel, Tonoplas unit selaput yang
berbatasan dengan vakuola, Polioplasma unit selaput yang terletak di antara
plasmalema dan tonoplas (Elisa, 2010: 2).
Inti dalam keadaan tidak membelah bentuknya bulat atau jorong, kadang-
kadang berlekuk. Inti dikelilingi selaput inti, dan di dalamnya terdapat suatu
matriks yang disebut nukleoplasma, di dalam matriks tersebut terdapat satu anak
inti (nukleolus) atau lebih, dan rangka inti yang tersusun dan kromatin (Elisa,
2010: 2-3).
Plastida adalah organel yang karakteristik pada sel tumbuhan, mempunyai
struktur dan fungsi yang khusus, berasal dan proplastida. Plastida mempunyai
bentuk, ukuran serta pigmentasi yang bermacam-macam. Tumbuhan tingkat
rendah mungkin tidak dijumpai adanya plastida, atau hanya terdapat 1 atau 2
plastida di dalam satu sel. Secara ultrastruktural plastida mempunyai selaput di
bagian terluar, kadang-kadang mempunyai membran rangkap (Elisa, 2010: 3).
Menurut Elisa, (2010: 2-3) berdasarkan ada tidaknya zat wama di dalamnya,
plastida dibedakan menjadi:
1. Plastida berwarna (kioroplas dan kromoplas)
2. Plastida tidak berwarna (leukoplas). Leukoplas mempunyai fungsi :
a. menghasilkan amilum (zat terpung) yang disebut amiloplas,
b. membentuk protein (proteinoplas)
c. Membentuk substansi yang berlemak (elaioplas)
Protoplas dinyatakan bahwa suatu sel dikatakan mati apabila di dalam
lumen sel itu tidak terkandung lagi protoplas. Di dalam protoplas terkandung
protoplasma yaitu zat-zat kehidupan. Dengan demikian maka benda-benda
dalam sel yang nonprotoplasmik berarti benda-benda yang tanpa zat-zat
5

kehidupan, yang artinya pula benda mati. Benda-benda mati yang terdapat dalam
sel-sel tumbuhan disebut benda ergas (Ergastic Substances). Dalam buku-
buku lain benda ergas tersebut dinamakan Inclusion of the protoplas dan pada
buku lainnya sering disebut Non-protoplasmic components atau Non
protoplasmic materials. Di dalam sel tumbuh-tumbuhan terdapat banyak benda-
benda yang nonprotoplasmik, yang biasanya berada dalam vakuola, dalam
plasma sel dan kerap kali pula dalam plastid. Benda yang nonprotoplasmik ini
terdiri dari substansi (bahan) organik atau anorganik, dapat bersifat cair ataupun
padat. Menurut para ahli botani, benda-benda yang nonprotoplasmik itu
umumnya merupakan makanan cadangan dan sering diketemukan dalam jumlah
besar pada tempat-tempat penimbunan cadangan makanan cadangan, seperti
misalnya pada akar, umbi, buah, biji dan lain-lain. Di atas disebutkan bahwa
benda-benda yang nonprotoplasmik biasanya terdapat dalam vakuola, yaitu
rongga-rongga dalam sitoplasma yang berbatasan dengan tonoplasma. Vakuola
ini mempunyai kegunaan bagi pengaturan tegangan turgor, bagi kepentingan
kegiatan metabolisme, dan sebagai tempat penimbunan bahan-bahan yang tidak
digunakan lagi, yang merupakan hasil akhir dari metabolisme. Di antara benda-
benda ergas tersebut ada yang telah diketahui fungsinya, ada pula yang belum
diketahui (Sartiningsih, 2015: 1).
Komponen non protoplasmik, berdasarkan sifatnya dapat dibedakan
menjadi cair dan padat. Komponen non protoplasmik (benda ergastik) yang
bersifat cair itu terdapat di dalam vakuola dan komponen non protoplasmik
(benda ergastik) yang lazimnya berbentuk butiran padat Kristal Ca-oksalat,
Kristal an-organik, butir amilum dan aleuron (Sartiningsih, 2015: 9).
Menurut Elisa, (2010: 4) Substansi ergastk yang bersifat padat yaitu sebagai
berikut:
1. kristal kalsiurn oksalat bentuknya bermacam-macam
a. Kristal tunggal besar, terdapat pada daun jeruk (Citrus sp.)
b. Kristal pasir, merupakan kristal kecil-kecil terdapat pada tangkai daun
bayarn (Amaranthus sp.)
c. Kristal lidi (jarum), pada batang lidah buaya (Aloe sp.)
6

d. Kristal bintang (roset) terdapat pada tangkai daun Begonia.


2. kristal kersik, terdapat pada sel epidermis tumbuhan Poaceae, Cyperaceae dan
Orchidaceae.
3. Butir aleuron, merupakan badan-badan protein yang terdapat di dalam sel
endosperm, misalnya pada jarak (Ricinus communis), jagung (Zea mays), dan
padi (Oriza sativa). Pada biji jagung lapisan aleuron terdapat pada sel-sel
bagian terluar endosperm dan merupakan lapisan aleuron.

Gambar 1: Substansi ergastik pada sel tumbuhan


Sumber: (Elisa, 2010: 4).
Menurut Elisa, (2010: 4) Substansi ergastk yang bersifat cair yaitu sebagai
berikut:
1. Cairan sel, terdapat di dalam vakuola sel. Zat-zat yang terdapat di dalam
cairan sel adalah:
a. Asam organik (asam malat, asam oksalat)
b. Karbohidrat, dapat berupa monosakarida, disakarida ataupun polisakarida
c. Amida
d. Protein
e. Alkaloid
f. Zat penyamak
g. Zat warna (antosiarnn)
2. Lemak dan minyak lemak, misalnya poada kacang tanah (Arachis hypogea)
dan kelapa (Cocos nucfera)
3. Minyak atsiri, di dalam sel tumbuhan minyak atsiri berupa tetestetes misalnya
pada akar rimpang jahe, pada kulit buah jeruk (Citrus sp.) dan daun sirih
(Piper belle).
7

4. Damar, terdapat pada tumbuhan Coniferophyta, misalnya Pinus.

Gambar 2: Berbagai macam bentuk kristal kalsium oksalat


Sumber: (Elisa, 2010: 4).
Amilum (Butir-butir Amilum) terdapat didalam plastida yang berupa
karbohidrat/ polisakarida berbentuk tepung. Plastida dengan bentuk tepung
disebut amiloplas yang dibedakan menjadi Leukoamiloplas yang berwarna putih
menghasilkan tepung cadangan makanan dan Kloroamiloplas yang berwarna
hijau menghasilkan tepung asimilasi (Sartiningsih, 2015: 4).
Menurut Sartiningsih, (2015: 4) titik initial (permulaan) terbentuknya
amilum disebut hilus (hilum). Di dalam amilum terdapat lamela-lamela yang
mengelilingi hilus. Berdasarkan letak hilus, butir amilum dibedakan menjadi :
1. Amilum Konsentris, jika hilus berada ditengah.
2. Amilum Eksentris, jika hilus berada ditepi.
Menurut Sartiningsih, (2015: 4) banyaknya hilus dalam amilum, amilum
dibedakan menjadi:
1. Butir amilum tunggal: pada sebutir amilum terdapat sebuah hilus.
2. Butir amilum setengah majemuk: terdapat dua hilus yang masing-masing
dikelilingi oleh lamella, tetapi kemudian terbentuk lagi lamella yang
mengelilingi seluruhnya.
3. Butir amilum majemuk : tiap butir mempunyai lebih dari satu hilus dan hilus-
hilus ini dikelilingi oleh lamella masing-masing.
Ditempat-tempat penyimpanan makanan cadangan, misalnya biji, selain
amilum terdapat pula antara lain zat putih telur. Pada saat biji masih
8

muda vakuola banyak dan kecil-kecil, menjelang biji menjadi tua vakuola
menjadi satu dan besar, setelah biji mengaring air dalam vakuola menjadi
semakin sedikit sehingga konsentrasi zat-zat yang terlarut didalamnya yang
berupa putih telur, garam dan lemak semakin besar. Karena peristiwa
pengeringan ini maka vakuola tadi pecah menjadi beberapa vakuola kecil-kecil
yang berisi zat-zat tersebut. Kemudian zat putih telur, garam-garam dan lemak
itu mengkristal. Vakuola yang berisi kristal ini disebut aleuron (Sartiningsih,
2015: 5).

C. Alat dan bahan


1. Alat
a. Alat tulis 1 unit
9

b. Gelas kimia 1 unit


c. Kertas HVS 4 lembar
d. Mikroskop 1 unit
e. Kaca preparat 1 unit
f. Penutup kaca preparat 1 unit
g. Pipet tetes 1 unit
h. Silet 1 unit
2. Bahan
a. Aquades
b. Bayam (Amaranthus sp)
c. Bawang merah (Allium cepa)
d. Hydrila verticillata
e. Kentang (Solanum tuberosum)
f. Tepung beras (Oryza sativa)
g. Tepung ketan (Oryza sativa var.glutinosa)
h. Singkong (Manihot utilissima)

D. Prosedur kerja
1. Kentang (Solanum tuberosum)
a. Bagian daging umbi kentang (Solanum tuberosum) diserut menggunakan
silet
b. Umbi kentang (Solanum tuberosum) yang telah diserut ditempelkan pada
kaca objek, lalu ditetesi dengan aquadest dan ditutup dengan kaca penutup
c. Objek di amati dengan perbesaran rendah, dilanjutkan dengan perbesaran
kuat
d. Letak hilusnya diperhatikan dan dicari butir-butir amilum
e. Beberapa butir amilum dengan perbesaran 100 kali pada mikroskop
digambar
2. Bawang merah (Allium cepa)
a. Selaput bawang merah di ambil dengan menggunakan silet
10

b. Selaput bawang merah (Allium cepa) di letakkan pada kaca objek, lalu
ditetesi dengan aquades dan ditutup dengan kaca penutup
c. Objek di amati dengan perbesaran rendah, dilanjutkan dengan perbesaran
kuat
d. Bagian yang terlihat diperhatikan
e. Dengan perbesaran 100 kali pada mikroskop, beberapa butir amilum
digambar
3. Tepung beras (Oryza sativa)
a. Butir-butir amilum dari tepung beras (Oryza sativa) di ambil, lalu
diletakkan pada kaca objek
b. Objek ditetesi dengan aquades, lalu ditutupi dengan kaca penutup
c. Objek diamati pada perbesaran rendah, lalu dengan perbesaran kuat
d. Pada perbesaran 100 kali, bayangan objek yang terlihat digambar
4. Tepung ketan (Oryza sativa var. glutinosa)
a. Butir-butir amilum pada beras ketan diambil, lalu diletakkan pada kaca
objek
b. Objek ditetesi aquades, lalu ditutup dengan kaca penutup
c. Objek diamati dengan perbesaran rendah, lalu dengan perbesaran kuat
5. Singkong (Manihot utilissima)
a. Penampang melintang empelur singkong (Manihot utilissima) dibuat
irisan tipis
b. Irisan tersebut diletakkan pada kaca objek, lalu ditetesi dengan aquades
c. Objek diamati dengan perbesaran lemah, lalu dengan perbesaran kuat
d. Pada perbesaran 100 kali, bayangan objek yang terlihat digambar
6. Daun Hydrilla verticillata
a. Sehelai daun Hydrilla verticillata diambil
b. Daun Hydrilla verticillata diletakkan pada kaca objek, lalu ditetesi dengan
aquades dan ditutup dengan kaca penutup
c. Objek diamati dengan perbesaran rendah, lalu dengan perbesaran kuat
d. Aliran sitoplasma yang mengikuti gerakan kloroplas diamati, terutama
pada sel-sel yang terletak dekat ibu tulang daun
11