Anda di halaman 1dari 7

Tugas Individu

Analisis Mengenai Dampak Lingungan (AMDAL)

Deskripsikan alasan mengapa peraturan yang tidak menyebutkan kata AMDAL


didalamnya namun tetap dimasukan kedalam peraturan terkait AMDAL

NAMA : HAERIAH

STAMBUK : A 221 14 100

KELAS : B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
20 1 7
Deskripsikan alasan mengapa peraturan yang tidak menyebutkan kata AMDAL
didalamnya namun tetap dimasukan kedalam peraturan terkait AMDAL.
Berikut adalah beberapa peraturan yang tidak menyebutkan kata AMDAL tetapi di
masukan kedalam peraturan terkait AMDAL :
a) UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(PPLH) Pasal 22 ayat 2 yang berbunyi :
(2) Dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:
a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau
kegiatan;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Alasan mengapa pasal 22 ayat 2 ini dimasukan dalam peraturan terkait AMDAL walaupun
tidak menyebut kata AMDAL di dalamnya, karena pasal 22 ayat 2 ini menuliskan poin-poin
apa saja yang terkena dampak suatu usaha apabila didirikan, sehingga seorang pendiri usaha
dan penyusun dokumen AMDAL wajib memperhatikannya. Dalam penjelasannya, AMDAL
merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang
mungkin ditumbulkan oleh suatu rencana usaha dan atau kegiatan terhadap lingkungan hidup
guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan
dampak positif.
b) PP No.27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan Pasal 47 sampai 49, 51 sampai
sampai 53, dan 71 sampai 75, yang berbunyi :
Pasal 47
(1) Izin Lingkungan diterbitkan oleh: a. Menteri, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan
Hidup atau Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh Menteri; b. gubernur, untuk
Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi UKL-UPL yang
diterbitkan oleh gubernur; dan c. bupati/walikota, untuk Keputusan Kelayakan
Lingkungan Hidup atau Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh
bupati/walikota.
(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota: a. setelah dilakukannya pengumuman permohonan Izin
Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44; dan b. dilakukan bersamaan
dengan diterbitkannya Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi
UKL-UPL.
Pasal 48
(1) Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) paling sedikit memuat:
a. persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam Keputusan Kelayakan Lingkungan
Hidup atau Rekomendasi UKL-UPL; b. persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan
oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota; dan c. berakhirnya Izin Lingkungan.
(2) Dalam hal Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan Pemrakarsa wajib memiliki izin
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Izin Lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencantumkan jumlah dan jenis izin perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundangundangan. (3) Izin
Lingkungan berakhir bersamaan dengan berakhirnya izin Usaha dan/atau Kegiatan.
Pasal 49
(1) Izin Lingkungan yang telah diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
wajib diumumkan melalui media massa dan/atau multimedia.
(2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu 5
(lima) hari kerja sejak diterbitkan.
Pasal 51
(1) Dalam hal terjadi perubahan kepemilikan Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) huruf a, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai kewenangannya menerbitkan perubahan Izin Lingkungan.
(2) Dalam hal terjadi perubahan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) huruf b, penanggung jawab Usaha
dan/atau Kegiatan menyampaikan laporan perubahan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota.
(3) Berdasarkan laporan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya menerbitkan perubahan Izin
Lingkungan.
Pasal 52 : Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan Izin Lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 sampai dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 53
(1) Pemegang Izin Lingkungan berkewajiban: a. menaati persyaratan dan kewajiban yang
dimuat dalam Izin Lingkungan dan izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup; b. membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan terhadap persyaratan dan
kewajiban dalam Izin Lingkungan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota; dan
c. menyediakan dana penjaminan untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disampaikan secara berkala
setiap 6 (enam) bulan.
Alasan mengapa pasal 47 sampai 49 dan 51 sampai sampai 53 dimasukan sebagai salah
satu peraturan terkait AMDAL, karena pasal-pasal tersebut membahas tentang izin lingkungan
hidup. Dimana pada pengelolaan lingkungan hidup menyebutkan bahwa setiap usaha dan atau
kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan.
Pasal 71
(1) Pemegang Izin Lingkungan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 53 dikenakan sanksi administratif yang meliputi: a. teguran tertulis; b. paksaan
pemerintah; c. pembekuan Izin Lingkungan; atau d. pencabutan Izin Lingkungan.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 72 : Penerapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2)
didasarkan atas:
a. efektivitas dan efisiensi terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup;
b. tingkat atau berat ringannya jenis pelanggaran yang dilakukan oleh pemegang Izin
Lingkungan;
c. tingkat ketaatan pemegang Izin Lingkungan terhadap pemenuhan perintah atau
kewajiban yang ditentukan dalam izin lingkungan;
d. riwayat ketaatan pemegang Izin Lingkungan; dan/atau
e. tingkat pengaruh atau implikasi pelanggaran yang dilakukan oleh pemegang Izin
Lingkungan pada lingkungan hidup.
Pasal 73 : Dokumen lingkungan yang telah mendapat persetujuan sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tetap berlaku dan dipersamakan sebagai Izin Lingkungan.
Alasan mengapa pasal 71 sampi 73 dimasukan sebagai salah satu peraturan terkait
AMDAL, karena pasal ini berkaitan dengan 53 tentang kewajiban pendiri usaha yang telah
memegang izin lingkungan. Pasal 71 sampai 73 menjelaskan tentang sanksi-sanksi yang harus
diterima oleh pemegang izin lingkungan bilama sewaktu-waktu dirinya melakukan
pelanggaran dan bentuk sanksi seperti apa yang harus dia terima sesuai dengan pelanggaran
yang dia lakukan.
Pasal 74 : Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor
27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3838) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 75 : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Alasan mengapa pasal 74 dan 75 dimasukan sebagai salah satu peraturan terkait AMDAL,
karena kedua pasal tersebut mencantumkan dengan jelas bahwa pasal 27 tahun 1999 mengenai
AMDAL telah dicabut atau tidak diberlakukan, serta pasal-pasal tersebut juga menuliskan
dengan jelas kapan PP No. 27 tahun 2012 berlaku.
c) Permen LH No.5 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan
Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pasal 7 yang
berbunyi :
Pasal 7 : Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Alasan mengapa pasal 7 ini dimasukan kedalam salah satu peraturan terkait AMDAL
karena pasal ini menyatakan dengan jelas kapan diberlakukannya Permen LH No. 5 Tahun
2012.
d) Permen LH No. 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen
Lingkungan Hidup Pasal 5 sampai 11, yang berbunyi :
Pasal 5
(1) Kerangka Acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a memuat: a.
pendahuluan; b. pelingkupan; c. metode studi; d. daftar pustaka; dan e. lampiran.
(2) Penyusunan Kerangka Acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
dengan pedoman penyusunan Kerangka Acuan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 6
(1) Andal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b memuat: a. pendahuluan; b.
deskripsi rinci rona lingkungan hidup awal; c. prakiraan dampak penting; d. evaluasi
secara holistik terhadap dampak lingkungan; e. daftar pustaka;dan f. lampiran.
(2) Penyusunan Andal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan
pedoman penyusunan Andal sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 7
(1) RKL-RPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c memuat: a. pendahuluan; b.
rencana pengelolaan lingkungan hidup; c. rencana pemantauan lingkungan hidup; d.
jumlah dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dibutuhkan;
e. pernyataan komitmen pemrakarsa untuk melaksanakan ketentuan yang tercantum
dalam RKL-RPL; f. daftar pustaka; dan g. lampiran.
(2) Penyusunan RKL-RPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan
pedoman penyusunan RKL-RPL sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 8
(1) Formulir UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b memuat: a.
identitas pemrakarsa; b. rencana usaha dan/atau kegiatan; c. dampak lingkungan yang
akan terjadi, dan program pengelolaan serta pemantauan lingkungan; d. jumlah dan
jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dibutuhkan; dan e.
pernyataan komitmen pemrakarsa untuk melaksanakan ketentuan yang tercantum
dalam formulir UKL-UPL. f. Daftar Pustaka; dan g. Lampiran
(2) Pengisian formulir UKL-UPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
dengan pedoman pengisian formulir UKL-UPL sebagaimana tercantum dalam
Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 9
(1) SPPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf c berisi: a. identitas
pemrakarsa; b. informasi singkat terkait dengan usaha dan/atau kegiatan; c. keterangan
singkat mengenai dampak lingkungan yang terjadi dan pengelolaan lingkungan hidup
yang akan dilakukan; d. penyataan kesanggupan untuk melakukan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup; dan e. tandatangan pemrakarsa di atas kertas bermaterai
cukup.
(2) Pengisian SPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan
format SPPL sebagaimana tercantum dalam lampiran V yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Alasan mengapa pasal 5 sampai 9 dimasukan kedalam salah satu peraturan terkait
AMDAL, kerena pada pasal-pasal tersebut memuat format penyusunan dokumen AMDAL,
dimana format ini sangat penting bagi seseorang yang akan menyusun dokumen AMDAL.
Pasal 10 : Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku: a. Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; dan b. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 13 Tahun 2010 tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup dan Surat Penyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan Hidup, dicabut dan dinyatakan tidah berlaku.
Pasal 11 : Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 6 (enam) bulan terhitung sejak
tanggal diundangkan.
Alasan mengapa pasal 10 dan 11 dimasukan ke dalam salah satu peraturan terkait AMDAL,
karena kedua pasal tersebut dengan jelas menuliskan bahwa pada peraturan sebelumnya tidak
diberlakukan lagi, pasal-pasal tersebut juga mencantumkan dengan jelas kapan Permen LH No.
16 tahun 2012 diberlakukan, sehingga para penyusun dokumen AMDAL dapat mengetahuinya.