Anda di halaman 1dari 2

Kabut Asap 2015 Terburuk dalam Sejarah Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Binsar


Pandjaitan menyatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia
tahun 2015 ini merupakan yang terparah dalam sejarah Indonesia, yang dikatakannya
pada hari Rabu 21 Oktober 2015 lalu.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah
titik api di seluruh Indonesia kali ini meningkat drastis menjadi 3.226 titik. Dengan
sebaran meluas hingga Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Menurut hasil pemeriksaan, Polri mengumumkan telah menetapkan tujuh
perusahaan asing sebagai tersangka dalam kasus pembakaran hutan dan lahan yang
menimbulkan kabut asap. Ketujuhnya ialah PT. ASP asal China, PT. KAL asal
Australia, PT. IA, PT. H, PT. MBI, PT. PAH, dan PT. AP asal Malaysia
Kebakaran di lahan gambut, menurut Luhut, merupakan kesalahan kebijakan
yang dibuat pemerintah selama sepuluh tahun terakhir. Namun dia tak ingin
menyalahkan pemerintahan sebelumnya, yang diharapkan hal seperti ini jangan sampai
terulang lagi di masa yang akan datang.
Menurut Luhut, sekitar 4,8 juta hektar lahan gambut yang dijadikan perkebunan
selama sepuluh tahun belakangan ini menjadi masalah utama yang menyebabkan
kebakaran di lahan gambut sulit untuk dipadamkan tanpa disertai turunnya hujan.
Selain menunggu datangnya hujan, pemerintah juga menanti 15 pesawat terbang
untuk melakukan pengeboman air di titik-titik api dalam sua pekan ke depan. Luhut
sebelumnya telah meninjau lokasi kebakaran di Sumatera Utara. Menurut dia,
kebakaran terjadi sangat masif dengan api begitu tinggi. Luhut melihat api berkobar
tak terkendali, padahal petugas telah mengebom dengan air menggunakan pesawat
terbang.
Menurut Luhut, pemerintah telah mengambil tindakan tegas terhadap para
pelaku pembakaran hutan. Perusahaan yang tidak mengupayakan pemadaman di lahan
yang terbakar akan dicabut izin usahanya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional,
Willem Rampingilei mengatakan bahwa bantuan sejumlah negara asing dalam upaya
pemadaman asap dan kebakaran hutan ternyata tidak berdampak signifikan.
Singkatnya, waktu pemadaman yang dilakukan oleh negara-negara itu membuat upaya
pemadaman menjadi tidak maksimal.
Australia mengirimkan satu unit pesawat dengan kapasitas lima ribu liter.
Menurut Willem pesawat itu seharusnya dapat melakukan pengeboman air hingga lima
kali sehari. Namun, nyatanya Australia membatasi bantuannya hanya selama lima hari.
Tim pengebom asal Australia harus kembali karena negara mereka juga mengalami
kebakaran hutan.
Hal yang sama juga terjadi dengan tim pengebom air asal Malaysia. Tim asal
negeri jiran itu membantu upaya pengeboman air selama enam bulan. Adapun hingga
saat ini yang tersisa adalah satu buah helikopter berkapasitas 5 ton bantuan dari
Singapura.
Selain bantuan dari negara-negara itu, Willem juga mengatakan bahwa
pemerintah sudah menyewa sebanyak 19 helikopter dan tiga air traktor. Saat ini
pemerintah juga sedang mencari pesawat sewa tambahan. Tetapi upaya tersebut sedikit
terhambat, dikarenakan saat ini El Nino sedang terjadi di mana mana jadi banyak
segara lain yang sudah lebih dahulu menyewanya.
Pemerintah Indonesia sempat menolak bantuan asing dalam upaya pemadaman
kebakaran hutan dan asap di Sumatera dan Kalimantan. Namun belakangan ini
pemerintah memutuskan untuk menerima Agar Singapura dan Malaysia tahu
bagaimana sulitnya memadamkan api di sini, lata Wakil Presiden Jusuf Kala di Kantor
Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2015. Protes yang dilayangkan kedi negara
itu, ia menilai karena mereka tak paham dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan.
Selain menerima bantuan dari Singapura dan Malaysia, pemerintah juga
menerima bantuan dari Rusia, Cina, dan Australia. Bantuan yang diberikan negara-
negara itu adalah berupa pesawat-pesawat yang bisa membawa air untuk Water
bombing dengan kapasitas mencapai 10 ton air.

(Sumber : Tempo, Kamis, 22 Oktober 2015)

Nama : Gregorius Yudistira A.


Kelas : XII-IPA 8