Anda di halaman 1dari 31

KANKER KULIT

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Epidemiologi Kanker
Yang dibina oleh dr. Erianto Fanani, S. Ked.

Oleh
Rilo Punjung Pangestu K. M (140612604365)
Shika Mafrudhotun Nandha (140612602914)
Sonia Rahma (140612601288)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
November 2016
DAFTAR ISI

Halaman Sampul i
Daftar Isi ii
Pembahasan
1. Definisi Kanker Kulit 1
2. Faktor Resiko Kanker Kulit 2
3. Patofisiologi Kanker Kulit 5
4. Manifestasi Klinis Kanker Kulit 7
5. Macam-Macam Kanker Kulit 9
6. Stage Kanker Kulit 12
7. Data Epidemiologi Kanker Kulit 13
8. Upaya Promotif dan Pencegahan Kanker Kulit 20

ii
PEMBAHASAN

1. Definisi Kanker Kulit


Tumor kulit adalah benjolan atau pertumbuhan yang berlebihan pada jaringan kulit
yang mengenai sebagian atau seluruh lapisan kulit. Tumor kulit dibagi menjadi tumor kulit
jinak, tumor kulit prakanker, dan tumor kulit ganas. Tumor kulit ganas merupakan tumor
kulit yang memiliki struktur tidak teratur dengan diferensiasi sel dalam berbagai tingkatan,
bersifat ekspansif, infiltratif hingga merusak jaringan sekitarnya, serta bermetastasis melalui
pembuluh darah dan atau pembuluh getah bening (Gunawan, 2011).
Tumor kulit ganas secara umum dibagi atas tiga golongan, yaitu melanoma maligna
(MM), nonmelanoma maligna (karsinoma sel basal/KSB dan karsinoma sel skuamosa/KSS),
serta tumor kulit ganas lainnya. Sedangkan menurut Kolegium Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Indonesia dalam Gunawan dkk (2011), tumor kulit ganas digolongkan menjadi lima
golongan, yaitu tumor ganas epidermis dan adneksa (KSB, KSS, dan penyakit Paget), tumor
ganas sel melanosit (MM), tumor ganas vaskular (sarkoma Kaposi), limfoma kulit (cutaneous
T-cell lymphoma/CTCL) dan leukemia kulit, serta tumor ganas jaringan ikat
(dermatofibrosarkoma). Empat Jenis tumor kulit ganas yang banyak ditemukan di dunia
adalah KSB, KSS, dan MM.
Menurut Hendaria, dkk (2013), Kanker kulit adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh berubahnya sifat-sifat penyusun sel kulit yang normal menjadi ganas, dimana sel-sel
akan terus membelah menjadi bentuk yang abnormal secara tidak terkontrol akibat kerusakan
DNA. Bila dilihat dari segi histopatologik memiliki struktur yang tidak teratur dengan
diferensiasi sel dalam berbagai tingkatan pada kromatin, nukleus, dan sitoplasma.
Kanker kulit dapat diklasifikasikan dalam tiga tipe terbanyak yaitu Karsinoma Sel
Basal, Karsinoma Sel Skuamosa, dan Melanoma Maligna (Buljan Marija dalam Hendaria,
2013)
1) Karsinoma Sel Basal (KSB) adalah tipe kanker kulit terbanyak, bersifat lokal invasif,
jarang bermetastasis namun tetap memiliki peluang untuk menjadi maligna karena dapat
merusak dan menghancurkan jaringan sekitar. Karsinoma Sel Basal muncul akibat radiasi
sinar ultraviolet, biasanya di bagian wajah. Karsinoma Sel Basal jarang menyebabkan
kematian serta mudah diterapi dengan pembedahan maupun radiasi.
2) Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) adalah tipe kedua terbanyak setelah Karsinoma Sel Basal,
berasal dari sel skuamosa pada lapisan epidermis kulit. Karsinoma Sel Skuamosa

1
bermetastasis lebih sering dari Karsinoma Sel basal, namun angka metastasisnya tidak
terlalu tinggi kecuali pada telinga dan bibir.
3) Melanoma Maligna adalah tumor yang berasal dari sel melanosit (sel-sel di epidermis
yang memproduksi/berisi melanin atau pigmen), merupakan salah satu tumor yang paling
ganas pada tubuh dengan resiko metastasis yang tinggi. Melanoma Maligna dapat dibagi
menjadi empat yaitu : Superficial Spreading Melanoma (SSM), Nodular Melanoma (NM),
Lentigo Malignant Melanoma, dan Acral Lentiginous Melanoma (ALM).
Berikut ini ialah tabel klasifikasi jenis kanker kulit menurut Buljan Marija dalam
Hendaria, 2013):

Tabel 1. Klasifikasi jenis kanker kulit

2. Faktor Resiko Kanker Kulit


1) Pajanan Sinar Ultraviolet (UV)
Sinar UV merupakan faktor risiko utama pada banyak kasus kanker kulit. Sinar UV
bisa berasal dari sinar matahari atau tanning beds. Sinar matahari merupakan sumber utama
penghasil sinar UV, sehingga orang yang mendapatkan banyak paparan sinar matahari
mempunyai risiko lebih besar menderita kanker kulit. Ada 3 jenis utama sinar UV, yaitu: a)
Sinar UVA: Sinar ini dapat merusak DNA (DeoxyriboNucleic Acid) sel kulit bila terpapar
terus-menerus dalam jangka lama dan berperan menimbulkan beberapa jenis kanker kulit; b)
Sinar UVB: Sinar UVB dapat secara langsung merusak DNA sel kulit. Lapisan ozon yang

2
berada di atas bumi, dianggap merupakan penahan sinar UVB sampai ke bumi. Dengan
meningkatnya pemakaian bahan-bahan kimia tertentu, menyebabkan lapisan ozon tersebut
menjadi berlubang, sehingga mengakibatkan pancaran sinar UVB langsung mengenai
permukaan bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan insidensi kanker kulit; c) Sinar UVC:
Sinar ini tidak dapat melewati atmosfer bumi, oleh karena itu tidak terkandung dalam
pancaran sinar matahari. Sinar ini normalnya tidak menyebabkan kanker kulit (Tan dan Dewi,
2015).

2) Melacynotic nevi
Melacynotic nevi atau biasa disebut tahi lalat adalah salah satu tumor berpigmen yang
sifatnya jinak. Biasanya baru mulai terlihat saat anak-anak dan remaja. Melacynotic nevi ini
sebenarnya bukan masalah, tetapi jika jumlahnya banyak dan bentuknya irreguler atau
ukurannya besar,kemungkinan bisa berpotensi menjadi Melanoma maligna (Tan dan Dewi,
2015).

3) Jenis Kelamin
Berikut ini ialah tabel karakteristik kasus dan kontrol kanker kulit di pulau Jawa:

Tabel 2. karakteristik kasus dan kontrol kanker kulit di pulau Jawa

Sumber: Penelitian Rafizar dan Nainggolan,

3
Berikut ini ialah tabel analisis multivariat dari faktor resiko kanker kulit (jenis kelamin
dan umur) di pulau Jawa:

Tabel 3. analisis multivariat dari faktor resiko kanker kulit (jenis kelamin dan umur)
di pulau Jawa
Sumber: Penelitian Rafizar dan Nainggolan, 2010

Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa pada variabel jenis kelamin, jenis
kelamin laki-laki lebih banyak terkena penyakit kanker kulit yaitu sebanyak (55,6%)
dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan sebanyak (44,4%). Kemudian pada tabel 3
juga menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki mempunyai risiko lebih besar untuk terkena
penyakit kanker kulit 1,37 kali lebih besar dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan.
Hal ini mungkin disebabkan karena pada umumnya laki-laki lebih sering bekerja di bawah
sinar terik matahari dibanding perempuan. Ada banyak profesi-profesi yang mengharuskan
selalu berada di luar ruangan menyebabkan keterpaparan terhadap sinar matahari cukup
besar. Profesi di luar ruangan itu banyak ditempati oleh jenis kelamin laki-laki. Ditambah lagi
adalah kebiasaan laki-laki yang tidak terlalu memperhatikan perawatan kulit mereka
dibandingkan dengan perempuan yang lebih rajin merawat kulit mereka. Rahimah dan Hari
Sukanto (1990) menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya kanker kulit non melanoma
ditentukan oleh kombinasi dari berbagai faktor, yaitu kebiasaan terpapar sinar matahari,
pekerjaan dan tingkat pigmentasi kulit. Wajah, kepala, leher, punggung tangan dan lengan
merupakan lokasi utama terjadinya kanker kulit non melanoma (Rafizar dan Nainggolan,
2010).

4) Umur
Pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa pada variabel kelompok umur, yang paling
banyak adalah berturut-turut kelompok umur 4049 tahun (23,2%), kelompok umur 3039
tahun (21,2%). Kemudian pada tabel 3 juga menunjukkan bahwa variabel umur adalah faktor

4
risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit kanker kulit. Dari faktor umur, orang yang
paling rentan terkena kanker kulit adalah pada usia 30 tahun ke atas. Ada kecenderungan
bahwa risiko terkena kanker kulit akan semakin besar seiring dengan bertambahnya usia
seseorang. Hal ini disebabkan oleh karena semakin bertambah usia seseorang maka
keterpaparan atau kontak langsung dengan sinar matahari juga akan semakin banyak (Rafizar,
2010).

5) Riwayat Keluarga
Menurut Suharyanto dan Prasetyo, 2004 dalam Rafizar dan Nainggolan (2010), di
samping faktor resiko dari luar terdapat juga faktor resiko dari dalam yaitu materi genetik
tubuh sendiri. Faktor genetik, adanya riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama
dapat meningkatkan risiko 200 kali terjangkitnya melanoma maligna (Rafizar dan
Nainggolan, 2010).

6) Ras
Menurut US preventive service task force, 2009 dalam Rafizar dan Nainggolan (2010),
orang dengan warna kulit terang atau putih lebih rentan terkena kanker kulit, daripada mereka
yang warna kulitnya lebih gelap. Hal itu disebabkan pigmen orang kulit putih lebih tipis.
Pada ras kaukasia (Eropa dan sekitarnya) ternyata lebih banyak menderita kanker kulit
dibandingkan dengan kulit berwarna, sehingga kuat diduga bahwa faktor ras juga memegang
peranan yang penting terhadap kejadian penyakit kanker kulit.

3. Patofisiologi Kanker Kulit


Patofisiologi Kanker kulit menurut Boston University School of Public Health, 2013
adalah sebagai berikut.
Divisi Sel yang normal
Lapisan luar kulit (epidermis) menebal dengan normal. Sel di lapisan basal (baris
bawah) membagi dan sel basal membelah, menghasilkan dua sel. Salah satu tetap di lapisan
basal dan mempertahankan kapasitas untuk membagi.
Divisi Sel abnormal
Transisi ke kanker kulit dimulai ketika hilangnya keseimbangan normal antara
pembelahan sel terganggu. Sel basal membagi lebih cepat dari keadaan normal dan dengan
masing-masing divisi kedua dari dua sel yang baru terbentuk akan lebih untuk
mempertahankan kapasitas untuk membagi, yang mengarah ke peningkatan jumlah sel secara

5
berlebihan. Keadaan ini menimbulkan massa yang tumbuh dari jaringan yang disebut suatu
"tumor" atau "neoplasma." Karena semakin banyak sel-sel membelah dan saling menumpuk,
koordinasi normal jaringan secara bertahap menjadi terganggu. Tumor jinak (misalnya tahi
lalat kulit, lipoma): pertumbuhan abnormal yang tumbuh perlahan-lahan, menyerupai sel-sel
normal, dan masih memiliki protein pada permukaan yang mengikat dan dapat metastasis.

Hyperplasia

Perkembangan dimulai dengan mutasi yang membuat sel lebih mungkin untuk
membagi/membelah. Sel berubah dan tumbuh serta membelah melebihi keadaan normal,
kondisi tersebut disebut hyperplasia. Di beberapa titik, salah satu sel-sel ini mengalami
mutasi lebih lanjut sehingga meningkatkan kecenderungan untuk melakukan pembelahan sel
secara berlebihan dan terlihat tidak normal, kondisi ini disebut displasia. Dengan berjalannya
waktu, kondisi tersebut menyebabkan struktur yang awalnya normal berubah menjadi
abnormal, hilangnya diferensiasi, dan hilangnya kontak antara sel-sel lainnya. Namun, masih
terbatas pada lapisan epitel, sehingga keadaan ini disebut kanker in situ. Jika tidak diobati,
kanker in situ mungkin tetap terbatas pada lapisan epitel tanpa batas waktu, tetapi dapat
memperoleh mutasi tambahan yang memungkinkan untuk berkembang menjadi kanker
invasif dan memungkinkan untuk menyerang jaringan yang berada didekatnya dan dapat juga
masuk ke dalam darah atau getah bening, tumor dikatakan kanker invasif (ganas). Sel-sel
yang lolos dapat membentuk tumor baru (metastasis) di lokasi lain di dalam tubuh. Metastasis
adalah pergerakan atau penyebaran sel-sel kanker dari satu organ atau jaringan lain dan
berkembang biak di lokasi baru. Sel-sel kanker biasanya menyebar melalui aliran darah atau
sistem getah bening. Massa tumor juga dapat menyebar secara lokal, dan menimbulkan
kerusakan jaringan sekitarnya. (Boston University School of Public Health, 2013)

6
Sumber : Boston University School of Public Health, 2013

4. Manifestasi Klinis Kanker Kulit


Menurut Marija, dkk dalam Sudaryanto, dkk (2011), ada beberapa manifestasi klinis
dari kanker kulit yaitu diantaranya :
1. Benjolan kecil yang membesar
Benjolan terdapat diwajah, berwarna pucat seperti lilin, permukaannya mengkilap, tidak
terasa sakit atau gatal, dan yang semula kecil makin lama makin membesar. Apabila
diraba, benjolan terasa keras kenyal. Kadang-kadang benjolan menjadi hitam atau
kebiruan, bagian tengah mencekung dan tertutup kerak atau keropeng yang mudah
berdarah bila diangkat.
2. Benjolan yang permukaannya tidak rata dan mudah berdarah.
Benjolan ini membasah dan tertutup keropeng, teraba keras kenyal, dan mudah berdarah
bila disentuh.
3. Tahi lalat yang berubah warna.
Tahi lalat menjadi lebih hitam, gatal, sekitarnya berwarna kemerahan dan mudah berdarah.
Tahi lalat ini bertambah besar dan kadang-kadang di sektarnya timbul bintik-bintik.
4. Koreng atau borok dan luka yang tidak mau sembuh
Koreng dan luka yang sudah lama, tidak pernah sembuh walaupun sudah diobati, koreng
ini pinggirnya meninggi dan teraba keras serta mudah berdarah, adanya koreng karena
terjadi benturan, bekas luka yang sudah lama atau terinfeksi.
5. Bercak kecoklatan pada orang tua
Bercak ini banyak ditemukan pada muka dan lengan, bercak ini makin lama
permukaannya makin kasar, bergerigi, tetapi tidak rapuh, tidak gatal, dan tidak sakit.
6. Bercak hitam yang menebal pada telapak kaki dan tangan

7
Bercak ini ditemukan pada kulit yang berwarna pucat seperti ditelapak kaki dan telapak
tangan. Bercak ini mula-mula dangkal, berwarna hitam keabuan,batas kabur,tepi tidak
teraba, tidak sakit maupun gatal. Kemudian bercak cepat berubah menjadi lebih hitam,
menonjol diatas permukaan kulit , dan tumbuh ke dalam kulit serta mudah berdarah.

Tanda Kanker Kulit


Formula ABCDE untuk Kanker kulit. American Cancer Society (2016)
mengembangkan ABCD Formula sebagai petunjuk dalam menentukan lesi mana yang
bersifat abnormal guna menjamin investigasi lebih lanjut, Formula ABCDE adalah sebagai
berikut :
1. A : Asymetry (A simetris). Setengah bagian dari lesi kulit tidak bersesuaian dengan
yang lain.
2. B : Border irregularity (batasan yang tidak reguler). Bagian tepi dari lesi kulit seperti
kulit kerang atau tidak rata.
3. C : Color (warna). Pigmentasi yang bervariatif pada lesi. Bayangan coklat
kekuningan, coklat dan hitam. Merah, putih dan biru dimungkinkan juga terdapat
sebagai penampakan noda.
4. D : Diameter. Lesi meningkat dalam ukuran atau diameter dari lesi lebih besar dari 6
mm.
5. E : Evolving : Pengembangan dari lesi. Lesi berubah ukuran, bentuk dan warna

8
Gambar Tanda Kanker Kulit dengan Formula ABCDE
Sumber : Boston University School of Public Health, 2013

5. Macam macam Kanker Kulit


Menurut Djuanda (2005), Macam-macam kanker kulit dibagi menjadi 3 yaitu
Pembeda Karsinoma Sel Basal Karsinoma Sel Skuamosa Melanoma Maligna
Patogene Berasal dari sel epidermal Berasal dari lapisan sel Perjalanan penyakit tidak dapat
sis pluripotensial/epidermis/adnek skuamosa atau sel epidermis ditentukan dengan pasti
sanya. yang mempunyai beberapa kadang-kadang tumornya kecil
tingkat kematangan, dapat akan tetapi telah bermetastasis
intraepidermal, dapat bersifat jauh, tumor yang besarpun
invasif dan bermetastasis dapat juga pada satu tempat
jauh saja dalam jangka waktu lama.
Berasal dari sel-sel melanosit.
Gejala Tumor ini biasanya ditemukan Tumor tumbuh lambat, Bentuk dini sangat sulit
klinis di daerah berambut, invasif merusak jaringan setempat dibedakan dengan tumor
dan jarang bermetastasis dengan kecil kemungkinan lainnya. Clark dan Mihm
Bentuk klinis : bermetastasis atau membagi 3 bentuk klinis dari
a. Bentuk nodulus sebaliknya. melanoma maligna :
(termasuk ulkus rodens) : Bentuk klinis : a. Bentuk superfisial :
tidak berambut, berwarna a. Bentuk intraepidermal : bercak dengan ukuran
coklat/hitam, tidak ditemukan pada keratosis beberapa mm sampai cm
berkilat, sudah solaris, kurno kutanea, dengan warna bervariasi
berdiameter 0,5 cm sering keratosis arsenikal, (wavy, kehitaman,
ditemukan pada bagian penyakit bowen, kecoklatan, putih, biru),
pinggir berbentuk eritroplasia, epitelioma tak teratur, berbatas
papular, meninggi, Jadasshon. Penyakit ini dengan tegas, sedikit
anular, dibagian tengah menetap dalam jangka penonjolan di permukaan
cekung yang dapat waktu lama, menembus kulit. Bentuk dini datar
berkembang menjadi lapisan basal sampai ke berubah dalam hal ukuran
ulkus (ulkus rodens) dermis selanjunya (umumnya membesar),
kadang-kadang bermetatasis melalui warna lebih gelap/pucat,
ditemukan telangiektasis. saluran getah bening. gatal, iritasi atau nyeri,

9
Pada perabaan terasa b. Bentuk invasif : dapat infeksi dengan cairan
keras dan berbatas tegas. terdiri dari bentuk sero-porulen, perdarahan,
b. Bentuk kistis : bentuk ini intraepidermal, ulserasi atau krusta.
jarang ditemukan, prakanker, de novo (kulit
permukaan licin, normal).
menonjol di permukaan Mula-mula tumor berupa
kulit berupa nodus atau nodus yang keras dengan
nodulus, perabaan keras, batas-batas yang tidak tegas,
mudah digerakkan dari permukaannya mula-mula b. Bentuk nodular : nodus
dasarnya. licin namun akhirnya yang ditemukan biasanya
c. Bentuk superfisial : berkembang menjadi berwarna biru kehitaman
bentuk ini menyerupai verukosa atau papiloma. dengan batas yang tegas,
penyakit bowen, lupus Pada keadaan ini biasanya bentuk yang terbatas di
eritematosus, psoriasis tampak skuamasi yang epidermal dengan
atau dermatomikosis. menonjol. permukaan licin, nodus
Ditemukan multipel, Pada perkembangan lebih menonjol di permukaan
ukurannya dapat berupa lanjut tumor biasanya kulit dengan bentuk yang
plakat dengan eritema, menjadi keras bertambah tidak teratur, bentuk
skuamasi halus dengan besar ke samping atau ke eksofitik disertai ulserasi.
pinggir yang agak keras arah yang lebih dalam. Umumnya ditemukan di
seperti kawat dan agak Ulserasi dapat terjadi daerah telapak kaki
meninggi, warnanya umumnya mulai di tengah
dapat hitam berbintik- dan berukuran 1-2 cm.
bintik atau homogen Ulserasi diikuti dengan
terkadang menyerupai pembentukan krusta dengan
melanoma maligna. pinggir yag keras serta
d. Bentuk morfea : datar, mudah berdarah.
c. Lentigo maligna
berbatas tegas, tumbuh
melanoma : kadag-kadang
lambat berwarna
meliputi bagian yang agak
kekuningan, pada
luas di muka, warna
perabaaan pinggirnya
coklat kehitaman serta
keras.
tidak homogen, bentuk tak
beraturan, pada bagian

10
tertentu dapat tumbuh
nodus yang berbatas tegas
setelah bertahun-tahun.

Pertum Umumnya lambat lambat


buhan
Progno Cukup baik, bila diobati sesuai Prognosis karsinoma sel Prognosisnya buruk, namun
sis dengan cara yang telah skuamosa sangat bergantung perlu diketahui bahwa faktor
ditetapkan kepada : diagnosis dini, cara yang mempengaruhinya adalah
pengobatan dan ketrampilan :
dokter serta kerjasama antara 1. Tumor primer : daerah
pasien dan dokter. tertentu (badan lebih buruk
Prognosis yang paling buruk daripada anggota badan)
bila tuor tumbuh di atas kulit 2. Stadium.
normal (de novo), sedangkan 3. Organ yang telah
tumor yang ditemukan di diinfiltrasi
kepala prognosisnya lebih 4. Jika terdapat melanoma di
baik dari pada di tempat urin maka prognosisnya
lainnya. lebih buruk.

11
Gambar Karsinoma Sel Basal, Karsinoma sel Skuamosa dan Melanoma
Sumber : Boston University School of Public Health, 2013

6. Stage Kanker Kulit


Menurut National Institutes of Health (2013), Pilihan perawatan didasarkan pada
banyak faktor yaitu termasuk ukuran tumor, lokasi pada lapisan kulit, dan penyebaran ke
bagian tubuh lain. Stage 0, I, II dan III pada kanker diperlukan untuk mengurangi faktor
resiko dan mengembalikan keadaan seperti semula. Sedangkan untuk stage IV kanker, sudah
terjadi peningkatan gejala yang serius dan untuk memperpanjang survival.
Stage Kanker Kulit Non-Melanoma
Menurut National Institutes of Health (2013), Kanker kulit non melanoma (karsinoma
sel basal dan karsinoma sel skuamosa) yang diklasifikasikan dalam 5 stage yaitu
1. Stage 0 : kanker hanya terdapat pada lapisan kulit bagian atas. Itu merupakan karsinoma
insitu.
2. Stage I : pertumbuhan kanker sudah mencapai kurang dari 2 cm.
3. Stage II : pertumbuhan kanker sudah mencapai lebih dari 2 cm.

12
4. Stage III : kanker telah menyebar di bawah kulit, kartilago, otot, tulang dan kelenjar
getah bening terdekat. Pada stage ini kanker belum menyebar luas ke tubuh.
5. Stage IV : kanker telah menyebar ke seluruh tubuh.

Stage Kanker Kulit Melanoma


Menurut National Institutes of Health (2013), kanker kulit melanoma diklasifikasikan
dalam beberapa stage yaitu:
1. Stage 0 : stage ini masih sangat awal, kanker melanoma belum menyebar di dalam atau
di luar kulit.
2. Stage I dan II : stage ini juga masih pada tahap awal, pada stage I tumor telah menyebar
dari epidermal lapisan kulit ke dermal lapisan yang bagian dalam. Stage II tumor
berukuran lebih besar dan kemungkinan mempunyai ulserasi (menerobos kulit).
3. Stage III : stage ini disebut locally advanced cancer. Tumor telah menyebar ke luar kulit
dan juga ke kelenjar getah bening atau ke jaringan terdekat bagian tubuh lainnya.
4. Stage IV : stage ini disebut metastasis kanker. Pada stage ini kanker telah menyebar ke
luar kulit dan kelenjar getah bening dan juga bagian tubuh lainnya (seluruh tubuh).

7. Data Distribusi Kanker Kulit


Distribusi Kanker Kulit di Dunia

13
Sumber : CDC, 2016

Data diatas merupakan data distribusi kanker melanoma yang terdapat di negara
Amerika Serikat pada tahun 2008-2012. Dari data diatas dapat diketahui bahwa kasus kanker
kulit di Amerika diklasifikasikan berdasarkan ras/etnik yang hidup di Amerikan yang identik
dengan perbedaan warna kulit. Kasus kanker kulit pada semua ras/etnik di amerika berada di
angka 19,9 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 65.332. Kasus kanker kulit pada laki
laki di semua ras/etnik berada di angka 25,5 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya
37,971 kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan di semua ras/etnik berada di angka 16,0
dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 27,361 kasus.
Kasus kanker kulit berdasarkan ras kulit putih di Amerika berada di angka 22,6 dengan
angka rata-rata jumlah tahunannya 61,769. Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras
kulit putih di Amerika berada di angka 4,6 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 5,838
kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit putih di Amerika berada di
angka 2,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 3,033 kasus. Kasus kanker kulit
berdasarkan ras kulit putih hispanik di Amerika berada di angka 4,3 dengan angka rata-rata
jumlah tahunannya 1,257. Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras kulit putih
hispanik di Amerika berada di angka 4,8 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 574
kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit putih hispanik di Amerika
berada di angka 4,2 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 683 kasus. Kasus kanker kulit
berdasarkan ras kulit putih non hispanik di Amerika berada di angka 25,1 dengan angka rata-
rata jumlah tahunannya 60,512. Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras kulit putih
non hispanik di Amerika berada di angka 31,2 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya
35,543 kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit putih non hispanik di
Amerika berada di angka 20,7 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 24,969 kasus.
Kasus kanker kulit berdasarkan ras kulit hitam di Amerika berada di angka 1,0 dengan angka
rata-rata jumlah tahunannya 341. Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras kulit
hitam di Amerika berada di angka 1,1 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 155 kasus.
Kasus kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit hitam di Amerika berada di angka
1,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 186 kasus. Kasus kanker kulit berdasarkan ras
Indian di Amerika berada di angka 4,6 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 134 kasus.
Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras Indian di Amerika berada di angka 5,7
dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 71 kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan
berdasarkan ras Indian di Amerika berada di angka 4,0 dengan angka rata-rata jumlah

14
tahunannya 6,4 kasus. Kasus kanker kulit berdasarkan ras Asian di Amerika berada di angka
1,3 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 191 kasus. Kasus kanker kulit pada laki-laki
berdasarkan ras Asian di Amerika berada di angka 1,5 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 94 kasus. Kasus kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras Asian di Amerika
berada di angka 1,2 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 96 kasus. Kasus kanker kulit
berdasarkan ras hispanik di Amerika berada di angka 4,2 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 1,346. Kasus kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras hispanik di Amerika
berada di angka 4,7 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 615 kasus. Kasus kanker kulit
pada perempuan berdasarkan ras hispanik di Amerika berada di angka 4,1 dengan angka rata-
rata jumlah tahunannya 731 kasus.

Sumber : CDC, 2016

Data diatas merupakan data distribusi kematian akibat kanker melanoma yang terdapat
di negara Amerika Serikat pada tahun 2008-2012. Dari data diatas dapat diketahui bahwa
kematian akibat kanker kulit di Amerika diklasifikasikan berdasarkan ras/etnik yang hidup di
Amerikan yang identik dengan perbedaan warna kulit. Kasus kematian kanker kulit pada
semua ras/etnik di amerika berada di angka 2,7 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya
9,071. Kasus kematian kanker kulit pada laki laki di semua ras/etnik berada di angka 4,1
dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 5,936 kasus. Kasus kematian kanker kulit pada
perempuan di semua ras/etnik berada di angka 1,7 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya
3,135 kasus.

15
Kasus kematian kanker kulit berdasarkan ras kulit putih di Amerika berada di angka 3,1
dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 8,872. Kasus kematian kanker kulit pada laki-laki
berdasarkan ras kulit putih di Amerika berada di angka 4,6 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 5,838 kasus. Kasus kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit
putih di Amerika berada di angka 2,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 3,033 kasus.
Kasus kematian kanker kulit berdasarkan ras kulit putih hispanik di Amerika berada di angka
0,8 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 210. Kasus kematian kanker kulit pada laki-
laki berdasarkan ras kulit putih hispanik di Amerika berada di angka 1,1 dengan angka rata-
rata jumlah tahunannya 123 kasus. Kasus kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan
ras kulit putih hispanik di Amerika berada di angka 0,6 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 87 kasus. Kasus kematian kanker kulit berdasarkan ras kulit putih non hispanik di
Amerika berada di angka 3,4 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 8,651. Kasus
kematian kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras kulit putih non hispanik di Amerika
berada di angka 5,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 5,709 kasus. Kasus kematian
kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit putih non hispanik di Amerika berada di
angka 2,1 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 29,42 kasus. Kasus kematian kanker
kulit berdasarkan ras kulit hitam di Amerika berada di angka 0,4 dengan angka rata-rata
jumlah tahunannya 132. Kasus kematian kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras kulit
hitam di Amerika berada di angka 0,5 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 63 kasus.
Kasus kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras kulit hitam di Amerika berada
di angka 0,4 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 70 kasus. Kasus kematian kanker
kulit berdasarkan ras Indian di Amerika berada di angka 0,7 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 19 kasus. Kasus kematian kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras Indian di
Amerika berada di angka 1,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 11 kasus. Kasus
kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras Indian di Amerika berada di angka
0,6 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 8 kasus. Kasus kematian kanker kulit
berdasarkan ras Asian di Amerika berada di angka 0,4 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 48 kasus. Kasus kematian kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras Asian di
Amerika berada di angka 0,4 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 24 kasus. Kasus
kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras Asian di Amerika berada di angka 0,3
dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 24 kasus. Kasus kematian kanker kulit
berdasarkan ras hispanik di Amerika berada di angka 0,8 dengan angka rata-rata jumlah
tahunannya 214. Kasus kematian kanker kulit pada laki-laki berdasarkan ras hispanik di
Amerika berada di angka 1,0 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 125 kasus. Kasus

16
kematian kanker kulit pada perempuan berdasarkan ras hispanik di Amerika berada di angka
0,6 dengan angka rata-rata jumlah tahunannya 88 kasus.

Sumber : CDC, 2016

Data diatas marupakan data insiden kanker kulit yang terjadi di Amerika Serikat pada
tahun 1975-2012. Dari data diatas dapat diketahui bahwa terus terjadi kenaikan dari tahun ke
tahun sampai tahun 2012 dan tidak mengalami penurunan. Insiden kanker kulit pada laki-laki
lebih tinggi daripada peremuan, dapat dilihat dari grafik yang erwarna biru merupakan laki-
laki dan warna oranye merupakan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan angka
insiden kanker kulitnya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

17
Sumber : CDC, 2016

Data diatas merupakan data kematian per 100.000 penduduk akibat kanker kulit yang
terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1975-2012. Dari data diatas dapat diketahui bahwa
terus terjadi kenaikan angka kematian pada laki-laki dari tahun ke tahun sampai tahun 2012
dan tidak mengalami penurunan. Pada kasus kematian akibat kanker kulit pada perempuan
cenderung stagnan antara 1,5 dan 2 kematian per 100.000 penduduk. Kasus kematian kanker
kulit pada laki-laki lebih tinggi daripada peremuan, dapat dilihat dari grafik yang erwarna
biru merupakan laki-laki dan warna oranye merupakan perempuan.

Distribusi Kanker Kulit di Indonesia

Sumber : Azamris, 2011

Data diatas merupakan data laporan penelitian kasus kanker kulit yang terjadi di
Indonesia tepatnya di RS Dr. M. Djamil Padang pada Januari 2002 sampai dengan Maret
2007. Pada data diatas diketahui jumalah penderita kanker kulit dari tahun 2002 sampai maret

18
2007 berjumlah 43 orang. 18 karsinoma sel basal, 16 karsinoma sel skuamosa, dan 9
melanoma maligna.

Sumber : Azamris, 2011

Data diatas merupakan data laporan penelitian kasus kanker kulit yang terjadi di
Indonesia tepatnya di RS Dr. M. Djamil Padang berdasarkan jenis kelamin pada Januari 2002
sampai dengan Maret 2007. Dari data diatas kasus kanker kulit lebih banyak ditemukan pada
perempuan dengan 24 kasus (55,9%). Dan pada laki-laki terdapat 19 kasus (44,1%).

Sumber : Azamris, 2011

19
Data diatas merupakan data laporan penelitian kasus kanker kulit yang terjadi di
Indonesia tepatnya di RS Dr. M. Djamil Padang berdasarkan umur pada Januari 2002 sampai
dengan Maret 2007. Dari data diatas didapatkan angka kejadian tertinggi adalah pada umur
51-60 tahun dengan 15 kasus (33,5%). Dan angka kejadian tertinggi kedua terdapat ada umur
31-40 dengan 8 kasus (18,4%). Kemudian selanjutnya angka kejadian pada umur 41-50 sama
dengan angka kejadian pada umur 61-70 dengan masing-masing 6 kasus (13,7%).
Selanjutnya angka kejadian pada umur 21-30 terdapat 4 kasus (9,2%). Angka kejadian pada
umur 11-20 sama dengan angka kejadian pada umur 71-80 dengan masing-masing 2 kasus
(4,6). Yang terakhir adalah kasus pada umur 81-90 tahun dengan 1 kasus (2,3%).

8. Upaya Promotif dan Pencegahan Kanker Kulit


8.1. Upaya Promotif Kanker Kulit
Promosi dan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media. Masyarakat
diharapkan mengetahui, memahami serta berperan serta dalam gerakan nasional kanker,
sehinga perlu materi yang memuat tentang pentingnya pemeriksaan deteksi dini melalui
berbagai media baik cetak maupun elektronik. Materi meliputi, ajakan untuk berperilaku
hidup bersih dan sehat serta faktor risiko apa saja yang perlu dihindari oleh seseorang untuk
mencegah kanker kulit, siapa saja yang perlu diperiksa deteksi dini, pemeriksaan apa saja
yang akan dilakukan terhadap semua orang yang beresiko kanker kulit. Kegiatan promosi dan
edukasi melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dengan menggunakan media massa cetak
dan elektronik nasional maupun lokal daerah. Media yang digunakan diharapkan untuk
memperluas cakupan informasi kepada masyarakat luas. Spanduk, pesan singkat melalui
perangkat telepon genggam, surat kabar, radio, televisi dan jejaring sosial merupakan contoh
media yang dapat digunakan pada promosi dan edukasi kepada masyarakat. Selain kegiatan
promotif seperti di atas dapat juga mengadakan kegiatan sosialisasi. Sosialisasi diperlukan
untuk memberikan pemahaman tentang pemeriksaan deteksi dini kanker kulit kepada
masyarakat agar mereka mendapatkan informasi yang lengkap dan mengerti manfaat dari
pemeriksaan tersebut. Sosialisasi dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, kader kesehatan,
dan tim penggerak PKK. Sosialisasi dilakukan sebelum pemeriksaan deteksi dini, dan
dilakukan di tempat yang memadai untuk menyampaikan dengan jelas seperti pemeriksaan
deteksi dini, kegiatan posyandu, kegiatan posbindu, forum arisan, forum pengajian, dan
sebagainya (Kemenkes RI, 2015)

20
8.2. Pencegahan Kanker Kulit
8.2.1. Pencegahan Primer Kanker Kulit
Pencegahan primer atau tingkat pertama ditujukan kepada orang-orang yang termasuk
dalam kelompok resiko tinggi yaitu yang belum menderita kanker payudara, diantaranya :
yang memiliki keluarga dengan riwayat kanker, pernah menderita kanker sebelumnya, dan
lain-lain (Indrati, 2005). Pencegahan primer juga merupakan upaya mengurangi paparan
agent penyakit, menghindari faktor resiko dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Beberapa hal lain yang juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker kulit
antara lain:
1. Membatasi diri dari pajanan sinar UV. Bila berpergian keluar rumah/gedung saat
matahari bersinar terang, lindungi diri dengan memakai pakaian tertutup, mengoleskan
sunscreen terutama di area yang masih bisa terpapar langsung sinar matahari, pakailah
topi, dan gunakan kacamata hitam untuk melindungi mata dan kulit di sekitarnya yang
sensitif (Tansil Tan, 2015).
Sedangkan menurut CDC (2014) rekomendasi untuk perlindungan dari radiasi sinar UV
yaitu berada di tempat yang teduh terutama selama tengah hari, menggunakan pakaian
yang tertutup, menggunakan topi dengan pinggiran yang lebar sehingga menutupi kepala,
telinga dan leher, menggunakan kacamata hitam untuk menghalau sinar UVA dan UVB,
menggunakan suncreen.
2. Tahi lalat apapun bentuknya, sebaiknya diperiksa dokter. Jika dianggap berisiko,
sebaiknya dibuang. Jika ditemukan tahi lalat yang baru muncul di wajah, bentuknya
aneh, dan membesar maka segera diperiksa (Tansil Tan, 2015).
3. Konseling setiap 6 bulan sekali dan lakukan beberapa tes genetik bila berisiko tinggi.
Bila dalam keluarga ada penderita kanker kulit atau punya riwayat menderita kanker
kulit, maka risiko terkena atau rekurensi lebih tinggi. Gen CDKN2A (p16) ditemukan
bermutasi dalam keluarga yang mempunyai risiko tinggi terkena kanker kulit. Tes
genetik untuk mengetahui perubahan gen sudah dapat dilakukan walaupun belum
direkomendasikan. (Tansil Tan, 2015).
4. Konsumsi makanan yang mengandung antioksidan yang dianjurkan untuk mencegah,
mengurangi dan mengatasi kanker. Antioksidan untuk mencegah kanker kulit banyak
terkandung di makanan yang mengandung beta karoten, vit E dan vit C. (Cipto, dkk,
2001).
5. Skrinning kanker kulit dapat dilakukan sendiri dengan mengamati tanda-tanda dari
kanker kulit. Skrinjing kanker kulit dapat dilaukan dengan Periksa Kulit Sendiri

21
(SAKURI). Waspadai tanda kanker kulit ABCDE (A=Asimetris, B=Batas tak tegas/tak
rata, C=Color/berwarna-warni tidak sama rata, D=Diameter lebih besar dari biji jagung,
E=Evolusi atau mengalami perubahan atau bertambah besar seiring waktu, terdapat
keluhan gatal, berdarah dan berkeropeng). (Kementrian Kesehatan, 2015).

8.2.2. Pencegahan Sekunder


Pendekatan sekunder dilakukakn dengan melakaukan pengobatan kanker kulit
diantaranya yaitu
1. Bedah Eksisi
Bedah eksisi adalah salah satu cara tindakan bedah yang membuang jaringan atau
tumor dengan cara memotong. Tindakan ini dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu
pemeriksaan penunjang, pengobatan lesi jinak atau ganas dan memperbaiki penampilan
secara kosmetis. Irisan operasi yang sejajar dengan garis regangan kulit alami akan membuat
jaringan parut kurang terlihat. Arah garis ini biasanya tegak lurus terhadap otot dibawahnya.
Juga bila irisan searah dengan lipatan anatomis kulit seperti lipat nasolabial akan kurang
tampak. Tujuan operasi adalah mengangkat lesi kulit. Pada pengangkatan yang tidak sesuai
garis atau lipatan kulit atau mempengaruhi organ sekitarnya dapat dilakukan penutupan
dengan macam macam flap. Penutupan yang lebih mudah adalah dengan meggunakan tandur
kulit. Keuntungan eksisi ini adalah seluruh spesimen dapat diperiksa untuk diagnosis
histologis dan sekaligus melakukan eksisi total, pasien tidak memerlukan follow up setelah
eksisi karena angka kekambuhan setelah eksisi total sangat rendah, hanya memerlukan satu
terapi saja, dan penyembuhan luka primer biasanya tercapai dengan memberikan hasil
kosmetik yang baik (Partogi, 2008). Teknik ini dapat digunakan untuk diagnosis sekaligus

22
juga untuk pengobatan. Biopsi ini cocok untuk lesi tumor jinak. Dapat pula dilakukan pada
tumor ganas (Melanoma Maligna) yang berukuran kecil, karena angka kekambuhan setelah
eksisi total sangat rendah (Wardani, 2005).
Pengangkatan tumor akan menyebabkan kehilangan kulit. Lesi tumor yang kecil dan
lokasi yang mudah pengangkatan dapat dilakukan dengan eksisi sederhana yaitu eksisi
bentuk spindel (fusiformis) dengan sumbu panjang sesuai garis RSTL (Rest Skin Tension
Line). Dengan tambahan undermining kulit sekitar eksisi, jahitan kulit dapat dilakukan
dengan sedikit regangan. Undermining akan mempermudah penutupan kulit tanpa regangan,
memungkinkan penutupan kulit lapis demi lapis dan menempelkan tepi irisan dengan baik.
(Cipto, dkk, 2001)

2. Pembedahan
Pembedahan merupakan tindakan pilihan utama dan bisa dipergunakan baik terhadap
lesi yang kecil maupun yang besar. Pembedahan harus dilakukan dengan pembiusan total
karena pembiusan lokal dapat terjadi penyeberangan dari sel-sel tumor mengikuti ujung
jarum suntik yang dipergunakan. Pembedahan yang dilakukan sebagai terapi dari karsinoma
sel skuamosa kulit adalah eksisi luas dengan batas irisan dari tepi tumor sebesar 2 cm atau
lebih dalam 2 cm. Ada beberapa ahli yang mengatakan bila diameter terpanjang tumor
tersebut < 2 cm maka irisan cukup 1 cm dari tepi tumor, sedangkan bila diameter terpanjang
dari tumor tersebut > 2 cm maka dianjurkan untuk melakukan irisan 2 cm atau lebih.
Penanganan terhadap luka pasca eksisi dapat dilakukan penutupan primer, hanya dianjurkan
jangan melakukan pembebasan jaringan subkutis bila luka lebar tapi disarankan untuk
melakukan tandur kulit. Hal ini untuk mengurangi terjadinya skar ataupun sikatrik yang dapat
merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya kekambuhan. Keuntungan dari tindakan
pembedahan yaitu dapat dilakukan pada tumor yang kecil atau besar, dapat dilakukan pada
kasus yang residif (bisa kambuh/balik lagi), jaringan bawah kulit yang terkena dapat
sekaligus dieksisi. Sedangkan kerugiannya yaitu tidak dapat dilakukan pada penderita dengan
kontraindikasi operasi (gangguan fungsi hati, jantung, ginjal), lokasi tumor yang bila
dilakukan eksisi dapat menimbulkan problem baru seperti palpebra dan jarak eksisi dari tepi
tumor yang tidak dapat optimal. (Suryanegara, 2015)

3. Radioterapi
Radioterapi pada penderita karsinoma sel skuamosa kulit dianjurkan diberikan pada
penderita yang lesi tumornya terletak pada daerah yang sulit (sekitar mata, bibir dan hidung)

23
bila dilakukan pembedahan ataupun pada penderita yang sudah dilakukan eksisi dan tidak
dapat melakukan irisan pada jarak 2 cm dari tumor dan penderita sudah tua. Dosis total yang
dianjurkan adalah 4000 4500 rad, yang diberikan 300 rad/hari berturut turut sampai 5 hari
atau minggu dan lama pemberian adalah 2 3 minggu. Kesembuhan karsinoma sel skuamosa
kulit setelah radioterapi jika ukuran tumor < 1 cm, 1 5 cm 76 %, dan jika > 5 cm 56 %.
(Suryanegara, 2015). Penyinaran lokal diberikan lapangan radiasi meliputi tumor dengan 1-2
cm jaringan sehat di sekelilingnya. Penyinaran dilakukan dengan dosis 200 cGy pre fraksi, 5
fraksi dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy. (Putra, 2008).

4. Bedah beku (Cryosurgery)


Bedah beku adalah suatu metode pengobatan dengan menggunakan bahan yang dapat
menurunkan suhu jaringan tubuh dari puluhan sampai ratusan derajat Celcius di bawah nol
(subzero) (Putra, 2008). Cryosurgery menggunakan cairan nitrogen dalam temperatur-50
hingga -60 C untuk menghancurkan sel kanker. Teknik double freeze direkomendasikan
untuk lesi yang terdapat di wajah. Fractional cryosurgery direkomendasikan untuk lesi yang
berukuran besar dan lokasinya tersebar.(Hendaria, dkk, 2011). Keberhasilan dari teknik ini
tergantung dari seleksi jaringan dan kemampuan operator. Efek yang ingin dicapai :
a. Perubahan sel epidermal dan epidermolisis dengan pembekuan ringan dimana terjadi
vesikulasi (tampak vesikel atau bula) kemudian diikuti krustasi dan proses wound
healing tanpa jaringan parut dan kemungkinan hipopigmentasi.
b. Cyronekrosis, destruksi serta nekrosis sel dalam jaringan dermis dan jaringan di
bawahnya dengan cara pembentukan kristal es intra da ekstra sel akibatnya terjadi
kerusakan membran sel dan perubahan konsentrasi elektrolit, iskemik, respon
imunologik selama masa pencarian kristal es (thaw period). (Putra, 2008).
Bedah beku banyak digunakan untuk pemakaian yang luas terhadap lesi jinak maupun
premaligna. Bedah beku mempunyai keuntungan yaitu tidak perlu dijahit atau perawatan
khusus, biasanya tidak perlu anastesi lokal, tidak diperlukan teknik steril, nyeri paska operasi
dan bekas luka sangat sedikit, tidak perlu mengatasi perdarahan, reaksi jaringan sekitar sangat
minimal, prosedur singkat (Moerbono, 2013).

4. Pengobatan Sistemik
Pengobatan sistemik terdiri dari kemoterapi dan bioterapi/imunoterapi (Tansil Tan,
2015). Kemoterapi adalah metode dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel
kanker khusus pada tipe Melanoma Maligna.2 Hal ini disebabkan karena sifat dari Melanoma

24
Maligna yang sering melakukan metastasis ke organ lain.2 Beberapa jenis obat kemoterapi
yang digunakan adalah Dacarbazine (DTIC), Cisplatin yang dikombinasikan dengan
Vinblastine, Temozolomide (Temodar), dan Paclitaxel. (Hendaria, 2011). Sedangkan
Bioterapi dikenal juga dengan imunoterapi. Bioterapi menggunakan sistem imun tubuh untuk
memerangi sel kanker. Sistem imun tubuh ialah sebuah penghubung antara organ dan sel-sel
yang bekerja untuk melindungi tubuh melawan penyakit. Sistem ini bekerja untuk mencari
sel-sel yang tidak normal dan mencoba untuk menghancurkan. Bioterapi ini dapat menolong
sel sistem imun tubuh untuk menemukan sel yang tidak normal lalu menghancurkan sel
kanker (Childrens Oncology Group, 2011)
Kombinasi keduanya disebut biokemoterapi/imunokemoterapi. Terapi sistemik dapat
dibagi menjadi pengobatan terapi sistemik adjuvan pada stadium IIa-IIIa-IIIb, kemoterapi
stadium lanjut, dan kemoterapi pada melanoma rekuren. Terapi sistemik adjuvan dengan
interferon alfa-2b mengurangi kekambuhan dan memperpanjang masa lama hidup pasien
secara bermakna. Kemoterapi stadium lanjut menggunakan obat tunggal kemoterapi, seperti
dacarbazine (paling populer karena responsif pada metastasis viseral), carmustine,
cisplatinum, vinblastine, paclitaxel, tamoxifen, dan carboplatin. Kemoterapi kombinasi
diterapkan bila respons terhadap obat tunggal rendah. Kemoterapi kombinasi standar adalah
CVD regimen dan Dartmouth regimen. CVD regimen adalah kombinasi cisplatin,
vinblastine, dan dacarbazine. Dartmouth regimen adalah kombinasi cisplatin, dacarbazine,
carmustine, dan tamoxifen (Tansil Tan, 2015).

5. Sitostatika
Sitostatika adalah zat zat yang dapat menghentikan pertumbuhan pesat dari sel-sel
ganas. Prinsipnya dengan pengobatan untuk merusak langsung DNA (dan RNA) sel.
Senyawa yang digunakan berfungsi untuk mematikan sel-sel dengan menstimulir apoptosis
(Wahyuni, 2013). Modalitas terapi ini dianjurkan sebagai suatu terapi tambahan dan terutama
untuk kasus dengan adanya metastase jauh, juga pada penderita dengan lesi pada tempat sulit
untuk melakukan eksisi 2 cm dari tepi tumor. Adapun yang dipergunakan untuk terapi ini
adalah Bleomysin dengan dosis 15 mg/m2 luas permukaan badan (lpb), dapat dikombinasi
dengan Metotrexat 30 mg/m2 atau dikombinasi dengan Cisplatinum 60 mg/m2 dan
Metotrexat 30 mg/m2 hari kedua, serta diulang tiap 3 minggu. Berreta menganjurkan
pemberian Adriamycine dengan dosis 50 mg/m2 lpb dan Cisplatinum dengan dosis 75 mg/m2
lpb (CP) dengan pemberian setiap 3 minggu sekali atau siklofosfamid 500 mg/m2 hari kedua,
Vinkristin 1,5 mg/m2 lpb hari ke-1, 8, dan 15, Adriamicin 50 mg/m2 hari kedua, dan

25
Dakarbasin 250 mg/m2 hari ke- 1 sampai ke-5 (CYDAVIC) serta diulang tiap 3 minggu.
Pada stadium lanjut dan tak bisa dioperasi maka modalitas terapi yang lebih baik adalah
kombinasi antara sitostatika Karboplatin (turunan Cisplatin) 50 mg/m2 pada hari ke-1 4,
minggu ke 1,2,5, dan 6 (hari ke 1 dan 2) diikuti radioterapi mulai minggu ke 3, 6 7,2 Gy
dengan 2,1 Gy perhari (Suryanegara, 2015).

8.2.3. Pencegahan tersier


Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan perawatan paliatif dengan tujuan
mempertahankan kualitas hidup penderita dan memperlambat progresifitas penyakit dan
mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain serta perbaikan di bidang psikologis, sosial, dan
spritual. Pelayanan paliatif pasien kanker adalah pelayanan yang terintregrasi oleh tim paliatif
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan memberikan dukungan bagi keluarga yang
menghadapi masalah yang berhubungan dengan kondisi pasien dengan mencegah dan
mengurangi penderitaan melalui identifikasi dini, penilaian yang seksama serta pengobatan
nyeri dan masalah-masalah lain, baik masalah fisik, psikososial dan spiritual (WHO, 2002
dalam Kemenkes RI, 2013).

8.2.4. Prognosis Kanker Kulit


Prognosis Kanker kulit disesuaikan dengan masing-masing tipenya. Pada Karsinoma
Sel Basal prognosisnya cukup baik bila deteksi dan pengobatannya dilakukan secara cepat
dan tepat. Pada Karsinoma Sel Skuamosa prognosisnya tergantung pada diagnosis dini, cara
pengobatan dan keterampilan dokter, serta prognosis yang paling buruk bila tumor ditemukan
diatas kulit normal (de novo), sedangkan tumor yang ditemukan pada kepala dan leher
prognosisnya lebih baik daripada di tempat lain. Demikian juga prognosis yang ditemukan di
ekstrimitas bawah lebih buruk daripada ekstrimitas atas. Pada Melanoma Maligna prognosis
penyakitnya adalah buruk. Yang mempengaruhinya adalah lokasi tumor primer, stadium,
organ yang telah terinfiltrasi (metastasis ke tulang dan hati lebih buruk daripada ke kelenjar
getah bening dan kulit), jenis kelamin (wanita lebih baik daripada laki-laki), melanogen di
urin (bila terdapat melanogen di urin prognosisnya lebaih buruk), dan kondisi hospes (jika
fisik lemah dan imun menurun prognosisnya lebih buruk). (Hendaria, dkk, 2011).

26
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2016. Signs and Symptoms of Melanoma Skin Cancer. (Online),
(http://www.cancer.org/cancer/skincancer-melanoma/detailedguide/melanoma-skin-
cancer-signs-and-symptoms), diakses 22 Oktober 2016.
Azamris. 2011. Kanker Kulit di Bangsal Bedah RS Dr. M. Djamil Padang. (Online),
(http://www.kalbemed.com/portals/6/1_10_183kankerkulit.pdf), diakses 29 Oktober
2016.
Boston University School of Public Health. 2013. The Biology of Cancer. (Online),
(http://sphweb.bumc.bu.edu/otlt/MPH-
Modules/PH/PH709_Cancer/PH709_Cancer_print.html), diakses 27 Oktober 2016.
CDC. 2016. Skin Cancer Prevention: Progress Report 2016. (Online),
(http://www.cdc.gov/cancer/skin/pdf/skincancerpreventionprogressreport_2016.pdf),
diakses 27 Oktober 2016.
Childrens Oncology Group. 2011. Immunotherapy. (Online).
(https://childrensoncologygroup.org/index.php/treatmentoptions-84/immunotherapy),
diakses 26 Oktober 2016.
Cipto, dkk. 2001. Deteksi dan Pelaksanaan Kanker Kulit Dini. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Djuanda, Adhi. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Gunawan, D., Wijaya, LV., Oroh, EEC. 2011. Tumor Kulit Ganas di Poliklinik Kulit dan
Kelamin RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Mando. Manado: Bagian Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin FK USRAT
Hendaria, Made Putri. 2011. Kanker Kulit. (Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=14469&val=970), diakses 22
Oktober 2016.
Hendaria, MP., Asmarajaya, AAGN., Maliawan, S. 2013. KANKER KULIT. Denpasar:
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD
Kemenkes RI. 2013. Pedoman Teknis Pelayanan Paliatif Kanker. (Online).
(http://www.pptm.depkes.go.id/cms/frontend/ebook/PEDOMAN_PALIATIF_acacia/-
15_Mei_2013.pdf), diakses 5 September 2016.
Kemenkes RI. 2015. Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan Situasi Penyakit
Kanker. Jakarta: Kemenkes RI (Online). Diakses pada 27 Oktober 2016.

27
Kementrian Kesehatan. 2015. Brosur Deteksi Dini. (Online).
(http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/BrosurDeteksiDini.pdf), diakses 20 Oktober
2016.
Moerbono, M. 2013. Cyrosurgery. Edisi: Kedua. (Online),
(https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/32088/NzMzMDk=/CRYOSURGERY-
IN-DERMATOLOGY-abstrak.pdf), diakses 20 Oktober 2016.
National Institutes of Health. 2013. Staging Skin Cancer. (Online).
(https://nihseniorhealth.gov/skincancer/stagingskincancer/01.html), diakses 16 Oktober
2016.
National Institutes of Health. 2013. Staging Skin Cancer. (Online).
(https://nihseniorhealth.gov/skincancer/stagingskincancer/01.html), diakses 22 Oktober
2016.
Partogi, Donna. 2008. Teknik Eksisi. (Online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3404/1/08E00850.pdf), diakses 20
Oktober 2016.
Putra, Imam. 2008. Karsinoma Sel Basal. (Online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3412/1/08E00603.pdf), diakses 20
Oktober 2016.
Rafizar dan Nainggolan. 2010. Faktor Determinan Tumor/Kanker Kulit di Pulau Jawa
(Analisis data RISKESDAS 2007). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
Sudaryanto, dkk. 2011. Kanker Kulit. (Online), (http://docslide.us/documents/ca-kulit-revisi-
fix.html#), diakses 22 Oktober 2016.
Suryanegara, E. 2015. Karsinoma Sel Skuamosa. (Online),
(http://eprints.undip.ac.id/46666/3/BAB_II.pdf), diakses 21 Oktober 2016.
Tan, ST., Dewi, IP. 2015. Melanoma Maligna. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin FK Universitas Tarumanegara.
Tansil Tan, Sukmawati. 2015. Melanoma Maligna. (Online),
(http://www.kalbemed.com/Portals/6/09_235Melanoma%20Maligna.pdf), diakses 21
Oktober 2016.
Wahyuni, Fatmasari. 2013. Sitostatika. (Online).
(http://ffarmasi.unand.ac.id/bahanajar,rpkps,jurnal,buku,cv/BA.RPKPS/Fatma%20Sri%
20WahyuniRPKPS%20dan%20Lecture%20Note/farmakoterapi%20III%20BA/Pertemu
an-2.pdf), diakses 22 Oktober 2016.

28
Wardani, Restu. 2005. Biopsi dalam Bidang Dermatologi. (Online),
(file:///C:/Users/ACER/Downloads/66-197-1-PB.pdf), diakses 20 Oktober 2016.
Wiendartun. 2010. Radioterapi. (Online).
(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195708071982112-
WIENDARTUN/RADIOTERAPI.pdf), dikases 20 Oktober 2016.

29