Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Geologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang segala aspek tentang bumi.
Dengan mempelajari keadaan geologi suatu daerah, kita dapat menceritakan apa saja
yang terjadi pada daerah tersebut di masa lampau. Seperti yang dikatakan oleh James
Hutton The present is key to the past ( hari ini adalah kunci masa lalu ) itu memang
benar adanya.

Keadaan alam yang beraneka ragam di permukaan bumi ini, mendorong rasa
keingintahuan para ilmuan untuk mengkajinya. Dalam mata kuliah Prinsip Stratigrafi.
Diantaranya meliputi komposisi, genesa atau keterjadian, serta hubungannya dengan
proses geologi dan sejarah keterbentukkan lapisan batuan itu sendiri.Kegiatan Ekskursi
ini lebih dari cukup untuk menjadi bekal dalam mempelajari batuan di lapangan secara
regional, dalam hal ini bertujuan sebagai pembanding antara teori teori yang telah
didapatkan didalam kelas dengan keadaaan lapangan sebenarnya.

1.2 EKSKURSI
Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia Ekskursi berarti Perjalanan untuk
bersenang senang; piknik;darmawisata. Maka dengan begitu Ekskursi yang di
laksanakan pada tanggal 25 Agustus 2017, di daerah Kab. Banjar & Kab Pangandaran,
Provinsi Jawa Barat, sebagai calon Geologist mengaplikasikan apa yang di pelajari di
dalam kelas ke lapangan langsung.

1.3 RUMUSAN MASALAH


A. Menentukan posisi menggunakan GPS.

B. Kondisi keterbentukan atau urutan singkapan lokasi pengamatan.

C. Bagaimana hubungan antar batuan dalam singkapan tersebut.

1
D. Proses geologi apa saja yang terjadi dengan cara mendeskripsikan singkapan yang
ada dilapangan.

1.4 TUJUAN
Mahasiswa dapat melakukan observasi, eksplorasi serta mampu menghasilkan
data dan laporan kondisi geologi di lapangan dengan baik dan benar sebagai
persyaratan penilaian UAS mata kuliah Sedimentologi. Adapun makalah ini memuat
tentang laporan perjalanan dan hasil pengamatan baik pengamatan lokasi secara
singkapan, deskripsi litologi, dari singkapan yang ditemukan sebagai bagian dari
perkuliahan maupun sebagai seorang sarjana teknik geologi di masa mendatang.

1.5 METODE PENELITIAN


Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif atau penggambaran agar
dapat lebih mudah di pahami dengan langsung melakukan pengamatan kondisi geologi
dari singkapan pada lokasi ekskursi, dan analisis dari data yang diperoleh di lapangan.

1.6 PERLENGKAPAN LAPANGAN

Adapun perlengkapan yang digunakan pada kegiatan ekskursi ini adalah


sebagai berikut :

A. Alat Tulis

B. Clip Board

C. GPS

D. Palu Geologi

E. Kompas Geologi

F. Field Book, HVS

G. Lembar Deskripsi

2
H. Camera Digital

I. Kaca Pembesar (Loup)

J. Komparator, dll.

3
BAB II

GEOLOGI REGIONAL

2.1 FISIOGRAFI

Fisiografi Jawa Barat menurut Van Bemmelen (1949) terbagimenjadienam


zona (Gambar2.1 )yaitu sebagai berikut:

A. Zona Gunungapi Kuarter,

B. Zona Dataran Pantai Jakarta,

C. Zona Antiklinorium Bogor,

D. Kubah dan Punggungan pada Zona Depresi Tengah,

E. Zona Depresi Tengah Jawa Barat atau Zona Bandung, dan

F. Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat.

Gambar 2.1 Peta Fisiografi Jawa Barat


(modifikasi dan digitasi dari Van Bemmelen, 1949)

4
Daerah penelitian termasuk kedalam dua zona fisiografi, yaitu Zona Pegunungan Selatan Jawa
Barat dan Zona Depresi Tengah Jawa Barat. Daerah ini terdiri dari perbukitan dari Zona
Pegunungan Selatan dan daratan rendah dari Zona Bandung

2.2 Struktur Geologi Regional


. Struktur geologi yang berkembang di Pulau Jawa ini dipengaruhi oleh aktivitas Lempeng
Samudera Hindia Australia yang Konvergen terhadap Lempeng Benua dan aktivitas ini masih
terus berlangsung hingga sekarang. Salah satu produk dari aktivitas kedua lempeng ini adalah
terdapatnya tiga pola struktur regional yaitu pola Meratus, Pola Sunda, dan Pola Jawa
(Palunggono dan Martodjojo, 1984) DIsamping itu terdapat pola struktur yang disebut Arah
Sumatera (Martodjojo, 1984)

Gambar 2.2 Arah pola struktur utama Pulau Jawa dan sekitarnya (Palunggono dan
Martodjojo, 1984) Kotak merah merupakan lokasi daerah pengamatan

Evolusi tektonik di atas dikuatkan oleh hasil penelitian Pulunggono dan Martodjojo (1994),
yang menyimpulkan bahwa pada dasarnya di Pulau Jawa terdapat empat arah kelurusan
struktur yang dominan (Gambar 4), yaitu:

5
1. Pola Meratus yang berarah timurlaut-baratdaya, terbentuk pada 80-53 juta tahun yang
lalu (Kapur Akhir-Eosen Awal) dan merupakan pola tertua di Jawa. Pola Meratus ini
diwakili oleh Sesar Cimandiri di Jawa Barat, yang dapat diikuti ke timur laut sampai
batas timur Cekungan Zaitun dan Cekungan Biliton, Sesar naik Rajamandala serta sesar-
sesar lainnya di daerah Purwakarta.

2. Pola Sunda yang berarah utara-selatan, terbentuk pada 53-32 juta tahun yang lalu (Eosen
Awal-Oligosen Akhir). Pola ini diwakili oleh sesar-sesar yang membatasi Cekungan
Asri, Cekungan Sunda, dan Cekungan Arjuna.

3. Pola Struktur Sumatera yang berarah baratlaut-tenggara, sejajar dengan arah sumbu
panjang Pulau Sumatera (Pegunungan Bukit Barisan). Pola ini diwakili Sesar Baribis,
sesar-sesar di Lembah Cimandiri dan Gunung Walat.

4. Pola Jawa yang berarah barat-timur, yang terbentuk sejak 32 juta tahun yang lalu. Pola
ini merupakan pola struktur yang paling muda, memotong dan merelokasi Pola Struktur
Meratus dan Pola Struktur Sunda.

Daerah pengamatan termasuk kedalam lembar Peta Geologi Majenang & Peta Geologi
Pangandaran (Gambar..) yang dibuat oleh T.O Simandjutak dan Surono (1992). Struktur
geologi yang terdapat pada lembar ini terdiri dari lipatan, sesar dan kedudukan lapisan. Struktur
geologi berupa lipatan, yaitu antiklin dai sinklin berarah berarah barat timur dan barat laut
tenggara. Struktur geologi berupa sesar terdiri dari sesar naik berarah barat- timur dan sesar
mendatar tang berarah barat laut tenggara dan timur laut barat daya. Kedudukan lipada
pada lembar ini umumnya mempunyai jurus barat timur dan barat daya. Dari sebaran struktur
geologi berupa sesar dan lipatan di daerah pengamatan diperkirakan tegaran utama yang
bekerja pada daerah ini berarah relative utara selatan.

2.3 Stratigrafi

Lembar Pangandaran secara keseluruhan terbentuk oleh batuan sedimen tersier


hingga Kuarter.batuan ini terdiri dari perselingan batuan klastika ,sedimen gunung api
dan batuan karbonat.struktur dan tekstur nya sangat erat berhubungan dengan
perkembangan tektonik bagian selatan Pulau Jawa.batuan tertua di daerah ini adalah
formasi Jampang (Tomj) yang berumur oligosen akhir hingga miosen awal.

6
Didalam batuan klastika kasarnya, ditemukan kepingan lava basal dan spilit.
Bagian bawah ini tidak tersingkap,formasi jampang tidak ditemukan di timur lembah
citanduy.ini akibat sesar menurun sepanjang citanduy pada miosen tengah,sehingga
daerah bagian timur lebih rendah.di daerah ini pula terdapat dua formasi yang hampir
seumur ,yaitu formasi Pamutuan (Tmpa) dan formasi Pemali (Tmp). yang pertama
menempati bagian barat dan yang kedua menempati bagian timur.

Pemisahan kedua satuan batuan itu,didasarkan pada tiga patokan : pertama,


formasi Pemali diendapkan dalam cekungan disebelah timur yang dibatasi oleh sesar
Citanduy.kedua , gabungan batuan kedua formasi tersebut berbeda, dan ketiga formasi
Pemali lebih tua daripada formasi Pamutuan.

Formasi Jampang (Tomj)

Formasi ini merupakan batuan gunung api klastika yang sangat menonjol,berupa
breksi,tuf,dan sisipan lava.batuan ini berselingan dengan batuan pasir, batulempung dan
napal dengan sisipan konglomerat,batupasir kerikil dan diamiktit. Breksi berwarna abu
tua sampai hitam,coklat,kelabu kehijauan dan kebiruan. Umumnya padu terpilah
buruk,dengan komponen berukuran antara 0,5cm dan 2m - 3m, bentuk butirnya
menyudut hingga menyudut tanggung.komponennya terdiri dari andesit
plagioklas,andesit hornblenda,andesit hipersten,trakit basal,batugamping,argilit dan tuf
hablur terkersikan atau batupasir tufaan.

Satuan ini tersingkap luas didaerah perbukitan dibarat citanduy dan


nusakambangan .tebal seluruhnya tidak diketahui secara pasti,karena bagian bawah
tidak tersingkap.berdasarkan penampang geologi tebalnya diperkirakan melebihi
1000m.satuan ini menjemari dengan formasi Nusakambangan dan ditindih secara tidak
selaras oleh formasi Pamutuan,tetapi dengan formasi Halang dibatasi Oleh sesar .satuan
ini dapat disetarakan dengan bagian bawah dari formasi Gabon ( Lembar Banyumas)

Formasi Nusakambangan (Tmnt)

Formasi ini terdiri dari tuf,tuf lapili,tuf pasir dan kerikil dengan sisipan batupasir
sela di bagian bawah,secara berangsur batupasir sela makin bertambah ke bagian atas,
dengan selingan batulempung dengan sisipan breksi.satuan ini tidak berfosil, umurnya

7
didasarkan pada kedudukan stratigrafi nya yang menjemari dengan formasi Jampang
yaitu miosen tengah, serta lingkungan pengendapan lautan. Satuan ini terdapat di Pulau
Nusakambangan dan di beberapa tempat di barat Citanduy, biasanya membentuk
perbukitan rendah. Tebal berkisar antara 200 dan 800m. Satuan ini terletak selaras
dibawah Formasi Pamutuan serta tertindih tidak selaras oleh Formasi Kalipucang. Nama
formasi didasarkan pada singkapan terbaik di Pulau Nusakambangan. Satuan ini dapat
disertakan dengan anggota Tuf formasi Gabon di lembar Banyumas.

Formasi Pamutuan (Tmpa)

Formasi ini terdiri dari barupasir berselingan dengan batugamping


kalkarenit,napal.batulempung dan tufa yang diendapkan dalam lingkungan laut dangkal
sampai neritik,berumur miosen tengah. Dalam formasi ini terdapat batugamping
kalkarenit yang dikelompokan dalam anggota formasi Pamutuan yang terdiri atas
batugamping kalkarenit berselingan dengan napal yang berumur miosen tengah. napal
dan batugamping mengandung fosil foraminifera jenis bentos dan plangton,kepingan
kerang dan ganggang.satuan ini tersingkap baik di aliran Sungai Cipamutuan di sebelah
utara Pangandaran .tebal satuan ini sekitar 600m, menindih selaras formasi Jampang
.hubungan nya dengan formasi Kalipucang tidak jelas ,diduga menjemari.

Formasi Kalipucang (Tmkl)

Formasi ini terdiri atas batugamping terumbu, banyak mengandung koral dan
algae ,batuan ini tersusun oleh mineral kalsit ,aragonit,apatit dan sedikit lempung.
terbentuk dalam lingkungan litoral yang berumur miosen tengah sampai miosen akhir .
satuan ini terdapat di daerah perbukitan rendah dan tersebar secara terpisah pisah di
barat Citanduy dan Pulau Nusakambangan,tebal maksimum satuan ini sekitar
300m.batuan terumbu ini cukup berkembang dan menindih secara tak selaras di atas
formasi Jampang dan formasi Nusakambangan, sedangkan bagian bawah menjemari
dengan anggota tuf napalan dan anggota kalkarenit formasi Pamutuan.

8
FORMASI PENOSOGAN (Tmp)
Formasi Penosogan diendapkan diatas Formasi Waturanda dengan litologi berupa
perubahan secara berangsur dari satuan breksi kearah atas menjadi perselingan batupasir tufan
dan batulempung merupakan ciri batas dari Formasi Penosogan yang terletak selaras di
atasnya.Secara umum formasi terdiri dari perlapisan tipis sampai sedang batupasir,
batulempung, sebagian gampingan, kalkanerit, napal-tufan dan tuf. Bagian bawah umumnya
dicirikan oleh pelapisan batupasir dan batulempung, kearah atas kadar karbonatnya semakin
tinggi. Bagian atas terdiri atas perlapisan batupasir gampingan, napal dan kalkanerit. Bagian
atas didomonasi oleh batulempung tufan dan tuf.

Endapan Alluvial dan Pantai (Qa & Qc)

Endapan alluvial ini terdiri dari lumpur, pasir , kerikil. Endapan ini cukup luas
terdapat disekitar muara Citanduy dan dibeberapa tempat sepanjang pantai utara Pulau
Nusakambangan.tebal satuan ini berkisar antara satu sampai puluhan meter. Endapan
pantai yang terdiri dari pasir lepas dan ada juga yang berlapis mengandung magnetit dan
ilmenit, belum mengalami proses kompaksi .dibeberapa tempat di pantai selatan Pulau
Nusakambangan dan disekitar Cilacap berupa endapan epantai dengan ketebalan antara
1-10m. Satuan ini diperkirakan terbentuk sejak plistosen.

Batuan Gunung Api Slamet Tak Terurai ( Qvs)

Endapan hasil letusan gunung api Slamet terdiri dari Breksi gunung api lava dan tuff,
sebenarnya membentuk dataran dan perbukitan UNDIFFERENTIATED VOLCANIC OF G.
Slamet.

9
Gambar 2.3 Peta Geologi Lembar Majenang ( Kastowo & N.Suwarna, 1996 ) & Peta
Geologi Lembar Pangandaran ( T.O Simandjutak & Surono, 1992) dalam legenda yang
tertera di peta hasil modifikasi sumber sebelumnya lokasi pengamatan berada pada
Formasi : Qvs, Tmkl, Tomj, Tmpa, Tmp3

10
BAB III

DATA LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Lapangan

Yang dibahas pada laporan ini adalah bagaimana hubungan kejadian pada saat
pengendapannya, dan melihat ada tidaknya kesan perlapisan pada suatu singkapan yang di
temukan dengan melihat data singkapan yang ada, serta untuk mengetahui tua mudanya suata
singkapan dilihat dari keseluluruhan data singkapan yang di amati setelah dikelompokan
semunya, dan menghasilkan sebuah kolom stratigrafi nantinya.

Berikut ini adalah data-data dari lokasi pengamatan yang dilakukan selama kegiatan
lapangan diantaranya :

3.2 Lokasi 1 :

Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah


Pukul : 11.00 WIB Koordinat : 72429S , 1083242E
Singkapan : Batuan Endapan Laharik Daerah : Kabupaten Banjar, Provinsi Jawa
Barat

Deskripsi Singkapan :

Singkapan endapan laharik berwarna kuning keputihan, terdiri dari batuan beku sebgai
fragmen dengan di dominasi berukuran kerikil bongkah ( Wentworth, 1922) massa dasar di
dominasi oleh tuff dengan sortasi dari singkapan ini terpilah buruk dengan kemas terbuka,
berdimensi dengan tinggi 10 M dan lebarnya 25 M

11
Interpretasi Genesa Fasies Sedimentasi (Lokasi 1)
Batas atas lapisan dari singkapan ini
merupakan endapan laharik berupa
konglomerat dengan fragmen
membundar dan bercampur aduk
akibat aliran pekat dekat dengan
sumber (Mass Flow)

Batas lapisan ke 2 ini mengalami


perubahan besar butir menjadi halus
berukuran pasir tuffan yang di
interpretasi akibat ada perubahan
lingkungan pengendapan yang
diperkirakan lokasinya berair
sehingga mulai terjadi pemilhan
butiran dari material penyusun
l i i i

Batas bawah lapisan singkapan ini


Gambar 3.2 Lokasi pengamatan ke 1
memiliki kenampakan yang sama
dijumpai endapan laharik
dengan lapisan atasnya, namun
ukuran fragmen yang lebih besar
dari komponen fragmen lapisan
atas, terjadi akibat letusan gunung
api yang bertipe eksplosif

Dijumpai juga ketidak


selarasan dengan jenis
Paraconforminity dengan
kehadiran paleosoil, yang
mengindikasikan ada proses
letusan gunung api lebih dari
satu kali kejadian.

12
Literatur & Interpretasi Sedimentasi :

Menurut( Kastowo & N. Suwarna, 1996) dalam peta geologi regional lembar Majenang di
lokasi pengamatan ke 1 (satu) ini termasuk kedalam formasi Qvs (Endapan Gunung Api
Slamet Tak Terurai) sehingga bisa diinterpretasikan komponen penyusun singkapan di lokasi
ini akibat letusan tipe eksplosif paleovolcano Slamet Mountain.

13
3.3 Lokasi 2
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 13.30 WIB Koordinat : 7379.30S , 1084337.62E
Singkapan : Batuan Gamping Terumbu Daerah : Kec. Kalipucang,Kab. Banjarsari,
Provinsi Jawa Barat
Kedudukan : Dip Direction N 230 E / 19

Gambar 3.3.1 lokasi pengamatan ke 2 singkapan batuan gamping terumbu

Deskripsi :

Singkapan di lokasi pengamatan ke 2 (dua) merupakan singakapan batuan gamping


terumbu dengan warna putih kecoklatan dengan dimensi dengan ketinggian 25 M dan

14
lebarnya 50 M, singkapan ini memiliki bentuk geometri seperti tebing dan memiliki
kenampakan massif tidak berlapis bila ditinjau dari kejauhan, akan tetapi dalam singkapan
tersebut terdapat suatu perubahan fasies akibat ada proses fluktuasi muka air laut.

Interpretasi & Genesa Fasies :

Penampang Deskripsi Foto

Regresi muka air laut kembali sehingga


ditemui pelapukan dari singkapan batu
3 gamping dengan hadir kenampakan
paleosoil.

Setelah mengalami pengangkatan dan


pelapukan, lalu di endapkan kembali
sesuai, penembuhan terumbu yang
mengikuti sea water level , dalam
tubuh ke-2 (dua) komposisi CaCO3 +
2 dengan air tanah berkomposisi Mg
menjadi Chalky Limestone MgCO3

Dalam tubuh singkapan batu gamping ini fasies


pertama dari Coralline Reef yang terbentuk, karena
1 sesuai hukum super posisi , dan ditemui adanya
paleosoil menandakan telah mengalami
pengangkatan lalu mengalami pelapukan, dalam
kasus singkapan dijumpai pula fossil pecahan
Corall yang menandakan bahwa jenis
terminologinya berada di Back Reef dijumpai
sisipan lempung

Literatur & Interpretasi Sedimentasi :

Menurut( T.O Simandjutak & Surono, 1992) dalam peta geologi regional lembar
Pangandaran di lokasi pengamatan ke 2 (dua) ini termasuk kedalam formasi Tmkl (Formasi
Kalipucang Batu Gamping Terumbu / Coralline Limestone) sehingga bisa diinterpretasikan

15
berdasarkan pengamatan di lokasi ini dijumpai bukti bukti batu gamping terumbu yang
berada di Back Reef dengan aliran air suspensi memungkinkan untuk biota laut seperti corall
bisa melangsungkan kehidupannya.

Gambar 3.3.2 Menunjukan terminologi dari genesa batuan gamping, lokasi


pengamatan disini bisa menentukan lingkungan karena dijumpai fossil fragmental
corall dibagian bawah singkapan, lingkaran merah gambar di atas menunjukan
lingkungan batu Gamping terumbu lokasi pengamatan (Luis Pomar, 2004)

16
3.4 Lokasi 3
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 14.00 WIB Koordinat : 73724.96S , 1084351.10E
Singkapan : Batuan Gamping Terumbu Daerah : Kec. Kalipucang,Kab. Banjarsari,
Provinsi Jawa Barat
Kedudukan : Dip Direction N 230 E / 19

Gambar 3.4 Singkapan batu gamping terumbu di lokasi pengamatan ke 3 (tiga)


memiliki karakteristik yang sama dengan singkapan gamping terumbu di lokasi ke 2
(dua) Gambar 3.3.1

17
Deskripsi :

Singkapan di lokasi pengamatan ke 3 (tiga) merupakan singakapan batuan gamping


terumbu dengan warna putih kecoklatan dengan dimensi dengan ketinggian 50 M dan
lebarnya 50 M, singkapan ini memiliki bentuk geometri seperti tebing dan memiliki
kenampakan disisipi oleh lempung .

Interpretasi & Genesa :

Penampang Deskripsi Foto

Dalam singkapan di lokasi pengamatan ke 3


(tiga) merupakan singkapan batu gamping
terumbu termasuk dalam Formasi Kalipucang (
T.O Simandjuntak & Surono, 1992) karakteristik
dengan singkapan lokasi ke 2 (dua) sama,
namun menemukan lempung di tubuh
singkapan , berdasarkan interpretasi singkapan
batu gamping di endapkan pada arus yang lebih
suspensi dari lokasi sebelumnya sehingga bisa
mengendapkan butiran berukuran lempung.

18
Interpretasi kedudukan bidang singkapan :

Lokasi ke 3 (tiga) Lokasi ke 2 (dua)

Sketsa penampang geologi dari lokasi ke 2 (dua) dan lokasi ke 3 (tiga), setelah
mengamati karakteristik dari setiap tubuh singkapan , lalu kedudukannya dapat di
interpretasikan bahwa lokasi singkapan batu gamping ke -2 (dua) dengan kedudukan ( Dip
direction : N 230 E / 19 ) , singkapan di lokasi ke 3 (tiga) memiliki kedudukan (Dip
direction : N 162 E/ 5 ) , menghasilkan sebuah sketsa penampang geologi seperti gambar di
atas Dip dari kedua kedudukan singkapan ini saling bertemu dapat disimpulkan menghasilkan
suatu struktur sekunder dengan geometri lipatan Sinklin.

19
3.5 Lokasi 4
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 15.00 WIB Koordinat : 73924.96S , 1084351.10E
Singkapan : Batuan Breksi Polimik Daerah : : Pinggir jalan raya Banjar
Pangandaran.

Kedudukan : -

Gambar 3.5 Singkapan batuan breksi polimik di lokasi pengamatan ke- 4 (empat)

20
Deskripsi :

Singkapan di lokasi pengamatan ke 4 (empat) merupakan singakapan batuan breksi


polimik termasuk dalam Formasi Jampang Tomj (T.O Simandjuntak & Surono, 1992) dengan
warna abu kecoklatan dengan dimensi dengan ketinggian 15 M dan lebarnya 25 M,
singkapan ini terdiri dari batuan breksi polimik dengan fragmen batuan beku berukuran kerakal
bongkah (Wentworth , 1922) dengan massa dasar berukuran pasir sedang (Wentworth, 1922)
.

21
Interpretasi & Genesa :

Profil Stratigrafi Deskripsi Foto

Dibagian atas dari singkapan terdapat


endapan Debris Flow karena
didominasi oleh fragmen, terdiri oleh
batuan beku , diinterpretasikan terjadi
akibat longsoran

3
Dibagian ke 2 dari tubuh singkapan
ditemui perubahan arus transportasi
menjadi turbulensi karena terdapat
struktur Graded Bedding, di bagian ini
pun butiran klasitika bercampur aduk
dikarenakan mekanisme transportasi
menindih lapisan bawah yang belum
sempat terkonsolidasi sehingga
bercampur aduk, fragmen terdiri dari
2
batuan beku dengan mineral

Pada bagian ke 3, lapisan paling bawah


yang nampak merupakan batuan breksi
polimik jenis batuan sedimen klastika yang
terdiri lebih dari satu fragmen yang tertanam
dalam massa dasar, dibagian ini juga bisa
diinterpretasikan di transportasi oleh arus
traksi, sehingga kami bisa mengetahui dari
dari mana Paleocurrent dari sumbu panjang
fragmen berukuran bongkah (Wentworh,
1922) pada panah merah di kolom foto
menunjukan paleocurrent ( G.Nichols, 1999)
1 terdapat pada batuan beku dengan mineral
berbentuk prismatik panjang piroksen

22
3.6 Lokasi 5
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 15.30 WIB Koordinat : 73911.33S , 1084448E
Singkapan : Batuan Breksi Monomik Daerah : Area pemukiman warga dekat
dengan jalan raya Banjar Pangandaran.

Kedudukan : -

Deskripsi Singkapan :

Singkapan yang berada di lokasi 8 berada di pinggir jalan raya Banjar Pangandaran.

Di lokasi ini terdapat singkapan breksi monomik fragmen batuan beku ( Andesit ). Pada
lokasi ke delapan berada tidak jauh dari lokasi ke tujuh, dimana tersingkap breksi
dengan warna gelap, perselingan batupasir dengan warna coklat kehitaman, pemilahan
baik, kemas terbuka, porositas baik, semen silika.

23
Gambar 3.6 Singkapan breksi
monomik
3.7 Lokasi 6

Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah


Pukul : 15.30 WIB Koordinat : 73918.38S , 1084428E
Singkapan : Kontak Intrusi Daerah : Area pemukiman warga dekat
dengan jalan raya Banjar Pangandaran.

Kedudukan : -

Gambar 3.7 Di lokasi pengamatan ke 6 dijumpai kontak intrusi batuan andesit


basaltis yang menerobos lapisan batuan pasir dari Formasi Jampang

24
3.8 Lokasi 7
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 16.00 WIB Koordinat : 73921.25S , 1084425E
Singkapan : Singkapan Endapan batu pasir Daerah : Area pemukiman warga dekat
bawah laut. dengan jalan raya Banjar Pangandaran.

Kedudukan : -

Deskripsi Singkapan :

Singkapan di lokasi pengamatan ke 7 (tujuh) ini merupakan salah satu endapan batu pasir
bawah laut, dengan berwarna abu kehitaman, fragmen terdiri dari batuan beku mafik berukuran
pasir sedang ( Wentworth, 1922) dan massa dasar berukuran pasir halus ( Wentworth, 1922)
sementasi karbonatan, sortasi baik, kemas tertutup, dijumpai juga bentukan geometri dari
struktur chanel ( melensa) yang memperkuat bahwa singkapan ini diendapkan di sungai bawah
laut.

Gambar 3.8 Lokasi pengamatan ke 7 kenampakan geometri batu pasir yang membentuk
melensa sebagai struktur chanel

25
Profil Stratigrafi Deskripsi Sketsa

Kenampakan struktur chanel pada


lokasi ini diperkuat dengan adanya
kontak antara batu pasir sebagai
chanel menggerus lapisan batu
lempung hal ini yang menyebabkan
bahwa chanel pasti terbentuk
dibawah permukaan laut sebagai
sungai.

26
3.9 Lokasi 8
Hari/ Tanggal : 25 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 16.00 WIB Koordinat : 73926S , 1084423E
Singkapan : Kontak Intrusi Daerah : Area pemukiman warga dekat
dengan jalan raya Banjar Pangandaran.

Kedudukan : -

Gambar 3.9 Kontak intrusi di lokasi pengamatan ke 8, batuan beku andesit balastis
menorobos lapisan batuan pasir

27
3.10 Lokasi 9
Hari/ Tanggal : 26 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 09.00 WIB Koordinat : 74130S , 1083219,77E
Singkapan : Batu Gamping Bioklastik Daerah : Pantai Batu Hiu, Kab. Pangandaran.

Kedudukan : -

Gambar 3.10 Singkapan batu gamping bioklastik di lokasi pengamatan ke 9

Deskripsi Singkapan :

Dalam singkapan batuan gamping bioklastik,dengan dimensi ketinggian 30 M lebarnya


50 M berwarna kuning keputihan,dengan struktur sedimen bedding, cross bedding, burrow,
komposisi fragmen merupakan sisa cangkang mollusca fragmental berukuran pasir kasar
(Wentworth, 1922 ) massa dasar berukuran pasir sedang ( Wentworth, 1922 ) semen

28
karbonatan, singkapan ini termasuk dalam Formasi Pamutuan Tmpa (T.O Simandjuntak &
Surono, 1922)

Profil Stratigrafi Deskripsi Foto

Soil bagian atas yang lapuk

Dalam lapisan ke 2 batuan gamping


2
bioklastik yang dijumpai struktur sedimen
berupa cross bedding di bagian bawahnya
sedang dibagian atas terdapat fossil jejak
galian organismen burrow.

Dalam lapisan ke 1 merupakan bottom


dari singkapan ini dijumpai fossil mollusca
fragmental sebagai fragmen, berstruktur
graded bedding, ada sisipan lempung dalam
lapisan ke -1 ini menunjukan saat proses
1 pengendapan sempat tergenang oleh
sehingga arus yang bekerja suspensi.

29
3.11 Lokasi 10
Hari/ Tanggal : 26 Agustus 2017 Cuaca : Cerah
Pukul : 11.00 WIB Koordinat : 74130S , 1083219,77E
Singkapan : Olistostrome Daerah : Pantai Batu Hiu, Kab. Pangandaran.

Kedudukan : -

Gambar 3.11 Di lokasi pengamatan ke 10 ( sepuluh) merupakan endapa melange


sedimentary (olistostrome)

30
Deskripsi Singkapan :

Singkapan ini terdiri dari batuan yang bercamur aduk (olistostrome) namun di dominasi
oleh batuan pasir dibagian atas tubuhnya dan tertanam bongkah di dalamnya, batu pasir
berwarna kuning keputihan, fragmen pun beranekaragam yang di interpretasikan akibat
longsoran yang di picu oleh gempa di laut dalam, kemungkinan akibat letusan gunung api
bawah laut dengan bukti ditemui material piroklast seperti batuan : Pumice, Scoria, Tuff.

Interpretasi Genesa :

Olistostrome adalah batuan sedimen yang terdiri atas material-material yang bercampur
aduk akibat longsoran di bawah permukaan laut. Komponen penyusun olistostrome berupa
blok-blok batuan sedimen dan lumpur. Kelompok batuan olistotrome dapat berupa fragmen-
fragmen batuan (olistolith atau exotic block) yang mengambang dalam massa dasar lempung.
Olistostrome juga tidak memiliki perlapisan yang jelas, tetapi ada semacam perulangan
susunan batuan pada skala yang lebih besar (tebal).

31
Pada bagian tubuh bawah singkapan di lokasi pengamatan ini dijumpai struktur slumping yang
terjadi dipicu akibat gempa yang menyebabkan longsoran sehingga massa yang kehilangan
cairan (liquefaction) membentuk geometri meliuk liuk.

Longsoran yang di akibatkan ledakan paleovolcano , diperkuat dengan adanya material


piroklast yang ditemui tertanam sebagai fragmen seperti : Pumice & Tuff, pengendapan
yang bercampur di akibatkan material BAB IVmengalami slumping belum mengalami
yang
konsolidasi sehingga disusul letusan gunung api piroklast bercampur aduk dengan 32
Kesimpulan

Lokasi 7 Lokasi 6 Lokasi 4 & 5 Lokasi 1


Lokasi 8 Lokasi 2 & 3

4.1 Hari Pertama


Pada kegiatan ekskursi tanggal 25 Agustus 2017 menghasilkan interpretasi dari penampang geologi
setiap lokasi pengamatan ke 1 (satu) 8 (delapan), bahwa lokasi singkapan gamping terumbu pada
lokasi 2 (dua) dan 3 (tiga) paling muda dibandingkan lokasi 4 8 karena berdasarkan literatur yang
ada Formasi Kalipucang (lokasi 2 & 3) berumur Miosen tengah sedangkan Formasi Jampang berumur
Oligosen.

4.2 Hari Kedua


Pada kegiatan ekskursi tanggal 26 Agustus 2017 menghasilkan kesimpulan bahwa singkapan pada
lokasi ke 9 (Sembilan) batuan gamping bioklastik termasuk dalam Formasi Pamutuan yang berusia
Miosen tengah dalam lokasi ini pun terjadi perubahan fasies dari batu gampiing yang diduga
diendapakan pada terminology Fore Reef karena dijumpai pecahan dari cangkang Mollusca
Fragmental, sedangkan pada lokasi ke 10 (sepuluh) singkapan dari Olistostrome merupakan yang
digenesakan akibat letusan paleovolcano yang dikemukan oleh (Hamilton ,1979) yang terjadi akibat
zona pegunungan selatan merupakan hasil dari zona subduksi & busur magmatik yang kompleks.

33