Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN STUDI KASUS

PRAKTIK DIETETIK
KASUS 1
DI BAGIAN INTERNA RUMAH SAKIT UMUM PENDIDIKAN UNHAS
MAKASSAR

OLEH:
IFFAH SUARSI
K211 14 005

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
TINJAUAN SECARA TEORITIK
A. Gambaran Umum Penyakit
1. Limfoma Maligna
a. Pengertian
Limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker
darah yang muncul dalam sistem limfatik, yang menyebabkan
pembesaran kelenjar getah bening. Limfoma disebabkan oleh sel-sel
limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau
sehat menjaga daya tahan tubuh untuk menangkal infeksi bakteri, jamur,
parasit dan virus, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari
sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya. Sistem limfatik sendiri
merupakan jaringan pembuluh dengan katup dan kelenjar di tempat-
tempat tertentu yang mengedarkan cairan getah bening melalui
kontraksi otot yang berdekatan dengan kelenjar. Kelenjar getah bening
menyaring benda asing dari getah bening dan juga mengangkut lemak
yang diserap dari usus halus ke hati (Kemenkes RI, 2015).
Secara umum, limfoma diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
limfoma hodgkin dan limfoma non-hodgkin. Klasifikasi ini dibuat
berdasarkan perbedaan histopatologis dari kedua penyakit di atas, di
mana pada limfoma hodgkin terdapat suatu gambaran yang khas yaitu
adanya sel Reed-Sternberg (Kumar, dkk., 2005).
Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan leukemia
menduduki urutan keenam tersering. Sampai saat ini belum diketahui
sepenuhnya mengapa angka kejadian penyakit ini terus meningkat.
Adanya hubungan yang erat antara penyakit AIDS dan penyakit ini
memperkuat dugaan adanya hubungan antara kejadian limfoma dengan
kejadian infeksi sebelumnya (Reksodiputro, dkk., 2006).
b. Prevalensi

Sumber: Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2013, Badan


Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dan data Penduduk
Sasaran,Pusdatin Kementerian Kesehatan RI

Pada Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 didapatkan prevalensi penderita


limfoma berdasarkan hasil wawancara mengenai diagnosis limfoma
oleh dokter. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa prevalensi
limfoma di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 0,06%, atau
diperkirakan sebanyak 14.905 orang. Provinsi DI Yogyakarta memliki
persentase prevalensi limfoma tertinggi, yaitu sebesar 0,25% atau
diperkirakan sebanyak 890 prang. Sedangkan provinsi Jawa barat
memiliki estimasi jumlah penderita terbanyak, yaitu sebanyak 2,728
orang. Jumlah penderita limfoma ini dirasa cukup fantastis sehingga
patut diwaspadai.
c. Patofisiologi
Ada empat kelompok gen yang menjadi sasaran kerusakan genetik
pada sel-sel tubuh manusia, termasuk sel-sel limfoid, yang dapat
menginduksi terjadinya keganasan. Gen-gen tersebut adalah proto-
onkogen, gen supresor tumor, gen yang mengatur apoptosis, gen yang
berperan dalam perbaikan (Insanilhusna, 2010).
Proto-onkogen merupakan gen seluler normal yang mempengaruhi
pertumbuhan dan diferensiasi, gen ini dapat bermutai menjadi onkogen
yang produknya dapat menyebabkan transformasi neoplastik,
sedangkan gen supresor tumor adalah gen yang dapat menekan
proliferasi sel (antionkogen). Normalnya, kedua gen ini bekerja secara
sinergis sehingga proses terjadinya keganasan dapat dicegah. Namun,
jika terjadi aktivasi proto-onkogen menjadi onkogen serta terjadi
inaktivasi gen supresor tumor, maka suatu sel akan terus melakukan
proliferasi tanpa henti (Insanilhusna, 2010).
Gen lain yang berperan dalam terjadinya kanker yaitu gen yang
mengatur apoptosis dan gen yang mengatur perbaikan DNA jika terjadi
kerusakan. Gen yang mengatur apoptosis membuat suatu sel mengalami
kematian yang terprogram, sehingga sel tidak dapat melakukan
fungsinya lagi termasuk fungsi regenerasi. Jika gen ini mengalami
inaktivasi, maka sel-sel yang sudah tua dan seharusnya sudah mati
menjadi tetap hidup dan tetap bisa melaksanakan fungsi regenerasinya,
sehingga proliferasi sel menjadi berlebihan. Selain itu, gagalnya gen
yang mengatur perbaikan DNA dalam memperbaiki kerusakan DNA
akan menginduksi terjadinya mutasi sel normal menjadi sel kanker
DNA (Kumar, dkk., 2005).
2. Hemiparese Sinistra
a. Pengertian
Hemiparesis berarti kelemahan pada satu sisi tubuh. Contohnya,
pasien dapat mengeluhkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang
mengarah pada lesi hemisfer serebri kontralateral. Dalam mendiagnosis,
harus dilakukan pertanyaan lebih lanjut dan mendetil mengenai waktu
terjadinya gejala sehingga dapat mengklarifikasikan perjalanan
patologis dari lesi ini (Ginsberg, 2007).
b. Patofisiologi
Pada gangguan aliran darah otak (stroke), gejala ditentukan oleh
tempat perfusi yang terganggu, yakni daerah yang disuplai oleh
pembuluh darah tersebut. Penyumbatan pada arteri serebri media yang
sering terjadi menyebabkan kelemahan otot dan spastisitas kontralateral
serta defisit sensorik (hemianestesia) akibat kerusakan girus lateral
presentralis dan postsentralis. Akibat selanjutnya adalah deviasi ocular
(deviation conjugee akibat kerusakan area motorik penglihatan),
hemianopsia ( radiasi optikus), gangguan bicara motorik dan sensorik
(area bicara broca dan wernicke dari hemisfer dominan), gangguan
persepsi spasial, apraksia, hemineglect (lobus parietalis). Penyumbatan
arteri serebri anterior menyebabkan hemiparesis dan defisit sensorik
kontralateral (akibat kehilangan girus presentralis dan postsentralis
bagian medial), kesulitan berbicara (akibat kerusakan area motorik
tambahan) serta apraksia pada lengan kiri jika korpus kalosum anterior
dan hubungan dari hemisfer dominan ke korteks motorik kanan
terganggu. Penyumbatan bilateral pada arteri serebri anterior
menyebabkan apatis karena kerusakan dari sistem limbic. Penyumbatan
arteri serebri posterior menyebabkan hemianopsia kontralateral parsial
(korteks parsial primer) dan kebutaan pada penyumbatan bilateral.
Selain itu, akan terjadi kehilangan memori (lobus temporalis bagian
bawah). Penyumbatan arteri karotis atau basilaris dapat menyebabkan
defisit di daerah yang disuplai oleh arteri serebri media dan anterior.
Jika arteri koroid anterior tersumbat, ganglia basalis (hipokinesia),
kapsula interna (hemiparesis), dan traktus optikus (hemianopsia) akan
terkena. Penyumbatan pada cabang arteri komunikans posterior di
talamus terutama akan menyebabkan defisit sensorik (Silbernagl, 2007).
3. Anemia
a. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan tubuh yang ditandai dengan
defisiensi pada ukuran dan jumlah eritrosit pada kadar hemoglobin yang
tidak mencukupi untuk fungsi pertukaran O2 dan CO2 diantara
jaringan dan darah. Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang
darah, kadar sel darah merah (hemoglobin atau Hb) dibawah nilai
normal (Kemenkes, 2005)
Anemia yang disebabkan oleh kanker, bisa terjadi sebagai efek
langsung dari keganasan, dapat sebagai akibat produksi zat-zat tertentu
yang dihasilkan kanker, atau dapat juga sebagai akibat dari pengobatan
kanker itu sendiri. Pada waktu-waktu yang lalu, anemia yang terjadi
pada pasien kanker selalu dihubungkan dengan anemia karena penyakit
kronik. Jenis anemia ini sekarang disebut sebagai anemia yang
berhubungan dengan kanker atau Cancer-Related Anemia (CRA). Efek
ini dikenal sebagai sindroma paraneoplastik (Asmi, 2003)

b. Prevalensi
Prevalensi anemia pada penderita kanker bergantung kepada tipe
(jenis) kanker dan stadium tumor, jenis dan mulainya pengobatan
kanker, dan keadaan lain yang menyertai yang dapat menyebabkan
anemia dan juga keadaan yang dapat memperberat anemia yang sudah
ada (Asmi, 2003).
Statistik yang berhubungan dengan prevalensi anemia pada
pasien kanker bergantung kepada berapa nilai hemoglobin yang
diambil sebagai batas terbawah untuk menyatakan anemia. Kalau
dipakai nilai 12 g/dl sebagai batas terbawah normal, Harrison et.al.
telah me-review data secara retrospektif acak dari 202 pasien kanker
yang menjalani terapi sinar, didapati 45% pasien adalah anemia
sebelum pengobatan, dan menjadi 57% setelah pengobatan (Asmi,
dkk., 2010)
c. Patofisiologi
Terjadinya anemia pada penderita kanker (tumor ganas), dapat
disebabkan karena aktivasi sistem imun tubuh dan sistem inflamasi
yang ditandai dengan peningkatan beberapa petanda sistem imun
seperti interferon, Tumor Necrosis Factor (TNF) dan interleukin yang
semuanya disebut sitokin, dan dapat juga disebabkan oleh sel kanker
sendiri (Kane B, 2002).
Penyebab langsung dari anemia pada keganasan disebabkan oleh
substansi atau protein yang dihasilkan oleh kanker sendiri.Deposit dari
amiloid pada mieloma dan amiloidosis dapat secara ekstensif
menggantikan sumsum tulang. Terbentuknya antibodi pada leukemia
limfositik kronik, limfoma, dan kadang-kadang keganasan tumor padat
(solid) yang akan menyebabkan timbulnya anemia hemolitik imun.
Terjadinya anemia hemolitik mikroangiopati, yang dilihat pada
sebagian keganasan tumor solid, dapat menghasilkan prokoagulans
pada kanker (Kane B, 2002).

Data Dasar Pasien


1. Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Tanggal Lahir : 15 April 1973
Umur : 44 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kolaka Timur
No. Register RM : 000456441
Ruang : 423
Tanggal Masuk : 23 September 2017
Tanggal Ambil Kasus : 26 September 2017
Diagnosa Medis : Lymfoma Maligna, Hemiparese Sinistra,
Anemia

Data Subyektif
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Diagnosa yang ditegakan oleh dokter Lymfoma Maligna,
Hemiparese Sinistra, Multiple Cranial palsy, Anemia
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada
d. Riwayat Gizi Sekarang
- Diet yang diberikan yaitu diet TKTP (tinggi kalori tinggi protein)
- Nafsu makan pasien kurang
- Bentuk makanan biasa
- Pasien hanya makan 2-3 sendok makanan dari rumah sakit dengan
tambahan susu dari luar rumah sakit
- Hasil Recall 24 Jam sebelum intervensi:
Energi: 44,8 kkal (27%)
Protein: 8,7 gr (11%)
Lemak : 31,6 gr (87%)
KH : 46,4 gr (17%)
e. Riwayat Gizi Dahulu
1. Pasien makan 2-3 kali sehari makanan pokok berupa nasi dengan
porsi sedang.
2. Pasien mengonsumsi lauk hewani berupa ikan dan telur 2-3 kali
sehari
3. Mengkonsumsi sayur hampir setiap hari, berupa sayur nangka,
kelor dan sayur bening.
4. Pasien mengonsumsi buah-buahan apel dan pisang 3-4 kali
seminggu.
5. Minuman yang biasa dikonsumsi teh tapi tidak terlalu manis, 2-3
kali sehari.
6. Suka makanan pedas dan bersantan serta ada kebiasaan makan
diluar bersama keluarga 1-2 kali seminggu.

f. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah TKI yang bekerja sebagai wiraswasta di Malaysia,
beragama Islam . Berstatus janda dan memliki 4 orang anak.

3. Data Obyektif (25-09-2017)


a. Antropometri
Umur = 44 tahun
TB = 157 cm
BBA = 52 kg
BBI = (TB-100) 10%(TB-100)
= 51,4 kg
IMT = BB/TB2
= 52/1,572
= 21,13 kg/m2
(Status Gizi Normal berdasarkan WHO 2007 untuk penduduk Asia
Dewasa).
b. Pemeriksaan Laboratorium
Adapun hasil pemeriksaan laboratorium pasien sebelum
intervensi dapat dilihat pada tabel 1
Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Jenis
Hasil Nilai Normal Interpretasi
Pemeriksaan
SGOT 54 U/L (N: <35 U/L) Tinggi
UREUM 18 mg/dl (N: 0-53 mg/dl)
Normal
GDS 94 mg/dl (N: 80-180 mg/dl)
Rendah
Hb. 9,7 g/dl (N: 13,0-16,0 g/dl)
24 September
2017

Sumber : Data Sekunder, 2017


c. Pemeriksaan Fisik-klinis
Adapun hasil pemeriksaan fisik/klinis dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 1.2 Hasil Pemeriksaan Fisik /Klinis
Tanggal Keadaran Jenis
Hasil Nilai Normal Interpretasi
pemeriksaan Pemeriksaan
KU: Sedang Tekanan Darah 120/90 mmHg 120/80 mmhg Normal

Kesadaran: sadar Nadi 88 kali/menit 80-120 x/i Normal


25 September
2017 Pernafasan 20 kali/menit 12-20 x/i Normal

Suhu 36.90C 36-37C Normal

Sumber : Data Sekunder, 2017


d. Riwayat Makan
Adapun riwayat makan pasien sebelum intervensi dapat dilihat
pada tabel 3
Tabel 3 Asupan Zat Gizi Sebelum Intervensi
Energi Protein Lemak KH
(kkal) (gr) (gr) (gr)
Asupan 443,8 8,7 31.6 46,4
Kebutuhan 1624.5 78 36.1 263.9
% Asupan 27% 11% 87% 17%
Sumber : Data Primer Terolah, 2017
e. Skrining Gizi
Hasil skrining gizi pasien dapat dilihat pada tabel 4
Tabel 4 Hasil Skrining Gizi terhadap Pasien

No Indikator Hasil
1 Penurunan nafsu makan +
2 Status gizi Normal +
3 Penurunan BB -
4 Tidak ada asupan -
Sumber: Data Primer, 2017

d. Penentuan Masalah Gizi


1. Diagnosis Gizi
a. Domain Intake
Adapun hasil diagnosis gizi berdasarkan domain intake yaitu
sebagai berikut:
Tabel 5 Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake
Problem Etiologi Sign
Asupan Oral Nafsu makan Hasil Recall 24 jam:
Kurang kurang dan mual Energi: 44,8 kkal (27%)
Protein: 8,7 gr (11%)
Lemak : 31,6 gr (87%)
KH : 46,4 gr (17%)

NI.2.1 Kekurangan intake makanan dan minuman oral yang berkaitan


dengan nafsu makan yang kurang dan mual yang ditandai dengan recall
pasien, yaitu:
Energi: 44,8 kkal (27%)
Protein: 8,7 gr (11%)
Lemak : 31,6 gr (87%)
KH : 46,4 gr (17%)
Tabel 6 Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake
Problem Etiologi Sign
Anemia Asupan mineral ditandai dengan data hasil lab
tidak adekuat Hb = 9,7

(NI-5.10.1)
Asupan mineral atau makanan yang mengandung mineral yang tidak
adekuat karena penyakit lymfoma maligna ditandai dengan data hasil lab
Hb=9,7

2. Diagnosis Medis
Diagnosis medis yang diberikan pada DG. H yaitu Pneumonia, DM Tipe
II, Hipertensi Grade II, Dyspepsia Fungsional.
D. Jalur Pemberian Nutrisi Pasien
Makanan diberikan via oral dengan konsistensi biasa.
E. Rencana Asuhan Gizi
1. Jenis Diet
Diet TKTP (tinggi kalori tinggi protein)
2. Tujuan Diet
1. Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk
mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh
3. Prinsip/Syarat Diet
a. Energi diberikan diatas kebutuhan normal dengan memperhitungkan
faktor stres dan faktor aktifitas sebanyak 1624,5 kkal.
b. Protein 15% dari TEE, yaitu 78 gr
c. Lemak 20% dari TEE, yaitu 36,1 gr
d. Karbohidat 65% dari kebutuhan energi total, yaitu 272,1 gr
e. Vitamin cukup
4. Konsistensi
Makanan Biasa
5. Cara Pemberian
Oral
6. Frekuensi
Tiga kali makanan utama dan dua makanan selingan.
7. Perencanaan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi
Kebutuhan Energi dan Zat Gizi
a. Angka Metabolik Basal
AMB = 66 + (9,6 x BBI) + (1,8 x TB) (4,68x usia)
= 66 + (9,6 x 51,4) + (1,8 x 157) (4,68x 44)
= 1225,12
Faktor Aktivitas:
Tidur :14/ 24 1 =0,58
Duduk:10 /24 1,08= 0,45
Berdiri: 0/24 1,17=0
Berjalan:0 /242,37=0
b. Kebutuhan Zat gizi
KET = AMB x fa x fs
= 1225,12 x 1.02 x 1.3
= 1624,5 kkal
Protein = 15% x KET / 4
= 78 g
Lemak = 20% x KET / 9
= 36,1 gr

KH = 65% x KET / 4
= 263,9 gr

8. Rencana Motivasi Dengan Terapi Edukasi


a. Tujuan:
Agar pasien dan keluarga:
a. Memperbaiki pola dan kebiasaan makan yang salah
b. Mengerti tentang makanan yang boleh/tidak dikonsumsi
c. Dapat menjalankan diet yang dianjurkan dengan benar
d. Mengerti tentang diet yang diberikan
e. Mematuhi diet
b. Materi:
Diet TKTP
c. Sasaran:
Pasien & Keluarganya
d. Waktu:
15 menit
e. Tempat :
Kamar Rawat 423
f. Metode :
Penyuluhan Individu kepada pasien dan keluarga pasien
9. Rencana Monitoring
Parameter yang dimonitor selama studi kasus adalah sebagai berikut:
a. Antropometri
b. Biokimia
c. Pemeriksaan Fisik/Klinis
d. Asupan Setiap Hari
e. Edukasi
10. Implementasi Asuhan Gizi
A. Diet Pasien
Diet yang diberikan adalah diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP).
Diet TKTP yaitu makanan yang diberikan kepada pasien secukupnya
atau lebih banyak dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan kalori dan
protein. Perencanaan menu sesuai dengan kebutuhan dimana energy
sebesar 1591.5 kkal (98%), protein sebesar 70 gr (90%), Lemak
sebesar 40 gr (110%) dan Karbohidrat sebesar 247,1 gr (90%).
2. Perencanaan Menu
Menu Bahan JUMLAH
URT Gram
Pagi (07.00)
Nasi Beras 1 gelas 50
Tempe goreng tepung Tempe 1 potong sdg 50
Tepung terigu 2 sdm 20
Perkedel Jagung Jagung 30
Tepung terigu 4 sdm 40

Cah sawi hijau Sawi hijau 50


Snack (10.00) Pisang susu 1 buah sdg 100
Buah

Siang (13.30)
Nasi beras 1 gelas 50
ikan goreng tepung ikan layang 1 ptg sdang 50
tepung terigu 2 sdm 20
Pepes tahu panggang
tahu 1 ptg sdg 50

sayur bayam jagung Bayam gelas 30


jagung gelas 30
Snack (16.00)
Jus Buah Alpukat 1 bji 100
Susu kental manis 3 sdm 30
Malam (17.00)
Nasi Beras 1 gelas 50
Tongkol Bumbu Kuning Ikan tongkol 1 ptg sdg 50
Santan gelas 30

Tempe terong kuah Tempe 1 ptg Sng 50


santan Terong 5 ptng sdng 50
Santan gelas 30

Menu diatas merupakan perencanaan menu yang disusun


ebrdasarkan jenis diet dan memperhitungkan kebutuhan pasien.
Mengandung energi energy sebesar 1591.5 kkal (98%), protein sebesar
70 gr (90%), Lemak sebesar 40 gr (110%) dan Karbohidrat sebesar
247,1 gr (90%). Sesuai dengan kebutuhan dengan persentasi asupan
dimana menu dikatakan adekuat apabila persentase asupannya diantara
90-110%.

Sup jagung
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 23 September 2017 dengan keluhan
lemas yang dialami sudah sejak lama, terasa nyeri bagian belakang, keram-keram
pada lengan kiri dan mata sebelah kiri tampak mengecil. Nafsu makan berkurang
dan mengalami mual. Pasien mendapatkan diet khusus sesuai dengan penyakit
yang diderita.
Sebelum intervensi dilakukan recall 24 jam makanan pasien pada tanggal 26
September 2017 diperoleh presentase asupan energy yaitu 443.8 kkal (27%),
Protein 8.7 gr (11%), lemak 31.6 g (87%) dan karbohidrat 46,4 g(17%). Dari
hasil recall sebelum intervensi tersebut dapat diketahui bahwa asupan kurang
berdasarkan perhitungan kebutuhan energy total dimana kebutuhan yang
seharusnya yaitu energy sebesar 1591.5 kkal (98%), protein sebesar 70 gr (90%),
Lemak sebesar 40 gr (110%) dan Karbohidrat sebesar 247,1 gr (90%).
Diet yang diberikan adalah diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP). Diet
TKTP yaitu makanan yang diberikan kepada pasien secukupnya atau lebih
banyak dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein.
Perencanaan menu sesuai dengan kebutuhan dimana energy sebesar 1591.5 kkal
(98%), protein sebesar 70 gr (90%), Lemak sebesar 40 gr (110%) dan
Karbohidrat sebesar 247,1 gr (90%).
Monitoring Asupan makanan
Berikut tabel hasil monitoring asupan makanan pasien
Tabel 12 Hasil monitoring asupan makanan pasien
ASUPAN ZAT GIZI
HARI URAIAN
E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
Asupan 538,7 15.5 18.9 79.6
I
Kebutuhan 1624.5 78 36.1 263.9
26/09/2017
% Asupan 33% 19% 52% 29%
Asupan 613.9 20.5 19.4 61.2
II
Kebutuhan 1624.5 78 36.1 263.9
03/10/2017
% Asupan 37% 26% 54% 22%
III Asupan 643.3 25.5 17.8 91.9
04/10/2017 Kebutuhan 1624.5 78 36.1 263.9
% Asupan 40% 33% 49% 34%
Rata-rata % Asupan 36% 26% 51% 28%
Pada tabel dapat dilihat asupan pada pasien dari intervensi pertama hingga
intervensi ketiga masih sangat kurang. Kebutuhan asupan pasien yang seharusnya
yaitu energy sebesar 1591.5 kkal (98%), protein sebesar 70 gr (90%), Lemak
sebesar 40 gr (110%) dan Karbohidrat sebesar 247,1 gr (90%).. Hal ini
dikarenakan kurangnya asupan oral yang masuk dikarenakan pasien masih kurang
nafsu makan dan mengalami mual jika terlalu banyak makan, jadi pasien hanya
makan 2-3 sendok makan dan hanya menyukai makanan yang cair atau lunak.
1. Monitoring laboratorium
Adapun tabel hasil monitoring laboratorium pasien dapat dilihat pada
tabel berikut
Tabel 13 Monitoring Hasil Laboratorium Pasien
Jenis Hari 1 Hari 2 Hari 3
Nilai Normal
Pemeriksaan
SGOT 54 U/L (N: <35 U/L) - -
UREUM 18 mg/dl (N: 0-53 mg/dl)
GDS 94 mg/dl (N: 80-180 mg/dl)
Hb. 9,7 g/dl (N: 13,0-16,0 g/dl)

Sumber: Data Sekunder, 2017


Pemeriksaan lab hanya dilakukan pada tanggal 24 September 2017 jadi pada
intervensi kedua dan ketiga tidak dapat dibandingkan hasilnya.
2. Monitoring Fisik Klinis
Adapun hasil monitoring fisik klinik dapat dilihat pada tabel 14 dibawah
ini.
Tabel 14 hasil monitoring fisik klinis
Jenis
Nilai Normal Hari 1 Hari 2 Hari 3
Pemeriksaan
KU Sedang Sedang Sedang

Sadar Sadar Sadar


Kesadaran

110/70 mmHg 110/70 mmHg 100/60 mmHg


TD <120/80

Nadi 60-100x/m 84kl/mnt 84kl/mnt 88kl/mnt

Pernapasan 12-20x 20 kl/mnt 20 kl/mnt 22 kl/mnt

Suhu 36,5-37,5 oc 36.30C 36.5C 36.40C

Sumber: Data Sekunder. 2017


DAFTAR PUSTAKA

1. Azmi S. Kar, H. Hanum Nasution: PemakaianBromazepam


pada Penderita Psikosomatik, KOPAPDI V, Jakarta, 2003.
2. Azmi S. Kar, Azhar Tanjung, Rusli Pelly: Asma Bronkiale di Bagian
Penyakit Dalam RS Dr. Pirngadi, Simposium Sehari Asma
Bronkial, Medan 1984.
3. Florian Lang. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. 2007. Jakarta: EGC.

4. Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi. 2007. Jakarta: EMS.


Silbernagl, Stefan dan

5. Kane B. 44th Annual Meeting of the American Society of Hematology


The Treatment of Secondary Anemia. In: Medscape; 2002.

6. Kumar, Abbas, dan Fausto. 2005. Phatologic Basis of Diseases 7th


Edition. Philadelphia: Elsevier & Saunders

7. Reksodiputro, A. dan Irawan, C. 2006. Limfoma Non-Hodgkin.


Disunting oleh Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.