Anda di halaman 1dari 3

Kontrak Berdasarkan Gross Revenue

Benny Lubiantara (2 January 2007)

Sehubungan dengan wacana menggunakan model kontrak perminyakan berdasarkan pembagian dari Gross Revenue (selanjutnya kita singkat GR), saya kira ada baiknya kita kaji lebih jauh sistem ini. Apakah benar sistem ini superior karena: “lebih mudah alias tidak lagi berurusan dengan cost recovery” dan “lebih mudah mekanisme perhitungannya”.

Pada saat kita mengkaji suatu usulan kebijakan, pertanyaannya tentu apa tujuan kebijakan tersebut, kalau tujuan utamanya karena 2 hal tersebut diatas, maka pemilihan sistem pembagian berdasarkan GR ini TIDAK SALAH alias syah syah saja. Apakah sistem ini akan memberikan hasil yang paling optimum untuk host country? wacana inilah yang perlu kita kaji lebih jauh.

Pertama, saya berangkat dari data dulu, kalau seandainya ini sistem yang baik atau paling tidak yang cukup dikenal, kenapa hampir tidak pernah dijumpai kontrak pembagian berdasarkan GR di belahan dunia ini?, katanya Peru pernah menggunakannya - tapi itu pun model kontrak mereka yang lama, saya sendiri belum pernah melihat detail modelnya, karena database yang saya punya disini adalah untuk kontrak yang lebih baru (setelah tahun 1998), model kontrak mereka yang lebih baru tidak lagi menggunakan model pembagian berdasarkan GR ini. Saya berharap ada contoh negara lain, mungkin saya belum sempat memeriksa semua, tapi paling tidak, untuk kontrak kontrak yang lebih baru, hampir tidak pernah atau jarang sekali ditemui. Senang sekali kalau ada kolega yang dapat memberi info atau pernah menemukan model kontrak seperti ini, buat pembelajaran kita bersama tentunya.

Berangkat dari worldwide database tersebut, logis kalau timbul pertanyaan: “kok nggak ada (atau sedikit sekali) yang pakai model seperti ini?”, apa karena negara lain “belum sempat

1

memikirkan untuk mencoba model ini”? atau justru sebaliknya, mereka sudah mengkaji lebih jauh dan mereka (memutuskan) tidak tertarik. Mungkin juga, tujuan utama mereka memang bukan “yang mudah mudah” seperti diatas sehingga wajar kalau mereka memilih tidak menggunakan sistem ini.

Disadvantage model pembagian berdasarkan GR Mari kita lihat disadvantage sistem ini, misalkan kita memilih pembagian berdasarkan GR (X% : Y%), X% buat host country, dan Y% buat IOC. Silahkan dilakukan exercise atau simulasi, yang paling umum dilakukan adalah melihat respons Government Take (selanjutnya kita singkat GT*) terhadap profit. Apakah GT akan naik, konstan atau turun dengan kenaikan profit?, kenaikan profit yang paling umum disebabkan kenaikan harga minyak, bisa juga karena recoverable reserves yang naik atau karena biaya turun.

Suatu sistem disebut “regresif” apabila GT turun dengan kenaikan profit, “netral” apabila tidak berubah (konstan) dengan kenaikan profit dan “progresif” apabila naik dengan kenaikan profit.

Cara paling sederhana untuk menghitung kenaikan profit tentu dengan melakukan sensitivitas terhadap harga minyak, berdasarkan hitungan hitungan sederhana, maka sistem pembagian berdasarkan GR ini akan cenderung masuk golongan sistem yang “regresif” (mungkin rekan rekan bisa melakukan exercise juga, menarik untuk diskusi kalau seandainya hasilnya berbeda, sekali lagi ini untuk pembelajaran kita semua).

Sekarang kita bandingkan dengan PSC standard, PSC standard cenderung netral, dengan kenaikan profit, GT akan cenderung tetap, sekitar 85% (akan sedikit lebih tinggi karena pengaruh DMO, dll). Apabila kita

bandingkan dengan sistem pembagian berdasarkan GR, maka untuk kasus low profitability (bisa karena harga minyak rendah, recoverable reserves lebih jelek dan atau biaya naik), maka model (pembagian berdasarkan GR) ini akan lebih baik bagi RI. Namun sebaliknya, apabila nantinya parameter yang men-drive profit (price, reserves, cost) membuat naiknya tingkat keuntungan (high profitability), maka sebenarnya GT untuk model pembagian berdasarkan GR akan lebih jelek daripada sistem PSC standard.

Wacana ini perlu diantisipasi dan dipahami, jangan sampai setelah kejadian (sekian tahun dari sekarang), kita baru terheran heran, “lha kok GT malah turun pada saat keuntungan naik?”. Saya sengaja memfokuskan ke “disadvantage” dari sistem pembagian berdasarkan GR, supaya kita dapat melihat kedepan, bahwa kemudahan yang kita inginkan (ternyata) ada “cost” nya juga.

Masalah perpajakan untuk model pembagian berdasarkan GR

Dari

aspek

perpajakan,

pembagian

berdasarkan

GR

akan

mempunyai

dua

kemungkinan:

1. Bagian Contractor sudah “net”

2. Contractor masih membayar pajak dari bagiannya.

Kemungkinan 2 tentu tidak ada masalah dari aspek perpajakan, saya berasumsi yang sedang kita bicarakan adalah jenis yang pertama, artinya bagian GR Contractor sudah “net”, dalam kasus ini “seolah olah” bagian tersebut after tax, jadi resminya Contractor tidak dikenakan pajak lagi. Kalau kasusnya seperti ini, ada kemungkinan timbul masalah perpajakan di home country Contractor tersebut, karena Contractor seolah olah “belum/tidak membayar pajak” di negara tempat mereka melakukan investasi. Contractor bisa berdalih “ini sudah net”, tapi kemungkinan besar otoritas pajak di negara asalnya tidak mau mengakui dan (tetap) akan mengenakan pajak lagi, ini dis-insentif buat Contractor tentunya. Oleh karena itu, perlu masukkan dari pakar perpajakan (yang

2

memahami international taxation, tax treaty, etc) untuk model pembagian berdasarkan GR ini. Bukankah dalam PSC generasi sebelumnya, kita pernah mengalami masalah perpajakan seperti ini?, yang membuat RI harus me- redesign PSC generasi berikut untuk mengatasinya, seperti sistem yang sekarang kita gunakan.

Penutup

Tujuan saya melihat dari perspektif disadvantage ini supaya kita dapat memahami bahwa sistem ini juga mengandung banyak kelemahan. Namun demikian, saya percaya bahwa tidak ada satu sistem pun yang paling baik - “one size fits all model does not exist”. Sehingga kalau tetap berkeinginan memperkenalkan model pembagian berdasarkan GR, saya sarankan agar sistem pembagian berdasarkan GR dibuat sliding scale in favour of our country, ini untuk mengurangi “efek regresif” seperti penjelasan sebelumnya.

Parameter sliding scale yang umum dalam pembagian profit oil split adalah: profitability, oil price, production rate, cumulative production, etc. Untuk sistem “progresif”, idealnya sliding scale dilakukan berdasarkan profitability, namun untuk kasus pembagian berdasarkan GR ini, rasanya kurang pas atau kurang relevan apabila dilakukan sliding scale berdasarkan profitability, yang mungkin dapat dilakukan adalah sliding scale berdasarkan oil price atau production rate atau cumulative production.

------

*) Formula:

Government take (GT) = Gov. Share/Profit Contractor Take (CT) = Contr. Share/Profit Profit = GR - cost GT + CT = 1 Gov Share = PSC standard (FTP Gov, Profit Oil Gov, Tax) Contr. Share = (FTP contr, Profit Oil contr)

----------------------------------------

Diskusi dan komentar:

Saya sempat berkomunikasi via email dengan Daniel Johnston (konsultan, pengajar kursus dan penulis beberapa buku mengenai petroleum fiscal system dan petroleum economics). Saya minta komentarnya mengenai sistem pembagian berdasarkan GR dan negara apa saja yang pernah menggunakannya (selain Peru). Setelah saya kirimkan email diatas di miling list kami (tmitb nusantara - alumni teknik perminyakan ITB), siangnya saya terima Email Daniel, yang memberi info bahwa: Turkmenistan juga pake dan dia sekarang lagi garap model GR untuk blok tertentu di Algeria. Sebagian besar komentarnya mirip komentar saya diatas, khususnya mengenai masalah "double taxation" dan "regresif". Secara umum, dia tidak merekomendasi menggunakan sistem ini, hanya untuk kondisi yang sangat khusus ("special circumstances") saja.

Komentar dari rekan TM yang Pro pembagian GR, umumnya menggunakan logika sederhana saja, kalau pembagian sudah berdasarkan GR, pembagian pemerintah tidak tergantung lagi dengan besarnya cost dan bagian contraktor saja yang tergantung dengan cost. Jika split 70:30 dan GR = 100 maka bagian pemerintah langsung 70, sedangkan bagian contraktor 30 yang sudah termasuk cost dan pajak. Sehingga kalau contraktor mau untung, maka contaktor harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperkecil cost. Secara otomatis Contrator sendiri akan berusaha mengeluarkan cost seminim mungkin.

Saya sendiri tidak menolak "logika sederhana" diatas, diskusi di miling list cukup alot tapi konstruktif, benang merah perbedaan sudut pandang "logika sederhana" dengan logika

3

"tidak sederhana" yang saya pakai itu adalah cara kita melihat persamaan dibawah ini:

GR = Gov Share + Ctr share + Cost

Logika sederhana yang dipakai rekan rekan "Pro pembagian berdasarkan GR", melihat persamaan diatas seperti ini: Government aman, karena persentase dari GR tetap 70%, sementara kontraktor akan menurunkan cost SECARA NOMINAL, supaya persentase Ctr. share lebih besar. INI TIDAK SALAH. Tapi ini "kondisi statis", kalau GR tetap.

Logika "tidak sederhana" yang saya pakai melihat "kondisi dinamis" dalam artian, bahwa tanpa melakukan apa apa, persen cost akan turun sendiri kalau GR naik dan akan naik kalau GR turun. Jadi fokusnya lebih kearah naik/turunnya GR (karena oil price & production), ketimbang naik turunya cost SECARA NOMINAL. Jadi saya melihat dalam kondisi ekstrim, cost itu menjadi "tidak terlalu penting", karena kalau terjadi "excessive profit", persen cost thd profit akan turun sendiri, konsekuensinya, tingkat keuntungan contractor melonjak melebihi PSC standard, artinya semakin profit blok tersebut, semakin kecil GT, ini yang berulang kali saya sebut sebagai sistem "regresif". Sebaliknya kalau ternyata "jelek" (oil prices anjlok & reserves/production jeblok), cost sebagai persentase GR akan naik sendiri, Contractor tekor, Khan nggak mungkin Contractor mau nerusin proyeknya kalau nggak minta perubahan terms alias renegosiasi lagi. Jadi kontrak seperti ini relatif tidak stabil.

Tentu Perdebatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diskusi di miling list, namun disitulah sebenarnya kesempatan kita untuk mencari wacana baru dan melihat perspektif baru, dengan tujuan tentunya, hasil yang optimum buat RI.