Anda di halaman 1dari 3

Teks Cerita Sejarah

Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Gregorius Yudistira

Indonesia merdeka tidak begitu saja, akan tetapi melalui proses yang tidak singkat.
Mulai dari ditindas, dijajah, hingga diperbudak oleh bangsa lain pada mulanya, namun
semangat juang yang tinggi serta dorongan dari setiap pribadi rakyat Indonesia inilah yang
membuat tekad dan keberanian dari para pahlawan perjuangan semakin terpacu untuk
mewujudkan kemerdekaan Indonesia dalam proklamasi yang merupakan hasil kerja keras
secara utuh dari Bangsa Indonesia.
Sebuah bom atom dijatuhkan di atas Kota Hiroshima, Jepang oleh Amerika Serikat
yang mulai menurunkan mental semangat tentara Jepang di seluruh dunia, pada tanggal 6
Agustus 1945. Bom atom kedua dijatuhkan di atas Kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945,
sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini
pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Ir. Soekarno,
Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat segera diterbangkan ke Dalat, Vietnam untuk
bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang
kekalahan dan berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Setelah itu, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat
radio bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah
bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang
diberikan oleh Jepang sebagai hadiah bagi Indonesia.
Kemudian, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, pada tanggal 12
Agustus 1945, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang
akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat
dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang
menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Setelah Soekarno
kembali ke tanah air. Sutan Syahrir mendesak agar proklamasi kemerdekaan RI segera
dilaksanakan. Para pejuang memang belum yakin sepenuhnya bahwa Jepang memang telah
menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah
yang besar, sehingga dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.
Selanjutnya, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara
dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia, karena Jepang telah berjanji akan
mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Setelah mendengar desas-desus
Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, golongan tua tidak ingin terburu-buru.
Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Musyawarah
pun dilakukan dalam rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI
adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas
usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian dari Jepang. Keesokan harinya, Soekarno dan Hatta
segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada pukul 10
pagi, 16 Agustus 1945, guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan
persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan
Indonesia semakin memuncak, yang dilakukan oleh para pemuda dari beberapa golongan.
Rapat PPKI pada 16 Agustus 1945, pukul 10 pagi tidak jadi dilaksanakan karena Soekarno dan
Hatta tidak muncul dalam rapat tersebut. Peserta rapat tidak tahu bahwa telah terjadi peristiwa
Rengasdengklok. Pada dini harinya para pemuda pejuang membawa Soekarno, beserta dan
keluarganya berserta Moh. Hatta ke Rengasdengklok, yang kemudian dikenal dengan peristiwa
Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh
oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan
para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.
Sementara itu di Jakarta, Wikana dan Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan.
Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di
Jakarta. maka diutuslah seseorang untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok.
Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk kembali ke Jakarta. Dan Mr.
Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu buru
memproklamasikan kemerdekaan. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M.
Hatta, dan Achmad Soebardjo, serta disaksikan oleh Soekarni, Sayuti Melik, dan beberapa
golongan muda lainnya. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Dan Sukarni
mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi tersebut adalah Ir. Soekarno dan Drs.
Moh. Hatta namun tetap atas nama Bangsa Indonesia.
Setelah konsep selesai disepakati, Sayuti Melik menyalin dan mengetik naskah tersebut
menggunakan mesin ketik. Dan menurut kesepakatan bersama, pembacaan teks proklamasi
dilakukan di kediaman Soekarno. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, segala sesuatunya telah
dipersiapkan di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No.56, Jakarta (sekarang Jl.
Proklamasi No.1, Jakarta). Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi
oleh Soekarno dan disambung pidato singkat secara langsung. Kemudian bendera Merah Putih,
yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan oleh seorang prajurit PETA yaitu Latief
Hendraningrat dan dibantu oleh Soehoed serta seorang pemudi yang membawakan bendera
Merah Putih. Setelah bendera Merah Putih berkibar, para hadirin yang datang langsung
menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dibuat W. R. Supratman. Sampai saat ini, bendera
pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Kemudian keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengambil
keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar sebagai dasar konstitusional
NKRI, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD45. Dengan demikian telah resmi terbentuknya
Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik. Setelah itu, Ir. Soekarno
dan Moh. Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari dewan PPKI
sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan Wakil
Presiden dalam menjalankan tugasnya akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional. Dan hingga
saat ini setiap tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia.
Sungguh, kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang ini merupakan buah dari
perjuangan dan tekad para pahlawan yang dengan sepenuh hati rela berkorban demi bangsa
dan negara. Kemerdekaan ini diraih dengan pengorbanan harta, benda, hingga nyawa. Sudah
sepatutnya kita yang hidup di masa kini mengisi kemerdekaan itu sesuai dengan bidang kita
masing-masing. Khususnya bagi kita seorang pelajar, isilah kemerdekaan ini dengan lebih rajin
belajar, karena masa depan bangsa dan negara ini berada di tangan kita

Nama : Gregorius Yudistira


Kelas : XII-IPA 8
No. : 18