Anda di halaman 1dari 9

Golongan Oksigen dan Senyawanya

Oleh:
1. Widia Nailul Muna (1606832183)
2. Yoga Romdoni (1606833886)
3. Albertus William Winata (1606889875)
4. Ilmi Fadilah Rizki (1606958802)
5. Nurjannah (1606958916)
6. I Gede Wibawa Putra (1606824231)
7. Sekar Ayu Padmadhani (1606904056)
8. Alif Putra Banyuaji (1606888941)
9. Muhammad Rizky (1606839403)
10. Herland Satriawan (1606904296)
11. Dzaki Pradiata (1606886261)

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI KIMIA
DEPOK
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis sehingga makalah Tugas-1 Golongan Oksigen dan Senyawanya ini dapat
diselesaikan. Makalah ini adalah bagian dari perkuliahan Kimia Logam dan Non Logam yang
diampu oleh dosenDr. Yuni Krisyuningsih S.Si., M.Sc dan Aminah M.Sc., Ph.D pada Program
Studi Kimia, Universitas Indonesia.
Penulis berharap, semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan para pembaca
mengenai sifat dan karakteristik dari unsur golongan oksigen, oksida senyawa oksigen dan
senyawa kluster dan cincin.
Keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis sehingga masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................... 4
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 10
2.1 Oksigen dan Proses Rekoverinya ............................................................................... 10
2.2 Senyawa Oksigen ........................................................................................................ 10
2.3 Oksida Halida dan Oksida Unsur Blok P.................................................................... 11
2.4 Okso dan Peroksoanion .............................................................................................. 11
2.5 Senyawa Oksida, Sulfida, Selenida dan Telorida Logam ........................................... 13
2.6 Senyawa Cincin dan Kluster Blok P ........................................................................... 14
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 15
3.1 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 4
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 16
A. Oksigen dan Proses Rekoverinya

Terdapatnya oksigen

Oksigen merupakan unsur ketiga paling banyak di alam semesta setelah hidrogen dan helium.
Hal ini disebabkan karena oksigen terbentuk dalam bintang dalam siklus fusi karbon-nitrogen.
Di bumi oksigen menyusun sekitar 21% dari total atmosfer bumi dan hampir setengah total
massa kerak bumi. Oksigen juga menyusun dua pertiga dari massa tubuh manusia dan
sembilan dari sepuluh massa air. Selain itu, oksigen merupakan unsur ketiga terbanyak di
matahari dan unsur terbanyak di permukaan bulan.

Dalam atmosfer, oksigen umumnya merupakan gas diatomik tak berwarna dan tak berbau,
tetapi ada juga oksigen triatomik (ozon) yang membentuk lapisan ozon. Dalam kerak bumi,
oksigen umumnya berbentuk oksida yang berikatan dengan unsur lain, seperti silikon,
aluminium dan besi. Oksigen berikatan dengan hidrogen membentuk air, senyawa yang sangat
krusial untuk kehidupan di bumi. Oksigen juga menyusun sebagian besar senyawa organik,
terutama pada senyawa penyusun makhluk hidup.

Proses rekoveri oksigen dan senyawanya

Ketika awalnya ditemukan pada 1774 oleh Joseph Priestley, proses rekoveri atau ekstraksi
oksigen dilakukan dengan memanaskan senyawa merkuri oksida (HgO) dengan bantuan sinar
matahari yang difokuskan ke sampel senyawa, kemudian gas hasil pemanasan dikumpulkan
lalu dianalisa.

Oksigen murni (dalam bentuk gas diatomik) untuk skala industri dapat dihasilkan dari distilasi
udara yang dicairkan dan elektrolisis air. Dalam proses distilasi, udara didinginkan hingga cair,
kemudian dengan memanfaatkan perbedaan titik didih, gas oksigen dapat dipisahkan dari gas
lainnya seperti gas nitrogen. Dalam proses elektrolisis, air dialiri arus listrik kuat yang
kemudian memutuskan ikatan antara hidrogen dengan oksigen dan membentuk gas hidrogen
dan gas oksigen, yang kemudian dikumpulkan.

Gas oksigen dapat dihasilkan pula dari hasil fotosintesis tumbuhan dan fitoplankton dimana
gas karbondioksida dan air direaksikan dengan bantuan cahaya untuk menghasilkan glukosa
dan gas oksigen.

B. Senyawa Oksigen
C. Oksida Halida dan Oksida Unsur Blok P

Walaupun dikenal banyak oksida biner halogen (terdiri hanya atas halogen dan
oksigen), sebagian besar senyawa ini tidak stabil. Oksigen difluorida OF2 merupakan
senyawa oksida biner halogen yang paling stabil dengan titik leleh = -224oC dan titik
didih = -145oC, senyawa ini terbentuk dari fluorin dan hidroksida, dengan reaksi :
2F2(g) + 2OH-(aq) OF2(g) + 2F-(aq) + H2O(l)
Senyawa ini adalah bahan fluorinasi yang sangat kuat dan dapat menghasilkan
plutonium heksafluorida PuF6 dari logam plutonium. Senyawa ini murni bertahan
dalam fase gas di atas suhu kamar dan tidak bereaksi dengan kaca.
Sementara oksigen khlorida, Cl2O, digunakan untuk memutihkan pulp dan pemurnian
air. Senyawa ini dihasilkan in situ dari ClO3 karena tidak stabil. Asam hipokhlorit,
HClO, asam khlorit, HClO2, asam khlorat, HClO3, dan asam perkhlorat, HClO4 adalah
asam okso khlorin dan khususnya asam perkhlorat adalah bahan pengoksidasi kuat
sekaligus asam kuat. Walaupun asam dan ion analog dari halogen lain telah dikenal
lama, BrO4 baru disintesis tahun 1968. Sekali telah disintesis ion ini tidak kurang stabil
dibandingkan ClO4 atau IO4, menyebabkan orang heran mengapa tidak disintesis orang
sebelumnya. Walaupun ClO4sering digunakan untuk mengkristalkan kompleks logam
transisi, bahan ini eksplosif dan harus ditangani dengan hati-hati.

D. Okso dan Peroksoanion


E. Senyawa Oksida, Sulfida, Selenida dan Telurida Logam

Metal Oksida

Molekul O2 secara alamiah akan segera melepas elektron dari metal untuk berikatan dan
membentuk senyawa baru yaitu oksida metal yang mengandung atom O yang memiliki nilai
1
biloks beragam, yaitu -2 (oksida), -1 (peroksida), dan (superoksida).
2
Meskipun pembentukan O2-(g) dari O2(g) lebih rasional berdasarkan konfigurasi elektron gas
mulia, namun pemebntukannya bersifat sangat endotermik sehingga ion ionnya distabilkan
dalam bentuk padatan (solid). Hal ini akan lebih dijelaskan pada materi tentang logam alkali
dan alkali tanah.
Oksigen bebas di udara bergerak sangat bebas dan sangat cepat sehingga ketika mereka
menemukan permukaan logam yang atomnya masih bersih, maka atom atom oksigen ini
akan dengan segera melapisi permukaan logam tersebut. Hal inilah yang menyebabkan
perkaratan pada logam.
Tren struktural dalam oksida logam sebenarnya tidak mudah untuk disimpulkan, namun untuk
oksida dimana logam yang memiliki bilangan oksidasi +1, +2, atau +3, ion O umumnya berada
di tempat koordinasi tinggi dengan jumlah :
M(I) atau (M+) : secara umum berbentuk M2O, oksida berbentuk struktur rutile atau
antifluorite dengan koordinasi (6,3) dan (8,4).
M(II) atau (M2+) : secara umum berbentuk MO, oksida berbentuk struktur rock-salt
dengan koordinasi (6,6).
M(III) atau (M3+) : secara umum berbentuk M2O3, oksida berbentuk struktur koordinasi
(6,4).
Dalam kondisi ekstrem, akan terbentuk MO4 yang terbentuk dari peroksida dengan M4+.
Contohnya adalah OsO4 yang berbentuk senyawa tetrahedral.
Pada umumnya, struktur ikatan oksida dengan metal yang memiliki biloks tinggi atau ikatan
oksida dengan unsur nonmetal seringkali memiliki ikatan rangkap dua. Penyimpangan struktur
ini biasa terjadi pada logam blok p, dimana pembentukan struktur oleh ion dari O2- disekitar
logam berbentuk kurang simetris yang dikenali dari keberadaan pasangan elektron bebas
dalam stereokimia senyawa tersebut. Contohnya dalam senyawa PbO.
Struktur lain yang biasanya terbentuk antara oksida dengan nonlogam atau logam
berbiloks tinggi adalah terbentuknya jembatan atom oksigen, E O E, yang berbentuk
linear ataupun bersudut.

Metal Sulfida, Selenida dan Telurida

A. Metal Sulfida
Banyak logam yang terjadi secara alami sebagai bijih sulfidenya. Bijih sulfide
dipanaskan di udara membentuk oksida. Logam Sulfida dapat disiapkan di
laboratorium atau industry dengan beberapa metode yaitu kombinasi langsung
unsur unsrunya, reduksi dengan sulfat atau presipitasi sulfide yang tidak larut
dalam larutan penambahan H2S.

Kelarutan sulfide logam sangat bervariasi. Group 1 dan 2 sulfidanya larut


sedangkan sulfide dari group 11 dan 12 paling tidak larut. Variasi ini
memungkinkan terjadinya pemisahan selektif logam berdasarkan kelarutan sulfide.
Group 1 sulfida, M2S mengadopsi bentuk struktur antiflorit
Group 2 dan beberapa elemen blok f membentuk monosulfida dengan struktur
NiAs
Grup dengan unsur yang lebih berat membentuk struktur zinc blende yang
lebih besar

B. Metal Selenida, Telurida dan Polonida


Group 1 dan 2 selenida, telurida dan polonida disiapkan dengan interaksi
langsung dengan ammonia cair
Group 1 dan 2 selenida dan telurida adalah padatan yang larut dalam air dan
cepat teroksidasi di udara membentuk unsur stabil
Selenida dan telurida dari Logam Li, Na dan K mengadopsi struktur antiflorit
Selenida, tellurides, dan polonida dari logam blok d juga dipersiapkan dengan
cara interaksi langsung unsur-unsur dan nonstoikiometri. Dua contoh adalah
senyawa dari perkiraan stoikiometri Ti2Se dan Ti3Se.
F. Senyawa Cincin dan Kluster Blok P
Blok-p adalah pengelompokan unsur-unsur yang memiliki elektron valensi pada
subkulit p (ns2 np1-6). Seperti yang diketahui bahwa subkulit p memiliki tiga buah
orbital dengan maksimum jumlah elektron yang dapat diisi adalah enam elektron.
Berdasarkan penjelasan tersebut, terdapat 6 golongan yang termasuk pada blok p
dimulai dari golongan 13 sampai 18. Namun, masing-masing unsur dalam setiap
golongan memiliki sifat fisika (jari-jari atom dan ion, entalpi ionisasi, dll) dan sifat
kimia yang beda. Salah satu perbedaannya adalah memiliki jumlah maksimum
keadaan oksidasi (oxidation state) pada unsur blok-p sama dengan jumlah elektron
valensinya (total elektron pada subkulit s dan p). Selain itu, unsur-unsur pada blok-p
dapat membentuk senyawa cincin dan senyawa klaster yang akan dijelaskan pada
makalah ini.
Senyawa cincin atau senyawa siklik adalah istilah yang digunakan untuk
senyawa kimia yang tersusun dari beberapa atom yang tergabung membentuk
sebuah cincin. Senyawa ini merupakan senyawa penting dalam ilmu kimia. Benzena
adalah salah satu contoh senyawa siklik yang paling dikenal yang biasa disebut
sebagai senyawa aromatik siklik. Selain benzena, sikloalkana yang salah satu
contoh senyawa siklik yang terkenal yang membentuk rangkaian homolog yang
dikenal dengan alisiklik. Beberapa material yang diperoleh dengan menggunakan
senyawa siklik sebagai prekursor adalah polietilena, polistirena, poliisoprena (karet
alam) dan polivinil klorida (PVC). Material ini didapatkan dari berbagai proses;

Gambar. Ikatan Rantai Panjang (Chain)

reaksi radikal bebas, anionik, kationik atau polimerisasi organometalik, atau dengan
reaksi kondensasi. Namun, pembahasan makalah ini akan lebih menekankan
mengenai senyawa inorganik monosiklik yang terdapat pada unsur-unsur blok-p.
Selain senyawa siklik, senyawa kluster juga dapat terdapat unsur-unsur blok-p.
Unsur-unsur yang termasuk dalam blok-p adalah salah satunya ada setiap unsur
pada golongan 16 (O, S, Se, Te, dan Po). Pada golongan 16, senyawa cincin atau
siklik tergolongan sebagai anionik atau kationik. Namun, pembentukan senyawa
sikilk heteroatom netral dapat juga terbentuk dengan penggabungan dengan
unsurunsur blok-p lainnya.
Salah satu contohnnya adalah
unsur belerang (S) dapat
membentuk berbagai asam
politionat H2SnO6 dengan jumlah
S maksimum 6 atom seperti pada
ion tetrationat S4O62- dan
pentationat S5O62-. Sebagian
besar polisulfida dikelompokkan
sebagai unsur yang elektropositif,
yang memiliki ion Sn2- (nilai n Gambar. Ikatan cincin pada ion Se112-
berkisar antara 2 sampai 6).
Poliselenida dan politelurida dalam ukuran yang kecil memiliki struktur yang
menyerupai polisulfida (rantai panjang). Pada poliselenida, semakin besar molekul
tersebut, maka ion akan
membentuk senyawa cincin,
sebagai contoh pada ion Se112-,
dimana satu atom Se menjadi
pusat antara 2 cincin yang
terbentuk dari 6 atom Se yang
membentuk segiempat planar.
(Lihat Gambar). Sedangkan pada
politelurida, ion akan membentuk
bisiklik, yaitu pada Te72- (Lihat Gambar. Ikatan cincin pada ion Se42+
Gambar).
Pada kebanyakan senyawa rantai panjang, senyawa cincin, dan senyawa kluster
dari unsur blok-p mengandung unsur S, Se, atau Te atau disimbolkan dengan E. Ion
E42+ distabilkan dengan adanya penempatan orbital molekular. Masing-masing atom
E pada E42+ memiliki 6 elektron valensi, sehingga total elektron pada ion tersebut
adalah 24 2 = 22 elektron. Terdapat 2 pasangan elektron bebas pada masing-
masing atom E, yang memberikan 6 elektron untuk menempati orbital molekul yang
tersedia.
Salah satu contoh, senyawa cincin heteroatomic netral dan senyawa kluster
unsur blok-p adalah tetrasulfurtetranida siklik, S4N4 yang terurai secara eksplosif
(membentuk ledakan). Disulfurdinitrida. S2N2 memiliki sifat yang kurang stabil
namundapat dipolimerisasi untuk membentuk polimer superkonduktor, (SN)n, yang
stabil sampai suhu 240C

Gambar. Contoh senyawa cincin dan senyawa kluster

Unsur-unsur yang menjadi bagian pada blok-p, juga dapat membentuk senyawa
kluster yang merupakan gabungan dari beberapa atom atau molekul. Senyawa kluster
memiliki ukuran berkisar antara sebuah molekul dan sebuah padatan (bulk). Salah satu
senyawa klaster yang berasal dari golongan 16 adalah realgar (As4S4) dan orpiment
(As2S3), senyawa ini banyak ditemukan pada batuan tambang. Senyawa ini terdiri dari
sejumlah besar senyawa padatan yang terbuat dari logam berat seperti perak atau timbal
yang biasanya dihubungkan oleh arsenik trivalen atau pentavalen; atau sulfida antimon.
Senyawa kluster pada golongan 16 memiliki beberapa senyawa kimia yang menarik.
Pada senyawa golongan 16 pada umumnya akan membentuk kluster anion. Kluster
anion ini akan membentuk senyawa kompleks pada fase padat dengan unsur yang lebih
lunak yaitu timbal, perak dan merkuri. Kemungkinan tingkat konektivitas yang tinggi
pada kluster ini menyebabkan ikatan yang kuat, struktur yang padat dan sangat
kompleks. Ikatan ini menyebabkan padatan yang sangat stabil, sehingga sering
ditemukan pada batuan tambang.