Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi saat ini, perusahaan-perusahaan bisnis modern juga bersaing
secara global tanpa adanya payung perlindungan khusus yang akan menjaga keberlangsungan
perusahaan tersebut. Melainkan perusahaan harus bersaing secara baik dan etis berdasarkan
prinsip-prinsip etika di masing-masing negara. Penerapan etika bisnis dalam sebuah
perusahaan adalah tidak mudah saat kendala-kendala dalam pelaksanaannya tidak diatasi
dengan baik, yang salah satu contohnya adalah lemahnya penegakan hukum.
Bagi sebuah perusahaan bisnis, mencari keuntungan merupakan tujuan yang paling
utama. Namun, apabila tidak diimbangi oleh penerapan etika yang baik dalam bisnisnya,
maka keberlangsungan perusahaan bisnis tersebut tidak akan bertahan lama. Walaupun
sebagian besar perusahaan bisnis modern sudah menyadari pentingnya etika dalam
perusahaan bisnisnya, masih saja ada segelintir pebisnis dan/atau perusahaan yang
menerapkan sebagian dan bahkan menolak untuk menerapkan etika bisnis dalam bisnisnya.
Akan tetapi, kondisi publik dewasa ini yang cenderung berpikir kritis telah menjadi salah satu
alasan mengapa dunia bisnis makin meningkatkan perhatian terhadap etika bisnis.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan relativitas moral dalam bisnis?
1.2.2 Apa yang termasuk kendala-kendala dalam pelaksanaan etika bisnis?
1.2.3 Bagaimana hubungan keuntungan dan etika dalam sebuah bisnis?
1.2.4 Bagaimana pro dan kontra etika dalam bisnis?
1.2.5 Apa alasan meningkatnya perhatian dunia bisnis terhadap etika?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.1.1 Mahasiswa mampu memahami relativitas moral dalam bisnis
1.1.2 Mahasiswa mengetahui dan memahami kendala-kendala dalam pelaksanaan
etika bisnis.
1.1.3 Mahasiswa dapat menjelaskan hubungan keuntungan dan etika dalam sebuah
bisnis.
1.1.4 Mahasiswa mampu memahami pro dan kontra etika dalam bisnis.
1.1.5 Mahasiswa mengetahui dan memahami alasan meningkatnya perhatian dunia
bisnis terhadap etika.
BAB II
PEMBAHASAN
ETIKA DALAM BISNIS

1
2.1 Relativitas Moral Dalam Bisnis
Apakah moral bersifat relatif? Berdasarkan prinsip-prinsip etika bisnis, dapat dikatakan
bahwa dalam bisnis modern dewasa ini pelaku bisnis dituntut bersaing secara etis. Dalam
persaingan global yang tidak mengenal adanya perlindungan dan dukungan politik tertentu,
semua perusahaan harus bersaing berdasarkan prinsip-prinsip etika. Persoalannya adalah
etika siapa yang diikuti, karena bisnis global tidak mengenal batas Negara. Beberapa
pandangan yang ada di masyarakat mengenai persoalan tersebut, yaitu:
1. Norma etis berbeda di suatu tempat dengan tempat lain. Tidak ada norma yang
universal. Oleh karena itu, bila berada di suatu negara, maka norma yang berlaku di negara
itulah yang harus diikuti. Perusahaan multinasional harus beroperasi berdasarkan nilai-nilai
budaya yang berlaku di negara dimana perusahaan beroperasi. Akan lebih tepat apabila
perusahaan multinasional harus tunduk pada hukum yang berlaku di negara tempat
perusahaan tersebut beroperasi.
2. Norma pada negara sendirilah yang paling tepat. Menurut norma ini, prinsip yang
harus dipegang ketika berada di mana pun adalah norma yang berlaku di negara sendiri.
3. Tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali. Norma ini oleh De Goerge
sebagai immoralis naf. Pandangan ini tidak benar sama sekali.
Menurut pandangan pertama, norma dan nilai moral bersifat relatif dan tidak ada norma
moral yang universal. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Tindakan mencuri, berbohong, dan
menipu yang terjadi di mana pun pasti dikecam karena tidak etis. Pandangan ini tidak
membedakan antara moralitas dan hukum. Akan lebih tepat apabila perusahaan multinasional
harus tunduk pada hokum yang berlaku di Negara tempat perusahaan tersebut beroperasi.
Pandangan yang kedua beranggapan bahwa moralitas bersifat universal yang menyangkut
baik buruknya perilaku manusia sebagai manusia. Oleh karena itu, di mana pun berada,
prinsip, nilai, dan norma moral akan tetap berlaku. Pandangan ini sepenuhnya tidak benar,
karena kemajuan kondisi ekonomi, sosial, politik tidak sama di semua Negara, sehingga
hukum yang berlaku di Negara perusahaan asal belum tentu berlaku di Negara lain.
Menurut De Goerge, prinsip pokok yang dapat berlaku universal adalah prinsip integritas
moral yang berarti bersaing dengan penuh integritas moral. Ia tidak setuju kalau prinsip no
harm dikatakan sebagai prinsip pokok dalam bisnis. Alasannya, prinsip ini dituangkan ke
dalam aturan dan teerlalu bersifat legalistis. Namun, De Goerge lupa bahwa prinsip no harm
tidak hanya dituangkan ke dalam hukum saja, tetapi juga dalam hati setiap pelaku bisnis
sebagai prinsip di mana dalam berbisnis tidak boleh dirugikan dan merugikan hak dan
kepentingan pihak lain. Oleh karena itu, prinsip no harm yang didukung oleh aturan yang
2
dilaksanakan secara konsekuen merupakan syarat mutlak bagi kegiatan dan iklim bisnis yang
sehat, baik dan etis. Dengan demikian, prinsip no harm dan integritas moral sesungguhnya
bersifat universal. Dalam bisnis tetap dituntut dan diakui berbagai prinsip moral, khususnya
no harm.

2.2 Kendala-kendala Dalam Pelaksanaan Etika Bisnis


Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa
masalah dan kendala, yaitu:
1. Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah. Banyak yang
menemouh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh
keuntungan. Misalnya, memalsukan camputan, menjual barang sudah kedaluarsa,
memanipulasi laporan keuangan. Di samping itu, tidak ada orang yang seratus persen
bersih etis dan bermoral dalam seluruh tindakannya.
2. Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan. Konflik ini muncul karena
ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianut dengan peraturan yang berlaku dan
tujuan yang hendak dicapai. (konflik antara deontologi dan teleologi)
3. Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Ketidakstabilan ini memungkinkan
dilakukannya terobosan dan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna
memperoleh keuntungan tanpa menghiraukan akibatnya.
4. Lemahnya penegakkan hukum. Lemahnya penegakan hokum mempersulit upaya-
upaya untuk memotivasi pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen yang khusus menangani masalah
penegakan kode etik bisnis dan manajemen. Organisasi-organisasi profesi yang ada,
secara khusus belum menangani penyusunan dan penegakan kode etik bisnis dan
manajemen.
Sudah seharusnya disadari bahwa pelanggaran etika bisnis dapat melemahkan daya saing
hasil industry di pasar internasional. Lebih parah lagi bila pengusaha Indonesia
menganggap remeh etika bisnis yang berlaku secara umum dan tidak mengikat itu.
Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat keprihatinan banyak
pihak. Pengabaian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat
masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para
pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan diri mereka
sendiri dan Negara.

3
2.3 Antara Keuntungan dan Etika
Bisnis sering dibayangkan sebagai sebuah medan pertempuran. Terjun ke dunia bisnis
berarti siap untuk bertempur habis-habisan dengan sasaran akhir meraih keuntungan, bahkan
keuntungan sebesar-besarnya secara konstan. Ini lebih berlaku lagi bagi bisnis global yang
mengandalkan persaingan ketat. Apakah tujuan (keuntungan) yang dipertaruhkan dalam
bisnis itu bertentangan dengan etika? Atau sebaliknya, apakah etika bertentangan dengan
tujuan bisnis mencari keuntungan? Masih relevankah kita berbicara mengenai etika bagi
bisnis yang mempunyai sasaran akhir memperoleh keuntungan?
Sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal bahwa keuntungan adalah hal pokok
bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan satu-satunya. Dari sudut
pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk. Bahkan secara moral, keuntungan
merupakan hal yang baik dan diterima karena:
1. Keuntungan memungkinkan suatu perusahaan bertahan dalam bisnisnya;
2. Tanpa memperoleh keuntungan, tidak ada pemilik modal yang bersedia menanamkan
modalnya, karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas ekonomi yang menjamin
kemakmuran nasional;
3. Keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan, melainkan juga dapat
menghidupi pegawai-pegawainya, bahkan pada tingkat dan taraf hidup yang semakin
baik. Lebih dari itu, dengan keuntungan yang terus diperoleh, perusahaan dapat
mengembangkan terus usahanya dan berarti membuka lapangan kerja bagi banyak
orang lainnya, dengan demikian, memajukan ekonomi tersebut.
Di samping itu, ada beberapa argumen yang dapat diajukan untuk menunjukkan bahwa justru
demi memperoleh keuntungan, etika sangat dibutuhkan, sangat relevan dan mempunyai dan
mempunyai tempat yang sangat strategis dalam bisnis dewasa ini:
1. Dalam bisnis modern dewasa ini hanya orang professional yang akan menang dan
berhasil dalam bisnis yang penuh persaingan ketat. Kaum professional bisnis ini
dituntut untuk memperlihatkan kinerja yang berada di atas rata-rata kinerja pelaku
bisnis amatir. Kinerja ini tidak hanya menyangkut aspek bisnis, manajerial, dan
organisasi teknis murni, melainkan menyangkut juga aspek etis.kinerja yang menjadi
prasyarat keberhasilan bisnis ini juga menyangkut komitmen moral, integritas moral,
disiplin, loyalitas, kesatuan visi moral, pelayanan, sikap mengutamakan mutu,
penghargaan terhadap hak dan kepentingan dengan pihak-pihak terkait yang
berkepentingan (stakeholders), dan sebagainya yang lama kelamaan akan berkembang
menjadi sebuah etos bisnis dalam sebuah perusahaan.
4
2. Dalam persaingan bisnis yang ketat para pelaku bisnis modern dangat sadar bahwa
konsumen adalah benar-benar raja. Oleh karena itu, hal yang paling pokok untuk bias
untung dan bertahan dalam pasar penuh persaingan adalah sejauh mana suatu
perusahaan bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan konsumen. Kepercayaan
konsumen tidak hanya dipertahankan dengan bonus (kalo tidak hati-hati bonus bisa
menjadi boomerang ketika diketahui bahwa bonus hanya permainan akal-akalan
untuk menarik konsumen), kartu langganan, hadiah, dan seterusnya. Yang paling
pokok, para pelaku bisnis modern sadar betul bahwa kepercayaan konsumen hanya
mungkin dijaga dengan memperlihatkan citra bisnisnya sebagai bisnis yang baik dan
etis.
3. Dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat netral, para pelaku
bisnis berusaha menghindari campur tangan pemerintah, yang baginya akan sangat
merugikan kelangsungan bisnisnya. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan
menjalankan bisnisnya secara baik dan etis, yaitu dengan menjalankan bisnis
sedemikian rupa tanpa secara sengaja merugikan hak dan kepentingan semua pihak
yang terkait dengan bisnisnya.
4. Perusahaan-perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa pegawai bukanlah
tenaga yang siap untuk dieksploitasi demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Justru sebaliknya, pegawai semakin dianggap subjek utama dari bisnis yang sangat
menentukan berhasil tidaknya, bertahan tidaknya perusahaan. Sikap yang
menganggap pegawai dapat diganti setiap saat - karena ada ribuan lagi yang siap
bekerja - sudah dianggap ketinggalan.
Dewasa ini, beberapa akademisi dan praktisi bisnis melihat adanya hubungan sinergis
antara etika dan laba. Menurut mereka, justru di era kompetisi yang ketat ini, reputasi
baik merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru. Doug Lennick dan Fred
Kiel (2005), penulis buku Mortal Intelligence, beragumen, perusahaan-perusahaan yang
memiliki pemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebih
sukses dalam jangka panjang. Hal yang sama juga dikemukakan oleh John M. Huntsman
(2005) dalam buku Winners Never Cheat. Dikatakan, kunci utama kesuksesan adalah
reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak
lain.

2.4 Pro dan Kontra Etika Dalam Bisnis

5
Perilaku perusahaan beserta perangkat internalnya dalam interaksi dengan lingkungan
sekitar sangat menentukan kualitas keberadaan suatu perusahaan, yakni dalam norma dan
etika sosialnya. Secara sederhana, masalah etika bisnis muncul biasanya berkaitan dengan
tanggung jawab perusahaan dan loyalitas perusahaan. Argumen yang mendukung adanya
tanggung jawab sosial dan moral sebagai etika dalam bisnis:
1. Tujuan utama Bisnis adalah Mengejar Keuntungan Sebesar-besarnya.
Argument keras yang menentang keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan
social sebagai wujud tanggung jawab social perusahaan adalah paham dasar bahwa tujuan
utama, bahkan satu satunya, dari kegiatan bisnis adalah mengejar keuntungan sebesar
besarnya. Selain itu, fungsi bisnis ini adalah fungsi ekonomis, buka fungsi social. Artinya
bisnis adalah kegiatan ekonomi bukan kegiatan sosial.
2. Tujuan yang terbagi-bagi dan Harapan yang membingungkan
Yang mau dikatakan disini adalah bahwa keterlibatan social sebagai wujud tanggung
jawab social perusahaan akan menimbulkan minat dan perhatian yang bermacam ragam, yang
pada akhirnya akan mengalihkan, bahkan mengacaukan para perhatian pimpinan perusahaan.
Asumsinya keberhasilan perusahaan dalam bisnis modern penuh persaingan yang ketat sangat
ditentukan oleh konsentrasi seluruh perusahaan, yang ditentukan oleh konsentrasi pimpinan
perusahaan, pada core businessnya.
3. Biaya Keterlibatan Sosial
Keterlibatan social sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan malah dianggap
memberatkan masyarakat. Alasannya, biaya yang dgunakan untuk keterlibatan perusahaan itu
bukan biaya yang disediakan oleh perusahaan itu, melainkan biaya yang telah diperhitungkan
sebagai salah satu komponen dalam harga barang dan jasa yang ditawarkan dalam pasar.
4. Kurangnya Tenaga Terampil di Bidang Kegiatan Sosial
Argument ini kembali menegaskan mitos bisnis amoral yang telah kita lihat. Dengan
argument ini mau dikatakan bahwa para pemimpin perusahaan tidak professional dalam
membuat pilihan dan keputusan moral. Mereka hanya professional dalam bidang bisnis dan
ekonomi. Karena itu, perusahaan tidak punya tenaga terampil yang siap untuk melakukan
kegiatan-kegiatan social tertentu.

Argumen yang menentang adanya tanggung jawab sosial dan moral sebagai etika
dalam bisnis:

6
1. Kebutuhan dan Harapan Masyarakat yang Semakin Berubah
Setiap kegiatan bisnis dimaksudkan untuk mendatangkan keuntungan. Ini tidak bisa
disangkal. Namun dalam masyarakat yang semakin berubah, kebutuhan dan harapan
masyarrakat terhadap bisnis pun ikut berubah. Karena itu, untuk dapat bertahan dan berhasil
dalam persaingan bisnis modern yang ketat sekarang ini, para pelaku bisnis semakin
menyadari bahwa mereka tidak bisa begitu saja hanya memusatkan perhatian pada upaya
mendatangkan keuntungan yang sebesar besarnya.
2. Terbatasnya Sumber Daya Alam
Argument ini didasarkan pada kenyataan bahwa bumi kita ini mempunyai sumber daya
alam yang terbatas. Bisnis justru berlangsung dalam kenyataan ini, dengan berupaya
memanfaatkan secara bertanggungjawab dan bijaksana sumber daya alam yang terbatas itu
demi memenuhi kebutuhan manusia. Maka bisnis diharapkan melakukan kegiatan social
tertentu yang terutama bertujuan untuk memelihara sumber daya alam.
3. Lingkungan Sosial yang Lebih Baik
Bisnis berlangsung dalam suatu lingkungan social yang mendukung kelangsungan dan
keberhasilan bisnis itu dimasa depan. Ini punya implikasi etis bahwa bisnis mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab moral dan social untuk memperbaiki lingkungan sosialnya
kea rah yang lebih baik. Semakin baiknya lingkungan sosialnya dengan sendirinya akan
memperbaiki iklim bisnis yang ada.
4. Perimbangan Tanggung Jawab dan Kekuasaan
Keterlibatan social khususnya, maupun tanggung jawab social perusahaan secara
keseluruhan, juga dilihat sebagai suatu pengimbang bagi kekuasaan bisnis modern yang
semakin raksasa dewasa ini
5. Bisnis Mempunyai Sumber Daya yang Berguna
6. Keuntungan Jangka Panjang

2.5 Alasan Meningkatnya Perhatian Dunia Bisnis Terhadap Etika


Perhatian terhadap etika bisnis semakin meningkat di kalangan dunia bisnis.
Perusahaan-perusahaan besar mulitinasional telah mempunyai kode etik, memiliki bagian
khusus yang mengawasi pelaksanaan kode etik dan memasukkan etika sebagai mata tataran
dalam pelatihan pegawainya. Sebuah survei (Weiss, 1994:3) yang dilakukan tahun 1989-1990
oleh Bentley College's Center fo Business Ethics di Amerika Serikat terhadap 500
perusahaan industri dan 500 perusahaan jasa menunjukkan adanya peningkatan yanf
signifikan pada perusahaan-perusahaan itu dalam hal pembentukan bagian etika di
7
perusahaan (46%), penyelenggaraan pelatihan etika bagi pegawai (49%), dan kepemilikan
kode etik perusahaan (91%. Kemajuan ini mudah di pahami karena di Amerika Serikat sudah
lama berdiri American Ethical Union. Di samping itu, masyarakatnya juga semakin sadar
tentang pentingnya penegakan etika dalam bisnis. Lembaga pendidikan ekonomi telah
mencantumkan etika bisnis dalam kurikulumnya, seperti yang juga dilakukan oleh fakultas
ekonomi di Indonesia.
Kepedulian publik terhadap etika bisnis telah memunculkan upaya-upaya baru untuk
menjadikan kesadaran etis sebagai bagian integral dari kebudayaan korporasi. Sejalan dengan
itu, laporan Business Round Table di Amerika Serikat pada tahun 1988 menyebut fenomena
kebangkitan kembali kesadaran etis dalam praktek bisnis sebagai "a movement of
conscience" di kalangan para pemimpin kunci dunia bisnis. Pertemuan tersebut sampai pada
simpulan bahwa etika korporasi bersifat esensial bagi bisnis yang baik, bahkan bagi
kelangsungan hidupnya. Hal ini tampak dari judul laporan pertemuan tersebut: Corporate
Ethic : A Prime Business Asset (Ali dan Fanzi, 1998:21).
Menjadi pelaku bisnis yang lebih bermoral berarti memperhatikan dan menilai
hubungan pihak berkepentingan, baik yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Jadi,
perubahan nilai-nilai masyarakat dan tuntutan terhadap dunia bisnis mengakibatkan adanya
kebutuhan yang makin meningkat terhadap standar etika sebagai bagian dari kebijakan bisnis.
Leonards Brooks menyebut 6 (enam alasan mengapa dunia bisnis makin
meningkatkan perhatian terhadap etika bisnis (Rindjin, 2004:91), yaitu:
a) Krisis publik tentang kepercayaan
Pada umumnya, publik kurang percaya terhadap kredibilitas dan kontribusi perusahaan
kepada masyarakat. Skandal demi skandal perusahaan telah terjadi, sehingga mudarkan
kepercayaan publik. Dewasa ini makin banyak pemimpin puncak perusahaan
merumuskan standar etika perusahaan untuk mengontrol perilaku yang curang dan
memperbaiki daya saing.
b) Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja
Kekuatan pendorong kedua yang membangkitkan kesadaran terhadap etika bisnis adalah
meningkatnya nilai-nilai masyarakat pada mutu kehidupan kerja atau quality of works
life (QWL). Hal ini tampak pada fleksibilitas waktu kerja, penekanan pada kebugaran dan
kesehatan, pengasuhan anak di perusahaan, dan lain-lain. Jadi, terdapat titik temu antara
kepentingan sosial pegawai dengan kebutuhan perusahaan.
c) Hukuman terhadap tindakan yang tidak etis.
Hukuman secara yuridis dan ekonomi dikenakan pada perusahaan-perusahaan yang
melakukan tindakan ilegal, seperti diskriminasi pekerjaan, pelanggaran standar polusi,
keamanan dan keehatan kondisi kerja, dan lain-lain. Pemerintah di negara-negara maju

8
telah menyatakan tekad untuk menegakkan hukum guna melindungi lingkungan alam
dan pegawai dari praktek manajemen yang sewenang-wenang.
d) Kekuatan kelompok pemerhati khusus
Kelompok pemerhati khusus (Lembaga Swadaya Masyarakat-LSM) senantiasa
menjadikan korporasi yang mengancam kesejahteraan publik sebagai sasaran media
massa. Lembaga perlindungan konsumen, akan menyampaikan kritik yang bisa
berdampak negatif pada kepercayaan konsumen apabila ditemukan adanya penyimpangan
yang dilakukan korporasi.
e) Peran media dan publisitas
Publisitas melalui peningkatan perhatian media massa menjadi juga kepedulian korporasi
dewasa ini. Media massa sebagai pihak berkepentingan sangat berpengaruh dalam
membentuk opini publik tentang korporasi. Oleh karena itu, korporasi srnantiasa
membina hubungan dengan media massa dan reponsif terhadap media massa.
f) Mengubah format organisasi dan etika perusahaan
Bagi korporasi yang berkembang dengan jaringan usaha yang luas dan terpancar secara
geografis, mempunyai aliansi, mitra usaha, pusat keuntungan, yang independen, timbul
masalah etis yang menyangkut operasional korporasi. Struktur organisasi, hubungan
tanggungjawab antarunit dan jaringan korporasi senantiasa perlu dikaji ulang dari sudut
efisiensi, efektivitas, dan nilai-nilai pedoman aplikasinya untuk tingkatan organisasi
maupun individu.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Dalam persaingan global yang tidak mengenal adanya perlindungan dan dukungan
politik tertentu, semua perusahaan harus bersaing berdasarkan prinsip-prinsip etika. Beberapa
pendapat dalam masyarakat menyimpulkan bahwa perusahaan multinasional harus tunduk
pada hukum yang berlaku di Negara tempat perusahaan tersebut beroperasi. Hal tersebut
dikarenakan hukum yang berlaku di setiap negara tidaklah sama yang diakibatkan oleh
kemajuan kondisi ekonomi, sosial, politik yang tidak sama di negara-negara tersebut. Selain
itu, prinsip no harm dan integritas moral sesungguhnya bersifat universal. Dalam bisnis tetap
dituntut dan diakui berbagai prinsip moral, khususnya no harm. Dengan demikian, moralitas
bukanlah hal yang bersifat realatif dalam sebuah bisnis
2. Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan
beberapa masalah dan kendala, yaitu:
a. Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah.
b. Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan.
c. Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil.
d. Lemahnya penegakkan hukum.
e. Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen yang khusus menangani masalah
penegakan kode etik bisnis dan manajemen.
3. Sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal bahwa keuntungan adalah hal pokok
bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan satu-satunya. Namun, sebuah
bisnis tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama jika tidak menjalankan bisnisnya
secara baik dan etis. Sebuah perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang stabil dalam
jangka panjang apabila perusahaan tersebut menerapkan standar etika dan moral yang tinggi
dan bukan hanya mengandalkan permainan bonus. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang
sinergis antara keuntungan dan etika dalam menjaga kelangsungan hidup sebuah bisnis.
4. Secara sederhana, masalah etika bisnis muncul biasanya berkaitan dengan tanggung
jawab perusahaan dan loyalitas perusahaan. Pelaksanaan tanggung jawab social ini
menimbulkan kelompok orang yang mendukung terlaksananya tanggung jawab social (pro)
dan kelompok orang yang menentang terlaksananya tanggung jawab social (kontra).
Tanggung jawab social merupakan salah satu wujud nyata bahwa pelaku bisnis sudah
menerapkan etika bisnis dalam pelaksanaan bisnisnya.

10
5. Kepedulian publik terhadap etika bisnis telah memunculkan upaya-upaya baru untuk
menjadikan kesadaran etis sebagai bagian integral dari kebudayaan korporasi. Enam alasan
mengapa dunia bisnis makin meningkatkan perhatian terhadap etika bisnis yaitu:
a. Krisis publik tentang kepercayaan
b. Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja
c. Hukuman terhadap tindakan yang tidak etis.
d. Kekuatan kelompok pemerhati khusus
e. Peran media dan publisitas
f. Mengubah format organisasi dan etika perusahaan

3.2 Saran
Sebagai sebuah perusahaan bisnis, mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tidaklah
salah. Namun, upaya mencari keuntungan tersebut hendaknya tetap berlandaskan pada
prinsip-prinsip etika bisnis dan dilengkapi dengan penerapan integritas serta moral yang
tinggi. Dengan demikian, keberlangsungan perusahaan dapat dipertahankan dalam waktu
yang lama.

11
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna. 2010. Etika Bisnis. Denpasar: Udayana University Press

http://nadhivaqudsiy.blogspot.co.id (Diakses pada tanggal 18 September 2016)

http://makailfirdaus.blogspot.co.id/2013/10/contoh-kasus-dalam-etika-bisnis.html?m=1
(Diakses pada tanggal 18 September 2016)

12