Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN KIMIA

EKSTRAKSI PELARUT : DISTRIBUSI ASAM ETANOAT DIANTARA DIETIL


ETER DAN AIR

Oleh :

Kelompok 6 / OFF H

Antin Putri U (1503326017325)

Bragas Prakoso (150332607885)

Chandra Fetty P (150332601237)**

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA

NOVEMBER 2017
EKSTRAKSI PELARUT : DISTRIBUSI ASAM ETANOAT DIANTARA DIETIL
ETER DAN AIR

A. DASAR TEORI
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di antar dua fasa cair
yang tidak saling campur. Teknik ekstraksi pelarut memanfaatkan perbedaan kelarutan dari
suatu substansi dalam dua pelarut yang tidak saling campur. Jika suatu larutan yang
mengandung solute yang terlarut dalam pelarut pertama dikocok dengan pelarut kedua yang
tidak bercampur dengan pelarut pertama, tetapi solute dapat larut dalam pelarut kedua pula,
akan ditemukan bahwa solute terdistribusi diantara dua pelarut tersebut dalam perbandingan
konsentrasi yang karakterisitik. Perbandingan tersebut konstan pada temperatur dan tekanan
tertentu, dan dikenal sebagai Konstanta Kesetimbangan atau koefisien partisi, K (persamaan 1)
K = Cu / C l (1)
Dimana Cu, Cl masing-masing menyatakan konsentrasi solute dalam dua lapisan pelarut yaitu
lapisan atas dan bawah.
Dalam percobaan ini akan dilakukan penentuan konstanta kesetimbangan untuk
distribusi asam etanoat antar dua pelarut yang saling tidak campur, yaitu dietil eter dan air,
menggunakan titrasi asam basa. Kesetimbangan dinamis pada kedua pelarut adalah seperti
terlihat pada persamaan kedua
(CH3COOH) aq (CH3COOH) eter (2)
Dimana k1 dan k2 adalah konstanta laju reaksi dari kedua reaksi ke kanan dan ke kiri. Pada
reaksi setimbang maka kecepatan reaksi ke kanan dan ke kiri adalah sama (persamaan 3)
k1 [CH3COOH]aq = k2 [CH3COOH] eter (3)
dan konstanta kesetimbangan dapat didefinisikan sebagai konsentrasi solute seperti
persamaan 4
K = [CH3COOH] eter / [CH3COOH] aq = k1/k2 (4)
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan
dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran
dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau
karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair,
ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif
bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin.
Metode ekstraksi cair-cair merupakan distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu
antara dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti benzena, karbon tetraklorida atau
kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam
kedua fase pelarut. Dalam metode ini, sampel yang mengandung analit merupakan suatu
larutan (umumnya dalam air) yang juga mengandung zat-zat terlarut lainnya. Teknik ini
melibatkan dua fase cair yaitu cairan asal (sampel) dan satunya lagi adalah pelarut
pengekstraknya (pelarut). Syarat agar pemisahan analit dapat dilakukan dengan baik yaitu:
1. Kedua campuran tidak saling campur
2. Analitnya sendiri lebih larut dalam pelarut pengekstraknya dari pada dalam
pelarut asalnya.
Sebagai molekul terdisosiasi dalam ion-ion salah satu dari fase tersebut. Hukum
distribusi digunakan hanya untuk yang umum konsentrasinya pada kedua fase, yaitu monomer
atau molekul sederhana dari zat tersebut. Apabila ditinjau dari suatu zat tunggal yang tidak
bercampur dalam suatu corong pisah maka dalam sistem tersebut akan terjadi suatu
keseimbangan sebagai suatu zat terlarut dalam fase bawah dan zat terlarut dalam fase atas.
Menurut hukum Termodinamika, pada keadaan seimbang dan rasio aktivitas species terlarut
dalam kedua fase itu merupakan suatu ketetapan atau konstanta. Hal ini disebut sebagai
Hukum Distribusi Nerst. Nilai K tergantung pada suhu, bukan merupakan fungsi konstanta
absolut zat atau volume kedua fase itu. Menurut hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua
pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solute yang dapat larut dalam kedua pelarut
tersebut, maka akan terjadi pembagian solut dengan perbandingan tertentu. Kedua pelarut
tersebut umumnya pelarut organik dan air. Dalam praktek solut akan terdistribusi dengan
sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah dikocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan
konsentrasi solut didalam kedua fasa pelarut pada suhu konstan merupakan suatu tetapan yang
disebut koefisien distribusi (KD), jika didalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-reaksi
apapun. Selain itu dalam hukum distribusi Nernst dikatakan bahwa perbandingan antara
konsentrasi solut dalam dua pelarut selalu tetap pada suhu tertentu. Hal tersebut dapat
dinyatakan dengan:
[]
= []1
1

Keterangan:

KD = koefisien distribusi atau koefisien partisi

[S]1 = konsentrasi zat terlarut dalam fase cairan pertama yaitu pelarut organik.

[S]2 = konsentrasi zat terlarut dalam fase cairan kedua yaitu air.
Karena melibatkan konsentrasi, bukan aktivitas maka pernyataan diatas tidak
menggambarkan kesetimbangan. Jika bobot suatu molekul solut berbeda diantara kedua fase,
serta koefisien dihitung berdasarkan konsentrasi, maka nilai koefisien distribusi tidak akan
selalu tetap (akan berubah). Misalnya untuk senyawa organik yang berasosiasi membentuk
polimer atau dimer dalam fase organik, maka persamaan reaksinya adalah:

An nA

fase air fase organik

C n org
KD
C air

Keterangan:

KD = Koefisien distribusi

Cn org = Konsentrasi solut dalam fase organik

Cair = Konsentrasi solut dalam fase air

n = Tetapan

Bila koefisien distribusi suatu zat besar maka zat terlarut akan cenderung untuk
terdistribusi secara kuantitatif ke dalam pelarut pertama yaitu air. Yang paling sering adalah
zat terlarut diekstraksi dari larutan air ke dalam pelarut organik yang tidak saling campur.
Setelah terjadi pemisahan, lapisan bawah (pelarut yang lebih berat) dikeluarkan. Adapun alat
yang dipergunakan dalam melakukan ekstraksi cair-cair ini adalah corong pemisah.

Koefisien distribusi hanya memperhitungkan spesies tunggal dari molekul atau ion dalam
kedua fase cairan, tidak memperhitungkan kemungkinan hasil reaksi sampingnya.
Perbandingan distribusi yang merupakan perbandingan konsentrasi semua spesies zat terlarut
dalam setiap fase. Perbandingan ini dapat dirumuskan dengan :

Konsentrasi total spesies zat terlarut dalam fase organik


=
konsentrasi total spesies zat terlarut dalam fase air

Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara dua
fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia antara pelarut
dan senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul. Suatu zat dapat larut dalam dua
macam pelarut yang keduanya tidak saling bercampur. Jika kelebihan campuran atau zat padat
ditambahkan ke dalam cairan yang tidak saling bercampur tersebut maka zat tersebut akan
mendistribusi diri di antara dua fase sehingga masing-masing menjadi jenuh. Ada beberapa
istilah yang digunakan dalam larutan yaitu larutan jenuh, larutan tidak jenuh dan larutan lewat
jenuh. Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan
dengan fase padat (zat terlarut), larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang
mengandung zat terlarut dalam konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada
temperatur tertentu, sedangkan larutan lewat jenuh adalah larutan yang mengandung jumlah
zat terlarut dalam konsentrasi yang lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur
tertentu. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi distribusi zat dalam larutan, yaitu :
a. Temperatur
Kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2 atau 3 tiap kenaikan suhu 10oC.
Kekuatan IonSemakin kecil konsentrasi suatu larutan maka laju distribusi makin kecil.
b. Konstanta Dielektrik
Efek konstanta dielektrik terhadap konstanta laju reaksi ionik diekstrapolarkan sampai
pengenceran tak terbatas, yang pengaruh kekuatan ionnya 0. Untuk reaktan ion yang
kekuatannya bermuatan berlawanan maka laju distribusi reaktan tersebut adalah
positif dan untuk reaktan yang muatannya sama maka laju distribusinya negatif.
c. Katalisis
Katalisis dapat menurunkan laju - laju distribusi (Katalis negatif). Katalis dapat juga
menurunkan energi aktivitas dengan mengubah mekanisme reaksi sehingga kecepatan
bertambah.
d. Katalis Asam Basa Spesifik
Laju distribusi dapat dipercepat dengan penambahan asam atau basa. Jika laju
peruraian ini terdapat bagian yang mengandung konsentrasi ion hidrogen atau
hidroksi.
e. Cahaya Energi
Cahaya seperti panas dapat memberikan keaktifan yang diperlukan untuk terjadi
reaksi. Radisi dengan frekuensi yang sesuai dengan energi yang cukup akan diabsorbsi
untuk mengaktifkan molekul molekul.
Suatu zat dapat larut ke dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak saling bercampur.
Jika kelebihan cairan atau zat padat ditambahkan ke dalam campuran dari dua cairan tidak
bercampur, zat itu akan mendistribusi diri diantara dua fase sehingga masing-masing menjadi
jenuh. Jika zat itu ditambahkan kedalam pelarut tidak tercampur dalam jumlah yang tidak
cukup untuk menjenuhkan larutan, maka zat tersebut akan tetap terdistribusikan diantara kedua
lapisan dengan konsentrasi tertentu.
Pelarut secara umum dibedakan atas dua pelarut, yaitu pelarut air dan bukan air. Salah
satu ciri penting dari pelarut tetapan dielektriknya (E), yaitu gaya yang bekerja antara dua
muatan itu dalam ruang hampa dengan gaya yang bekerja pada muatan itu dalam dua pelarut.
Tetapan ini menunjukkan sampai sejauh mana tingkat kemampuan melarutkan pelarut tersebut.
Misalnya air dengan tetapan dielektriknya yang tinggi (E = 78,5) pada suhu 25oC, merupakan
pelaruit yang baik untuk zat-zat yang bersifat polar, tetapi juga merupakan pelarut yang kurang
baik untuk zat-zat non polar. Sebaliknya, pelarut yang mempunyai tetapan dielektrik yang
rendah merupakan pelarut yang baik untuk zat non polar dan merupakan pelarut yang kurang
baik untuk zat berpolar.

B. TUJUAN
1. Menentukan koefisien distribusi dari asam etanoat diantara dieteil eter dan air
2. Membandingankan koefisien distribusi dari asam etanoat yang mempunyai konsetrasi
berbeda

C. ALAT DAN BAHAN


Alat:
Corong pisah 100 mL Statif
Pipet volume 10 mL Klem
Erlenmeyer 250 mL (3 buah) Ring
Buret Bola hisap
Gelas kimia 100 mL Aluminium foil
Gelas ukur 50 mL
Bahan:

Larutan NaOH 0,1 M


Aquades
Larutan dietil eter
Larutan asam etanoat 0,5 M dan 0,125 M
Indikator PP
Vaseline
D. LANGKAH KERJA

25mL Asam Etanoat 0,5 M


Ditambah 25 mL dietil eter dimasukkan corong pisah 100mL
Dikocok selama 20 menit, @2 menit dibuka kran untuk dikeluarkan udara dalam
corong pisah
Didiamkan selama 5 menit
Fasa air dikeluarkan dan ditampung dalam Erlenmeyer
Dipipet @10 mL tiap fasa didalam Erlenmeyer dan di beri indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1M
HASIL

25mL Asam Etanoat 0,125 M


Ditambah 25 mL dietil eter dimasukkan corong pisah 100mL
Dikocok selama 20 menit, @2 menit dibuka kran untuk dikeluarkan udara dalam
corong pisah
Didiamkan selama 5 menit
Fasa air dikeluarkan dan ditampung dalam Erlenmeyer
Dipipet @10 mL tiap fasa didalam Erlenmeyer dan di beri indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1M
HASIL
E. DATA DAN ANALISA DATA PERCOBAAN
No Langkah Kerja Hasil Pengamatan Kesimpulan

1 25 mL larutan CH3COOH CH3COOH = Tidak 2 larutan tidak berwarna


0,5 M + 25 mL dietil eter berwarna heterogen
didalam corong pisah
Dietil eter = tidak berwarna
Dikocok selama 20 menit
@2menit di buka kran
keluar gas Gas dari dietil eter yang
Didiamkan
mudah menguap

Lapisan bawah (fasa air)


Dihasilkan 2 lapisan
Lapisan eter (fasa
Lapisan bawah (fasa air): organik)
Larutan tidak berwarna
Dikeluarkan
Diukur volume total
Dipipet 10 mL
Diteteskan 4 tetes PP
Larutan tidak berwarna
Dititrasi dengan 0,1 M
NaOH sampai berwarna
merah muda
Lapisan atas (fasa organik):
Larutan tidak berwarna dan
Dikeluarkan bau menyengat
Dipipet 10 mL
Diteteskan 4 tetes PP
Dititrasi (Erlenmeyer di tutup Larutan tidak berwarna dan
aluminium foil) dengan 0,1 bau menyengat

M NaOH sampai berwarna


merah muda
1 25 mL larutan CH3COOH CH3COOH = Tidak 2 larutan tidak berwarna
0,125 M + 25 mL dietil eter berwarna heterogen
didalam corong pisah
Dietil eter = tidak berwarna
Dikocok selama 20 menit
@2menit di buka kran

Didiamkan
Keluarkan gas Gas dari dietil eter yang
mudah menguap
Lapisan bawah (fasa air):
Dihasilkan 2 lapisan
Dikeluarkan
Lapisan bawah (fasa air)
Larutan tidak berwarna
Dipipet 10 mL
Lapisan eter (fasa
Diteteskan 4 tetes PP Larutan tidak berwarna
organik)
Dititrasi dengan 0,1 M
NaOH sampai berwarna
merah muda
Lapisan atas (fasa organik): Larutan tidak berwarna dan

Dikeluarkan bau menyengat

Dipipet 10 mL Larutan tidak berwarna dan


Diteteskan 4 tetes PP bau menyengat
Dititrasi (Erlenmeyer di tutup
aluminium foil) dengan 0,1
M NaOH sampai berwarna
merah muda
Konsentrasi Asam Jenis fasa Volume Titran Volume NaOH Volume Rata
Etanoat (mL) (mL) rata (mL)

0,5M 10 17

Fasa Air 10 17,1 17,13

10 17,3

Fasa Organik 10 15,6 15,75

10 15,9

0, 125M 10 4,9

Fasa Air 10 4,7 5,3

10 6,4

Fasa Organik 10 3,9 4,05

10 4,2

PERHITUNGAN

CH3COOH 0,5 M

Diketahui : M NaOH = 0,1 M

V NaOH (fasa air) = 17,13 mL

V NaOH (fasa organik) = 15,75 mL

M CH3COOH awal = 0,5 M

V CH3COOH pada titrasi = 10 mL

Ditanya : a. C0 asetat =........?

b. C1 (lapisan air) = . . . . . . . . ?
c. C2 (lapisan eter) = . . . . . . . . .?
d. KD = . . . . . . . . .?
Jawab :

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2 O

mmol NaOH = M NaOH x V NaOH(fasa air)

= 0,1 M x 17,13 mL

= 1,713 mmol

mmol NaOH = mmol CH3COOH (setelah pengocokan) = 1,713 mmol

Konsentrasi CH3COOH dalam 10 mL dalam fase air (C1)

CH3COOH
[CH3COOH] =
V CH3COOH

1,713
[CH3COOH] =
10

[CH3COOH] = 0,1713 mmol.mL-1

mmol NaOH = M NaOH x V NaOH(fasa organik)

= 0,1 M x 15,75 mL

= 1,575 mmol

mmol NaOH = mmol CH3COOH (setelah pengocokan) = 1,575 mmol


Konsentrasi dietil eter dalam 10 mL dalam fase organik (C2)
CH3COOH
[CH3COOH] =
V CH3COOH

1,575
[CH3COOH] =
10mL

[CH3COOH]= 0,1575 mmol.mL-1

KD
1
KD=
2
0,1713
=
0,1513
D = 1,132

CH3COOH 0,125 M

Diketahui : M NaOH = 0,1 M

V NaOH (fasa air) = 5,3 mL

V NaOH (fasa organik) = 4,05 mL

M CH3COOH awal = 0,125 M

V CH3COOH pada titrasi = 10 mL

Ditanya : a. C0 asetat =........?

e. C1 (lapisan air) = . . . . . . . . ?
f. C2 (lapisan eter) = . . . . . . . . .?
g. KD = . . . . . . . . .?
Jawab :

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2 O

mmol NaOH = M NaOH x V NaOH(fasa air)

= 0,1 M x 5,3 mL

= 0,53 mmol

mmol NaOH = mmol CH3COOH (setelah pengocokan) = 0,53 mmol

Konsentrasi CH3COOH dalam 10 mL dalam fase air (C1)

CH3COOH
[CH3COOH] =
V CH3COOH

0,53
[CH3COOH] =
10

[CH3COOH] = 0,053 mmol.mL-1

mmol NaOH = M NaOH x V NaOH(fasa organik)

= 0,1 M x 4,05 mL

= 0,405 mmol

mmol NaOH = mmol CH3COOH (setelah pengocokan) = 0,405 mmol

Konsentrasi dietil eter dalam 10 mL dalam fase organik (C2)


CH3COOH
[CH3COOH] =
V CH3COOH

0,405
[CH3COOH] =
10mL

[CH3COOH]= 0,0405 mmol.mL-1


KD
1
KD=
2
0,053
=
0,0405
D = 1,308

F. DISKUSI
Praktikum kali ini yaitu penentuan koefisien distribusi, dimana tujuan dari praktikum
koefisien distribusi ini yaitu untuk menentukan harga koefisien distribusi senyawa dalam dua
pelarut yang tidak saling campur, mengenal pemisahan berdasarkan ekstraksi cair-cair serta
menentukan tetapan distribusi (KD) asam asetat dalam sistem organik-air. Adapun prinsip metode
ekstraksi cair-cair adalah distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut
yang tidak saling bercampur.
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara dua fase
cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan
senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul. Suatu zat dapat larut dalam dua macam
pelarut yang keduanya tidak saling bercampur. Jika kelebihan campuran atau zat padat
ditambahkan ke dalam cairan yang tidak saling bercampur tersebut maka zat tersebut akan
mendistribusi diri di antara dua fase sehingga masing-masing menjadi jenuh.
Dalam metode ini, sampel yang mengandung analit merupakan suatu larutan (umumnya
dalam air) yang juga mengandung zat-zat terlarut lainnya. Teknik ini melibatkan dua fase cair
yaitu cairan asal (sampel) dan satunya lagi adalah pelarut pengekstraknya (pelarut). Menurut
hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solute
yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua
pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Perbandingan konsentrasi solute di dalam kedua
pelarut tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut
tetapan distribusi atau koefisien distribusi yang dinyatakan sebagai perbandingan antara fasa
organic dan fasa air. Pada pemisahan dua komponen yang tidak saling larut ini digunakan pelarut
asam etanoat (CH3COOH) dan dietil eter (C4H10O). Pelarut asam asetat yang digunakan tergolong
asam lemah sehingga dapat terionisasi sebagian dalam air dan nilai ionisasi asam tersebut dalam
air dapat diabaikan. Pelarut dietil eter merupakan senyawa organik yang bersifat volatil (mudah
menguap) dan non polar. Selain itu dietil eter mudah meledak dan terbakar. Dietil eter merupakan
sebuah pelarut laboratorium yang umum dan memiliki kelarutan terbatas di dalam air, sehingga
sering digunakan untuk ekstrasi cair-cair. Karena kurang rapat bila dibandingkan dengan air,
lapisan eter biasanya berada paling atas. Larutan asam etanoat yang digunakan dalam percobaan
ini memiliki konsentrasi yang berbeda yaitu 0,5 M dan 0,125 M. Pertama-tama larutan asam
etanoat sebanyak 25 mL dengan konsentrasi 0,5 M dimasukkan ke dalam corong pemisah,
kemudian ditambahkan dengan 25 mL dietil eter. Demikian halnya dengan larutan asam etanoat
0,125 M diberi perlakuan yang sama. Setelah dilakukan penambahan, campuran tersebut kemudian
dikocok selama 20 menit. Fungsi dari pengocokan yaitu agar terjadinya distribusi asam asetat ke
dalam fasa organik dan fasa air, serta untuk memperbesar luas permukaan untuk membantu proses
distribusi asam etanoat pada kedua fasa. Selain itu proses pengocokan dilakukan agar zat dapat
mengadakan keseimbangan antara yang larut dalam air dan yang larut dalam dietil eter. Pada
percobaan ini dilakukan pengocokan yang kuat dan agak lama agar gugus polar dan non (kurang)
polar dari asam etanoat dapat bereaksi dengan fase air minyak. Gugus benzen dari asam etanoat
merupakan gugus karbon yang memiliki momen dipol yang kecil sehingga konsentrasi
dielektiknya juga kecil dan gugus ini akan bereaksi dengan dietil eter. Air memiliki momen dipol
dan konstanta dielektriknya yang besar sehingga bersifat polar jadi mudah menarik gugus polar
dari asam etanoat.
Setelah pencampuran asam etanoat dengan dietil eter dalam corong pemisah, terjadi
penurunan temperatur larutan yang menyebabkan larutan terasa dingin dan saat pengocokan
dilakukan, larutan sering menghasilkan gas dimana gas yang terbentuk itu berasal dari larutan
dietil eter yang bersifat mudah menguap. Oleh sebab itu ketika pengocokan dilakukan, sesekali
gas harus dikeluarkan melalui kran. Pengeluaran gas dilakukan saat gas memberikan tekanan yang
kuat pada tutup corong pemisah. Jika gas tidak dikeluarkan, dapat menyebabkan terjadinya
ledakan pada corong pemisah. Seharusnya, pengocokan dilakukan menggunakan pengocok
magnetik sehingga kecepatan pengocokan konstan namun tidak dapat dilakukan dengan baik
karena pengocokan dilakukan secara manual sehingga kecepatan pengocokan tidak dapat berjalan
dengan konstan.
proses pengocokan selama 20 menit telah selesai, kemudian campuran asam etanoat dengan
dietil eter dalam corong pemisah dibiarkan beberapa saat agar terjadi pemisahan yang sempurna.
Pemisahan larutan dapat terjadi karena campuran telah mencapai keadaan setimbang. Pemisahan
lapisan larutan menghasilkan 2 lapisan larutan, dimana pada bagian bawah merupakan lapisan air
yang mengandung asam etanoat atau disebut juga fase air sedangkan di bagian atas merupakan
lapisan dietil eter (fase organik). Pemisahan lapisan larutan ini menunjukkan bobot molekul dari
larutan yang terpisah, dimana larutan yang memiliki bobot molekul yang lebih berat berada di
bagian bawah sedangkan larutan yang memiliki bobot molekul yang lebih ringan berada dibagian
atas. Berdasarkan hasil pemisahan diketahui bahwa lapisan air yang mengandung asam etanoat
memiliki bobot molekul lebih berat dibandingkan lapisan dietil eter.
Proses pengeluaran lapisan air yang mengandung asam etanoat. Asam etanoat yang keluar
ditampung pada erlenmeyer yang kemudian akan dipipet sebanyak 5 mL dan dititrasi dengan
NaOH 0,1 M. Sedangkan lapisan dietil eter juga dikeluarkan dan ditampung pada erlenmeyer yang
kemudian akan dipipet sebanyak 10 mL dan dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Lapisan dietil eter yang
dititrasi maka akan terjadi saponifikasi. Metode titrasi yang digunakan yaitu alkalimetri
(penetralan) dimana asam etanoat bertindak sebagai titrat sedangkan NaOH bertindak sebagai
titran. Pada titrasi ini, juga terjadi reaksi netralisasi yaitu asam etanoat yang dititrasi dengan titran
basa akan bereaksi sempurna dengan semua asam sehingga dapat diperoleh titik akhir titrasi yang
ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi merah muda.
Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator fenolftalein. Indikator ini merupakan
asam diprotik dan tidak berwarna. Pada saat direaksikan, fenolftalein terurai dahulu menjadi
bentuk tidak berwarnanya dan kemudian, dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini
menjadi ion terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda. Adapun reaksi yang terjadi
pada saat titrasi yaitu :
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Proses titrasi dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Volume NaOH 0,1 M yang
diperlukan untuk menetralkan asam dalam larutan asam etanoat 0,5 M dan dietil eter secara
berturut-turut yaitu 17mL ; 17,1 mL ; dan 17,3 mL. Sedangkan untuk konsentrasi asam etanoat
0,125 M dan dietil eter volume NaOH yang diperlukan yaitu 4,9 mL ; 4,7mL ; dan 6,4 mL.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat hubungan bahwa konsentrasi dengan volume NaOH yang
diperlukan adalah sebanding. Semakin besar konsentrasi asam (asam etanoat) maka semakin
banyak volume basa (NaOH) yang diperlukan untuk menetralkan asam etanoat tersebut semakin
banyak.

Dari volume NaOH yang diperoleh dapat dilakukan perhitungan untuk mencari nilai
koefisien distribusi dari percobaan yang dilakukan, sehingga diperoleh nilai KD seperti yang tertera
pada tabel dibawah ini.

Konsentrasi Jenis fasa Volume Volume Volume Rata KD


Asam Etanoat Titran (mL) NaOH (mL) rata (mL)

0,5M 10 17

Fasa Air 10 17,1 17,13

10 17,3 1,132

Fasa Organik 10 15,6 15,75

10 15,9

0, 125M 10 4,9

Fasa Air 10 4,7 5,3

10 6,4 1,308

Fasa Organik 10 3,9 4,05

10 4,2

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi asam etanoat maka
volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam asetat tersebut semakin banyak sehingga
nilai koefisien distribusi semakin kecil. Demikian pula sebaliknya, apabila semakin rendah
konsentrasi asam etanoat maka volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam asetat
tersebut semakin sedikit sehingga nilai koefisien distribusi semakin besar. Koefisien distribusi
suatu senyawa dalam dua larutan yang tidak bercampur harus sama dengan dengan 1. Artinya
bahwa senyawa tersebut terdistribusi secara merata pada dua fase yaitu fase organik dan fase air.
Jika nilai koefisien distribusi kecil dari 1 maka senyawa tersebut cenderung untuk terdistribusi
dalam fase air dari pada fase organiknya ( dietil eter). Berdasarkan perhitungan yang telah
dilakukan, asam etanoat dengan konsentrasi 0,5 M memiliki nilai koefisien distribusi terbesar. Hal
ini menunjukkan bahwa pada larutan asam etanoat dengan konsentrasi 0,5 M terjadi pemisahan
yang sempurna. Hal ini sesuai dengan literatur, dimana dinyatakan bahwa semakin besar nilai
koefisien distribusi (KD) maka pemisahan yang terjadi akan semakin sempurna. Dalam percobaan
ini terjadi suatu keadaan dimana sampel yang digunakan yaitu asam etanoat mempunyai
kecenderungan untuk menuju ke salah satu fase yaitu fasa air.
LAMPIRAN

Rangkaian Alat

Warna akhir titrasi