Anda di halaman 1dari 23

Nutritional Antioxidant

Buah Kiwi Sumber Antioksidan Sebagai Penghambat Penuaan Dini

Kelompok 3
Inna Maydina 1205025030
Karimah 1205025034
Nurul Arfiah 1205025054
Sherlita Suly 1205025075
Rizka Rahmawati 1305025011
Charina Andhini Putri 1305025020
Rahmaniya Inaya 1305025081
Sausan 1405027002

Universitas Prof. Dr. Hamka


Jakarta
2015
I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Buah Kiwi


1.1.1 Pengertian Buah Kiwi
Kiwi adalah salah satu buah-buahan yang bisa disebut gudang
antioksidan. Selain vitamin C, kekuatan antioksidan kiwi bertambah
dahsyat karna kandungan sumber anti oksidan lainnya seperti vitamin
E, karotrnoid dan flavonoid polifenol yang berkerja secara sinergis.
Biasanya makanan rendah lemak seperti buah, bukanlah sumber
vitamin E yang baik. Namun, buah kiwi kaya dengan vitamin E
meskipun kandungan lemaknya rendah.
1.1.2 Manfaat Buah Kiwi
a. Kiwi melindungi pengelihatan
Kiwi mengandung karotenoid lutein-pigmen antioksidan
yang bermanfaat melindungi kesehatan mata, terutama mencegah
kebutaan akibat usia tua. Bahkan kandungan luteinnya terbukti
lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dengan sayuran.
b. Kiwi melindungi dari diabetes
Kandungan serat pada kiwi dapat membantu penyembuhan
penyakit diabetes dengan mengatur kadar gula darah dan kangker
usus besar karena serat berikatan dengan komponen toksik dalam
usus besar dan membantu mengeluarkannya.
c. Kendalikan hipertensi dan jantung
Dengan mengkonsumsi 2-3 buah kiwi setiap hari sangat baik
untuk membantu mempertahankan kesehatan jantung, menurunkan
kadar lemak dalam darah, membantu mengurangi terjadinya
pembekuan darah.
d. Kiwi untuk mengobati asma
Kandungan vitamin C, vitamin B6 dan vitamin E sangat
bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fungsi paru-paru
sehingga sangat cocok untuk mencegah terjadinya gangguan
pernafasan.
e. Kiwi untuk mencegah darah kental
Mengkonsumsi beberapa buah kiwi setiap hari secara
signifikan dapat menurunkan resiko pembekuan darah dan
mengurangi kadar lemak (trigliserida) dalam darah sehingga
membantu melindungi kesehatan jantung. Tidak seperti aspirin
yang membantu mengurangi pembekuan darah, tetapi memiliki
efek samping seperti peradangan dan perdarahan di saluran
pencernaan.
1.1.3 Kandungan Nutrisi Buah Kiwi
Umumnya kiwi ukuran sedang mengandung 46 kilokalori, 0,3
gram lemak, 1 gram protein, 11 gram karbohidrat, 75 mg vitamin dan
2,6 gram serat makanan. Kandungan ini sungguh sangat bermanfaat
bagi tubuh.
Kandungan nutrisi pada 100 gram buah kiwi, yaitu:
Air : 83,05 gram
Kalori : 61 kcal
Protein : 0.99 gram
Lemak : 0.44 gram
Abu : 0.64 gram
Karbohidrat : 14.88 gram
Fiber : 3.4 gram
Calcium, Ca : 26 mg
Iron, Fe : 0.41 mg
Magnesium, Mg : 30 mg
Phosphorus, P : 40 mg
Potassium, K : 332 mg
Sodium, Na : 5 mg
Vitamin C (ascorbic acid) : 75.0 mg
Thiamin : 0.020 mg
Riboflavin : 0.050 mg
Niacin : 0.500 mg
Vitamin A : 175 iu
Vitamin A, RAE : 9 mcg
Retinol : 0 mcg
Kolesterol : 0 mcg
Buah ini juga mempunyai indeks glikemik yang rendah yaitu
angka yang menunjukkan seberapa tinggi makanan tersebut dapat
meningkatkan gula darah setelah di komsumsi. Selain itu, kandungan
lemak dan kadar kalorinya juga rendah.
Buah kiwi mengandung actinidin, enzim alami yang dapat
mengatasi sembelit. Asam askobin-nya melindungi tubuh dari demam
dan nyeri persendian.
Kiwi sumber vitamin C dan potasium terbaik, selain itu juga
mengandung magnesium, fosfor, besi, dan vitamin A. Kiwi
menghasilkan vitamin C dua kali lebih banyak dari jeruk manis dan
lemon, hingga dapat dikatakan, kiwi dapat mencegah penyakit tulang
bengkok.

1.2 Kandungan Antioksidan Buah Kiwi


Buah kiwi mengandung polifenol, karotenoid, karoten lutein untuk
memerangi radikal bebas di dalam tubuh sehingga kita bisa terhindar dari
penyakit degeneratif dan kanker. Lutein yang dikandung dalam buah kiwi
terbukti mudah diserap dibanding sayuran. Secara ringkas, jenis antioksidan
lain yang bisa ditemukan dalam buah kiwi antara lain karoten, lutein,
xanthophyl, flavonoid, klorofil.
Klorofil dapat melindungi sistem kekebalan tubuh lewat
kemampuannya meredam reaktivitas senyawa radikal bebas.
Kapasitas antioksidan terhadap senyawa radikal bebas buah kiwi
bahkan menempati posisi ketiga tertinggi setelah jeruk (orange) dan anggur
merah. Kulit buah kiwi adalah antioksidan flavonoid yang baik.
Buah kiwi memiliki banyak kandungan nutrisi, bahkan jumlahnya
tersimpan lebih banyak dibanding buah-buahan lain. Diantaranya vitamin E
(sebagai antioksidan dan dibutuhkan untuk kesehatan jantung), asan folat
(untuk mencegahkecacatan pada bayi, baik untuk perkembangan otak, dan
mencegah penyakit kardiovaskular), dan kalium (potassium) untuk menjaga
kondisi tekanan darah dan kesehatan jantung.
Kandungan vitamin E pada kiwi dua kali lipat lebih banyak dibanding
alpukat. Masih ada vitamin B1, B2, B6, Vitamin A, asam folat, niasin, dan
asam pantotenat.
Vitamin C dan E merupakan senyawa antioksidan yang bermanfaat
dalam menangkal radikal bebas yang biasa kita temukan dalam asap rokok
dan asap kendaraan bermotor. Antioksidan ini berfungsi memperlambat
penuaan dan memelihara sel-sel kulit agar tetap awet muda, mengurangi
resiko terserang jantung koroner dan mencegah kanker.
Antioksidan termasuk vitamin dan fitokimia yang disebut flavonoid,
memiliki kekuatan menetralkan molekul tidak stabil yang disebut radikal
bebas, yang dihubungkan dengan penyakit kronis dan penuaan.
Buah kiwi mengandung sejumlah besar vitamin C, E, dan A. Vitamin
C adalah antioksidan larut air yang terbukti dapat melindungi tubuh dari
radikal bebas. Berikut ini adalah kandungan antioksidan dalam buah kiwi
dan manfaatnya bagi tubuh.
1.2.1 Vitamin C
Vitamin C merupakan vitamin larut dalam air diperlukan untuk
pembentukan kolagen, kartinin, dan neurotransmitter. Vitamin C
sering dikonsumsi oleh masyarakat yang berfungsi sebagai peningkat
sistem imun, pembentuk kolagen, pencegah penuaan, dan sebagai obat
untuk common cold (flu), serta bermanfaat untuk orang-orang yang
sering beraktivitas.
Pauling (1981) dalam Douglas (2001) menyatakan bahwa
defisiensi vitamin C juga dapat melemahkan serat kolagen tubuh oleh
karena terganggunya proses sintesis kolagen yang membutuhkan
vitamin C. Beliau juga menyatakan bahwa vitamin C digunakan oleh
banyak orang untuk mengobati penyakit. Salah satu penyakit yang
dapat diatasi dengan vitamin C adalah influenza (common cold).
Masyarakat banyak mengkonsumsi vitamin C pada saat terjadinya
wabah flu burung pada tahun 2003.
Beberapa penelitian memaparkan bahwa manfaat vitamin
C dapat menurunkan kadar kolesterol dan dapat memproduksi bahan
kimia tertentu pada otak. Tingginya kandungan antioksidan pada
vitamin C juga dapat menghancurkan radikal bebas yang dapat
merusak sel-sel dalam tubuh. Berikut adalah fungsi dan manfaat
vitamin C.
1) Melawan kanker
Beberapa wanita yang mengkonsumsi banyak mengandung
vitamin C dari makanan seperti buah-buahan atau sayur yang
bukan dalam bentuk suplemen dapat memiliki risiko lebih rendah
terkena kanker payudara karena vitamin C dapat dijadikan sebagai
racun bagi sel-sel kanker tertentu.
2) Memperbaiki kulit
Vitamin C mengandung antioksidan yang banyak yang juga
dibutuhkan oleh kulit, dimana antioksidan berfungsi untuk
menetralkan radikal bebas yang menumpuk akibat terkena paparan
sinar matahari.
3) Meningkatkan mood
Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan perubahan
psikologis. Peneliti dari McGill University menyatakan bahwa
pemberian suplemen vitamin C (500 mg dua kali sehari) bagi
pasien rawat inap yang mengalami kekurangan vitamin C, secara
signifikan dapat membantu meningkatkan suasana keadaan hati
mereka.
4) Menurunkan resiko serangan jantung
Vitamin C dapat menghilangkan aterosklerosis yang berada di
dalam jantung. Aterosklerosis adalah suatu keadaan dimana arteri
jantung menebal dan dapat meningkatkan terjadinya serangan
jantung sebab darah menjadi tidak lancar.
5) Mengontrol tekanan darah
Mengkonsumsi vitamin C dengan dosis yang dianjurkan
secara rutin dapat mengontrol tekanan darah.
6) Mencegah stroke
Diet tinggi antioksidan yang kaya akan buah dan sayuran
dapat membantu menangkal penyakit kardiovaskular. Namun
beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka dengan tingkat
tertinggi vitamin C dalam tubuh berada pada risiko terendah untuk
menderita stroke, terutama pada wanita.
7) Mencegah diabetes
Vitamin C mampu untuk menurunkan kadar gula yang
terdapat dalam tubuh dan dapat mencegah efek buruk dari diabetes
pada penderitanya.
8) Mencegah katarak
Apabila kekurangan vitamin C lensa mata akan menjadi
buram sehingga dapat menyebabkan pandangan menjadi kabur.
1.2.2 Vitamin E
Vitamin E merupakan suatu zat antioksidan yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh manusia karena memiliki peranan penting
dalam menjaga keseimbangan sel dari radikal bebas. Dengan
kemampuannya sebagai zat antioksidan, vitamin E dapat mengurangi
resiko penyebab berbagai macam penyakit, seperti jantung, kanker,
dan diabetes. Sumber vitamin E dapat diperoleh secara alami maupun
sintetis. Sumber vitamin E alami selain banyak dihasilkan dari
tanaman, juga dapat diperoleh dari ikan. Namun vitamin E yang
berasal dari alam masih tercampur dengan matriks-matriks yang lain.
Oleh karena itu, vitamin E disintesis agar dihasilkan vitamin E yang
lebih murni sehingga mudah diserap oleh tubuh.
Dosis vitamin E yang dianjurkan yaitu 7mg/hari. Kekurangan
vitamin E ditandai dengan proses penyembuhan luka yang lambat,
desangkan kelebihan vitamin E ditandai dengan gejala meningkatnya
seperti asam lambung, sakit kepala, cepat lelah, dan lemah otot.
Beberapa jenis sayuran yang mengandung vitamin E diantaranya
minyak biji gandum, minyak kedelai, minyak jagung, alfalfa, selada,
kacang-kacangan, asparagus, pisang, strawberry, biji bunga
matahari, minyak zaitun, buncis, ubi jalar dan sayuran berwarna hijau.
Manfaat dan fungsi vitamin E bagi tubuh sendiri diantaranya
antioksidan alami, membantu penyembuhan, mencegah terjadinya
bekas luka, menjaga kesehatan sel darah merah dan saraf, serta
melindungi membran sel.
1) Kekebalan Tubuh
Vitamin E dapat meningkatkan daya tahan tubuh, membantu
mengatasi stres, meningkatkan kesuburan, meminimalkan
risiko kanker dan penyakit jantung koroner.
2) Kesehatan Kulit
Berperan sangat penting bagi kesehatan kulit, yaitu dengan
menjaga, meningkatkan elastisitas dan kelembapan kulit,
mencegah proses penuaan dini, melindungi kulit dari
kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet, serta mempercepat
proses penyembuhan luka.
3) Sebagai Antioksidan
Semua vitamin E adalah antioksidan dan terlibat dalam
banyak proses tubuh dan beroperasi sebagai antioksidan
alami yang membantu melindungi struktur sel yang penting
terutama membran sel dari kerusakan akibat adanya radikal
bebas. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai antioksidan
dalam tubuh, vitamin E bekerja dengan cara mencari,
bereaksi dan merusak rantai reaksi radikal bebas. Dalam
reaksi tersebut, vitamin E sendiri diubah menjadi radikal.
Namun radikal ini akan segera beregenerasi menjadi vitamin
aktif melalui proses biokimia yang melibatkan senyawa lain.
4) Zat Pelindung
Melindungi sel darah merah yang mengangkut oksigen ke
seluruh jaringan tubuh dari kerusakan. Selain bisa melindungi
dari akibat kelebihan vitamin A dan melindungi vitamin A
dari kerusakan, vitamin ini juga bisa melindungi tubuh dari
akibat berbagai obat, bahan kimia, dan logam yang
mendukung pembentukan radikal bebas.
1.2.3 Karoten
Karoten memiliki 2 bentuk utama, yaitu alfa-karoten dan beta
karoten. Beta-karoten memiliki memiliki kemampuan sebagai
antioksidan yang dapat berperan penting menstabilkan radikal berinti
karbon. Beta-karoten juga dapat bersinergi dengan komponen zat gizi
lain. Beta-karoten yang dikonsumsi bersamaan dengan vitamin C dan
E mampu meningkatkan kemampuan antioksidan. Sifat antioksidan
beta-karoten adalah efektif pada konsentrasi rendah oksigen, sehingga
dapat memlengkapi sifat antioksidan vitamin E yang efektif pada
konsentrasi tinggi oksigen. Beta-karoten yang bereaksi dengan radikal
bebas akan menyebabkan radikal bebas menjadi stabil. Kehadiran
vitamin C akan membantu menstabilkan radikal bebas beta-karoten
(Astawan dan Leomitro, 2008).
1.2.4 Lutein
Lutein adalah sejenis kelompok karotenoid merupakan bagian
dari xantofil yaitu pigmen antioksidan yang ada pada buah dan
sayuran bermanfaat melindungi kesehatan pengelihatan di retina. Pada
retina yang merupakan bagian penting mata banyak mengalami
kerusakan oksidatif akibat cahaya berlebih yang utamanya berasal dari
ultraviolet dan sinar mata hari.
Pada buah kiwi memiliki kandungan lutein yang tinggi
dibanding buah atau sayuran lain. Lutein pada buah kiwi lebih mudah
diserap tubuh dibandingkan lutein yang ada pada buah dan sayuran
lain. Buah kiwi dapat melindungi mata ARMD (Age-Related Macular
Degeneration) yaitu penyakit penyebab utama berkurangnya
pengelihatan pada orang dewasa.
Penelitian dari Archives of Ophthalmology membuktikan bahwa
jika seseorang mengonsumsi buah lebih dari 3 sajian per hari
termasuk buah kiwi maka mereka dapat mengurangi resiko terkena
ARMD hingga 35% besarnya dibanding dengan orang yang
mengonsumsi buah hanya 1.5 sajian per hari
1.2.5 Xanthophyl
Karotenoid merupakan pigmen yan paling umum terdapat di
alam dan disintesis oleh semua organism fotosintetik dan fungi.
Karotenoid berasal dari kelas terpenoid, berupa rantai poliena dengan
40 karbon yang dibentuk dari delapan unit isoprena C5, yang
memberikan struktur molekul karotenoid yang khas. Karotenoid
dikelompokkan menjadi 2 kelompok: (1) Karoten, yang merupakan
kelompok hidrokarbon dan (2) xantofil, yang merupakan turunan
karoten teroksigenasi. Semua xantofil disintesis oleh anaman tinggi,
sementara violaxantin, anteraxantin, zeaxantin, neoxantin dan lutein,
juga dapat disintesis oleh mikroalgae.
Xanthophyll adalah pigmen pemberi warna kuning. Pigmen ini
mempunyai kemampuan antioksidan pemecah rantai peroksidase dari
membrane fosfolipid. Lutein adanya senyawa yang merupakan
komponen utama Xanthophyl yang banyak terdapat pada sayuran dan
buah-buahan, senyawa ini mudah larut dalam air dibandingkan beta-
karoten. Kemudahan larut dalam air tersebut disebabkan oleh
kandungan hidroksil yang lebih banyak pada lutein sehingga bersifat
lebih polar dibandingkan beta-karoten. Lutein dapat berfungsi sebagai
antioksidan karena kemampuannya mencegah kerusakan DNA
(Ramayulis, 2014).
Xantofil umumnya menghasilkan warna kuning. Warna terjadi
karena atom-atom karbon ikatan rangkap berinteraksi satu sama lain
dalam proses yang disebut konjugasi, yang memungkinkan elektron
dalam molekul untuk bergerak bebas akibat terjadinya resonansi
ikatan rangkap. Seiring dengan peningkatan jumlah ikatan rangkap,
elektron-elektron yang terkait dengan sistem terkonjugasi memiliki
lebih banyak ruang untuk bergerak, dan membutuhkan energi lebih
sedikit untuk mengubah strukturnya. Hal ini menyebabkan penurunan
energi cahaya yang diserap oleh molekul. Semakin tinggi frekuensi
cahaya yang diserap dari ujung pendek spektrum yang terlihat, akan
menghasilkan penampilan senyawa yang semakin merah.
1.2.6 Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawaan fenol yang dimiliki oleh
sebagian besar tumbuhan hijau dan biasanya terkonsentrasi pada biji,
buah, kulit buah, kulit kayu, daun, dan bunga (Miller 1996). Flavonoid
memiliki kontribusi yang penting dalam kesehatan manusia. Menurut
Hertog (1992) disarankan agar setiap hari manusia mengkonsumsi
beberapa gram flavonoid. Flavonoid diketahui berfungsi sebagai
antimutagenik dan antikarsinogenik, selain itu memiliki sifat sebagai
antioksidan, anti peradangan, anti alergi, dan dapat menghambat
oksidasi LDL (Low Density Lipoprotein) (Rahmat, 2009).
Menurut USDA Database for the Flavonoid Content of Selected
Foods, buah kiwi mengandung senyawa bioaktif flavonoid yang
dibagi ke dalam kelas: antosianidin, flavanon, flavon, flavonol dan
flavon-3-ol. Penentuan kadar flavonoid pada buah kiwi dinyatakan
dengan kadar katekin dimana katekin termasuk kedalam kelas flavon-
3-ol.
Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan
sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid
antara lain adalah untuk melindungi struksul sel, meningkatkan
efektivitas vitamin C, anti inflamasi, mencegah keropos tulang, dan
sebagai antibiotic.
Flavonoid mampu bertindak sebagai antioksidan dan berfungsi
menetralisir radikal bebas dan dengan demikian meminimalkan efek
kerusakan pada sel dan jaringan tubuh. Radikal bebas adalah molekul
yang sangat reaktif dan tidak stabil akibat telah kehilangan elektron.
Untuk menstabilkan diri, radikal bebas memerlukan elektron dan
untuk mencapai tujuan ini kemudian mengoksidasi sel-sel sehat tubuh
sehingga menyebabkan kerusakan. Radikal bebas terutama diproduksi
sebagai produk sampingan dalam berbagai proses biokimia dalam
tubuh. Sebagian radikal bebas memasuki tubuh dari lingkungan
eksternal seperti dari asap rokok, konsumsi alkohol, radiasi
elektromagnetik, melalui paparan sinar matahari, konsumsi makanan
olahan, polusi udara, dan lain-lain.
1.2.7 Klorofil
Warna hijau pada buah kiwi disebabkan karena adanya pigmen
klorofil yang tetap tidak berubah pada proses pematangan buah kiwi.
Klorofil mempunyai aktivitas biologis yaitu sebagai antioksidan dan
antikanker. Selain itu klorofil juga kaya akan zat anti peradangan, anti
bakteri, dan anti parasit (Astawan dan Leomitro, 2008).

1.3 Antioksidan
1.3.1 Definisi Antioksidan
Antioksidan merupakan nutrisi yang terkandung didalam
makanan yang dapat mencegah atau memperlambat kerusakan
oksidatif pada tubuh kita. Ketika sel tubuh menggunakan oksigen,
secara natural sel-sel tersebut memproduksi radikal bebas yang dapat
menyebabkan kerusakan yang akhirnya memicu timbulnya kanker (Guzka,
2012).
Antioksidan adalah pelindung tubuh dari serangat teroris
radikal bebas. Dan antioksidan yang di produksi alami oleh tubuh
akan menjadi lebih optimal bila kita mengkonsumsi makan-makanan
sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Mengapa? Sebab warna zat
alami yang ada dalam bahan makanan tersebut adalah acuan seberapa
banyak antioksidan dapat kita suplai untuk tubuh. Warna-warni itulah
yang menunjukkan adanya antioksidan superoxide dismutase enzyme
atau enzim antioksidan. Enzim inilah yang nantinya mempercepat
proses pembentukan molekul antioksidan (Siagian, 2012).
Berikut daftar warna-warni sayur yang harus kita nikmati karena
kaya anti oksidan.
Tabel 1.1 Warna Fitokimia Buah dan Sayur
Kelompok Warna Fitokimiawi Terdapat dalam
Lycopene, phytoene, Tomat , melon
Merah
phytofluene, vitamin E
Glucosinolate, Brokoli, bokchoy,
Hijau pekat Isothiocyanate, Indole-3 kembang kol
carbinol, folic acid
Hijau kekuning- Bayam, avocad, buah
Lutein, zeaxanthin
kuningan kiwi
Alpha dan beta caroten, beta Wortel, labu, mangga
Orange
cryptoxanthin
Orange kekuning- Jeruk, jeruk nipis, nanas,
Vitamin C, Flavonoid
kuningan pepaya
Anthocyanin, ellagic acid, Anggur, buah-buah
Ungu
flavonoid berries dan plum
Sumber: Siagian, 2012.

1.3.2 Manfaat Antioksidan


Antioksidan adalah nutrisi alami yang ditemukan dalam buah-
buahan dan sayuran tertentu, dan telah terbukti dapat melindungi sel-
sel manusia dari kerusakan oksidatif dan memberikan keuntungan
lainnya, antara lain:
1) Menguatkan kekebalan tubuh agar tahan terhadap flu, virus, dan
infeksi.
2) Mengurangi kejadian semua jenis kanker.
3) Mencegah terjadinya glukoma dan degenerasi makular.
4) Mengurangi risiko terhadap oksidasi kolestrol dan penyakit jantung.
5) Anti-penuaan dari sel dan keseluruhan tubuh (Guzka, 2012).
Latar belakang mengapa kita butuh antioksidan pun sangat beragam.
a. Melawan radikal bebas
Bagi tubuh kita, radikal bebas adalah benda asing yang dapat
merusak fungsi imunitas tubuh. Pada kulit, radikal bebas menyebabkan
keriput. Pada saluran pembuluh darah, bisa menjadi plak yang bisa
menyebabkan stroke serta terhambatannya distribusi nutrisi.
Sedangkan pada proses pembelahan sel kanker, karena memicu
pembelahan sel yang abnormal. Dan aktioksidan hadir sebagai aktor
pencegah yang sekaligus menekan kegesitan radikal bebas.
b. Menguatkan sistem imun tubuh
Pada saat sistem imun tubuh kita melemah, radikal bebas yang ada
didalam dan luar tubuh akan merayakannya dengan merusak sistem
metabolisme tubuh. Saat inilah kebanyakan dari kita baru disadarkan
bahwa salah satu yang dapat membantu tubuh melawan radikal bebas
adalah antioksidan.
c. Meremajakan kulit
Kulit yang mengalami penuaan akan ditandai dengan kulit kering,
sebab radikal bebas menyerang kolagen. Vitamin A akan berfungsi
memperbaiki sel-sel kulit yang sudah rusak dengan mengembalikan
elastisitas kolagen (Siagian, 2012).
Tabel 5.2 Macam Antioksidan

Penyakit yang
Antioksidan Manfaatnya Sumber makana
dilawan
Karotenoid Diubah menjadi vitamin Katarak dan Sayuran yang
A yang akan menjaga kanker prostat berwarna orange
kerusakan mata kita dan kuning
seperti wortel
serta jeruk,
sayuran berwarna
merah seperti
tomat. Plus
sayuran berwarna
hijau pekat
seperti bayam.
Vitamin E Memperpanjang masa Serangan jantung, Minyak sayur,
kerja jantung karena stroke, alzheimer, kacang-kacangan,
berfungsi untuk kanker kulit, gandum
membersihkan kanker payudara,
pembuluh darah dari dan kanker prostat
tumpukan plak-plak,
plus menjaga kulit
senantiasa lembut
Vitamin C Membentuk sistem Knker, gangguan Jeruk nipis,
imun dan memperkuat jantung, dn brokoli,
kerja vitamin E mencerahkan kulit cranberries
CoQ10 Menjaga sel-sel otak Gangguan jantung Seafood
dan penyakit gusi
Selenium Menyempurnakan kerja Gangguan Bawang putih,
vitamin E pernapasan, bawang merah,
prostat, kanker brokoli, gandum
usus, stroke, dan utuh, anggur,
serangan jantung kuning telur
Sumber: Pacer, Lester., The Antioxidant Miracle, Wiley; 1 edition, 1999.

1.3.3 Tipe-tipe Antioksidan


Berikut beberapa tipe dari antioksidan dan sumber dimana kita
bisa mendapatkannya:
1) Vitamin A
Vitamin yang larut dalam lemak ini dibutuhkan dalam
pembentukantulang, pencernaan, dan kesehatan mata selain itu
juga dapat membantu dalam sistemkekebalan tubuh dan kulit.
Makanan yang kaya akan vitamin A antara lain, wortel,
hati,kentang manis, aprikot, jeruk, mangga, jambu biji, pepaya, susu,
yogurt, dan kuning telur.
2) Vitamin C
Vitamin merupakan pembersih radikal bebas yang berada di
dalam suatulingkungan yang berair, seperti didalam sel.
Vitamin C bekerja secara sinergis denganvitamin E untuk
menghilangkan radikal bebas. Vitamin C banyak ditemukan
di dalam jeruk,lemon, strawberry, tomat, paprika hijau, brokoli, dan
sayuran berdaun hijau.
3) Vitamin E
Vitamin yang juga larut dalam lemak ini memelihara membran sel
(yangsebagian besar terdiri dari asam lemak) dari kerusakan
yang disebabkan oleh radikal bebas.Fungsi lain dari
vitamin E adalah melindungi lemak di dalam LDL
(kolestrol jahat) dari proses oksidasi. Kacang, biji-bijian,
sayuran berdaun hijau, minyak sayur, dan minyak
hati,merupakan makanan yang kaya akan vitamin E.
4) Selenium
Selenium merupakan mineral yang harus dikonsumsi dalam jumlah
yangterukur, karena jika dalam dosis besar bisa menjadi racun bagi
tubuh. Makanan yang kayaakan selenium antara lain, ikan dan
kerang, daging merah, telur, ayam, bawang putih, dan padi-
padian.
5) Beta-karoten
Beta-karoten dikenal sebagai peluruh oksigen tunggal (suatu
bentuk oksigen yang merupakan racun bagi tubuh) terbaik.
Selain itu, beta-karoten juga merupakan pembersih radikal bebas
yang baik terutama pada saat konsentrasi oksigen rendah. Beta-karoten
dapat ditemukan pada wortel, paprika kuning dan merah, brokoli,
kentang manis,mangga, dan jenis-jenis buah dan sayuran lainnya.
6) Likopen
Sebagai antioksidan, likopen sama dua kali lebih kuat dengan
beta-karotendalam melindungi sel darah putih dari kerusakan
membran yang disebabkan oleh radikal bebas. Likopen juga
dapat menurunkan risiko terkena kanker prostat dan serviks.
Sebagaitambahan, likopen dapat mencegah penyakit jantung
dengan cara menghambat oksidasikolestrol LDL. Bersama
dengan beta-karoten, likopen diketahui berperan dalam
melindungikulit dari kerusakan yang disebabkan radiasi sinar UV.
Makanan yang kaya akan likopenantara lain, tomat, jeruk bali, dan
semangka.
7) Lutein
Lutein merupakan kartenoid dalam konsentrasi tinggi di
daerah makulamata (bagian belakang mata yang menjadi
tempat retina), di mana dipercaya untuk menyaring sinar biru
yang merusak serta melindungi bagian belakang mata dari
kerusakanyang disebabkan radikal bebas. Lutein juga membantu
mencegah degenerasi makular yang berkaitan dengan usia,
perkembangan glukoma, dan katarak. Makanan yang kaya
akan luteinantara lain sayuran berwarna hijau gelap, seperti brokoli,
kiwi, bayam, dan tunas brussel.
8) Lignan
Makanan yang mengandung lignan banyak ditemukan pada biji
rami,oatmeal, dan berley (Guzka, 2012).
1.3.4 Antioksidan Berdasarkan Mekanisme Kerja
1) Antioksidan Primer
Antioksidan primer berfungsi mencegah terbentuknya radikal
bebas yang baru dengan mengubah radikal bebas yang ada
menjadi molekul yang berkurang efek negatifnya sebelum
sempat bereaksi. Contoh dari antioksidan primer yaitu enzim
superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GPx),
dan katalase. Kerjanya sangat dipengaruhi oleh mineral-
mineral seperti mangan, seng, tembaga, dan selenium.
2) Antioksidan Sekunder
Antioksidan sekunder berfungsi menangkap radikal bebas
serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak
terjadi kerusakan yang lebih besar, contohnya adalah asam
askorbat dan -tokoferol.
3) Antioksidan Tersier
Antioksidan tersier merupakan senyawa yang memperbaiki
sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas
(Sidik, 1997).

1.4 Penuaan Dini


1.4.1 Pengertian Penuaan Dini
Penuaan adalah akumulasi dari kerusakan makro molekul, sel,
jaringan dan organ (Susanto dan Masri, 2010). Menurut (Ramayulis,
2014) penuaan dini adalah suatu kondisi dimana berkurangnya fungsi-
fungsi sel tubuh yang lebih cepat dari yang seharusnya, hal tersebut
banya dijelaskan dalam berbagai kajian ilmiah bahwa terjadinya
penuaan dini berhubungan dengan adanya zat toksik dalam saluran
cerna.
Perubahan proses penuaan yang dapat dilihat di kulit.
Meningkatnya usia, sebagaimana pada organ yang lain, fungsi
kulitpun ikut menurun, sel kulit yang mati melekat lebih lama
dilapisan terluar kulit, sehingga kulit mengering, kusam dan terasa
kasar. Produksi kolagen juga mengalami penurunan sebagai akibat
bertambahnya usia,sinar matahari ataupun penyakit yang lain.
Kolagen ini seharusnya menjadi penunjang kulit agar terlihat
kencang.Sebagai akibatnya kulitpun akan kehilangan elastisitas,
sehingga mulai terlihat kendur dan berkeriput.
1.4.2 Penyebab Penuaan Dini
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penuaan dini ada
faktor instrinsik dan ekstrinsik. Faktor instrinsik biasanya berasal dari
diri sendiri seperti gen, dan jika faktor ekstrinsik berasal dari luar
tubuh bisa karena radikal bebas, polusi dan lain-lain
Salah satu teori menyatakan bahwa aging terjadi akibat
akumulasi kerusakan sel oleh karena radikal bebas, senyawa radikal
mengandung elektron tidak berpasangan pada kulit terluar sehingga
sangat reaktif menarik elektron dari molekul di sekelilingnya untuk
melengkapi kekurangan elektron di dalamnya. Akibat reaktivitasnya,
molekul yang kehilangan elektron berubah menjadi radikal yang baru
dan akhirnya menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel,
bahkan kematian sel. Molekul penting di dalam tubuh yang rentan
dirusak oleh radikal bebas yaitu deoxyribonucleic acid (DNA), lemak,
dan protein.
Dengan usia yang bertambah, maka banyak kerusakan sel akibat
radikal bebas makin berperan mengganggu metabolisme sel, serta
merangsang mutasi sel-sel, yang akhirnya menimbulkan penyakit serta
kematian. Radikal bebas juga merusak protein yang menjaga
kelembaban, kehalusan, dan elastisitas kulit. Jaringan tubuh akan
menjadi rusak akibat paparan radikal bebas di dalam jangka panjang,
serta dapat menyebabkan pembentukan lekukan dan kerutan kulit
yang menggambarkan aging.
Perempuan umumnya mengkhawatirkan aging bila
dibandingkan dengan pria, untuk menghambat proses aging
perempuan penting mengendalikan pembentukan radikal bebas yang
dapat dilakukan dengan memperbaiki status antioksidan selular.
1.4.3 Pencegahan Penuaan Dini
Carper (1996 : 15) mengemukakan bahwa terdapat tiga cara
utama untuk memperkuat persenjataan tubuh seseorang yang terdiri
atas antioksidan-antioksidan untuk melawan proses penuaan (Evawati,
2013).
1) Pertahanan pertama yang paling penting adalah memakan
banyak antioksidan. Terdapat tiga antioksidan besar yang
ampuh, vitamin E, beta karoten dan vitamin C seperti bawang
putih, brokoli, tomat dan teh.
2) Menjauhi makanan-makanan yang mudah teroksidasi. Yang
secara kimia diubah oleh oksigen dimana-mana sehingga
makanan tersebut menimbulkan radikal-radikal bebas di
dalam sel-sel tubuh yang bersifat menghancurkan, seperti
minyak jagung, kuning telur yang terdapat pada banyak
makanan yang telah diproses.
3) Memakan zat-zat tambahan, ramuan obat, vitamin-vitamin
dan bahan-bahan makanan lain yang secara tidak langsung
merangsang enzim-enzim menghidupkan system penawar
racun yang menghisap radikal-radikal bebas yang terkenal
adalah bahan yang mengandung sulcrofan (brokoli).
1.4.4 Mekanisme Antoksidan Menghambat Penuaan Dini
Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang bersifat melepaskan
sebutir elektronnya. Secara kimiawi antioksidan dirancang untuk
menawarkan electron-elektronnya kepada radikal-radikal bebas.
Akibatnya radikal-radikal bebas menjadi normal kembali dan
menghentikan kegiatan perusakan (Evawati, 2013).
Kulit yang mengalami penuaan akan ditandai dengan kulit kering,
sebab radikal bebas menyerang kolagen. Profesor Leslie Baumann
yang pernah menjabat sebagai Director of Cosmetic Dermatology di
University of Miami menjelaskan bahwa kehilangan kolagen adalah
indikasi adanya serangan awal radikal bebas. (Baumann, Leslie., Skin
Ageing and its treatment, Journal of Pathology).
Karena kulit telah kehilangan bantalannya, tak ada lagi yang
menjaga kestabilan sel-sel kulit. Sehingga menyebabkan kadar air
dalam kulit pun menurun, yang menyebabkan kulit kering. Dari sini
lah muncul garis-garis halus atau kerutan pada wajah. Hal lain juga
terjadi ketika kolagen menipis kemudian terkena paparan sinar
matahari yang membuat peradangan kulit yaitu munculnya flek-flek
cokelat pada kulit.
Peranan antioksidan adalah sebagai perisai tambahan bagi kolagen
kulit. Proses kerjanya, antioksidan akan menyerap radikal bebas untuk
kemudian dinetralisir.
Vitamin A akan berfungsi memperbaiki sel-sel kulit yang sudah
rusak dengan mengembalikan elastisitas kolagen. Vitamin C bertugas
untuk mengembalikan kecerahan kulit dengan membantu kolagen
menyerap air, sehingga kulit selalu terhidrasi dengan baik. Sedangkan
vitamin E merupakan elemen antioksidan yang bekerja untuk
mengembalikan kelembutan kulit karena menjaga sirkulasi produksi
minyak alami tetap stabil. (Siagian, 2012).
Berkaitan dengan vitamin E, Schunk, Mayer, dan Haake (1990)
menjelaskan bahwa golongan vitamin E terdiri atas tokoferol dimana
alfa-tokoferol dari segi jumlah terbanyak dan aktifitas biologiknya
adalah terbesar. Senyawa tokoferol adalah antioksidan. Tokoferol aktif
mudah dioksidasi oleh oksigen udara, oksidasi oleh garam besi (III)
atau garam serium (IV) berlangsung dengan mudah. Bila tidak
terdapat oksigen tokoferol tahan terhadap peroksida yang terbentuk
pada metabolism. Perlindungan yang tidak spesifik terhadap oksidasi
antara hormone, vitamin A dan lipid yang mengandung asam lemak
tidak jenuh.
Sedangkan vitamin C atau asam karboksilat adalah senyawa yang
dari segi strktur dekat dengan monosakarida. Senyawa ini dapat
dianggap sebagai produk oksidasi lakton dan asam aldonat (asam L
gulconat) yang sesuai dan sehubungan dengan itu merupakan suatu 3
kso 1 asam gulonant alton terdapat dalam bentuk endiol yang
distabilkan oleh jembatan hydrogen intra molekul dan dengan
demikian proses menstabilkan tersebut sekaligus membentuk fungsi
antioksidan. Asam askorbat dalam bentuk Kristal relaatif stabil tetapi
dalam larutan air akan terurai oleh adanya oksigen dalam udara
(berfungsi sebagai antioksidan).
Adapun beta karoten adalah provitamin A beberapa karoten yang
terdapat dalam kromoplasma tumbuhan bermanfaat sebagai
provitamin A untuk manusia. Karoten pertama kali dioksidasi dari
wortel (Wackenroder, 1831). Beta karoten merupakan
pigmen/flavonoid yang paling banyak tesebar luas secara alami.
Senyawa beta karoten larut dalam lemak yang bagi manusia berfungsi
sebagai modifikasi respon biologis yang akan merubah reaksi tubuh
terhadap senyawa lain, seperti alergen, virus karsinogen sehingga
mempunyai kemampuan sebagai anti peradangan, anti alergi dan anti
karsinogen (Wijayakusuma, 1998 : 1). Provitamin A (betakaroten)
selain berfungsi untuk kesehatan juga berperan penting untuk
pertumbuhan melalui metabolism protein dan untuk fungsi epitel
(fungsi pertumbuhan). Senyawa ini melindungi selaput mukosa
terhadap keratinase epitel (fungsi perlindungan epitel) dan memalui
penutupan epitel melindungi infeksi (Schanunack, Mayer dan Haake,
1990 : 622).
Sebuah penelitian yang dilakukan Fusco D, Colloca G, Lomonaco
MR, Cesari M, dari departemen Of Gerontology, Geriatrics and
physiatri, di university of Sacred Heart, Roma, Italy, menyimpulkan
ada empat pendukung kerja antioksidan dalam tubuh. Pertama adalah
superoksida dimutase (SOD), yaitu enzim katalis yang mempercepat
detoksifikasi dalam tubuh. Sehingga konsentrasi oksigen dalam tubuh
bisa dibuat dalam konsentrasi tinggi.
Kerja SOD akan dilanjutkan oleh katalase dengan menekan
hidrogen peroksida sehingga proses detoksifikasi bisa lebih sempurna.
Setelah itu akan datang glutation peroksidase yang kaya akan
selenium. Enzim inilah yang nantinya akan menciptakan sinergitas
antara vitamin A, C, dan E.
Dan pendukung terakhir adalah glutation yang menciptakan
perlindangan otomatis antar sel. Bisa di bilang di antara pendukung
kerja antioksidan, glutation yang menjadi busur tim antioksidan.
Glutation adalah alat yang membuat tim antioksidan dapat mengarah
sasarannya tepat pada reseptor radikal bebas. (Siagian, 2012).
II
KERANGKA TEORI

Buah Kiwi

Kandungan :

Vitamin C
Vitamin E
Karoten
Lutein
Xanthophyl
Flavonoid
Klorofil

Menghambat Penuaan
Antioksidan
Dini

Gambar 2.1
Sumber: Modifikasi, (Suko 2010)
DAFTAR PUSTAKA

Agestia Waji, Resti & Sugrani, Andis. (2009). Flavonoid (Quercetin). Program
S2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Hasanuddin.
Barker, Guzka. Antioksidan, Jan 2012.
https://www.scribd.com/doc/79198683/Antioksidan-2 : diakses tanggal 27
sept 2015.
Evawati, Diana. Gizi Kecantikan Penghambat Proses Penuaan Dini. Wahana,
Volume 54, Nomer 1, Juni 2010.

Fretes, Helly de., Susanto, AB., Prasetyo, Budhi., & Limantara, Leenawaty.
(2012). Karotenoid dari Makroalgae dan Mikroalgae: Potensi Kesehatan
Aplikasi dan Bioteknologi. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 1.
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/553/jbptitbpp-gdl-rizkisitin-27615-2-2007ta-
1.pdf: diakses tanggal 27 sept 2015.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/48715/5/Chapter%20I.pdf:
diakses tanggal 27 sept 2015.
Inggrid, Maria & Santoso, Herry. (2014). Ekstraksi Antioksidan Dan Senyawa
Aktif Dari Buah Kiwi (Actinidia deliciosa). Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.
Pangkalan Ide. (2010). Health Secret of Kiwifruit. Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo.
Putri, Sri Armia Aditya. (2015, Februari). Penetapan Kadar Vitamin C Yang
Terdapat Pada Buah Kiwi (Actinidia Deliciosa (A. Chev) C. F. Liang & A.
R. Ferguson) Secara Volumetri Dengan 2,6-Dichlorofenol Indofenol.
Siagian, Priska. (2012). Keajaiban Antioksidan. Jakarta: Gramedia.
Suko, Savero Iman Hadi. (2010). Pengaruh Sari Buah Kiwi Terhadap Kerusakan
Histologis Sel Hepar Mencit Akibat Pemberian Parasetamol [Skripsi].
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Susanto, A.B, & R. Masri Sareb Putra. (2010). 60 Gems Management: Applying
Managemen Wisdow in Life. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
VitaHealth Redaksi. (2006). Seluk Beluk Food Supplement. Jakarta: Gramedia.
Wahyono, Poncohari. Dkk. Efek Jus Buat Tomat Terhadap Pencegahan Fotoaging
Kulit Akibat Iradiasi Sinar Ultraviolet-B. JBP, Volume 13, Nomer 3,
September 2011

Winarsi, Hery. Deteksi Aging pada Perempuan Berdasarkan Status Antioksidan.


Septemnber 2013