Anda di halaman 1dari 13

TINJAUAN PUSTAKA

1. Remaja
Masa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa
yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosio emosional (Santrock, 2003). Pada remaja
perempuan perubahan fisik terjadi sepanjang pubertas. Percepatan pertumbuhan badan yang
terutama Nampak sebagai pertumbuhan panjang badan berlangsung dalam periode selama dua
tahun. Periode ini berlangsung antara usia 11 dan 13 tahun dengan permulaannya selama kira-
kira 1 tahun dan puncaknya pada usia 14 tahun. Pertumbuhan panjang badan masih terus berjalan
selama kurang lebih tiga tahun sampai kira-kira usia 16 dan 18 tahun (Monks, 2006). Selain
pertumbuhan tinggi badan, terjadi pertambahan berat badan dan bertambahnya berat badan
sekitar 8.3 kg pertahun, umumnya terjadi saat umur 12.5 tahun dan berat badan mulai stabil.

Masa remaja adalah salah satu fase yang penting dari proses pertumbuhan dan
perkembangan manusia. Kondisi seseorang pada masa dewasa banyak ditentukan oleh keadaan
gizi dan kesehatan pada masa remaja. Oleh karena itu status gizi dan kesehatan merupakan factor
penentu kualitas remaja. Dengan status gizi dan kesehatan yang optimal pertumbuhan dan
perkembangan remaja menjadi lebih sempurna. Masa remaja menurut WHO adalah antara 10
24 tahun, sedangkan menurut (Monks 1992, dalam Ai Nurhayati, 2010). Masa remaja
berlangsung pada umur 12 sampai 21 tahun dengan pembagian masa remaja awal 12-15 tahun,
masa remaja pertengahan 15-18 tahun dan masa remaja akhir 18-21 tahun. Status gizi remaja
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi, faktor budaya, kebiasaan makan,
kondisi psikis, pengetahuan gizi, dan rasa takut akan lemak.

Menurut Hill dan Monks (dalam Monks, 2006), remaja sendiri merupakan salah satu penilai
yang penting terhadap badannya sendiri. Apabila remaja mengerti bahwa badannya tersebut
memenuhi persyaratan, maka hal itu akan berakibat positif terhadap penilaian dirinya. Apabila
ada penimpangan-penyimpangan yang mereka rasa ada di tubuh mereka, maka timbulah
masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri.

Remaja merupakan kelompok manusia yang berada diantara usia kanak-kanak dan dewasa
(Jones, 1997). Permulaan masa remaja dimulai saat anak secara seksual menjadi matang dan
berakhir saat mencapai usia matang secara hukum diakui hak-haknya sebagai warga negara.
Remaja sering kali disebut adolescence (adolescere dalam bahasa latin) yang secara luas berarti
masa tumbuh dan berkembang untuk mencapai kematangan mental, emosional, social dan fisik
(Hurlock, 1995). Masa remaja menurut WHO adalah antara 10 24 tahun, sedangkan menurut
Monks (1992) masa remaja berlangsung pada umur 12 sampai 21 tahun dengan pembagian masa
remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan masa remaja akhir (18-21
tahun). Masa remaja adalah salah satu fase yang penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan
manusia. Kondisi seseorang pada masa dewasa banyak ditentukan oleh keadaan gizi dan kesehatan
pada masa remaja.Oleh karena itu status gizi dan kesehatan merupakan factor penentu kualitas
remaja.Dengan status gizi dan kesehatan yang optimal pertumbuhan dan perkembangan remaja
menjadi lebih sempurna.

2. Definisi Eating Disorder (Gangguan Makan)

Gangguan makan ditandai dengan kebiasaan yang ekstrem. Gangguan makan hadir ketika
seseorang mengalami gangguan parah dalam tingkah laku makan, seperti mengurangi kadar
makanan atau makan terlalu banyak, atau perasaan menderita atau keprihatinan tentang berat
atau bentuk tubuh. Seseorang dengan gangguan makan mungkin berawal dari mengkonsumsi
makanan yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada tahap tertentu,
keinginan untuk makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar keinginan
(American Psychiatric Association [APA], 2005).Gangguan makan digambarkan sebagai
gangguan berat dalam perilaku makan dan perhatian yang berlebihan tentang berat dan bentuk
badan. Biasanya terjadi pada usia remaja
Korban masalah gangguan pola makan atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai
eating disorder sudah banyak sekali, dari kelompok selebriti sampai orang biasa.Jika tidak
diobati secara serius, gangguan pola makan bisa mengakibatkan korban jiwa.Remaja, terutama
remaja putri, termasuk kelompok yang rentan terhadap gangguan ini.Mungkin karena remaja
berusaha untuk gaul dan cenderung menjadi korban mode yang menuntut seseorang langsing
cenderung kurus. Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan pola makan apabila ia
terobsesi dengan pengaturan makanan dan berat badannya. Mereka melakukan hal-hal yang
ekstrem untuk menjaga berat badannya.Ada dua gangguan pola makan, anorexia dan bulimia
nervosa.
Walaupun belum diketahui secara pasti, ada berbagai teori yang menjelaskan penyebab
kedua gangguan ini.Salah satu teori menyebutkan bahwa penyebabnya adalah karena
kebanyakan remaja putri merasa sangat tertekan dengan kewajiban untuk tampil langsing
seperti yang dimunculkan oleh televisi dan majalah.Teori yang menunjuk adanya gangguan pada
sebagian fungsi otak yang berkaitan dengan body image.

3. Anoreksia Nervosa

Gangguan makan yang umumnya ditemui pada remaja putri adalah anorexia nervosa dan
bulimia. Anoreksia adalah aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan
makan secara sengaja dan melalui control yang ketat karena ketakutan akan kegemukan dan
bertambahnya berat badan (Wardlaw et.al., 1992). Penderita anoreksia sadar bahwa mereka
merasa lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka karena bisa berakibat
naiknya berat badan. Persepsi mereka terhadap rasa kenyang terganggu sehingga pada saat
mereka mengkonsumsi sejumlah makanan dalam porsi kecil sekalipun, mereka akan segera
merasa penuh atau bahkan mual. Mereka terus menerus melakukan diet mati-matian untuk
mencapai tubuh yang kurus.Pada akhirnya kondisi ini bisa menimbulkan efek yang berbahaya
yaitu kematian.

Diperkirakan satu dari seratus remaja putri atau 1 % antara usia 12 tahun sampai 18 tahun
mengalami anorexia nervosa. Hanya sedikit remaja pria yang mengalami anorexia nervosa
sehubungan dengan gambaran tubuh laki-laki yang berbeda dengan wanita yaitu yang besar dan
berotot.Remaja laki-laki mengontrol berat badannya dengan aktivitas olah raga seperti jodo dan
hanya sedikit yang mungkin mengembangkan bulimia. (Wardlaw et.al., 1992)

American Psychiatric Assosiation(1994) anorexia nervosa adalah kesalahanmemandang


berat badan atau bentukbadan. Individu yang mengalami gangguanini mengalami ketakutan yang
amat sangatterhadap kenaikan berat badan, sehinggacenderung melakukan penolakan beratbadan
normal sesuai umur dan berat badan.

Menurut Townsend (1998) anorexianervosa adalah sindrom klinis dimanaseseorang


mengalami rasa takut yang tidakwajar terhadap kegemukan.Hal ini dicirikanoleh distorsi yang
kasar daribayangan tubuh, memikirkan secara berlebihantentang makanan dan penolakanuntuk
makan.Anorexia Nervosa berartikekurangan nafsu makan, tetapi sebenarnyapenderita anorexia
nervosa merasakanlapar dan juga berselera terhadap makanan,mempelajari tentang makanan dan
kalori;menimbun; menyembunyikan dan sengajamembuang makanan.

Anoreksia Nervosa terbagi kepada dua jenis. Dalam jenis restricting-tye anorexia, individu
tersebut menurunkan berat badan dengan berdiet sahaja tanpa makan berlebihan (binge eating)
atau muntah kembali (purging). Mereka terlalu mengurangi konsumsi karbohidrat dan makanan
mengandung lemak. Pada tipe binge-eating atau purging, individu tersebut makan secara
berlebihan kemudian memuntahkannya kembali secara segaja (Duvvuri dan Kaye, 2009).
Menurut Turnbull et al. (1996) dalam Lewinsohn et al. (2000) kejadian tertinggi anoreksia
terjadi pada wanita berusia 10 sampai dengan 19 tahun karena pada usia ini, mereka rentan
terhadap perubahan dan lebih terpapar dengan dunia luar.

Kecenderungan anorexia nervosa adalah niat atau keinginan seseorang yang ditandai sikap
atau perilaku yang mengarah pada kelainan emosional, memiliki ketakutan yang teramat sangat
terhadap kegemukan, adanya perubahan body image dan penolakan untuk mempertahankan berat
badan secara normal yang ditunjukkan dengan pembatasan makan secara berlebih atau
melakukan suatu hal agar dapat menurunkan berat badan secara cepat. Kecenderungan ini
merupakan suatu indikasi awal dari anorexia yaitu niat atau keingian seseorang yang ditandai
sikap atau perilaku yang mengarah pada kelainan emosional, memiliki ketakutan yang teramat
sangat terhadap kegemukan, adanya perubahan gambaran tubuh dan penolakan untuk
mempertahankan berat badan secara normal yang ditunjukkan dengan pembatasan makan secara
berlebih atau dengan melakukan hal-hal tertentu agar dapat menurunkan berat badan secara
cepat.

Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dan sikap positif yang dimiliki individu untuk
mengembangkan penilaian positif terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi
yang dihadapinya serta menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga dapat
mengaktualisasikan diri terhadap lingkungan yang dihadapinya. Sedangkan body image
merupakan perasaan, pengalaman, sikap dan evaluasi yang dimiliki seseorang mengenai
tubuhnya yang meliputi bentuk tubuh, ukuran tubuh dan berat tubuh yang mengarah kepada
penampilan fisik yang dapat bersifat positif atau negatif. Pencitraan tubuh langsing semampai
masih menjadi idaman wanita. Fenomena ini dikhawatirkan melipat gandakan kasus anoreksia.
Sebab, para wanita ada kecenderungan menggunakan semua cara agar punya tubuh ideal.
Kebiasaan makan merupakan istilah untuk menggambarkan perilaku yang berhubungan
dengan makan dan makanan seperti tata krama, frekuensi makan seseorang, pola makan yang
dimakan, kepercayaan terhadap makanan (suka atau tidak suka), cara pemilihan bahan makanan
yang hendak di makan (Suhardjo, 1989). Kebiasaan makan pada remaja menurut Bourne (1979)
menyatakan remaja mempunyai kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan di luar rumah
atau sekolah, memilih makanan yang dianggap populer dan meningkatkan gengsi, serta
mempunyai kebiasaan makan tidak teratur.

Kebiasaan makan yang kurang baik pada remaja dan keinginan untuk terlihat langsing,
khususnya pada remaja putri seringkali menimbulkan gangguan makan (eating disorder).
Gangguan pola makan yang umum diderita khususnya oleh remaja putri adalah bulimia dan
anorexsia nervosa. Pada masa remaja banyak anak, khususnya remaja putri, dengan berat badan
normal tidak puas dengan bentuk dan berat badannya dan ingin menjadi lebih kurus.Pada remaja
putri ini pada umumnya ingin mempunyai bentuk badan yang lebih langsing, ramping dan
menarik.Untuk mencapai hal tersebut mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal yang justru
tidak mereka sadari dapat membahayakan diri dan kesehatnnya (Ai Nurhayati, 2012).Agar
tampak langsing dan menarik mereka tidak mau makan pagi, mengurangi frekuensi makan
bahkan melakukan diet yang berlebihan (Gunawan, 1997). Hal senada diungkapkan oleh Daniel
dalam Arisman (2002) hampir 50 % remaja terutama remaja yang lebih tua, tidak sarapan.
Penelitian lain membuktikan masih banyak remaja sebesar 89% yang meyakini kalau sarapan
memang penting, namun yang sarapan secara teratur hanya 60%. Remaja putri malah
melewatkan dua kali waktu makan, dan lebih memilih kudapan.

4. Body Images (Citra Tubuh)

Konsep diri pada mulanya adalah citra tubuh, yaitu sebuah gambaran yang dievaluasikan
mengenai fisik diri. Sosok tubuh, penampilan dan ukurannya merupakan hal yang teramat
penting di dalam mengembangkan pemahaman tentang evolusi konsep diri seseorang. Terdapat
banyak alasan mengapa remaja tidak puas dengan perubahan dan bentuk tubuh yang mereka
miliki dan mengalami kesulitan untuk menerimanya, salah satunya adalah hampir semua remaja
membentuk konsep diri fisik yang ideal berdasarkan konsep dari berbagai sumber individu ideal
dalam kelompok seksnya. Oleh karena itu, remaja tidak puas dengan penampilan dirinya dan
sulit untuk menerima dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan penerimaan diri terhadap kondisi fisik
yang dimiliki rendah, sehingga mereka dapat mengalami kecenderungan anorexia nervosa.

Kekurangan gizi pada remaja putri sering terjadi sebagai akibat dari body image (citra
tubuh) keliru yang diikuti oleh pembatasan konsumsi makanan dengan tidak memperhatikan
kaidah gizi dan kesehatan. Akibatnya, asupan gizi secara kuantitas dan kualitas tidak dengan
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yangdianjurkan. Citra tubuh adalah keyakinan individu
terhadaptubuhnya, citra tubuh yang negatif dapat menimbulkan suatu gangguan citra tubuh.
Salah satu gangguan citra tubuh adalah overestimation yaitu mempersepsikan tubuhnya lebih
besar dari keadaan yang sesungguhnya dan underestimation yaitu mempersepsikan tubuhnya
lebih kecil dari keadaan yang sesungguhnya.

Body image adalah gambaran seseorang mengenai bagian-bagian tubuhnya maupun keadaan
fisiknya secara keseluruhan yang menyangkut ketepatan mengestimasi tubuh (komponen
persepsi) dan perasaan tentang tubuhnya (komponen sikap). Kepercayaan diri merupakan suatu
keyakinan dan sikap positif yang dimiliki individu untuk mengembangkan penilaian positif
terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya serta menerima
segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga dapat mengaktualisasikan diri terhadap
lingkungan yang dihadapinya.

Ketidakpuasan terhadap kondisi fisik tersebut menunjukkan adanya body image yang
negatif. Jika remaja putri sudahmerasa senang ataupun puas dengankeadaan fisiknya, dengan
kata lainmemiliki body image yang positif, maka remaja putri tersebut tidak perlu melakukan
diet yang ketat untuk mendapatkan body image yang ideal. Adanya hubungan yang cukup kuat
dan nyata antara kepercayaan diri dan body image dengan kecenderungan anorexia nervosa ini
sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa menurut (Asokawati dalam Rudatini, 1993 dalam
Vivi, Diah sofiyah 2012), keindahan tubuh sangat erat kaitannya dengan kepercayaan diri. Gejala
untuk mendapatkan body image ideal jika diamati secara kejiwaan merupakan suatu erosi
kepercayaan diri yang biasa terjadi pada individu yang hanya berorientasi pada penampilan fisik
semata. Jika ada sesuatu yang tidak disukai dalam penampilan fisiknya maka hal itu akan
membuat individu tersebut merasa kurang percaya diri dan tidak bahagia.
Penderita anorexia nervosa mempunyai pandangan yang menetapkan kelangsingan sebagai
suatu standar body image ideal, kegemukan dan mempunyai kecenderungan membandingkan
diri sendiri dengan orang lain yang sangat menarik kesemuanya ini merupakan awal dari
ketidakpuasan seseorang terhadap body imagenya. Sehingga mulai melakukan usaha-usaha
penurunan berat badan dengan mencoba mengikuti pola makan dengan aturan makan ketat
mengenai asupan jumlah makanan, jenis makanan yang dimakan dan kapan harus makan.
Bahkan sampai menyalahgunakan obat pencahar, diuretics, minum jamu peluntur lemak, dan
olah raga ekstra keras (Vivi, Diah sofiyah 2012).

4.1 Faktor Individu


Konsep diri terbagi dalam dua dimensi, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal.
Dimensi internal merupakan penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri
berdasarkan dunia di dalam dirinya, dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu identitas diri
(self identity), perilaku diri (self behavior ), dan penilaian diri (judging self). Dalam dimensi
internal ini diri penilai menentukan kepuasaan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh
orang menerima dirinya. Dimensi eksternal merupakan keadaan dimana individu menilai
dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya serta hal-hal lain
di luar dirinya. Dimensi eksternal dibagi atas lima bentuk yaitu fisik (physical self), etika-
moral (moral- ethical self), pribadi (personal self), keluarga (family self), dan sosial (social
self). Bagian-bagian dimensi internal dan eksternal tersebut saling berinteraksi satu sama
lain, sehingga membentuk lima belas kombinasi, yang mana salah satu kombinasinya
membentuk penerimaan diri fisik (Agustiani, 2006).

Penerimaan diri terhadap kondisi fisik merupakan kondisi dimana seseorang dapat
mencintai dirinya sendiri dan mencintai fisiknya dalam batas apapun, dan dapat menerima
keadaan dirinya apa adanya, tanpa terus-menerus mengkritik dirinya. Individu dapat
menerima dirinya secara baik, tidak memiliki beban perasaan terhadap dirinya sendiri. Selain
itu seseorang yang menerima dirinya sendiri, mempunyai penilaian yang realistik terhadap
keterbatasan tanpa mencela diri sendiri dan tahu akan kemampuan serta secara bebas
menggunakan kemampuannya tersebut dan tidak menyalahkan oranglain terhadap
kekurangan yang dimilikinya.
Penerimaan diri terhadap kondisi fisik ini merupakan salah satu tugas dari
perkembangan yang harus dilalui. Para remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri
sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri, dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Hal ini dimaksudkan agar remaja merasa bangga atau memiliki toleransi terhadap kondisi
fisiknya, serta dapat menggunakan dan memelihara badannya (dirinya) secara efektif.

4.2 Faktor Psikis


Pada masa remaja ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun
psikis. Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan psikis yang sangat signifikan. Perubahan
yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga
mencapai bentuk tubuh orang dewasa. Pertumbuhan anggota-anggota badan lebih cepat
daripada badannya; hal ini membuat remaja untuk sementara waktu mempunyai proporsi
tubuh yang tidak seimbang. Perhatian terhadap penampilan dan kondisi fisik merupakan
bagian dari konsep diri remaja. Perubahan fisik menyebabkan remaja membutuhkan asupan
nutrisi yang lebih besar daripada masa anak-anak. Asupan nutrisi itu dibutuhkan juga karena
remaja sangat aktif dengan berbagai kegiatan, baik itu kegiatan sekolah maupun olahraga.
Khusus pada remaja putri, asupan nutrisi dibutuhkan untuk persiapan reproduksi.

Perubahan psikis menyebabkan remaja sangat mudah terpengaruh oleh teman sebaya.
Mereka sangat memperhatikan penampilan fisik untuk tampil menarik di depan teman-teman
maupun lawan jenis mereka. Hal tersebut menyebabkan remaja berusaha untuk menampilkan
dirinya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sebayanya. Demi tampil menarik
para remaja putri berusaha memiliki tubuh seperti yang mereka lihat di media atau majalah-
majalah mode. Tubuh yang ideal menurut media dan majalah mode adalah tubuh yang
ramping dan kurus. Karena itu para remaja putri berusaha membatasi asupan makanannya.
Perilaku ini kemudian berkembang menjadi eating disorder (gangguan makan).

Penilaian mengenai tubuh yang negative dapat menimbulkan adanya usaha-usaha


obsesif terhadap kontrol berat badan, dan demi mendapatkan kepuasan mengenai bentuk
tubuh mereka, remaja akan cenderung melakukan polapengontrolan berat badan dalam bentuk
apapun. Anorexia nervosa dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menguruskan badan dengan
melakukan pembatasan makan secara sengaja dan melalui kontrol yang ketat. Penderita
anorexia sadar bahwa mereka merasa lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan
mereka karena bias berakibat naiknya berat badan (Agustiani, 2006).

5. Pengetahuan Gizi
5.1 Media massa
Persepsi citra tubuh adalah gambaran tubuh seseorang baik yang dilihat sendiri maupun
oleh orang lain. Penilaian terhadap citra tubuh yang baik sangat dipengaruhi oleh persepsi
orang lain dan lingkungan sosial yang membentuk citra tubuh, baik laki-laki maupun
perempuan. Faktor lingkungan sosial yang berpengaruh adalah media massa, yaitu model
atau artis yang dikenal dari majalah maupun televisi. Pengaruh media massa, baik dari
televisi maupun majalah dan lingkungan sosial seperti keluarga dan teman, memiliki
peranan yang sangat penting dalam memberikan tekanan mengenai perubahan bentuk tubuh
dan ketidakpuasan tubuh, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Media massa yang berasal dari majalah ataupun artis di televisi, merupakan faktor yang
paling berpengaruh terhadap kepuasan tubuh dan sebagai pembanding dari bentuk tubuh
seseorang, terutama pada perempuan karena kecantikan dan bentuk tubuh ideal akan
menentukan kefemininan seorang perempuan, citra hidup yang baik, kepercayaan diri yang
tinggi, dan hubungan sosial yang lebih baik. Selain itu, wanita muda banyak yang
berpersepsi bahwa memiliki bentuk tubuh yang ideal akan memudahkan dalam mencari
pekerjaan maupun mendapatkan pasangan hidup, kemampuan dalam bekerja (lincah dan
pintar) sehingga kecantikan dan ketertarikan fisik (outer beauty) menjadi orientasi utama
perempuan untuk dirawat dan dijaga daripada mengembangkan dan mengasah bakat,
kepandaian, kecerdasan serta kepribadiannya (innerbeauty). Peningkatan aktivitas dan
pengaturan makan salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mempertahankan berat
badannya, selain itu bersikap positif dan percaya diri terhadap citra tubuh juga harus
dipertahankan (Rini shanty,2006).

5.2 Pendidikan
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana
perubahan tersebut bukan sekedar proses transfer materi atau teori dari seseorang ke orang
lain dan bukan pula seperangkat prosedur, akan tetapi perubahan tersebut terjadi karena
adanya kesadaran dalam diri individu, kelompok, atau masyarakat sendiri (Mubarak dan
Chayatin, 2009).

Pendidikan gizi diberikan pada remaja, agar remaja mempunyai pengetahuan gizi
sehingga penyimpangan pola makan dapat dicegah. Pendidikan gizi di sekolah dapat
diberikan dalam kegiatan ekstra kurikuler. Pendidikan gizi dapat diberikan secara klasikal
yaitu dengan memberikan materi di kelas atau dengan melakukan praktek secara langsung
dengan membuat hidangan yang sesuai dengan kebutuhan dan lain sebagainya.

5.3 Penyuluhan
Menurut Notoatmodjo (2005) penyuluhan kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan pada masyarakat, kelompok, atau individu dengan harapan
mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan. Mengubah sikap dan perilaku individu,
keluarga, kelompok, masyarakat dalam bidang kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dan
bermanfaat di mata masyarakat.

Terbentuk perilaku sehat dan status kesehatan yang optimal pada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik, mental maupun
sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. materi atau pesan yang
disampaikan pada sasaran hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan individu,
keluarga, masyarakat sehingga materi yang disampaikan dapat dirasakan langsung
manfaatnya. Untuk mempermudah pemahaman dan menarik perhatian sasaran sebaiknya
materi yang disampaikan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti oleh
sasaran.Penyampain informasi ini ditujukan pada orang banyak atau masyarakatyang
bersifat massa atau publik.

Sasaran ini bersifat umum tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan,
status ekonomi, tingkat pendidikan dan lainnya. Pada umumnya metode pendekatan ini
tidak langsung, biasanya menggunakan media massa seperti tulisan di majalah atau koran,
bill board yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, leaflet, poster dan lain sebagainya.
Dengan adanya penyuluhan yang baik maka pemahaman masyarakat tentang anoreksia
nervosa akan semakin luas dan khususnya para remaja putri akan mengerti bagaimana cara
menjaga bentuk tubuh ideal tanpa melakukan anoreksia nervosa.
6. Fear Of Fatnes

Rasa takut menjadi gemuk banyak terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki, sesuai
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh banyak ahli. Hal ini juga yang menyebabkan usaha
melangsingkan tubuh banyak dilakukan oleh perempuan. Banyak cara yang dilakukan untuk
mendapatkan bentuk tubuh yang sesuai keinginan individu meskipun tidak sesuai dengan kondisi
yang sesungguhnya. Remaja putri diestimasikan menjadi kelompok masyarakat yang paling
rentan terhadap permasalah fear of fatness.

Sebuah penelitian menyatakan hampir 70% remaja putri dalam kelompok masyarakat
terkena masalah ini, ketakutan menjadi gemuk begitu meluas diantara remaja putri sehingga
keadaan ini disebut sebagai ketidakpuasan normatif (Flynn,2005) Umumnya ketakutan
kegemukan akan menyebabkan seseorang melakukan cara apapun untuk menurunkan berat
badannya. Termasuk dengan cara diet ekstrim, hal ini juga yang akan membuat seseorang
menderita gangguan makan (eating disorder). Flynn (2005) mengemukakan bentuk rasa takut
menjadi gemuk memiliki ciri bahwa banyak orang yang terkena permasalahan ini
mempersepsikan dirinya lebih gemuk daripada keadaan sebenarnya (body image dispragement),
sementara sebagian lainnya terus mempertahankan tubuh yang kurus sekalipun mengakui bahwa
mereka tidak kelebihan berat badan.

Rasa takut menjadi gemuk (fear of fatness) merupakan istilah umum untuk mendeskripsikan
penolakan terhadap kegemukan dengan disertai upaya menurunkan berat badan yang tidak ada
kaitannya dengan ukuran tubuh (Flynn, 2005). Fear of fatness didefinisikan sejauh mana tingkat
ketakutan seseorang terhadap kenaikan berat badan dan menjadi gemuk, fearof fatnessini juga
memegang peranan penting dalam kejadian gangguan makan yang terjadi pada individu.Hal ini
menunjukkan hubungan yang jelas antara pengetahuan dan perilaku konsumsi meskipun dalam
penelitian tersebut untuk mineral tertentu. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Perilaku makan seseorang dipengaruhi juga oleh
pengetahuan orang tersebut tentang makanan.
KESIMPULAN

Kelainan atau gangguan makan banyak dialami oleh remaja. Salah satunya anoreksia
nervosa adalah suatu bentuk ketakutan yang kuat saat mengalami kenaikan berat badan atau
menolak untuk mempertahankan berat badan pada atau diatas berat badan normal minimal
menurut usia dan tinggi badan, dan mengalami gangguan dalam cara memandang berat atau
bentuk badannya sendiri. Sehingga menimbulkan bermacam komplikasi yang serius bahkan
dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu penderita anoreksi nervosa membutuhkan
pengobatan medis dan psikis yang menyeluruh, yaitu perawatan di rumah sakit jika diperlukan,
terapi individual serta keluarga.
ANOREKSIA NERVOSA SEBAGAI AJANG TUBUH IDEAL PADA
REMAJA

ATIKA NUR FITRIANI 1205025013

DWI NOER BAYTI M 1205025020

PRASETYO CATUR FAHMI N 1205025056

SAGITA DWI HAMARSA FITRI 1205025073

TEGAR SWENDANUR RISHA 1205025082

MIRA ASRIYANI 1305025061

HANA DIAR AMALIA 1305025046

KELAS : GIZI 7A

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. Dr. HAMKA
TAHUN AJARAN 2012/2013