Anda di halaman 1dari 9

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH MALANG

RUMAH SAKIT TINGKAT III BALADHIKA HUSADA

PANDUAN ASESMEN PRA BEDAH

2014

RUMAH SAKIT TK. III BALADHIKA HUSADA


JL. PB. SUDIRMAN No. 45 JEMBER
TELP/FAX/EMAIL (0331) 484674, 489207/ (0331) 425673/
Email : rsadbaladhikahusada@yahoo

i
KATA PENGANTAR

Pelayanan kesehatan yang akan diberikan kepada pasien harus dilakukan dengan
melakukan kajian/skrining terlebih dahulu untuk menentukan dan memenuhi kebutuhan
pelayanan pasien secara tepat dan benar. Asesmen pasien pra bedah merupakan kegiatan
penilaian terhadap seorang pasien secara menyeluruh dan terintegrasi, yang meliput
pengumpulan informasi, analisis informasi dan penyusunan rencana pelaksanaan tndakan bedah
yang akan dilakukan terhadap pasien.
Panduan Asesmen Pasien Pra Bedah ini akan memberikan gambaran kegiatan asesmen
terhadap pasien yang akan menjalini tndakan bedah yang dilakukan oleh dokter bedah dan dokter
pelaksanan tndakan bedah lainnya, meliput pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
diagnostc, dan penentuan teknis tndakan bedah yang akan dilakukan terhadap pasien.
Diharapkan Panduan ini dapat digunakan sebagai acuan baku bagi dokter bedah dan peraat
terkait untuk memberikan pelayanan kesehatan berupa tndakan bedah dengan pasien sebagai
fokus/sentral pelayanan kesehatan. Penyempurnaan dan perbaikan Panduan ini akan dilakukan
secara periodik dengan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan di lapangan.

Jember, Januari 2015

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................................1
A. Definisi..........................................................................................................................1
B. Tujuan...........................................................................................................................1
BAB II RUANG LINGKUP...............................................................................................................2
BAB IV TATA LAKSANA.................................................................................................................4
A. PENJADWALAN.............................................................................................................4
B. ASESMEN PRA BEDAH..................................................................................................4
C. EDUKASI PRE OPERASI..................................................................................................7
A. Staf Medis....................................................................................................................9
B. Staf Perawat.................................................................................................................9

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Definisi
Asesmen Pra Bedah adalah suatu pemeriksaan dan perencanaan sebelum tndakan
pembedahan dilaksanakan.
B. Tujuan
1. Sebagai panduan yang sistemats untuk menentukan status kesehatan pasien pada
perencanaan dan perawatan lebih lanjut.
2. Dasar untuk memilih prosedur yang tepat, waktu yang optmal, prosedur aman,
3. Memberikan manfaat terhadap prosedur yang direncanakan.
4. Pasien dan keluarga memperoleh informasi yang jelas mengenai kemungkinan
terjadinya komplikasi pembedahan.

1
BAB II RUANG LINGKUP

A. Setap pasien yang datang ke Rumah sakit harus dilakukan penilaian awal dan penapisan
( screening ) oleh petugas yang berwenang dan kompeten untuk melakukan perawatan
selanjutnya, mengenai kebutuhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Ruang lingkup
penilaian tap disiplin ditentukan oleh kebijakkan setap bagian bedah. Ruang lingkup dan
intensitas penilaian ditentukan oleh kondisi pasien sebagai berikut:
1. Kondisi / Diagnosis
2. Perencanaan Perawatan
3. Motvasi tentang Perawatan
4. Respon pada perawatan sebelumnya
5. Persetujuan tndakan
Data-data yang pentng dari pasien harus dikomunikasikan secara konsisten kepada tm
yang merawat. Kelainan fisik atau diagnostk harus dilaporkan ke dokter. Dokter bisa
merujuk pasien bila fasilitas dan sarana bedah tdak tersedia.
B. Ruang Lingkup Pelaksanaan
1. Dokter Bedah Umum
2. Dokter Spesialis Bedah Digestve
3. Dokter Spesialis Bedah Orthopedi
4. Dokter Spesialis Bedah Syaraf
5. Dokter Spesialis Bedah Kepala Leher
6. Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
7. Dokter Spesialis Bedah Urologi
8. Dokter Spesialis Bedah Anak
9. Dokter Spesialis Bedah Mulut
10. Dokter Spesialis THT
11. Dokter Spesialis Onkologi
12. Dokter Spesialis Bedah Thoraks
13. Dokter Gigi
BAB IV TATA LAKSANA

A. PENJADWALAN
Dokter yang berwenang dan berkompeten melakukan permintaan pelayanan operasi atau
berkoordinasi dengan staf bagian kamar operasi tentang jadual dan ketersediaan peralatan
yang diperlukan dalm operasi tersebut. Apabila peralatan atau sarana penunjang lainnya yang
akan digunakan tdak tersedia di kamar operasi maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit lain.
Dan apabila peralatan yang akan digunakan tersedia, maka di lakukan penjadualan dan
persiapan peralatan serta dialkukan persiapan pasien oleh ahli bedah.

C. ASESMEN PRA BEDAH


asesmen pra bedah dilakukan pada pasien yang telah bersedia untuk dilakukan tndakan
operasi. Asesmen tersebut dilakukan untuk menentukan kebutuhan pasien dan kebutuhan
staf medis dalam melakukan tndakan pembedahan. Asesmen ini dibagi untuk 2 kategori
pembedahan elektf atau terencana dan emergensi.
1. Bedah elektf dikerjakan pada waktu yang cocok bagi pasien serta Tim Bedah RS.
Dokter akan menjelaskan operasi yang dimaksud selama konsultasi rawat jalan dengan
rincian mengenai manfaat dan risiko operasi. Penyelidikan dan penilaian masalah-masalah
medis diatasi pada tahap ini, termasuk rujukan ke spesialis yang relevan termasuk spesialis

2
anestesi. Dokter bedah melakukan pemeriksaan- pemeriksaan yang diperlukan dan
disesuaikan dengan kasus bedahnya termasuk pemeriksaan laboratorium dan radiologi.
Bedah elektf pada pasien dengan penyakit menahun sebaiknya hanya dikerjakan bila
kondisi medis pasien telah dioptmalkan dan risiko minimal. Persiapan untuk bedah elektf,
dilakukan untuk pasien yang sudah siap operasi. Setelah pasien berada di ruang rawat inap,
dokter bedah menyampaikan kembali tentang prosedur bedah yang akan dikerjakan di
kamar operasi. Dokter melakukan penandaan lokasi operasi:
a. Penandaan dilakukan pada semua kasus termasuk sisi(laterality),multple struktur
(jari tangan, jari kaki, lesi),atau multple level (tulang belakang).
b. Penandaan selalu melibatkan pasien dan keluarga pasien
c. Penandaan menggunakan penanda yang tdak mudah luntur terkena air/
alcohol/betadin.
d. Mudah dikenali.
e. Digunakan secara konsisten di RS.
f. Penandaan dibuat oleh operator/ orang yang melakukan tndakan.
g. Dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan dan harus terlihat
sampai saat akan disayat.
Dokter bedah mendokumentasikan seluruh persiapan pasien termasuk menuliskan
diagnose pre operasi dan nama tndakan atau prosedur operasi yang akan dilakukan serta
pernyataan persetujuan pasien untuk dilakukan pembedahan dalam berkas rekam medis
pasien.
2. Bedah emergensi. Pasien yang menghadapi bedah emergensi berbeda dari pasien
yang dijadualkan. Diagnosis yang mendasari mungkin tdak diketahui dan operasi yang
direncanakan tdak past. Kontak secepat mungkin dengan spesialis anestesi akan
menghasilkan rencana tndakan untuk periode pra bedah. Setelah diskusi, operasi kadang-
kadang dianjurkan untuk ditunda untuk memungkinkan pengobatan medis memperbaiki
keadaan umum pasien. Pada situasi tertentu dibutuhkan operasi segera. Perawatan pra
bedah dari pasien pasien emergensi:
a. Anamnesis: lakukan anamnesis terhadap pasien dan/atau keluarganya. Tanyakan
secara spesifik tentang terapi obat terakhir dan kepatuhan pasien. Apakah pasien
memiliki alergi atau mengalami masalah dengan pembiusan dahulu?
b. Rekam medis: periksa rekam medis dan catatan laboratorium untuk melihat bukt
kelainan medis yang bermakna. Sampai 50% pasien dengan riwayat infark miokard
aktual atau dicurigai akan menceritakan riwayat penyakit dengan tdak akurat pada 5
tahun sesudahnya. Pasien mungkin yakin mengalami serangan jantung ketka
sebenarnya tdak, dan begitupula sebaliknya.
c. Pemeriksaan fisik
d. Penyelidikan: kebanyakan pasien membutuhkan pemerik-saan hematologi dan
biokimia rutn serta uji silang darah. Kirim sampel darah segera mungkin. EKG dan X-
foto toraks perlu dilakukan bila ada kecurigaan patologi. Pasang pulse oximetry pada
pasien dispnea dan cek gas darah arteri.
e. Hipotensi : paling sering disebabkan oleh hipovolemia akibat kehilangan darah atau
cairan tubuh lain. Pasien usia lanjut yang syok tdak selalu takikardia. Pasien hipertensi
mungkin mengalami hipotensi bila tekanan sistoliknya 100 mmHg.
f. Obat nyeri
g. Penggantan cairan: harus dilakukan segera dengan pemantauan ketat untuk
menilai respons terhadap pengisian beban cairan. Volume cairan yang besar harus
terlebih dahulu dihangatkan. Kateter urin harus dipasang. Kadang-kadang hipotensi
disebabkan atau diperburuk oleh gagal jantung atau sepsis. Jika respons terhadap
3
terapi cairan tdak adekuat, pemantauan CVP dibutuhkan. Jangan biarkan kepala pasien
jatuh ketka memasang infus vena sentral.
h. Syok: setap pasien hipotensi yang tdak memberi respons dengan pergantan
volume memiliki risiko serius dan harus dikelola di HDU/ICU. Sebagai alternatf, pasien
bisa dirujuk ke kamar operasi. Pasien-pasien perdarahan aktf memerlukan operasi
penyelamatan jiwa dan kamar operasi harus dipersiapkan segera. Persediaan darah
yang telah diuji silang harus diusahakan. Kalau bisa darah sampai ke kamar operasi
sekaligus dengan pasien, dan pada pasien yang kehabisan darah, darah dari golongan
sama dan belum diuji silang harus sudah ada segera.
i. Terapi cairan berlebihan: bisa mengakibatkan edema paru atau hemodilusi. Ini bisa
dicegah dengan pemantauan imbang cairan setap jam dan CVP.
j. Beri oksigen kepada pasien hipotensi dan setap pasien dengan saturasi oksigen
(SpO2) kurang dari 95% pada pulse oximetry. Pemeriksaan fisik dan radiologi biasanya
akan menentukan penyebab hipoksia. Pada pasien krits, dispnea bisa disebabkan oleh
asidosis metabolik. Asidosis laktat yang disebabkan hipoksia jaringan sering akan
memberi respons terhadap resusitasi umum, walaupun sebab-sebab lain dari asidosis
harus dicari.
k. Koreksi metabolik: elektrolit harus dikoreksi seefektf waktu yang tersedia.
Hipokalemia dan hipomagnesemia bisa mencetuskan aritmia jantung. Kendalikan
diabetes dengan insulin dan infus dekstrosa.
l. Pasang selang nasogastrik pada pasien obstruksi usus untuk mengurangi kembung
dan mengurangi risiko aspirasi. Pastkan bahwa pasien dengan penurunan kesadaran
memiliki jalan napas tdak tersumbat, dan menerima oksigen serta dalam posisi sesuai.
Pada pasien dengan riwayat refluks asam, berikan omeprazole 40 mg oral (atau
ranitdine 50 mg iv jika penyerapan usus jelek) tepat sebelum operasi.
m. Komunikasi: pasien dan keluarganya terus diberitahu mengenai rencana tndakan
dan minta persetujuan untuk setap prosedur yang direncanakan. Bahas risiko spesifik
yang berkaitan dengan operasi atau kondisi medis pasien. Jika operasi memiliki risiko
kematan, pastkan bahwa ini dipahami. Jangan anggap semua pasien (khususnya usia
lanjut) menginginkan operasi.

D. EDUKASI PRE OPERASI


1. Lathan napas
a. Lathan menarik napas dalam, dipantau dengan spirometri bila perlu.
Bertujuan untuk mengembangkan paru-paru secara optmal dan meningkatkan
kadar oksigen di dalam darah pasca tndakan anestesi.
b. Instruksikan pasien untuk lathan batuk dan tarik napas dalam pada posisi
duduk.
c. Iinstruksikan pasien untuk menarik napas dalam, tga kali, melalui lubang
hidung dan menghembuskan napas perlahan melalui mulut dengan posisi bibir
agak mengatup. Lathan tarik napas dalam dilakukan setap dua jam.
2. Lathan batuk dan posisi menahan
a. Lathan batuk membantu mengaluarkan secret dari rongga dada dan bahu
posisi menahan/pembebat yang dapat mengurangi tekanan serta mengontrol
nyeri.
b. Instruksikan pasien untuk menyilangkan jari-jari tangan, kemudian
meletakkan di atas lokasi bekas insisi sebagai penahan/pembebat saat batuk
nant, mencegah cedera pada bekas insisi.
c. Bersandar ke depan perlahan dari posisi duduk.
4
d. Bernapas menggunakan diafragma perut, tarik napas penuh dengan mulut
sedikit terbuka.
e. Batukkan 3-4 kali perlahan.
f. Kemudian dengan mulut terbuka, tarik napas dalam dengan cepat lalu
batukkan kuat 1-2 kali.

3. Lathan ambulasi
a. Instruksikan pasien untuk menggerakkan kedua pergelangan kaki dengan
arah ibu jari kaki ke atas dan kebawah.
b. Instruksikan pasien untuk menekankan bagian belakang lutut ke tempat
tdur. Kemudian diikut relaksasi lutut, kontraksi diikut relaksasi otot paha dan otot
bets mencegah terbentukknya thrombus.

5
BAB V DOKUMENTASI

Data dan penilaian didokumentasikan oleh berbagai disiplin bedah pada formulir yang
sesuai, dan termasuk data medis umum harus diidentfikasi. Pelayanan dan perawatan harus
dikoordinasikan secara efektf dan efisien. didokumentasikan sebagai berikut :
A. Staf Medis
1. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
2. Catatan perkembangan dan kebijakkan penyakit
3. Catatan pre dan post anestesi
4. Laporan konsultasi
5. Laporan Operasi
6. Ringkasan pasien pulang
7. Catatan Klinis
E. Staf Perawat
1. Catatan penilaian pasien / asuhan perawatan
2. Catatan pasien pulang
3. Catatan klinis