Anda di halaman 1dari 20

16

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitan ini dilaksanakan di Situ Pemda Cibinong yang terletak diantara


628'44.7"LS dan 10649'60.0"BT dan berlokasi di Desa Karadenan, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat (Gambar 3.1). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016
sampai dengan bulan Juli 2016. Situ Pemda Cibinong memiliki luas sekitar 5,77 Ha.
Waktu pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali dan telah ditetapkan 6 titik
pengambilan sampel seperti pada Gambar 3.2. Titik Sampling ditetapkan di tengah
Situ. Penentuan titik sampling didasarkan atas pengaruh aktivitas yang ada di Situ dan
terlihat dari inlet yang masuk ke Situ. Koordinat titik pengambilan sampel terdapat
pada Tabel 3.1 yang diketahui berdasarkan survei yang telah dilakukan sebelum
sampling.
Penentuan titik sampling dilakukan secara tracking sebelum pengambilan
sampling, dengan melihat dari kegiatan sekitar Situ yang berpotensi mencemari
perairan. Sehingga dapat diperoleh hasil analisis yang representatif terhadap Situ
Pemda Cibinong. Selain itu, penentuan titik sampel harus dapat mewakili luas Situ
Pemda Cibinong.
Untuk mengetahui karakteristik Situ Pemda Cibinong dapat diketahui dengan
cara melakukan pengamatan langsung (survey) dan melakukan pengukuran luas,
kedalaman air, lebar dan panjang Situ.

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
17

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
18

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
19

Tabel 3. 1 Koordinat dan Titik Sampling Penelitian


Titik Sampling Koordinat

Lintang Selatan Bujur Timur

Titik 1 628'50"S 10649'36" T


Titik 2 628'49"S 10649'37" T
Titik 3 628'46"S 10649'38" T
Titik 4 628'39"S 10649'38" T
Titik 5 628'37"S 10649'40" T
Titik 6 628'33"S 10649'43" T

3.2 Penentuan Lokasi Penelitian

Lokasi pengambilan contoh dilakukan pada 6 titik yang berbeda, di setiap lokasi
yang terdapat di Situ Pemda Cibinong. Penentuan lokasi pengambilan contoh
berdasarkan pengamatan pada saat survey lapangan dengan melihat rona lingkungan
di sekitar Situ Pemda Cibinong dan lokasi inlet serta outlet Situ. Lokasi pengambilan
contoh pada perairan Situ Pemda Cibinong adalah sebagai berikut :
a. Titik 1 merupakan titik dengan inlet berasal dari kegiatan perkantoran di sekitar
titik 1.
b. Titik 2 merupakan titik dengan inlet yang berasal dari warung makan, mushola
serta toilet di sekitar titik 2.
c. Titik 3 merupakan titik dengan Inlet yang berasal dari warung makan dan toilet
di sekitar titik 3.
d. Titik 4 merupakan titik dengan jenis limbah hasil dari aktivitas perkantoran di
sekitar titik 4.
e. Titik 5 merupakan titik dengan jenis limbah yang berasal dari aktivitas warung
makan dan perkantoran di sekitar titik 5.

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
20

f. Titik 6 merupakan titik outlet Situ Pemda Cibinong dengan jenis limbah yang
berasal dari salon dan warung makan. Air dari outlet akan dialirkan menuju
Kali Ciluar.

3.3 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Peralatan penelitan yang digunakan sesuai dengan parameter dan karakteristik
Situ yang diukur (sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82
tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air,
klasifikasi air kelas dua). Peralatan penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3. 2 Peralatan yang Digunakan saat Penelitian (Lanjutan)
No Nama Alat Ukuran Keterangan
Parameter Fisik
1 pH meter - Untuk mengukur pH
perairan
2 Termometer - Untuk mengukur
temperatur perairan
3 Turbidimeter - Untuk mengukur
tingkat kekeruhan
perairan
4 Secci Disk - Untuk mengukur
tingkat kecerahan
perairan
5 GPS - Untuk menentukan
titik koordinat

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
21

No Nama Alat Ukuran Keterangan


Parameter Kimia
6 DO meter - Untuk mengukur DO
perairan

Parameter Biologi (Fitoplankton)


7 Jaring Fitoplankton a. Diameter 31 cm Untuk mengambil
b. Mata Jaring 60 m contoh fitoplankton
c. Panjang 80 cm
8 Kotak es (ice box) - Untuk menyimpan
contoh air sampel
9 Botol Pengumpul 250 ml Untuk menampung
(Bucket) fitoplankton dari
jaring
10 Botol contoh 250 ml Untuk menampung
contoh dari bucket
11 Ember 5 liter Untuk mengambil air
sebelum disaring
dengan jaring
fitoplankton
12 Pipet tetes - Untuk mengambil
lugol
13 Mikroskop - Untuk
binokuler mengidentifikasi
fitoplankton
14 Sedgwick Rafter 1 mm Untuk mengetahui
Counting Cell jenis dan jumlah
fitoplankton
Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
22

No Nama Alat Ukuran Keterangan


15 Buku identifikasi - Untuk
fitoplankton mengidentifikasi
jenis fitoplankton
Parameter Biologi (Klorofil-a)
16 Pompa vakum - Untuk menyaring air
sampel
17 Kertas saring 0,45 m Untuk menyaring air
sampel
18 Pipet mohr 25 ml Untuk mengambil
MgCO3
19 Botol contoh 250 ml Untuk menampung
air sampel
20 Spektrofotometer 630 nm, 647 nm, Untuk mengukur
664 nm, 750 nm absorbansi klorofil-a

3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah:
Tabel 3. 3 Bahan yang Digunakan untuk Penelitian
No Nama Bahan Konsentrasi Keterangan
Parameter Biologi (Fitoplankton)
1 Air contoh uji - Untuk mengidentifikasi
fitoplankton jenis dan jumlah
fitoplankton
2 Lugol - Untuk megawetkan
sampel

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
23

No Nama Bahan Konsentrasi Keterangan


Parameter Biologi (Klorofil-a)
3 MgCO3 - Untuk mengawetkan
sampel
4 Aseton 90% Untuk melarutkan kertas
saring
5 Air contoh uji - Untuk menguji klorofil-a
klorofil-a

3.4 Metode Kerja


3.4.1 Pengujian Kualitas Air
Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan
parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor
115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air yang
meliputi parameter fisik, kimia dan mikrobiologis (Masduqi, 2009).
Pengujian kualitas air Situ Pemda Cibinong meliputi parameter fisik (suhu,
kecerahan dan kekeruhan) serta parameter kimia (pH, DO, BOD, COD, nitrat dan
fosfat). Metode pengujian parameter kimia sesuai dengan yang terdapat pada SNI dan
kemudian hasilnya dibandingkan dengan Baku Mutu pada PP No 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Perairan (Golongan II),
karena sesuai dengan fungsi Situ Pemda Cibinong yang diperuntukkan sebagai tempat
rekreasi.

3.4.2 Struktur Fitoplankton


Untuk menganalisis struktur komunitas fitoplankton dan mengetahui nilai
keanekaragaman, keseragaman, dominansi serta saprobitas di perairan Situ Pemda

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
24

Cibinong, sebelumnya harus mengetahui cara pengambilan sampel fitoplankton yang


benar dan sesuai.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Sampel
diambil pada 6 titik yang telah ditentukan dan dianggap mewakili perairan di daerah
penelitian.
Pengambilan contoh fitoplankton dilakukan menggunakan jaring fitoplankton
dengan cara menyaring sebanyak 100 liter. Pengambilan air dilakukan secara
komposit. Selanjutnya fitoplankton yang terkumpul pada botol konsentrat jaring
fitoplankton dipindahkan ke dalam botol sampel serta diberi bahan pengawet lugol
10 tetes (APHA, 1989). Kemudian diletakkan ke dalam kotak es, agar metabolisme
tubuhnya tidak bekerja. Selanjutnya hasil sampel dibawa ke laboratorium untuk
dianalisis dan di identifikasi.

3.4.3 Produktivitas Primer Perairan


Produktivitas primer fitoplankton ini merupakan salah satu dari sebagian besar
sumber penting dalam pembentukan energi di perairan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi primer (laju fotosintesis) antara lain : cahaya matahari, suhu,
nutrient, serta struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton yang mampu
beradaptasi di ekosistem perairan (habitatnya) (Baksir, 2004).
Pengukuran produktivitas primer dilakukan dengan menggunakan analisis
kandungan klorofil-a. Setiap sampel disaring dengan kertas saring yang dilarutkan
dengan aseton PA 90%, kertas saring yang telah larut kemudian diuji dengan metode
spektrofotometri dengan 4 panjang gelombang : 630, 647, 664 dan 750. Hasil
absorbansi dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi klorofil-a yang akan dapat
menentukan produktivitas primer Situ.

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
25

3.5 Metode Analisis


3.5.1 Analisis Kualitas Air
Analisis kualitas air Situ Cibinong dilakukan dengan melakukan uji terhadap
parameter parameter pencemaran air yang meliputi parameter fisika (suhu, kecerahan
dan kekeruhan), parameter kimia (Oksigen Terlarut (DO), Biochemical Oxigen
Demand (BOD), Chemical Oxigen Demand (COD), pH, PO43- (Phosphat) dan Nitrat
(NO3-). Hasil analisis dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air (Golongan II). Pengujian kadar konsentrasi parameter kualitas air Situ dapat dilihat
pada Tabel 3.4 berikut ini :
Tabel 3. 4 Parameter Kualitas Air dan Metode Penetapannya
No Parameter Alat Pengukuran Satuan Metode Analisis
Fisika
1 Suhu Termometer C SNI 06-6989 23-
2005
2 Kekeruhan Turbidimeter NTU SNI 06-6989 25-
2005
3 Kecerahan Secchi Disc m -
Kimia
4 pH pH meter
5 DO Botol Winkler mg/liter SNI 06-6989.11-
2004
6 BOD Botol Winkler mg/liter SNI 06-6989.14-
2004
7 COD COD Reaktor mg/liter SNI 06-6989.2-
2004

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
26

No Parameter Alat Pengukuran Satuan Metode Analisis


8 Nitrat Spektrofotometer mg/liter SNI 06-6989.15-
2004
9 Fosfat Spektrofotometer mg/liter SNI 19-2483-1991

3.5.2 Analisis Fitoplankton


Setelah memperoleh data-data yang dibutuhkan, data-data tersebut akan
dipergunakan untuk menghitung :
1. Analisis Kelimpahan Fitoplankton
Penentuan kelimpahan fitoplankton dilakukan berdasarkan metode sapuan di
atas gelas obyek Sedgwick Rafter Counting Cell (American Public Health
Assocition, 1983) dengan satuan sel per liter (sel/liter).
Untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton dalam satuan sel/m3, digunakan
rumus sebagai berikut :

1
= .. 3.1

Keterangan :
N = Kelimpahan fitoplankton (sel/liter)
v = Volume air yang disaring (250 ml)
x = Volume air yang tersaring (100 liter)
y = Volume 1 tetes pipet (ml)
z = Jumlah individu

2. Analisis Indeks Keanekaragaman Fitoplankton


Analisis ini digunakan untuk mengetahui keragaman jenis biota perairan. Jika
keragamannya tinggi, berarti komunitas fitoplankton di perairan makin
beragam dan tidak didominasi oleh satu atau dua jenis individu fitoplankton.
Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
27

Persamaan yang digunakan dalam menghitung indeks ini adalah persamaan


Shannon-Wiener (Basmi, 1999).
Rumus :
= 2

= .. 3.2

Keterangan :
H = Indeks diversitas
ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu

Indeks keragaman dapat di kategorikan sebagai berikut:


a) H < 1 : Komunitas biota tidak stabil (keanekaragaman rendah)
b) 1 < H < 3 : Stabiitas komunitas biota moderar (keanekaragaman sedang)
c) H > 3 : Stabilitas komunitas biota kondisi prima (keanekaragaman tinggi)

Tabel 3. 5 Beberapa Kriteria Kualitas Air Berdasarkan Indeks Keragaman (H)


No Indeks Keragaman Kualitas Pustaka
(H)
I >3 Air bersih
1-3 Setengah tercemar Wilha (1975)
<1 Tercemar berat
II 3,0 4,0 Tercemar sangat ringan
2,0 3,0 Tercemar ringan Wilha (1975)
1,0 2,0 Setengah tercemar
III 2,0 Tidak tercemar
Lee, dkk (1975)
2,0 1,0 Tercemar ringan

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
28

No Indeks Keragaman Kualitas Pustaka


(H)
1,5 1,0 Tercemar sedang
< 1,0 Tercemar berat

3. Analisis Indeks Keseragaman Fitoplankton


Indeks keragaman ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran jenis merata atau
tidak. Jika nilai indeksi keseragaman tinggi maka kandungan dalam setiap jenis
tidak terlalu berbeda. Untuk mengetahui nilai keseragaman dengan cara
membandingkan indeks keseragaman dengan nilai maksimumnya.
Rumus :

= .. 3.3

Keterangan:
E = Indeks keseragaman
H = Indeks keanekaragaman
Hmaks = Log 2 Pi
S = Jumlah genera

Menurut Lind (1979) dan Basmi (1999) nilai indeks keseregaman (E)
berkisar antara 0 1.
a. Jika indeks keseragaman (E) mendekati 0, maka keseragaman antara spesies
rendah, hal ini mencerminkan bahwa kekayaan individu masing-masing
spesies sangat jauh berbeda.
b. Jika indeks keseragaman (E) mendekati nilai 1, maka keseragaman antara
spesies relatif merata dan perbedaannya tidak begitu menyolok.

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
29

4. Analisis Indeks Dominansi Fitoplankton


Nilai indeks dominasi (D) bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak jenis yang
mendominasi dalam suatu perairan (Odum, 1998). Untuk mengetahui nilai
indeks dominasi digunakan rumus sebagai berikut.
Rumus :
2
= =0 [ ] .. 3.4

Keterangan :
D = Indeks dominasi
ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu
n = Jumlah genera (jenis)

Nilai indeks dominasi (C) berkisar antara 0-1


a. Jika indeks dominasi (C) mendekati 0, maka hampir tidak ada spesies yang
mendominasi suatu perairan, hal ini menandakan kondisi dalam komunitas
yang relatif stabil.
b. Jika indeks dominasi (C) mendekati nilai 1, maka ada salah satu jenis yang
mendominasi jenis lain, hal ini dikarenakan komunitas dalam keadaan labil
dan terjadi tekanan ekologis (stress)

5. Analisis Indeks Saprobitas Fitoplankton


Sistem saprobitas ini hanya untuk melihat kelompok organisme yang dominan
saja dan banyak digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran. Koefisien
saprobik menurut Dresscher dan Van Der Mark (1976)

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
30

Rumus :
+33
= .. 3.5
+++

Keterangan :
X = Koefisien saprobik (-3 sampai dengan 3)
A = Kelompok organisme Cyanophyta
B = Kelompok organisme Dinophyta
C = Kelompok organisme Chlorophyta
D = Kelompok organisme Chrysophyta
A,B,C,D = Jumlah organisme (jenis) yang berbeda dalam masing-masing
kelompok

Berdasarkan nilai koefisien saprobik, pencemaran perairan diklasifikasikan


dalam 5 tingkatan.
Tabel 3. 6 Hubungan Antara Koefisien Saprobik (X) dengan Tingkat
Pencemaran Perairan
Bahan Pencemar Tingkat Pencemar Fase Saprobik Koefisien Saprobik
Bahan Organik Sangat berat Polisaprobik (-3) (-2)
Poli/-mesosaprobik (-2) (-1,5)
Cukup berat -meso/polisaprobik (-1,5) (-1)
-mesosaprobik (-1) (-0,5)
Bahan organik dan Sedang /-mesosaprobik (-0,5) (0)
anorganik /-mesosaprobik (0) (0,5)
Ringan -mesosaprobik (0,5) (1,0)
-meso/oligosaprobik (1,0) (1,5)

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
31

Bahan Pencemar Tingkat Pencemar Fase Saprobik Koefisien Saprobik


Bahan organik dan Sangat ringan Oligo/-mesosaprobik (1,5) (2)
anorganik Oligosaprobik (2,0) (3,0)
(Sumber : Koesoebiono, 1987)

3.5.3 Analisis Produktivitas Primer Perairan


Pengukuran produktivitas primer dilakukan dengan menggunakan analisis
kandungan klorofil-a yang diukur dengan metode spektrofotometri. Kemudian hasil
absorbansi digunakan untuk menghitung konsentrasi klorofil-a yang akan dapat
menentukan produktivitas primer Situ. Hubungan diantara keduanya dapat dinyatakan
sebagai berikut :
Rumus :
((11,85(664)1,54(647)0,08(630)) ,
, /3 = ,3
.. 3.6

Keterangan:
E664 = absorbansi 664 absorbansi 750
E647 = absorbansi 647 absorbansi 750
E630 = absorbansi 630 absorbansi 750
VE = Volume Ekstraksi (L)
VS = Volume Sampel (m3)

Setelah diketahui konsentrasi klorofil-a di Situ Pemda Cibinong maka dapat diketahui
tingkat kesuburan perairan Situ yang sesuai dengan Tabel 3.7 berikut ini:

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
32

Tabel 3. 7 Klasifikasi Tingkat Kesuburan Perairan Danau


Parameter Eutrofik Mesotrofik Oligotrofik Sumber
Kecerahan (m) 3-1,5 6-3 < 250 Wetzel (2001)

N-NO3 (mg/liter) >0,2 0,10,2 <0,1 Golman dan


Horne (1983)
P-PO4 (mg/liter) 0,031-0,1 0,0110,03 0,003-0,01 Vollenweider
dalam Efendi
(2003)
Klorofil a 8-25 2,5-8 <2,5 Likens (1975)
(mg/m3) dalam Jorgensen
(1980)

Kelimpahan >15000 2000-15000 <2000 Lander dalam


Plankton Basmi (1994)
(ind/liter)
(Sumber : Jurnal Penelitian, 2013)

3.5.4 Analisis Serapan Karbon


Fitoplankton yang merupakan sebuah organisme autotrof mampu melakukan
fotosintesis karena mengandung klorofil. Berikut ini adalah rumus empiris dari proses
fotosintesis :
6 H2O + 6 CO2 + Cahaya dan Kloroplas C6H12O6 + 6O2
Dengan adanya kandungan klorofil-a pada fitoplankton maka dapat dihitung jumlah
karbon yang diserap pada suatu perairan. Kecerahan mempengaruhi kemampuan hidup
fitoplankton, sehingga pengukuran kedalaman, didasarkan pada kedalaman kecerahan
yang diukur menggunakan Secchi disk. Serapan karbon dapat dihitung berdasarkan
volume. Jumlah serapan karbon dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
33

Nilai Klorofil-a (mg/m3) x mol CO2 = mg CO2/m3


12
mg CO2/m3 x 44 (Ar C/CO2) mg C/m3* .. 3.7

*Konversi mg C/m3 menjadi Ton/m3 dan Ton/Tahun untuk mengetahui kemampuan


serapan karbon pada suatu perairan dan jumlah serapan karbon dalam periode waktu
tertentu.

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
34

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437
35

Kajian Kualitas Air dan Produktivitas Primer Situ Pemda Cibinong, Kabupaten Bogor Menggunakan Fitoplankton
Jehan Noor Auda
Perpustakaan Universitas Trisakti, telp.021-5663232 ext. 8112, 8113 ,8114 ,8194 ,8437