Anda di halaman 1dari 37

Uji Plastisitas Lempung

plastisitas lempung
Karakteristik lempung jika dicampur air dengan proporsi yang sesuai dan homogen akan
menjadi massa yang koheren, mudah dicetak dan dibentuk dan dapat mempertahankan
bentuknya walau stress telah dihilangkan

Makin plastis suatu lempung, makin banyak toleransinya terhadap air tanpa menjadi fluid

Urutan plastisitas: monmorilonit>ball clay>fire clay> china clay

mineral-mineral yang kisinya mampu mengembang memperlihatkan perilaku yang


berbeda dengan yang tidak mengembang

Contohnya: kisi monmorilonit dapat ditembus air, konsekuensinya untuk membuat adonan
dari monmorilonit akan memerlukan air lebih banyak ketimbang dari kaolinit,

Harus diingat bahwa lempung yang terbentuk di alam selalu mengandung mineral asesoris
yang non plastis yang akan mengurangi palstisitas keseluruhan
UJI KEPLASTISAN

Tujuan :
mengetahui sifat keplastisan lempung/tanah sehubungan
dengan kadar air yang memungkinkan dapat dibentuk jika
plastis dan sukar dibentuk jika kurang plastis.

Kadar Air :
Perbandingan antara berat massa air dalam suatu massa
tanah terhadap berat massa partikel padatnya, satuannya
dinyatakan dalam persen
UJI PLASTISITAS METODE SEDERHANA

Prosedur :
timbang 100 g sampel dalam keadaan kering, tempatkan ke dalam
mangkok aluminium

tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diremas-remas hingga rata

lanjutkan sampai sampel tidak lengket di tangan, tetapi rajah tangan


membekas pada sampel apabila ditekan

buat gulungan sampel di atas kaca berbentuk silinder ( 1,0 cm) dengan
panjang 10 cm

lengkungkan batang silinder membentuk lingkaran, hentikan saat timbul


retakan

tingkat keplastisan ditentukan berdasarkan pengamatan berikut ini :


plastis (270o 360o)

kurang plastis (180o 270o)

sedikit plastis (90o 180o)

tidak plastis ( < 90o)


Limit Atterberg
Albert Atterberg adalah ahli tanah dari Swedia yang
mendefinisikan 7 limit (harga batas) untuk
mengklasifikasikan tanah berbutir halus/lempung.

Dari ke tujuh harga batas tersebut yang sering diaplikasikan


hanya 2 yaitu liquid limits ( Batas cair) dan plastic limits
(batas plastis), sedangkan shrinkage limit (batas susut) hanya
kadang-kadang saja digunakan

limits Atterberg didasarkan pada kadar air/kelembaban


tanah.
Indeks Plastisitas
Kadar air adalah perbandingan antara berat massa air dalam suatu massa tanah
terhadap berat massa partikel padatnya, satuannya dinyatakan dalam persen.

Batas plastis (plastic limit /PL) adalah kadar air pada saat tanah berubah dari semi
solid menjadi plastis (fleksibel) atau batas kadar air terendah ketika tanah masih
pada kondisi plastis

Batas (cair liquid limit/LL) adalah kadar air pada saat kondisi tanah berubah dari
plastis menjadi cairan yang kental.

shrinkage limit adalah kadar air pada saat volume tanah tidak berubah walau
kelembabannya berkurang.

Indeks plastisitas Atterberg adalah:


Selisih antara batas cair tanah dan batas plastis tanah
batas plastis, batas cair

Batas plastis dihitung berdasarkan persen berat air terhadap berat tanah kering pada benda
uji. Pada cara uji ini material tanah diambil untuk dijadikan benda uji kemudian dicampur
dengan air suling atau air mineral hingga menjadi cukup plastis untuk digiling atau dibentuk
bulat panjang seperti cacing hingga mencapai diameter 3 mm, diambil untuk diukur kadar
airnya. Kadar air yang dihasilkan dari pengujian tersebut merupakan batas plastis tanah
tersebut.
PROSEDUR METODE ATTERBERG
keringkan 250 g sampel, tumbuk dalam lumpang porselen sampai seluruhnya lolos ayakan 0,50
mm, masukkan ke dalam wadah dan tambahkan air secukupnya dan diulet

ambil 10 g, buat bentuk silinder kecil ( 3 mm) sampai timbul retak-retak

simpan dalam cawan penguap, timbang beratnya dan keringkan sampai suhu
110 C, timbang lagi sampai berat tetap

penghitungan kadar air plastic limit (PL)

tambahkan air pada sisa sampel di atas, ulet sampai rata, tempatkan dalam alat Atterberg dan
ratakan permukaannya, gores tengah-tengahnya dengan alat penggores Gambar B)

putar engkol pada alat Atterberg dengan kecepatan 155 130 rpm, sampai masa yang digores
tadi berimpit kembali sepanjang 13 mm, catat jumlah ketukannya

ambil 5 g masa yang telah berimpit tersebut, keringkan dalam oven pengering pada suhu 105
oC, timbang sampai berat tetap

hitung kadar airnya

ulangi pengujian di atas paling sedikit 3 kali, dengan kadar air yang berbeda dan jumlah ketukan
yang berbeda (di atas dan di bawah 25 ketukan)

plot pada grafik semi-log hubungan antara jumlah ketukan dan kadar air (absis jumlah
ketukan dan ordinat kadar air) akan diperoleh suatu garis lurus
Batas cair (liquid limit - LL) adalah kadar air yang diperoleh dari perpotongan garis
lurus tersebut dengan ordinat pada ketukan ke 25 pada grafik

Angka keplastisan (plasticity index - PI) adalah selisih kadar air antara batas cair
dengan batas plastis PI = LL PL

Sifat-sifat lempung/tanah berdasarkan angka keplastisan menurut SII. 1695-85


adalah sebagai berikut :

ANGKA KEPLASTISAN SIFAT LEMPUNG/TANAH


(%)
< 10 tidak plastis
10 20 agak plastis
20 30 plastis
30 50 sangat plastis
> 50 sangat lengket

Casagrande (1932) telah membuat suatu diagram


Hubungan antara plasticity index dengan plastic limit untuk mengidentifikasi
lempung, seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Diagram hubungan antara
plasticity index dengan plastic limit utk
mengidentifikasi jenis lempung
(Casagrande, 1932)
5.5 Atterberg Limit of Clay Minerals
Na-montmorillonite
Thicker double
layer
LL=710
Ca-montmorillonite
Thinner double
layer
LL=510
The thickness of double
layer increases with
decreasing cation
valence.

Lambe and Whitman, 1979


16
50

40

30

20

10
Plasticity and Stickiness
plasticity stickiness
kaolinite Low Low

smectite High High


mica Low Low
vermiculite High High
chlorite Low Low
amorphous High Low

oxidic Low Low


Casagrande cup
Metode Pfefferkorn

Metode pfefferkorn adalah pengukuran


plastisitas berdasarkan pada prinsip impact
deformation.

Sampel berbentuk silinder dengan


diameter D = 33 mm, panjang awal h0=40
mm, dibentuk secara manual ataupun
dengan extruder, dideformasi
menggunakan piringan (berat= 1,2 kg) yang
jatuh bebas (lihat gambar)

Ratio h0 /h1 vs kadar air diplot pada grafik

Metode pfefferkorn cocok digunakan


untuk keramik silikat yang lunak namun
tidak cocok untuk bodi yang kaku pada
industri keramik advance
METODE PFEFFERKORN
Prosedur :

timbang 300 g sampel, haluskan dengan mortar, saring sampai


seluruhnya lolos ayakan 0,50 mm, masukkan ke dalam wadah

tambahkan air sedikit demi sedikit dan diulet sampai rata, buat benda uji
menggunakan metal mould dengan D= 33 mm dan tinggi 40 mm (h0)

simpan benda uji di atas plat kuningan, kemudian lepaskan alat penekan
sampai menekan benda uji

tentukan perubahan bentuk (deformasi) benda uji berdasarkan skala


pada alat Pfefferkorn (h1)

timbang benda uji


keringkan pada suhu 105 C, timbang sampai berat tetap dan tentukan
kadar airnya

ulangi pekerjaan di atas 3 kali dengan kadar air yang berbeda

Angka Pfefferkorn (a) adalah perbandingan antara tinggi awal silinder


tanah dibagi tinggi silinder tanah setelah ditimpa alat penekan :
a = h0 : h1

Hubungan angka Pfefferkorn dan kadar air pada masing-masing


pengujian di atas diplot pada kertas grafik (absis angka Pfefferkorn dan
ordinat kadar air), akan didapatkan suatu kurva.

Titik perpotongan antara sumbu absis a = 3,3 dengan kurva tersebut


adalah harga kadar air yang merupakan angka keplastisan menurut
Pfefferkorn.

The Pfefferkorn method determines the amount of water required to


achieve a 30% contraction in relation to the initial height of a test body
under the action of a standard mass (Pfefferkorn, 1924).
35 Angka Pfefferkorn :
MASA PUTAR
30
a < 2,5
PROSES TANAH LUNAK
25 massa tanah plastis sukar
PROSES TANAH dibentuk, kadar air sedikit
KERAS

2,5<a < 4,0


massa tanah plastis yang
11 terbaik untuk dibentuk

a> 4,0
1
1,2 2,5 3,3 4
massa tanah plastis mulai
lengket pada tangan,
BILANGAN PFEFFERKORN mempunyai kadar air tinggi.

Gambar 6. Diagram Pfefferkorn


PENENTUAN KADAR PENYERAPAN KELEMBABAN
(MOISTURE ABSORPTION)
Tujuan : mengetahui jenis mineral lempung

Prosedur :
haluskan sampel uji 5 g, saring lolos ayakan 0,210 mm

timbang botol timbang kosong, masukkan ke dalam esikator


yang berisi larutan NaCl jenuh, diamkan selama 24 jam

keluarkan botol timbang dari esikator dengan cepat kemudian ditimbang kembali,
hitung penyerapan airnya

timbang sampel uji secara tepat di antara 1,8 2,0 g di dalam botol timbang di atas

masukkan ke dalam esikator yang berisi NaCl jenuh, diamkan selama 24 jam,
keluarkan dari esikator dan timbang kembali

masukkan ke dalam oven pengering pada suhu 110 5 C selama 24 jam

masukkan ke dalam esikator yang berisi silika gel, setelah dingin timbang
beratnya
hitung % moisture absorption :

berat air yang diabsorbir


MA x 100%
berat conto ker ing

-berat air yang diabsorbir = (berat botol + sampel basah) (berat botol + sampel kering)
(berat air yang diabsorbir gelas)

- berat sampel kering = (berat botol + sampel kering) (berat botol kosong)

Dari % MA tersebut dapat ditentukan jenis mineral berdasarkan tabel MA metode killing.
Lakukan pekerjaan ini dua
kali dan ambil rata-ratanya.
MOISTURE ABSORPTION (MA) OF CLAY MINERAL IN DIFFERENT GEOLOGY
FORMATION

MA range Clay mineral Formation


0,8-2,8 Well ordered kaolinite China clay, etc.
2,1-6,5 Well ordered to disordered South Devon ball clay
kaolinite
5,2-6,9 Disordered kaolinite North Devon and Dorset ball clay
4,1-6,8 Disordered kaolinite Coal measure fire clay
4,5-8,1 Disordered kaolinite Coal measure shale and clay
4,5-9,7 Disordered kaolinite Etrusia marl
7,3-13,3 Disordered kaolinite to illite Weald clay

8,8-12,7 Illite Reading clay


8,8-12,9 Illite Lower gault
9,8-14,4 Illite Keuper marl
11,7-14,8 illite London caly
ANALISIS BESAR BUTIR

1.1 ANALISIS UKURAN BUTIR DENGAN AYAKAN STANDAR

Tujuan :mengetahui persentase fraksi-fraksi berukuran kerikil, pasir, lanau dan


lempung pada conto uji

Prosedur :
timbang conto 100 g, masukkan ke dalam gelas piala 1000 ml
tambahkan air secukupnya dan 10 ml larutan Na2CO3 10%
panaskan sampai mendidih sambil diaduk sampai butiran lempungnya terlepas
(tidak menggumpal lagi)
saring dengan ayakan standar ( 0,063 mm) secara basah, sisa conto di atas
ayakan dicuci di bawah kran sampai air cucian bersih
pindahkan sisa conto tersebut ke dalam mangkok aluminium dan keringkan dalam
oven pada suhu 105 oC
saring dengan ayakan 2,0 mm, 1,0 mm, dan 0,212 mm
timbang masing-masing fraksi dan hitung presentasenya
Hasil analisis butir lempung dengan ayakan standar

SIFAT-SIFAT PEMERIAN
1. Analisis besar butir :
> 2,000 mm
2,000 1,000 mm
1,000 0,212 mm
0,212 0,063 mm
< 0,063 mm
2. Komposisi :
kerikil
pasir
lanau
lempung
3. Warna kering :
Terdiri dari batuan dengan komposisi sebagai berikut :
(hasil analisis megaskopis/mikroskopis binokuler)

UKURAN (mm) BATUAN/ JUMLAH KETERANGAN


MINERAL Max
(mm)
> 2,000

2,000 - 1,000

1,000 - 0,212

0,212 - 0,063

< 0,063
1.2 Analisis ukuran butir dengan pengendapan metode
Andreasen

Tujuan : mengetahui persentase fraksi-fraksi berukuran pasir, lanau dan lempung pada conto uji
secara lebih teliti, khususnya untuk fraksi ukuran butir < 0,212 mm
Prosedur :
timbang conto 10 g secara tepat, masukkan ke dalam gelas piala
tambahkan air suling secukupnya dan 5 ml larutan Na2CO3 1N serta 2 ml larutan NaOH 1N
panaskan selama 15 menit sambil diaduk
saring dengan ayakan 0,212 mm, filtratnya ditampung dalam gelas piala 500 ml
conto yang tertinggal di atas ayakan dikeringkan di dalam oven pada suhu 105 oC dan timbang
beratnya
pindahkan filtrat ke dalam alat Andreasen dan tambahkan air suling sampai tanda batas (430 cc
atau 550 cc)
kocok silinder sampai campuran merata, biarkan beberapa saat, kocok lagi 2 menit, tempatkan
di meja yang datar, jauh dari getaran
Hisap dengan cepat 10 ml suspensi dengan pipet melalui kran jalan tiga, alirkan ke dalam cawan
penguap yang telah diketahui beratnya
keringkan cawan dan isinya pada suhu 105 oC, timbang beratnya
Lakukan kembali pemipetan suspensi selang beberapa saat untuk interval waktu yang berbeda-
beda: contohnya: 3 menit, 30 menit, 1 jam , 2 jam, 3 jam ,5 jam , 8 jam, 24 jam, 46 jam dst
Setiap 10 ml suspensi yang dipipet dipindahkan ke dalam cawan yang diketahui beratnya,
kemudian dikeringkan dan ditimbang beratnya kemudian hitung masing-masing % berat nya
terhadap sampel asal.
ukuran butir dihitung berdasarkan Hukum Stoke: berdasarkan kecepatan jatuh dari partikel : h/t.
Setiap sample yang dipipet memiliki ukuran butir tertentu sesuai dengan kecepatan jatuhnya,
sedangkan butiran yang kasar akan jatuh ke dasar tabung.
18 s q 4 sq
t 1,15x10
978 (2,6 1) d2 d2

dimana :
t = waktu pengendapan dalam detik
q = viskositas air pada suhu percobaan
s = jarak kedalaman pipet penghisap
g = percepatan gravitasi, di Bandung 978
cm/detik2
1 = densitas zat yang didispersi
(lempung = 2,6)
2 = densitas zat pendispensi (air = 1)
d = diameter butir
Viskositas (q) sangat tergantung dari suhu air, berikut ini harga variasi viskositas air
pada beberapa suhu kamar

SUHU VISKOSITAS
oC (poise)
20 0,010000
21 0,009810
22 0,009579
23 0,009358
24 0,009142
25 0,008937
26 0,008737
27 0,008545
28 0,008360
29 0,008180
30 0,008007
Gambar 1 Keterangan :
Alat Andreasen
Pada alat ini terdapat sebuah pipet 10 ml yang dilebur dalam
sumbat sebagai penutup silinder. Letak ujung bawah pipet
sekitar 20-30 mm di atas dasar silinder.

silinder diberi pembagian skala dalam mm, dengan titik 0


sama dengan ujung bawah pipa pipet.

Pipet terdiri dari:


- pipet hisap (masuk ke dalam silinder),
- kran jalan 3,
- cawan 10 ml.

Kran jalan 3 menghubungkan bagian dalam silinder dengan


pipet atau menghubungkan pipet dengan luar silinder,
sehingga memungkinkan cairan dipipoet dan isi pipet dapat
ditampung dalam cawan.

Sebelum alat dipakai perlu dilakukan :


- isi cairan sampai pada skala 200 mm
- turunkan permukaan cairan, tiap penghisapan 10 ml
- pada pengetesan ini dapat digunakan air.
Ukuran butir lempung mempengaruhi
perilakunya pada proses teknologi dan juga
mempengaruhi sifat produk

DIAGRAM WINKLER

100% < 0,002 mm

100%
100% >0,020 mm
0,002-0,20 mm

Keterangan : I. bata padat


II. bata berlubang
III. bata berongga dan genteng
IV. bata berdinding tipis dan berongga