Anda di halaman 1dari 12

Sasbel:

Mengetahui jenis penelitian yang bisa dipakai pada bidang kedokteran


Memahami konsep penelitian eksperimental
Memahami langkah-langkah penelitian, yang meliputi:
Latar belakang
Rumusan masalah
Tujuan penelitian
Metode penelitian
Menetapkan desain
Menentukan populasi, sampel, dan cara pengambilan sampel
Prosedur eksperimen
Teknik pengumpulan data dan analisis data
Membuat kesimpulan dan saran hasil penelitian
Memahami teknik penulisan laporan penelitian

Skenario Kasus
dr. Eny baru dipindahkan sebagai dokter Puskesmas Gandus. Ia mendapat data di Puskesmas bahwa
banyak kejadia cacingan pada anak-anak di wilayah kerja Puskesma Gandus. Ia mengobservasi bahwa anak-anak
jarang mencuci tangan sebelum makan. Ia mendapatkan informasi bahwa penyuluhan tentang cuci tangan
sudah sering dilakukan di sekolah-sekolah wilayah Gandus, namun tudak berdampak pada perilaku anak-anak.
dr. Eny pernah membaca bahwa metode drama mungkin dapat mengubah perilaku cuci tangan pada
anak-anak. Akan tetapi dr. Eny tidak yakin apakah metode tersebut efektif dalam mengubah perilaku anak-anak
tersebut. Oleh karena itu dr. Eny ingin melakukan penelitian untuk menilai efektifitas sosialisasi dalam bentuk
drama terhadap perilaku cuci tangan pada anak.

Identifikasi Masalah
1. dr. Eny mendapat data di Puskesmas Gandus bahwa banyak kejadian cacingan pada anak-anak.
2. Ia mengobservasi bahwa anak-anak jarang mencuci tangan sebelum makan.
3. Ia mendapatkan informasi bahwa penyuluhan tentang cuci tangan sudah sering dilakukan di sekolah-sekolah
wilayah Gandus, namun tudak berdampak pada perilaku anak-anak.
4. dr. Eny pernah membaca bahwa metode drama mungkin dapat mengubah perilaku cuci tangan pada anak-
anak. Akan tetapi dr. Eny tidak yakin apakah metode tersebut efektif dalam mengubah perilaku anak-anak
tersebut.
5. Oleh karena itu dr. Eny ingin melakukan penelitian untuk menilai efektifitas sosialisasi dalam bentuk drama
terhadap perilaku cuci tangan pada anak.

Analisis Masalah
1. dr. Eny mendapat data di Puskesmas bahwa banyak kejadia cacingan pada anak-anak di wilayah kerja
Puskesma Gandus.
a. Apa yang dimaksud dengan cacingan? Penyakit yang disebabkan parasit (cacing)

b. Apa saja faktor resiko yang dapat menyebabkan cacingan?


Terjadinya penyakit kecacingan seringkali dihubungkan dengan kondisi lingkungan penderita, sosio-
ekonomi penderita serta tingkat pendidikan penderita. Masalah penyakit kecacingan di Indonesia sangat erat
kaitannya dengan iklim dan kebersihan diri perorangan, rumah maupun lingkungan sekitarnya serta kepadatan
penduduk yang tinggi. Pada saat musim hujan, udara yang lembab, rumah yang berlantai tanah, pengetahuan
sanitasi kesehatan yang rendah merupakan factor penyebab tingginya kejadian penyakit kecacingan.

Salah satu penyakit kecacingan yang masih banyak terjadi pada penduduk di Indonesia adalah yang
disebabkan golongan Soil-Transmitted Helminth yaitu golongan nematode usus yang dalam penularannya atau
dalam siklus hidupnya melalui media tanah. Cacing yang tergolong dalam Soil- Transmitted Helminth adalah
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis serta cacing tambang yaitu Necator
americanus dan Ancylostoma duodenale. Di Indonesia infeksi oleh Soil-Transmitted Helminth ini paling banyak
disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura , Necator americanus

2. Ia mengobservasi bahwa anak-anak jarang mencuci tangan sebelum makan.


a. Bagaimana mengobservasi perilaku pada anak?
Jenis observasi
Menurut Narbuko dan Achmadi (2003), dalam penelitian jenis teknik observasi yang lazim digunakan
untuk alat pengumpul data ialah:
1. Observasi Partisipan Apabila orang yang melakukan observasi (observer) turut ambil bagian atau
berada dalam keadaan objek yang di observasi (observees).
2. Observasi Non Partisipan Apabila observer tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan.
3. Observasi Sistematis, sering disebut juga observasi berkerangka atau observasi berstruktur. Ciri
pokok observasi sistematik adalah adanya kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah diatur
kategorinya.
4. Observasi Eksperimental Observasi yang dilakukan dimana ada observer mengadakan
pengendalian unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur
sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat dikendalikan untuk menghindari atau mengurangi
timbulnya faktor-faktor yang secara tidak diharapkan mempengaruhi situasi penelitian.

Menurut Moleong (1990) observasi berdasarkan pengamatan dibedakan atas:


1. Observasi Berstruktur yaitu observasi dimana pengamat dalam melaksanakan observasinya
menggunakan pedoman pengamatan.
2. Observasi tidak berstruktur yaitu observasi dimana pengamat dalam melaksanakan observasinya
dan melakukan pengamatan secara bebas.

b. Apa yang harus dipersiapkan dalam metode observasi?


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan observasi, diantaranya:

Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati, baik yang umum maupun yang
khusus. Kegiatan yang umum maksudnya yaitu segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas harus
diamati dan dikomentari serta dicatat dalam catatan lapangan. Sedangkan observasi kegiatan
khusus, maksudnya ialah observasi tersebut hanya memfokuskan pada kegiatan khusus yang terjadi
di dalam kelas, seperti kegiatan tertentu atau praktik pembelajaran tertentu.

Menentukan kriteria yang diamati, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran-ukuran apa yang
digunakan dalam pengamatan.

c. Apa dampak jarang mencuci tangan sebelum makan?


Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan
karena tangan sering menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu
orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-
permukaan lain seperti handuk, gelas).

3. Ia mendapatkan informasi bahwa penyuluhan tentang cuci tangan sudah sering dilakukan di sekolah-
sekolah wilayah Gandus, namun tudak berdampak pada perilaku anak-anak.
a. Apa tujuan penyuluhan?
Tujuan penyuluhan adalah mengubah perilaku masyarakat ke arah perilaku sehat sehingga tercapai
derajat kesehatan masyarakat yang optimal, untuk mewujudkannya, perubahan perilaku yang
diharapkan setelah menerima pendidikan tidak dapat terjadi sekaligus. Oleh karena itu, pencapaian
target penyuluhan dibagi menjadi tujuan jangka pendek yaitu tercapainya perubahan pengetahuan,
tujuan jangka menengah hasil yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengertian, sikap, dan
keterampilan yang akan mengubah perilaku ke arah perilaku sehat, dan tujuan jangka panjang adalah
dapat menjalankan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-harinya.

b. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan pada saat penyuluhan?


Dalam melakukan penyuluhan kesehatan, maka penyuluh yang baik harus melakukan penyuluhan sesuai dengan
langkah langkah dalam penyuluhan kesehatan masyarakat sebagai berikut:
1. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat.
2. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat.
3. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditangani melalui penyuluhan kesehatan masyarakat.
4. Menyusun perencanaan penyuluhan
a. Menetapkan tujuan
b. Penentuan sasaran
c. Menyusun materi atau isi penyuluhan
d. Memilih metoda yang tepat
e. Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
f. Penentuan kriteria evaluasi.
5. Pelaksanaan penyuluhan
6. Penilaian hasil penyuluhan
7. Tindak lanjut dari penyuluhan

Metode yang dapat dipergunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan adalah:


1. Metode Ceramah
Adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan
kepada sekelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan.

2. Metode Diskusi Kelompok


Adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah dipersiapkan tentang suatu topic pembicaraan
diantara 5 20 peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.

3. Metode Curah Pendapat


Adalah suatu bentuk pemecahan masalah di mana setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan
pemecahan masalah yang terpikirkan oleh masing masing peserta, dan evaluasi atas pendapat
pendapat tadi dilakukan kemudian.

4. Metode Panel
Adalah pembicaraan yang telah direncanakan di depan pengunjung atau peserta tentang sebuah topik,
diperlukan 3 orang atau lebih panelis dengan seorang pemimpin.

5. Metode Bermain peran


Adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan
oleh dua orang atu lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.

6. Metode Demonstrasi
Adalah suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah
dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan
dengan menggunakan alat peraga. Metode ini digunakan terhadap kelompok yang tidak terlalu besar
jumlahnya.

7. Metode Simposium
Adalah serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai 5 orang dengan topic yang berlebihan tetapi
saling berhubungan erat.

8. Metode Seminar
Adalah suatu cara di mana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah dibawah
bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya.

c. Apa saja yang memengaruhi perilaku seseorang?


Ada 3 faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun kelompok sebagai berikut:
1. Faktor yang mempermudah (Predisposing factor) yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan,
norma sosial, dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat.
2. Faktor pendukung (Enabling factor) antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, dan sumber
daya manusia.
3. Faktor pendorong (Reinforcing factor) yaitu faktor yang memperkuat perubahan perilaku seseorang yang
dikarenakan adanya sikap suami, orang tua, tokoh masyarakat atau petugas kesehatan.

d. Mengapa penyuluhan tidak berdampak pada perubahan perilaku?


Faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu penyuluhan kesehatan masyarakat dapat berasal dari
penyuluh, sasaran atau dalam proses penyuluhan itu sendiri.
Kemungkinan pada penyuluhan sebelumnya terdapat kekurangan pada faktor-faktor tersebut sehingga
tujuan dari penyuluhan tidak tercapai.

e. Bagaimana langkah-langkah melakukan observasi?


Langkah-langkah mengamati atau observasi adalah :
1. Menentukan objek apa yang akan diobservasi
2. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
3. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
4. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan
mudah dan lancar
6. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan,
kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

4. dr. Eny pernah membaca bahwa metode drama mungkin dapat mengubah perilaku cuci tangan pada
anak-anak. Akan tetapi dr. Eny tidak yakin apakah metode tersebut efektif dalam mengubah perilaku
anak-anak tersebut.
a. Apa perbedaan drama dengan penyuluhan, termasuk keunggulan dan kelemahan masing-masing?
Metode Keunggulan Kelemahan
Penyuluhan Efisien Kaku dan formal
Memunculkan kepercayaan secara langsung Kurang menarik
subjek penyuluhan Hasil penyuluhan sukar
Jika ada hal yang kurang jelas dapat ditanyakan untuk dinilai
langsung
Metode drama Dapat diterapkan pada kelompok kecil maupun Drama yang
kelompok besar disampaikan harus bisa
Lebih menarik dimengerti anak-anak.
Mengajak subjek untuk merasakan langsung

b. Metode apa yang dapat menilai efektifitas perubahan perilaku?


Penelitian pada kasus adalah penelitian intervensional dengan pendekatan uji quasi eksperimental.

5. Oleh karena itu dr. Eny ingin melakukan penelitian untuk menilai efektifitas sosialisasi dalam bentuk
drama terhadap perilaku cuci tangan pada anak.
a. Apa saja jenis-jenis penelitian?
1. Penelitian observasional
a. Laporan kasus dan seri kasus
Dari laporan kasus dan seri kasus kita tidak dapat menilai terdapatnya hubungan sebab-akibat, karena
dilakukan tanpa menggunakan kontrol. Bila pada laporan kasus dikemukakan adanya gejala efek sampign
terhadap sejenis obat baru, hal itu harus ditanggapi secara berhati-hati karena faktor peluang sangat besar.
b. Studi cross-sectional
Dalam penelitian cross-sectional peneliti melakukan obsevasi pengukuran variabel pada satu saat
tertentu, artinya semua subyek diamati tepat pada saat yang sama, tetapi tiap subyek hanya diobservasi satu kali
dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Pada studi cross-sectional peneliti
tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. Desain ini digunakan baik dalam studi klinis
dan lapangan, dan desain ini dapat digunakan pada penelitian deskriptif maupun analitik. Dalam penelitian
cross-sectional peneliti mencari hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel tergantung
(efek). Langkah-langkah pada studi cross-sectional yaitu:
Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
Mengidentifikasi variabel bebas dan tergantung
Menetapkan subyek penelitian
Melaksanakan pengukuran
Melakukan analisis
c. Studi kasus-kontrol
Pada studi kasus kontrol sekelompok kasus (yakni pasien yang menderita efek atau penyakit yang sedang
diteliti) dibandingkan dengan kelompok kontrol (mereka yang tidak menderita penyakit atau efek)/ Dalam studi
ini ingin diketahui apakah suatu faktor risiko tertentu benar berpengaruh terhadap terjadinya efek yang diteliti
dengan membandingkan kekerapan terhadap pajanan faktor risiko tersebut pada kelompok kasus dengan
kekerapan pajanan faktor risiko tersebut pada kelompok kontrol.
Langkah-langkah pada studi kasus-kontrol yaitu:
Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
Mendeskripsikan variabel penelitian, faktor risiko, dan efek
Menentukan populasi terjangkau dan sampel (kasus, kontrol), dan cara untuk
pemilihan subyek penelitian
Melakukan pengukuran variabel efek dan faktor risiko
Menganalisis data
d. Studi kohort
Pada penelitian kohort, yang diidentifikasi lebih dahulu adalah kausa atau faktor risikonya, kemudian
sekelompok subyek diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya
efek. Sedangkan pada studi kohort retrospektif peneliti mengidentifikasi faktor risiko dan efek pada kohort yang
terjadi di masa lalu.
Langkah-langkah pada studi kohort yaitu:
Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis
Menetapkan kohort
Memilih kelompok kontrol
enentukan variabel penelitian
Mengamati terjadinya efek
Menganalisis hasil
e. Meta-analisis
2. Penelitian eksperimental atau studi intervensional
a. Uji klinis
b. Intervensi

b. Desain penelitian apa yang paling tepat terhadap kasus ini?


Desain penelitian yang tepat untuk kasus ini adalah penelitian quasi eksperimental.
Quasi experiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini merupakan
pengembangan dari true experimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol
tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan
eksperimen. Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas berbagai variabel yang berpengaruh,
tetapi tidak cukup untuk melakukan eksperimen yang sesungguhnya. Dalam eksperimen ini, jika menggunakan
random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol

c. Bagaimana langkah-langkah penelitiannya?


Secara sistematis, langkah-langkah penelitian kuantitatif yaitu:
1. Melakukan kajian kepustakaan
2. Menjelaskan latar belakang masalah penelitian
3. Mengidentifikasi masalah penelitian
4. Membatasi masalah penelitian
5. Merumuskan masalah penelitian
6. Menjelaskan tujuan penelitian
7. Menguraikan manfaat penelitian
8. Menjelaskan keterbatasan penelitian
9. Menjelaskan landasan teori dan kerangka berpikir penelitian
10. Mengemukakan penelitian yang relevan
11. Merumuskan hipotesis atau pertanyaan penlitian (bila diperlukan)
12. Menjelaskan definisi operasional
13. Menetapkan jenis penelitian yang digunakan
14. Menetapkan area penelitian
15. Menetapkan populasi dan sampel
16. Menyusun instrumen penelitian
17. Uji coba instrumen: oleh penimbnag ahli, uji coba lapangan
18. Pengumpulan data
19. Mengolah dan menganalisis data
20. Menyusun laporan penelitian.

d. Apa latar belakang penellitiannya?


Latar belakang masalah merupakan bagian yang paling penting dari setiap usulan penelitian. Uraian
dalam latar belakang masalah hendaknya mencakup 4 hal yang lebih mudah diikuti bila disusun dalam urutan
sebagai berikut:
1. Pernyataan tentang masalah penelitian serta besaran masalah
2. Apa yang sudah diketahui (what is known)
3. Apa yang belum diketahui (what is not known knowledge gap)
4. Apa yang dapat diharap dari penelitian yang direncanakan untuk menutup knowledge gap tersebut.

Latar belakang pada kasus:


World Health Organization (WHO) tahun 2012 memperkirakan lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari
populasi dunia terinfeksi dengan cacing yang ditularkan melalui tanah. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah
dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah di mana parasit ini ditularkan secara intensif dan
membutuhkan pengobatan serta tindakan pencegahan. Di Indonesia penyakit infeksi yang disebabkan oleh
cacing masih tinggi prevalensinya yaitu 60% - 80%. Hal ini terjadi dikarenakan Indonesia berada dalam posisi
geografis yang temperatur dan kelembaban yang sesuai untuk tempat hidup dan berkembang biaknya cacing.
Pengaruh lingkungan global dan semakin meningkatnya komunitas manusia serta kesadaran untuk menciptakan
perilaku higiene dan sanitasi yang semakin menurun merupakan faktor yang mempunyai andil yang besar
terhadap penularan parasit ini. Penyakit infeksi kecacingan juga merupakan masalah kesehatan masyarakat
terbanyak setelah malnutrisi (Kep-Menkes, 2006).
Penyakit Kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah besar atau masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu kurang lebih antara 45-65 %,
bahkan diwilayah-wilayah tertentu yang sanitasi yang buruk prevalensi kecacingan bisa mencapai 80%. Cacing-
cacing yang menginfestasi anak dengan prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (ascaris lumbricoides),
cacing cambuk (trichuris trichiura), cacing tambang (necator americanus) dan cacing pita, kalau di diperhatikan
dengan teliti, cacing-cacing yang tinggal diusus manusia ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap
kejadian penyakit lainnya misalnya kurang gizi dengan infestasi cacing gelang yang suka makan karbohidrat dan
protein diusus sebelum diserap oleh tubuh, kemudian penyakit anemia (kurang kadar darah) karena cacing
tambang suka isap darah diusus dan cacing-cacing cambuk dan pita suka sekali mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak serta mempengaruhi masalah-masalah non kesehatan lainnya misalnya turunnya prestasi
belajar dan drop outnya anak SD. Masalah ini sering dikaitkan dengan kebiasan tidak mencuci tangan sebelum
makan (Sulistyorini, 2011).
Membiasakan perilaku mencuci tangan sebelum makan memang tidaklah mudah, apalagi orang yang
tidak biasa melakukannya. Mengubah perilaku tersebut dibutuh cara tersendiri sehingga dapat tertanam di alam
bawah sadar dan menjadi kebiasaan yang baik. Beberapa metode dapat digunakan untuk dapat membiasakan
perilaku sehat tersebut, antaranya dengan metode penyuluhan dan metode drama. Ke dua metode tersebut
dapat digunankan sebagai mediator perubahan perilaku, namun belum diketahui efektivitasnya. Maka dari itu,
berdasarkan latar belakang di atas saya ingin meneliti tentang perbedaan efektivitas sosialisasi metode
penyuluhan dan drama dengan perubahan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan pada anak-anak di
wilayah kerja Puskesmas Gandus.

e. Apa masalah utama penelitiannya?


Identifikasi masalah pada umumnya merupakan ringkasan uraian dalam latar belakang yang dibuat secara
padat, tajam, dan spesifik. Dengan ringkasan ini maka masalah penelitian menjadi jelas dan terlokalisasi, yang
sekaligus menjadi dasar bagi rumusan masalah atau pertanyaan penelitian.
Rumusan masalah penelitian ini mempunyai syarat sebagai berikut:
1. Rumusan masalah hendaknya disusun dalam kalimat tanya (interogatif); rumusan dalam kalimat tanya
sangat dianjurkan, karena lebih bersifat khas dan tajam; karena itu rumusan masalah disebut pula
sebagai pertanyaan penelitian (Research question). Dengan rumusan dalam bentuk kalimat tanya,
masalah penelitian lebih terfokus, spesifik, dan tajam.
2. Substansi yang dimaksud hendaknya bersifat khas, tidak bermakna ganda.
3. Bila terdapat banyak pertanyaan penelitian, maka tiap pertanyaan harus diformulasikan terpisah, agar
setiap pertanyaan dapat dijawab secara terpisah pula.

Rumusan masalah pada kasus:


Apakah metode drama lebih efektif untuk merubah perilaku cuci tangan pada anak-anak di wilayah kerja
Puskesmas Gandus dibandingkan dengan metode penyuluhan lain?

f. Apa tujuan penelitiannya?


Tujuan dalam penelitian dibuat berdasarkan rumusan masalah yang kita buat. Biasanya uraian tentang
tujuan penelitian ini mencakup tujuan umum serta tujuan khusus. Didalam tujuan umum dinyatakan tujuan
akhir penelitian. Tujuan umum biasanya mengacu pada aspek yang lebih luas atau tujuan jangka panjang
penelitian, tidak terbatas pada hal-hal yang langsung diteliti atau diukur.
Dalam tujuan khusus disebutkan secara jelas dan tajam hal-hal yang akan langsung diukur, dinilai, atau
diperoleh dari penelitian. Tujuan umum dan khusus yang hanya terdiri atas satu atau dua butir saja mungkin
cukup ditulis secara naratif dalam satu kalimat. Tetapi apabila terdapat banyak butir dan sub-butir maka tujuan
umum dan khusus perlu dipisahkan.

Tujuan penelitian pada kasus:


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas sosialisasi dalam bentuk metode drama terhadap perilaku cuci tangan
pada anak-anak di wilayah kerja Puskesmas Gandus dibandingkan dengan metode penyuluhan lain.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui efektifitas metode drama terhadap perilaku cuci tangan pada anak-anak di wilayah kerja
Puskesmas Gandus.
b. Mengetahui efektifitas metode penyuluhan lain terhadap perilaku cuci tangan pada anak-anak di
wilayah kerja Puskesmas Gandus.
c. Mengetahui keunggulan dan kekurangan dari metode drama dan metode penyuluhan lain.

Manfaat penelitian pada kasus:


1. Bagi peneliti
Mengetahui efektifitas sosialisasi metode drama terhadap perilaku cuci tangan pada anak-anak.
2. Bagi pelayanan kesehatan
Mengubah pola edukasi penyuluhan cuci tangan menggunakan metode drama.
3. Bagi masyarakat
Untuk mengurangi angka kejadian cacingan pada anak-anak.

g. Apa metode penelitiannya? Penelitian eksperimental/intervensi

h. Bagaimana menentukan populasi dan sampel serta cara pengambilan sampel?


Populasi dalam penelitian adalah sekelompok subyek dengan karakteristik tertentu. Cara
menentukan populasi:
Populasi target adalah populasi yang merupakan sasaran akhir penerapan hasil penelitian;
sementara ahli menyebutnya ranah atau domain. Populasi target bersifat umum yang pada
penelitian klinis biasanya ditandai dengan karakteristik demografis (misalnya kelompok usia, jenis
kelamin) dan karakteristik klini (misalnya sehat, OA).
Populasi terjangkau disebut pula populasi sumber adalah bagian populasi target yang dapat
dijangkau oleh peneliti. Contoh: Pasien Morbus Hansen yang berobat di RSMH pada tahun 2011.
Dengan kata lain populasi terjangkau adalah bagian populasi target yang dibatasi oleh tempat dan
waktu. Dari populasi terjangkau ini dipilih sampel, yang terdiri atas subyek yang akan langsung
diteliti
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasinya.
A. Probability sampling
Prinsipnya adalah bahwa setiap subyek dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih
sebagai sampel penelitian.
1. Simple random sampling; kita hitung terlebih dahulu jumlah subyek dalam populasi terjangkau yang
akan dipilih subyeknya sebagai sampel penelitian. Setiap subyek diberi nomor, dan dipilih sebagian dari
mereka
2. Systematic random sampling; ditentukan bahwa dari seluruh subyek yang dapat dipilih, setiap subyek
nomor ke-sekian dipilih sebagai sampel.
3. Stratified random sampling; sample dipilih secara acak untuk setiap strata, kemudian hasilnya dapat
digabungkan menjadi satu sampel yang terbebas dari variasi untuk setiap strata.
4. Cluster sampling; sampel dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara
alamiah.

B. Non-probability sampling
Merupakan cara pemilihan sampel yang lebih praktis dan mudah dilakukan.
1. Consecutive sampling; semua subyek datang berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan
dalam penelitian sampai jumlah subyek terpenuhi.
2. Convenient sampling; sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dapat dianggap dapat
mewakili populasi terjangkau.
3. Purposive sampling; peneliti memilih responden berdasarkan pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa
responden tersebut dapat memberikan informasi yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Rancangan eksperimen semu (quasi experiment)


1. Rancangan eksperimen ulang non random (non randomized pretest-postest with control group design)
Rancangan ini mirip dengan eksperimen ulang (pretest-postest with control group design), hanya saja
pembagian subjek dalam kelompok tidak dilakukan secara acak, sehingga pengendalian terhadap variable
pengganggu sangat lemah.

2. Rancangan eksperimental seri (time series design)


Rancangan ini memugkinkan observasi pengukuran dilakukan beberapa kali pada subjek, baik sebelum maupun
setelah perlakuan. subjek perlakuan sekaligus sebagai kontrol

3. Rancangan eksperimental seri ganda (multiple time series design)


Rancangan ini merupakan pengembangan dari rancangan eksperimental seri, sehingga lebih kuat dalam
mengendalikan variable perancu.

Rancangan eksperimen murni (true experiment)


1. Rancangan eksperimen sederhana (posttest only with control group design)
Pada rancangan ini, terdapat randomisasi pada pengelompokan subjek. Kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol dapat lebih dari satu kelompok. Kelompok perlakuan dapat berupa kelompok yang diberi perlakuan
dengan dosis bertingkat atau kombinasi perlakuan berbeda. Kelompok kontrol juga dapat berupa kontrol positif
dan negatif. Pada waktu tertentu setelah perlakuan diberikan, pengukuran dilakukan pada semua kelompok
yang dibandingkan. Perbedaan hasil pengukuran antar kelompok menunjukkan efek perlakuan. Rancangan ini
paling praktis sederhana dan cukup adekuat karena sudah dilakukan randomisasi dan adanya kelompok
pembanding.

2. Rancangan eksperimen ulang (pretest-posttest with control group design)


Rancangan ini merupakan pengembangan dari rancangan eksperimen sederhana. Pengukuran dilakukan pada
dua kelompok, sebelum (O1 dan O3) dan setelah periode perlakuan (O2 dan O4), sehingga diperoleh empat
hasil pengukuran.

3. Rancangan eksperimen salomon (salomon four group design)


Rancangan ini merupakan pengembangan rancangan eksperimen sebelumnya. Kelompok subjek dibagi menjadi
empat kelompok secara acak. Pada kelompok saru dan dua dilakukan pengukuran awal, sedangkan pada
kelompok tiga dan empat tidak dilakukan pengukuran awal. Semua variable perancu dikendalikan dalam
rancangan model ini, namun rancangan ini kurang praktis.
Penentuan jumlah sampel (sampling) dalam penelitian ini menggunakan metode restriksi yaitu
penerapan kriteria pembatasan dalam memilih subjek penelitian. Restriksi digunakan pada studi observasional
maupun eksperimental. Tujuan restriksi adalah; (1) memudahkan pelaksanaan penelitian, dan (2) mengontrol
faktor faktor perancu.

Besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus perhitungan sampel pada
studi kasus kontrol yaitu: n (Z + Z)/(P1-P2)

Keterangan: n = jumlah sampel Z = nilai standart pada = 0,05, yaitu 1,96 Z = nilai standart pada power yang
digunakan (80 %), yaitu 0,84
= nilai yaitu, 5,8 berdasarkan penelitian sejenis yang dilakukan Porru, et.al. (2001) P1&P2= proprorsi kasus
diambil dari penelitian yang sejenis

i. Bagaimana cara pengumpulan data dan analisis data?


Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan
penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
pertanyaan penelitian. Metode pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara:
1. Wawancara
2. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak
dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian. Dalam penelitian observasi dibutuhkan untuk
dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya.
Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek,perilaku subjek selama wawancara,
interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data
tambahan terhadap hasil wawancara. Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari,
aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat
dari perpektif mereka.

Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya :


1. Data primer
b. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan. Data
yang di hasilkan adalah data yang kualitatif.
c. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara
lisan, biasanya dilakukan jika ingin diketahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden.
d. Kuesioner
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk di jawab.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil dari hasil pengumpulan orang lain, contohnya: data yang dimiliki
suatu perusahaan atau data BPS.

Teknik pengumpulan data penelitian kuantitatif:


1. Kuisioner, yang berarti suatu rangkaian pertanyaan yang berhubungan dnegan topik tertentu diberikan
kepada sekelompok individu dengan maksud untuk memperoleh data.
2. Skala: skala Likert, skala Thurstone, skala Guttman, skala perbedaan semantik.
3. Tes

Teknik pengumpulan data penelitian kualitatif:


1. Wawancara
2. Observasi
a. Participant observer (pengamat terlibat langsung)
b. Non-participation observer (pengamat tidak terlibat secara langsung)
3. Dokumen, merupakan catatan atau karya seseorang tentang sesuatu yang sudah berlalu. Dokumen dapat
berbentuk teks tertulis, artefak, gambar, foto, biografi, atau cerita.

Dalam analisis data dibedakan tingkatannya, yaitu : analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis
univariat merupakan analisis setiap variabel yang dinyatakan dengan sebaran frekuensi, baik secara
angka-angka mutlak maupun secara persentase, disertai dengan penjelasan kualitatif

Analisis data dengan Uji T Berpasangan.

j. Bagaimana cara membuat kesimpulan dan saran hasil penelitian?


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kemudian dibuat jawaban terhadap tujuan yang telah dirumuskan oleh peneliti
sebelumnya.
2. Saran
Saran hanya berisi rekomendasi yang dirumuskan oleh peneliti namun bukan untuk menjawab permasalahan
dalam pokok penelitian, saran dirumuskan berdasarkan penelusuran yang menurut penulis dapat bermanfaat
secara praktis maupun bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

k. Bagaimana cara penulisan laporan ilmiah yang baik?


Berikut ini adalah pedoman penulisan artikel ilmiah hasil penelitian untuk dipublikasikan :
1. Judul dan Nama Peneliti
Judul artikel dan nama peneliti diberi catatan kaki yang menunjukkan sumber biaya penelitian dan nama
peneliti diberi catatn kaki yang menunjukkan Perguruan Tinggi tempat peneliti bekerja.
2. Urutan Materi:
Judul artikel (dan terjemahannya dalam bahasa Inggris)
Nama Peneliti
Abstrak (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris)
Pendahuluan (termasuk perumusan masalah, tinjauan pustaka, tujuan, dan hal-hal lain yang
dianggap perlu).
Metode Penelitian
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Ucapan terima kasih kepada Sumber dana Kelembagaan (Acknowledgement).
Daftar Pustaka; Disusun dengan sistem nama dan tahun, dengan urutan-urutan alfabet
pengarang, tahun penelitian, judul tulisan dan sumber.
Lampiran
3. Gambar
Gambar atau foto dapat disertakan apabila benar-benar dirasakan penting.
4. Pengetikan
Artikel lazimnya diketik dengan 1,5 spasi, kertas HVS kwarto. Maksimum jumlah halaman artikel
(beserta lampiran) 15 halaman.
5. Untuk memudahkan administrasi, lampirkan sistematika kulit muka laporan penelitian.

l. Bagaimana hipotesis penelitian pada kasus ini?


Formula hipotesis yang baik harus memenuhi persyaratan berikut:
1. Dinyatakan dalam kalimat deklaratif yang jelas dan sederhana, tidak bermakna ganda.
2. Mempunyai landasan teori yang kuat. Hipotesis tidak serta merta dating dengan sendirinya, namun harus
dibangun atas dasar teori, pengalaman, serta sumber ilmiah lain yang sahih.
3. Menyatakan hubungan antar variabel tergantung dengan satu atau lebih variabel bebas. Kadang hipotesis
menyatakan hubungan antara beberapa variabel bebas dengan satu variabel tergantung, missal pada studi
factor-faktor risiko dengan analisis multivariate. Namun dalam satu hipotesis hanya boleh terdapat satu
variabel tergantung. Hipotesis dengan lebih dari satu variabel tergantung (disebut sebagian hipotesis yang
kompleks) harus dipecah menjadi dua atau lebih hipotesis sederhana.
Hipotesis pada kasus:
Metode drama lebih efektif untuk merubah perilaku cuci tangan pada anak-anak di wilayah kerja Puskesmas
Gandus.

m. Apa jenis-jenis variabel dan variabel apa yang digunakan pada kasus ini?
Berdasarkan fungsinya dalam konteks penelitian, khususnya dalam hubungan antar-variabel, terdapat beberapa
jenis variabel yaitu:
1. Variabel bebas (independen) dan variabel tergantung (dependen)
Variabel bebas adalah variabel yang apabila ia berubah akan mengakibatkan perubahan pada variabel
tergantung.
2. Variabel perancu
Variabel perancu adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas dan variabel tergantung tetapi
bukan merupakan variabel antara.

Variabel penelitian pada kasus adalah:


1. Variabel dependen: perilaku cuci tangan
2. Variabel independen: metode drama dan metode penyuluhan

n. Bagaimana definisi operasional pada kasus ini?


No Variabel Definisi Operasional Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
1 Dependen proses yang secara mekanis Panduan Observasi 1. Cuci tangan Nominal
Cuci tangan melepaskan kotoran dan debris WHO 2. Tidak cuci
dari kulit tangan dengan tangan
menggunakan sabun biasa dan
air yang mengalir
2 Independen suatu cara penguasaan - Observasi 1. Berhasil Nominal
Metode apengetahuann melalui 2. Tidak berhasil
drama pengembangan imajinasi dan
penghayatan memerankan
dalam sebuah siatusi dalam
kehidupan dengan atau tanpa
latihan
3 Independen penambahan pengetahuan dan - Observasi 1. Berhasil Nominal
Penyuluhan kemampuan seseorang melalui 2. Tidak
tehnik praktek belajar atau berhasil
instruksi dengan tujuan
mengubah atau mempengaruhi
perilaku manusia secara individu,
kelompok maupun masyarakat

o. Bagaimana pandangan islam pada kasus ini?


Hadits riwayat Thabraani, "Sesungguhnya Allah membangun Islam di atas kebersihan. Dan tidak akan
masuk surga kecuali orang-orang yang memelihara kebersihan."
Nafi mengatakan, bahwa Ibnu Umar jika ingin tidur atau ingin makan dalam kondisi junub maka beliau
membasuh wajah dan kedua tangannya sampai siku dan mengusap kepala. (baca: berwudhu) sesudah itu beliau
baru makan atau tidur. (HR Malik, no. 111)
Aisyah radhiyallahuanha mengatakan, bahwa Rasulullah bila hendak tidur dalam keadaan junub maka
beliau berwudhu terlebih dahulu, dan apabila beliau hendak makan maka beliau mencuci kedua tangannya
terlebih dahulu. (HR Nasai no. 256, Ahmad, 24353, dan lain-lain)

2.3 Kesimpulan
Desain penelitian yang cocok untuk mengetahui efektivitas drama dalam mengubah perilaku cuci tangan
anak-anak adalah desain studi eksperimental atau intervensi.

2.4 Kerangka Konsep


Tingginya kasus cacingan perilaku cuci tangan buruk penyuluhan tidak berhasil

Dasar mengetahui efektivitas metode drama mengubah perilaku mencuci tangan untuk mencegah cacingan

Penelitian eksperimental/ intervensi

Laporan penelitian