Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KEMAJUAN BELAJAR MANDIRI KESATU

PESERTA PLPG TAHUN 2017

Nama Peserta : Ismed Rizal


NUPTK : 7443762663200003
Nomor Peserta PLPG : 17086652610113
Bidang Studi Sertifikasi : 526 - Multimedia
Sekolah Asal : SMK Negeri 2 Pariaman

Sumber Belajar Pedagogik


A. Ringkasan Materi
1. Pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik
Proses pembelajaran adalah interaksi timbal balik antara guru dengan siswa
maupun antara siswa dengan siswa. Oleh karena itu, salah satu dari kompetensi
pedagogik yang harus dikuasai guru adalah memahami karakteristik anak didiknya,
sehingga tujuan pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang
untuk menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik siswanya.
Perbedaan karakteristik anak salah satunya dapat dipengaruhi oleh
perkembangannya, ada dua metode yang sering dipakai dalam meneliti
perkembangan manusia, yaitu longitudinal dan cross sectional
Metode longitudinal, dengan metode ini peneliti mengamati dan mengkaji
perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia dalam waktu yang
lama. Penelitian dengan metode longitudinal mempunyai kelebihan, yaitu
kesimpulan yang diambil lebih meyakinkan.
Metode cross sectional, peneliti mengamati dan mengkaji banyak anak
dengan berbagai usia dalam waktu yang sama. Metode ini pernah dilakukan
oleh Arnold Gessel (dalam Nana Saodih Sukmadinata, 2009) yang
mempelajari ribuan anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat ciri-ciri fisik
dan mentalnya, pola-pola perkembangan dan memampuannya, serta
perilaku mereka. Perbedaan karakteristik setiap kelompok itulah yang
diasumsikan sebagai tahapan perkembangan
Kajian perkembangan manusia dapat menggunakan pendekatan menyeluruh atau
pendekatan khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009). Menganalisis seluruh segi
perkembangan disebut pendekatan menyeluruh/global. Segala segi perkembangan
dideskripsikan dalam pendekatan ini, seperti perkembangan fisik, motorik, social,
intelektual, moral, intelektual, emosi, religi, dsb.
Sedangkan pendekatan khusus (spesifik) memfokuskan kajiannya pada
perkembangan aspek fisik saja, aspek intelektual saja, aspek moral saja, aspek
emosi saja, dsb
Ada berbagai teori perkembangan diantaranya:
a. Jean Jacques Rousseau
Menurut Rousseau, perkembangan anak terbagi menjadi empat tahap, yaitu
- Masa bayi infancy (0-2 tahun)
- Masa anak / childhood (2-12 tahun)
- Masa remaja awal / pubescence (12-15 tahun)
- Masa remaja / adolescence (15-25 tahun)
b. Stanley Hall
Stanley Hall membagi masa perkembangan menjadi empat tahap, yaitu:
1) Masa kanak-kanak / infancy (0-4 tahun)
2) Masa anak / childhood (4-8 tahun)
3) Masa puber / youth 8-12 tahun)
4) Masa remaja / adolescence (12 dewasa)

c. Robert J. Havigurst
Robert J. Havigurst dari Universitas Chicago mulai mengembangkan konsep
developmental task (tugas perkembangan) pada tahun 1940an, yang
menggabungkan antara dorongan tumbuh / berkembang sesuai dengan
kecepatan pertumbuhannya denga tantangan dan kesempatan yang diberikan
oleh lingkungannya. Havigurst menyusun tahap-tahap perkembangan menjadi
lima tahap berdasarkan problema yang harus dipecahkan dalam setiap fase.,
yaitu:
1) Masa bayi / infancy (0 tahun)
2) Masa anak awal / early childhood (2/3 5/7 tahun)
3) Masa anak / late childhood (5/7 tahun pubesen)
4) Masa adolesense awal / early adolescence (pubesen pubertas_)
5) Masa adolescence / late adolescence (pubertas dewasa)
Menurut teori ini, dalam perkembangan, anak melewati delapan tahap
perkembangan (developmental stages) Aada sepuluh tugas perkembangan
yang harus dikuasai anak pada setiap fase, yaitu:
1) Ketergantungan kemandirian
2) Memberi menerima kasih saying
3) Hubungan social
4) Perkembangan kata hati
5) Peran biososio dan psikologis
6) Penyesuaian dengan perubahan badan
7) Penguasaan perubahan badan dan motorik
8) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik
9) Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem symbol
10) Kemampuan meolihat hubungan denganh alam semesta

d. Jean Piaget
Piaget lebih memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif anak
dan mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:
1) Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)
2) Tahap praoperasional (2-4 tahun)
3) Tahap operasional konkrit (7-11 tahun)
4) Tahap operasonal formal (11-15 tahun)

e. Lawrence Kohlberg
Manurut Kohlberg, perkembangan moral kognitif anak terbagi menjadi tiga
tahapan, yaitu:
1) Preconventional moral reasoning
2) Conventional moral reasoning
3) Post conventional moral reasoning

f. Erick Homburger Erickson


Teori Erickson ini secara luas banyak diterima, karena menggambarkan
perkembangan manusia mencakup seluruh siklus kehidupan dan mengakui
adanya interaksi antara individu dengan konteks sosial. Kedelapan tahap
tersebut digambarkan pada table berikut
USIA KRISIS PSIKOSOSIAL KEMAMPUAN
I 0-1 Basic trust vs mistrust Menerima, dan sebaliknya, memberi
II 2-3 Autonomy vs shame and doubt Menahan atau membiarkan
III 3-6 Initiative vs guilt Menjadikan (seperti) permainan
IV 7-12 Industry vs inferiority Membuat atau merangkai sesuatu
V 12-18 Identity vs role confusion Menjadi diri sendiri, berbagi konsep diri
VI 20an Intimacy vs isolation Melepas dan mencari jati diri
VII 20-50 Generativity vs stagnation Membuat, memelihara
VII >50 Ego integrity vs despair

2. Teori Belajar
Selain menguasai materi, guru sebaiknya menguasai tentang teori-teori belajar,
agar dapat mengarahkan peserta didik berpartisipasi secara intelektual dalam
belajar, sehingga belajar menjadi bermakna bagi siswa.
Hal ini sesuai dengan isi lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
(Permendiknas) Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru yang menyebutkan bahwa penguasaan teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik menjadi salah satu unsur kompetensi
pedagogik yang harus dimiliki guru.
Terdapat dua aliran teori belajar, yakni aliran teori belajar tingkah laku
(behavioristic) dan teori belajar kognitif.
1) Teori belajar behavioristik
Yaitu teori belajar yang mempelajari perkembangan intelektual (mental)
individu (Suherman, dkk: 2001: 30). Teori belajar tingkah laku dinyatakan oleh
Orton (1987: 38) sebagai suatu keyakinan bahwa pembelajaran terjadi melalui
hubungan stimulus (rangsangan) dan respon (response)
4 Teori belajar behavioristik oleh para ahli
Teori Belajar dari Thorndike
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut
juga teori belajar koneksionisme. Belajar akan lebih berhasil bila respon
siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau
kepuasan. Pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan
hubungan antara stimulus dan respon.
Terdapat beberapa dalil atau hukum yang terkait dengan teori
koneksionisme yaitu hukum kesiapan (law of readiness), hukum latihan
(law of exercise) dan hukum akibat (law of effect)
Kemudian Thorndike mengemukakan hukum tambahan teori belajarnya
yaitu Hukum reaksi bervariasi (law of multiple response), Hukum sikap
(law of attitude), Hukum aktivitas berat sebelah (law of prepotency
element), Hukum respon melalui analogi (law of response by analogy),
Hukum perpindahan asosiasi (law of associative shifting).

Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-
hari adalah bahwa:
1) Untuk menjelaskan suatu konsep, guru sebaiknya mengambil contoh
yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
2) Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practice) akan
lebih cocok untuk penguatan dan hafalan. Dengan penerapan metode
tersebut siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga
respon yang diberikan pun akan lebih banyak.
3) Hierarkis penyusunan komposisi materi dalam kurikulum merupakan
hal yang penting.Materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan
sukar sesuai dengan tingkat kelas, dan tingkat sekolah. Penguasaan
materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai
materi yang lebih sukar. Dengan kata lain topik (konsep) prasyarat
harus dikuasai dulu agar dapat memahami topik berikutnya.

Teori Belajar Pavlov


Pavlov terkenal dengan teori belajar klasik. Pavlov mengemukakan konsep
pembiasaan (conditioning). Terkait dengan kegiatan belajar mengajar,
agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar
siswa mengerjakan soal pekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah
dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi feed back terhadap
hasil pekerjaannya.

Teori Belajar Skinner


Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan
mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Terdapat
perbedaan antara ganjaran dan penguatan. Ganjaran merupakan respon
yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya
subjektif, sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan
meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah pada hal-
hal yang dapat diamati dan diukur

Teori belajar Bandura


Bandura mengemukakan bahwa siswa belajar melalui meniru. Pengertian
meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang
dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru
berbicara sopan santun dengan menggunakan bahasa yang baik dan
benar, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan
sistematik, maka siswa akan menirunya. Jika contoh-contoh yang
dilihatnya kurang baik ia pun menirunya. Dengan demikian guru harus
menjadi manusia model yang profesional.
Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) dari Bandura didasarkan pada
tiga konsep, yaitu:
1) Reciprocal determinism
2) Beyond reinforcement
3) Self-regulation/cognition

2) Teori belajar Vygotsky


Lev Semenovich Vygotsky merupakan tokoh penting dalam konstruktivisme
sosial. Vygotsky menyatakan bahwa siswa dalam mengonstruksi suatu konsep
perlu memperhatikan lingkungan sosial. Proses pengkonstruksian pengetahuan
seperti yang dikemukakan Vygotsky paling tidak dapat diilustrasikan dalam
beberapa tahap:
Tahap perkembangan aktual (Tahap I) terjadi pada saat siswa berusaha
sendiri menyudahi konflik kognitif yang dialaminya. Perkembangan
aktual ini dapat mencapai tahap maksimum apabila kepada mereka
dihadapkan masalah menantang sehingga terjadinya konflik kognitif di
dalam dirinya yang memicu dan memacu mereka untuk menggunakan
segenap pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelesaikan
masalah tersebut.
Perkembangan potensial (Tahap II) terjadi pada saat siswa berinteraksi
dengan pihak lain dalam komunitas kelas yang memiliki kemampuan
lebih, seperti teman dan guru, atau dengan komunitas lain seperti
orang tua. Perkembangan potensial ini akan mencapai tahap maksimal
jika pembelajaran dilakukan secara kooperatif (cooperative learning)
dalam kelompok kecil dua sampai empat orang dan guru melakukan
intervensi secara proporsional dan terarah. Dalam hal ini guru dituntut
terampil menerapkan teknik scaffolding yaitu membantu kelompok
secara tidak langsung menggunakan teknik bertanya dan teknik probing
yang efektif, atau memberikan petunjuk (hint) seperlunya.
Proses internalisasi (Tahap III) menurut Vygotsky merupakan aktivitas
mental tingkat tinggi jika terjadi karena adanya interaksi sosial.

3) Teori Belajar Van Hiele


Teori yang menguraiakan tahap-tahap perkembangan mental anak yakninya
pengenalan, analisis, pengurutan dedukasi dan akurasi. Menurut Van Hiele
semua anak akan melalui tahap-tahap tersebut dengan urutan yang sama dan
tidak dimungkinkan adanya tingkat yang di loncati, namun kapan waktu nya
memasuki tahap-tahap yang berbeda
4) Teori Belajar Ausubel
Teori belajar bermaknadan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai.
Dalam teori ini ada 2 fase, fase perencanaan dan fase pelaksanaan :
Perencanaan terdiri dari menetapkan tujuan pembelajaran diagnosis
latar belakang pengetahuan siswa
Fase Pelaksanaan terdiri dari pengaturan awal, diferensiasi progresif
dan rekonsiliasi integritif
5) Teori Belajar Bruner
Teori balajar yang mempelopori aliran psikologi belajar kognitif yang
memberikan dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada
pentingannya perkembangan berfikir
3. Menerapkan metode penemuan dalam pembelajaran
Salah satu model Instruksional kognitif yang paling berpengaruh adalah model
belajar penemuan Brunner (1966), serta memberikan arahan bagaimana peran
guru dalam penerapan belajar, sebagai berikut :
a. Merencanakan materi pelajaran
b. Urutan pengajaran
c. Saat memecahkan masalah
d. Menilai hasil belajar

Model Model Pembelajaran


Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai
tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem
pendukung atau menurut Arends Dalan Trianto, model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran dikelas

- Bukan satu-satunya pendekatan


pembelajaran
- Bukan urutan langkah-langkah
baku

Pendekatan Saintifik
- Memberikan pengalaman
(SM)
- Mengembangkan sikap ilmiah
- Mendorong ekosistem sekolah
berbasis aktivitas ilmiah
- Menantang
- memotivasi
MODEL PEMBELAJARAN

- Bukan berbasis ceramah


- Bukan berbasis hafalan

Guru diberi ruang


menggunakan
pendekatan/model
pembelajaran lain - Berbasis aktivitas & kreativitas
- Menginspirasi
- Menyenangkan
- Berprakarsa
Model Pembelajaran Pada Kurikulum 2013
Dalam Permendikbud no.103 tahun 2014, ada 3 model pembelajaran, yakni :
- Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)
- Model pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning)
- Model pembelajaran melalui penyikapan/penemuan (Discovery Learning)

4. Evaluasi Hasil Belajar


a) Pengertian
Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah hasil pengumpulan informasi (data
tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, aspek
pengetahuan dan keterampilan.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik yang dinaungi dalam Pasal 1 Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 53 Tahun 2015 tentang penilaian hasil
belajar oleh pendidik dan satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan
pendidikan menengah, penilaian hasil belajar oleh pendidikan adalah proses
pengumpulan informasi/data tentang pencapaian pembelajaran peserta didik.
Berdasarkan Permendikbud No 81 A tahun 2013 istilah penilaian terdiri dari tiga
kegiatan (yakni pengukuran, penilaian dan evaluasi).
b) Fungsi dan Tujuan Hasil Belajar
Fungsi penilaian hasil belajar untuk memantau kemajuan belajar, memantau
hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik
secara berkesinambungan.
Bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi dan memperbaiki
proses pembelajaran. Fungsi penilaian peserta didik meliputi formatif yaitu
berguna untuk memperbaiki kekurangan hasil belajar dalam sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Fungsi sumatif digunakan untuk menentukan
keberhasilan belajar peserta didik pada kompetensi tertentu.
c) Cakapan Aspek Penilaian Oleh Pendidik
1) Sikap
2) Pengetahuan
3) Keterampilan
d) Pendekatan Penilaian
1) Penilaian akhir pembelajaran
2) Penilaian untuk pembelajaran
3) Penilaian sebagai pembelajaran
e) Prinsip Penilaian
1) Sahih
2) Objektif
3) Adil
4) Terpadu
5) Terbuka
6) Menyeluruh & Berkesinambungan
7) Sistematis
8) Beracuan Kriteria
9) Akuntabel

f) Teknik Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik


Teknik penilaian siswa dengan karakteristik kompetensi dasar, indicator atau
tujuan pembelajaran yang akan dinilai. Teknik yang biasanya digunakan adalah
tes tertulis, tes lisan dan penugasan.
g) Prosedur Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidikan
Secara umum prosedur penilaian hasil belajar, mencakup :
1) Penyusunan rencana penilaian
2) Pelaksanaan penilaian
3) Pengolahan, analisis dan interprestasi hasil penilaian
h) Pelaporan & pemanfaatan hasil penilaian
1) Perencanaan penilaian
2) Pelaksanaan penilaian
3) Pengolahan hasil penilaian
4) Pelaporan dan pemanfaatan hasil penilaian
B. Materi yang Sulit Dipahami
Materi yang ada pada modul, ketika saya pelajari dengan seksama, termasuk materi-
materi yang sangat mudah untuk dipahami. Bagi saya pribadi butuh memahami lebih
mendalam tentang teori-teori belajar, karena demikian banyak teori belajar oleh para
ahli, terkadang kita sudah menggunakan beberapa cara untuk mendidik dan
menyampaikan materi kepada peserta didik dan cara tersebut berhasil mendidik dan
mengajari mereka, namun saya sendiri bingung teori seperti apa yang saya gunakan ini.

C. Materi Esensial yang tidak ada dalam Sumber Belajar


Materi yang ada pada modul sudah dirancang sedemikian rupa, sangat cocok untuk
kami peserta PLPG. Bagi saya sendiri mungkin kita dapat menambahkan beberapa
materi seperti:
- Cara menjadi guru yang baik bagi peserta didiknya,
- Cara menjalin komunikasi yang menarik dengan peserta didik,
- Cara menyajikan materi yang unik dan menarik sehingga peserta didik menjadi betah
saat belajar bersama kita
- Kita sebagai guru Multimedia, tentu butuh juga info-info terbaru tentang IT yang
berkembang saat ini

Tentu penambahan yang saya sampaikan ini hanya sebagai saran bagi kita semua
untuk menjadi guru/pendidik yang lebih baik.

D. Materi yang tidak esensial tapi ada dalam sumber belajar


Bagi saya semua materi itu adalah esensial/penting bagi kita semua, tergantung
bagaimana kita menempatkannya saja.