Anda di halaman 1dari 6

Cost Recovery & Model Kontrak Perminyakan

Benny Lubiantara
(13 Desember 2006)

Latar Belakang umum dalam kaitannya dengan


“matching cost and revenue”.
Belakangan ini masalah cost recovery
sering dilansir oleh mass media dan juga Adanya nature bisnis tersebut perlu
dibahas beberapa mailing list, khususnya dipahami untuk memperoleh pemahaman
pemberitaan mengenai cost recovery yang komprehensif namun bukan untuk
yang terus meningkat sementara pada men-justifikasi bahwa cost recovery yang
saat yang sama produksi terus menurun. tinggi itu “dibolehkan”, justru cost
Begitu pula diskusi mengenai pro & effisiensi harus ditingkatkan pada saat
kontra dengan sistem PSC. tahapan decline ini. Pengeluaran
pengeluaran ataupun proyek proyek yang
Cost Recovery tidak terkait langsung dengan
penambahan cadangan dan atau produksi
Pertama tama, (sebagaimana kita ketahui) merupakan sasaran untuk cost reduction.
secara alamiah sumur sumur minyak itu Disinipun kita harus berhati hati, karena
akan terus menurun produksinya, pada saat mature stage ini, lapangan
sebagian besar lapangan lapangan yang lapangan tua tetap perlu maintenance
beroperasi di RI saat ini merupakan peralatan atau mungkin mengganti
lapangan yang sudah tua (mature) fasilitas sarana penunjang karena
sehingga produksinya akan terus umurnya sudah tua. Disinilah
menurun (declining stage). Pada periode dilematisnya, apabila tidak dilakukan
decline ini, perusahaan minyak akan penggantian atau perbaikan, bisa jadi
berusaha sekuat tenaga untuk akan menimbulkan masalah lingkungan
menemukan cadangan/lapangan baru, yang serius (pencemaran, dsb-nya),
melakukan optimisasi produksi supaya sebaliknya apabila dilakukan
laju penurunan produksi (decline rate) penggantian, tentu akan menimbulkan
tidak tambah drop atau “terjun bebas”. tambahan beban cost recovery.
Dalam kaitannya dengan fase yang terjadi
pada lapangan minyak ini – eksplorasi, Namun demikian, tentu kita tidak perlu
pengembangan, produksi (plateau, berkecil hati, masih banyak upaya yang
decline) - ada time lag yang cukup lama bisa dilakukan dalam rangka menekan
antara penemuan baru (dalam Wilayah cost recovery, khusus untuk international
Kerja yang sudah berproduksi) dengan oil companies yang cukup banyak
“put on production”, biaya eksplorasi menggunakan tenaga asing (TKA), pada
dapat langsung dibebankan karena dalam saat declining stage ini sebenarnya saat
satu Wilayah Kerja, sementara yang tepat untuk melakukan pengurangan
“manfaatnya” baru dapat dirasakan TKA secara signifikan. Maksimalkan ahli
beberapa tahun kemudian. Dengan Indonesia yang saat ini malah berkeliaran
demikian, agak sulit membandingkan di LN, padahal saya yakin dengan
industri minyak dengan industri secara fasilitas dan benefit yang sedikit dibawah
apa yang diterima expatriate tersebut,

1
banyak “legiun asing” kita yang siap APAKAH PSC PERLU DIGANTI
kembali berkiprah di tanah air. MODEL YANG LAIN?

Hal yang perlu juga dipahami bahwa Model Kerjasama Kontrak


makin tinggi cost recovery, tidak hanya Perminyakan
merugikan host country (dalam hal ini
RI) tetapi Kontraktor juga tidak Belakangan timbul wacana untuk melihat
diuntungkan. Timbul pertanyaan, siapa model kontrak lain selain PSC, saya kira
yang untung?, jawabnya gampang: ini hal yang positif, ada keinginan untuk
oknum, bisa oknum di KKKS, di membandingkan dengan model
perusahaan jasa (service company) dan kerjasama lain, apa plus minus-nya.
tentu bisa juga oknum dari host country
sendiri. Model kontrak atau kerjasama
perminyakan antara host country (HC)
Bagaimana mengontrol biaya, kenapa dengan oil companies dapat dibagi
kok jadi susah?, ditempat lain (negara menjadi tiga jenis: Concession
lain) yang pakai PSC, kok nggak ribut (belakangan lebih popular dengan istilah
ribut?, menurut pendapat saya, cara yang Royalty/Tax, Production Sharing
paling praktikal menekan timbulnya Contract (PSC), kadang disebut juga
inefisiensi di KKKS itu adalah kerjasama Production Sharing Agreement (PSA)
antara host country (dalam hal ini dan terakhir Service Contract. Setiap
diwakili BP Migas, Ditjen Migas, etc ) negara tentu punya alasan jenis kontrak
dengan KKKS – kenapa harus mana saja yang akan dipilih, tidak heran
bekerjasama?, ya seperti saya sebut kalau suatu negara bisa saja punya lebih
sebelumnya, dua duanya akan rugi kalau dari satu macam model kontrak, malah
ada “mark-up” cost (sebenarnya saya bisa saja 3 jenis kontrak tersebut tersedia.
lebih suka menggunakan istilah
“inefisiensi” ketimbang mark-up), Banyak hal yang membedakan model
dengan bekerjasama, “oknum” tadi dari kontrak/kerjasama tersebut, baik aspek
awal sudah bisa dibaca “akrobatnya”. legal (transfer of ownership), pengakuan
Inefisiensi tersebut bisa dalam bentuk cadangan dan metoda pembagian revenue
proyek proyek yang tidak ada nilai antara negara dengan perusahaan minyak.
tambahnya. Saya kira mencegah mark-up Dari segi transfer of ownership, sistem
dari awal lebih effektif daripada royalty tax yang paling ekstrim, dalam
mengotak ngatik mark-up yang sudah arti kepemilikan minyak tersebut di
terjadi. Jadi, bantuan dari kolega di transfer ke perusahaan minyak,
KKKS untuk melaporkan kemungkinan perusahaan timbul kewajiban untuk
proyek mengandung unsur “mark-up” membayar royalty dan tax. Bagaimana
sangat membantu, tentu saja ini harus dengan sistem PSC?, pada dasarnya
ditindaklanjut oleh pihak yang “ownership” (kepemilikan) aset minyak
berwenang, kalau tidak si pelapor merasa, tetap berada di host country, namun
“ah capek capek aja, nggak ada follow-up demikian, contractor dapat memiliki
nya”. bagiannya (berupa profit oil dan cost
recovery). Perbedaan utamanya adalah:
dimana terjadinya point of transfer of
ownership tersebut, jadi dalam sistem

2
PSC, transfer of ownership bagian sehingga resikonya lebih kearah resiko
contractor terjadi pada point of export, kegagalan teknologi dibanding resiko
sementara, kalau sistem royalty tax, point eksplorasi. Kalau kita mau menawarkan
of transfer langsung terjadi di wellhead Wilayah Kerja baru, tentu tidak menarik
(kepala sumur). Bagaimana dengan kalau menawarkan model service
sistem service contract, secara umum contract, mungkin tidak ada investor yang
dalam model service contract, tidak tertarik. Jika ingin menggunakan model
terjadi transfer of ownership, walaupun di service contract untuk kasus RI, terbatas
beberapa jenis risk service contract, pada pengelolaan lapangan lapangan tua,
dimungkinkan terjadinya sebagian lapangan marginal, aplikasi teknologi
transfer of ownership. EOR dan proyek proyek terkait dengan
production enhancement.
Bagaimana kalau dilihat dari aspek
pengakuan cadangannya (reserves Bagaimana dengan sistem royalty tax
recognition)?, kalau kita melihat dari dengan PSC?, apalagi belakangan banyak
perspektif perusahaan minyak, degree of yang menyarankan “daripada cost
reserves recognition ini berbanding lurus recovery naik terus, susah dikontrol,
dengan degree of ownership, dengan lebih baik kita pakai sistem royalti saja”.
demikian, kalau kita urut, akan seperti Mari kita lihat lebih jauh: seperti dibahas
ini: service contract, PSC, royalty tax. sebelumnya, didalam sistem royalty tax,
Makin kearah royalty tax makin besar negara tidak mendapat bagian profit oil,
degree of reserves of recognition-nya. jadi hanya memperoleh royalty dan tax.
Masalah akan timbul apabila ternyata
Bagaimana kalau kita lihat dari aspek terjadi kenaikan harga minyak yang
metoda pembagian revenue? Untuk tinggi atau ternyata cadangannya sangat
sistem royalty tax, secara umum host besar, maka negara tidak dapat apa apa
country hanya memperoleh royalty dan dari “rezeki nomplok” ini, paling paling
tax. Sementara sistem PSC, host country pajaknya meningkat. Di beberapa negara,
akan mendapat royalty, profit oil dan tax. kalau ada kejadian seperti ini, biasanya
Tentu hal ini tidak berlaku umum, host country mengenakan tambahan pajak
sebagian PSC tidak mengenakan royalty, berupa windfall profit tax.
untuk kasus RI, kita menggunakan FTP,
mirip royalty hanya saja FTP ini dibagi Kalau kita analisa lebih jauh, secara
antara negara dengan perusahaan minyak. arimatika hampir tidak ada bedanya,
Sedangkan service contract, pada artinya kita bisa mendisain suatu fiscal
dasarnya semuanya akan masuk ke pundi system yang memberikan keekonomian
negara, negara hanya me-reimburse atau yang sama persis, apapun bentuk
me-recover biaya biaya termasuk bunga kontraknya. Jadi tidak bisa dikatakan
yang diizinkan plus fee atau PSC memberikan keekonomian yang
remuneration. lebih baik dari royalty tax atau
sebaliknya, tergantung berapa besaran
Service contract tentu paling menarik royalty, tax dan profit oil split. Dengan
bagi host country dan kurang menarik simulasi, kita bisa membuat Government
dari sisi investor, umumnya deal service Take yang sama persis antara sistem
contract terbatas untuk proyek proyek royalty tax dengan PSC. Begitu pula dari
dalam rangka peningkatan produksi, sisi IRR, misalnya kita mau IRR

3
contractor sekitar sekian persen, dengan repot lagi mengurusi cost recovery. Saya
simulasi kita kita dapatkan berapa royalty pikir ini kesimpulan yang menyesatkan.
dan tax untuk model royalty tax dan
berapa royalty, profit oil split dan tax Kalau kita lihat dalam perspekstif
untuk model PSC. Oleh sebab itu jangan kemungkinan kecenderungan terjadinya
heran kalau ada yang mengatakan, “inefisiensi biaya”, bukankah sistem
royalty tax dengan PSC bisa sama royalty tax ini akan lebih mudah
baiknya secara keekonomian lapangan. dimanfaatkan oleh oknum oknum untuk
membengkakkan biaya karena sedikit
Perusahaan minyak lebih suka yang atau tidak adanya intervensi atau kontrol
mana? jelas lebih suka royalty tax, dari host country?. Jadi pemikiran bahwa
pertama karena masalah reserves perusahaan minyak akan menekan biaya
recognition tadi, kedua sistem royalty tax dengan sistem royalty tax dibandingkan
biasanya sedikit intervensi dari host dengan sistem PSC merupakan
country. Kalau kita mundur ke history, kesimpulan yang sangat diragukan
sebenarnya sistem PSC ini didisain untuk kebenarannya, karena masalahnya bukan
memperbaiki sistem konsesi (royalty tax). di mekanisme sistemnya, tapi pada
Tujuannya agar host country ikut terlibat oknumnya.
dalam me-manage SDA yang vital ini.
Tidak hanya percaya saja dengan Kaitan antara model kontrak dan
investor, dengan imbalan menerima upstream cost
royalti dan tax. Kalau kembali ke sistem
royalty tax, apakah ini bukan suatu Studi Alomair, Attar (2004), melihat
langkah mundur? kaitan antara model kontrak dengan
Finding & Development cost (F&D cost),
mereka membagi menjadi tiga kelompok:
Hubungan antara cost recovery low, medium dan high cost berdasarkan
dengan model kontrak database upstream cost around the world
dan analisa statistik, Kesimpulannya:
Saya melihat sering terjadi negara negara yang masuk kelompok low
kesalahpahaman dalam konteks cost cenderung menggunakan tipe
mekanisme cost recovery kaitannya Service Contract, yang medium sebagian
dengan model kontrak, khususnya pada besar menggunakan PSC dan beberapa
saat membandingkan sistem royalty tax menggunakan royalty tax, sedangkan
dan PSC. Secara definisi, mekanisme cost yang high cost umumnya menggunakan
recovery ini ada dalam sistem PSC, sistem royalty tax. Dalam studi ini RI
sementara tidak umum digunakan dalam masuk kelompk medium cost. Sementara
sistem royalty tax (karena didalam sistem sebagian besar negara Middlle East,
royalty tax istilah yang lebih sering masuk kelompok low cost.
digunakan adalah cost deduction).
Sehingga orang beranggapan, dengan
mengganti PSC menjadi sistem royalty PENUTUP & SARAN
tax, maka masalah membengkaknya cost
recovery akan teratasi, atau yang lebih Kalau kita melihat secara global, negara
ekstrim lagi menyatakan cost recovery negara yang menggunakan PSC dan
hilang, dengan demikian kita tidak perlu royalty tax hampir sama banyaknya, PSC

4
63 negara, royalty tax 58 negara, service ada model PSC yang membatasi suatu
contract 11 negara (Johnston, 2005). cost recovery sampai X%. Namun
Kalau kita kaji lebih jauh lagi, penganut demikian, apabila Contractor dapat
royalty tax, sebagian besar negara Eropa, melakukan saving, sehingga cost
Middle East (sisa konsesi dulu yang recoverynya turun menjadi (X-S)%, maka
masih berlangsung, seperti: Neutral Zone, S% cost saving ini akan memperoleh
Sharjah, Abu Dhabi, Fujairah, Dubai, profit oil split yang lebih baik bagi
Ajman) dan beberapa negara Afrika yang Contractor.
secara propectivity kalah bersaing dengan
negara tetangganya. Pada dasarnya Terkait dengan wacana untuk membuat
pemilihan negara tersebut terhadap model model pembagian berdasarkan Gross
kontrak royalty tax adalah dalam rangka Revenue, yang bertujuan agar host
menarik minat investor (berangkat dari country tidak sibuk mengurusi cost
asumsi bahwa IOC akan lebih tertarik recovery lagi. wacana seperti ini tentu
sistem royalty tax ketimbang PSC), sama perlu dikaji lebih jauh, sistem seperti ini
sekali tidak ada kaitannya dengan sangat jarang atau mungkin tidak pernah
pertimbangan cost effisiensi apalagi ditemui lagi, dulu Peru pernah
dalam rangka pencegahan potensi menggunakannya. Pembagian seperti ini
terjadinya mark-up. dapat menjadi “pisau bermata dua”, baik
bagi host country maupun investor. Bagi
Kembali ke pertanyaan awal apakah host country, ketika gross revenue naik
model kontrak PSC sebaiknya diganti (entah karena harga minyak melambung
model kontrak lain? Berdasarkan atau karena produksi meningkat), maka
pembahasan diatas, melihat plus minus secara persentase dari Gross Revenue,
masing masing model, Menurut saya cost recovery akan turun secara
TIDAK PERLU diganti, yang perlu signifikan. Implikasinya, Contractor take
dilakukan adalah meng – improve terms (atau keuntungan Contractor) akan
and conditions sehingga lebih flexible. meningkat tajam. Namun demikian,
apabila Gross Revenue turun, cost
Secara global, model kontrak PSC paling recovery secara persentase dari Gross
bisa diterima baik oleh host country revenue akan meningkat tajam,
maupun international oil companies akibatnya, Contractor Take akan turun
(IOC). Kecenderungan yang terjadi saat drastis juga.
ini adalah membuat terms and conditions
yang tidak fixed dalam arti sistem Disamping itu, sistem seperti ini akan
tersebut berubah seiring dengan cenderung “regresif” karena semakin
berubahnya parameter tertentu (sliding tinggi profitabilitas, semakin rendah
scale), parameter tersebut bisa berupa: Government Take (GT) (persentase porsi
profitability, “R” factor, production, oil pendapatan host country terhadap profit).
prices, etc. Jika dibandingkan dengan PSC standard,
GT akan konsisten sebesar 85% - 88%,
Terkait dengan cost effisiensi, perlu maka dengan sistem pembagian
didisain suatu terms and conditions yang berdasarkan Gross Revenue, GT akan
mengakomodasi reward and punishment semakin menurun dengan meningkatnya
sehingga ada motivasi contractor untuk keuntungan. Dengan demikian apabila
melakukan cost saving. Sebagai contoh, ternyata harga minyak melambung atau

5
produksi meningkat tajam, sistem ini
akan memberikan hasil yang lebih buruk Semangat untuk mengubah terms dan
dibanding PSC standard. Oleh karena itu, conditions ini tentu tidak terlepas dalam
perlu dikaji lebih mendalam mengenai rangka mengoptimalkan porsi pendapatan
kemungkinan kemungkinan ini, jangan RI tanpa men-discourage investor. Secara
sampai hanya alergi dengan yang umum dapat diterima bahwa semakin
namanya cost recovery, kita membuat meningkat profitabilitas seyogyanya
"sistem baru" yang malah berdampak semakin meningkat pula persentase “Gov
buruk terhadap porsi pendapatan Take (GT)”. Jadi, untuk menguji apakah
pemerintah (GT). suatu sistem fleksibel terhadap
profitabilitas, dapat dilakukan dengan
Kajian lebih mendalam juga harus membuat plot antara profitabilitas dengan
dilakukan khususnya masalah pajak dan “Gov. Take”, sistem yang “baik” itu
lain lain, dengan metoda pembagian dimana “Gov. Take” secara persentase
berdasarkan Gross Revenue, Contractor harus naik proporsional terhadap
seolah oleh tidak membayar pajak, akan profitabilitas atau dikenal dengan sistem
timbul masalah di home country-nya, yang "progresif" yang sekarang banyak
seperti yang pernah terjadi pada PSC berkembang dalam model model PSC
generasi sebelumnya. yang muncul belakangan ini.