Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penulisan biografi, khususnya biografi tokoh-tokoh lokal menjadi penting,

sebagai upaya untuk mendokumentasikan perjalanan hidup tokoh-tokoh lokal

yang memiliki andil dalam pembangunan daerah. Perjalanan hidup tokoh-tokoh

lokal ini mengiringi perjalanan sejarah daerah, di mana para tokoh ini mengabdi.

Perjalanan hidup tersebut kemudian ditulis dan diriwayatkan dalam sebuah

biografi.

Menurut Kuntowijoyo (2003:203), biografi atau catatan tentang hidup seseorang

itu, meskipun sangat mikro, menjadi bagian dalam mosaik sejarah yang lebih

besar. Biografi dapat digunakan untuk memahami para pelaku sejarah, dan zaman

yang menjadi latar belakang biografi, lingkungan sosial-politiknya. Biografi yang

baik adalah biografi yang memperhatikan empat hal, yaitu kepribadian tokohnya,

kekuatan sosial yang mendukung, lukisan sejarah zamannya, serta keberuntungan

dan kesempatan yang datang.

Sebuah biografi yang baik juga melihat adanya pengaruh latar belakang

keluarga, pendidikan, lingkungan sosial-budaya, dan perkembangan diri dalam

kehidupan tokoh yang menjadi objek tulisan biografi. Penting juga untuk

diceritakan mengenai tikungan-tikungan yang menentukan jalan hidup

selanjutnya dan membawa perubahan penting dalam hidup tokoh yang menjadi

objek tulisan biografi. Hal yang tidak kalah penting adalah melukiskan zaman

yang memungkinkan seseorang muncul jauh lebih penting daripada pribadi atau
kekuatan sosial yang mendukung. Namun, banyak pula biografi yang tidak

mencantumkan moment of truth itu.

Bertolak dari kenyataan tersebut, maka penulisan biografi dianggap

penting sebagai salah satu sarana memperkenalkan tokoh-tokoh lokal dan sejarah

lokal sebuah daerah. Penulisan sejarah yang selama ini terkesan sentralistik

mengakibatkan banyak tokoh lokal yang memiliki andil besar dalam

pembangunan tidak mendapat tempat dalam penulisan sejarah.

Setelah Orde Baru runtuh dan digantikan oleh Orde Reformasi,

sentralisasi penulisan sejarah perlahan mulai mengalami perubahan. Kajian-

kajian sejarah lokal khususnya biografi tokoh lokal mulai mendapat tempat dalam

penulisan sejarah. Perubahan tersebut melahirkan banyak karya sejarah

khususnya biografi tokoh lokal.

Sejalan dengan perubahan tersebut, penulisan biografi tokoh lokal di

Sulawesi Tengah mulai marak dilakukan. Kebanyakan karya biografi yang ditulis

adalah biografi kolektif (prosopography). Objek penulisan biografi kolektif

tersebut sebagian besar adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

(DPRD) tingkat provinsi maupun kabupaten dan tokoh pahlawan lokal.

Penulisan biografi/prosopografi tokoh lokal di Sulawesi Tengah tidak

hanya dilakukan oleh sejarawan. Banyak biografi/prosopografi tokoh lokal

Sulawesi Tengah yang justru ditulis oleh kalangan akademisi dari disiplin ilmu

yang lain seperti; ilmu politik, sosiologi, agama, dan lain-lain. Ada juga

biografi/prosopografi tokoh lokal Sulawesi Tengah yang ditulis oleh kalangan


jurnalis. Karya dari kalangan non sejarawan tersebut dapat menjadi sumber

sejarah namun tidak dapat dikategorikan sebagai karya sejarah karena tidak

menggunakan metode sejarah.

Penulisan sejarah (biografi adalah salah satu corak penulisan sejarah)

nasional masih bersifat diskriminatif terhadap tokoh-tokoh yang menganut paham

Marxis-Leninisme atau paham komunis, menjadi anggota/simpatisan PKI dan

organisasi underbouwnya, atau mereka yang terlibat atau dilibatkan dengan

Gerakan Tiga Puluh September (G30S) 1965. Mereka seakan tidak mendapat

tempat dalam penulisan sejarah. Hal tersebut juga terjadi dalam penulisan sejarah

lokal khususnya biografi tokoh lokal di Sulawesi Tengah. Para tokoh yang

sebenarnya memiliki andil dan jasa dalam pembangunan daerah, namun karena

menganut paham Marxis-Leninisme, menjadi anggota/simpatisan PKI dan

organisasi underbouwnya, atau yang terlibat/dilibatkan dalam Gerakan Tiga

Puluh September (G30S) 1965, kiprah dan sepak terjang mereka tidak pernah

ditulis untuk diketahui oleh masyarakat. Stigmatisasi tersebut mengakibatkan

nama mereka tenggelam seiring dengan proses pelupaan massal yang dilakukan

oleh pemerintah dan pengingatan akan kejahatan dan kebiadaban yang sebagian

besar di antara mereka tidak pernah melakukannya.

Abdul Rahman Dg. Maselo merupakan salah satu dari sekian banyak

tokoh lokal yang menjadi korban stigmatisasi tersebut. Jabatannya sebagai

Sekretaris Pertama Comitte Daerah Besar (CDB) PKI Sulawesi Tengah dari

1963, membuatnya terstigmatisasi dan tersingkir dari arus sejarah. Tidak banyak

yang tahu bahwa sosok pencinta seni ini, sebelum tragedi 1965 merupakan salah
satu pimpinan Front Nasional Provinsi Sulawesi Tengah, mewakili unsur

komunis, yang turut andil dalam perjuangan Sulawesi Tengah (Sulteng)

memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara-Tengah. Berdasarkan keterangan

salah satu kawan seperjungannya di CDB PKI Sulteng, Mardjun Lasama, dalam

catatan hariannya menyebutkan, Abd. Rahman Dg. Maselo merupakan salah satu

dari tiga tokoh Nasakom Sulteng, yang berangkat ke Jakarta menemui Presiden

Soekarno, untuk menetapkan Anwar Gelar Datuk Madjo Baso nan Kuning

sebagai gubernur definitif Sulteng. Delegasi kemudian pulang dari jakarta

membawa surat dari Bung Karno yang menetapkan Anwar Gelar Datik Madja

Basa Nan Kuning, sebagai gubernur definitif Sulteng yang pertama.

Namun karena stigma yang dilekatkan oleh pemerintah pasca tragedi

1965, nasib Abdul Rahman Dg. Maselo tidak jauh berbeda dengan nasib para

pimpinan Comitte Central PKI di Jakarta yaitu dihilangkan atau dieksekusi.

Abdul Rahman Dg. Maselo bersama dua kawannya yaitu Chaeri Ruswanto dan

Sunaryo meregang nyawa di ujung senjata algojo di sebuah bukit di antara

Watusampu dan Loli.

Perjalanan hidup Abdul Rahman Dg. Maselo sebagai seorang tokoh lokal

menarik untuk dikaji lebih jauh. Latar belakang sebagai seorang guru dan

seniman, pertemuannya dengan salah satu fungsionaris CDB PKI Sulawesi

Tengah, Partowijoyo, yang membuatnya bergabung dengan Pemuda Rakyat,

menjabat sebagai Sekretaris Pertama CDB PKI Sulteng, keterlibatan dalam Front

Nasional mewakili unsur komunis, peran dalam proses pasca berdirinya Provinsi

Sulteng, antiklimaks kehidupannya setelah tragedi 1965, berita tentang


kehilangannya yang simpang siur hingga terungkapnya rahasia tentang berita

kematiannya setelah puluhan tahun dirahasiakan oleh tentara, menjadikan

perjalanan hidupnya layak untuk dituliskan sebagai biografi seorang tokoh lokal,

terlepas dari ideologi yang ia anut.

Menurut Asvi Warman Adam (2009:x), tujuan penulisan biografi

bukanlah agar dapat menilai melainkan memahami pikiran dan tindakan seorang

pelaku sejarah. Banyak biografi dikaitkan dengan aspek kultural yang

mendukung tokoh. Pemahaman (verstehen) bisa didapatkan dengan

mempertemukan dimensi luar (mengetahui) dan dimensi dalam (menghayati).

Dasar pemikiran di atas yang membuat penulis memilih judul Abdul

Rahman Dg. Maselo: Sebuah Biografi Politik. Penulis memberi batasan yaitu

biografi politik untuk melihat berapa besar peran tokoh dalam percaturan politik

Sulawesi Tengah pada awal berdirinya, hubungan antara latar belakang

kehidupan dengan karier politiknya, sepak terjang di Pemuda Rakyat dan CDB

PKI Sulawesi Tengah, dan sikap politik yang diambil setelah tragedi 1965

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana aspek kepribadian berpengaruh

terhadap sepak terjang Abdul Rahman Dg. Maselo di ranah

politik?
1.2.2 Bagaimana aspek kekuatan sosial yang

mendukung, berpengaruh terhadap sepak terjang Abdul

Rahman Dg. Maselo di ranah politik?


1.2.3 Bagaimana aspek lukisan sejarah zaman (zeitgeist)

berpengaruh terhadap sepak terjang Abdul Rahman Dg.

Maselo di ranah politik?


1.2.4 Bagaimana aspek keberuntungan dan kesempatan

yang datang, berpengaruh terhadap sepak terjang Abdul

Rahman Dg. Maselo di ranah politik?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Menjelaskan pengaruh aspek kepribadian terhadap

sepak terjang Abdul Rahman Dg. Maselo di ranah politik.


1.3.2 Menjelaskan pengaruh aspek kekuatan sosial yang

mendukung terhadap sepak terjang Abdul Rahman Dg.

Maselo di ranah politik.


1.3.3 Menjelaskan pengaruh aspek lukisan sejarah zaman

(zeitgeist) terhadap sepak terjang Abdul Rahman Dg.

Maselo di ranah politik.

1.3.4. Menjelaskan pengaruh aspek keberuntungan dan

kesempatan yang datang terhadap sepak terjang Abdul

Rahman Dg. Maselo di ranah politik.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1. Aspek Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah sejarah lokal

terutama pada periode Orde Lama. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan

dapat mengisi kekosongan literatur mengenai tokoh kiri. Pada masa orde

baru, tokoh-tokoh yang berhaluan kiri seperti; D.N. Aidit, Nyoto, Syam,
dan lain-lain, divisualisasikan sebagai orang yang tidak bertuhan dan

memiliki perangai yang keji lewat buku-buku teks sejarah, baik yang

beredar di masyarakat, kampus, maupun di sekolah. Ada juga tokoh kiri

yaitu Tan Malaka dan Alimin yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh

Soekarno, tapi di masa Orde Baru, nama mereka tidak dicantumkan dalam

buku-buku teks sejarah. Pada konteks lokal, fenomena tersebut juga terjadi.

Tokoh-tokoh kiri seperti; Abdul Rahman Dg. Maselo, Chaeri Ruswanto,

Sunaryo, dan lain-lain yang kiprahnya mewarnai perjalanan sejarah

Sulawesi Tengah, namun nama mereka tidak pernah disebut dalam buku

teks sejarah ataupun wacana sejarah lokal Sulawesi Tengah.

1.4.2. Aspek Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan

pemerintah daerah Sulawesi Tengah untuk berupaya merehabilitasi nama

baik Abdul Rahman Dg. Maselo, keluarganya, dan para eks tahanan politik

di Sulawesi Tengah karena mereka yang berada di Sulteng, yang mayoritas

tidak tahu menahu tentang peristiwa yang terjadi di Jakarta pada tanggal 30

Oktober tahun 1965 tersebut. Ada yang hanya mendengar kabar mengenai

peristiwa tersebut melalui radio, dan ada yang mengetahui kabar peritiwa

tersebut setelah tertangkap.

Dalang resmi peristiwa tersebut sampai saat ini pun masih simpang siur.

Ada banyak versi tentang peristiwa tersebut yang semuanya didukung oleh

bukti-bukti dan kesaksian yang otentik. Buku Putih terbitan Sekretariat

Negara tentang peristiwa tersebut kini tidak dapat lagi dijadikan acuan
tunggal seiring dengan bermunculannya buku-buku pembanding yang

menghadirkan kejadian tersebut dengan perspektif yang lain.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Penelitian Yang Relevan


Tidak banyak buku biografi yang dengan jelas berupa biografi politik. Di

antara sedikit itu ialah buku J.D. Legge, Sukarno: A Political Biography

(London: The Penguin Press, 1972), Bernard Dahm, Soekarno dan Perjuangan

Kemerdekaan (Jakarta: LP3ES, 1987), O.G. Roeder, Anak Desa: Biografi

Presiden Soeharto (Jakarta: PT. Gunung Agung, 1969), A. Makmur Makka (ed.),

Habibie: Dari Pare-Pare Lewat Aachen dan Tulisan-Tulisan Lain (Jakarta:

Gapura Media, 1986), A. Makmur Makka, BJH, Bacharuddin Jusuf Habibie: His

Life and Career (Jakarta: Cipta Kreatif, 1989), dan buku Deliar Noer,

Mohammad Hatta: Biografi Politik (Jakarta: LP3ES, 1990).

Biografi politik yang ditulis Bernard Dahm berusaha memahami tokoh

Sukarno melalui tokoh-tokoh wayang, yaitu ksatria Bima dan Karna (nama

semula Kusno, oleh ayahnya diganti Sukarno). Bima tak pernah berkompromi

kecuali dengan teman seperjuangan, sedangkan Karna adalah pejuang bagi

negaranya dan seorang patriot yang saleh. Sementara itu, biografi politik dari

Mohammad Hatta yang ditulis oleh Deliar Noer mencukupkan penggambaran

tokohnya sebagai orang Islam yang taat, disiplin, dan asketis.

Penulis biografi Soeharto, O.G. Roeder, menyebutkan bahwa Soeharto

melihat sejarah sebagai permainan wayang yang diperpanjang dengan

menyebut-nyebut tokoh wayang. Mengenai peristiwa 30 September 1965,

misalnya, ia menyebut Subandrio sebagai Durna, orang khianat dari Hastinapura.

Sementara itu, Soeharto sendiri adalah pemegang Wahyu cakraningrat (wahyu

penguasa dunia), atau Wahyu Makuto Romo yang kemudian diubahnya

dengan Semar Mbabar Jati Diri (Semar membuka jati diri).


Soeharto sangat peka dengan kekuasaan dan kehormatan. Misalnya, dia

mengakui bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah idenya sendiri, bukan

idenya dari Hamengkubuwono IX dan dia pelaksananya. Demonstrasi anti-

pembangunan TMII yang mengecam istrinya ditanggapinya dengan sangat

emosional, sak dumuk bathuk sak nyari bumi, akan dibelanya kehormatan sang

isteri sampai mati.

Biografi B.J. Habibie yang dieditori oleh A. Makmur Makka berisi

interviu jurnalis dan kesan dan kenangan dari kawan-kawan, termasuk dari

Soeharto, guru besar politiknya. Dari sebuah interviu kita dapat menyimpulkan

bahwa identifikasi dirinya ialah ayahnya, dan motivasi terkuatnya ialah agama

dan orang tuanya.

Karya A. Makmur Makka berikutnya tentang B.J. Habibie,

menggambarkan sosok B.J. Habibie secara utuh. Dalam buku itu diceritakan

tentang sakit Habibie di Aachen yang pernah koma selama 24 jam. Ia tiga kali

pernah dibawa ke kamar khusus untuk orang mati. Tetapi, keajaiban Tuhan

terjadi, dan ia sembuh sama sekali. Itulah, sebabnya maka ia berjanji untuk

membaktikan usaha dan pikiran untuk tanah air dan bangsa.

Pasti karena pertimbangan ongkos produksi dan pemasaran, sampai saat

ini hanya biografi dari tokoh-tokoh nasional saja yang diterbitkan. Itu pun hanya

tokoh-tokoh populer yang mempunyai nilai-jual. Namun, dari buku-buku biografi

yang umum selalu ada pasal yang berhubungan dengan politik.


Sampai saat ini, mahasiswa sejarah di Universitas Tadulako masih

enggan menjadikan biografi tokoh lokal terutama tokoh kiri sebagai skripsi.

Mungkin masih ada keraguan apakah biografi masuk dalam studi sejarah atau

tidak. Selain itu, stigmatisasi negatif yang dilakukan oleh Orde Baru terhadap

komunisme menyebabkan munculnya phobia atau rasa takut untuk mempelajari

dan mengambil kajian yang berkenaan dengan komunisme. Sejauh ini hanya ada

satu skripsi yang mengambil tema biografi, tepatnya biografi kolektif

(prosopography) yaitu skripsi milik Hasni Hamid, dengan judul Biografi

Kolektif DPRD Kabupaten Mamuju Utara Periode 2004-2009, serta skripsi

karya Windayanti dengan judul Perempuan Berpolitik: Keterwakilan Perempuan

di DPRD Tolitoli 1971-2009. .


2.2 Kajian Pustaka

2.2.1 Biografi

Menurut Kuntowijoyo (2003:203), biografi atau catatan tentang

hidup seseorang itu, meskipun sangat mikro, menjadi bagian dalam

mosaik sejarah yang lebih besar. Biografi dapat digunakan untuk

memahami para pelaku sejarah, zaman yang menjadi latar belakang

biografi, dan lingkungan sosial-politiknya. Setiap biografi seharusnya

mengandung empat hal, yaitu kepribadian tokohnya, kekuatan sosial yang

mendukung, lukisan sejarah zamannya, dan keberuntungan dan

kesempatan yang datang.

Sebuah biografi perlu memperhatikan adanya latar belakang

keluarga, pendidikan, lingkungan sosial-budaya, dan perkembangan diri.


Penting juga untuk diceritakan mengenai tikungan-tikungan yang

menentukan jalan hidup selanjutnya dan membawa perubahan penting

dalam hidup tokoh yang menjadi objek penulisan biografi. Hal yang tidak

kalah penting adalah melukiskan zaman yang memungkinkan seseorang

muncul jauh lebih penting daripada pribadi atau kekuatan sosial yang

mendukung. Namun, banyak pula biografi yang tidak mencantumkan

moment of truth itu.

Biografi bukan hanya berisi rangkaian fakta, yang kadang-kadang

tidak diuji secara kritis terlebih dahulu, dan analisis yang tampak telah

disiapkan secara mantap. Menurut Harold Nicolson sebagaimana

dikutip Taufik Abdullah (2006:2), biografi adalah suatu kesibukan dan

kesenangan bukan dengan kepastian, melainkan dengan keraguan.

Biografi bukanlah gambaran kemantapan melainkan berkisar dari satu

proses ke proses kehidupan.

Ada dua macam biografi menurut Kuntowijoyo, yaitu portrayal

(portrait) dan scientific (ilmiah), yang masing-masing mempunyai

metodologi sendiri. Biografi disebut portrayar bila hanya mencoba

memahami. Termasuk dalam kategori ini biografi (politik, bisnis, seni,

olah raga, dan sebagainya) dan prosopography (biografi kolektif). Dalam

biografi yang scientific orang berusaha menerangkan tokohnya

berdasarkan analisis ilmiah. Dalam hal ini penggunaan konsep dan teori
dari psychoanalysis menghasilkan apa yang disebut psychohistory

(sejarah kejiwaan).

Tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan

menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosio-historis yang terus

mengiringi perjalanan hidup sang tokoh. Tujuan kedua biografi adalah

memberi baju baru kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin

diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-

kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari

sang tokoh dalam sejarah? Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah,

atau ia tidak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam posisi strategis.

Ungkapan memberi baju baru kepada tokoh itu memiliki nuansa

praktis. Ada kalanya penulis biografi itu membuat baju tidak pas,

misalnya kebesaran bagi orang yang berukuran kecil saja.

Perumpamaan ini tertuju bagi biografi yang menyanjung sang tokoh

berlebihan. Memang pada hakikatnya, penulisan biografi memberikan

kesempatan kedua. Maksudnya seorang yang dulu tidak berperan besar

memanfaatkan ini untuk mengisahkan kehebatan dirinya walaupun itu

tidak sepenuhnya benar.

Menurut Asvi Warman Adam (2009:x), tujuan penulisan biografi

bukanlah agar dapat menilai melainkan memahami pikiran dan tindakan

seorang pelaku sejarah. Banyak biografi dikaitkan dengan aspek kultural

yang mendukung tokoh. Pemahaman (verstehen) bisa didapatkan dengan


mempertemukan dimensi luar (mengetahui) dan dimensi dalam

(menghayati).

2.3 Kerangka Pemikiran

Setiap biografi seharusnya mengandung empat hal, yaitu

kepribadian tokohnya, kekuatan sosial yang mendukung, lukisan sejarah

zamannya, serta keberuntungan dan kesempatan yang datang. Empat hal

tersebut digunakan untuk mengidentifikasi masalah, memahami para

pelaku sejarah, zaman yang menjadi latar belakang biografi, dan

lingkungan sosial-politiknya.

Pertama, kepribadian tokoh. Sosok Abdul Rahman Dg. Maselo

memiliki kepribadian yang unik di mata orang-orang yang mengenalnya.

Asman Yodjodolo (Ketua IPPI Sulawesi Tengah periode 1964-1965),

yang merupakan salah seorang sahabat Abdul Rahman Dg. Maselo, dalam

buku Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi 65 mengatakan;

Saya mengenal PKI secara mendalam atas keterangan yang


dipaparkan secara gamblang oleh Abdul Rahman Dg. Maselo.
Selain satu kampung, saya masih memiliki ikatan kekeluargaan
dengan Ketua CDB PKI Sulawesi Tengah itu. Pada masa
kepemimpinannya, PKI menjadi partai yang sangat maju karena
pimpinannya hebat, serba bisa, berjiwa seni, pandai mengaji, hebat
dalam berorasi, pemain voli handal, piawai bermain gitar,
suaranya bagus, dan memiliki wajah yang ganteng.

Selain Asman Yodjodolo, Mariam Labonu yang merupakan istri

Abdul Rahman Dg. Maselo juga memiliki kenangan tentang kepribadian


suaminya tersebut. Dalam testimoninya di buku Sulawesi Bersaksi:

Tuturan Penyintas Tragedi 1965, Maryam menggambarkan sosok sang

suami di masa mudanya merupakan seorang pemuda yang sangat

menonjol dan banyak diminati oleh para gadis. Dia adalah orang yang

multitalenta, mempunyai banyak keterampilan, utamanya di bidang seni

musik, karena hampir semua alat musik yang ada, mampu dimainkannya.

Selain itu, sifatnya humoris, cerdas, dan berjiwa seniman.

Sehubungan dengan kepribadian tokoh, sebuah biografi perlu

memperhatikan adanya latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan

sosial-budaya, dan perkembangan diri. Abdul Rahman Dg. Maselo berasal

dari latar belakang keluarga yang paham dengan arti penting pendidikan

bagi masa depan. Lingkungan keluarga yang demikian membuat ia dan

saudara-saudaranya dapat mengenyam pendidikan pada saat itu.

Abdul Rahman Dg. Maselo mengenyam pendidikan hingga

Sekolah Guru Bawah (SGB). Setelah tamat, ia menjadi guru di Sekolah

Rakyat 2 Donggala. Karakter seorang guru sebagai pengayom dan sifat

humoris yang menjadikan Abdul Rahman Dg. Maselo mudah diterima di

masyarakat dan memiliki pergaulan yang luas.

Karakter dan sifat tersebut semakin lengkap dengan

kemampuannya memainkan berbagai jenis alat musik serta memiliki

suara yang merdu. Jiwa seni yang begitu kuat dalam dirinya membuat

Abdul Rahman Dg. Maselo sering bolos mengajar karena bermain musik.
Abdul Rahman Dg. Maselo tergabung dalam sebuah grup musik bernama

Al Munir yang dipimpin oleh orang arab.

Sebagai seorang pemuda yang multi talenta, Abdul Rahman Dg.

Maselo merasa perlu mengembangkan diri. Dia tertarik untuk masuk ke

salah satu, di antara banyak organisasi pemuda yang ada di Kota Palu

pada saat itu. Pada akhir tahun 1950an-1960an, banyak organisasi pemuda

yang sebagian besar merupakan underbouw partai politik pada saat itu

seperti Pemuda Rakyat, IPPI, Anshor, dan lain-lain. Abdul Rahman Dg.

Maselo memilih bergabung di Pemuda Rakyat yang saat itu merupakan

salah satu organisasi pemuda yang banyak diminati. Pemuda Rakyat

adalah organisasi pemuda yang merupakan sayap dari Partai Komunis

Indonesia (PKI).

Bergabungnya Abdul Rahman Dg. Maselo di Pemuda Rakyat,

membuat dirinya dapat mengasah kemampuan dalam berorganisasi dan

politik. Abdul Rahman Dg. Maselo aktif mengikuti setiap kegiatan yang

dilaksanakan oleh Pemuda Rakyat. Perlahan-lahan, ia mulai menekuni

aktivitas barunya ini.

Keterlibatan Abdul Rahman Dg. Maselo di Pemuda Rakyat

otomatis membuat dirinya mengenal baik pengurus CDB PKI Sulteng.

Pemuda Rakyat merupakan organisasi pemuda yang berafiliasi dengan

PKI. Hubungan baik dengan pengurus PKI dan sosok yang multi talenta

membuat Abdul Rahman Dg. Maselo dipercaya untuk mengambil alih

pucuk pimpinan partai, dengan menjabat sebagai Sekretaris Pertama CDB


PKI Sulteng pada tahun 1963. Sebelum mengambil alih pucuk pimpinan

partai, Abd. Rahman Dg. Maselo terlebih dahulu digembleng kemampuan

berpolitiknya pada pendidikan partai tingkat provinsi, yang dikelola oleh

Sekolah Partai Daerah Besar (SPDB).

Selama menjabat sebagai Ketua CDB PKI Sulawesi Tengah,

Maselo dikenal sebagai pemimpin yang cakap, cerdas, dan berkharisma.

Prioritas utamanya adalah perbaikan kesejahteraan masyarakat kecil

terutama kaum tani dan buruh. Ia disegani kawan maupun lawan

politiknya walaupun sebagian orang sering membanding-bandingkannya

dengan Wakil Sekretaris Pertama CDB PKI Sulteng yaitu Chaeri

Ruswanto.

Chaeri Ruswanto juga menjabat sebagai Anggota DPR-GR

Provinsi Sulawesi Tengah utusan PKI periode 1964-1967, Pemimpin

Redaksi Harian Mimbar Rakyat yang merupakan surat kabar terbitan

CDB PKI Sulteng, serta wartawan Kantor Berita ANTARA cabang

Sulawesi Tengah. Sebagian orang dari dalam organisasi menganggap

bahwa Ruswanto yang lebih layak menjadi ketua karena memiliki

kemampuan yang dinilai lebih mumpuni. Mereka berasumsi bahwa

Maselo terpilih karena ia adalah putra daerah sedangkan Ruswanto bukan

orang asli Sulawesi Tengah.

Kedua, kekuatan sosial yang mendukungnya. Tokoh-tokoh kiri

seperti Lenin, Stalin, Mao Ze Dong, D.N. Aidit, Tan Malaka, dan lain-

lain, dihidupkan namanya oleh sejarah karena ada kekuatan sosial yang
mendukungnya. Lenin memprakarsai Revolusi Bholsevik pada tahun

1919, berkat adanya dukungan kaum proletariat. Mao Ze Dong juga

mampu menggerakkan revolusi Cina dengan sokongan kaum petani, dan

begitu pun dengan tokoh-tokoh lainnya hanya mungkin naik jika ada

massa yang mendukungnya. Hal tersebut juga berlaku pada tokoh-tokoh

kiri lokal seperti Abdul Rahman Dg. Maselo. Modal karakter,

pengetahuan, dan pengalaman, membuat dirinya mudah diterima di

masyarakat, terutama massa PKI beserta organisasi underbouwnya yang

sebagian besar adalah pemuda, kaum tani, dan buruh. Kemampuannya

dalam bermusik terutama musik keroncong juga membuatnya menjadi

idola lokal karena ia bersama bandnya sering tampil mengisi acara di RRI

Palu pada saat itu. Selain itu, kehadirannya sebagai putra daerah dan

berasal dari suku Kaili, membuatnya diterima dengan baik di sejumlah

wilayah Sulteng, yang mayoritas didiami oleh masyarakat suku Kaili.

Ketiga, lukisan sejarah zamannya. Melukiskan zaman yang

memungkinkan seseorang muncul jauh lebih penting daripada pribadi

atau kekuatan sosial yang mendukung. Mengenai hal ini, pertanyaannya

ialah mengapa seseorang muncul pada suatu zaman dan bukan zaman

yang lain. Abdul Rahman Dg. Maselo hadir pada saat PKI sedang

meretas jalan menuju partai dengan jumlah massa terbesar di Indonesia.

Pada saat ia terpilih sebagai Sekretaris CDB PKI Sulawesi Tengah tahun

1963, PKI sudah menjelma menjadi sebuah kekuatan besar politik

penyokong presiden Soekarno. PKI pada periode awal 1960an merupakan


salah satu kutub politik selain Angkatan Darat. Massa PKI yang konon

berjumlah tiga juta orang, jelas menunjukkan bahwa partai ini mendapat

tempat di hati rakyat. Kebijakan PKI yang pro rakyat miskin terutama

kaum tani dan buruh, membuat kehadiran PKI dengan mudah diterima

oleh masyarakat.

Keempat, faktor keberuntungan atau kesempatan yang datang.

Abdul Rahman Dg. Maselo dapat dikatakan muncul di saat yang tepat

ketika PKI sedang dalam puncak kejayaannya. Namun, pecahnya Gerakan

30 September 1965, menyebabkan konstalasi politik berubah dan ia harus

tersingkir ditelan arus sejarah seiring dengan stigma bahwa PKI adalah

dalang dari usaha pemberontakan tersebut.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian sejarah yang menggunakan metodologi

dan metode sejarah. Metodologi sejarah berbeda dengan metode sejarah.

Kuntowijoyo (2003:xix) menjelaskan bahwa metodologi atau Science of methods

ialah ilmu yang membicarakan jalan. Di sini diuraikan berbagai jenis penulisan

sejarah. Unit kajian, permasalahan, teori, konsep dan sumber sejarah sedangkan

metode sejarah ialah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang bahan,
kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah. Meskipun berbeda, metodologi sejarah

dan metode sejarah dapat dipadukan untuk membuat kerangka penelitian. Dari

hasil menggabungkan antara metodologi sejarah dan metode sejarah tersebut,

peneliti kemudian merumuskan kerangka penelitian.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi Penelitian

Pemilihan lokasi atau site selection berkenaan dengan penentuan

unit, bagian, kelompok, dan tempat dimana orang-orang terlibat di dalam

kegiatan atau peristiwa yang ingin diteliti (Nana Syaodih Sukmadinata,

2009:102). Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu, Kabupaten Sigi,

Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala. Dalam

melaksanakan penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan pada desa

tertentu, sebab pada penelitian sejarah penggunaan sampel bisa saja

diabaikan. Penelitian sejarah diarahkan untuk meneliti sesuatu yang unik

dan khas (Syakir Mahid, 2009:25).

Pemilihan beberapa lokasi tersebut sebagai lokasi penelitian

disebabkan oleh beberapa hal yaitu; pertama, Kota Palu khususnya

Kecamatan Tawaeli merupakan tempat kelahiran Abdul Rahman Dg.

Maselo dan tempat domisili keluarga besarnya. Kota Palu juga merupakan

tempat berdomisili isteri dan anak-anaknya. Selain itu, di Kota Palu, CDB

PKI Sulawesi Tengah berkantor dan menjadi pusat aktivitas PKI dan

organisasi underbouwnya pada masanya. Beberapa lokasi di Kota Palu

seperti, Penjara Maesa dan Kantor CPM pernah menjadi tempat Abdul
Rahman Dg. Maselo ditahan. Kebanyakan mantan tahanan politik 1965

yang berdomisili di Kota Palu juga mendasari pemilihan Kota Palu

sebagai salah satu lokasi penelitian. Kedua, Kabupaten Sigi, sebagian

besar wilayahnya pada tahun 1960an merupakan daerah basis PKI seperti

Kaleke, Sibalaya, dan Pombeve. Beberapan mantan tahanan politik 1965

yang merupakan tokoh sentral PKI maupun organisasi underbouw PKI

seperti BTI, Pemuda Rakyat, dan Gerwani juga berdomisili di wilayah

kabupaten ini seperti Ketua BTI Sulawesi Tengah, Ali Mutia yang

berdomisili di Lindu. Ketiga, Kabupaten Parigi Moutong khususnya

Parigi merupakan tempat Abdul Rahman Dg. Maselo bersama Chaeri

Ruswanto dan Sunaryo melarikan diri untuk meminta perlindungan

kepada Kepala Polisi Parigi. Selain itu, di desa Bambalemo merupakan

tempat domisili Ketua PKI Parigi, Rahim Marhab dan istrinya, Ida

Nusiploo yang merupakan janda dari Chaeri Ruswanto. Keempat,

Kabupaten Donggala dengan beberapa lokasi yaitu Loli yang merupakan

lokasi Abdul Rahman Dg. Maselo dan dua temannya dieksekusi, Penjara

Donggala merupakan tempat terakhir Abdul Rahman Dg. Maselo ditahan

sebelum dieksekusi, dan wilayah Pantai Barat sebagai daerah yang sering

dikunjungi oleh Abdul Rahman Dg. Maselo dalam kunjungtan poltiknya

dan merupakan salah satu basis PKI di Sulawesi Tengah.


3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah satu

tahun meliputi; persiapan penelitian, pengumpulan data, dan

proses penulisan.
3.3 Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah Abdul Rahman Dg. Maselo, Sekretaris

Pertama CDB PKI Sulawesi Tengah dan pimpinan Front Nasional

mewakili unsur komunis. Penulis memberi batasan yaitu biografi politik

untuk melihat seberapa besar peran tokoh dalam percaturan politik

Sulawesi Tengah pada awal berdirinya, hubungan antara latar belakang

kehidupan dengan karier politiknya, sepak terjang di Pemuda Rakyat dan

CDB PKI Sulawesi Tengah, dan sikap politik yang diambil setelah tragedi

1965. Selain itu, keluarga, sahabat, rekan kerja di PKI dan Front Nasional,

serta tokoh-tokoh Sulawesi Tengah yang seangkatan dengan beliau juga

menjadi objek dari penelitian ini

3.4 Jenis dan Sumber Data

3.4.1. Data primer, yaitu melalui pengamatan langsung, serta

peninjauan khusus pada objek penelitian dimana data yang

diinginkan dapat diperoleh dan melakukan tanya jawab atau

wawancara dengan pihak-pihak yang terkait.

3.4.2. Data sekunder, yaitu melalui studi kepustakaan yang diawali

dengan mempelajari bahan-bahan yang berkaitan dengan objek

penelitian. Bahan hukum sekunder misalnya, menyimpulkan

berbagai macam buku-buku yang ada kaitannya dengan

permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian.

3.4.3. Data tersier yaitu sumber-sumber lain yang mendukung

penelitian seperti peta, statistik, grafik, dan lain-lain.

3.5 Tehnik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan sumber sejarah, penulis melakukan tiga hal,

yaitu: Pertama, Studi Pustaka (Library Research), Kedua, Studi

Lapangan (Field Research). Ketiga, Studi Dokumenter (Documentary

Research).

Studi pustaka merupakan suatu tekhnik dalam pengumpulan data

dengan mengumpulkan sumber-sumber tertulis, berupa arsip, buku,

majalah, publikasi internet. Dalam sebuah penelitian, studi pustaka

memiliki arti yang sangat penting. Studi pustaka berguna untuk

mendapatkan hasil penelitian oleh para peneliti sebelumnya yang

berkaitan dengan penelitian. Selain itu, studi pustaka juga berfungsi untuk

mendapatkan landasan konsep dan teori bagi penelitian ini. Dalam hal ini

studi pustaka dilakukan di Perpustakaan Daerah Propinsi Sulawesi

Tengah, Perpustakaan Universitas Tadulako, serta perpustakaan-

perpustakaan pribadi.

Studi Lapangan (Field Research) berguna mendapatkan data

primer, maka dalam sebuah penelitian harus melakukan studi lapangan.

Studi lapangan dalam penelitian ini berupa observasi dan wawancara.

Menurut Suwardi Endraswara (2006:103) bahwa yang dimaksud dengan

observasi adalah suatu penelitian sistematis menggunakan kemampuan

indera manusia. Jadi, peneliti mencatat apa yang dilihat, didengar,

dirasakan dan semua yang ditangkap oleh panca indera di lokasi

penelitian. Observasi yang dilakukan adalah observasi partisan. Menurut


S. Nasution dalam Wilman Darsono (2006:20) bahwa observasi partisan

artinya penulis merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya,

misalnya ia termasuk suku bangsa. Selain observasi maka dilakukan

wawancara atau interview. Menurut Gorrys Keraf (2004:182) bahwa yang

dimaksud dengan wawancara atau interview adalah: cara untuk

mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada

informan atau seorang autoritas (seorang ahli atau yang berwenang dalam

suatu masalah) Dalam penelitian sejarah, wawancara berfungsi untuk

mendapatkan sejarah lisan (oral history) dan tradisi lisan (oral tradition).

Sejarah lisan adalah sumber sejarah yang dilisankan oleh manusia

pengikut atau yang menjadi saksi akan adanya peristiwa sejarah pada

zamannya, sedangkan tradisi lisan adalah ceritera rakyat yang

diungkapkan melalui lisan dan dikembangkan secara beruntun juga

melalui lisan akan tetapi si pelisan bukan merupakan saksi sejarah (Lihat

Adaby Darban dalam Humaniora IV,1997). Kelemahan dari metode

wawancara adalah tingkat subyektifitas yang tinggi. Untuk mengatasinya,

digunakan metode member chek, seperti pendapat Christian Tindjabate

dalam Wilman Darsono (2006:22) bahwa:

dalam kegiatan wawancara dengan para nara sumber atau


responden, kecenderungan terjadinya subyektifitas atas informasi-
informasi yang diberikan sangat tinggi. Karena itu, setiap
peneliti harus berhati-hati dalam menginterpretasikan atau
mengolah data informasi hasil wawancara, sehingga kesimpulan
yang dikemukakan tidak terkesan bersifat subyektif atau berat
sebelah. Salah satu cara untuk meminimalisir subyektivitas data
hasil-hasil wawancara, maka kebanyakan para peneliti ilmu sosial
menggunakan teknik check and recheck atas setiap informasi yang
diperoleh dari satu sumber kepada informan-informan lain atau
yang disebut sebagai member check.

Studi dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik

pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-

dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik (Nana Syaodih

Sukmadinata:2009:221).

Setelah sumber sejarah ditemukan, maka tahapan selanjutnya adalah

verifikasi dan kritik sumber. Menurut Wilman Darsono (2006:22) bahwa:

verifikasi data digunakan untuk menguji validitas atau reliable. verifikasi

data membutuhkan daya kritis, sebab data yang tersedia cukup banyak dan

beragam. Tidak semua data dapat digunakan atau dibutuhkan, sehingga

peneliti menyeleksi data tersebut Hal ini berarti bahwa hanya data yang

sesuai dengan topik yang digunakan. Setelah itu, dilakukan kritik sumber,

yang berfungsi untuk menyeleksi data menjadi fakta. Nugroho Notosusanto

(1978:11-12) menyatakan bahwa data ialah semua bahan sedangkan fakta

ialah bahan yang sudah lulus diuji dengan kritik. Kritik dilakukan untuk

menilai sifat dan nilai bahan sumber serta keaslian dan keakuratan data,

dengan cara membandingkan antara data dari sumber yang satu dengan

sumber yang lain. Kritik terbagi atas dua, yaitu kritik ekstern dan kritik

intern. Pada kritik ekstern para sejarawan harus (1) menegakan kembali (re-

establish) teks yang benar (criticism of restoration); (2). Menetapkan

dimana, kapan dan oleh siapa dokumen itu ditulis (Critcism of origin). (3).

Mengklasifikasikan dokumen ini menurut sistem dari kategori-kategori yang


diatur sebelumnya. Pada kritik intern, yang dilakukan adalah (1) suatu

analisis atas isi dokumen dan suatu pengujian (examination) positif

(positive) mengenai apa yang dimaksudkan oleh penulis; (2) suatu analisis

keadaan (circumstances) dan suatu pengujian negatif (negaitive) atas

pernyataan penulis. Setelah itu mencek keakuratan dari dokumen-dokumen,

kemudian membandingkan satu sama lain dengan maksud menegakan fakta

individual (Helius Sjamsuddin: 2007: 130-131).

3.6 Tehnik Analisis Data

Setelah ditemukan fakta, maka dilakukan pengolahan data, yaitu

tahap interpretasi. Wilman Darsono (2006:23) menyatakan bahwa

interpretasi, artinya pemberian makna terhadap fakta. Upaya untuk

memberikan makna (penafsiran) terhadap fakta yang telah ada, dilakukan

dengan menggunakan alat analisis. Analisis yang digunakan adalah

analisis personal, analisis kausalitas dan analisis kondisional. Analisis

personal berguna untuk melihat latar belakang keluarga, suku, adat

istiadat dan kepribadian tokoh. Analisis kausalitas dilakukan untuk

melihat sebab dan akibat sebuah peristiwa sedangkan analisis kondisional

adalah melihat kondisi ketika peristiwa itu terjadi.

Tahap akhir dari Metode Sejarah adalah Historiografi atau

penulisan sejarah, yaitu penulis menyajikan data hasil interpretasi dalam

bentuk tulisan. Menurut Wilman Darsono (2006:23) bahwa proses

penyelesaian sebuah tulisan butuh ketelitian, pemusatan perhatian, dan

kesungguhan. Kualitas sebuah tulisan ditentukan oleh kemampuan


menyampaikan fakta dan imajinasi kesejarahan, serta penilaian

pembacanya. Hasil penelitian dipaparkan dalam bentuk deskriptif

analitis.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kepribadian

Abdul Rahman Dg. Maselo lahir di Tawaeli pada tanggal 20 Mei

1937. Ia memiliki enam saudara, di mana dua orang saudara lainnya, Aziz

Dg Maselo dan Andi Adi Dg Maselo, juga ditangkap akibat dituduh

terlibat G30S.

Sosok Abdul Rahman Dg. Maselo memiliki kepribadian yang unik

di mata orang-orang yang mengenalnya. Asman Yodjodolo (Ketua IPPI

Sulawesi Tengah periode 1964-1965), yang merupakan salah seorang

sahabat Abdul Rahman Dg. Maselo, dalam buku Memecah Pembisuan:

Tuturan Penyintas Tragedi 65 mengatakan;


Saya mengenal PKI secara mendalam atas keterangan yang
dipaparkan secara gamblang oleh Abdul Rahman Dg. Maselo.
Selain satu kampung, saya masih memiliki ikatan kekeluargaan
dengan Ketua CDB PKI Sulawesi Tengah itu. Pada masa
kepemimpinannya, PKI menjadi partai yang sangat maju karena
pimpinannya hebat, serba bisa, berjiwa seni, pandai mengaji, hebat
dalam berorasi, pemain voli handal, piawai bermain gitar,
suaranya bagus, dan memiliki wajah yang ganteng.

Selain Asman Yodjodolo, Mariam Labonu yang merupakan istri

Abdul Rahman Dg. Maselo juga memiliki kenangan tentang kepribadian

suaminya tersebut. Dalam testimoninya di buku Sulawesi Bersaksi:

Tuturan Penyintas Tragedi 1965, Maryam menggambarkan sosok sang

suami di masa mudanya merupakan seorang pemuda yang sangat

menonjol dan banyak diminati oleh para gadis. Dia adalah orang yang

multitalenta, mempunyai banyak keterampilan, utamanya di bidang seni

musik, karena hampir semua alat musik yang ada, mampu dimainkannya.

Selain itu, sifatnya humoris, cerdas, dan berjiwa seniman.

Anak sulung Abd. Rahman Dg. Maselo, Gagarisman, mengenang

sosok sang ayah sebagai sosok yang perhatian dan berjiwa seni. Menurut

Gagar, sapaan akrabnya:

Pada saat kecil, saya merasakan begitu banyak


kebahagiaan. Saya sering dibawa oleh bapak saya
ke acara-acara seperti pertemuan-pertemuan,
resepsi pernikahan, dan acara-acara lainnya. Pada
saat itu usia saya masih sekitar 3 tahun namun saya
dapat mengingat semua peristiwa yang saya alami.
Bapak saya awalnya adalah seorang guru, sama
seperti ibu saya. Bapak pandai bernyanyi dan
memainkan beberapa alat musik. Ia sangat mahir
memainkan biola. Ia sering membawakan lagu-lagu
kesukaan ibu saya sambil memainkan biolanya.

Sejumlah kader CDB PKI Sulteng di daerah juga mengakui

kehebatan ayah tiga orang anak ini dalam membesarkan partai hingga ke

pelosok. Anggota Comitte Sub Sektor (CSS) PKI Sirenja, Yusuf Ladide,

mengenang sosok Abd. Rahman Dg. Maselo sebagai seorang pimpinan

partai yang jago berpidato. Ia bahkan menyamakan kemampuan sang

pimpinan dengan singa podium, Bung Karno.

Pidato-pidato Maselo saat turun ke daerah-daerah


memperkenalkan PKI, berkobar-kobar seperti pidato Bung karno.
Hal ini yang menyebabkan saat itu, banyak masyarakat di pelosok,
terutama di Pantai Barat ini yang masuk PKI atau organisasi di
bawahnya seperti Pemuda Rakyat dan BTI

Hal senada juga dijelaskan mantan Ketua BTI Sulteng, Ali Mutia.

Menurut Ali Mutia, basic Maselo sebagai seorang guru, membuatnya

mampu berhadapan dengan orang banyak, terlebih dalam berbagai

kesempatan, Maselo selalu mewakili partai ke pertemuan tingkat regional,

nasional, hingga kunjungan ke luar negeri. Hal inilah yang membuat

pemahaman politik dan jam terbangnya lebih tinggi, selain juga kerena

dia merupakan putra daerah dan berasal dari Suku Kaili.

Sehubungan dengan kepribadian tokoh, sebuah biografi perlu

memperhatikan adanya latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan

sosial-budaya, dan perkembangan diri. Abdul Rahman Dg. Maselo berasal

dari latar belakang keluarga yang paham dengan arti penting pendidikan
bagi masa depan. Lingkungan keluarga yang demikian membuat ia dan

saudara-saudaranya dapat mengenyam pendidikan pada saat itu.

Abdul Rahman Dg. Maselo mengenyam pendidikan hingga

Sekolah Guru Bawah (SGB). Setelah tamat, ia menjadi guru di Sekolah

Rakyat 2 Donggala. Karakter seorang guru sebagai pengayom dan sifat

humoris yang menjadikan Abdul Rahman Dg. Maselo mudah diterima di

masyarakat dan memiliki pergaulan yang luas.

Karakter dan sifat tersebut semakin lengkap dengan

kemampuannya memainkan berbagai jenis alat musik serta memiliki

suara yang merdu. Jiwa seni yang begitu kuat dalam dirinya membuat

Abdul Rahman Dg. Maselo sering bolos mengajar karena bermain musik.

Abdul Rahman Dg. Maselo tergabung dalam sebuah grup musik bernama

Al Munir yang dipimpin oleh orang arab.

Sebagai seorang pemuda yang multi talenta, Abdul Rahman Dg.

Maselo merasa perlu mengembangkan diri. Dia tertarik untuk masuk ke

salah satu, di antara banyak organisasi pemuda yang ada di Kota Palu

pada saat itu. Pada akhir tahun 1950an-1960an, banyak organisasi pemuda

yang sebagian besar merupakan underbouw partai politik pada saat itu

seperti Pemuda Rakyat, IPPI, Anshor, dan lain-lain. Abdul Rahman Dg.

Maselo memilih bergabung di Pemuda Rakyat yang saat itu merupakan

salah satu organisasi pemuda yang banyak diminati. Pemuda Rakyat

adalah organisasi pemuda yang merupakan sayap dari Partai Komunis

Indonesia (PKI).
Dalam catatan Mardjun Lasama, mantan Kepala Sekretariat CDB PKI

Sulteng, pada tahun 1960, kiprah Pemuda Rakyat, sebagai salah satu

organisasi sayap PKI di Sulawesi Tengah, mulai mengembangkan

organisasi lewat pembentukan organisasi tingkat ranting di beberapa

wilayah seperti Boneoge, Ganti, Kola-kola, Limboro, Kabonga Kecil,

Kabonga Besar, dan Kota Donggala.

Bergabungnya Abdul Rahman Dg. Maselo di Pemuda Rakyat,

membuat dirinya dapat mengasah kemampuan dalam berorganisasi dan

politik. Abdul Rahman Dg. Maselo aktif mengikuti setiap kegiatan yang

dilaksanakan oleh Pemuda Rakyat. Perlahan-lahan, ia mulai menekuni

aktivitas barunya ini.

Keterlibatan Abdul Rahman Dg. Maselo di Pemuda Rakyat

otomatis membuat dirinya mengenal baik pengurus CDB PKI Sulteng.

Pemuda Rakyat merupakan organisasi pemuda yang berafiliasi dengan

PKI. Hubungan baik dengan pengurus PKI dan sosok yang multi talenta

membuat Abdul Rahman Dg. Maselo dipercaya untuk mengambil alih

pucuk pimpinan partai, dengan menjabat sebagai Sekretaris Pertama CDB

PKI Sulteng pada tahun 1963.

Pada tahun tersebut, Abd. Rahman Dg. Maselo ditunjuk sebagai caretaker

pimpinan CDB PKI Sulawesi Tengah (Sekertaris Pertama). Adapun

susunan pengurus partai saat itu adalah:

Sekertaris Pertama : Abd. Rahman Dg. Maselo


Wakil Sek. Pertama : Chaeri Ruswanto
Kepala Sekertariat : Marjun Lasama
Dewan Harian : Abd. Rahman Dg. Maselo
Chaeri Ruswanto
Marjun Lasama
S. Partowijoyo
Sunaryo
Dg. Malau
Sudaryadi
Ali Mutia
Ridwan
Dll.
Donggala : Zamrud
Poso : Yakob Lamadjuda, Abd. Dani Ahmad, Yanal Pembeu
Luwuk : Syafri MS, Marzuki, Momor, Martejo Pakuwojo
Tolitoli : Arnold Wangegetan, Alex Metahang, MP. Kaluara

Sebelum mengambil alih pucuk pimpinan partai, Abd. Rahman

Dg. Maselo terlebih dahulu digembleng kemampuan berpolitiknya pada

pendidikan partai tingkat provinsi, yang dikelola oleh Sekolah Partai

Daerah Besar (SPDB), bersama Mardjun Lasama dan Fatimah Djunaid.

Pada bulan Maret 1963, CDB PKI Sulawesi Tengah mengikutkan

kadernya yaitu Marjun Lasama, dalam pendidikan sentral partai di

Sekolah Partai Central oleh CC PKI di Akademi Ilmu-ilmu Sosial

Aliarcham Jakarta. Partai juga mengikutkan Ali Mutia dalam pendidikan

tani yang diselenggarakan oleh DPP BTI di Cisarua Bogor.

Pada tahun 1964, diadakan konferensi partai yang dihadiri oleh

pengurus CC PKI yaitu Hartoyo dan Hamid dari DPP Pemuda Rakyat.

Hasil konferensi menunjuk pengurus CDB yaitu:


Sekertaris Pertama : Abd. Rahman Dg. Maselo

Wakil Sek. Pertama : Chaeri Ruswanto

Kepala Sekertariat : Marjun Lasama

Susunan kepengurusan dilengkapi dengan dewan harian dan anggota

pleno yang mencerminkan 4 kabupaten di Sulawesi Tengah.

4.2 Kekuatan Sosial Yang Mendukung

Dalam catatan harian Mardjun Lasama, disebutkan pada tanggal

23 Mei 1960, CDB PKI Sulteng merayakan hari jadi partai yang

dipusatkan di Desa Boneoge, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi

Utara-Tengah. CDB PKI Sulteng saat itu dipimpin oleh Daud Matorang

dan Yusak Amisi.

Setahun berikutnya, yaitu pada tahun 1961, dalam catatan yang

sama, Mardjun menuliskan bahwa partai berkembang pesat hingga ke

pelosok desa ditandai dengan dibukanya sekolah-sekolah partai mulai dari

tingkat desa hingga tingkat kabupaten.

Pada tahun 1963, setelah Abd. Rahman Dg. Maselo dilantik

sebagai caretaker Sekretaris Pertama CDB Sulteng, partai berlambang

palu arit ini makin melebarkan sayapnya. Hal ini ditunjukkan dengan

komposisi pengurus yang mewakili empat wilayah yaitu Donggala, Poso,

Luwuk dan Tolitoli. Pada saat itu, struktur partai terdiri dari beberapa

tingkatan, di antaranya CDB setingkat provinsi, Comitte Sektor (CS)


setingkat kabupaten/kota, serta Comitte Sub Sektor (CSS) untuk tingkat

kecamatan.

Setelah Provinsi Sulawesi Tengah memisahkan diri dari provinsi

Sulawesi Utara, pada tahun 1964, partai berkembang pesat, bersamaan

dengan ormas-ormas partai seperti Pemuda Rakyat (PR), Gerwani, BTI,

SOBSI, dll.

Dalam catatan hariannya, Mardjun Lasama menggambarkan

secara rinci perkembangan partai usai Provinsi Sulteng terbentuk. Setelah

konferensi partai digelar dan setelah struktur organisasi lengkap, partai

meningkatkan kualitas kadernya melalui pendidikan-pendidikan kader

mulai dari tingkat ranting hingga tingkat provinsi. Dari pendidikan

tersebut, anggota partai mulai gencar melakukan turba (turun ke bawah)

ke kecamatan dan desa di Sulawesi Tengah.

Pergerakan-pergerakan massa juga dilakukan pada hari-hari besar

dan momen-momen penting, salah satunya pada saat kedatangan Menteri

Dalam Negeri pada tahun 1964. Partai mempertunjukkan gerak jalan

marathon (gejamar), yang mengikutkan massa dari wilayah Sabang,

Tambu, Tompe, Sindue, dengan berjalan kaki sampai ke Palu. Demikian

juga massa dari Parigi yang memotong jalan lewat pegunungan dari

Petapa. Massa dari Pakuli, Kalawara, Lambara, Sibalaya, Dolo,

Kalukubula, Donggala, Kola-kola, Limboro, Ganti, Boneoge, Kabonga

Kecil, Watusampu, juga berjalan kaki menuju Palu.


Dengan ribuan massa dari berbagai wilayah di Sulawesi Tengah

tersebut, Kota Palu menjadi lautan merah dengan berbagai spanduk dan

latar-lambang partai yang berwarna merah. Pergerakan ini menjadi bukti

bahwa PKI telah menjadi salah satu partai besar di Sulawesi Tengah.

Selain itu, bukti bahwa partai telah menjadi salah satu partai besar

di Sulawesi Tengah adalah duduknya para kader partai dalam lembaga-

lembaga pemerintahan, seperti; Abd. Dg. Maselo yang menjadi salah satu

pimpinan Front Nasional Provinsi Sulawesi Tengah mewakili unsur

Komunis, bersama Thayeb Abdullah yang mewakili golongan nasionalis,

dan Zainuddin Abdul Rauf mewakili golongan Agama. Ia juga menjadi

anggota DPRD Kabupaten Donggala. Chaeri Ruswanto menjadi anggota

DPRD Tingkat Provinsi, Wartawan Kantor Berita Antara, dan Pimpinan

Redaksi Harian Mimbar Rakyat. Salimin Partowijoyo juga menjadi

anggota DPRD Kabupaten Donggala.

Pada saat itu, pimpinan partai di tingkat provinsi juga

berkesempatan mengikuti perjalanan dinas keluar negeri bersama

petinggi-petinggi CC PKI dan pengurus CDB PKI di provinsi lainnya.

Abd. Rahman Dg. Maselo, pernah menjadi delegasi partai bersama Yusuf

Aditjorop (CC PKI), pimpinan PKI Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan

Timur untuk berkunjung ke Cina, mengunjungi daerah pertanian Comune

Rakyat di Cina. Chaeri Ruswanto mengikuti delegasi partai ke Uni Sovyet


untuk mengunjungi beberapa negara bagian serta beberapa tempat

bersejarah di Uni Sovyet.

Kemudian dalam struktur pemerintahan, berdasarkan hasil

pertemuan antara Gubernur Sulteng, Anwar Gelar Datuk Madjo Baso Nan

Kuning, Danrem 132 Tadulako, Kolonel M. Yasin, bersama Abd. Dg.

Maselo dan Chaeri Ruswanto dari perwakilan PKI, Pemerintah Provinsi

Sulawesi Tengah telah memberikan kepada partai, satu kursi anggota BPH

(Badan Pemerintahan Harian) di Kantor Gubernur dan satu kursi BPH di

Kabupaten Donggala, dengan syarat kader partai tersebut harus kapabel,

punya kredibilitas, dan diterima oleh masyarakat.

Hal-hal tersebut semakin menguatkan fakta bahwa kehadiran PKI

di Sulawesi Tengah saat itu, sudah cukup diperhitungkan, di tengah

dominasi partai-partai dan ormas besar seperti NU, PSII dan PNI. Kader-

kader partai yang terlebih dahulu dibekali dengan pendidikan politik,

mampu berbicara di kancah politik lokal, baik di tingkat provinsi maupun

kabupaten/kota.

Peran serta tokoh-tokoh PKI Sulteng dalam mengawal

terbentuknya Provinsi Sulteng dan mengawal jalannya roda pemerintahan,

agaknya menjadi satu alasan khusus, mengapa PKI memiliki pengaruh di

percaturan politik saat itu.

Dalam catatan Mardjun Lasama, pasca terbentuknya Provinsi

Sulteng pada bulan April 1964. pemerintah pusat menunjuk Anwar Gelar
Datuk Madjo Basa Nan Kuning sebagai caretaker Gubernur Sulteng,

Kehadiran Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning sebagai caretaker

Gubernur Sulteng, membuat DPRD Provinsi Sulteng menggelar sidang

untuk menunjuk gubernur definitif. Ketika itu, terjadi perdebatan antara

masing-masing partai yang menjagokan masing-masing calonnya.

Untuk menghindari perpecahan, tiga tokoh nasakom yaitu Abd.

Rahman Dg. Maselo (Komunis) Thayeb Abdullah (Nasionalis) dan

Zainuddin Abdul Rauf (Agama) mengadakan rapat kilat dengan Pejabat

Gubernur Sulteng dan Danrem 132 Tadulako di Kantor Korem, untuk

meminta kesiapan pejabat gubernur, Anwar Gelar Datuk Madja Basa Nan

Kuning, sebagai gubernur definitif. Ketiga tokoh ini juga menemui

Pangdam XIII Merdeka, Brigjen Sampurno di Manado, dan setelah itu

ketiga tokoh tersebut menemui pimpinan pusat partainya masing-masing

untuk meminta pertimbangan. Abd. Rahman Dg. Maselo menemui Nyoto.

Setelah itu, mereka menemui Bung Karno di Jakarta, untuk

meminta hak presiden secara prerogatif untuk menetapkan Anwar Gelar

Datik Madja Basa Nan Kuning, sebagai gubernur definitif. Delegasi

kemudian pulang dari Jakarta membawa surat dari Bung Karno yang

menetapkan Anwar Gelar Datik Madja Basa Nan Kuning, sebagai

gubernur definitif Sulteng yang pertama. Pelantikan Anwar Gelar Datik

Madja Basa Nan Kuning sendiri dilakukan oleh Eny Karim selaku
pembantu Mendagri dalam urusan otonomi daerah. Secara bersamaan,

dilantik pula pengurus Front Nasional.

4.3 Lukisan Sejarah Zaman (Zeitgeist)

Menurut Wilman D Lumangino, benih-benih bersemainya PKI di

wilayah Sulawesi Tengah, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1948 di

Poso, di mana pada saat itu, Serikat Buruh Pelabuhan Poso (SBPP) yang

berhaluan komunis, terlibat persaingan dengan buruh dari Masyumi/PSII

yang tergabung dalam Serikat Buruh Islam di Poso. Menurutnya, orang-

orang PKI di Manado yang memiliki keluarga di Poso dan orang-orang

PKI dari Makassar, yang memiliki andil dalam menyebarluaskan

pengaruh partai di wilayah Sulteng.

Pada pemilihan umum tahun 1955, dengan jumlah pemilih

mencapai 1505 jiwa, PKI hanya mampu menduduki peringakt ke 7 di

Kabupaten Poso dan peringkat ke 8 di Kabupaten Donggala. Jika

dipersentasikan, jumlah total keseluruhan suara yang berhasil diperoleh

PKI di Sulawesi Tengah pada saat itu, hanya berkisar pada angka 0,93

persen dari total suara yang ada.

Data ini menunjukkan, pada pemilu tahun 1955, PKI belum

sepenuhnya mendapat tempat di hati masyarakat Sulteng, yang masih

terdiri dari dua kabupaten, dan masih berada dalam satu kesatuan yaitu

Provinsi Sulawesi Utara Tengah. Baru pada awal tahun 1960an, di bawah
komando tokoh-tokoh seperti Yusak Amisi, Yacob Lamadjuda, Daud

Mattorang, dan Salimin Partowijoyo, partai mulai menemukan bentuknya

Dalam catatan Mardjun Lasama, pada tahun 1960, salah satu

organisasi sayap partai yaitu Pemuda Rakyat, mulai mengembangkan

organisasi lewat pembentukan organisasi tingkat ranting di beberapa

wilayah di Kabupaten Donggala seperti Boneoge, Ganti, Kola-kola,

Limboro, Kabonga Kecil, Kabonga Besar, dan Kota Donggala.

Setelah mengikutkan tiga orang kadernya, yaitu Abd. Rahman Dg.

Maselo, Fatimah Djunaid dan Mardjun Lasama, dalam pendidikan politik

partai tingkat provinsi yang dilaksanakan oleh Sekolah Partai Daerah

Besar di Manado pada tahun 1960, setahun kemudian partai mulai

berkembang pesat hingga ke pelosok desa ditandai dengan dibukanya

sekolah-sekolah partai mulai dari tingkat desa hingga tingkat kabupaten.

Periode tahun 1963-1965 sendiri, dapat dikatakan merupakan

periode kejayaan partai, di mana PKI mulai diperhitungkan dalam

percaturan politik lokal di Sulteng, di mana sejumlah kadernya dipercaya

menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan seperti anggota

DPRD provinsi dan kabupaten, wartawan ANTARA, pegawai BKH, serta

pimpinan Front Nasional Sulteng mewakili unsur komunis.

Pada awal tahun 1965, partai mengirim Mardjun Lasama dalam

pendidikan Komando Tertinggi Aparatur Revolusi (KOTRAR) di Jakarta.

KOTRAR sendiri merupakan suatu badan yang dibentuk dari pusat


hingga ke daerah untuk mengontrol kinerja aparatur pemerintahan. Dari

provinsi Sulawesi Tengah, ditunjuk dari partai Nasakom yaitu Marjun

Lasama (PKI), Sutje Borman (PNI) dan Nazaruddin Pakedo (PSII). Dari

unsur pemerintahan juga diikutkan yaitu Sorapang dan Azis Larekeng.

4.4 Keberuntungan dan Kesempatan


Tragedi 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan istilah G30S

mengubah secara drastic tatanan politik, tidak hanya di tingkat pusat,

namun juga di daerah. PKI yang sebelum tragedi berada di atas angin

dengan jutaan kader plus simpatisan di seluruh Indonesia serta diprediksi

bakal memenangkan pemilihan umum berikutnya, terhempas jatuh,

terjerembab di antara situasi, sebagaimana disebutkan Ben Anderson

sebagai korban dari clash di dalam tubuh militer.

Menanggapi terjadinya peristiwa G30S, CDB PKI Sulawesi

Tengah pada tanggal 1 Oktober 1965, mengadakan pertemuan yang

hasilnya menyatakan bahwa peristiwa G30S adalah persoalan internal

AD, antara jenderal-jenderal kanan dengan perwira-perwira menengah

kebawah yang revolusioner, dan partai mendukung gerakan revolusioner.

Sementara itu, Pemerintah Sulawesi Tengah lewat panca tunggal

dan pemimpin-pemimpin partai di Sulawesi Tengah mengeluarkan

pernyataan bersama bahwa;

1. Jangan menafsirkan sendiri-sendiri peristiwa yang terjadi

di Jakarta
2. Jaga persatuan dan kesatuan
3. Tetap berdiri di belakang Bung Karno sebagai Pemimpin

Besar Revolusi.

Pada tanggal 4 Oktober 1965, tersiar berita dari RRI bahwa jenazah 7

jenderal yang diculik telah ditemukan di lubang buaya, yang menjadi

tempat latihan militer Pemuda Rakyat dan Gerwani. Esoknya, Ketua BTI

Sulteng, Ali Mutia pulang dari Jakarta membawa SK dari CC PKI tentang

peristiwa G30S, yang isinya menyatakan bahwa peristiwa G30S adalah

persoalan internal AD, antara jenderal-jenderal kanan dengan perwira-

perwira menengah kebawah yang revolusioner.

Pada akhir Oktober hingga Desember 1965, gelombang

demonstrasi menuntut pembubaran PKI yang disuarakan oleh gabungan

pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam KOAMPA (Komando Aksi

Ampera) mulai menggema di Sulawesi Tengah. Demonstrasi itu

berlangsung dari bulan Oktober 1965 sampai sekitar Januari atau Februari

1966. Tidak hanya melakukan demontrasi, KOAMPA juga diberi surat

tugas oleh TNI untuk menangkap orang-orang PKI.

Selain TNI dan KOAMPA penangkapan juga dilakukan oleh

polisi, aparat pemerintah daerah, aktivis partai politik seperti PNI dan NU

dan masyarakat umum. Setidaknya ada empat gelombang penangkapan

terhadap orang-orang PKI ataupun mereka yang di cap PKI, di Sulawesi

Tengah.
Demi menyelamatkan diri dari kejaran massa, keempat pimpinan

partai yaitu Abd. Rahman Dg. Maselo, Chaeri Ruswanto, Sunaryo, dan

Zamrud, memilih untuk mengungsi ke Parigi. Di sana mereka

mendapatkan perlindungan dari kepala kepolisian Distrik Parigi. Namun

di tempat yang seharusnya melindungi masyarakat inilah nasib mereka

mulai tak menentu. Beberapa hari setelah menginap, mereka dijemput

oleh Mayor Jamber Wardana dari Korem. Keempatnya lalu dibawa

kembali ke Palu dan dirumahkan di kediaman milik Sudaryadi, salah

seorang pejabat daerah, yang terletak di jalan Sedap Malam, bersama

beberapa orang lainnya yaitu Marjun Lasama, S. Partowijoyo, Sukijo, dan

Sudjatmiko, dll, sebelum akhirnya dimasukkan ke LP Maesa tahun 1966.

Periode ini disebut juga periode penangkapan pertama.

Penangkapan ini juga diwarnai aksi kekerasan seperti

pengeroyokan dan pembunuhan. Salah satu pembunuhan yang paling

pertama terjadi di Palu adalah pembunuhan Rustam Ragampole, seorang

anggota PKI Ranting PKI di Tawaeli yang mendapat tugas turba (turun

kebawah adalah ungkapan PKI untuk bekerja mendampingi masyarakat

di akar-rumput) di Kaemana. Pada sekitar bulan Oktober 1965, ia

ditangkap oleh pemuda-pemuda Anshor, diarak keluar rumah, dan

dikeroyok sampai meninggal. Jenazahnya tergeletak di jalan, dan baru

dikuburkan oleh beberapa kawannya kemudian.


Dua orang korban lainnya, Benu dan Simon, ditembak oleh

anggota Korem 132 Tadulako pada saat melarikan diri antara tahun 1966-

1967. Mereka adalah pensiunan polisi yang kemudian aktif di PKI. Dari

cerita yang diungkapkan para saksi, kedua orang ini melawan pada saat

akan ditangkap, melarikan diri, dikejar dan akhirnya ditembak mati.

Pada periode antara tahun 1966-1967, penangkapan menyasar

anggota dan simpatisan partai beserta organisasi sayap yang berada di

Sulawesi Tengah. Di Kabupaten Donggala, ada 232 orang ditangkap, di

Poso, 180 orang, Tojo Una-una 155 orang, Morowali, 31 orang, Luwuk,

29 orang, Banggai Kepulauan 21 orang, Tolitoli 17 orang, dan Buol 5

orang. Di beberapa daerah seperti Poso, didirikan instalasi rehabilitasi

(inrehab). Akibat banyaknya tapol yang dijebloskan ke penjara Maesa,

menyebabkan penjara Maesa, penuh, hingga sebagian korban akhirnya

dikirim ke lokasi-lokasi kerja paksa.

Di saat berlangsungnya operasi penangkapan yang menyasar

orang-orang yang dianggap berideologi komunis antara tahun 1966-1977,

Palu hanya memiliki satu penjara yaitu Rutan (Rumah Tahanan) Maesa.

Penjara ini hanya dapat menampung maksimal 150 orang, sementara

jumlah tapol saat itu lebih dari 300 orang. Jumlah ini harus ditambah lagi

dengan narapidana biasa. Kepadatan ini diatasi dengan cara mengeluarkan

sebagaian tapol dan mempekerjakan mereka secara paksa pada proyek-

proyek pembangunan di luar kota Palu. Para tapol dibuatkan barak di


lokasi proyek, dan tidak kembali sampai saat pekerjaan selesai. Sehingga

waktu di luar tahanan bisa beberapa bulan sampai dengan satu tahun. Cara

kedua untuk mengatasi kepadatan adalah dengan memindahkan para tapol

ke kamp penahanan sementara yang dinamakan inrehab (instalasi

rehabilitasi) Meraramputi yang dalam bahasa Kaili berarti berhati suci.

Fasilitas inrehab ini tidak disiapkan oleh pemerintah tapi justru

dibangun sendiri oleh para tapol. Lahan untuk pembangunan inrehab ini

adalah lahan milik TNI yang dulunya adalah hutan belantara. Para tapol

ditugaskan membangun barak, menebang pohon, membuat papan-papan

kayu untuk pembangunan fasilitas militer, dan membuka lahan

perkebunan milik TNI. Di lokasi inrehab ini dibangun 2 barak untuk tidur,

satu musallah dan satu dapur umum. Tapol yang dipindahkan ke inrehab

sekitar 200-300 orang. Mereka bekerja dan tinggal di lokasi ini dari tahun

1972 sampai 1977.

Pada periode tersebut juga terjadi penghilangan paksa terhadap 4

orang pimpinan partai. Mereka adalah Abd Rahman Dg Maselo, Chaeri

Ruswanto, Sunaryo, serta Zamrud. Penculikan terhadap empat orang

pimpinan partai ini terjadi antara bulan Mei sampai Juli 1967. Dilihat dari

konteks nasionalnya operasi penumpasan sisa-sisa PKI di Indonesia

berlangsung antara tahun 1965-1966 Peristiwa penculikan di Palu ini

justru bisa dikatakan terlambat dibandingkan dengan wilayah-wilayah

lainnya di pulau Sulawesi maupun di Indonesia.


Sebelum dihilangkan secara paksa para korban mengalami proses

penangkapan oleh tentara dari Korem 132 Tadulako. Berbeda dengan

penangkapan pada umumnya, mereka tidak mengalami penyiksaan yang

luar biasa. Penangkapan yang dilakukan lebih pada upaya pengamanan

yang diinstruksikan oleh Komandan Militer (DANREM) 132 Tadulako

Palu. Salah satu tapol, Rafin Pariuwa, mengisahkan keadaan Maselo

bersama tiga orang lainnya, sebelum penangkapan.

Malam itu kami kumpul dirumahnya pak Partowijoyo, rame


kitaorang ada semua pimpinan-pimpinan di situ, kita membahas
bagaimana situasi keadaan sekarang, karena partai kita diserang.
Saya dengan Jido diajak sama pak Partowijoyo menghadap
Danrem 132 Tadulako bapak M. Yasin di rumahnya. Jadi kita tiga
orang ini kesana, sampai di rumah M. Yasin dia tanya di mana Abd
Rahman Dg Maselo, pak Parto langsung jawab oo dia sakit pak
belum bisa kesini. Padahal dorang Maselo ini ada batunggu di
rumahnya pak Parto. Jadi tidak lama kami di sana, pak Yasin
langsung titip pesan kasi tahu sama Rahman Maselo kalau dia
sudah sehat secepatnya menghadap sama saya, karena suasana
sudah lain saat ini.
Habis itu kami langsung pulang, sampai di rumahnya pak Parto
dia orang yang empat ini Abd Rahaman Maselo, Chaeri Ruswanto,
Sunaryo dan Zamrud sudah tidak ada, mereka ini sudah ke Parigi
malam itu juga bajalan lewat Poboya. Mereka mau cari
perlindungan di sana sama kepala polisi D. Dali.
Besok pagi-pagi sekali pak Parto lagsung pigi lagi melapor sama
M. Yasin kalau kawan-kawan ini sudah ke Parigi. M. Yasin
langsung perintahkan Mayor Jamber Wardana untuk jemput
mereka di Parigi karena jangan sampai mereka tidak aman di sana.
Jadi dia orang dibawa kembali ke Palu sini baru dirumahkan di
Jalan Matahari itu supaya aman.
Selama dua bulan menjalani masa tahanan di rumah pejabat, para tapol

dipindahkan ke penjara Maesa Palu dan bergabung dengan tapol dan


narapidana lainnya. Di dalam penjara Abd Rahman Dg Maselo, Chaeri

Ruswanto dan Sunaryo ditempatkan dalam sel khusus yang berukuran

lebih kecil. Terpisah dari tiga kawan lainnya, Zamrud dimasukan ke

dalam ruangan sel yang lebih besar yang bisa dihuni 70an orang. Di

dalam penjara ini, para tapol dibolehkan mendapatkan kunjungan dari

keluarga walaupun dalam keadaan yang terbatas. Ida Nusiploo yang

merupakan istri Chaeri Ruswanto, sempat sekali mengunjungi suaminya

di dalam penjara dan mengisahkan:

Sudah abis peristiwa dari Jakarta itu saya sudah jarang ketemu
papanya anak-anak ini, dia sudah jarang di rumah apa dikejar-
kejar orang. Saya cuma dengar-dengar berita dari luar dorang
sudah diculik atau diapa. Nanti saya pigi liat lagi waktu Prihatin
itu umur satu minggu, saya beranikan diri datang ke Maesa itu, ini
dijaga tidak boleh lama-lama, saya minta surat dari CPM
beranikan diri kesana. Dia kaget liat saya bawa anak kita masih
merah-merah ini, apa waktu sudah peritiwa itu kan dia sudah
jarang di rumah dia tidak tahu kalau saya hamil. Waktu ketemu itu
cuma bilang kasi nama anak ini, dia pegang sudah kasian baru dia
bilang kasi nama Prihatin.

Memasuki tahun 1966 secara bertahap tujuh orang tapol yang merupakan

pimpinan PKI di tingkat propinsi dipindahkan ke penjara Donggala

mereka adalah Abd Rahman Dg Maselo, Chaeri Ruswanto, Sunaryo,

Marjun Lasama, Partowijoyo.

Di penjara Donggala para tapol mendapat penjagaan yang ekstra ketat.

Mereka juga tidak dibebaskan menerima kunjungan dari keluarga. Situasi

itu disampaikan oleh Abd Rahman Dg Maselo pada istrinya Mariyam

lewat surat yang dia kirimkan melalui seorang kurir, sebagai berikut :
Iam, mulai tanggal 27/2/1966 ini kami di Donggala terpaksa akan
melakukan mogok makan karena selama ini permintaan kami
untuk pindah ke Palu dan dibesuk belum kunjung terkabul.
Tanggal 28 atau tanggal 1 hendaknya kami mendatangi pihak
berwajib untuk menguatkan permintaan tersebut dan meniadakan
kekhawatiranmu, katakan bahwa kau mendengar berita tentang
mogok makan ini dari perkataan orang lain. Sesungguhya hal ini
adalah praktek atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan atas
kita.

Sampai tahun 1967 tapol di penjara Donggala masih belum bebas

menerima kunjungan dari siapapun. Tanggal 3 April 1967 ibu Mariyam

menerima surat terakhir dari suaminya, dalam surat itu disebutkan

tuntutan meraka (7 orang tapol) meminta agar dipindahkan ke penjara

Maesa di Palu juga agar boleh menerima kunjungan, masih belum

dikabulkan.

Sebulan kemudian tanggal 30 Mei 1967 Rafin Pariuwa (tapol yang

mendapat tugas mengkoordinir rekannya sesama tapol yang menjalani

kerja paksa di proyek Komando Kali Palu) mencurigai ada yang tidak

beres dengan kawan-kawannya yang berada di penjara Donggala, setelah

tanpa sengaja dia menunggu sersan Bantam di depan gudang alat-alat

yang digunakan pada proyek kerja paksa Komando Kali Palu (KKP). Sore

itu Sersan Bantam datang dari arah Donggala menggunakan mobil

komandan Korem yang dikendarai oleh Kapten Umar Said bersama

Kopral Mangadil, Efendi, Nopo, Poneke. Rombongan itu datang dalam

keadaan basah kuyup padahal cuaca sedang cerah. Sersan Bantam turun
membawa tiga buah cangkul dan di cangkul itu, Rafin melihat ada bercak

darah.

Kecurigaan Rafin Pariuwa ternyata benar. Sehari kemudian, mereka

mendapatkan kabar dari ibu dan istri Sunaryo, bahwa Abd Rahman Dg

Maselo, Chaeri Ruswanto dan Sunaryo sudah tidak berada di penjara

Donggala. Berdasarkan keterangan dari petugas penjara bahwa kemarin

sore (30 Mei) mereka dijemput oleh Umar Said untuk dibawa ke Menado

namun sebelumnya akan mampir di Palu. Setelah peristiwa itu tidak ada

lagi kabar tentang keberadaan korban.

Sebulan kemudian antara Juni Juli 1967, Zamrud yang sehari-harinya

dipekerja paksakan di mess Korem 132 Tadulako, tiba-tiba diantar oleh

Kopral Nopo ketempat kerja paksa KKP. Kopral Nopo meminta Rafin

untuk memberi Zamrud makanan. Tidak lama kemudian Letnan Satu

Umar Said datang ketempat itu dan bertanya kepada Rafin ;

Umar Said ini datang sama saya dia tanya kamu tahu dimana
rumahnya Laohe? Saya ini sebenarnya tau, tapi saya curiga kenapa
Umar Said ini tanya Laohe sama saya, sementara Laohe ini saya
kenal butul orang PSII yang pimpin demo pembubaran PKI.
Akhirnya saya jawab tidak tahu. Tiba-tiba Zamrud ini berdiri dari
tempatnya istirahat, dia langsung jawab saya tahu pak. Umar Said
bilang ikut saya. Mulai hari itu sudah tidak ada Zamrud ini pulang
ke penjara.

Tahun 1975, Letnan Satu Umar Said ditangkap atas tuduhan PKI Gaya

Baru. Dalam proses pemeriksaan di kantor CPM, tim pemeriksa

menanyakan tentang laporan penembakan 3 orang tapol. Dalam laporan


itu Umar Said menyebutkan bahwa tiga orang tapol yang dijemput dari

penjara Donggala yaitu Abd Rahman Dg Maselo, Chaeri Ruswanto dan

Sunaryo tahun 1967. Dalam laporannya Umar Said menyebutkan bahwa

ketiga orang tapol ini meminta untuk buang air kecil dalam perjalanan

dari Donggala ke Palu. Kemudian mereka berusaha melarikan diri. Dalam

keadaan itu Sersan Bantam menembaki mereka. Namun tidak disebutkan

apa yang terjadi pada ketiga tapol itu selanjutnya.

Dalam proses pemeriksaan Umar Said, Sersan Bantam, Kopral Mangadil

dan Kopral Efendi dipanggil oleh tim pemeriksa untuk dimintai

keterangan. Mereka bersatu dan bersepakat untuk membongkar

kebohongan Umar Said atas peristiwa tersebut. Berikut penjelasan Sersan

Bantam :

Umar Said datang di gudang alat-alat yang saya jaga untuk orang
kerja di Komando Kali Palu dia langsung bilang kasi naik pacul,
tandu-tandu, sekop kedalam mobil, dia bawa mobilnya Komandan
Korem. Di dalam mobil sudah ada Kopral Efendi dan Kopral
Mangadil. Sampai diperbatasan Loli Watusampu mobil berenti,
Umar Said ajak kami naik ke bukit dekat jalan itu, dia langsung
perintah gali lubang. Tapi dia tidak tunggu lagi kami dia langsung
pamit ke Donggala mau beli tali katanya, nanti kalau sudah habis
lubang digali kami disuruh tahan mobil yang lewat baru ketemu di
penjara Donggala.
Sampai di penjara Donggala saya langsung melapor sama Umar
said, tidak lama keluar Rahman Maselo, baru Ruswanto terakhir
Sunaryo, semua tangannya dia orang diikat baku sambung-
sambung pake tali nilon putih. Ada lagi satu orang keluar pake
baju preman celana hitam, baju putih, tidak pake tutup kepala tapi
bagendong senjata stend. Semua naik ke mobil menuju ke arah
Palu. Sampai di dekat lubang yang digali tadi mobil berenti,
semua turun. Umar Said suruh saya jaga mobil. Dorang semua
naik kegunung itu, tidak lama saya dengar suara senjata ketak
ketak ketak. Tidak lama lagi sudah turun ulang Umar Said, orang
baju preman itu dengan Efendi dan Mangadil. Umar Said kasi
syarat dia taruh jari di mulut, artinya jaga rahasia.
Jadi keterangan ini yang kami sampaikan sama tim pemeriksa,
kami bantah keterangannya Umar Said itu bahwa orang tiga ini
melarikan diri, yang sebenarnya mereka sudah ditembak sama
orang yang pake baju preman itu atas suruhan Umar Said.

Berdasarkan kesaksian dari purnawirawan Sersan Bantam diketahui

bahwa tiga orang tapol yang diculik dari penjara Donggala sesungguhnya

sudah di eksekusi. Kesaksian berikutnya datang dari bapak Aminudin.

Antara tahun 1975-1976 itu saya dapat tugas bikin 200 biji boks
bayi untuk rumah sakit daerah. Siang-siang itu ada tentara yang
panggil saya, dia bilang cuma liat di sini, saya baliat dari jendela
di atas meja ada tulang-tulang yang dicari-cari pasangannya. Saya
ditanya coba kamu liat ini bos-bosnya kamu ini, kenal atau tidak.
Saya lihat ada tenggkorak kepala ada gigi emasnya, saya bilang
kalau itu saya kenal giginya Abd Rahman Maselo. Dia pasang gigi
emas waktu ke Peking tahun 1964.

Kesaksian Aminudin ini menjelaskan bahwa sesungguhnya

kuburan massal itu telah digali kembali setelah penangkapan dan

pemeriksaan yang dilakukan kepada Umar Said. Namun tulang belulang

tersebut tidak pernah dikembalikan kepada keluarga korban. Selang

beberapa hari kemudian Aminudin mendapatkan keterangan dari petugas

Korem bahwa tulang belulang tersebut dimasukan kedalam karung dan

disimpan dalam salah satu ruangan di kantor Korem. Dan beberapa hari

kemudian para tapol yang bekerja di kantor Korem termasuk Aminudin

dan Baharudin diberitahu oleh anggota tentara bahwa tulang belulang


yang tadinya disimpan dalam gudang telah dikuburkan kembali di

halaman kantor Korem 132 Tadulako Palu. Di atas kuburan itu ditanami

bunga pisang.

Bab V : Penutup
5.1 Kesimpulan
5.2. Saran