Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Perawatan endodontik atau perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan
dengan mengangkat jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar,
kemudian diisi padat oleh bahan pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau
infeksi ulang. Tujuannya adalah untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang,
sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik. Perawatan saluran akar membutuhkan
ketelatenan sehingga seringkali membutuhkan lebih dari 1 kunjungan, bervariasi tergantung
kasusnya. Tahap penting dalam perawatan saluran akar gigi yang terinfeksi adalah preparasi,
sterilisasi dan pengisian. Preparasi saluran akar gigi akan menunjang proses sterilisasi dan
menghasilkan pengisian yang baik sehingga didapatkan hasil yang maksimal. Prinsip utama
pembersihan saluran akar yaitu alat harus mencapai seluruh dinding saluran akar dan melepaskan
debris yang kemudian dikeluarkan dari saluran akar oleh larutan irigasi. Pada tahap preparasi
diperlukan bahan irigasi saluran akar yang bertujuan untuk menghilangkan jaringan nekrotik,
tumpukan serpihan dentin dan membasahi saluran akar gigi sehingga mempermudah dalam
pelaksanaan preparasi serta pengurangan jumlah mikroorganisme di dalam saluran akar
kemudian sisa bakteri dimatikan dengan medikamen intrakanal.

Saraf sensori pada pulpa gigi terdiri dari serabut A dan serabut C. Serabut A
merupakan serabut bermielin sedangkan serabut C merupakan serabut tidak bermielin. Hanya
ada dua jenis serabut saraf yaitu A dan C yang secara utama menginervasi jaringan pulpa dan
bersifat sebagai reseptor polimodal (Smith, 2012). Serabut saraf C berhubungan erat dengan
mikrosirkulasi jaringan pulpa karena dalam hal ini serabut saraf C berperan sebagai serabut saraf
parasimpatetik yang mengatur vasodilatasi dan permeabilitas vaskularisasi pulpa. Pulpa gigi
diinervasi oleh serabut saraf sensoris yang mengandung neuropeptid, yang dilepaskan serabut
saraf aferen dan berkaitan dengan inflamasi neurogenik dan penyembuhan luka.
PEMBAHASAN

SARAF INTRADENTAL

Selain pembuluh darah dan jaringan limfe, jaringan saraf masuk juga ke pulpa melalui
foramen apikal. Persarafan pulpa berasal dari n. trigeminus selain dari saraf otonom. N.
parasimpatikus berasal dari n. fasialis (bagian intermedia), n. glosofaringeus, dan saraf bagian
leher

Saraf sensori pada pulpa gigi terdiri dari serabut A dan serabut C. Serabut A
merupakan serabut bermielin sedangkan serabut C merupakan serabut tidak bermielin. Serabut
saraf A mempunyai kecepatan konduksi 2-30 m/s. Serabut saraf ini mempunyai diameter 1-5
m. Serabut ini merupakan serabut saraf aferen primer yang bermielin. Serabut saraf C
mempunyai kecepatan konduksi 0,5-2 m/s. Serabut saraf C mempunyai diameter 0,3-1 m.
Serabut saraf ini merupakan serabut saraf aferen primer yang tidak bermielin. Kedua serabut
saraf tersebut yang memberikan informasi adanya nyeri. Sebagian besar saraf sensorik
mempunyai nociseptor berujung bebas yang ketika menerima stimulasi fisiologis yang melebihi
batas ambang dapat menghasilkan persepsi nyeri yang sulit bagi pasien melokalisasinya. Namun
setelah peradangan menyebar pada ligament periodontal, saraf A ikut serta sebagai reseptor.
Hal ini menyebabkan lokalisasi nyeri lebih mudah diprediksi dengan rangsangan mekanik seperti
perkusi. Serabut saraf A menghasilkan sensasi yang tajam sedangkan serabut saraf C
menghasilkan sensasi nyeri yang tumpul. Signal nyeri tajam dijalarkan melalui saraf perifer ke
medula spinalis oleh serabut tipe A, sedangkan nyeri tumpul dijalarkan melalui saraf perifer ke
medula spinalis oleh serabut tipe C. Setelah memasuki medula spinalis, rasa nyeri berakhir pada
neuron di kornus dorsalis
Dua komponen penting dalam inflamasi pulpa adalah mikrosirkulasi dan saraf sensorik.
Hasil penelitian hitopatologis yang dilakukan Fearhead, Dahl dan Myor, Holland menunjukkan
bahwa saraf sensorik gigi terdiri dari serabut-serabut saraf tipe A- (bermielin) dan serabut-
serabut saraf tipe-C (tidak bermielin). Ujung saraf intradental yang merupakan ujung saraf bebas
terletak pada daerah batas dentin (inner dentin) dan pulpa, sehingga dengan lokasi ujung saraf
serta adanya cairan tubulus dentin menyebabkan ujung saraf intradental sangat ideal menerima
rangsang eksternal dan diteruskan ke susunan saraf pusat. Aktivasi saraf sensory di pulpa dapat
mempengaruhi peningkatan aliran darah dan permeabilitas vaskular. Eksitasi serabut saraf A
tidak berpengaruh dengan aliran darah, sedangkan aktivasi serabut saraf C mempengaruhi
peningkatan aliran darah. Inflamasi neurogenik dimediasi dari neuropeptid yang dilepaskan dari
saraf sensoris, seperti substansi P dan CGRP. Peptid ini bersifat vasoaktif yakni dapat
meningkatkan permeabilitas vaskuler. Mediator inflamasi menurunkan batas saraf sensoris.
Peningkatan aliran darah menyebabkan eksitasi pulpa dari kedua serabut saraf. Mediator
inflamasi seperti Prostaglandin E2 (PGE2), dan bradikinin juga dapat membangkitkan
neurosekresi CGRP. Neuropeptida ini menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah, maka terjadi inflamasi neurogenik. Mediator kimia bersifat endogen yang
mempunyai kaitan dengan rasa sakit karena inflamasi diantaranya histamin, bradikinin, 5 -
hydroxytryptamine, dan prostaglandin. Mediator ini meningkatkan kepekaan ujung saraf sensori
pada nyeri yang diakibatkan oleh mediator lain. Mediator neurogenik terlibat dalam respon pulpa
terhadap iritan dan seperti komponen-komponen imun, ini dapat mencetus keadaan patologi dan
juga respon penyembuhan.
MEKANISME NYERI

Proses nyeri merupakan pengalaman subjektif yang merupakan kejadian akibat elektrik
dan kimia yang bisa dikelompokkan menjadi 4 proses, yaitu transduksi, transmisi, modulasi, dan
persepsi. Secara singkat mekanisme nyeri dimulai dari nosiseptor oleh stimulus noxious pada
jaringan yang kemudian akan mengakibatkan perubahan stimulasi nosiseptor. Signal saraf
dihantarkan oleh potensial aksi yang merupakan perubahan cepat pada potensial membran yang
menyebar secara cepat di sepanjang membrane serabut saraf. Proses ini dinamakan aktivasi
reseptor. Selanjutnya potensial aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron saraf pusat yang
berhubungan dengan nyeri. Ketika diberi distimulus, nyeri lambat kronik dijalarkan ke medula
spinalis oleh serabut C. Sedangkan rasa nyeri yang tajam dijalarkan serabut A. Sewaktu
memasuki medulla spinalis dari radiks spinalis dorsalis, serabut rasa nyeri berakhir pada neuron
di kornus dorsalis. Tahap ini menimbulkan persepsi nyeri yang dimodulasi oleh signal yang
mempengaruhi proses tersebut. Proses terakhir adalah persepsi dimana pesan tersebut menuju
otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Teori mekanisme nyeri :

1. Teori Persarafan Langsung


Rasa nyeri yang timbul akibat stimulus langsung di salurkan ke system saraf pusat
, yakni medulla spinalis anterior oleh saraf sendoris .
2. Teori Persarafan Odontoblas
Stimulus masuk ke dalam porus email lalu diteruskan ke dentin ditangkap oleh
serat tomes kemudian rangsangan tersebut di teruskan ke sel saraf pada odontoblas dan
langsung menuju pulpa . Jaringan saraf pada pulpa dapat menerima rasa nyeri spesifik
seperti thermal , kimia , dan listrik . Ada 2 jenis saraf sensoris di dalam pulpa yaitu saraf
bermielin tipe A delta dan tipe C yang tidak bermyelin dengan jumlah minimal .
Kemudian stimulus dihantarkan melalui saraf sensorik dan langsung disalurkan ke ssp ,
yaitu medulla spinalis anterior . Kemudian system saraf pusat tersebut memerintahkan
neuron motoric untuk memunculkan gerak reflex dan reaksi nyeri pada gigi
3. Teori Hidrodinamik
Stimulus masuk ke dalam porus email lalu diteruska ke dentin shg cairan tubulus
dentin bergerak dan rangsangan diteruskan ke sel saraf pada odontoblas . Selanjutnya
sama sepertti persarafan odontoblas

Fast pain dicetuskan oleh reseptor tipe mekanis atau thermal (yaitu serabut saraf A-Delta)
sedangkan slow pain ( nyeri lambat) biasanya dicetuskan oleh serabut saraf C.Serabut saraf A-
Delta mempunyai karakteristik menghantarkan nyeri dengan cepat serta bermielinasi dan serabut
saraf C yang tidak bermielinasi, berukuran sangat kecil dan bersifat lambat dalam
menghantarkan nyeri.Serabut A mengirim sensasi yang tajam, terlokalisasi, dan jelas dalam
melokalisasi sumber nyeri dan mendeteksi intensitas nyeri. Serabut C menyampaikan impuls
yang tidak terlokalisasi (bersifat difusi) visceral dan terus menerus.
BAHAN PEREDA NYERI

Eugenol

Pereda nyeri yang biasanya digunakan pada saluran akar adalah eugenol. Eugenol telah
banyak digunakan dalam dunia kedokteran gigi. Eugenol adalah derivat fenol yang bersifat
sebagai antibakteri. Sifat antibakteria ini dapat menekan pertumbuhan bakteri sehingga
mengurangi inflamasi.Akan tetapi, eugenol dapat bersifat sitotoksin berupa alergenitas dan dapat
menyebabkan iritasi . Eugenol juga dapat menyebabkan terjadinya nekrosis sementum, tulang,
dan peradangan periapikal.Eugenol juga mempunyai efek antiinflamasi yaitu menghambat
siklooksigenase yang mensintesis enzim prostaglandin. Efek analgesik dari eugenol dengan
memblok ion kanal dan saraf aferen. Selain itu, eugenol juga memblok Na+ dan K+. Eugenol
juga dapat menghambat Ca2+ yang mengeluarkan neurotransmiter yang akan menghambat
PGE2.

Glukosteroid

Steroid yang sering digunakan adalah glukosteroid. Glukosteroid dapat mengurangi rasa
sakit dan inflamasi pulpa. Walaupun banyak kekurangan glukosteroid, namun pemakaian
glukosteroid dipercaya dapat menghambat dan mngurangi rasa nyeri. Steroid telah menunjukkan
bahwa material ini dapat menurunkan nyeri pasca perawatan walaupun dengan hasil campuran.
Steroid akan mengubah respon inflamasi dan vaskuler yang cukup menurunkan tingkatan nyeri.
Namun steroid tidak dapat menurunkan nyeri parah. Dalam aplikasi endodontik, kerja obat ini
tidak banyak hanya mempengaruhi nyeri yang derajatnya ringan. Glukosteroid memiliki
kelemahan yang mempunyai efek imunosupresan.

Anastesi

Pulpektomi adalah perawatan yang sangat menyakitkan bila dilakukan tanpa anastesi
yang tepat. Prosedur rutin yang harus dilakukan, yaitu dengan anastesi infiltrasi dan blok
regional. Akan tetapi kadang-kadang anastesi pulpa gagal karena masih ditemukan jaringan yang
masih sensitif dan masih terasa nyeri bila disentuh, walaupun injeksi telah dilakukan dengan
benar.Komplikasi ini lebih umum ditemukan pada gigi posterior rahang bawah daripada rahang
atas.
Sangat penting untuk mendapatkan anestesi yang memadai pada nyeri pulpa sebelum
melakukan preparasi, blok alveolar inferior atau blok mandibula yang biasanya digunakan secara
rutin dengan rasa baal jaringan lunak sekitar gigi yang akan dirawat tetapi tidak selalu
menganastesi jaringan pulpa yang terinflamasi.

Beberapa macam teknik anestesi tambahan, yaitu injeksi intraligamen, injeksi intraoseus,
infilterasi bukal mandibula, dan injeksi intrapulpa.

Injeksi intraligamen; Walton dan Abbot melalui penelitiannya, melaporkan keberhasilan


awal dan reinjeksi rata-rata adalah 71% dan 92% masing-masing dari injeksi tambahan ligamen
periodontal dalam mencapai anestesia pada prosedur saluran akar. Keberhasilan injeksi
intraligamen tergantung pada tekanan selama injeksi.

Injeksi intraosseous (IO) adalah cairan anestesi langsung diinjeksikan ke tulang


cancellous di sekitar gigi. Durasi anestesia untuk injeksi intraosseous dilaporkan berlangsung
sekitar 45 menit yang cukup untuk penyelesaian preparasi biomekanik pada pasien pulpitis
ireversibel.

Infilterasi bukal mandibula dengan Articaine; Hasse dkk, melaporkan tingkat


keberhasilan 88% ketika injeksi tambahan infiltrasi bukal mandibula dari articaine 4% dengan
1:100.000 epinefrin diberikan untuk meningkatkan keberhasilan IANB. Namun jika injeksi
infiltrasi bukal digunakan sebagai pelengkap IANB pada pasien diagnosis pulpitis ireversibel,
tingkat keberhasilan hanya 58% yang berarti lebih sedikit dari injeksi intraosseous dan
intraligamen.

Injeksi intra pulpa; anestesi intrapulpa sangat efektif jika diberikan di bawah tekanan
yang kuat, Onset anestesi intrapulpa langsung bekerja tetapi durasi kerjanya 15-20 menit saja.

Pada pasien dengan diagnosis pulpitis akut, kondisi anestesi lengkap bisa sangat sulit
dicapai. Mekanisme yang terjadi apabila injeksi diberikan adalah 1) serabut saraf aferen yang
berasal dari jaringan inflamasi dapat mengubah potensi istirahat dan menurunkan ambang batas
eksitabilitas, tidak hanya dibatasi secara lokal tetapi meluas ke seluruh saraf yang terlibat,
sehingga agen anastesi tidak dapat mampu mencegah transmisi impuls secara total; 2) pada
pasien dengan keadaan stres dan cemas telah terjadi penurunan ambang batas nyeri; 3)
persarafan aksesori, misalnya n.mylohyoideus dapat bercabang ke molar mandibula,
diperkirakan sekitar 20%. Bila anastesi tetap belum memadai, maka dapat ditambah salah satu
dari anastesi tambahan berikut, yaitu 1) ulangi injeksi dan menunggu 5-10 menit; 2) jika tidak
efektif, gabungkan anastesi blok regional dengan infiltrasi. Misalnya, pada blok mandibula yang
digabungkan dengan infiltrasi di bagian distal gigi, untuk memblok saraf tambahan dari nervus
mylohyoideus. Jarum ditempatkan dekat dengan korteks mandibula. Menggabungkan infiltrasi
gigi insisivus rahang atas dengan cairan anastesi deposit jauh ke dalam duktus nasopalatinus
untuk mencapai cabang saraf; 3) bila masih tidak efektif, dapat dilakukan injeksi ligamen
periodontal atau injeksi intraosseous; 4) sebagai langkah akhir terpaksa diberikan suntikan
langsung ke dalam pulpa atau injeksi intrapulpa. Prosedur ini harus dihindari pada pasien yang
sangat cemas. Hal ini dianjurkan untuk menunda perawatan dan menjadwal ulang pasien dengan
memberikan resep untuk premedikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Sobotta.2012.Atlas Anatomi Manusia. Bagian 1. Edisi 23. Jakarta.EGC.)

http://pdgimakassar.org/journal/file_jurnal/1612032211286.pdf

Tarigan, R., & Tarigan, G. (2013). Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: EGC.

Sarlani E. Diagnosis and treatment of orofacial pain. Braz JOral Sci, 2003

Tamsuri A. Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta: EGC, 2004

Meilala L. Nyeri orofasial, mekanisme dan farmakoterapi. JITEKGI, 2003

Torabinejad M. Patosis Pulpa dan Periradikular. Dalam: Walton RE, Torabinejad M ed. Prinsip

dan Praktik Ilmu Endodonsia, Edisi 3., Jakarta: EGC, 2008

Torabinejad M, Shabahang S. Pulp and Periapical Pathosis. In: Torabinejad M, Walton RE eds.

Endodontics Principles and Practice, 4th ed., India: Elsevier, 2009


BLOK 12 MODUL 4

ENDODONTIK GIGI PERMANEN

Disusun oleh :
Devi Sarfina 1310015105
Aji Ayu Nurbianti 1310015108

Penanggung Jawab Modul :


drg. Dewi Arsih Sulistiani , M.Med.Kom

Tutor :
drg. Silvia Anitasari , M.Si

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM KONSENTRASI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
TAHUN AJARAN 2016/2017 GANJIL