Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH INSTRUMENTASI INDUSTRI

RANGKAIAN PENGKONDISI SINYAL

Oleh :
Ilham Agung Wicaksono

Kelas :

2A-D4 T. Elektronika

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2017
PENDAHULUAN

- Latar Belakang

Pada saat ini sensor dan transduser merupakan komponen penting dalam praktik.
Disadari atau tidak kita sebenarnya hampir setiap hari berhubungan dengan sensor dan
tranduser ini. Telah banyak perkembangan yang telah dicapai pada bidang ini, baik dari segi
teknologi maupun dari segi fungsi.Terkait dengan perkembangan teknologi yang begitu luar
biasa pada saat ini, banyak sensor telah diproduksi dengan ukuran sangat kecil hingga orde
nanometer sehingga menjadikan sensor sangat mudah digunakan dan dihemat energinya.

Sensor dan transduser pada dasarnya dapat dipandang sebagai sebuah perangkat atau
device yang berfungsi mengubah suatu besaran mekanik menjadi besaran listrik, sehingga
keluarannya dapat diolah dengan rangkaian listrik atau sistem digital. Namun, umumnya
output suatu sensor tidak dapat langsung diproses ke mikrokontroller karena output dari
sensor belum tentu sebuah tegangan karena input yang dibutuhkan mikrokontroller adalah
sebuah tegangan.

Berdasarkan hal di atas makalah dengan judul Rangkaian Pengkondisi Sinyal ini
dibuat. Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami definisi,
fungsi, prinsip kerja, cara kerja, karakteristik, komponen, serta merancang dan merangkai
rangkaian pengkondisi sinyal.

- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, makalah ini disusun berdasarkan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimanakah definsi dari pengondisi sinyal ?
2. Bagaimanakah fungsi dari pengkondisi sinyal ?
3. Bagaimanakah prinsip kerja, cara kerja serta karakteristik pengkondisi sinyal ?
4. Bagaimanakah komponen-komponen yang dibutuhkan dalam rangkaian
pengkondisi sinyal ?

- Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun berdasarkan rumusan
tujuan sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari rangkaian pengkondisi sinyal
2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dari rangkaian pengkondisi sinyal
3. Mahasiswa dapat merancang rangkaian pengkondisi sinyal
4. Mahasiswa dapat merangkai rangkaian pengkondisi sinyal
5. Mahsiswa dapat menganalisa rangkaian pengkondisi sinyal
6. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja, cara kerja serta karakteristik
pengkondisi sinyal
Pengkondisian Sinyal.

Sensor diperlukan untuk konversi besaran mekanik menjadi besaran listrik. Namun
besaran output dari suatu sesor belum tentu sesuai dengan kebutuhan sistem kontrol, sehingga
diperlukan sebuah rangkaian pengkondisi sinyal. Pengkondisi sinyal digunakan untuk
mengubah sinyal listrik ke bentuk dan level yang sesuai dengan elemen-elemen yang lain
dalam sistem instrumentasi atau kendali. Modul ini hanya fokus pada konversi analog, di
mana output dikondisikan tetap dalam bentuk sinyal analog.

Prinsip Pengkondisian Sinyal


Sebuah transduser mengukur suatu variabel dinamik dengan mengkonversinya ke
dalam sinyal elektrik. Untuk mengembangkan transduser seperti ini, banyak dipengaruhi oleh
kondisi alam sehingga hanya ada beberapa tipe yang dapat digunakan untuk mendapatkan
hasil yang sesuai.
Efek pengkondisi sinyal sering dinyatakan dengan fungsi alihnya (transfer function).
Dengan istilah ini kita menghubungkan efek yang ditimbulkan dengan sinyal input. Jadi,
sebuah amplifier sederhana mempunyai fungsi alih dari beberapa konstanta yang, ketika
dikalikan dengan tegangan input, memberikan tegangan output.

A. Perubahan Level Sinyal


Metode paling sederhana dari pengkondisi sinyal adalah pengubahan level sinyal. Contoh
yang paling umum adalah untuk penguatkan atau pelemahkan level tegangan. Secara umum,
aplikasi kontrol proses dihasilkan dalam variasi sinyal frekuensi rendah secara lambat di
mana amplifier respon d-c atau frekuensi rendah bisa dipakai. Suatu faktor penting dalam
pemilihan sebuah amplifier adalah impedansi input yang amplifier tawarkan kepada
transduser (atau elemen-elemen lain yang menjadi input).

B. Linierisasi

Linierisasi bisa dihasilkan oleh sebuah amplifier yang gainnya sebuah fungsi level
tegangan untuk melinierkan semua variasi tegangan input ke tegangan output. Misalnya,
sering terjadi pada sebuah transduser di mana outputnya adalah eksponensial berkenaan
dengan variabel dinamik. Pada Gambar 2.1 dapat dilihat sebuah contoh yang dimaksud di
mana tegangan transduser diasumsikan eksponensial terhadap intensitas cahaya I. Bisa
dituliskan sebagai
VI = V0e-t+ ....(1)
Dimana :

VI : tegangan output pada intensitas I


V0 : tegangan intensitas nol
: konstanta eksponensial
I : intensitas cahaya
Untuk melinierkan sinyal ini digunakan amplifier yang outputnya bervariasi secara
logaritma terhadap input
VA = K.ln(VIN) ....(2)

Di mana :

VA : tegangan output amplifier


K : konstanta kalibrasi
VIN : tegangan input amplifier : VI [dalam Pers. (1)]

Dengan substitusi Persamaan (1) ke Persamaan (2) di mana VIN= VI diperoleh


VA = K.ln(V0) KI

Gambar 2.1 Pengkondisi sinyal yang baik dapat menghasilkan tegangan output yang
berubah secara linier terhadap intensitas cahaya.

Output amplifier berubah secara linier dengan intensitas tetapi dengan offset K.lnV0
dan faktor skala dari K seperti diperlihatkan pada Gambar 2. 1. Untuk mengeliminasi offset
dan menyediakan kalibrasi yang diinginkan dari tegangan versus intensitas dapat digunakan
pengkondisi sinyal.

C. Konversi

Sering kali, pengkondisi sinyal digunakan untuk mengkonversi suatu tipe variasi
elektrik kepada tipe lainnya. Sehingga, satu kelas besar dari transduser menyediakan
perubahan tahanan dalam variabe dinamik. Dalam kasus ini, perlu dibuat sebuah rangkaian
untuk mengkonversi perubahan tahanan ini baik ke tegangan maupun arus. Secara umum
inidipenuhi oleh jembatan-jembatan bila perubahan sebagian tahanan adalah kecil
dan/atau dengan amplifier-amplifier yang gainnya berubah terhadap tahanan.

D. Filter dan Penyesuai Impedansi


Sering sinyal-sinyal gangguan dari daya yang besar muncul dalam lingkungan
industri, seperti sinyal-sinyal frekuensi saluran standar 60 Hz dan 400 Hz. Transien start
motor juga dapat mengakibatkan pulsa-pulsa dan sinyal-sinyal yang tidak diperlukan lainnya
dalam loop kontrol proses. Dalam banyak kasus, perlu digunakan high pass, low pass dan
notch filter untuk mengurangi sinyal- sinyal yang tidak diinginkan dari loop. Filter seperti ini
dapat dipenuhi oleh filter pasif yang hanya menggunakan resistor, kapasitor, induktor, atau
filter aktif, menggunakan gain dan feedback. Penyesuai impedansi adalah sebuah elemen
penting dari pengkondisi sinyal ketika impedansi internal transduser atau impedansi saluran
dapat mengakibatkan error dalam pengukuran variabel dinamik. Baik jaringan aktif maupun
pasif juga dipakai untuk menghasilkan penyesuain seperti ini.

Macam-macam rangkaian pengkondisi sinyal

1. Pembagi Tegangan

Rangkaian pembagi tegangan merupakan sebuah rangkaian dasar pengkondisi sinyal


yang mengkonversi perubahan resistansi menjadi perubahan tegangan. Rangkaian ini
memenuhi sebuah persamaan sebagai berikut :

2
Vo=1+2xVI

Untuk menggunakan rangkaian ini sebagai pengkondisi sinyal, kita harus mengganti
R1 dengan sebuah sensor yang outputnya berupa perubahan tahanan atau resistansi. Namun,
perlu diketahui rangkaian pengkondisi sinyal ini masih belum bisa digunakan untuk sensor
dengan output dengan perubahan dalam m. Karena tegangan output tidak akan berubah
degan maksimal. Aplikasi dengan pengkondisi sinyal ini adalah sebagai pengkondisi sinyal
sebuah sensor gas TGS 2620. Sensor ini merupakan sensor gas yang outputnya berupa
perubahan tahanan atau resitansi.
Apabila sensor gas mendeteksi adanya gas, maka akan terjadi perubahan resistansi
pada sensor tersebut sehingga akan ada perubahan tegangan pula pada VRL. Apabila resistansi
sensor gas semakin besar maka VRL maka akan semakin kecil, sebaliknya apabila resistansi
sensor gas semakin kecil maka VRL akan semakin besar.

2. Jembatan Wheatstone

Rangkaian jembatan digunakan sebagai sebuah alat pengukur perubahan tahanan yang
akurat. Rangkaian seperti ini terutama berguna bila perubahan fraksional dalam impedansi
sangat kecil. Rangkaian potensiometerik juga bisa digunakan untuk mengukur tegangan
dengan akurasi yang baik dan impedansi sangat tinggi. Rangkaian ini merupakan
pengembangan dari rangkaian sebelumnya yaitu rangkaian pembagi tegangan.
Rangkaian jembatan adalah rangkaian pasif yang digunakan untuk mengukur
impedansi dengan teknik penyesuaian potensial. Dalam rangkaian ini, seperangkat impedansi
yang telah diketahui secara akurat diatur nilaianya dalam hubungannya terhadap satu yang
belum diketahui sampai suatu kondisi yang ada di mana perbedaan potensial antara dua titik
dalam rangkaian adalah nol, yaitu setimbang. Kondisi ini menetapkan sebuah persamaan
yang digunakan untuk menemukan impedansi yang tidak diketahui berkenaan dengan nilai-
nilai yang diketahui. Rangkaian jembatan yang paling sederhana dan paling umum adalah
jembatan dc Wheatstone seperti diperlihatkan pada Gambar 2.2. Rangkaian ini digunakan
dalam aplikasi pengkondisi sinyal di mana transduser mengubah tahanan dengan perubahan
variabel dinamik. Beberapa modifikasi dari jembatan dasar ini juga dipakai untuk aplikasi
spesifik lainnya. Pada Gambar 2.2 obyek yang diberi label D adalah detektor seimbang
yang digunakan untuk membandingkan potensial titik a dan b dari rangkaian. Dalam
aplikasi paling modern detektor seimbang adalah amplifier diferensial impedansi input
sangat tinggi. Dalam beberapa kasus, Galvanometer yang sensitif dengan impedansi yang
relatif rendah bisa digunakan, khususnya untuk kalibrasi atau instrumen- instrumen
pengukuran tunggal. Untuk analisis awal kita, anggap impedansi detektor setimbang adalah
tak hingga, yaitu rangkaian terbuka.

Gambar 2.2 Jembatan Wheatstone dc.


Dalam kasus ini beda potensial, V antara titik a dan b, adalah
V = Va Vb ....(3)
Dimana :
Va : Beda Potensial antara a dan c
Vb : Beda potensial antara b dan c

Nilai Va dan Vb dapat dirumuskan sebagai berikut :

3 4
Va= 1+3 ;Vb= 2+4 ....(3.1)
Apabila disubtitusikan persamaan 3 dengan 3.1 maka akan diperoleh persamaan sebagai
berikut :

Yang apabila disederhanakan akan menjadi persamaan berikut :

....(3.2)

Persamaan (2.8) tsb memperlihatkan bagaimana beda potensial melalui detektor adalah
fungsi dari tegangan sumber dan nilai resistor. Karena tampilan yang berbeda dalam
pembilang Persamaan (2.8), jelas bahwa kombinasi khusus dari resistor dapat ditemukan
yang akan menghasilkan perbedaan tegangan nol melewati detektor, yaitu, setimbang.
Apabila perbedaan tegangan setimbang maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :
R3R2 = R1R4 ....(3.3)
Persamaan (3.3) mengindikasikan bahwa kapan saja sebuah jembatan Wheatstone dipasang
dan resistor diatur untuk keseimbangan pada detektor, nilai-nilai resistor harus memenuhi
persamaan yang diindikasikan. Tidak masalah jika tegangan sumber berubah, kondisi
seimbang dipertahankan. Persamaan (3.2) dan (3.3) menekankan aplikasi jembatan
Wheatstone untuk aplikasi kontrol proses yang menggunakan detektor impedansi input
tinggi.

- Kompensasi kabel

Kabel atau Lead Kompensator ditunjukkan pada Gambar 2.3, di sini kita lihat bahwa R4,
yang dianggap sebagai transduser, dipindahkan ke tempat yang jauh dengan kabel lead (1),
(2), dan (3). Kabel (3) adalah lead daya dan tiadak berpengaruh pada kondisi seimbang
jembatan. Perhatikan bahwa jika kabel (2) mengubah tahanan karena pengaruh-pengaruh
palsu, ini mengenalkan perubahan tersebut kepada kaki R4 dari jembatan. Kabel (1) terbuka
terhadap lingkungan yang sama dan berubah dengan jumlah yang sama tetapi dalam kaki
R3 dari jembatan. Secara efektif, R 3 dan R4 kedua-duanya diubah secara identik,
sehungga Persamaan (3.3) memperlihatkan bahwa tidak terjadi perubahan dalam jembatan
seimbang. Tipe kompensasi ini sering dipakai di mana rangkaian jembatan harus digunakan
dengan lead yang panjang ke elemen aktif dari jembatan.

Gambar 2.3 untuk aplikasi transduser jarak jauh sebuah sistem kompensasi digunakan untuk
menghindari error dari tahanan lead.

- Aplikasi pengondisi sinyal ini adalah dengan mengganti R4 dengan sebuah sensor yang
otuputnya berupa perubahan resistansi. Sebagai contoh akan disajikan sbuah rangkaian
dengan sensor strain gauge

Apabila ada tekanan atau gaya pada sensor maka resistansi sensor akan berubah,
sehingga akan mengakibatkan tegangan ketidaksetimbangan. Karena perubahan
resistansi sensor dalam range m maka perubahan tegangan adalah dalam mV. Oleh
karena itu dibutuhkan pengondisi sinyal lagi untuk menguatkan perubahan tegangan
sehingga bisa dibaca oleh mikrokontroller. Perubahan tegangan dapat dirumuskan
sebagai berikut :
- Jembatan Wheatstone untuk tegangan AC
Konsep jembatan yang dijelaskan dalam bagian ini dapat dipakai untuk penyesuaian
impedansi secara umum seperti tahanan-tahanan. Dalam keadaan ini, jembatan
direpresentasikan seperti dalam Gambar 2.7 dan memakai sebuah eksitasi ac, biasanya
sebuah sinyal tegangan gelombang sinus. Analisa tingkah laku jembatan pada dasarnya sama
seperti pada cara sebelumnya tetapi tahanan diganti impedansi. Kemudian tegangan offset
jembatan direpresentasikan sebagai

Dimana :
E : Tegangan eksitasi gelombang
Z1,Z2,Z3,Z4 : Impedansi jembatan

Kondisi setimbang ditetapkan seperti sebelumnya dengan sebuah tegangan zero offset
V=0. Dari Persamaan di atas kondisi ini dijumpai jika impedansi memenuhi
hubungan :
Z3 Z2 = Z 1Z 4 .....(3.4)

Gambar 2.7 Sebuah jembatan AC yang umum

Dalam beberapa kasus, sistem deteksi seimbang adalah amat sensitif terhadap
pergeseran fase sinyal. Dalam hal ini, perlu untuk memberikan sebuah kondisi seimbang dari
kedua sinyal inphase dan quadrature (keluaran fase 900) sebelum menggunakan persamaan
(3.4) diatas.
3. Penguat Operasional

Setelah op amp menjadi terkenal pada kerja individu dalam kontrol proses dan
teknologi instrumentasi, banyak macam rangkaian dikembangkan dengan aplikasi langsung
dalam bidang ini. Secara umum, lebih mudah untuk mengembangkan sebuah rangkaian
sebuah rangkaian pengondisi sinyal menggunakan op amp dibandingkan komponen-
komponen diskrit; dengan pengembangan biaya rendah, IC op amp, juga adalah suatu desain
yang praktis. Mungkin salah satu kerugian besar adalah diperlukannya sumber daya bipolar
untuk op amp. Bagian ini menghadirkan sejumlah rangkaian khusus dan karakteristik
dasarnya bersama dengan trurunan dari respons rangkaian dengan asumsi op amp ideal.

a. Penguat Inverting

Gambar 2.8 Penguat Inverting

Rangkaian untuk penguat ini idealnya ditunjukkan pada gambar di atas. Penting untuk
memperhatikan bahwa impedansi input dari rangkaian ini pada dasarnya sama dengan R1,
yaitu tahanan input. Kegunaan dari penguat ini umumnya untuk menguatkan tegangan yang
berasal dari sensor atau pengondisi sinyal yang mana outputya masih terlalu kecil untuk
diterima mikrokontroller.
Pada umumnya, tahanan ini tidak besar, dan karena itu impedansi input tidak besar.
Pada pengembangannya input dari penguat ini dibuat banyak sehingga disebut juga sebagai
penguat penjumlah.

Gambar 2.9 Penguat Penjumlah

Tegangan dari penguat ini dapat dirumuskan sebagai berikut :


Penjumlahan dapat diberi skala dengan pemilihan tahanan yang tepat. Contohnya, jika
kita membuat R1 = R2 = R3, maka outputnya adalah hanya jumlah (terbalik) dari V1 dan V2.
Rata-rata dapat dicari dengan menjadikan R1 = R3 dan R2 = R1/2.

b. Penguat Non-Inverting

Sebuah amplifier noninverting dapat dikonstruksi dari sebuah op amp seperti


ditunjukkan dalam Gambar 3. Gain rangkaian ini dicari dengan menjumlahkan arus-arus pada
summing point S, dan menggunakan kenyataan bahwa tegangan summing point adalah Vin
sehingga tidak ada beda tegangan yang muncul melalui terminal-terminal input.

Gambar 3 Penguat Non-inverting


Tegangan output dari op-amp diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :

...(3.5)

Persamaan (3.5) menunjukkan bahwa penguat non-inverting mempunyai gain yang


tergantung pada rasio resistor umpan balik R2 dan resistor ground R1, tapi gain ini tidak
pernah dapat digunakan untuk pelemahan tegangan. Kita catat pula bahwa karena input
diambil secara langsung ke input noninverting dari op amp, impedansi input adalah sangat
tinggi karena secara efektif sama dengan
impedansi input op amp. Hampir sama seperti penguta inverting rangkaian ini digunakan
sebagai pengondisi sinyal untuk menguatkan tegangan yang masih belum bisa diterima oleh
mikrokontroller. Bedanya dengan penguat inverting nilai penguatan dari penguat ini adalah
positif.

c. Penguat Diferensial

Sering kali, dalam instrumentasi yang dihubungkan dengan kontrol proses, diperlukan
amplifikasi tegangan diferensial, misalnya untuk rangkaian jembatan. Sebuah ampifier
diferensial dibuat dengan mengguanakan sebuah op amp seperti ditunjukkan dalam Gambar
2.17a. Analisis rangkaian ini menunjukkan bahwa tegangan output diberikan oleh

...(3.6)
Rangkaian ini mempunyai gain atau atenuasi variabel yang diberikan oleh rasio R2
dan R1 dan merespons diferensial dalam input tegangan sebagaimana diperlukan. Adalah
sangat penting bahwa resistor dalam Gambar 2.17a yang diindikasikan mempunyai nilai yang
sama secara hati-hati disesuaikan dengan tolakan yang pasti (assure rejetion) dari tegangan
bersama ke kedua input. Kerugian yang signifikan dari rangkaian ini adalah bahwa impedansi
input pada masing-masing terminal input adalah tidak besar, menjadi R1 + R2 pada input V2
dan R1 pada input V1. Untuk memakai rangkaian ini saat diinginkan amplifikasi diferensial
impedansi input yang tinggi, pengikut tegangan bisa dipakai sebelum masing-masing input
seperti diperlihatkan pada Gambar 2.17b. Rangkaian ini memberikan gain yang sebaguna,
amplifier diferensial impedansi input yang tinggi untuk penggunaan dalam sistem-sistem
instrumentasi.

a.

b.

Gambar 3.1 a. Penguat Diferensial b.Penguat Instrumentasi

d. Konverter Tegangan ke Arus

Karena sinyal-sinyal dalam kontrol proses paling sering ditransmisikan sebagai arus,
khususnya 4-20 mA, maka perlu untuk memakai sebuah konverter linier tegangan ke arus.
Rangkaian seperti ini harus mampu memasukkan arus ke sejumlah beban yang berbeda tanpa
mengubah karateristik-karateristik transfer tegangan ke arus.
Gambar 3.2 Konverter tegangan ke arus

Sebuah rangkaian op amp untuk memberikan fungsi ini diperlihatkan pada Gambar
3.2. Analisis rangkaian ini menunjukkan bahwa hubungan antara arus dan tegangan diberikan
oleh

...(3.7)
asalkan tahanan-tahanan yang dipilih sehingga
...(3.8)

rangkaian dapat mengirimkan arus ke salah satu arah, sebagimana diperlukan oleh
sebuah aplikasi khusus. Tahanan beban maksimum dan arus maksimum adalah berhubungan
dan ditentukan oleh kondisi bahwa output amplifier adalah saturasi dalam tegangan. Analisis
rangkaian ini menunjukkan bahwa saat tegangan output op amp mencapai saturasi tahanan
beban maksimum dan arus maksimum dihubungkan oleh :

...(3.9)

Perhatikan bahwa penyelidikan Persamaan (3.9) menunjukkan bahwa tahanan beban


maksimum adalah selalu kurang dari VSAT/IM. Tahanan beban minimum adalah nol.

e. Konverter Arus ke Tegangan

Pada ujung penerima dari sistem trasnsmisi sinyal kontrol proses kitasering perlu
untuk mengubah arus kembali ke tegangan. Ini paling mudah dilakukan dengan rangkaian
yang diperlihatkan pada Gambar 2.19. Rangkaian ini menyediakan suatu tegangan output
yang diberikan oleh
Vout = IR ...(4.0)
asalkan tegangan saturasi op amp tidak tecapai. Resistor R pada terminal non-
inverting dipakai untuk memberikan stabilitas temperatur pada konfigurasi. Rangkaian ini
digunakan untuk pengkondisi sinyal untuk sensor dengan output arus.

Gambar 3.3 Konverter arus ke tegangan

Aplikasi dari Pengkondisi sinyal menggunakan op-apm disajikan sebagai berikut :

Gambar diatas merupakan gabungan 2 pengondisi sinyal sebuah sensor NTC 10k. Pada blok
merah yang ditunjukkan terdapat sebuah jembatan wheatstone yang dirangkai dengan sensor
sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan perbedaan tegangan apabila terjadi perubahan
suhu disekitar sensor. Oleh karena itu perbedaan tegangan tersebut dimasukkan ke 2 input
penguat jenis integrator sehingga memenuhi persamaan berikut :

Karena R1R3(pada rangkaian R8 dan R4) dan R2R4(pada rangkaian R8 dan R4). V1 dan V2
merupakan tegangan dari kedua lengan jembatan wheatstone.
4. Filter
Filter adalah suatu rangkaian yang berfuingsi untuk menyaring sinyal noise (derau)
dan suatu pengukuran. Secara sederhana, filter dapat disusun atas sebuah resistor dan sebuah
kapasitor.
a. Low-pass RC Filter
Rangkaian Low- pass RC filter ini menahan frekuensi tinggi dan melewatkan
frekuensi rendah. Dengan kata lain frekuensi yang melampaui frekuensi kritis akan ditahan,
sedangkan frekuensi dibawah frekuensi kritis dibiarkan lewat. Secara sederhana, rangkaian
low - pass RCfilter dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Filter RC Low-Pass

Frekuensi kritis adalah suatu frekuensi dimana perbandingan tegangan keluaran dan
tegangan masukan kira-kira 0,707. Dalam hubungannya dengan R dan C, frekuensi kritis
dirumuskan sebagai berikut :

...(4.1)

Dan perbandingan tegangan keluaran terhadap tegangan masukan untuk sinyal masukan
apapun dapat ditentukan secara grafis melalui persamaan 4.2.

...(4.2)

b. High-pass RC Filter
High-pass RC Filter melewatkan frekuensi tinggi dan menahan frekuensi rendah.
Secara skematis High-pass RC Filter tampak pada Gambar 3.5 .

Gambar 3.5 Filter RC High-Pass


Persamaan 4.3 memberikan hubungan perbandingan antara tegangan keluaran dan
tegangan masukan sebagai fungsi frekuensi.

...(4.3)

c. Band-pass RC Filter
Prinsip kerja Band-pass Filter adalah menahan frekuensi rendah dan tinggi bila
keduanya melewati suatu batas frekuensi tertentu. Filter jenis ini dapat dibuat dan resistor dan
kapasitor, tetapi penggunaan induktor dan / atau kapasitor dinilai memberikan hasil yang
lebih efektif. Sebuah Band-pass RC Filter dapat disusun dan gabungan rangkaian high-pass
filter dan low-pass filter tampak pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6 Filter RC Band-Pass


Dan persamaan 6.4 memberikan hubungan antara tegangan keluaran dan tegangan
masukan sebagai fungsi frekuensi.

d. Band-reject Filter

Band-reject filter adalah filter yang menahan frekuensi pada rentang tertentu. Karena
filter jenis ini menahan frekuensi pada rentang yang cukup lebar. Respon terhadap penahanan
suatu band frekuensi tertentu ditunjukkan pada Gambar 3.7. Sedangkan gambar rangkaian
RC-band reject filter ditunjukkan pada Gambar 6.8.
Gambar 3.7 Daerah Respon Filter RC Band-Reject

Gambar 3.8 Filter RC Band-Reject


Aplikasi pengkondisi Sinyal dengan filter disajikan sebagai berikut.

Rangkaian pengkondisi sinyal berfungsi untuk mengolah sinyal dari transduser


termokopel berupa tegangan yang cukup kecil menjadi tegangan yang lebih besar, sehingga
output dari rangkaian ini dapat dibaca oleh untai Analog Digital Converter (ADC).
Rangkaian signal conditioning terbagi dalam 3 blok fungsi:
a). Low pass Filter
Termokopel yang terlalu panjang bisa menangkap sinyal liar layaknya sebuah
antenna, karena output dari termokopel merupakan sinyal berfrekuensi rendah, perlu dipasang
sebuah filter untuk menghilangkan sinyal frekuensi tinggi yang tidak lain adalah noise. R4,
R5, C1, dan C2 adalah komponen penyusun low pass filter yang memiliki frekuensi cut off
sekitar 3Hz. Diode zener D1 dan D3 digunakan untuk membatasi input yang masuk ke
rangkaian. Resistor pull up 1M berfungsi sebagai pengaman pada saat termokopel putus /
tidak terhubung, karena saat termokopel tidak terhubung input rangkaian signal conditioning
menjadi besar sehingga pemanas tidak akan menyala bila alat ini digunakan sebagai
pengendali suhu.
b). Penguat tingkat I
Penguat Tingkat I adalah rangkaian non Inverting OP-AMP menggunakan IC OP 07.
Kami memilih penguat jenis non inverting dengan pertimbangan penguat non Inverting
memiliki impedansi masukan yang sangat tinggi dan impedansi keluaran yang rendah, selain
itu sinyal input dari termokopel sebanding dengan kenaikan suhu. Didalam rangkaian ini
terdapat 2 buah potensiometer. R3 sebagai Zero adjustment, berfungsi untuk mengatur besar
kecilnya tegangan offset keluaran. Tegangan offset adalah tegangan yang timbul pada
keluaran saat nilai inputannya nol. Tegangan ini digunakan untuk menentukan suhu terendah
yang bisa dibaca alat ukur ini. R10 sebagai Gain Adjustment, berfungsi untuk mengatur besar
penguatan pada tingkat ini, dengan menganggap tegangan offset = 0V, besar penguatannya
adalah seperti berikut:

penguatan saat potensiometer posisi minimal :

penguatan saat potensiometer posisi maksimal :


c). penguat tingkat II

Penguat tingkat II juga menggunakan penguat Non Inverting sama seperti menguat
tingkat I. Op Amp yang digunakan adalah LF 353 Pada penguat ini nilai gain adalah tetap
yaitu sebesar :

Selanjutnya bila rangkaian di analisis secara keseluruhan, rangkaian signal conditioning


memiliki penguatan sebesar:
Penguatan saat potensiometer posisi minimal :

Penguatan saat potensiometer posisi maksimal :

Besarnya penguatan rangkaian signal conditioning adalah 210 279 kali. Sedangkan
tegangan outputnya sebesar:
5. Konversi Frekuensi ke Tegangan

IC LM2917 merupakan chip IC yang di desain khusus sebagai Frequency to Voltage


Converter atau pengubah Frekuensi menjadi Tegangan. Dalam penggunaanya untuk
aplikasi Frequency to Voltage Converter IC LM2917 ini memerlukan sedikit komponen
eksternal. Ada beberapa contoh aplikasi Frequency to Voltage Converter dari IC LM2917 ini
yang disertakan dalam datahseet IC LM2917 tersebut. Dalam artikel ini rangkaianFrequency
to Voltage Converter diambil juga dari datasheet IC LM2917. Kelebihan dari single chip
Frequency to Voltage Converter LM2917 ini adalah mampu memberikan output o volt
seketika pada waktu frekuensi berubah 0 Hz. Perumussan tegangan keluaran adalah sebagau
berikut

VOUT = fIN x VCC x R1 x C1

Kemudian single chip Frequency to Voltage Converter LM2917 ini hanya


membutuhkan konfigurasi RC saja dalam doubling frequncy. Dan memiliki zener regulator
internal untuk menghasilkan akurasi dan stabilitas dalam proses konversi frekuensi ke
tegangan.

Gambar 3.8 Konverter Frekuensi ke tegangan


Kesimpulan

Rangkaian pengkondisi sinyal merupakan suatu rangkaian yang dibutuhkan untuk


menguatkan atau mengubah suatu besaran yang merupakan output suatu sensor yang belum
bisa diterima sebagai input mikrokontroller.

Rangkaian pembagi tegangan merupakan rangkaian pengkondisi sinyal dasar yang


mengkonversi dari perubahan tahanan menjadi perubahan tegangan. Namun, dalam
aplikasinya rangkaian ini hanya berlaku untuk sensor yang perubahan tahanannya dalam
range saja. Untuk pengembangan rangkaian ini terdapat jembatan wheatstone yang juga
bekerja dengan prinsip pembagi tegangan, berbeda dengan rangkaian pembagi tegangan
standar, ragkaian ini mampu mendeteksi perubahan resistansi dalam range m, sehingga
perubahan tegangan dalam mV juga terdeteksi. Rangkaian ini tersedia untuk rangkaian AC
dan DC.

Rangkaian penguat biasanya digunakan untuk menguatkan tegangan atau sinyal yang
belum bisa diterima oleh mikrokontroller. Biasanya rangkaian ini dikombinasikan dengan
rangkaian jembatan dan menerima input dari Jembatan tersebut. Untuk Filter rangkaian ini
digunakan untuk pembatas frekuensi yang digunakan oelh sensor sehingga tidak mengganggu
kinerja sensor. Umumnya rangkaian filter ini sudah terintegrasi dengan penguat.

Untuk konverter frekuensi ke tegangan pada penjelasan disajikan sebuah IC LM2917.


Apabila dilihat pada konstruksi dasarnya dapat dilihat bahwa IC ini dibangun dengan sebuah
Op-amp yang difungsikan sebagai komparator yang dirangkai seemikian rupa dengan R dan
C sehingga dapat menghasilkan tengangan yang sebansding dengan frekuensi.