Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

1. BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang....... 2
Rumusanmasalah2
Tujuan..2

2. BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Blastulasi ..............3
Macam-macamBlastula ......4
Blastula pada berbagai Jenis hewan...5

3. BAB III PENUTUP


Kesimpulan ......11

DAFTAR PUSTAKA

1
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Pembelahan atau cleavage atau juga disebut segmentasi, terjadi setelah pembuahan.
Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil, yang disebut
blastomer. Pembelahan itu bisa meliputi seluruh bagian, bisa pula hanya pada sebagian
kecil zigot. Pada umumnya pembelahan itu terjadi secara mitosis. Meski sewaktu-waktu
dapat juga disertai oleh adanya pembelahan inti yang terus-menerus tanpa diikuti
sitoplasma.
Pada umumnya pembelahan itu terjadi secara mitosis. Meski sewaktu-waktu dapat
juga disertai oleh adanya pembelahan inti yang terus-menerus tanpa diikutisitoplasma.
Bidang pembelahan merupakan bidang yang ditempuh oleh arah pembelahanketika zigot
mengalami mitosis terus menerus menjadi banyak sel.
Embrio yang memiliki rongga itu disebut blastula, rongganya disebut blastocoels.
Proses pembentukan blastula disebut blastulasi. Blastula merupakan bentuk lanjutan dari
morula yang terus mengalami pembelahan. Bentuk blastula ditandai dengan mulai adanya
perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak beraturan. Di dalam blastula
terdapat cairan sel yang disebut dengan Blastosoel.
Blastulasi merupakan salah satu stadium yang mempersiapkan embrio untuk
menyusun kembali sejumlah sel pada tahap perkembangan selanjutnya. Distribusi yolk
pada setiap jenis telur pada suatu spesies berpengaruh terhadap bentuk-bentuk blastula.
Umumnya blastula memiliki sebuah rongga yang disebut rongga blastula (blastocoel).

1. 2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Blastulasi ?
2. Apa macam dari Blastula ?
3. Bagaimana proses Blastulasi?

1. 3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Blastulasi
2. Untuk mengetahui macam Blastula
3. Untuk mengetahui proses blastulasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Blastulasi

Blastulasi merupakan salah satu stadium yang mempersiapkan embrio untuk


menyusun kembali sejumlah sel pada tahap perkembangan selanjutnya. Distribusi yolk
pada setiap jenis telur pada suatu species berpengaruh terhadap bentuk-bentuk blastula.
Umumnya blastula memiliki sebuah rongga yang disebut rongga blastula (blastocoel).
Pembelahan zigot membelah (mitosis) menjadi banyak blastomer. Blastomer berkumpul
membentuk seperti buah arbei disebut Morula.
Blastomere terdiri dari 2 bagian, yaitu :
a. Jaringan embryo, merupakan jaringan yang akan tumbuh menjadi embryo.
b. Jaringan periblast, merupakan jaringan yang menyalurkan makanan dari yolk di bawah.
Blastula adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan.
Bentuk blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan
pelekukan yang tidak beraturan.

Sementara sel sel morula mengalami pembelahan terus menerus, terbentuklah


rongga di tengah, yang makin lama makin membesar dan berisi cairan. Blastulasi yaitu
proses terbentuknya blastula. Embryo yang memiliki rongga tersebut disebut blastula.
Blastula adalah bentuk lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Bentuk
blastula ditandai dengan adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak
beraturan. Di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut dengan Blastocoel.

3
2.2 Macam-macam Blastulasi
Melihat pada bentuk dan susunan blastomernya blastula dibagi atas :
1. Coeloblastula. Berbentuk bola, disebut juga blastula bundar. Berasal dari telur
homolechital dan mediolechital. Yang homolechital ialah yang mengalami pembelahan
secara holoblastik teratur (Amphioxus). Misalnya blastula pada Synapta sp. , Asterias
sp. , Amphioxus dan Amphibia. Rongga blastula terdapat di tengah atau eksentrik ke
arah kutub anima.

2. Discoblastula. Berbentuk cakram disebut juga blastula gepeng. Berasal dari telur
homolechital yang mengalami pembelahan holoblastik tidak teratur, dan telur
megalichutal yang membelah secara meroblastik. Blastula berada di atas yolk atau
jaringan penyalur makanan. Pada Reptilia, aves dan monotremata blastula disebut
germinal disc.

3. Blastokista, yaitu blastula yang menyerupai kista. Blastula ini memilikimassa sel-sel
dalam (inner cell mass) pada bagian dalam embrio dan dikelilingi oleh tropoblas.
Dihasilkan oleh telur isolesital. Misalnya blastula pada mamalia.
4
4. Stereoblastula, yaitu blastula massif tanpa rongga blastula. Dihasilkan oleh telur
sentrolesital. Misalnya blastula pada berbagai jenis serangga.

Pada blastula terdapat 2 daerah utama yang disebut :


1) Epiblast, bagi blastomere yang terletak sebelah atas atau daerah kutub animal.
2) Hypoblast, bagi blastomere yang terletak sebelah bawah atau daerah kutub vegetal.
Pada blastula epiblast sebagian besar menumbuhkan ectoderm (kulit luar),
sedangkan hypoblast menumbuhkan endoderm (kulit dalam).

2.3 Blastula pada berbagai jenis Hewan

Blastula Bintang Laut

Blastula pada bintang laut terbentuk pada stadium 32 sel (relatif). Pada blastula awal,
blastula tampak memiliki silia. Dinding blastula hanya terdiri atas satu lapisan sel. Sel-sel
pada bagian apeks di kutub anima memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dibandingkan
dengan sel-sel pada kutub vegetatif. Pada bagian kutub vegetatif terdapat sel-sel mikromer
yang kelak akan berkembang menjadi mesenkim primer. Rongga blastula besar dan
terdapat pada bagian tengah embrio. Pada stadium blastula lanjut terjadi beberapa
perubahan, antara lain lepasnya sel-sel mikromer ke dalam blastocoel.

5
Gambar 5. Stadium blastula pada Asterias sp (Carlson, 1988)

Mekanisme masuknya sel-sel mikromer ke dalam blastocoel adalah sebagai berikut:

Bagian apeks sel-sel mikromer memanjang dan lepas dari lapisan hialin, dan
bagian lateral terpisah dari sel-sel vegetatif di sekitarnya.
Sel-sel melintasi lamina basalis masuk ke dalam blastocoel. Di dalam blastocoel,
sel-sel tersebut mengalami reorganisasi membentuik sel-sel mesenkim primer.

Gambar 2. Ingresi mesenkim primer pa da asterias. (A) dinding blastula sebelum ingresi
dimulai, (B) Sel-sel mesen kim prime r (P) mulai memanjang ke dalam blastoc oel
menembus lamina basalis yang ti dak semp urna (BL), (C) permu kaan apek s sel lepas
dari lapis an hialin (H), (D) sel-sel mesenkim primer memisah dari dinding blastocoel, (E)
sel- sel mesenkim yang telah terpisah (Carlson 1985).

6
. Blastula pada Amphioxus

Sejak stadium pertumbuhan 8 sel, suatu rongga terbentuk diantara makromer dan
mikromer dan rongga tersebut semakin jelas kelihatan pada stadium 64 sel. Rongga
tersebut dinamakan rongga blastocoel. Dengan bertambahnya pertumbuhan, rongga
tersebut semakin besar. Struktur yang demikian ini dinamakan blastula, terbentuk 4-6 jam
setelah fertilisasi. Pertumbuhan akhir blastula berlangsung setelah embrio mencapai lebih
dari 200 sel .

Gambar 3. Blastula pada amphioxus (Huettner, 1957)

Blastula Pada Amphibia


Pada amphibia (Xenopus sp), stadium blastula tercapai pada stadium 128 sel. Pada
stadium ini mulai terbentuk suatu rongga yang disebut rongga blastula (blastocoel).
Blastula pada amphibia memiliki tiga daerah yang berbeda, yaitu:
Daerah di sekitar kutub anima, meliputi sel-sel yang membentuk atap blastocoel.
Sel-sel tersebut merupakan bakal lapisan ektoderem. Sel-sel ini berukuran kecil dan
disebut mikromer, mengandung banyak butir-butir pigmen.
Daerah di sekitar kutub vegetatif, meliputi sel-sel yolk yang berukuran besar (makromer)
yang merupakan bakal sel-sel endoderem. Mengandung banyak butir-butir yolk.
Daerah sub ekuatorial berupa sel-sel cincin marginal, meliputi daerah kelabu (gray
crescent). Daerah ini secara normal akan membentuk sel-sel mesoderem.
Pada blastula katak, atap blastocoel terdiri atas 2-4 lapisan sel. Alas blastocoel
adalah sel-sel yolk. Rongga blastocoel terletak lebih ke kutub anima. Menurut Nieuwkoop,

7
fungsi rongga blastula adalah membatasi interaksi antara bakal ektoderem dan sel-sel
endoderem pada cincin marginal yang mengelilingi tepi blastocoel.

Gambar 4. Blastula pada katak (Huettenr, 1957)

Blastula Pada Aves

Blastula pada burung adalah blastula berbentuk cakram atau tudung. Setelah
lapisan tunggal blastoderem terbentuk, selanjutnya blastoderem mengalami pembelahan
secara ekuatorial atau hotisontal, dan menghasilkan 3-4 lapisan sel. Pada stadium ini,
blastodisk terdiri atas dua daerah yang berbeda, yaitu:
a. Area pellusida, yaitu daerah yang tampak bening terletak di atas rongga
subgerminal
b. Area opaka, yaitu daerah yang tampak gelap, terletak pada bagian tepi blastodisk.

8
Pada beberapa jenis aves, rongga subgerminal juga merupakan rongga blastula.
Pada ayam dan bebek, blastocoel terbentuk setelah terjadi delaminasi blastoderem
membentuk lapisan sel bagian bawah yang disebut hipoblas primer, dan lapisan sel bagian
atas yang disebut epiblas. Celah diantara hipoblas dan epiblas disebut blastocoel.

Gambar 5. Pembentukan rongga blastula pada ayam (Gilbert, 1985).

Blastula Pada Mamalia


Blastula pada mamalia disebut blastokista, memiliki sebuah rongga yang berisi
cairan yang dikelilingi oleh selapis sel pada bagian tepi yang disebut tropoblast atau
tropektoderem. Pada bagian dalam embrio ke arah kutub anima, terdapat sekelompok sel-
sel dalam (inner cell mass). Tropoblas merupakan bagian ekstraembrio yang kelak
membentuk selaput korion dan turut serta dalam pembentukan plasenta. Sedangkan massa
sel-sel dalam akan berkembang menjadi embrio yang sesungguhnya.

9
Gambar 10. Skema blastula pada embrio mamalia (Huettner, 1949)
Adanya rongga blastula memungkinkan untuk berlang-sungnya gerakan-gerakan
morfogenik untuk reorganisasi sel-sel embrio pada stadium perkembangan selanjutnya,
khususnya pada stadium gastrula. Pada mamalia, fertilisasi berlangsung pada bagian
ampulla oviduk. Zigot yang terbentuk bergerak menuju uterus sambil melangsungkan
pembelahan. Pada stadium blastula, embrio siap untuk mengalami implantasi. Sambil
terimplantasi, blastula akan berkembang, dan sementara itu terjadi plasentasi pada jaringan
tropektoderem dan jaringan endometrium induk.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Fase Pembelahan (cleavage) Pembelahan atau cleavage atau juga disebut segmentasi,
terjadi setelah pembuahan. Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari
berpuluh sel kecil, yang disebut blastomer. Pembelahan itu bisa meliputi seluruh
bagian, bisa pula hanya pada sebagian kecil zigot. Pembelahan ini terjadi secara
mitosis, meskipun terkadang juga diikuti pembelahan inti yang terus menerus tanpa
diikuti sitoplasma.
2. Blastulasi merupakan salah satu stadium yang mempersiapkan embrio untuk
menyusun kembali sejumlah sel pada tahap perkembangan selanjutnya.
3. Macam-macam blastula Coeloblastula, Discoblastula, blastiokista, dan streoblastula.

11
DAFTAR PUSTAKA

Partodihahardjo, S., 1992. Ilmu Reproduksi hewan. Jakarta : Mutiara,.


Sudarwati, Sri.dkk. 1990. Dasar-Dasar Struktur dan Perkembangan Hewan. Bandung:
Penerbit ITB
Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito
Yatim, Wildan. 1994. Embryologi. Bandung : Tarsito.

12