Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pengelolaan pendidikan yang baik sebenarnya adalah pendidikan yang dapat
memnfaatkan potensi budaya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia yang dihuni oleh
bermacam suku, agama, dan adat istiadat yang sangat berbeda satu sama lain, maka
seberagam itu pula pola pendidikan yang mereka kembangkan.
Atas dasar ini konstitusi UUD 1945 dan UU Sisdiknas mengamanatkan perlunya
penyelenggaraan pendidikan dengan melestarikan keanekaragaman penyelenggaraan
pendidikan di masyarakat, akan tetapi berada dalam satu payung pengelolaan, bernama
Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Dasar di Indonesia tahun 1945 pasal 31 ayat 3 mengamanatkan
bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional
yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan berbangsa yang diatur dengan undang-undang . Tanggung jawab pengelolaan
satu sistem ini menjadi tugas Menteri Pendidikan.
Oleh karena itu pembahasan makalah ini akan menuju kepada berbagai macam
lembaga pendidikan islam yang termaktub dalam UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 dan
Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007.
B. Rumusan Masalah
1. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tentang Pendidikan Islam
2. Pendidikan Keagamaan dalam UU SISDIKNAS
3. Pasal-pasal UU No. 20 tahun 2003 yang membahas tentang pendidikan yaitu:
4. Kendala Pendidikan Masa Kini
5. Masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi

1
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sistem Pendidikan Nasional
a. Definisi sistem pendidikan nasional
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperang
aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. Pendidikan nasional
Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan
berdasarkan kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesia. Sistem pendidikan
nasional (SISDIKNAS) merupakan satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan
kegiatan pendidikan yang saling berkaitan untuk mengusahakan tercapainya tujuan
pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta di bawah
tanggung jawab Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan mentri lainnya, seperti pendidikan
agama oleh Mentri Agama, AKABRI oleh Mentri Pertahanan dan Keamanan. Juga
departemen lainnya menyelenggarakan pendidikan yang disebut Diklat.
Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional masing-
masing bangsa berdasarkan pada dan dijiwai oleh kebudayaanya. Kebudayaan tersebut sarat
dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang melalui sejarah sehingga mewarnai seluruh
gerak hidup suatu bangsa.1

Sistem pendidikan nasional Indonesia disusun berlandaskan kepada kebudayaan


bangsa Indonesia dan berdasar pada Pacasila dan UUD45 sebagai kristalisasi nilai-nilai
hidup bangsa indonesia. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional disusun sedemikian
rupa, meskipun secara garis besar ada persamaan dengan sistem pendidikan nasional bangsa
lain, sehingga sesuai dengan kebutuhan akan pendidikan dari bangsa Indonesia yang secaa
geografis, demografis, historis dan kultural berciri khas.
b. Undang-Undang SISDIKNAS tentang Pendidikan Islam
Diantara peraturan perundang-undangan RI yang paling banyak membicarakan
pendidikan adalah Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Sebab undang-undang ini bisa
disebut sebagai induk peraturan perundang-undangan pendidikan. Undang-undang ini
mengatur pendidikan pada umumnya, artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan,
mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi ditentukan dalam Undang-Undang
ini. Pendidikan Islam di Indonesia sebagai sub-sistem pendidikan nasional, secara implisit

1
Made pidarta, landasan pendidikan, Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2007, hlm 262

2
akan mencerminkan ciri-ciri kwalitas manusia Indonesia seutuhnya. Kenyataan seperti ini
dapat dipahami dari hasil rumusan seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, ia
memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam ditujukan sebagai bimbingan terhadap
pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dan hikmah mengarahkan,
mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam (Hisbullah,
1999: 28). Dalam kontek ini Ahmad D. Marinda (1986: 23) mengemukakan bahwa
pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam
menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.2
Sementara itu, tujuan ideal yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia lewat proses dan
sistem pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-undang sistem pendidikan
nasional nomor 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut:
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradabaan bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Dengan melihat tujuan pendidikan di atas, baik pendidikan Islam maupun pendidikan
nasional, tampaknya paling tidak terdapat dua dimensi kesamaan yaitu:
1. Dimensi transendental (lebih dari hanya sekedar ukhrowi yang berupa ketaqwaan,
keimanan, dan keikhlasan)
2. Dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarana, seperti kecerdasan,
pengetahuan dan ketrampilan.
Dengan demikian keberhasilan dalam Islam akan membantu keberhasilan nasional.
Begitu juga sebaliknya keberhasilan pendidikan Nasional secara makro turut membantu
tujuan pendidikan islam. Oleh karena itu, perbedaan lembaga pendidikan Islam mestinya oleh
pemerintah dijadikan mitra untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu dalam Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Islam Nasional, merupakan
undang-undang yang mengatur penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional sebagai
diketahui dalam UUD 1945.
3. Pendidikan Keagamaan dalam UU SISDIKNAS
Pendidikan agama dimaksudkan untuk membangun aspek keimanan dan ketakwaan
sebagaiman diamanatkan dalam undang-undang. Pendidikan agama ini didefinisikan menjadi

2
Ibid. Made pidarta, hlm.47

3
usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup
sesuai ajaran islam. Ini dibedakan dari pengajaran agama yang dianggap hanya pemberian
pengetahuan agama kepada anak , agar supaya mempunyai ilmu pengetahuan agama.3
Sejak peraturan perundangan Indonesia mewajibkan materi pendidikan agama
dibelajarkan, selama itu pula tidak diatur di sana mengenai agama apa dan untuk siapa.
Seringkali pendidikan agama tersebut diberikan secara mismacth (salah taruh). Misalnya
siswa katolik di sekolah negeri diberi pelajaran agama islam. Demikian pula siswa muslim di
sekolah Kristen atau hindu diberikan materi pembelajaran agama yang tidak sesuai dengan
agama yang dianutnya. Praktek pendidikan agama semacam ini belakangan ini dinilai tidak
proporsional , juga telah menimbulkan kekhawatiran menjadi ajang apostesi (bahasa
islamnya pemurtadan siswa-siswa).
Sebenarnya kalau dicermati lebih teliti, kelemahan pendidikan agama yang gagal
membangun nuansa ibadah (obedience),dan moralitas, yang disebabkan oleh karena agama
diajarakan secara mismatch (tidak cocok antara agama guru dan siswa) hanyalah salah satu
sebab kelemahan pendidikan agama. Yang benar adalah adanya faktor-faktor lain yang turut
serta menjadi penyebabnya. Di beberapa sekolah agama sudah diberikan secara cocok antara
agama guru dan siswa, kelemahan-kelemahan pendidikan agama yang sama tetap saja
menghantui. Faktor-faktor pelemah utama lainnya misalnya : soal keterbatsan waktu dan
metode pembelajaran.
Lepas dari berbagai kelemahan pendidikan agama di sekolah umum, banyak
penyelenggara sekolah umum akhirnya melekatkan suasana sekolah menjadi wahana terpadu
pembelajaran agama. Kemunculan sistem madrasah , sekolah berlambang agama, misalnya
SD Islam, SMP Nurul Hidayah, atau SMA Islam Terpadu, beberapa lengkap dengan boarding
school, pondok pesantren dan semacamnya., merupakan terapi pengembangan pendidikan
agama agar kelemahan yanga biasa terjadi bisa diatasi. Slogan yang dipampang beragam, ada
yang 30 % agama 70 % umum, atau sebaliknya. Ada yang masing-masing 50 % atau 100%.
Dengan kemunculan kecenderungan baru pendidikan islam semacam ini, masalah pendidikan
agama di sekolah umum relatif sudah bisa diselesaikan sebagian.4
Tetapi siapapun bisa menerka, dengan mengandalkan 2 jam pembelajaran, kiranya
masalah pendidikan agama mungkin kondisinya tidak akan jauh berbeda. Dari sini guru-guru
agama harus mulai mencari terapi untuk prospek pendidikan agama di masa depan.
Diantaranya dengan merangkul orang tua melakukan terapi penyempurnaan melalui :

3
Abdur Rohman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, jakarta: PT Gemawindu Pancaprakasa,2000, hlm.117
4
Ibid, Abdur Rohman Saleh, hlm 119

4
1. belajar lagi dirumah, baik oleh orang tua atau memanggil guru ngaji.
2. sekolah madrasah diniyah sore,
3. sekolah negeri sambil menjadi santri di pondok pesantren.
Akan tetapi penyempurnaan ini bersifat bebas. Sehingga tidak semua orang tua
menyadari kepentingan melakukannya. Persoalan yang hampir sama dihadapi oleh siswa
disekolah negeri adalah yang bersekolah di yayasan dengan lambang agama lain. Nasib
mereka sedikit tertolong oleh pasal 12 ayat (1) huruf a UU sisdiknas, dimana mereka akan
mendapatkan pengajaran agama sesuai dengan agama yang diyakininya dan diajarakan oleh
guru yang seagama.5
a. Madrasah
Bersamaan dengan perkembangan pendidikan agama di sekolah umum, perhatian
terhadap madrasah atau pendidikan islam umumnya terjadi sejak badan pekerja komite
nasional Indonesia pusat ( BPKIP) di masa setelah kemerdekaan mengeluarkan maklumatnya
tertanggal 22 desember 1945. Isinya , menganjurkan bahwa dalam memajukan pendidikan
dan pengajaran agar pengajaran di langgar, surau, masjid dan madrasah berjalan terus dan
ditingkatkan. Madrasah dalam bentuknya yang kita kenal saat ini secara harfiyah berasal dari
bahsa arab yang artinya sama atau setara dengan kata Indonesia sekolah ( school). Madrasah
ini kemudian memiliki konotasi spesifik, dimana anak memperoleh pembelajaran agama.
Dari segi jenjang pendidikan, mulanya madrasah identik dengan belajar mengaji al quran,
jenjang pengajian kitab tingkat dasar dan pengajian kitab tingkat lanjut, kemudian berubah ke
jenjang madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah.
Namun perhatian pemerintah yang begitu besar di awal kemerdekaan yang ditandai
dengan tugas Departemen Agama dan beberapa keputusan BP KNIP ini tampaknya tidak
berlanjut. Hal ini tampak ketika Undang-Undang Pendidikan Nasional pertama (UU No. 4
tahun 1950 , UU No.12 Tahun 1945) diundangkan, masalah madrasah dan pesantren tidak
dimasukkan sama sekali , yang ada hanya masalah pendidikan agama di sekolah (umum) dan
pengakuan belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari Mentri agama
dianggap telah memnuhi kewajiban belajar.
Reaksi terhadap sikap pemerintah yang diskriminatif ini menjadi lebih keras dengan
keluarnya keputusan Presiden No. 34 tahun 1972, yang kemudian diperkuat dengan intruksi
Presiden No. 15 tahun 1974. Kepres dan inpresini isinya dianggap melemahkan dan
mengasingkan madrasah dari pendidiakan nasional.

5
Depag RI, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005
hlm.39-43

5
Pada tanggal 24 maret 1975 dikeluarkan Surat Keputusan Bersama ( SKB) tiga
mentri ( Mentri Agama, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan Mentri Dalam Negri). SKB
ini merupakan model solusi yang di satu sisi memberikan pengakuan eksistensi madrasah dan
di sisi lain memberikan kepastian akan berlanjutnya usaha yang mengarah pada pembentukan
system pendidikan nasional yang integrative. Dalam SKB tersebut diakui ada tiga tingkatan
madrasah, yakni Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan aliyah yang ijazahnya diakui sama dan
setingkat dengan SD, SMP, dan SMA. Kemudian lulusannya dapat melanjutkan ke sekolah
umum yang setingkat lebih tinggi , serta siswanya dapat melanjutkan ke sekolah umum yang
setingkat lebih tinggi, serta siswanya dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat.
Perjuangan agar mendpat perlakuan yang sama (integrasi madrasah dalam sisdiknas
secara penuh), baru dicapai dalam UUSPN No.2 Tahun 1989, dimana madrasah dianggap
sebagai sekolah umum yang berciri khas islam dan kurikulum madrasah sama persis dengan
sekolah , plus pelajaran agama islam.
Perjuangan untuk memasukkan madrasah dengan fokus utama pengajaran agama
dalam sistem sisdiknas baru berhasil setelah diundangkannya UU Sisdiknas No. 20 Tahun
2003. Dalam undang-undang ini diakui kehadiran keagamaan sebagai salah satu jenis
pendidikan disamping pendidikan umum, kejuruan, akademik, vokasi, dan khusus ( pasal 15).
Dalam pendidikan keagamaan ini tidak termasuk lagi madrasah sebagai sekolah umum yang
berciri khas islam . MI, MTs, MA dan MA kejuruan sudah dimasukkan dalam jenis
pendidikan umum dan pendidikan kejuruan. Pendidikan keagamaan ini diatur dalam bagian
tersendiri ( bagian kesembilan) pasal 30.6
Pendidikan keagamaan yang berupa madrasah tercantum dalam Peraturan Pemerintah
pasal 11 ayat 1-3. 1- peserta didik pada pendidikan keagamaan jenjang pendidikan dasar dan
menengah yang terakreditasi berhak pindah ke tingkat yang setara di Sekolah Dasar (SD),
Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs),
Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat setelah
memenuhi persyaratan. 2- hasil pendidikan keagamaan non formal dan atau informal dapat
dihargai sederajat dengan hasil pendidikan formal keagamaan/umum/kejuruan setelah lulus
ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi yang ditunjuk oleh
pemerintah dan atau pemerintah daerah. 3- peserta didik pendidikan keagamaan formal, non
formal, informal yang memperoleh ijazah sederajat pendidikan formal umum atau kejuruan

6
Ibid, hlm.62-67

6
dapat melanjut ke jenjang berikutnya pada pendidikan keagamaan atau jenis pendidikan yang
lainnya.
b. Pesantren
Menurut istilah Mastuhu mendefisinikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam
tradisional untuk mempelajari, memahami dan mendalami, menghayati dan mengamalkan
ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku
sehari-hari.7
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang
ditengah-tengah masyarakat, kegiatan pendidikannya memadukan tiga unsur pendidikan yang
amat penting, yaitu ibadah untuk menanamkan iman, tabligh untuk menyebarkan ilmu dan
amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki sistem pendidikan dan pengajaran non
klasikal yang dikenal dengan nama bandongan dan sorogan atau sistem halaqah.
Dibandingkan dengan sistem pendidikan yang ditawarkan, umumnya sistem
pendidikan sekolah, maka sistem pendidikan di pondok pesantren memang mempunyai
beberapa keunikan, baik itu menyangkut orientasi kependidikannya, model
kepemimpinannya, menejemen kelembagaannya maupun literatur buku yang dipeliharanya
dalam kurun waktu yang cukup lama. Apabila prinsip-prinsip pendidikan yang tersurat dalam
UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional lebih kelihatan
anthropocentric, maka prinsip pendidikan di pesantren lebih dilihat theocentric. Orientasi
pendidikan pesanren (tradisonal) memusat pada sikap taqarrub ( mendekatkan diri
kepada Allah dengan ketundukan dan ketaatan beribadah serta melaksanakan doktrin
doktrin agama secara ketat ) dan sikap tahassun ( melaksanakan amal-amal soleh, baik
kesalehan individual maupun kesolehan sosial, dan perilaku yang etis dan bermanfaat.)8
UU Sisdiknas dewasa ini memfokuskan regulasi pengakuan yang didasarkan pada
tingkat kompetensi yang standar, bisa di ukur dan selaras dengan semangat pendidikan
nasional. Pendekatan ini bagi pesantren menggunakan kriteria minimal sebuah lembaga
pendidikan yang kemungkinan disebut pendidikan keagamaan ( diniyah). Apabila pesantren
tidak pas juga dengan kriteria dalam pendidikan yang digariskan disitu, maka pemerintah
akan menguji dan membuat rekomendasi kepada mentri pendidikan atau mentri agama untuk
mengakuinya sesuai aturan lain dalam PP No 19 / 2004 tentang SMP.

7
Ahmad Muthohar,Ideologi Pendidikan Pesantren, Semarang:Pustaka Rizki Putra,2007, hlm.12.
8
Abdur Rohman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta: PT Gemawindu Pancaprakasa,2000, hlm.117-119

7
UU Sisdiknas sesungguhnya bisa diposisikan sebagai jalan tengah dari posisis tawar
menawar yang selama ini dipertahankan oleh masing-masing pemerintah dan pesantren.
Pesantren ingin bertahan menjadi lembaga pendidikan keagamaan yang mampu menyiapkan
generasi alim ulama. Kalaupun bukan alim ulama tetapi muslim intelektual yang punya
pengetahuan cukup dan ketaatan memadai tehadap agamanya. Sementara pemeintahan telah
sepakat dengan UU Pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan secara holistik dan
multi makna sebagimana tercermin dalam ujuan pendidikan nasional.9
Pesantren juga termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 55
tahun 2007 pasal 26 ayat 1-3. 1) pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan tujuan
menanamkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi
pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan ketrampilan peserta didik
untuk menjadi ahli ilmu agaam Islam ( muttafaqqih fiddin) dan atau menjadi muslim yang
memiliki ketrampilam atau keahlian untuk membangun kehidupan yang islami di masyarakat.
2) pesantren menyelenggarakan pendidikan diniyah secara terpadu dengan jenis pendidikan
lainnya pada jenjang pendidiakn anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, dan atau
pendidikan tinggi.3) Peserta didik dan atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya di
bidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal menjadi pendidik mata
pelajaran atau kuliah pendidikan agama disemua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang
memerlukan, setelah menempuh uji kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. Diniyyah
Diantara paradigma baru UU Sisdiknas adalah perubahan mendasar mengenai jalur
pendidikan yaitu yang semula disebut jalur sekolah dan luar sekolah, kini dirubah menjadi
tiga jalur, yaitu pendidikan formal, non formal dan informal.10
Pembagian jalur pendidikan ini telah temaktub dalam pasal 14 ayat 2 Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No 55 Tahun 2007 yaitu Pendidikan diniyah sebagaimana
yang dimaksud pada ayat 1 diselenggarakan pada jalur formal, non formal dan informal.
Mencermati elaborasi pendidikan diniyah dan pesantren dalam draf RPP Pendidikan
Agama dan Keagamaan, maka sesuatu yang dibilang paling penting di dalamnya adalah
kehadiran pendidikan diniyah formal. Seperti telah disinggung mengenai tujuan pendidikan
keagamaan, yakni untuk memberikan jalan keluar bagi santri pondok pesantren dan
pendidikan diniyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, ataupun yang

9
Op.cit, hlm. 84-86.
10
Op.cit, hlm. 107.

8
membelajarkan ilmu umum juga,tetapi menolak untuk mengikuti 100% pola sekolah dan
madrasah.
Fakta di lapangan menunnjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan itu yang
selanjutnya disebut pendidikan keagamaan formal memang ada dan berkembang. Sayangnya
namanya sangat fariatif sehingga perlu nama generik, yakni pendidikan diniyah formal tadi.
Pada kebanyakan pesantren salaf, umumnya kita jumpai nama madrasah salafiyah. Pondok
Gontor Darussalam dan cabangnya menggunakan nama Kuliatul Muallimin, di Sumatra
Barat tumbuh nama Perguruan Agama Islam. Di pesantren langitan, Tuban, ada nama
madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah, tetapi kurikulumnya agama
murni, alias berbeda dengan nomenkaltur MI, MTs, MA yang selama ini kita kenal.11
Pendidikan diniyah non formal mula-mula adalah pendidikan keagamaan yang
melalui berbagai media dakwah dan pendidikan, yang modelnya identik dengan karakter
pendidikan non formal. Bentuk-bentuknya hampir mengisi seluruh model pendidikan dan
dakwah yang dibutuhkan masyarakat, karena tumbuhnya memang didasarkan atas kebutuhan
itu. Ada pengajian kitab metode membaca sorogan, bandongan dan wetonan bagi santri atau
orang awam. Bagi yang sudah berkeluarga biasanya bergabung dalam majlis taklim. Yang
sedikit agak bisa dibilang masalah adalah ketentuan pasal 62 UU Sisdiknas berkenaan dengan
masalah perijinan majlis taklim. Pada ayat itu secar implisit dikatakan bahwa majlis taklim
merupakan salah satu bentuk pendidikan, sehingga sering dipahami semua majlis taklim
terkena peraturan tidak Cuma harus memberitahukan kegiatan yang hendak
diselenggarakannya, namun juga harus terlebih dahaulu memnuhi persyaratan pendirian
satuan pendidikan.
Sedangkan pendidikan diniyah informal merupakan penyelenggaraan pendidikan
keagamaan paling banyak dilaksanakan oleh masyarakat, karena karaktenya yang tidak
terstruktur, tidak berjenjang, dan tidak memiliki pola tetap. Contoh pendidikan ini adalah
anak yang belajar ngaji kepada orang tuanya, belajar secara mandiri, dan lain sebagainya.
Karena pendidikan informal ini merupakan salah satu jenis pendidikan yang diatur oleh UU
Sisdiknas, maka siapapun yang memiliki kewenangan seharusnya memiliki hak dan
kewajiban untuk mengatur, membina dan memberikan sanksi bila dipelukan.[13]

11
Op.cit, hlm. 94-95

9
Sedangkan ada pula pendidikan informal merupakan penyelenggaraan
pendidikan keagamaan paling banyak dilaksanakan oleh masyarakat, karena karaktenya yang
tidak terstruktur, tidak berjenjang, dan tidak memiliki pola tetap. Contoh pendidikan ini
adalah anak yang belajar ngaji kepada orang tuanya, belajar secara mandiri, dan lain
sebagainya. Karena pendidikan informal ini merupakan salah satu jenis pendidikan yang
diatur oleh UU Sisdiknas, maka siapapun yang memiliki kewenangan seharusnya memiliki
hak dan kewajiban untuk mengatur, membina dan memberikan sanksi bila dipelukan.
4. Pasal-pasal UU No. 20 tahun 2003 yang membahas tentang pendidikan yaitu:
a. Pasal 1 ayat (2), disebutkan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap tehadap tuntutan perubahan zaman.
b. Pada pasal 3 tentang dasar, fungsi dan tujuan , pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
c. Pada pasal 15 tentang jenis pendidikan, jenis pendidikan mencakup pendidikan umum
, kejuruan akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus.
d. Pada pasal 17 ayat ( 2). Tentang pendidikan dasar, pendidikan dasar berbentuk
sekolah dasar (SD) dan madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta
sekolah menengah pertama ( SMP) dan Madrasah tsanawiyah ( MTs), atau bentuk
lain yang sedarajat.12
e. Pasal 18 ayat (3). Tentang pendidikan menengah. Pendidikan menengah berbentuk
sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan
(SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
f. Pasal 30 ayat (1-4). Pendidikan keagamaan. (1). Pendidikan keagamaan
diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama,
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) pendidikan keagamaan berfungsi
mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan
mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.(3).

12
Hasbullah,Otonomi Pendidikan, Jakarta :Rajawali, 2010, hlm.156

10
Pendidikan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal dan
informal. (4) pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah,
pesantren,pasraman,pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.
g. Pasal 37 ayat (1-2). Tentang kurikulum. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah
serta pendidikan tinggi wajib memuat pendidikan agama.
5. Kendala Pendidikan Masa Kini
A. Keadaan sistem pendidikan nasional dewasa ini
Sudah tentu pendidikan tidak terlepas dari keseluruhan kehidupan siste politik,
ekonomi, budaya dan hukum yang berlaku. Pendidikan nasional telah terperangkap di dalam
sistem kehidupan yang opresif sehingga telah terkungkung dalam paradigma-paradigma yang
tunduk kepada kekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat banyak.
Ada 3 ciri utama yang dapat kita cermati di dalam praksi sistem pendiddikan nasional
kita dewasa ini.
a. Sistem yang kaku dan Sentralistik
Sesuai dengan asas sentralisme, maka pemyelenggaraan pendidikan nasional
cenderung menuruti garis petunjuk dari atas atau induktrinasi. Segala sesuatu telah disiapkan
di dalam bentuk juklak dan juknis sehingga tidak ada tempat untuk berpikir alternatif.
Sistem yang kaku dan otoriter mengandung kelemahan-kelemahan dalam kepemimpinan
mudah sekali kepemimpinan yang otoriter tersebut dimasuki oleh kepentingan-kepentingan
pribadi atau kelompok. Bukan merupakan suatu rahasia bahwa penyelenggaraan sistem
pendidikan nasional akhir-akhir ini telah dimasuki oleh praktek-praktek sektarisme yang
membahayakan bagi kesatuan nasional dan keutuhan kehidupan berbangsa. Bahaya sektarime
ini sangat sulit untuk dikoreksi apabila telah bergabung dengan struktur kekuasaan yang
berlaku.
b. Praktek Korupsi, Kolusi, Nepotime dan Koncoisme
Sistem pendidikan nasional dalam pelaksanaannya telah diracuni oleh unsur-unsur
korupsi, kolusi, nepotisme dan koncoisme (cronyisn). Sebagai suatu sistem yang tertutup
maka sangat mudah terjadi praktek-praktek korupsi baik yang bersifat material maupun non
material demi untuk memuaskan penguasa. Manipulasi dana masyarakat banyak kali terjadi
karena praktek-praktek korupsi yang terkait dengan kolusi diantara pejabat baik itu untuk
kepentingan politik atau kelompok maupun untuk kepentingan diri sendiri. Dengan sistem
yang tertutup maka tidak jarang terjadi asas profesionalisme dikesampingkan dan diganti
dengan nepotisme dan koncoisme. Memang sistem pendidikan nasional telah terperangkap
dengan pekerjaan asal jadi, asal bapak senang, sehingga tidak mengherankan tujuan luhur

11
untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan nasional buyar oleh praktek-praktek
tercela tersebut. Koreksi menjadi tidak mungkin, malahan siapa yang tidak ikut membonceng
mengikuti suasana (joining the band wagon) maka dia akan membunuh diri sendiri. Praktek
KKN yang juga telah menjadi kanker dalam tubuh Sistem Pendidikan Nasional dengan
sendirinya telah merosotkan mutu dan cita-cita luhur pendidikan oleh karena sumber-sumber
dana yang terbatas tidak dinikmati manfaatnya oleh rakyat banyak. Pendidikan nasional tidak
mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi semakin lama memperbodoh masyarakat.
c. Sistem pendidikan yang tidak berorientasi pada pemberdayaan rakyat
Sistem Pendidikan yamg tidak berorientasi pada pemberdayaan rakyat. Tujuan
pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan rakyat telah sirna dan diganti dengan praktek-
praktek memberatkan rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Beban
kurikulum menjadi sangat berat dan pendidikan diarahkan kepada pseudo mutu, misalnya
didalam pembodohan masyarakat melalui praktek Ebtanas yang nilai-nilainya dimanipulasi.
Kita sedang menuntut adanya reformasi didalam kehidupan politik. Demikian pula
dalam bidang hokum serta sector-sektor kehidupan lainnya yang keseluruhannya menuntut
peningkatan keberdayaan rakyat. Rakyat yang intelegen adalah rakyat yang terbina oleh
pendidikan yang bermutu sehingga dia dapat memilih kehidupan politiksesuai dengan hati
nuraninya, dia dapat berdiri sendiri dalam kehidupan ekonomi nasional yang menguntungkan
rakyat kecil, dan pelaksanaan hokum yang berlaku untuk semua orang demi untuk kebaikan
bersama dan bukan untuk segolongan kecil penguasa.
Dengan melihat kurikulum yang ada, Sistem Pendidikan Nasional mengatakan bahwa
kurikulum disusun utnuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan
tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiaanya dengan lingkungan, kebutuhan
pembangunan nasional, perkembangan ilmj pengetahuan dan teknologi, kesenian, sesuai
dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Kenyataan menunjukkan masih
terdapat sejumlah pengetahuan yang diberikan di Perguruan Tinggi yang tak ada lagi
relevansinya dengan kebutuhan masyarakat, sehingga lembaga pendidikan ikut andil dalam
memperbanyak pengangguran intelkektual. Selain itu, masalah dikotomi antara ilmu agama
dengan ilmu umum masih mewarnai kurikulum pendidikan pada umumnya. Untuk mengatasi
masalah ini, perlu segera dilakukan integrasi ilmu agama dengan ilmu umum, Islamisasi, atau
spiritualisasi ilmu pengetahuan umum.

12
6. Inovasi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Dilihat dari fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional di Indonesia. Fungsi pendidikan
diharapkan dapat mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan
martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan Nasional.
Fungsi pendidikan yang demikian itu juga masih belum terlihat hasilnya secara aktual.
Keadaan menunjukkan bahwa mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia di mata
dunia Internasional amat terpuruk. Demikian pula citra bangsa Indonesia di mata dunia
Internasional tampil dalam sosoknya sebagai bangsa yang kurang beradab, kita dianggap
sebagai bangsa yang kejam, sadis, bengis, dan menakutkan.13
Sedangkan dilihat dari tujuannya, pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Namun demikian,
dalam kenyataan masih terdapat kesenjangan antara tujuan pendidikan yang diharapkan
dengan realitas lulusan pendidikan. Lulusan pendidikan saat ini cenderung bersikap sekuler,
materialistis, rasionalistik, hedonistic, yaitu manusia yang cerdas intelektualnya dan terampil
fisiknya namun kurang terbina mental spiritualnya, dan kurang memiliki kecerdasan
emosional. Akibat dari keadaan yang demikian itu, kini banyak sekali pelajar yang terlihat
dalam tawuran, tindakan criminal, pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan lain
sebagainya. Oleh sebab itu maka sangat diperlukan adanya inovasi dalam dunia pendidikan
kita.
a. Pengertian Inovasi
Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaharuan dan perubahan.
Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju kearah perbaikan; yang lain atau
berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana. Ibrahim
(1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan
atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu
ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang
atau masyarakat, baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan
orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah
pendidikan
b. Tujuan Inovasi
Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber-sumber
tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi
13
Ibid, Hasbullah, hlm 159

13
pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta
jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya, dengan
menggunakan sumber, tenaga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya,14
Kalau dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu:
1. Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan
teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan
kemajuan-kemajuan tersebut
2. Mengusahakan terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah, bagi
setiap warga Negara. Disamping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang
dirasakan makin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaiaan yang baru
diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan trampil
memecahkan masalahnya sendiri.Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai ialah
terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya
c. Masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi
Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovassi pendidikan di
Indonesia, yaitu:
1. Perkembanga ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi yang mempengaruhi
kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia.
2. Sistem pendidikan yang dimiliki dan dilaksanakan di Indonesia belum mampu
mengikuti dan mengendalikan kemajuan-kemajuan tersebut sehingga dunia
pendidikan belum dapat menghasilkan tenagatenaga pembangunan yang terampil,
kreatif, dan aktif sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat. Laju eksplosi
pendududk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas
pendidikan yang sangat tidak seimbang
3. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik,
sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas
4. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
5. Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang
subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahahn yang dituntut oleh
keadaaan sekarang dan yang akan datang.15

14
Prof.Dr. Azyumardi Azra, M.A, pendidikan islam, PT. Logos wacana islam, 2000, hlm. 28
15
http://agus-uchiha-77.blogspot.com/2010/10/kajian-kritis-terhadap-uu-sisdiknas.html
minggu, 21 oktober2017

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam rngka membangun paradigma
pendidikan nasional yang berorientasi kerakyatan mau tidak maau harus meninjau kembali
pelaksanaan system pendidikan di Indonesia saat ini yang penuh dengan berbagai kelemahan.
Jika hal ini terus dibiarkan maka upaya meningkatkan mutu dan martabat bangsa Indonesia
agar mampu bersaing dan mencapai taraf yang sama dengan bangsa-bangsa l;ain yang telah
maju akan sulit dicapai.
Keadaan yang demikian, pada akhirnya akan menyebabkan bangsa Indonesia tidak
mampu berkompetisi dengan bangsa lain di tengan arus global yang makin penuh persaingan.
Tengok saja, jika pada masa pra kemerdekaan pendidikan nasional telah mampu
membsangun semangatb nasionalisme dalam rangka mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Sedangkan pada masa pasca kemerdekaan dan orde baru, pendidikan telah berhasil
menanamkan pendidikan moral dalam rangka membendung paham komunisme, maka saat ini
prestasi yang membanggakan itu telah hilang dari genggaman dunia pendidikan kita.
Melihat kenyataan saat ini maka sudah seharusnya pendidikan akan bergantung pada sejauh
mana pendidikan mampu menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas dan mampu
bersaing di era globalisasi dengan memiliki daya kompetisi yang tinggi.
Jadi kebijakan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional(UUSPN) tidak bisa
hanya digambarkan sebagai label untuk suatu bidang kegiatan, pengungkapan tujuan umum,
usulan khusus, atau keputusan pemerintah (hogwood dan Gunn 1990). Juga tidak bisa hanya
digambarkan sebagai arahan umum (Dror 1968) alih-alih ini.
Adalah awal untuk nilai dan perubahan sistem pendidikan Indonesia yang
mencerminkan nilai dan tujuan masyarakat Indonesia pada suatu saat bersejarah tertentu
berdasarkan perspektif suatu kelompok ideologis. Ini berisi seperangkat asumsi mengenai
praktek dan sasaran yang ideal dari Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang diperjuangkan
oleh kelompok yang berpengaruh itu.

15
DAFTAR PUSTAKA
Depag RI, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), Jakarta: Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005
Ahmad Muthohar,Ideologi Pendidikan Pesantren, Semarang:Pustaka Rizki Putra,2007
Pidarta made, landasan pendidikan, Jakarta:PT. Rineka Cipta, 2007
Saleh Abdur Rohman, Pendidikan Agama dan Keagamaan, jakarta: PT Gemawindu
Pancaprakasa,2000
Tirtaraharja Umar, dkk, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005, hlm. 288
Hasbullah,Otonomi Pendidikan, Jakarta :Rajawali, 2010
Prof.Dr. Azra Azyumardi, M.A, pendidikan islam, PT. Logos wacana islam, 2000
http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/03/kajian-kritis-terhadap-uu-
sisdiknas.html Minggu, 21 Oktober 2017_Pukul 02.25 PM
http://agus-uchiha-77.blogspot.com/2010/10/kajian-kritis-terhadap-uu-
sisdiknas.html Minggu, 21 Oktober 2017_ Pukul 02.28 PM

16