Anda di halaman 1dari 4

Demam Berdarah Dengue dan Pencegahan Melalui Vaksin

Budi Hartono

11-2017-029

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Email : yohanesbudi_hartono@ymail.com

Abstrak
Di Indonesia kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih sering muncul terlebih pada musim
pancaroba. Pada tahun 2015 jumlah penderita DBD sebanyak 126.675 orang di 34 provinsi dan
kasus meninggal 1.229 penderita. Sedangkan 2014, tercatat 100.347 orang penderita DBD di 34
provinsi dan 907 diantaranya meninggal dunia. Penyebab penyakit ini sendiri adalah karena virus
dengue, virus ini memiliki 4 serotipe; Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, Dengue-4. Manusia dapat
terjadi infeksi berulang pada serotipe yang berbeda. Belum lama ini di Indonesia telah masuk
vaksin untuk virus ini sehingga memberikan solusi dalam pencegahan terhadap penyakit DBD
ini. Vaksin ini dapat diberikan pada umur diatas 9 tahun, diberikan 3 kali dengan jarak
pemberian 6 bulan. Namun vaksin masih belum ada di puskesmas, dan baru ada di rumah sakit
swasta atau praktek dokter anak swasta. Dan untuk harga masih relatif mahal yaitu 1 juta rupiah.

Abstract

In Indonesia cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) still often appear in the transition
season. By 2015 the number of DHF patients is 126,675 people in 34 provinces and 1,229 cases
of death. While in 2014, recorded 100,347 people with DHF in 34 provinces and 907 of them
died. The cause of this disease itself is due to dengue virus, this virus has 4 serotypes; Dengue-1,
Dengue-2, Dengue-3, Dengue-4. Human infections can occur repeatedly on different serotypes.
Not long ago in Indonesia has entered the vaccine for this virus so as to provide solutions in the
prevention of dengue disease is. This vaccine can be given at age above 9 years, given 3 times
with a distance of 6 months. However, vaccines still do not exist in puskesmas, and only in
private hospitals or private pediatric practice. And for the price is still relatively expensive that
is 1 million rupiah.

Pendahuluan
Penyakit demam dengue endemik di 100 negara yang tersebar di Asia Tenggara, Asia
Selatan, bagian Timur Mediterania, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Kepulauan
Karibia dan wilayah pasifik. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 2,5
milyar penduduk dunia beresiko terinfeksi Dengue. Sekitar 500.000 dari 50 juta kasus Dengue
membutuhkan perawatan rumah sakit dengan angka kematian mencapai 2,5%. 1

Di Indonesia, kasus DBD sering muncul di musim pancaroba, khususnya awal tahun.
Tahun 2015 jumah penderita DBD sebanyak 126.675 orang di 34 provinsi dan kasus meninggal
1.229 penderita. Sedangkan 2014, tercatat 100.347 orang penderita DBD di 34 provinsi dan 907
diantaranya meninggal dunia.2

Virus Dengue adalah jenis virus dari grup Flavivirus yang mempunyai 4 serotipe;
Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, dan Dengue-4. Infeksi virus Dengue dapat berupa Dengue
Fever (DF atau Demam Dengue), Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah
Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).1

Belum lama ini telah diumumkan bahwa telah ada vaksin baru untuk virus ini, dan sudah
masuk Indonesia tahun 2016 sehingga dapat memberi solusi terhadap pencegahan penyakit ini.

Pembahasan
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai leukopeni, ruam,
limfadenopati, trombositopenia, dan proses hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma
yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematocrit) atau penumpukan cairan di
rongga tubuh. Demam renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue
yang ditandai oleh adanya renjatan/syok.3

Gambaran klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik, atau dapat berupa
demam yang tidak khas, demam dengue, demam berdarah dengue atau sindrom syok dengue
(SSD). Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase
kritis selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai
resiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat.3

Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam dengue
adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah
tepi untuk melihat adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru. Diagnosis
pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun deteksi antigen virus RNA
dengue dengan teknik Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT PCR), namun
karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya antibodi spesifik
terhadap dengue berupaantibodi total, Imunoglobulin M (IgM) maupun Imunoglobulin G (IgG).3

Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain: 1) Leukosit dapat normal atau
menurun. 2) Trombosit umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8. 3) Hematokrit
kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit > 20% dari
hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam. 4) Hemostasis dapat dilakukan
pemeriksaan Partial Tromboplastin Test (PTT), Activated Partial Thromboplastin Time (APTT),
Fibrinogen, D-Dimer, atau Fibrin Degradation Products (FDP) pada keaadan yang dicurigai
terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah. 5) Protein/albumin dapat terjadi
hipoproteinemia akibat kebocoran plasma. 6) Imunoserologi dapat dilakukan pemeriksaan
immunoglobulin M (IgM) dan immunoglobulin G (IgG) terhadap dengue. 7) NS1 merupakan
antigen NS1 dapat dideteksi pada awal demam hari pertama sampai hari ke delapan. Sensitivitas
antigen NS1 berkisar 63%-93,4% dengan spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifisitas
gold standard kultur virus. Hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus
dengue.3

Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama
A.aegypti dan A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi
lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi
air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya). Beberapa faktor yang
diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi biakan virus dengue yaitu: 1). Vector :
perkembangbiakan vector, kebiasaan menggigit, kepadatan vector di lingkungan, transportasi
vector dari satu tempat ke tempat lain; 2). Pejamu : terdapatnya penderita di
lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia, dan jenis kelamin; 3).
Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.3

WHO mengumumkan secara resmi terproduksinya vaksin dengue untuk pencegahan


infeksi virus dengue pada April 2016 lalu. Nama vaksin yang diresmikan adalah Dengvaxia
(chimeric yellow fever dengue- tetravalent dengue virus (CYD-TDV)). Persetujuan vaksin
dengue memberi akses terhadap cara pencegahan inovatif untuk mengendalikan penyebarannya
dan memperkuat sinergi pengendalian dengue di masa mendatang. Dengvaxia dapat
menurunkan peluang infeksi terhadap keempat jenis virus dengue sebanyak 59.2%. Berdasarkan
jenis virus, vaksin ini lebih efektif terhadap DEN-3 (71.6%) dan DEN-4 (76.9%) dibandingkan
DEN-1 (54.7%) dan DEN-2 (43%).4

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan vaksin ini memiliki hasil efikasi terbaik pada
anak usia 9-16 tahun, sedangkan apabila diberikan di bawah usia 9 tahun akan meningkatkan
resiko untuk dirawat karena infeksi dengue dan meningkatkan resiko mendapatkan dengue yang
berat, khususnya pada anak dengan kelompok usia 2-5 tahun. Jadi, vaksin dengue dapat
diberikan pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak pemberian 6 bulan. Pemberian
vaksin juga dapat dimulai kapan saja sejak anak berusia 9 hingga 16 tahun.4

Vaksin Dengue tetap dapat diberikan walaupun anak sudah pernah mengalami infeksi
dengue. Mengapa? Hal ini dikarenakan pada saat anak terinfeksi dengue, hampir tidak mungkin
anak tersebut terinfeksi 4 serotipe virus sekaligus. Biasanya anak hanya terkena satu serotipe
virus saja pada satu kali infeksi. Dengan pemberian vaksin Dengue yang mengandung 4 serotipe,
anak yang sudah terinfeksi akan tetap membentuk kekebalan terhadap serotipe lain yang belum
menginfeksi anak tersebut.4
Karena vaksin Dengue belum masuk ke dalam program imunisasi nasional maka saat ini
vaksin tersebut belum terdapat di Puskesmas. Saat ini, vaksin hanya terdapat pada klinik/rumah
sakit terdekat atau pada praktek dokter anak swasta. Harga vaksin masih cukup mahal yaitu
sekitar 1 juta rupiah per 1 kali pemberian vaksin. Namun, harga tersebut relatif lebih murah bila
dibanding dengan biaya perawatan anak di RS jika terkena demam berdarah apalagi jika harus
dirawat intensif di ICU.4

Penutup
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang memiliki 4
serotipe, pasien dapat terinfeksi ulang oleh serotipe lain. Penyakit ini ditandai dengan adanya
demam tinggi. nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai leukopeni, ruam, limfadenopati,
trombositopenia, dan proses hemoragik. Salah satu pencegahannya adalah dengan pemberian
vaksin terhadap virus dengue. Pada tahun 2016, vaksin terbaru Denguevax (CYD TDV) masuk
ke Indonesia yang termasuk dalam negara resiko tinggi terkena penyakit DBD. Vaksin ini dapat
diberikan setelah usia 9 tahun, dilakukan 3 kali setiap 6 bulan. Namun harga vaksin masih cukup
mahal yaitu sekitar 1 juta rupiah per 1 kali pemberian vaksin.

Daftar pustaka
1. Marbawati D, Tri Wijayanti. Vaksin Dengue, Tantangan, Perkembangan dan Strategi.
BALABA. Banjarnegara; 2014.
2. Kementerian kesehatan RI. Situasi Demam Berdarah Dengue. INFODATIN Pusat Data
dan Informasi Kemeterian Kesehatan RI. 2015.
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I edisi VI. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Sekilas Tentang Vaksin Dengue. Terakhir diperbaharui:
23 Februari 2017. Diunduh : 8 Oktober 2017. Dapat diakses :
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-dengue