Anda di halaman 1dari 7

PAPER PRAKTIKUM TEKNOLOGI TRAKTOR

( IMPLEMEN TRAKTOR )

OLEH:

Nama : alekawa23

NPM : 2401100700XX

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2009
Sebuah traktor tidak akan dapat digunakan untuk mengolah tanah bila traktor tersebut
tidak dipasang sebuah implemen. Dalam mengoleh tanah, fungsi traktor hanyalah sebagai
sumber daya, penyalur daya dan penggerak saja, tetapi tidak dapat mengolah tanah. Oleh sebab
itu diperluka suatu implemen yang dipasang pada traktor tersebut agar dapat mengolah tanah.
Impelemen inilah yang akan kontak dengan tanah dan bekerja mengolah tanah tersebut.

Pada semua traktor, impelemen tidak langsung menempel bersama traktor tersebut secara
permanen, tetapi terlebih dahulu harus dipasang. Ini karena dalam pengolahan tanah kita tidak
hanya membutuhkan satu jenis implemen saja, tetapi beberapa jenis implemen sesuai dengan
kebutuhan pengolahannya. Oleh sebab itu pemasangan impelemen sangatlah perlu diketahui agar
tidak terjadi gangguan dan hambatan dalam pengolahan tanah, karena pemasangan implemen
yang tidak sempurna jelas akan mempengaruhi kinerja dari pengolahan tanah tersebut. Tidak
hanya mengenai pemasangan implemen saja, kita juga harus mengetahui kapasitas pengolahan
teoritis agar kita dapat memperkirakan dan menentukan target lama pengolahan maupun lebar
implemen yang akan digunakan.

Implemen pada traktor dapat digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu :

Alat pembuka (Primary Tillage Equipment)


Alat penghancur atau penghalus (Secondary Tillage Equipment)
Alat perata dan pembedeng (Finishing Tillage Equipment)
Alat pemeliharaan (Cultivator)

Implemen terpenting dalam pengolahan tanah di Indonesia adalah bajak (Plow) dan
rotary tiller. Rotary tiller dapat juga dipakai untuk alat penghancur (Secondary Tillage
Equipment). Bajak sendiri dibagi lagi menjadi dua macamyang kedua-duanya adalah moldboard
type :

a) Single action, bajak yang hanya dapat memotong dan melemparkan tanah ke salah satu
arah saja
b) Double action (Reversible Plow), bajak yang dapat diatur arah pelemparan tanahnya (ke
kiri atau ke kanan). Reversible plow ini lebih bermanfaat dan menguntungkan dibanding
dengan bajak single action
1. Bajak piring
Bajak piring mulai dikembangkan sekitar tanhun 1890. bajak piring digunakan agar
mengurangi gesekan dan menciptakan telapak bajak menggelinding, dan bukan telapak yang
harus meluncur sepanjang paliran. Tidak dapat dikatakan dengan autoritas bahwa setelah
tambahan berat diberikan kepada bajak, bajak tersebut akan mempunyai tarikan lebih rendah
daripada tipe singkal. Namun demikian, hasil penggunaan bajak piringan menunjukkan bahwa
bajak piringan telah disesuaikan dengan kondisi dimana bajak singkal tidak dapat bekerja, seperti
dalam hal berikut :

Tanah lekat berlilin, tanah debu yang tidak meluncur pada singkaldan tanah yang
mempunyai lapisan keras dibawah telapak bajak
Tanah kering dan keras yang tidak dapat dipenetrasikan dengan bajak singkal
Tanah kasar, berbatu, dan banyak berakar-akar, dimana piringan akan melintas diatas
batu-batuan tersebut
Lahan bergambut dan berserasah, dimana bajak singkal tidak akan dapat membalik
potongan tanah
Pembajakan yang dalam
Di Texas, bajak ini mempunyai nilai khusus karena luasnya lahan yang mempunyai
tekstur tertutup yang tidak akan meluncur pada rata-rata bajak singkal. Bajak piringan traktor ini
dibedakan atas tipe tarikan setengh terpasang dan terpasang terpadu.

Bajak piringan tarikan biasa.


Seperti namanya, bajak ini ditarik dibelakang traktor. Bajak ini merupakan suatu unit
tersendiri, yang dapat dipasang pada traktor dengan penyangga yang dapat diatur baik kearah
vertikal maupun horisontal. Pada model-model yang lama, rangka diatur pada sisi samping serta
di bawah puncak telapak bajak piringan. Bajak tipe ini disebut bajak rangka samping. Model
bajak piringan tarikan yang lebih baru memiliki rangka tinggi diatas piringan. Bajak ini disebut
bajak piringan di atas kepala. Standar-standar lebih panjang diperlukan untuk memasang
telapak bajak piringan pada rangka diatas kepala dari pada penggunaan rangkan samping.
Rangka yang tinggi memberikan ruang bebas untuk pembajakan di lahan yang berserasah.
Tersedia handle untuk mengatur sudut vertikal piringan, yang mempengaruhi masuknya bajak ke
dalam tanah.
Bajak piringan tarikan dilengkapi dengan tiga roda : dua roda paliran dan satu roda lahan.
Roda paliran depan berada pada ujung depan rangka dan dihubungkan dengan penyangga untuk
membantu mengarahkan serta membelokkan bajak. Rida paling belakan biasanya dimungkinkan
untuk berputar pada pembelokan ke arah kiri, tapi gerakannya terbatas kearah kanan, sehingga
akan menahan bajak pada posisi yang tepat pada waktu pembajakan. Kedua roda paliran
diiringkan untuk mempertahankan bajak pada posisinya. Roda lahan biasanya ditempatkan ke
arah belakang bajak, namun sedikit didepan roda paliran belakang. Pengangkatan daya selalu
merupakan bagian roda lahan. Pada pembajakan tanah keras, tambahan berat pada roda-roda
tersebut akan membantu menahan dam memantapkan bajak. Jika diinginkan, roda tersebut dapat
diperlengkapi dengan ban karet. Tuas dan engkol skrup merupakan sarana untuk pengaturan
kedalaman dan keseimbangan horisontal bajak. Pengangkatan secar hidrolik dengan kendali jauh
dapat diperoleh untuk penarikan bajak piringan. Bajak piringan untuk tugas berat dapat diperoleh
untuk pembajakan yang dalam dan untuk pembajakan tanah berat.

Bajak piringan tarikan satu arah


Bajak piringan satu arah adalah suatu kombinasi dari prinsip bajak piringan biasa dengan
garu piringan biasa dan seringkali diberi istilah bajak lahan gandum, silinder, garu atau bajak
pengolah tanah. Ajak pengolah tanah dikembangan pada kira-kira tahun 1927. dengan semakin
luasnya penggunaanya maka petani mulai mengambil alih garu itu untuk pembajakan dangkal.
Penyempurnaan atau modifikasi yang dilakukan membuat bajak ini menjadi populer dan
digunakan secar luas. Kecepatan traktor saat menggunakan bajak ini tidak boleh lebih dari 6,4
km/jam. Bila kita mengoperasikannya dengan kecepatan tinggi maka itu akan menaikkan daya
dan mmenyebabkan terlalu banyaknya terjadi penggemburan tanah permukaan dan tidak
meninggalkan sarasah di atas permukaan tanah untuk mencegah erosi angin

Bajak piringan satu arah memiliki rangka, rangkaian roda dan alat pengatur kedalaman
seperti bajak piringan biasa, namun telapak bajak piringan dipasang pada satu poros dan berputar
sebagai satu unit serupa dengan rangkaian kelompok piringan pada garu piringan. Keistimewaan
dan penggunaan khusus bajak satu arah adalah perlengkapan kotak benih seperti pada planter
yang memungkinkan penanaman biji-biian, padi dan rumput, adanya bagian rangkaian yang
dapat dilepas sehingga dapat memperkecil ukurannya, piringan-piringan yang dipasang secara
eksentrik untuk pembentukan lubang dan bak penyimpanan air dan mencegah erosi angin serta
keunggulan yang terakhir adalah penggunaan bajak satu arah untuk pembuatan sengkedan
dangan dasar yang lebar.

Bajak piringan semi terpasang


Bajak ini sering disebut bajak sambungan-langsung. Bagian depan bajak ini disambung
dengan traktor dan dipasang padanya, jadi menghilangkan roda paliran depan serta roda lahan.
Bajak tersambung erat ini mudah digerakkan karena pembelokan-pembelokan pendek mudah
dilakukan, yang memungkinkan operator untuk bekerja rapat dengan pagar. Bajak ini juga dapat
diundurkan ke pojok-pojok. Secara otomatis roda belakang dikendalikan dari mekanisme kemudi
pada bagian depan traktor. Bajak-bajak ini dibuat dalam tiga ukuran menurut jumlah telapak
bajaknya.

Bajak piringan terpasang terpadu


Pemasangan terpadu bajak piringan pada bagian belakang suatu traktor sehingga bajak-
bajak tersebut dapat diangkat atau dinaikkan dengan alat pengangkat hidraulik. Para perancang
mendapatkan bahwa bajak piringan terpasang terpadu akan memberikan hasil yang baik jika
pemberat dipindahkan dari roda paling belakang ke depan pada rangka. Sebuah roda paliran
belakang pada suatu bajak piringan terpasang terpadu dapat berfungsi untuk mengimbangi
tekanan dari samping, mempertahankan bajak pada arahnya serta bekerja sebagai roda pengukur
kedalaman dalam pembajakan.

2. Garu
Garu adalah peralatan yang digunakan untuk meratakan tanah dan memecahkan
bongkahan-bongkahan tanah, mengaduk tanah dan mencegah serta membinasakan gulma.
Dibawah kondisi tertentu, garu dapat digunakan untuk menutup biji. Ada tiga jenis utama garu,
yaitu :

garu piringan
Garu piringan dapat digunakan untuk memotong sisi tanaman yang tertinggal di
permukaan, menggemburkan tanah dan menempatkan tanah pada keadaan yang lebih sesuai
untuk menerima biji, menempatkan tanah yang telah dibajak untuk siap ditanami untuk musim
semi, digunakan untuk pengairan tanaman, untuk pemberaan di musim panas serta menutip tanah
yang telah disebarkan biji. Garu piringan ini memiliki beberapa jenis lagi yang dapat dibagi
dalam dua golongan umum yaitu garu gandengan dan garu terpasang
garu gigi paku
Garu ini disebut garu gigi paku karena gigi garu yang mengaduk tanah mirip paku-paku
panjang. Garu jenis ini juga sering disebut garu gigi pasak, garu tarikan, garu seksi atau garu
penghalus. Kegunaan utama garu ini adalah untuk menghaluskan dan meratakan tanah langsung
setelah pembajakan, selain itu garu ini juga dapat digunakan untuk mendangir jagung dan kapas
dan tanaman lain yang berbaris pada masa pertumbuhannya

garu gigi pegas


Kenampakan umum garugigi pegas serupa dengan bajak pahat pegas, tetapi gigi garu
pegas hanya bekerja pada kedalaman yang dangkal. Garu gigi pegas disesuaikan untuk
penggunaan pada tanah yang kasar dan berbatu. Garu ini juga digunakan secara luas untuk
melonggarkan tanah setelah dibajak sebelum penanaman padi atau biji-bijian dengan
menggunakan mesin tanam. Gigi-gigi garu ini akan masuk kedalam tanah lebih dalam daripada
garu gigi paku dan gigi akan merenggang bila membentur rintangan. Garu gigi pegas sering kali
dikatakan sebagai pemberantas rumput kasar dan rumput gerinting karena giginya masuk
kedalam tanah cukup dalam dan merobek akar dan membawanya ke permukaan tanah. Rumpun
alfalfa juga dapat diberantas dengan garu jenis ini. Garu ini terdiri atas jeruji baja pegas yang
lebar, pipih, melengkung, diperkeras dengan minyak dan salah satu ujungnya dipasang erat pada
suatu batang rangka garu dan ujung lainnya diruncingkan agar dapat dengan mudah menembus
tanah.

Dalam memasang implemen sebenarnya tidak memerlukan waktu yang terlalu lama, bila
operator atau mereka yang telah terlatih, pemasangan implemen paling hanya memerlukan waktu
beberapa menit saja, tetapi bagi mereka yang belum terbiasa ataupun belum pernah memasang
implemen, maka dia pasti akan kesulitan dalam memasangnya. Dalam memasang implemen,
faktor pertama yang perlu diperhatikan dalam pemasangan implemen adalah memposisikan
traktor tepat berada sejajar dengan implemennya, dimana pengemudi traktor tersebut harus lihai
dalam memundurkan traktor tersebut dan mengendalikan stir traktor agar proses ini tidak
memakan banyak waktu. Bila posisi traktor tersebut berada di depan implemen tetapi dalam
keadaan miring, maka itu akan mempersulit kita dalam pemasangan implemen, karena akan
susah mempresisikan three point hitch dengan penyanggah pada implemennya.
Pada three point hitch kiri dan kanan terdapat suatu alat yang dapat memperpanjang
tangan three point hitch sehingga dapat masuk ke implemen. Alat itu berupa ulir yang dapat
diatur memanjang dan memendeknya. Selain itu pada tangan three point hitch kanan juga
terdapat handle lain yang fungsinya juga untuk mempermudah memasukkan three point hitch ke
implemen. Jadi bila bagi pemula yang tidak mengetahui handle pengaturan ini, mereka akan
mengalami kesulitan dalam memasang implemen, seperti yang kami alami sebagai kelompok
pertama yang memasang implemen. Yang terpenting ketika ketiga tangan three point hitch telah
menyatu dengan implemen adalah mengencangkan handle pengaturan tersebut. Bila kita
mengolah lahan sementara handle tersebut belum terpasang kencang, maka kemingkinan
impleman yang digunakan tersebut tidak dapat mengolah tanah dengan baik karena implemen
tersebut tidak kokoh menenpel tetapi goyang-goyang.

Bila kita melihat pada kapasitas pengolahan teoritis (KLT) dari implemen, maka jelas
bahwa KLT dengan implemen terlebarlah yang paling besar. Bila dilihat dari kecepatan
mengolah tanah, jika semakin besar kecepatan traktor maka semakin besar juga KLT traktor atau
implemen tersebut. Seperti kita ketahui bahwa kecepatan ideal saat membajak adalah sekitar 4-6
km/jam, maka kita dapat menyimpulkan bahwa KLT yang dapat dihasilkan oleh bajak piring
tersebut hanya sekitar 0,438 ha/jam dan KLT pada garu adalah sekitar 1,506 ha/jam. sedangkan
kecepatan ideal saat menyebar bibit adalah sekitar 6-8 km/jam, jadi KLT planter yang diukur
adalah sekitar 1,856 ha/jam. Tetapi ini hanya berupa teorotis saja. Kenyataan dilapangan
kapasitas pengolahannya bisa saja lebih kecil ataupun malah lebih besar. Ini tergantung
kecekatan atau kemahiran dari operator pengemudi traktor tersebut dalam mengolah tanah agar
tidak ada bagian tanah yang tidak terolah, tetapi semuanya terolah dengan baik.